My Life? – Part 1

My Life END

Title: My Life? – Part 1

Scriptwriter: Shayo

Twitter/Instagram: @ssharoon/@sharonyoputri

Genre: Drama, Friendship, Slice of Life

Duration: Series (4 Parts & 2 Extra Parts)

Rating: PG-15

Main Cast:

  • Yoon Doojoon
  • Choi Jun Hee
  • Yang Yoseob
  • Yong Junhyung

Support Cast:

  • Jang Hyunseung
  • Son Dongwoon
  • Heo Gayoon
  • Lee Gikwang

Summary: Life is just a game. You can be a player or a toy. Just play it ‘til THE END. –Shayo.

Apakah kalian percaya dengan takdir? Apa perjalanan hidup kalian sudah di sesuaikan oleh takdir? Apa kalian yakin bahwa takdir itu dapat berubah? Bagi Junhee hidup itu bukan takdir, melainkan sebuah permainan. Dalam permainan, kadang kala ada keberuntungan, juga kesialan. Kadang mendapatkan kemenangan, kadang kita selalu kalah. Itulah ‘hidup’ menurut Junhee. Orang tua Junhee bercerai sejak Junhee berumur 2 tahun. Sejak itu Junhee hanya tinggal dengan eomma nya. Tapi belum lama ini, Junhee eomma meninggal dunia karena sakit kanker.

Karena tidak bisa membayar uang sewa, Junhee pun di usir dari rumah. Sekarang Junhee harus mencari tempat tinggal dan pekerjaan untuk kehidupan sehari – harinya. Junhee termasuk beruntung, ia mendapatkan beasiswa di sekolah yang cukup elite. Itu adalah hal terakhir yang dapat ia persembahkan untuk eomma-nya.

Keadaan pertokoan di sekitar Gangnam ini selalu ramai. Hiruk – pikuk segelintir orang – orang berjalan kesana – sini, sibuk dengan urusannya masing – masing. Junhee berjalan dengan membawa sebuah koper yang berisi baju – baju miliknya. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan yang mendapatkan tempat tinggal, batin Junhee. Junhee membeli sebuah koran yang berisi lowongan pekerjaan dan segelas kopi hangat, setelah itu Junhee duduk di kursi sekitar pertokoan. Junhee sibuk membolak – balik halaman koran itu dan menemukan ‘DICARI HANYEO, HUBUNGI: JANG-ssi 010-xxxx’. (하녀hanyeo : maid) Beruntung sekali! Jika menjadi hanyeo pasti aku mendapatkan tempat tinggal dan juga pekerjaan. Sekali mendayung 2 pulang terlampaui. Lebih baik aku pergi ke alamat ini sekarang. Tanpa basa – basi Junhee menenggak habis kopi hangatnya dan menunggu bus untuk pergi ke alamat yang ada di koran tersebut.

Junhee hampir tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya kali ini. Sebuah rumah yang seperti istana. Gerbangnya yang tinggi juga mewah dan ada 2 orang boan yang berdiri di sisi kanan dan kiri gerbang. (보안boan : security) Dari celah – celah gerbang itu, terlihat taman yang berisi bunga – bunga yang berwarna – warni dan banyak jenisnya. Junhee sendiri tidak yakin pernah melihat bunga – bunga yang berada di dalam taman itu. Di kiri pekarangan rumah itu terdapat banyak mobil – mobil mewah yang harganya tak dapat di ungkapkan. Junhee hanya melamun tak percaya dengan apa yang ia lihat.

 “Sillyeohamnida.. ada perlu apa nona kesini? Apa sudah memiliki janji?” Salah satu boan itu membuyarkan lamunan Junhee. (실려합니다sillyeohamnida : excuse me)

“Eh? Ehm.. saya Choi Junhee. Saya melihat ada lowongan pekerjaan di rumah ini sebagai pelayan?”

“Baiklah tunggu sebentar, saya akan bertanya ke dalam dulu.” Penjaga rumah itu melangkahkan kakinya masuk kedalam posnya, penjaga itu terlihat menelpon seseorang dan penjaga rumah yang satu lagi terus melihat Junhee dengan tatapan penasaran. Setelah selesai menelpon, penjaga rumah itu keluar dan menghampiri Junhee. “Tadi nama anda siapa? Junhee-ssi?” Tanya penjaga rumah itu lagi.

“A.. ne”

“Baiklah, mohon ikuti saya dan kamu tolong tetap berjaga disini” kata penjaga rumah itu kepada chingunya.

“Siap!”

“Silahkan ke arah sini Junhee-ssi” Penjaga itu membukakan pintu rumahnya dan menggiring Junhee ke dalam.

Betapa terkejutnya Junhee ketika melihat pemandangan di dalam rumah itu, furniture yang indah juga terlihat mahal, warna cat tembok dan keramik yang sepadan warnanya, dan lukisan besar yang menggantung di ruang tamu tersebut. Lukisan itu terdiri dari seorang ayah, ibu dan seorang anak laki – lakinya sekitar umur 10 tahun. Mungkin ini pemilik dari rumah ini ya, ehm..”Tolong tunggu disini sebentar” Penjaga itu meninggalkan Junhee di salah satu ruangan yang bisa dibilang masih cukup megah. Junhee hanya mengangguk pelan.

Junhee melihat kesana kemari, ruangan itu penuh dengan barang – barang antik dari luar negri, semua tersusun rapi dan terdapat penjelasan di setiap barangnya. Junhee tertarik melihat foto – foto keluarga yang berada di salah satu meja ruangan itu. Foto itu berjajar dari arah kiri ke kanan, sepasang suami istri yang baru saja menikah, sepasang suami istri yang sedang berlibur bersama, hari di saat anak laki – lakinya lahir, hari saat anaknya masuk ke sekolah, hari di saat berlibur bersama, hari di saat anaknya masuk ke sekolah menengah pertama, lalu …

Joesonghamnida.. Jadi kamu berminat ingin menjadi hanyeo disini?” Suara namja menyadarkan Junhee yang sedang fokus melihat foto – foto itu. “Jadi siapa nama kamu?” (죄송합니다joesonghamnida : sorry)

“A.. Choi Junhee imnida.” Junhee membungkukan sedikit tubuhnya dengan rasa hormat. Seorang namja yang berpakaian sangat rapi, wajahnya yang tampan, bertubuh proposional, dan terlihat dewasa juga cantik (?). (남자namja : man/boy) “Nama saya Jang Hyunseung. Kamu bisa memanggilku Jang-ssi. Saya kepala hanyeo di rumah keluarga Yoon ini.” Junhee hanya diam melihat Jang-ssi dengan polos. “Kamu mengerti apa yang saya katakan bukan?”

“A.. Ne.. Salam kenal” kata Junhee. Babo Junhee!! Ngapain liatin Jang-ssi seperti itu? Babo babo!! (바보babo : stupid)

“Sekarang saya akan memberitahukan apa yang akan kamu kerjakan sehari – harinya disini. Kami memiliki 50 hanyeo, 20 boan atau bisa di sebut bodyguard, dan juga 15 yorisa. (요리사yorisa : chef) Karena sebentar lagi ulang tahun tuan muda, kami membutuhkan hanyeo lebih banyak lagi. Jadi apa kamu siap?” What?!! 50 hanyeo dan masih ingin tambah lagi?Tapi memang rumah ini besar si, ckck.

“Ya saya siap..”

“Baiklah, pertama saya akan mengantarkanmu ke kamarmu dan kita akan mulai pelajarannya”

###

Latihan yang dilakukan Junhee berhasil membuat Junhee kehabisan tenaga, sesampainya di kamar Junhee segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Jang-ssi mengajarkannya cara menggunakan mesin – mesin yang Junhee tak pernah menyentuhnya, bahkan melihatnya saja belum. Tapi Junhee cukup puas hari ini, mungkin ini sedikit keberuntungan yang di dapat oleh Junhee, mendapatkan tempat tinggal sekaligus pekerjaan. Walaupun pekerjaannya itu menguras tenaga dan juga Junhee tak dapat mengatakannya kepada Mr.Jang tentang ingin melanjutkan sekolahnya.

KRINGG.. Suara handphone Junhee berbunyi, tanda ada telepon yang masuk. Junhee mencari – cari handphonenya di dalam tas dengan keadaan malas. Display hpnya menunjukkan nama penelpon ‘Lee Gikwang’.

Yeoboseyo.. Gikwang-a. Waeyo?” tanya Junhee dengan santai.(여보세요yeoboseyo : hallo,왜요 waeyo : why)

YAA!! Eodieseo? Kamu diusir dari kontrakan kenapa tidak bilang padaku?” Lee Gikwang, chingu Junhee di sekolah Rebellion, Gikwang tidak memandang status Junhee yang hanya beasiswa di sekolah tersebut. Bisa dibilang Gikwang adalah satu – satunya chingu yang Junhee punya. (ya! : hey!, 어디에서 eodieseo : where are you, 친구chingu : friend)

“Hehee.. Tenang saja Gikwang-a. Aku di tempat yang aman kok”

“Yaa!! Ini bukan masalah aman atau tidak!”

“Baiklah baiklah.. aku sekarang sudah mendapatkan pekerjaan baru sebagai pelayan, karena itu aku juga mendapatkan tempat tinggal. Kamu pasti tidak percaya Gikwang-a!! Kamarku sekarang lebih besar dari rumah kontrakanku yang dulu!”

“Hhh.. Kenapa kamu tidak bilang padaku? Kamu bisa tinggal di rumahku dulu. Lalu bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Gikwang.

Mollayo. Sepertinya aku tidak sekolah lagi. Besok aku akan tanyakan ke sedaeju apa aku boleh sekolah atau tidak. Tadi tidak sempat.” (몰라요mollayo : I don’t know,세대주 sedaeju : head of household)

“Baiklah, kamu harus selalu mengabariku jika ada masalah. Jangan seperti ini lagi. Nanti kita bertemu ya! Kita bukannya sudah berjanji sehidup semati?” kata Gikwang terkekeh.

“Wohoo!! Kamu pikir kita soulmate apa HAHAHA.. Aku lelah Gikwang, jika aku sekolah besok, aku akan menemuimu”

“Baiklah, sampai ketemu nanti. Jaljayo”

“Jaljayo” KLIK Junhee mematikan teleponnya. Apa aku masih bisa sekolah ya? Lebih baik besok pagi aku bertanya Jang-ssi dulu. Karena esok pagi Junhee juga harus bangun pagi, Junhee segera memejamkan matanya dan tertidur lelap.

###

Pukul 05.00, Junhee sudah bersiap untuk bekerja hari ini. Junhee sudah menggunakan baju hanyeonya dan segera menuju ke dapur. Kemarin Jang-ssi sudah mengingatkan untuk bekumpul di dapur sebelum bekerja setiap harinya.

Pagi itu seluruh hanyeo, yorisa, boan sudah berkumpul di dapur itu. Junhee terlihat bingung dan ikut berbaris dengan pelayan yeoja lainnya. Tak lama kemudian, Jang-ssi datang dan memberikan arahan seperti biasa untuk para pekerja disini. Setelah selesai semuanya kembali ke pekerjaan masing – masing. “Junhee-ssi, tolong kesini sebentar” panggil Hyunseung.

“Ne.. Ada apa ya?”

“Ini Son Dongwoon, dia adalah kepala yorisa disini. Untuk sementara setiap pagi, kamu akan menyiapkan sarapan setiap pagi. Arraseo?”

“Ne. Salam kenal Dongwoon-ssi”

“Ne.. Salam kenal juga Junhee-ssi” Dongwoon, seorang namja bertubuh proposional, berwajah sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Jang-ssi, Dongwoon mahir memasak, karena itu di usia yang masih muda, ia diterima menjadi koki oleh keluarga Yoon.

“Baiklah, saya tinggal. Kamu tinggal mengikuti apa yang di ajarkan Dongwoon-ssi”

“Aa.. ne.. Tapi Jang-ssi, boleh aku bertanya sesuatu..”

Wae?” Junhee sedikit melirik Dongwoon.

“Aku tinggal ke dapur dulu Jang-ssi, aku tunggu kamu Junhee-ssi”

Ne..”

Waeyo Junhee-ssi? Ada masalah?” tanya Hyunseung.

“Bukan.. begini sebenarnya” Junhee menceritakan masalah sekolahnya, apa ia di ijinkan bekerja sambil sekolah atau tidak. Karena sebenarnya Junhee itu masih ingin menyelesaikan sekolahnya sampai tamat.

“Ehm.. saya mengerti masalah kamu.” Jang-ssi tampak berpikir sebentar. “Baiklah, saya mengijinkan kamu bekerja sambil sekolah. Tapi setelah sekolah, kamu bekerja sampai malam, bagaimana? Lalu saat libur sekolah kamu bekerja dari pagi sampai sore. Jadi saat malam kamu bisa belajar untuk sekolah.”

“Benarkah boleh? Kamsahamnida Jang-ssi!!” Junhee terlihat senang dan membungkuk hormat.

“Yasudah, sekarang kamu ikuti Dongwoon dan menyiapkan sarapan. Setelah itu kamu bisa berangkat ke sekolah”

Ne, kamsahamnida” Junhee membungkuk hormat sekali lagi dan meninggalkan Hyunseung yang tersenyum kecil melihat Junhee berlalu.

“Dongwoon-ssi. Apa yang bisa ku bantu?” tanya Junhee kepada Dongwoon yang sibuk menyiapkan sarapan.

“A.. pertama kamu bisa memanggilku Dongwoon oppa saat Jang-ssi tidak ada, agar kita lebih akrab. Lalu kamu bawa ini semua ke meja makan ya”

“Eh?”

“Kenapa masih bengong? Ayo sana bawa makanannya” kata Dongwoon dengan kedua tangannya yang masih sibuk.

“Ne..” Junhee membawa beberapa piring berisi makanan dan berjalan menuju ruang makan. Meja makan itu sangat besar, kira – kira kapasitasnya lebih dari 10 orang. Junhee terlihat bingung menaruh piring – piring makanan itu. “Disini Junhee-ssi” panggil seorang yeoja yang memakai pakaian sama dengan Junhee. Yeoja itu berdiri di ujung meja makan itu sehingga Junhee harus berjalan dari ujung ke ujung. Aigoo, mau makan saja susah sekali, mungkin anggota keluarganya banyak ya, jadi mejanya panjang, tapi apa makanan ini cukup untuk orang sebanyak kursi di meja ini?

“Kamu hanyeo baru kan? Kamu harus ingat apa yang kamu lakukan hari ini, paham?” kata yeoja itu dengan nada ketus.

Ne.. Algoseumnida” Setelah itu, sesuai latihan yang Jang-ssi berikan, Junhee hanya harus menunggu tuan Yoon datang.(알고습니다algoseumnida : I know it)  Tak lama kemudian, seorang namja datang dari arah pintu. Semua hanyeo membungkuk hormat di hadapannya, Junhee mengikuti hanyeo yang lainnya membungkuk hormat dan menarik kursi tempat duduknya. Setelah namja itu duduk. Semua hanyeo berdiri tegap kembali “Annyeonghi jumusyeosseoyo tuan muda” kata seluruh hanyeo.

Namja itu hanya terdiam dan melihat kesana – sini mencari seseorang. “Yaa!! Dongwoon mana? Biasanya ia ada disini!” Junhee terkejut dan hanya menundukkan kepalanya.

“Kamu? Hanyeo baru ya? Cepat panggil Dongwoon kemari.”

“Ne.. Algoseumnida” Sambil menundukkan kepalanya Junhee berlari kecil ke arah dapur dan mencari Dongwoon. “Dongwoon-ssi, tuan mencari kamu”

“A.. pasti aku salah membuatkan sarapan untuk hari ini. Baiklah aku akan kesana. Kamu boleh pergi sekarang. Jang-ssi sudah memberitahukan padaku soal sekolahmu. Lalu, jangan lupa panggil aku oppa saja! Arraseo?”

Ne.. Dongwoon oppa

“Bagus! Sudah lebih baik kamu pergi ke sekolah” Dongwoon segera meninggalkan dapur menuju ruang makan. Junhee terlihat bingung dan terkejut dengan situasi ini. Aku kaget tadi tuan Yoon langsung berteriak seperti itu, Hhh.. sudahlah, lebih baik aku siap – siap untuk sekolah, Gikwang pasti juga menungguku.

###

Sekolah Rebellion, sekolah untuk orang – orang menengah ke atas. Sekolah ini sangat diminati oleh orang – orang karena pelajaran dan fasilitasnya yang baik. Sekolah Rebellion ini hanya di peruntungkan bagi orang – orang yang cukup kaya, namun karena sistem beasiswa setiap tahunnya, banyak juga orang yang tidak mampu yang bersekolah disini secara gratis dengan beberapa syarat tertentu. Seperti minimal nilai, mengikuti kegiatan sekolah dan lainnya.

Junhee salah satu siswi yang beruntung dapat bersekolah disini dengan bantuan beasiswa. Tapi kebanyakan, murid dengan bantuan beasiswa sangat jarang sekali memiliki chingu, mereka merasa kalo murid beasiswa itu sangat berbeda dengan mereka. Karena itu Junhee hanya memiliki satu chingu, Lee Gikwang. Mereka berkenalan di klub musik dan sama – sama menyukai musik. Keduanya masih akrab sampai sekarang.

“Junhee!!” Gikwang memanggil Junhee dan berlari ke arahnya. “Kamu dibolehkan bersekolah sambil bekerja di rumah itu?”

“Ssstthh!! Ne! Jangan bicara terlalu keras! Peraturan sekolah kita kan tidak boleh bekerja” kata Junhee berbisik. Sekolah Rebellion ini lumayan ketat peraturannya, murid disini dilarang untuk bekerja dikarenakan rata – rata murid disini berkecukupan sehingga tidak perlu bekerja dan juga dapat mempengaruhi pelajaran. Gikwang menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Mian Junhee-ya”

Ne.. kwaenchana. Kamu sudah belajar hari ini?”

“Tentu saja! Aku sudah menghapalkan rumus – rumus matematika itu”

“Aku kemarin belum sempat belajar maksimal, mudah – mudahan aku bisa mengerjakannya” kata Junhee tidak semangat.

“Tenang saja Junhee-ya. Kamu pasti bisa! Kamu kan pintar!” kata Gikwang tersenyum semangat.

Hwaiting!!” kata Junhee sambil mengepalkan kedua tangannya. BRUKK.. Karena melihat ke arah Gikwang tak sengaja Junhee menabrak seseorang. “A.. mianhae” tanpa melihat Junhee segera menundukkan kepala meminta maaf. Junhee tidak ingin mencari masalah di sekolah ini. Karena rata – rata muridnya mudah marah dengan hal – hal yang kecil.

Ne, kwaenchana kwaenchana” kata namja itu dengan tenang. Eh? Gak salah denger nih? Dia bilang ‘kwaenchana’? Junhee mendongakan kepalanya dan melihat seorang namja yang sangat ia kenal, Yang Yoseob. Siapa yang tidak kenal Yang Yoseob? Seorang namja yang tampan, imut, baik hati, dan sangat disukai banyak yeoja.

“Yoseob-a kamu terlalu baik! Kamu harus memberi yeoja beasiswa ini pelajaran karena ia sudah menabrak kamu!” kata Doojoon. Yoon Doojoon, namja yang tampan, pintar, tapi kasar. Entah kenapa ia tidak begitu baik dengan yeoja, namun tetap banyak yeoja yang menyukainya, mungkin karena penasaran (?).(여자yeoja : woman/girl)

“Ini tidak ada hubungannya dengan Doojoon sunbae bukan?” kata Junhee sedikit ketus.

“Apa katamu?!” bentak Doojoon menatap Junhee tajam. Doojoon dan Junhee sering bertengkar, Junhee tidak begitu suka dengan sikap Doojoon yang arogan.

“Sudahlah, lagian yeoja beasiswa ini tidak sengaja, biarkan saja” kata Yoseob lagi.

“Hanya tertabrak sedikit saja sudah di besar – besarkan” kata Gikwang yang dari tadi diam. Junhee menyenggol Gikwang dan meliriknya dengan tajam. Gikwang-a babo! Menambah masalah saja!

“Wohh!! Jadi namja-chingu nya mulai bersuara juga? Kamu berani?” kata Doojoon sambil menarik kerah baju Gikwang.

“Sudahlah Doojoon-a.. Tak perlu di permasalahkan, lagian ini bukan masalahmu. Ini masalah Yoseob, jangan mencari masalah di sekolah” kata Junhyung yang daritadi tampak malas ikut campur masalah ini. Yong Junhyung, namja yang sangat pendiam, tampan, baik, namun terlalu cuek. Mereka bertiga berteman baik dan sepertinya hanya Junhyung yang bisa mengontrol emosi Doojoon.

“Hhh.. baiklah, karena hari ini mood ku sedang bagus. Kamu beruntung hoobae” Doojoon melepaskan tangannya dari kerah Gikwang dan melihat Junhee dengan tatapan aneh.

“Sudahlah ayo pergi” Yoseob sambil menarik Doojoon mengajaknya pergi. Junhyung melirik sebentar ke arah Junhee dan mengikuti Doojoon dan Yoseob dari belakang.

“Yaa!! Babo-ya ngapain kamu seperti itu? Itu masalahku dengan Doojoon sunbae” protes Junhee.

“Mereka itu sombong! Sekali – sekali harus ada yang melawannya!” jelas Gikwang.

“Ahh!! Lain kali kamu jangan ikutan seperti itu. Memperburuk suasana saja”

Ne ne ne arraseo Junhee-ya, mianhae. Lebih baik kita masuk kelas sekarang” kata Gikwang sambil tersenyum memperlihatkan sederet gigi – giginya yang putih.

“Ayoo!!”

“Ngomong – ngomong Junhee-ya, tadi kamu bekerja di rumah siapa?” Saat istirahat berlangsung Junhee menemani Gikwang ke kantin sekolah. Tapi Junhee tidak ikut makan bersama Gikwang karena kantin itu termasuk mahal dan hari ini Junhee tidak membawa bekal dari rumah. Gikwang sudah ingin mentraktir Junhee, tapi Junhee menolak karena tidak enak hati dengan Gikwang.

“Katanya si keluarga Yoon” kata Junhee sambil membuka buku catatan bahasa inggrisnya.

“Yoon? Jangan – jangan itu keluarga dari Yoon Doojoon hahahaa..” ejek Gikwang terkekeh.

“Yaa!! Jangan begitu Gikwang-a. Kalo sampai benar gimana?” kata Junhee menggembungkan kedua pipinya. Gikwang terkekeh dan menekan kedua pipi Junhee dengan tangannya. “Aku kan hanya berandai – andai. Pasti seru kalo itu rumah Yoon Doojoon.”

“Huuu. Jangan sampai. Bisa – bisa aku di amuk massa, Yoon Doojoon sunbae itu kan banyak fans nya walaupun sikapnya seperti itu. Lagian nama keluarga Yoon itu kan banyak, bukan Yoon Doojoon sunbae saja”

Arasseo. Tapi jika tempatmu bekerja itu adalah rumah Yoon Doojoon, pasti seru.” Kata Gikwang terkekeh lagi.

“Sudahlahh!! Itu akan menjadi kesialan nantinya. Kelompok ‘Wangja’ itu selalu di ikuti banyak yeoja, karena itu… aarghh jangan sampai” kata Junhee mengacak – ngacak rambutnya seakan kejadian itu jangan sampai terjadi. Wangja itu artinya pangeran, Yoon Doojoon, Yong Junhyung dan Yang Yoseob, mereka semua itu seperti pangeran, tampan, pintar, memiliki keahlian masing – masing, dan juga kaya raya. Mereka layaknya pangeran tanpa istana, ya itulah Wangja.

“Hahahaa.. Sudahlah Junhee-ya. Lebih baik kamu belajar saja. Kepala pelayan itu juga baik mengijinkan kamu bersekolah sambil bekerja. Karena itu jangan mengecewakan dia, belajarlah lalu bekerja yang rajin.” Kata Gikwang panjang lebar.

Ne.. Appa. Aku akan belajar dan bekerja yang rajin” kata Junhee mengejek.

“Yaa!! Memang aku sudah tua? Kenapa memanggilku Appa?”

“Omonganmu itu seperti Appa. Jadi aku tidak salah” kata Junhee santai. Gikwang berancang – ancang menjitak kepala Junhee, tapi Junhee menangkisnya dan menjulurkan lidahnya seakan mengejek Gikwang. Karena merasa Gikwang akan tetap membalas Junhee, Junhee bangun dari tempat duduknya dan.. BUGH..!! PRANGG..!! Junhee menabrak seseorang dan piring yang orang itu bawa jatuh berantakan. Ya ampun Junhee-ya, babo! Tadi kamu sudah menabrak kelompok ‘Wangja’ dan sekarang kamu menabrak seseorang lagi bahkan menjatuhkan makanannya.. apa hari ini hari kesialanmu? Junhee tetap menundukkan kepalanya tanpa melihat siapa yang ia tabrak “Joesonghamnida, Jinjja mianhae, aku tidak sengaja” kata Junhee pasrah. Sudahlah Junhee, pasti ia marah, aku harus mengganti makanannya. Tapi dengan apa? Uangpun tidak ada. Hhhh..

“Ehm.. kamu lagi?” Suara namja itu membuyarkan pikiran Junhee. Junhee mendongakan kepalanya dan melihat seorang namja yang ia kenal.

“Yong Junhyung sunbae?” kata Junhee tersentak kaget. Nice Junhee-ya! Kamu telah menabrak orang dalam kelompok Wangja 2 kali! 2 kali Junhee-ya!!Joesonghamnida Junhyung sunbae, aku tidak sengaja. Sungguh.” Junhyung terdiam sejenak dan berjongkok mengambil piring makanan yang tak sengaja jatuh.

“Hhhh..” Junhyung menarik napas panjang dan mengambil piring itu. “Menyuruhmu menggantinya pun pasti kamu tak bisa. Kamu hanya seorang yeoja beasiswa bukan?” kata Junhyung dengan nada meremehkan. Junhee hanya diam dan melihat ke sekeliling perlahan. Semua murid yeoja melihatnya dengan tatapan ingin memakannya, untungnya tidak ada Yoon Doojoon, jika ada tidak tau bagaimana keadaan Junhee saat ini.

Ne, sunbae. Tapi aku.. aku akan berusaha menggantinya, namun tidak sekarang.” Kata Junhee terbata – bata. Gikwang seperti ingin ikut campur dalam masalah ini namun Junhee meliriknya sebentar dengan tatapan ‘andwae’.

“Ehm.. baiklah. Kamu bisa menggantinya dengan membuatkanku makanan setiap hari di sekolah. Aku bosan dengan makanan kantin. Bagaimana?”

“Eh?”

“Ne. Kamu hanya perlu memasak makanan untukku setiap hari. Sampai aku bilang ‘enak’ anggap saja hutangmu saat ini lunas. Karena masakanmu tidak seharga makanan yang aku beli bukan?” kata Junhyung dengan nada menyindir.

“Ngg.. Ne. Baiklah kalo begitu. Mulai besok aku akan membawa makanan untuk Junhyung sunbae.” Kata Junhee pasrah.

“Baiklah, deal?” Junhee hanya menggangguk pelan. Setelah itu Junhyung tersenyum kecil dan menyerahkan piring yang Junhee jatuhkan dan meninggalkan Junhee yang masih mematung.

“Junhee, kwaenchana?” Gikwang menghampiri Junhee dengan khawatir.

Ne. Kwaenchana.” Junhee berjongkok dan membersihkan makanan yang jatuh karena tubrukan tadi. Gikwang ikut berjongkok ingin membantu Junhee. “Kwaenchana Gikwang-a, biarkan aku sendiri saja. Tidak apa kok, anggap saja dengan memasak makanan untuk Junhyung sunbae itu latihan menjadi chef terkenal” kata Junhee terkekeh sendiri.

Babo.. kalo begitu buatkan aku juga!” kata Gikwang.

Sireo! Kamu tidak boleh kebanyakan makan” kata Junhee meledek.

“Sudahlah Junhee-haksaeng, biarkan saya saja yang membereskannya” Obrolan Gikwang dan Junhee terpotong oleh ahjumma yang membersihkan sekolah.

“Ah, kansahamnida ahjumma. Kalo begitu aku masuk kelas dulu ya.” Kata Junhee sambil menyerahkan piring itu.

“Ne, cheonmaneyo. Selamat belajar” kata Ahjumma itu tersenyum.

“Ye!!”

###

Kamar yang sangat luas dengan cat tembok berwarna putih dan lantainya yang berwarna coklat muda. Di setiap temboknya ada beberapa poster pemain sepak bola Manchester United, Real Madrid dan juga FC Men. Di tengah – tengah kamar itu ada sebuah ranjang double bed yang mewah. Lemari bajunya berwarna coklat tua dan tinggi, banyak sekali baju dan asesoris seperti gelang, kalung, dan lainnya. Di samping itu, terdapat sebuah rak buku berisi manhwa yang lengkap edisinya, One Piece, Naruto, dll. Semua perabotan itu berwarna coklat tua sepadan membuat kamar itu semakin unik dan mewah. TV LCD juga menemani perabotan di dalam kamar itu, sebuah playstation 3 juga berada di depannya. Cd – cd playstation itu berserakan di sekitar lantai menemani bantal – bantal yang dipakai untuk bersantai.

Di atas ranjang, seorang namja sedang sibuk bermain anipang melalui ipadnya. Kelihatannya, namja itu pemilik kamar ini. Namja ini terlihat santai bermain tanpa ada niatan untuk membereskan kamarnya yang seperti kapal pecah, ia tetap bermain dan terus bermain.

“Annyeong!!” Namja yang lain datang memasuki kamar itu, namun namja pemilik kamar itu tidak melihat ke arah pengunjungnya itu.

“Yaa!! Doojoon-a kita jadi pergi tidak?” protes Junhyung melihat Doojoon yang masih santai di atas ranjangnya yang empuk.

Ne ne ne. Aaa..” kata Doojoon yang masih berfokus dengan gamenya. “Aaa! Junhyung-a ini gara – gara kamu! Sebentar lagi Best Score!” kata Doojoon melemparkan bantalnya ke arah Junhyung dan Junhyung menangkapnya.

“Hahahaa.. itu bukan salahku, itu karena kamu tidak pandai bermain” cibir Junhyung.

“Ayoo kita pergi Doojoon-a, bukankah hari ini kamu tidak ingin di rumah? Hari ini yeoja itu datang kan?” kata Yoseob sambil melihat – lihat rak manhwa Doojoon.

“Ye.. kamu benar Yoseob-a. Tapi sebentar, aku mandi dulu.” Doojoon segera turun dari ranjangnya dan berlari ke kamar mandi. Dengan cepat Junhyung melempar bantal yang daritadi di pegangnya ke arah Doojoon. “YAA!! Kamu malas sekali!!” teriak Junhyung ketus. Doojoon hanya cengengesan sambil menutup kamar mandinya.

Sambil menunggu Doojoon-ie mandi, Yoseob dan Junhyung tak akan menyia – nyiakan waktunya. Mereka langsung menyalakan playstation 3 milik Doojoon dan bermain Winning Eleven. Sudah 1 permainan mereka mainkan dan Doojoon belum selesai juga, memang Doojoon selalu lama mandinya dan mereka tau akan hal itu.

“Junhyung-ie, kamu mau minum?” tanya Yoseob yang sedikit haus karena permainan itu.

Ani. Waeyo?”

“Aku ke dapur dulu deh, mungkin aja Mr.Chef membuat sesuatu yang segar” Yoseob beranjak dari kursinya. “Kamu mau?”

“Kenapa tidak panggil hanyeo saja kesini?”

“Ahh, sekalian jalan – jalan. Kamu mau tidak?”

“Boleh deh. Coca cola ya”

“Kamu ini.. selalu saja coca cola, pantas tubuhmu tidak sixpack” cibir Yoseob.

“Terserah aku dong. Sudah sana, syuhh syuhh” kata Junhyung sambil fokus dengan game playstation 3 nya.

“Ckck”

Yoseob keluar dari kamar Doojoon menuju dapur. Yoseob memang tipe yang tidak bisa diam, ia suka berjalan – jalan, apalagi rumah Doojoon. Karena rumah Doojoon sesekali berubah setiap waktu. Bukan seperti sihir, tapi pelayan di rumah Doojoon sering menata kembali perabotan rumah dan mengganti wallpaper sekitar 2-3 bulan sekali agar suasana rumah tidak membosankan dan berwarna.

Memang Yoseob dan Junhyung juga berasal dari keluarga kelas atas. Keadaan mereka bertiga pun sedikit mirip, orang tua yang jarang di rumah, hanya di berikan kemewahan, dan selalu sendiri di rumah. Bedanya Yoseob mempunyai yeo-dongsaeng yang terkadang pulang ke rumah. Sedangkan Junhyung sudah mulai bekerja sebagai penulis lagu dan malas untuk pulang ke rumah. Karena mereka bertiga merasa memiliki kondisi yang mirip, mereka tetap berteman baik sampai sekarang.

PRANGG..!! Suara piring yang pecah berasal dari dapur. Yoseob yang masih berjalan tak jauh dari dapur tersentak kaget. Suara apa itu? Apa pelayan baru lagi?, batin Yoseob.Joesonghamnida Dongwoon oppa, aku tidak sengaja. Sungguh..” Secara samar – samar terdengar suara yeoja yang meminta maaf.

Kwaenchana, keluarga ini tidak terlalu peduli dengan hal seperti ini. Walaupun barang – barang yang mereka punya sangat mahal. Lebih baik kamu membereskannya sebelum ada yang terluka terkena pecahan piring ini”

Ne.. Mianhamnida” Yoseob berjalan masuk ke dalam dapur dan melihat yeoja yang berlari ke arah ruang kebersihan. Hooo.. pasti hanyeo baru lagi, Doojoon-ie memang selalu berganti pelayan.. Ehm.., batin Yoseob.

“Wahh, ada angin apa Yoseob-ssi datang kesini?” tanya Dongwoon tersenyum.

“Yaa!! Memang kenapa kalo aku kesini Dongwoon-ie?” kata Yoseob sedikit tersinggung.

“Kalian itu lebih sering memanggil pelayan untuk makan dan minum, tentu saja itu perlu dipertanyakan” ejek Dongwoon.

“Terserah kamu deh! Huuu.. Aku haus, ada minuman yang enak?”

“Semua minuman yang aku buat selalu enak Yoseob-ssi”

“Ck, baiklah aku akui itu. Tolong siapkan, sekalian sama sepitcher coca cola”

“Untuk Junhyung-ssi? Pasti kamu mengerjai dia lagi memberikannya satu pitcher” selidik Dongwoon.

“Sudah sana – sana! Siapkan, lalu bawa ke kamar Doojoon-ie!” kata Yoseob.

“Ne. Siap laksanakan Yoseob-ssi” kata Dongwoon bercanda memberi sikap hormat. Memang umur Dongwoon tidak jauh dengan Yoseob, Doojoon, dan Junhyung. Karena itu mereka akrab, sebenarnya dengan Mr.Jang juga, tapi Mr.Jang lebih menutup diri. “Hey, yang tadi pelayan baru?” tanya Yoseob penasaran.

Ne. Waeyo? Kamu tertarik dengannya?”

Aniyo! Melihat wajahnya saja tidak.” Dongwoon hanya terkekeh sambil menyiapkan minuman untuk para tamu Doojoon itu. Yoseob duduk di meja bar tempat Dongwoon membuatkan minuman. Tak lama yeoja itu kembali membawa sapu kecil dan pengkinya. Yeoja itu langsung berjongkok terburu – buru dan mengambil serpihan piring perlahan. Karena penasaran, Yoseob melihat ke belakang untuk melihat wajah yeoja yang ceroboh itu. Ternyata yeoja yang ia lihat adalah yeoja yang ia kenal, Loh? Itu bukannya teman sekolahku? Siapa ya namanya? Siapa yaa? Ehm.. Pokoknya yang menabrakku tadi pagi. Ngg.. Babo Yoseob-a, kenapa kamu tidak ingat namanya??, batin Yoseob. Saat yeoja itu selesai membereskan pecahan piring itu, Yoseob reflek membalikan tubuhnya kembali ke arah meja bar.“Junhee-ya. Jangan lupa nanti siapkan baju seragam tuan muda” kata Dongwoon.

“Ne. Dongwoon oppa.” Benar! Junhee.. Choi Junhee..!! Yeoja beasiswa itu! Sedang apa dia disini?,batin Yoseob.

Junhee membungkukkan sedikit tubuhnya memberikan hormat, lalu meninggalkan Yoseob dan Dongwoon di dapur. Sepertinya aku mengenal namja di depan Dongwoon oppa? Ahh.. mana mungkin aku mengenal orang – orang kaya seperti itu. Kkk.. Sudahlah, lebih baik aku menyiapkan seragam tuan Yoon,batin Junhee.

“Yoseob-ssi? Kwaenchana?” tanya Dongwoon yang kebingungan melihat Yoseob yang melamun di depan meja bar.

“Aa.. Ne. Sudah selesai?”

“Sudah daritadi. Kamu memikirkan apa? Hanyeo baru tadi? Memang dia cantik, tapi apa selera kamu..”

“Yaa!! Apa maksudmu? Tidak mungkin kan? Sudah ayo bawakan ke kamar Doojoon-a” kata Yoseob sambil beranjak dari kursi. Dongwoon hanya tersenyum kecil sambil menggangguk pelan. Yoseob masih berpikir, kenapa yeoja beasiswa itu disini? Bukankah walaupun mendapatkan beasiswa ia tetap memiliki keluarga? Bukankah jika sekolah di Rebellion tidak boleh sambil bekerja? Pertanyaan itu berputar – putar di kepala Yoseob.

###

Pagi ini adalah hari yang melelahkan bagi Junhee, ia bangun jam 5 pagi untuk menyiapkan bekal untuk Junhyung, membantu membersihkan dapur dan bersiap – siap untuk ke sekolah. “Yaa!! Anak baru! Kamu bisa menata meja makan dengan baik tidak si? Jangan karena Dongwoon oppa membelamu dan mengijinkanmu untuk sekolah, pekerjaanmu jadi terbengkalai seperti ini” protes salah satu maid senior. “Jeoseonghamnida eonni, aku terburu – buru”

“Jangan sampai hal ini terulang lagi, aku sudah mengajari kamu waktu itu. Kalo sampai ini terulang lagi aku akan memberitahukan Jang-ssi” ancamnya.

“Joeseonghamnida, aku akan lebih hati – hati ke depannya” kata Junhee menundukkan kepalanya. Setelah membereskan semuanya Junhee segera menuju kamarnya, mandi, dan langsung berangkat ke sekolah Rebellion.

Sesampainya di sekolah, Junhee tidak mencari Gikwang dulu seperti biasa. Junhee segera menuju atap sekolah dan menaruh bekal untuk Junhyung disana. Itu syarat yang Junhyung berikan ke Junhee. Bagaimana aku bisa tau kalo bekal buatanku enak baginya? Bahkan memberikannya secara langsung saja tidak. Yong Junhyung curang!!

Suasana kantin saat pagi sangat sepi, karena seluruh makanan belum tersedia dan semua murid sibuk untuk masuk ke kelas. Terlihat beberapa ahjumma dan ahjussi sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para murid saat istirahat siang nanti. Seorang murid namja sedang duduk sambil menyeruput ocha dinginnya. Sepertinya namja itu sedang berpikir keras, pandangannya kosong lurus ke depan. “Yoseob-haksaeng, bel masuk pelajaran sudah berbunyi, apa kamu tidak ingin ke kelas?” seorang ahjumma yang sedang menyapu menyadarkan lamunan Yoseob.

Ani ahjumma, nanti saja” kata Yoseob tersenyum jahil.

“Dasar murid jaman sekarang..” sindir ahjumma itu tersenyum kecil.

“Hahahaa.. ya begitulah ahjumma, gomabta sudah mengingatkan”

“Ne, cheonmaneyo” Setelah ahjumma itu meninggalkan Yoseob seorang diri, Yoseob terus memutar otak ‘lagi’. Pertanyaan yang sama selalu berputar – putar dalam kepalanya, kenapa yeoja beasiswa itu berada di rumah Doojoon dan bahkan menjadi hanyeo. Apa Doojoon tau soal itu? Atau Jang-ssi dan Dongwoon-ie tidak tau kalo yeoja beasiswa itu bersekolah di sekolah yang sama? Dan kenapa aku harus memikirkan yeoja beasiswa itu?, batin Yoseob.

“YAA!! Yoseob-a!! Seorang Yoseob membolos kali ini?” Suara Doojoon membuyarkan lamunan Yoseob.

“Jangan – jangan sebentar lagi bumi akan hancur karena kamu membolos pelajaran” ejek Junhyung. Doojoon dan Junhyung duduk di depan Yoseob.

Aniyo! Hari ini aku hanya sedikit malas untuk masuk ke kelas. Bagaimana dengan kalian?”

“Kami? Bukankah kami memang sering membolos, apalagi orang ini” kata Doojoon melirik ke arah Junhyung sambil tersenyum jahil.

“Pelajaran itu membosankan” kata Junhyung menyenderkan tubuhkan ke kursi. Junhyung memang sering membolos pelajaran, begitu juga dengan Doojoon. Hanya Yoseob yang jarang sekali bolos, Yoseob selalu mengikuti pelajaran dengan baik.

“Memang, terkadang suasana kelas itu membuat ngantuk.. huahh” Doojoon menguap lebar. “Sedang apa kau disini?”

“Hanya sedang berpikir sedikit, ngomong – ngomong Doojoon-ie. Apa kamu tidak merasa ada hal yang baru di rumahmu?”

“Rumahku?” Doojoon terdiam sebentar tampak berpikir. “Aniyo. Semua tampak sama, suram, sepi, dan tidak ada kehidupan. Ya mungkin Jang-ssi dan Dongwoon-ie termasuk makhluk hidup. Hanyeo, boan, yorisa juga. Tapi itu tidak penting. Ehm.. Kenapa kamu menanyakan itu Yoseob-ie?”

“Ehm.. Ani.. Aku pikir ada sesuatu yang baru dan mengejutkan saja di rumahmu.”

“Kamu aneh Yoseob-a. Hahahaa.. Tentu saja rumahku sama seperti biasa. Suram dan sepi”

“Aa.. keure..” kata Yoseob mengangguk – nganggukan kepalanya. Junhyung hanya diam mendengarkan Yoseob dan Doojoon mengobrol. Junhyung perlahan mengeluarkan bekal makanan yang dibuatkan oleh Junhee.

“Woo Junhyung-a, sejak kapan kamu membawa bekal dari rumah?” tanya Yoseob.

“Ini dari yorisa spesial. Mau coba?” kata Junhyung menawarkan. Tanpa basa – basi Doojoon dan Yoseob mencoba bekal Junhyung itu. “Ehm.. enak.” Kata Doojoon bergumam.

“Boleh juga, walaupun masih belum sekelas buatan Dongwoon-ie” kata Yoseob.

“Yahh.. namanya juga yorisa spesial, belum mahir” kata Junhyung sambil menyantap bekalnya itu.

“Siapa yorisa spesial itu? Yeoja-chingu mu ya?” ejek Doojoon.

“Ani. Ini hanya sebuah hukuman kok”

“Maksudnya?” tanya Doojoon menatap Junhyung penasaran. Junhyung hanya mengangkat sedikit bahunya seakan tidak ingin memberitau dan tetap memakan bekalnya. Yoseob dan Doojoon saling bertatap – tatapan seakan bertanya ‘kamu tau tentang hal itu?’ ‘siapa yorisa itu?’.

###

Tak terasa sudah seminggu berakhir Junhee menyiapkan bekal untuk Junhyung, Junhee tau bahwa Junhyung memakannya. Sebelum pulang sekolah Junhee mengambil tempat makan yang sudah kosong serta pesan di atas bekal tersebut. Bunyi pesan itu selalu sama ‘TIDAK ENAK’. Junhee memang tidak yakin dengan masakannya, namun Junhee selalu mencobanya sebelum diberikan kepada Junhyung. Yaaa seenggaknya kan bisa dimakan, kalo tidak enak lebih baik tidak usah dimakan, ya mungkin memang biasa saja, tapi tidak harus selalu tidak enak kan? Batin Junhee yang sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk.

Hari ini hari Sabtu, karena itu Junhee tidak perlu bangun pagi untuk bekerja. Jang-ssi membuat peraturan khusus untuk Junhee agar Junhee bisa bekerja sambil sekolah. Karena bosan, Junhee mengganti pakaiannya dengan seragam hanyeo dan berencana ingin mengelilingi rumah tersebut. Junhee belum pernah melihat kolam renang, taman belakang, ataupun kamar di rumah ini, karena Junhee sibuk bekerja di bawah dan juga sibuk bersekolah. Karena semua tugas sekolah Junhee sudah diselesaikan pagi ini, Junhee bisa melakukan tour di rumah keluarga Yoon untuk pertama kalinya.

Rumah itu sangat mewah sesuai dengan yang Junhee bayangkan, banyak sekali foto – foto dan juga barang – barang antik berderet di sepanjang lantai 2. Kamarnya pun ada banyak, Jang-ssi sudah pernah memberitahukan Junhee kamar tuan dan nyonya Yoon. Namun Junhee hanya melihat pintu kamarnya saja. Beberapa kamar yang berukuran sedang adalah kamar untuk tamu yang ingin menginap, menurut Junhee kamar tamunya pun sudah mewah. Setiap kamar tamu memiliki furniture dan dekorasi yang sama. Ranjang double bed dengan meja kecil di samping ranjang itu, di sampingnya terdapat lemari pakaian yang lumayan tinggi. Semua kamar tamu juga terdapat TV dan juga toilet. Kamar tamu yang persis seperti kamar hotel.

Setelah melihat – lihat kamar tamu, kamar mandi serta lorong di lantai 2. Junhee melihat sebuah bola yang sudah usang dan dilindungi oleh lemari kaca di pojok lorong. Bola itu tampak mahal, namun sudah usang. Junhee tertarik dan terus mengamati bola usang itu. Mungkin sudah lama di mainkan dan memiliki kenangan, ehm.. tulisannya di depannya ‘My First Ball’ lalu.. tandatangan di bola itu.. Doo.. Doo? Tidak jelas karena sudah lama.. Dooj.. KRIETT.. Perlahan suara pintu di sebrang terbuka. Pintu kamar itu berbeda dengan kamar para tamu lainnya. Junhee reflek membalikkan tubuhnya melihat kearah pintu tersebut.

“Yeoja beasiswa?!” namja itu terkejut melihat Junhee berada di depannya.

“Yoon.. Yoon Doojoon sunbae-nim?”

“Sedang apa kamu disini?!” kata Doojoon sambil menghampiri Junhee yang diam mematung. Eottokhe? Omongan Gikwang jadi kenyataan, Doojoon anak pemilik rumah keluarga Yoon ini! Omo!! Doojoon melihat Junhee dari atas kebawah, “Seragam hanyeo?! Kamu bekerja di rumahku? Menjadi seorang hanyeo?”

“A.. a.. ehm.. Ne..” kata Junhee kebingungan. Eottokhe? Kalo sampai Doojoon memberitahukan hal ini ke sekolah, aku.. aku bisa di drop out dari sekolah. Aigoo.. Kenapa kamu bisa bekerja di rumah musuhmu Junhee-ya? Babo!!

“Doojoon-a, waeyo? Yeoja itu sudah..” Junhyung keluar dari kamar yang sama. “Junhee-ya?! Kenapa kamu disini?” Yoseob yang mendengar perkataan Junhyung segera bangkit dari duduknya dan menuju pintu kamar. Yoseob hanya terdiam dan melihat mereka semua. Ternyata benar.. tidak ada yang tau bahwa Junhee bekerja menjadi hanyeo di rumah Doojoon-ie.., batin Yoseob.

“Ini.. ya sebenarnya ada alasannya.. jadi.. ehm..”

“Kenapa kamu bisa bekerja disini?! Bukankah kamu masih memiliki eomma?!” kata Doojoon menatap tajam ke arah Junhee. Kenapa Yoon Doojoon tau kalo aku dulu tinggal dengan eommaku? Aneh..

“Ne.. tapi ada sedikit masalah.. jadi..” Doojoon menarik tangan Junhee dengan kasar dan membawanya ke kamarnya. Junhyung dan Yoseob hanya mengikuti mereka dari belakang. Doojoon juga segera memanggil Jang-ssi untuk menjelaskan semuanya. Junhee duduk di sofa yang terdapat di tengah – tengah kamar Doojoon sambil menundukkan kepalanya. Doojoon dan Junhyung terus menatap Junhee dengan tajam dan Yoseob berjalan mondar – mandir karena rasa penasarannya. Jang-ssi lama sekali datangnya, menunggunya 1 menit seperti 1 tahun! Babo Junhee-ya. Bagaimana kalo kamu di pecat? Bagaimana kalo kamu dilaporkan ke pihak sekolah? Sungguh.. aku tidak punya tempat lagi..

TOK..TOK.. Seseorang mengetok pintu kamar Doojoon. “Anda memanggil saya Doojoon-ssi?” Jang-ssi datang menghampiri kami yang sedang duduk di sofa.

“Hyunseung-a bisakah kamu menjelaskan, kenapa Junhee bisa bekerja disini? Apa kamu tidak tau bahwa dia satu sekolah denganku?” tanya Doojoon dengan nada sedikit kesal.

“Tentu saya tau bahwa Junhee satu sekolah dengan tuan muda karena sebelumnya Junhee sudah pernah memberitahu saya. Junhee bekerja disini sebagai hanyeo. Saya yang memperkerjakannya kira – kira seminggu yang lalu.” kata Hyunseung.

“Kenapa kamu memperkerjakan dia? Pecat dia sekarang juga!” bentak Doojoon. NYUT.. rasanya seperti ada yang menusuk hati Junhee. Dimana Junhee akan tinggal dan mendapatkan uang?

“Tapi Doojoon-ssi.. sebentar lagi pesta ulang tahun anda, kita membutuhkan banyak hanyeo dalam acara tersebut. Lalu itu juga adalah hari dimana tuan dan nyonya Yoon mengumumkan pertu..”

“Diam!! Sudah pecat yeoja beasiswa ini! Aku tidak ingin melihatnya! Dia tidak se-level denganku! Cukup aku melihatnya di sekolah, aku tidak ingin melihatnya di rumahku ju..” Perkataan Doojoon berhenti saat melihat Junhee yang berlutut di depan Doojoon sambil menundukkan kepalanya. “Mau apa kamu?!”

“Joesonghamnida Doojoon-ssi. Jjinja mianhae.. Mungkin aku memang memiliki kesalahan yang sangat banyak sehingga kamu membenci aku. Tapi aku sangat memohon.. biarkan aku tinggal disini untuk sementara.. setidaknya.. setidaknya sampai aku mendapatkan uang agar dapat membayar rumah kontrakan.. setelah itu, aku akan keluar dari sini.” Kata Junhee hampir menangis. Doojoon hanya terdiam.

“Aku.. Eomma-ku sudah meninggal belum lama ini, aku juga diusir oleh pemilik rumah kontrakan karena tidak bisa membayar rumah kontrakan itu. Sekarang.. aku benar – benar tidak punya siapapun, bahkan tempat tinggal.. jadi..” Junhee tak tahan menahan air matanya. Perlahan air mata Junhee mengalir membasahi kedua pipinya. Junhee secepatnya mengusap air matanya. “Mian.. ini pertama kalinya aku menceritakan semuanya. Mianhamnida.. aku selalu melawanmu di sekolah..”

Setelah mendengar perkataan Junhee, Yoseob perlahan mendekati Doojoon dan membisikkan sesuatu kepadanya. “Baiklah.. tapi dengan satu syarat” kata Doojoon.

“Eh?”

“Kamu hanya perlu mengikuti apa yang kita inginkan dan jangan macam – macam!”

“Kita?”

“Ne! Kita, aku, Yoseob dan Junhyung. Masa kamu tidak mengerti? Bukankah kamu pintar?” kata Doojoon dengan nada menghina.

“Ne.. arraseo. Kamsahamnida” kata Junhee memberi hormat berkali – kali. Untunglah Junhee-ya, kamu hanya perlu bersabar mengahadapi tuan angkuh ini sampai kamu menemukan tempat tinggal yang nyaman.

“Jang-ssi. Kamu boleh meninggalkan kami sekarang. Lalu kamu yeoja beasiswa, tunggu diluar, aku ingin bicara dulu bertiga” perintah Doojoon.

“Ne” kata Hyunseung dan Junhee lalu mereka meninggalkan kamar Doojoon.

“Kamu mengijinkan Junhee bekerja disini Doojoon-a?” tanya Junhyung.

“He – eh. Mungkin aja nanti ada gunanya” kata Doojoon.

 “Ehm.. baiklah terserah kalian.” Kata Junhyung tak perduli.

“Ideku bagus juga bukan? Membiarkan yeoja beasiswa itu tetap disini. Dia juga mengikuti apa yang kita inginkan, sudah pasti yeoja itu tidak akan bersikap sombong lagi” kata Yoseob.

“Yup bagus, tapi aku sedang memikirkan tentang pesta ulang tahunku itu.”

“Oh ya? Kamu punya rencana lain?”

“Ne. Jadi begini idenya..”

Junhee terus menunggu di depan kamar Doojoon, pikirannya kalang – kabut. Rasanya Junhee menyesal telah berkeliling di sekitar rumah Doojoon dan bertemu dengannya. Takdir? Ani ani, ini permainan dan aku sedang sial. Eottokhe!! Apa yang akan mereka lakukan padaku? Tapi aku harus mengambil sisi positifnya, setidaknya aku tidak jadi di pecat dan juga tidak di laporkan ke sekolah karena aku bekerja. Itu saja sudah cukup.. KRIETT.. Suara pintu terbuka. Yoseob keluar dari kamar Doojoon. “Masuk.” Kata Yoseob. Junhee hanya menganggukan kepala dan mengikuti Yoseob.

“Jadi kamu akan mengikuti apa yang kita inginkan bukan?” tanya Doojoon dengan senyum penuh maksud.

“Ne..” Hanya itu yang bisa kamu katakan Junhee?

“Baiklah” Doojoon berjalan menuju meja belajarnya dan menelpon seseorang. Junhee hanya diam dan melihat ke arah Junhyung, Yoseob dan sekitar kamar Doojoon. Kamar Doojoon sunbae bahkan ada tempat duduk santai dan TV LCD yang besar? Orang kaya.. Ckck,

Junhyung bangkit dari sofanya dan melihat Junhee seakan menghina. Lalu Junhyung mendekatkan wajahnya ke sebelah telinga Junhee. “Siapa sangka seorang yeoja beasiswa akan berubah menjadi gongju?” bisik Junhyung pelan. (공주Gongju : Princess)

“Eh?” Junhyung menjauh dan tersenyum. Maksud Junhyung sunbae apa?

TOKK..TOKK.. Tiba – tiba datang segerombolan yeoja sekitar 5 sampai 6 orang. Mereka membawa beberapa tas yang isinya tidak dapat dipastikan. “Kami siap Yoon Doojoon-ssi.” kata salah satu yeoja itu.

“Ne. Silahkan mulai, yeoja itu siap di apakan saja” kata Doojoon sambil tersenyum menyeringai. Yeoja itu memberi hormat dan menghampiri Junhee. “Silahkan Junhee-ssi, lewat sini” ajak yeoja itu.

“A.. Tapi..” Junhee melirik sebentar ke arah Doojoon dan Doojoon membalas dengan tatapan ancaman. “Baiklah” kata Junhee pasrah. Saat Junhee membalikkan tubuhnya untuk mengikuti semua yeoja itu. “Engg..” Yeoja itu menutup hidung dan mulut Junhee dengan saputangan yang telah dioleskan obat bius. Junhee hilang kesadaran.

“Yaa! Doojoon-a apa perlu membiusnya?” tanya Yoseob yang sedikit terkejut melihat Junhee tak sadarkan diri.

“Itu penting. Mungkin saja yeoja beasiswa itu kabur saat perubahan dimulai.”

“Tapi yeoja beasiswa itu sudah pasrah bukan?” tanya Yoseob lagi.

“Sudahlah Yoseob-a. Manusia itu makhluk yang aneh. Mereka bisa setia dan juga berkhianat. Kamu belum begitu berpengalaman dengan masalah seperti ini.” Kata Junhyung sambil membolak – balikan halaman buku seakan tak ada hal yang terjadi. Yoseob hanya mengangguk – anggukan kepala dengan wajah berpikir.

“Woahh Junhyung-a! Dewasa sekali kamu” Doojoon menghampiri Junhyung dan mengacak – ngacak rambutnya.

 “YAA!!”

###

Prolog ‘My Life?’ – Part 2:

“Ini dimana?” Junhee tersadar dari tidurnya yang lelap. A.. benar.. yeoja itu yang membiusku. Lalu.. ehm.. Aku tak ingat. Perlahan Junhee beranjak dari ranjang yang ia tiduri saat pingsan tadi. “Akhirnya kamu bangun juga” kata seseorang dari arah pintu. “Eh?” Junhee menoleh ke arah suara itu berasal. “Kamu..?”

N/B: Annyeonghaseo, Shayo imnida ^-^. Kamsahamnida sudah membaca Fanfiction “My Life?” *bow*. Saat ini Author memberikan beberapa penjelasan umum tentang bahasa Korea dan author juga masih belajar kok… jadi mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan. Author sangat menerima kritik dan saran dari kalian semua, dan juga karena sempat hiatus menulis fanfiction dikarenakan kesibukan kuliahㅠㅠ. Oh iya, FF ini Author buat sebelum Hyunseung-oppa keluar dari B2STㅠㅠ(sedih lagi). Semoga kalian terhibur yaaa. Don’t forget to give me your comment!!!

3 thoughts on “My Life? – Part 1”

  1. hi there!

    yaa Yoseob emang ga bisa diem pecicilan tapi baik hati wkwkwk

    hmmm yg dikatain Gikwang beneran. gimana reaksi Gikwang ya hhahaha xD

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s