[Vignette] Be Bad

Be Bad

Tittle: Be Bad

 Scriptwriter: riseuki || Cast: SHINee’s Taemin  ||

 Genre: Hurt/Comfort  || Duration: Vignette ||

Disclaimer: I only own the plot & absurdness. The cast belong to themselves.

©Riseuki, 2016

“Jika jadi baik sudah mulai melelahkan, kenapa tidak coba jadi sebaliknya ?”

.

.

.

Lee Taemin masih menggoyang-goyangkan ponselnya dengan lemah, melihat-lihat kontak yang ada disana. Ada satu nama yang sejak tadi ia perhatikan, tapi tak pernah sekali pun tombol dial berhasil ditekan. Rasanya berat, karena ia sendiri tidak tahu harus berkata apa jikata benar telepon itu nanti diangkat oleh si pemilik nomor.

Ada satu smirk yang seketika muncul di bibir Taemin, lalu pikirannya melayang ke beberapa tahun sebelumnya. Saat hubungannya dengan si pemilik nomor itu masih baik. Maksudku, masih sangat baik.

.

.

Musim hujan, dan Lee Taemin dengan setia masih saja meringkuk di balik selimut coklat di kamarnya, walau jam di nakas sebelah kiri ranjang sudah menunjukkan bahwa sekarang sudah hampir siang. Tapi, dengan jendela yang tertutup tirai dan lampu yang bahkan tidak menyala, juga mendung yang menghalangi matahari, hadirnya siang pun tak akan disadari.

Drrrt. Drrrt.

Lee Taemin menggeliat karena getar ponselnya agak mengagetkan, matanya masih setengah terbuka. “Nghh ?” jawabnya seadanya setelah tombol hijau di-iya-kan.

Ada sedikit jeda sebelum sebuah suara yang begitu lembut merespons, “Taemin-ah?”

Ini siapa?”, dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, Taemin bahkan tidak tahu nomor siapa yang ia iya kan barusan.

“Ini aku”

Seketika kesadaran Taemin penuh dan langsung terduduk dengan tegak di ranjangnya, masih memegangi selimut coklat yang membungkus tubuhnya. “Oh, nee. Ada apa? Tumben sekali menelepon?” alis matanya terangkat sebelah, menandakan kebingungan yang memang sekarang ini terpeta jelas di wajah lelaki yang masih bau bantal itu. This is not usual.

“Kau masih tidur ya?”, suara perempuan yang lembut dan jelas menjawab di line seberang, diikuti cekikikan kecil yang terdengar nervous di telinga Taemin.

“Ah tidak, aku sudah bangun kok. Memang ada hal apa?”

“Ermm”

Jeda lagi. Dan obrolan mereka hanya tentang hal-hal remeh semata, Taemin akhirnya menilik jam di atas nakas miliknya dan sadar bahwa sekarang sudah sangat siang. Ia mulai menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan berjalan ke jendela sembari masih menjawab pertanyaan-pertanyaan dari perempuan di telepon itu, “Engh, yeah”sebenarnya lebih sering keluar dari bibir Taemin, walau diimbangijuga dengan beberapa tawa kecil yang memang biasa terjalin antara mereka. Tapi biasanya hanya saat mereka saling bicara dan bertatapan, ada di tempat yang sama dan memang bercanda atau saat mereka belajar. Bukan di telepon, mereka tidak pernah melakukan ini, jadi biarpun mereka bersahabat sejak lama dan begitu dekat, kegiatan ini benar-benar awkward.

Ada rintik-rintik yang saling bersusulan di luar sana, membasahi halaman dan genting rumah, sekaligus menebar hawa yang lebih dingin hingga terasa di tulang-tulang Taemin yang hanya terbungkus kulit tipis dan baju tidur yang bisa dibilang hanya singlet.

“Jadi, aku sebenarnya menyukaimu”

Freeze.

Satu kalimat itu, memutus tawa antara mereka. Taemin yang tadinya coba menghangatkan tubuh dengan mengelus lengannya yang memegang telepon dengan lengannya yang bebas, terdiam. Pertama, karena confession mendadak yang sama sekali tak diduga akan ia peroleh sesaat setelah ia bangun. Kedua, karena confession itu dilakukan via telepon. Ketiga, karena Lee Taemin benar-benar tak mengerti dengan apa yang harus diperbuatnya. Dan, yang paling mengejutkan adalah fakta bahwa confession itu dilakukan oleh seorang perempuan yang notabene ia anggap sebagai kakak-nya sendiri.

“Taemin-ah?”

”Oh, noona, mengenai hal itu –“

Ada nafas yang dibuang di seberang, “Aku tahu ini mendadak tapi apa kau bisa memikirkannya?”, dan bahkan tanpa sempat dijawab, line itu diputus sepihak, meninggalkan Lee Taemin yang termenung di tempatnya berdiri, menatap hujan dengan pikiran yang seketika berkecamuk, dan jantung yang tiba-tiba berdegup.

Taemin menyubit lengannya, sakit. Hari ini, agak mengejutkan.

.

.

Hari berikutnya, Lee Taemin menemui perempuan itu, tapi sama sekali tak mampu memandangnya, jantungnya masih berdegup-degup jika mengingat pernyataan suka yang ditujukan pada dirinya kemarin. Gurat-gurat malu juga menyambangi pipi Taemin, membuatnya merasa hangat seharian ini, tapi memangnya iya, hanya karena pernyataan itu ia jadi jatuh cinta ?

Konyol.

Mereka tidak satu kelas, jadi lebih mudah bagi Taemin untuk menghindar. Tapi, bukannya ia tak bisa selamanya bersikap seperti ini ?

Dan lagi, sang noona terus mengejar jawab dari Taemin.

“Apa karena gap antara kita begitu jauh?”. Pertanyaan ini sebenarnya juga salah satu concern Taemin mengapa ia tak segera menjawab, ia masih bingung dengan hatinya, dan hatinya masih bingung dengan pilihan apa yang harus diambilnya.

Tujuh tahun bukan gap yang kecil. Mungkin biasa saja jika Taemin yang lebih tua dan sudah ada di umur sang noona, tapi ini kebalikannya. Taemin masih duduk di kelas 12 sedangkan sang noona bahkan sudah lulus kuliah dan bekerja, mereka jadi sangat dekat karena noona itu adalah mentor Taemin untuk menghadapi seleksi masuk universitas tahun ini.

Hey, apa kau baik-baik saja? Hari ini kau kelihatan aneh, seperti banyak yang kau pikirkan”, beberapa teman Taemin yang lain bahkan memperhatikan sikapnya hari ini.Dan Lee Taemin selalu bilang bahwa ia baik-baik saja. Like nothing special ever happened.

Noona, kau bisa temui aku di cafe dekat sekolah ?”

.

.

Dengan sangat jelas, bahkan hingga hari ini, Lee Taemin masih bisa mengingat ekspresi yang diperlihatkan noona nya itu ketika jawaban ia berikan. Dan saat itu pula, hingga sekarang, Lee Taemin merasa ada rasa sesal di hatinya. Karena sejak saat itu pula semuanya berubah.

Kalau orang-orang mengatakan bahwa beda antara cinta dan benci hanyalah setipis kertas dan semudah membalikkan telapak tangan, begitulah yang akan dipercayai oleh Lee Taemin.

Hari itu pula, senyum terakhir sang noona yang tulus pernah ia simpan dalam ingatannya, dan sampai hari ini belum ada senyum lain yang menggantikan, karena tidak pernah ada lagi senyum yang diberikan dan dipertukarkan antar mereka.

“Jika noona mau aku jujur, aku juga menyukai noona, walau aku tak tahu apa ini suka dalam artian mencintai atau karena aku nyaman bersama dengan noona”

“Jadi, maksudmu?”

“Entahlah. Aku tidak tahu”

 

Tanpa percakapan dan penjelasan lebih lanjut, di hari berikutnya mereka rasanya sudah terpisah sangat jauh. Tanpa saling menghubungi, terputus komunikasi dan bertingkah layaknya orang asing. Dari situ Lee Taemin mengasumsikan ada yang salah dengan apa yang dilakukannya, atau dengan apa yang diucapkannya, tapi tetap saja Lee Taemin tidak tahu kesalahan apa yang sebenarnya ia perbuat hingga hubungan mereka jadi seperti ini.

Sang noona sudah pindah ke Jepang.

Dia juga sudah menikah sekarang.

Tapi, Lee Taemin jadi terus memikirkannya. Tanpa bisa berhenti walau ia ingin, karena jika dipikir lagi ke belakang, terlalu banyak hal dan kenangan yang mereka bagi untuk ditutup dengan sebuah pernyataan dan jawaban yang menghancurkan semua masa itu. Haha, mereka bodoh jika aku harus berkomentar.

.

.

Lee Taemin masih menggoyang-goyangkan ponselnya dengan lemah, ia tahu dan ingat dengan pasti bahwa hari ini adalah hari ulang tahun sang noona.Matanya melirik tanggal yang tertera di ponsel dengan seksama.

Apa ia masih perlu mengucapkan selamat seperti tahun-tahun sebelumnya? Walau balasan yang diterima hanyalah ketikan“kamsahamnida” yang formal dan tanpa bisa diperluas jadi sebuah obrolan untuk mencairkan hubungan mereka yang tiba-tiba terkutuk keras seperti batu.

Tapi lima tahun masa muda rasanya sudah cukup untuk selalu memfokuskan diri pada satu orang yang bahkan belum tentu masih focus pada kita, kan?

Lee Taemin akhirnya membuang nafasnya dengan berat dan meletakkan ponselnya dengan rapi di atas nakas, kali ini kurva lengkung yang menyimpan kelegaan dari hasil pemikiran yang setidaknya sudah cukup lama dipendam menyambangi bibir Lee Taemin. Tidak lagi perlu memikirkan untuk menekan tombol dial, sudah lupakan saja.

Lee Taemin membuka tirai jendelanya yang langsung memasukkan sinar-sinar baik sang mentari walau agak lemah.

Masih musim hujan yang sama, walau kini tanpa rintik-rintik.

Dan masih lelaki yang sama, yang kini mulai membuat kejutan untuk diri sendiri.“Selamat ulang tahun, noona—“bisiknya pada angin yang seketika menghilang, “—selamat tinggal”, imbuhnya menyelesaikan bisikan.

.

.

.

“I have been pretending as a good kid for years, so from now on I’ll be the bad one. Not just because I’m tired of asking ‘bout what happened to us, but also ‘cause I want to moving on forward. So, Let me be bad, won’t you ?”

fin

4 thoughts on “[Vignette] Be Bad”

  1. Ampun! Uri taemin memang sudah dewasq. Sudah bisa move on!! Eh tapi ga yakin sih, paling masih kepo kepo. Ye kaaan ?
    Udaaahh oppa sama aku ajaaa masih free, cuman lahi deket sama wonwoo ajaa /NAH KAN DIBACOK/
    Haha, bagus riseuki-nim. More shinee ff jsyoo ^^

    Suka

    1. hai leetaemilk! duh baca ID mu jadi imget jaman taemin dihubung2kan sama banana milk which is udah lama banget :””””)
      wqwq gatau deh taemin gmana perasaannya sekarag, coba tanya wonwoo *nah
      makasih sudah rcl-ing🙂

      Suka

  2. hi there!

    wah be bad in a good thing. demi move on berubah jahat (?) mencoba ngga perduli sama noona itu lagi. ya semoga berhasil hehehe.
    suka sama penggambaran galaunya Taemin. gatau suka aja gitu hehehe

    see ya~

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s