[Oneshot] Last Time

Last Time

Last Time


Script Writer: Nadia Suci

Maincast: Hansol/Vernon ’17, Park Hyo Jin

Support Cast:

  • Kim Ha Ni
  • Hansol’s Father
  • Ha Ni’s Family

 Genre: Drama

 Duration: One Shot

HANSOL POV~

Aku adalah seorang pria muda, tampan, berprestasi namun banyak orang mengatakan aku sombong dan Gayaku urak-urakan dan namaku Vernon Chwe atau biasa dipanggil Choi Han Sol, aku adalah calon pewaris tahta keluargaku yg kaya raya. Orang-orang dan ayahku taka ada yang suka  dengan sikapku yang selalu menghambur-hamburkan uang keluargaku, dan mungkin kurang kasih sayang seorang ibu mempengaruhi hidupku, ayah mendidikku sangat keras tak ada kelembutan kasih sayang seperti seorang ibu yang tak bisa  membuat aku dewasa.Suatu hari  aku di marahi oleh ayahku karena tagihan kartu  kreditku yang sangat besar

 “dasar anak tak berguna! Apa sebenarnya yang bisa kau kerjakan? Selalu saja membuat masalah!”

 “kenapa ayah harus marah sebesar ini? Aku kan anak ayah, dan ayah juga kaya. Tagihan sekecil itu masih bisa ayah lunasikan?”

“apa maksudmu?! Dasar tidak tahu diri, kalau saja aku tidak memintamu menetap di Korea. Mungkin sekarang aku tidak akan terkena struk ringan.”

 “yasudah kembalikan saja aku ke Amerika. Mengapa ayah harus susah-susah memarahiku?”

“sudah marah-marah ia pergi, jika aku mempunyai perusahaanku sendiri. Mungkin aku tak membutuhkanmu, ayah. Huft.. lebih baik aku tidur.”  Tak ku pedulikan dan aku ikut pergi

==================KANTOR AYAH HANSOL======================

“Permisipresdir, Tuan muda Hansol sudah ada.”

“baik terimakasih, suruh dia masuk.” Sambil menyusun dokumen-dokumen yang telah disiapkan.

Aku duduk disofa ruangan ayahku.

“untuk apa ayah memanggilku? Apa ingin mengembalikan ku ke Amerika?”

“Lebih tepatnya, ayah akan mengirimmu ke Incheon, tinggal bersama teman lama ayah.”

“hah?  Incheon? Ayah ingin mengasingkanku disana? Apa karena sebuah tagihan ayah tidak ingin mengakuiku lagi?”

“bukan begitu bodoh, ayah ingin kau belajar menjadi anak yang lebih berguna. Setidaknya kau bisa memahami kondisi dibawahmu. Apa kau pernah berpikir kau akan terus hidup bahagia tanpa harta warisan?”

“ya tentu saja, akukan pewaris tahta semua kekayaaan ayah. Pasti aku tak akan pernah merasakan susah.”

“harusnya kau mengerti, hidup taks elalu di atas.”  Sambil memberikan sejumlah uang kepadaku “ku serahkan padamu, sekarang Tuan  Gong akan mengantarmu kesana.”

“Aku tak pernah mau kesana dana ku tak akan pergi!” aku mebanting meja kemudian pergi,tak peduli dengannya

“Hey, HAN SOL CHOI! Kembali kau kemari!!!” aku tetap berjalan sampai Ayah memanggil Tuan Gong untuk  mejemputku paksa

=====================DESA DI INCHEON=======================

    Mau tak aku pun akhirnya menurut, dan ikut dengan Tuan Gong ke suatu tempat yang jauh dari Seoul. Sampai disana aku disambut oleh keluarga yang keberadaannya sangat berbeda jauh degan keadaanku di Seoul, benar-benar seperti tempat pengasingan, aku tak bias membayangkan aku tinggal di desa seperti ini.

“pasti kau yang bernama Han Sol kan? Putranya Choi Yoon, ayahmu adalah temanku di SMA. Kami sering sekali bermain di sawah.Tapi, sekarang ayahmu sudah sukses dan sekarang kau yang berada disini.”

“Ayah ternyata diaTampan sekali,” kata seorang gadis kecil, Ha Ni.

“benar sekali, Ha Ni. Bantu kak Han Sol bawa barang2nya.”

“apa!! Menurut kalian aku akan tidur di tempat ini? Apa tak ada kamar, AC, Komputer, Kulkas disini??!! Sepertinya aku akan mati disini.”

“tidak akan seburuk itu, disini memang tak ada barang-barang seperti itu, mandi pun kau harus ke sungai nak Han Sol.”

“aku tak tahan lagi, aku harus menelpon ayah untuk menjemputku,” mengeluarkan ponsel daris aku, “hah, apaini… Tak ada sinyal disini! Bagaimna aku harus kembali?” gerutuku dengan nada kesal.

“nak Han Sol,  mungkin kau harus jalan-jalan disekitar sini? Biar Hani yang menunjukkan jalannya.” Kata istri Tua Han, dan menyuruh seorang anak perempuan itu untuk mengantarku melihat-lihat desa itu

Saat Aku dan Ha Ni berjalan sambil mengutak-ngatik ponselku untuk mendapatkan sinyal. Aku melihat seorang gadis dibawah pohon sambil menaiki ayunan, dia sangat manis kulitnya putih terang, matanya bulat, bibirnya mungil, saat tersenyum membuatku berdebar-debar seakan ingin meledak, tapi aku menghindarinya dan mengalihkan perhatianku pada pandangan alam yang ada. Tapi tetap saja rasa penasaranku yang ingin mendekatinya, aku tk mungkin mendekatinya aku tidak bodoh. Masih banyak gadis lain untuk apa ingin mengetahui gadis yang ku temui di desa? Yah, aku sempat berfikir seperti itu tapi rasa penasaran tetap mengalahkan segalanya. Aku pun menghampiri gadis itu dan meninggalkan Ha Ni.  Begitu aku mehampirinya dia menyambutku dengan suara lembut

“kau Han Sol ya? Dari seoul, anak sahabat Paman Han.”

“Bagaimana kau bisa tahu? Lalu siapa namamu?”

“Kemarin Ha Ni bercerita banyak tentangmu, Aku Park Hyo Jin. Aku adalah keponakan Paman Han Sol. Rumahku di dekat sana.”

“Oh, kau keponakannya. Seberapa dekat kau dengan keluarga itu?”

“seperti keluarga, sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri.”

“oh.. begitu, Ah sial!! Mengapa disaat seperti ini batrenya habis?!”

Hyo Jin langsung tersenyum.

“sepertinya kau sangat tidak suka berada disini?”

“memang benar, aku tak suka. Disini bukan hidupku.. disini sangat kumuh.”

“oh ya? Memang seperti apa tempat tinggalmu? Sangat indah?”

“mmm.. lebih modern tepatnya.”

“ada apa saja di Seoul? Banyak pepohonan tidak?”

“untuk menjelaskannya susah sekali, jalanannya dari aspal. Bukan bebatuan seperti ini.”

Aku pun menjelaskan apa saja yang ada di kota Seoul, kami kemudian mengobrol dengan asyik dan aku sangat senang melihat wajahnya dari jauh bahkan saat dia tertawa sangat membuatku tenang dan lupa akan masalahku dengan ayah, tapi bagaimana pun dia hanya gadis desa dan aku hanya mengaggap ini sebagai perasaan biasa saja padanya.

oppa, ayah sudah memanggilmu. Ayo kita pulang!” suara Ha Ni membuatku sadar kalua aku dan Hyo Jin sudah terlalu lama mengobrol.

“apa? Aku tak akan kembali kerumah itu, aku bias mati disana.”

“hei, Hyo Jin Eonnie!” sapa Ha Ni ketika ia sadar ada keberadaan Gyu Ri

“hallo, Ha Ni. Nathan sepertinya kau harus pulang, paman Hansol sudah menunggumu dirumah. Benarkan Ha Ni?” tatapannya kepadaku agar aku mau kembali ke tempat itu.

“Apa maksudmu? Kenapa kau harus menyuruhku pulang? Oke, ayo anak kecil. Dan kau ingat sekali lagi, jika aku pergi kemana pun jangan pernah kau menyusulku!!” kataku kemudian menggandeng tangan Ha Ni, dan meninggalkan Hyo Jin sendirian dia pun tersenyum kepadaku dan kembali memandangin pemandangan di sore hari

=====================DI RUMAH KELUARGA HAN KYOO===================

“Hansol, Ha Ni! Ayo kalian makan dulu ibu sudah membuat menu enak hari ini, terutama kau Hansol kau harus mencoba masakan buatan bibi, dan ini salah satu makanan aku dan ayahmu dulu waktu kami masih sekolah. Cobalah..” bujuk paman Han Kyoo padaku

“Apa paman bilang? Aku akan meyukainya? Heuh.. makanan apa itu melihatnya saja aku ingin muntah, asalkan paman tahu, itu adalah masa lalu paman dan ayahku. Sekarang, aku tak mau berada disini aku ingin pulang!!!!”

BRAKKKKKK, aku menggebrak meja makan setelah membentaknya. Sontak membuat orang-orang dirumah itu kaget dan aku masuk ke dalam kamar yang tak lebih besar dari kamarku pastinya.

“Ayah, apa kau yakin jika kakak Hansol akan betah berada disini? Tadi saja dia memarahiku terus dan menarik tanganku sungguh sakit.” Ha Ni mengadu.

“nanti dia juga akan terbiasa, dia hanya butuh sedikit pengertian. Ha Ni kau harus terus menemani dan mengajarinya, anggap saja dia kakakmu ya. Sudah sekrang kita makan saja, biar nanti Han Sol Ayah yang mengurusnya..” jelas Tuan Han dengan sabar dan senyuman

========KEESOKAN PAGINYA DILADANG KELUARGA HANKYOO======

“Begini kak caranya, kau harus baik-baik kepada hewan. Dia juga punya perasaan sama seperti kita, ayo kakak coba.”

“Untuk apa aku memberi dia makan, kau saja yang memberinya makan. Aku tak mau berdekatan dengan sapi-sapi itu.

“Huh! Mau sampai kapan kakak akan terus begini, orang kota itu memang merepotkan ya. Kalian tau jika tak ada sapi-sapi ini, kalian tak akan bias menikmati air susu mengerti? Ah, kalian hanya memanfaatkan sesuatu yang instan. Percuma saja aku memberi tahunya…”

Ha Ni kesal dan terus berbicara, aku tak memperdulikannya. Aku pergi ke suatu tempat yang sepi dibawah pohon, aku duduk sambil menyalahkan MP3 ku, untuk menenangkan pikiran. Disaat aku sedang mendengarkan musik, aku bertemu dengan Hyo Jin. Dia langsung menyapaku dan menghampiri ku, aku tak mempedulikannya dan terus melihat MP3ku.

“Hansol, apa yang kau lakukan disini?”

“aku? Menurutmu apa?”

“ah, iya aku tahu. Boleh duduk disini?”

Aku memperbolehkannya duduk disampingku.

“kau suka duduk dibawah pohon rindang ya di Seoul?”

“tidak, hanya kebetulan saja. Aku ingin menghindari Ha Ni.”

“kenapa, apa kau masih tak ingin berada disini? Apa kau tak merasakan suatu perbedaan antara Incheon dan Seoul?”

“iya, sungguh berbeda.. di Seoul, jika kau ingin jalan-jalan kau bisa menggunakan mobil dan kebut-kebutan sesuka hatimu. Disini? Jalan raya saja tidak ada.”

Kataku dengan nada sedikit sombong, namun Hyo Jin tidak merasa direndahkan sama sekali malah dia tersenyum manis, sehingga tak bisa membuatku berkutik lagi dia benar-benar seperti seorang bidadari. Kenapa? Dia tak hanya sempurna di fisik, melainkan hatinya ia sangat penyabar, ceria dan selalu tersenyum. Di tengah lamunanku yang seraya memerhatikannya. Ia membuka kotak makannya dan menawariku sesuatu didalamnya.

“hey, mau coba *kimbab?”

“apa ini bisa dimakan?”

Kataku sambil mengambilnya, ia hanya tertawa kecil.

“cobalah, kau akan tahu rasanya”

Dengan ragu aku pun mencobanya, dan rasanya benar-benar enak. Aku memang agak sedikit gengsi bila ku bilang aku menyukainya.

“apa ini buatanmu?”

Nae, Geurraesseo.. apa kau mau coba lagi?”

Ya, aku mengambilnya lagi untuk menghargainya. Tapi, jujur saja entah ini lidahku apa karena ada ‘sedikit perasaan’ padanya tapi sudahlah ini makanannya memang enak. Aku dan dia mulai menghabiskan waktu lagi dibawah pohon rindang yang sedang kami duduki. Aku jadi semakin ingin bersamanya. Ah tidak, tidak boleh berpikiran seperti itu. Aku tahu memang dia cantik, manis, baik, penyabar, penyayang sangat sempurna hingga bisa membuatku nyaman dan berdebaran jika berada didekatnya, tetap saja dia gadis desa yang tak mengerti apapun kehidupan orang kota sepertiku. Aku adalah pewaris kekayaan ayahku, tidak mungkin aku dengan dia seorang gadis desa yang miskin.

oppa, kajjaeyo! Sudah hampir sore, kita harus pulang sebelum matahari terbenam!”

Teriak Ha Ni dari kejauhan.

“eoh! Ada Hyo Jin eonni, *bow

annyeong, Ha Ni. Pasti paman sudah menyuruh kalian pulang ya?”

“iya, kak betul kami harus segera pulang.”

Ha Ni langsung mengahampiriku.

“sudah ku katakana padamu, jangan pernah menyusulku. Jika aku mau pulang pasti aku akan pulang..”

“sudahlah, Hansol. Paman pasti mengkhawatirkanmu makanya dia menyuruh Ha Ni untuk menyusulmu pulang..”

Akhirnya aku dan  Ha Ni pulang, Ha Ni memberi salam pada Hyo Jin. Dan Hyo Jin menahan ku.

Dan langkahku terhenti.

“Hansol, aku harap kita bisa mengobrol lagi”

Dia tersenyum kepadaku, aku sangat senang. Tapi tetap aku menyikapinya dengan cuek.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~5 BULAN KEMUDIAN~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beberapa bulan kemudian, telah banyak waktu yang ku lewati disini. aku sudah merasa biasa dengan semua ini tidak seperti saat awal pertama kali aku datang ke desa ini. Aku berpikir mungkin aku bisa gila dan depresi karena tak ada fasilitas yang lengkap seperti dirumahku. Dan aku semakin merasa ada perubahan pada diriku, aku seperti tak membutuhkan semua itu. Seperti ada ketenangan yang tak pernah kurasakan sebelumnya, banyak perubahan dalam diriku. Aku dan Ha Ni juga semakin akrab layaknya kakak dan adik. Selain itu aku juga semakin dekat dan hampir selalu bersama dengan Hyo Jin. Ya meski harus selalu di ikuti oleh Ha Ni. Semakin sering bersama membuatku tidak semakin bosan bersamannya, justru aku selalu merindukan candaannya dan tertawanya. Ia pun sering membuatkan masakan untukku, entah ini bentuk perhatiannya atau apa. Aku tak tahu, yang ku rasakan sekarang dan aku mengakuinya, Aku mencintainya…

“Kau disini rupanya.. aku mencarimu,”

“eh, Hyo Jin, iya aku sedang menghirup udara segar.. untukku apa mencariku?”

“ku kira kau bersama Ha Ni,apa kau sudah makan Hansol? Aku membuatkan makanan untukmu, seperti biasanya.”

Aku tersenyum, memandangi wajahnya yang tampak memerah menatapku. Dia mulai membuka tempat makannya, dia seperti sangat gugup kepadaku aku rasanya jantungnya berebar-debar sama seperti apa yang ku rasakan saat bersamanya. Mungkin dia tak bisa menahan tingkahnya, hingga kotak makannya terjatuh. Dengan sigap aku mengambil kotak makan yang jatuh di tanah dan tak kusadari tangannya juga ingin meraih kotak makan, tangan kami bertemu dan saling bersentuhan. Aku menatapnya dan dia juga sebaliknya menatap kearahku, aku pun mulai berdiri memegang tangannya. Seperti tanpa bepiikir panjang,

“Hyo Jin, saranghaeyo…

Apa yang aku lakukan, kata-kata itu tanpa ku sadari keluar begitu saja dari mulutku. Hyo Jin hanya terdiam, tanpa kata. Malah ia meneteskan air mata, aku heran. Jika ia menganggap ini terlalu cepat dan sangat aneh. pasti dia akan menamparku, tidak dia akan lari dari hadapanku dan tak ingin melihatku. Tapi ia hanya tersenyum sambil terbatah-batah,

Geurae?Apa kau yang kau katakana tadi Hansol?”

Aku tatap matanya dalam-dalam mencari suatu mungkinkah dia merasakan yang sama. Ku hadapkan terus ke dekapanku.

“Iya, apa kau ingin menjadi pacarku?”

“Aku ingin, ingin sekali.. tapi bagaimana jika paman tahu? Atau mungkin ayahmu akan menyuruhmu pulang ke Seoul…”

Seblum dia melanjutkan kata-katanya, aku langsung memeluknya kedalam dekapanku. Dan meyakinkan dirinya.

“Tolong, jangan kau katakana apapun. Aku benar-benar sangat mencintaimu, tentang paman Han Kyoo dan Ayah.. aku akan mengurusnya. Aku akan membahagiakanmu, atau perlu aku akan membawamu ke Seoul, kita akan hidup bersama disana ayah pasti akan mengizinkannya.. aku mohon, percaya padaku… Park Hyo Jin”

“Baiklah, aku.. aku percaya padamu, aku mau menjadi pacarmu. Dan terimakasih sebelumnya kau telah memberikan ku kesempatan untuk mengenal dan mendekatimu.”

“Harusnya, aku yang berterimakasih. Kau sangat sabar menghadapi sikapku sejak awal datang kesini..”

“Sangat, jarang ada seorang yang ingin menjadi temanku, paling hanya Ha Ni yang mau menemaniku.. dan sekarang ada kau, aku benar-benar bahagia sekarang. Terimakasih Choi Hansol.”

Ku usap air matanya menggunakan kedua ibu jariku.

“sekarang, kita sudah menjadi seorang kekasih, kau tak usah merasa kesepian, kan sudah ada aku. Jika aku harus kembali ke Seoul nanti, aku akan segera kembali. Kemudian kita akan bersama selamanya..”

nae… Gomapda, Jeongmal gomapda…”

============MAKAN MALAM DI RUMAH TUAN HAN KYOO==========

“Hei, Hansol. Kau tak mau memakannya? Ada masalahkah?” tegur bibi Hye San

“Ah, Andwaeyo.. aku baik-baik saja Bi.”

“Aku Rasa dia memikirkan Kak Hyo Jin, dia dan Kak Hyo Jin selalu bersama kemana pun, Ayah dan Ibu tahu.. aku selalu disuruh menjauh agar tidak meng..ga..gg..mmh”

Aku langsung menutup mulut Ha Ni dengan tanganku, agar dia tidak mengatakan yang macam-macam pada paman. Dan aku langsung menariknya jauh dari bibi dan paman. Mereka hanya menggeleng-geleng kepala melihat kami.

Setelah selesai makan malam, aku duduk di bangku teras, dan memandangi langit malam, banyak bintang terang dan aku tetap melamun, membayangi wajah Hyo Jin. Aku memang sudah kalah dengan rasa ketidakmungkinanku pada saat itu. Dari setiap wanita yang pernah mendekatiku. Mungkin memang benar jatuh cinta itu seperti kafein, jantung berdegup kencang saat bertemu dengannya, dan tiap malam tak bisa tidur karena memikirkanya. Itulah yang saat ini ku rasakan pada Hyo Jin. Saat aku sedang melamun memandangi langit ada seseorang menpuk pundakku, dan aku sontak terkejut.

“Ahh… paman, apa yang paman lakukan?”

“Untuk apa kau melamun disini? Kenapa tidak tidur?”

“Sehabis makan, untuk apa langsung tidur. Lagi pula, langitnya sangat indah malam ini. Lihat lah,”

Menunjuk langit.

“Iya, iya.. aku tahu. Apakah benar yang di katakan Ha Ni?

“hm, apa?”

“Tidak usah berpura-pura. Kau menyukainya kan?”

“Hyo Jin maksud paman?”

“Iya, kau suka padanya?”

Dan dengan malu aku menjawab sejujurnya pada paman,

“iya, aku menyukainya. Dan sekarang kami berpacaran layaknya seorang kekasih”

“Huh! Bagaimana bisa?”

Aku pun menceritakan semuanya, dari awal bertemu hingga aku bisa benar-benar suka dan cinta padanya. Paman mendengarkan ceritaku dengan saksama. Dan kelihatannya ia setuju-setuju saja dengan semua itu.

“Nak Hansol, jika ayahmu tau kau menjalin hubungan dengannya, apa reaksinya?”

“Entahlah, aku harap iya mengerti inilah keinginanku, inilah yang membuat aku bisa mengubah hidupku karena ketulusannya.”

“Begini nak, kedua orangtua Hyo Jin sudah meninggal saat ia masih kecil, aku dan istriku merawatnya bagaikan anak sendiri. Dan dia tak mempunyai teman, hanya Ha Ni yang selalu menemaninya. Ia juga tak mau tinggal serumah dengan kami mungkin karena tak ingin merepotkan kami, itu sebabnya ia menempati rumah mendiang orangtuanya di sebelah rumah kami. Dan sebelumnya tak ada pria yang mendekatinya karena ia tak ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Makanya saat bertemu denganmu, ada banyak perubahan dalam dirinya. Meskipun ia terlihat ceria, sebenarnya banyak beban hidup yang ditanggungnya.. jika kau benar-benar mencintainya, jaga ia baik-baik. Sayangilah dia sampai akhir hidupnya nanti….”

“tunggu, apa yang paman katakan? Sampai akhir hidupnya? Apa maksudnya?”

“sudah, waktunya tidur. Besok kita akan berangkat pagi-pagi.”

Aku masih tak mengerti apa yang dikatakan paman, ‘akhir hidup’? hidupku apa hidupnya? Ada apa dibalik kata-katanya. Apakah ia tak percaya kepadaku jika aku yakin bisa menjaganya tak akan mengkhianatinya. Paman tak menceritakanya. Aku tak menghiraukannya. Dan aku tertidur lelap malam itu.

==================SORE HARI DI BAWAH POHON TEPI SUNGAI==============

“Maaf, kau sudah menunggu lama ya, Hansol?’

“Tidak, apa kau sudah makan?”

nae, geurae..”

Aku sangat senang sekali bisa bersamanya lagi. Dia duduk di ayunan tempat kami pertama kali bertemu. Aku mengayuh ayunannya hingga terayun tinggi, terlihat kesenangan didirinya. Aku sangat menyukai tawanya dia terlihat sangat cantik. Semakin membuat jantungku berdebaran. Ia menyuruh berhenti dan ia mulai turun seraya ingin megejar kupu-kupu. Tapi apa yang terjadi ia malah terjatuh dan aku langsung menangkap tubuhnya dengan sigap.

gwenchanayeo?”

geurae..^^”

“apa yang terjadi, kau tersandung batu? Ada yang terluka?”

“terjadi lagi sepertinya..”

“apa? kenapa memangnya?”

“ah, anniyeo… tidak ada apa-apa. sudah sore, kita pulang. Sebelum Ha Ni menyusulmu.”

Aku masih tak mengerti, tapi mungkin hanya hal kecil. Aku tak terlalu memikirkannya. Akhirnya aku mengikuti kemauannya, dan kami kembali kerumah.

 Setelah mengantar Hyo Jin pulang, dan aku terkejut melihat mobil yang terparkir di depan rumah paman seperti mobilku yang ayah sita kuncinya pada saat aku mabuk-mabukan. Apakah itu ayah? Ayah datang kemari untuk menjemputku? Cepat sekali, memang ia mengatakan akan menjemputku jika aku sudah menjadi ‘manusia lebih baik’. Tapi apa dia yakin sekarang waktu yang tepat?

“Akhirnya, kau datang. Ayah sudah menunggumu lama.”

Sambutnya, dengan senyuman.

“Kau tahu, dia seperti tak percaya dengan perubahanmu yang sekarang. Padahal aku sudah mnceritakan semuanya, aku berusaha meyakinkannya.”

“Sudahlah Han Sol, aku ingin mengetahuinya lewat putraku sendiri. Jadi apa benar kau sudah merasa terbiasa berada disini?”

Aku memangguk ragu pada Ayah dan Paman.

“Apa Ayah akan membawa aku pulang? Apa ayah sudah yakin denganku?”

“mendengar cerita pamanmu, Ayah memang sedikit tidak yakin. Tapi meihat kau tenang karena sudah tak lagi menghubungi Ayah.. makanya ayah kemari menengok keadaanmu. Ternyata memang sepertinya kau terlihat lebih baik.”

“Bisakah Aku lebih lama lagi disini ayah,”

“Kenapa? Apa karena seorang wanita yang bernama Hyo Jin?”

Pasti antara paman atau Ha Ni yang menceritakan tentang Hyo Jin. Apa yang akan dikatakannya.

“Apapun yang kau membuatmu ingin tetatp disini, ingatlah tempatmu tetap di Seoul. Kau adalah anak ayah satu-satunya. Dan ayah hanya bisa mengandalkan dirimu, bukan orang lain”

“Apa tak bisa aku disini sampai besok?”

“Kau ingin berpamitan dengan semua orang disin apa dengan wanita itu?”

“Iya, apa Ayah ingin berjanji padaku?”

“Apa aku boleh mengunjunginya setiap saat jika telah membantu ayah di perusahaan?”

“kapan pun itu kau boleh kembali kesini, tapi kau harus kembali ke Seoul bersama Ayah..”

================KEESOKAN HARINYA (PERPISAHAN)===================

Aku dan Park Hyo Jin berjanji bertemu di tempat biasa, aku tidak tahu apa nanti reaksinya. Apakah dia akan menangis seperti waktu ku utarakan perasaanku padanya atau mungkin dia akan bersabar menungguku? Dia pun datang, aku tak tega mengucapkan kata-kata terakhir kita bertemu. Aku tak tahan jika ia harus menangis lagi di hadapanku.

“Apa kau akan segera berangkat hari ini?”

“Iya, Ayah sudah menyuruh supir menjemputku.”

“Akhirnya, kau akan segera kembali kerumahmu setelah menunggu lama.”

Berusaha tegar, padahal aku tau ia ingin mengeluarkan air mata, tapi ia tetap tersenyum.

“Seperti janjiku pada waktu itu, aku akan segera kembali untukmu, dan aku akan membawamu ke Seoul. Kita akan tinggal disana.”

“Aku percaya janjimu, sampai kapanpun aku akan menunggumu. Karena aku hanya untukmu, Hyo Jin.”

“Kita akan berkirim surat ya, jika kau punya ponsel pasti sangat mudah.”

Ku cium keningnya dan ku hapus airmatanya yang hampir jatuh dari matanya. Lalu ku peluk sangat erat tubuhnya. Sampai suruhan Ayah datang menjemputku. Itulah akhir pertermuan kami, ia tersenyum dan airmatanya terus mengalir, berusaha mengikhlaskan diriku. Aku pasti akan kembali Hyo Jin, tunggulah…

  ==================SATU TAHUN KEMUDIAN======================

Akhirnya waktu yang ku tunggu sudah tiba, ayah mengizinkanku kembali ke Incheon. Aku sangat bahagia, aku akan segera bertemu dengan gadis yang ku cintai. Bagaimanakah kabarnya? Karena selama ini aku hanya berhubungan dengan surat yang dikirimnya. Aku udah benar-benar tak sabar ingin bertemu dengannya dia juga pasti begitu. Ku Tarik gas mobilku dengan cepat, aku hampir lupa keselamatanku karena kerinduanku sudah sesak di dada. Setelah sampai rumahnya, tak ada orang. Ku telusur ke setiap ruangan, tapi aku tak menemukannya dirumahnya. Banyak barang-barang yg sedikit berdebu, ku rasa ia meninggalkan rumahnya sudah agak lama. Akhirnya aku kerumah Paman Han Kyoo, yang tak begitu jauh dari rumahnya. Mungkin saja dia tahu keberadaan Hyo Jin. Aku mengetuk pintu rumah Paman, tapi malah Ha Ni yang membukakan pintu.

“Kenapa kakak baru datang sekarang?”

“Jangan banyak Tanya dulu, aku ingin bertemu dengan paman,”

“Ayah dan Ibu tidak ada, mereka menemani Hyo Jin dirumah sakit.”

“Apa? apa yang terjadi padanya?”

“Sudah hampir seminggu ia di rawat dirumah sakit, aku tak bisa mengatakannya. Hyo Jin menitipkan surat ini untukmu, bacalah mungkin kau akan mengetahuinya..”

Aku langsung meraih surat yang diberikan Ha Ni, ku baca suratnya, inilah isi suratnya:

“Untuk Choi Hansol,

Hai, maaf jika aku menitipkan surat ini pada orang lain, tak mengirim langsung padamu. aku tak tahu kapan kau akan datang, aku sangat merindukanmu. Kau tahu, aku sudah memenuhi ketiga harapanku sebelum aku kembali kepada Tuhan. Pertama, aku ingin mempunyai orangtua yang sangat menyayangiku seperti orangtua kandungku, Paman Han Kyoo dan Bibi Hye San lah yang sudah merawatku seperti putri mereka sendiri. Kedua, aku ingin mempunyai teman sekaligus saudara perempuan, dan Ha Ni telah melaksanakan itu semenjak kita masih kanak-kanak. Dan terakhir, disaat terakhirku aku ingin merasakan dicintai sebagai seorang gadis seutuhnya bagi pria, dan itu dirimu. Kaulah yang membuat aku sangat berarti untukmu, sebelumnya aku tak pernah berfikir bisa menjadi kekasihmu, tapi tuhan berkata lain ternyata kau memang untukku, begitupun sebaliknya. Dan aku minta maaf, aku tak memberitahumu sebenarnya aku menderita penyakit langka yaitu, Ataxia sejak lahir, penyakit ini menyerang bagian otak kecil dan saraf yg mengendalikan gerakan hingga mengalami kerusakan. Itu sebabnya aku sering kehilangan keseimbangan dan mudah terjatuh. Aku ingin operasi, tapi aku sadar akan keadaan keluarga paman. Jadi aku membiarkan penyakit ini bersarang ditubuhku. Maaf aku tak bisa menempati janjiku untuk menunggumu kembali kepadaku. Penyakit ini hampir membunuh semua jaringan saraf ditubuhku. Mungkin kau kecewa dan marah padaku, karena aku sudah menghancurkan hatimu pergi tanpa bertemu dulu. Jangan tangisi semua ini, aku akan pergi dengan tenang dan bahagia karena semua keinginanku sudah terpenuhi, apalagi bersama dirimu meski hanya sebentar. Jika kau kembali dan membaca surat ini, aku ingin mengucapkan terimakasih karena sudah menepati janjimu…

Park Hyo Jin,”

Air mataku meneteskan, mengapa tak ada yang memberitahuku sebelumnya. Aku tak tahu kenapa bisa sebodoh ini, tak mencari tahu keadaannya hanya berfikir aku akan bersamanya selama-lamanya, tapi ternyata harapan itu musnah…

“Kau, mengapa kau tak memberitahukan kepadaku masalah sebesar ini?!!!” aku menggertak Ha Ni, karena kesal.

“Aku, Ayah, dan Ibu dilarang olehnya untuk memberitahumu apa yang dialaminya..”

“Bodoh, lalu kau menurutinya? Paman dan Bibi juga?”

“Aku minta maaf, tapi Kak Hyo Jin hanya ingin kau senang dan bahagia bersamanya tanpa mikirkan apa yang dialaminnya.”

Aku meremas kepalaku, seakan-akan aku memang orang tak berguna. Aku tak tahu kondisi pacarku separah ini. Apa Tuhan masih marah padaku sehingga dia ingin mengujiku untuk menyayangi Hyo Jin, dan mengambilnya dengan cara seperti ini? Aku benar-benar benci pada diriku. Aku menanyakan pada Ha Ni dimana Hyo Jin dirawat, dan aku langsung menyusulnya kesana.

Sesampainya dirumah sakit, aku langsung menanyakan pada perawat dengan mata terbelalak airmata dan sedikit kemarahan dimana kamar Hyo Jin berada. Setelah menemukannya aku melihat ada Bibi Hye San dan Paman Han Kyoo duduk disampingnya, ia tak sadarkan diri.

“Hansol… Hyo Jin sadarlah, Hyo Jin sudah datang. Kau sudah menunggunya sangat lamakan?”

“Bibi, Paman… kenapa kalian sangat tega kepadaku? Apa ini balasan kalian?”

“Tenanglah, Hansol. Hyo Jin masih menunggumu.” Kata paman, menunjuk Heart Detector yang masih menunjukan bahwa masih ada detak jantungnya.

Aku langsung memeluk tubuh Hyo Jin, tubuhnya sangat dingin, wajahnya terlihat pucat sanga berbeda tak seperti biasa kupandangi. Aku terus memeluk erat tubuhnya, menciumi keningnya. Dan airmataku menetes diwajah manisnya berharap ia merasakan kehangatan tubuhku.

“Han..sol, apa.. i..tu kau?”

Kurasa ia mulai tersadar.

“Iya, ini aku. Aku berada disini, aku sudah kembali padamu Hyo Jin”

“Aku ta..hu, Tuhan… sangat baik… a.. ku masih bo..leh melihat…mu”

“Kau bisa melihatku kapan saja, sayang. Karena aku akan selalu ada untukmu. Aku akan bilang pada dokter kau akan pulang bersamaku sekarang ya..”

“Han.. Hansol, sebe..lum aku.. per..gi, aku.. aku… ingin merasakan ciuman..mu.”

Tanpa rasa ragu, dihadapan Bibi dan Paman aku langsung mencium bibir kecilnya. Aku rasakan lebih dalam dengan rasa kesedihan dan penyesalan amat dalam. Dan disaat itu juga ia memejamkan matanya untuk selamanya. Tangisan ku pecah diruangan itu, terus ku goyang-goyangkan tubuhnya agar dia terbangun dari tidurnya. Dan ku lihat Heart Detectornya mulai menujukan garis lurus yang artinya detak jantungnya sudah tidak ada, aku benar-benar menyesal. Kenapa aku tak tahu kondisinya, kenapa aku meninggalkannya begitul lama padahal kondisinya sangat lemah. Tuhan terimakasih banyak, kau telah mengajarkan ku apa sesungguhnya penyesalan yang amat sangat mendalam lewat wanita yang amat ku sayangi, yang tak pernah aku berpikir kehilangan dia selamanya. Maafkan aku Tuhan, semoga kau tenang dan terus menungguku disana, Park Hyo Jin.

END.

One thought on “[Oneshot] Last Time”

  1. hi there!

    huhuhu sedih ya ditinggal :”) padahal Hansol udah berubah gitu~ harusnya pas balik dibawa ke seoul, ah Hansol ga peka sih wkwkwk.

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s