DESTINY (3/5)

picsart_04-27-09-20-48

DESTINY
dilaribear

Starring TWICE and GOT7
Genre family;school-life;friendship;slightromance • Rating pg-13 • Duration Chaptered

Kau takdirku, aku tak pernah bisa meninggalkanmu
Kau duniaku, pusat hari-hariku

Chapter 1 | Chapter 2

.

Chaeyoung terdiam memandangi Mina yang sedang makan dengan anggunnya. Masih tidak percaya dengan apa yang sudah Mina lakukan beberapa menit lalu. Teman yang selama ini dikenal sebagai sosok yang dingin—adalah sangat langka—kemudian tiba-tiba bertingkah galak—sangat galak, lebih tepatnya.

Menangkap pandangan Chaeyoung, Mina menaikkan kedua alisnya sembari menelan suap terakhir makanannya. “Aku hanya bermaksud menolongmu, jangan terlalu terkejut.” Ucapnya yang kemudian meneguk air putih.

“Tapi serius deh, kamu keren, Na!” puji Dahyun dengan mulut yang masih penuh. Chaeyoung tersenyum tipis, membuat Dahyun merasa ada yang salah. “Chae, mau?” Dahyun menyodorkan sesuap Jjajangmyeon disumpitnya pada Chaeyoung.

Terharu, Chaeyoung pun membuka mulutnya, lantas Dahyun suapi Chaeyoung. “Kamu sangat perhatian. Tahu saja kalau aku sedang lapar…”

“Hahaha!” gelak tawa mereka bertiga mewarnai istirahat siang itu mengingat Chaeyoung tidak memiliki tiket makan siang cadangan, jadi makan siangnya yang sudah jatuh tadi tidak bisa diganti dengan yang baru.

“Berkat Mina, aku jadi benci Flower Boys juga!” seru Dahyun. Mina tersenyum, lalu mengacungkan jempolnya pada Dahyun, mereka bertiga kembali tertawa bersama. Mungkin mereka bertiga akan segera menamai diri mereka yang merupakan haters-nya Flower Boys tersebut.

.

Chaeyoung hampir pingsan saat membuka lokernya. Dia terpaku menatap lokernya yang penuh dengan warna merah—termasuk hem, jas, dan rok seragam; sepatu, dan buku-bukunya. Diulurkannya tangan Chaeyoung dan menyentuh cairan merah yang lengket tersebut, lantas menyadari bahwa cairan merah itu adalah cat lukis. Tetap tenang, Chaeyoung mengambil secarik kertas yang menjadi satu-satunya benda putih disana.

“Chae, ayo ganti ba—“ Chaeyoung tersentak kaget, “Astaga, siapa yang melakukan ini?” tanya Dahyun dengan setengah memekik. Chaeyoung menyodorkan kertas yang ia temukan diatas buku-bukunya yang penuh cat kepada Dahyun.

 

“Ada apa, ini?” tanya Mina, Chaeyoung hanya melirik lokernya untuk menjawab semuanya.

“Aku pergi dulu, ya.” Pamit Chaeyoung singkat lalu berlari begitu saja.

Dahyun dan Mina saling berpandangan, sama-sama berpikir Chaeyoung mungkin pergi ke kamar mandi dan menangis disana. “Aku tidak akan membiarkan Chaeyoung menangis,” bisik Mina, seperti sedang bersiap-siap untuk menunjukkan sisi galaknya demi menemukan pelaku peneroran tersebut.

“Jangan, Mina. Pelakunya akan semakin puas jika kita tampak mencari-cari dia,” cegah Dahyun. Kemudian melipat dan menyimpan kertas tersebut, “Yang jelas, aku mencurigai seseorang…”

.

Bugh. “Jahat! Oppa jahat!”

“Hei, hei, kenapa, sih?”

Chaeyoung tidak mau berhenti memukuli Jinyoung yang baru saja muncul dari balik pintu atap sekolah. “Menyebalkan!” bentak Chaeyoung yang kemudian berhenti, dan menundukkan kepalanya.

“Lagi?” tanya Jinyoung, dibalas anggukan kepala oleh Chaeyoung yang menangis dalam diam tersebut. Jinyoung menghela napas, lalu menarik tubuh Chaeyoung kedalam pelukannya. “Katakan padaku, apa yang mereka lakukan?”

Chaeyoung menangis semakin keras, dan bersama isakan, ia menceritakan semuanya. Sesekali Jinyoung hapus air mata Chaeyoung dengan tangannya, Jinyoung kembali merengkuh Chaeyoung kedalam pelukannya yang hangat. “Sudah, jangan khawatir. Aku akan membereskan semuanya,”

“Bagaimana bisa aku memercayai hal itu?” isak Chaeyoung, tanpa sadar bahwa suaranya cukup keras untuk menjangkau kedalam koridor lantai atas. Lantas sangat kebetulan, Chaeyoung dan Jinyoung yang sedang berpelukan tersebut menjadi sasaran tepat seseorang dibalik pintu atap sekolah, sedang mengabadikan momen yang akan menjadi senjatanya.

“Nayeon! Sedang apa disitu?”

“Astaga!” sentak Nayeon, terkejut setengah mati karena seruan Sana. Buru-buru dia turun dari tangga dan menghampiri Sana, “Hari ini aku pastikan aku jadian dengan Jinyoung!” bisiknya dengan optimis.

Sana menautkan alisnya, “Kamu mimpi ya? Memangnya kamu bisa apa, ha?” Nayeon tertawa mendengar bantahan Sana. Lalu ia tarik Sana pergi dari sana, dan menunjukkan hasil jepretan Nayeon yang hampir tidak ketahuan—coba saja Sana tidak mengejutkan Nayeon tadi, pasti tidak ketahuan sama sekali.

.

Dengan senyuman, percaya diri, dan handphone, Nayeon siap untuk menemui Jinyoung. Bel pulang baru dibunyikan, jadi Nayeon punya waktu yang tidak singkat untuk menyatakan cintanya pada Jinyoung yang kabarnya sedang berada di ruang dance bersama anggota Flower Boys yang lain.

Bruk. “Maaf!” seru Nayeon tanpa membantu gadis yang barusan ditabraknya berdiri.

Gadis itu menahan Nayeon, “Tumben buru-buru, mau kemana, Sunbaenim?” tanyanya.

Nayeon tampak sedikit terkejut menyadari bahwa gadis itu adalah Tzuyu. “Oh, mau ke ruang dance,” jawabnya menggantung, lalu membisikkan, “Aku akan jadian dengan Jinyoung.” Dan mengakhirnya dengan sebuah kekehan sebelum kembali berlari menuju ruang dance.

Di sana ada Jinyoung, Jaebum, Jackson, dan Yugyeom yang sedang berlatih dance bersama-sama. Nayeon merasa sedikit gugup, namun keantusiasannya menenggelamkannya. Dengan pasti Nayeon langkahkan kaki masuk kedalam ruangan, membuat keempat lelaki itu menghentikan latihannya. “Aku mau berbicara dengan Jinyoung,” ucapnya dengan tersipu.

Jinyoung menatap Jaebum sebelum ia menyahut, “Tidak akan sepenting pendaftaran lomba dance, kan?” tanya Jinyoung, Nayeon terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Kalau begitu katakan disini.”

“A-aku hanya mau berkata bahwa… aku mencintaimu…”

Jinyoung menghela napas, “Hanya itu?”

Nayeon menarik napas panjang sebelum berkata, “Dan kamu juga harus mencintaiku…”

“Hei, bangunlah dari mimpimu!” ledek Jackson. Ia hampir tersedak air putih yang sedang ia minum. Yugyeom dan Jaebum tertawa renyah mendengar ledekan kasar Jackson, membuat Nayeon semakin tegang.

“Aku tidak hidup untuk itu, maaf.”

Nayeon memejamkan matanya sejenak, lalu mengeluarkan handphone-nya, dan menyodorkan sebuah foto, “Kalau kamu tidak bisa, aku akan menyebarkan foto ini.” Jinyoung yang tadinya sudah berbalik badan kini menengok kebelakang, mengamati foto tersebut.

Penasaran, ketiga temannya mendekat untuk melihat foto tersebut. “Wah, kamu memotretnya dengan sudut yang membuat mereka tampak seperti berciuman!” seru Yugyeom yang langsung mendapat jitakan dari Jaebum. “Ma-maaf.”

“Hei, kamu hanya salah paham, Nay.” Bela Jaebum.

Nayeon menatap Jinyoung yang terlihat seperti hendak menyerah. Ia tersenyum puas, “Jadi, apa yang akan kamu lakukan? Kamu sudah membuat Chaeyoung diteror berkali-kali. Kudengar tadi siang seseorang menumpahkan cat lukis merah pada lokernya—“

“Apa kamu yang melakukannya?”

“Apa? Aku?” ulang Nayeon, “Hei, aku tidak sekejam itu!” bantahnya.

“Lalu, kenapa kamu berniat untuk menyebarkan foto ini juga, padahal kamu tahu kamu tidak sekejam itu, kan?” sahut Jinyoung sambil melangkah mendekati Nayeon yang melangkah mundur tersebut. “Apa kamu yang melakukannya?” ulangnya.

Nayeon memutar bola matanya dengan kesal, “Kenapa kamu membicarakan hal itu? Aku sedang membahas hubungan kita! Jadi yang harus kamu lakukan adalah mencintaiku dan meninggalkan Chaeyoung, jadi kehidupan gadis itu akan tenang!”

“Memangnya kamu pikir kamu siapa?” tanya Jinyoung yang semakin memojokkan posisi Nayeon yang kini berdiri bersandar pada cermin lebar di salah satu sisi dindingnya. “Yang kamu tahu hanyalah menyakiti orang lain, jadi—“

“Cintai aku!” bentak Nayeon. “Sekarang atau aku akan menyebarkannya!” jemarinya siap menekan tombol sebar pada handphone-nya menyadari Jinyoung hanya membuang-buang waktu dengan menghakiminya seperti itu. “Satu!” ia menghitung.

“Hei, hentikan!” teriak Jaebum.

“Dua!”

“Dia adikku!”

Nayeon terbelalak mendengarnya. “Park Chaeyoung, adalah adikku,” ulang Jinyoung, lalu ia merebut handphone Nayeon dan segera menghapus fotonya dengan Chaeyoung di atap sekolah tadi. “Aku juga bisa mengancammu dengan menjatuhkan namamu, jadi jika aku mendengar berita bahwa Chaeyoung adalah adikku ini tersebar, Im Nayeon akan menjadi orang pertama yang mati. Mengerti?”

Krek. Seluruh mata menoleh kearah pintu ruang dance yang bergetar, namun tidak ada siapapun disana. “A-aku mengerti…” ucap Nayeon kemudian, berharap bahwa orang yang baru saja lari dari sana—sepertinya—adalah Sana. “Aku pergi, aku janji tidak akan menyebarkannya.” Ucapnya dengan tergagap sambil melangkah keluar ruangan dan pergi.

“Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Jinyoung-ah.” Komentar Jaebum yang langsung merangkul Jinyoung diikuti dengan Jackson dan Yugyeom yang berusaha menenangkan hati Jinyoung yang pasti merasa kejam karena kejadian ini.

“Tapi, aku merasa yang menumpahkan cat lukis ke loker Chaeyoung memang bukan Nayeon,” ucap Yugyeom berpendapat. Ketiga temannya langsung menatapnya tajam, “Nayeon mengakui kalau dia yang memotret Jinyoung dan Chaeyoung, maka bukankah seharusnya dia juga mengakui soal cat lukis?”

.

“Yang pasti, orang itu adalah orang yang pandai,” komentar Dahyun. Chaeyoung menatap Dahyun dengan tatapan, ‘kok bisa’. “Dia tidak menulis kalimat ini dengan tulisan tangan, melainkan mengetiknya di komputer dan mencetaknya. Jadi kita tidak bisa mencari pelakunya hanya dengan melihat tulisan.”

“Lalu apa? Mencari sidik jari seperti agen-agen FBI begitu maksudmu?” timpal Chaeyoung yang tampaknya sangat marah akan kejadian kemarin siang. Rasanya bahu Mina yang ia gunakan untuk bersandar itu membuatnya merasa sedikit lebih baik. “Kalau menurutmu  bagaimana, Unni?” tanya Chaeyoung pada Mina yang tetap dingin seperti biasanya.

Mina terkejut, “Aku? Kamu minta pendapatku?” ulang Mina, tak percaya.

“Iya, bagaimana, Unni?” tanya Dahyun yang merasa pendapatnya tidak memecahkan masalah, justru membuat putus asa.

Mina menarik napas, lalu berucap, “Menurutku, yang terpenting adalah isi tulisan itu,” ia melihat kertas itu dan membacakan isinya, “Aku tahu kamu tidak kesepian,” kemudian mengulanginya empat kali.

“Sampai kapan kamu akan mengulangi kalimat itu, Unni?” timpal Chaeyoung dengan frustasi.

“Tunggu,” sergah Mina dengan nada misterius, “Chaeyoung, seumur hidupmu, apakah kamu merasa kesepian?” tanya Mina.

Chaeyoung menghela napas, merasa pertanyaan itu tidak ada gunanya. Karena hal yang langka baginya untuk mendengar Mina berbincang dengannya, maka dengan senang hati Chaeyoung menjawabnya. “Orang tuaku sudah mengatur hidupku agar tidak kesepian, karena kedua orang tuaku sangat sibuk dan hampir tidak pernah bertemu denganku.”

“Bukankah itu terlalu intens?” tanya Dahyun. Mendengar kata ‘orang tua’ mengingatkannya pada masalah pribadi.

“Nah, maka dari itu. Apakah kamu ingat, bahwa kamu pernah berkata kalau rumahmu sedang sepi, jadi kamu mengusulkan kerja kelompok dirumahmu?”

-to be continue-

A/N: TADAAAAA~~~ yang ketiga syudah nih wankawan. umm haruskah aku memasukkan genre mistery di fanfict ini? /GAK/ oke, jadi gimana yang ketiga ini menurut kalian? ditunggu ya yang selanjutnya^^

5 thoughts on “DESTINY (3/5)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s