The Vow Part 2

the vow

Title: The Vow | Scriptwriter: nchuhae | Main Cast: Jessica Jung, Kim Heechul

Support Cast: Lee Donghae, Krystal Jung, Im Yoona |  Genre: Drama, Romance, Family

Duration: Chaptered | Rating: PG-15

Previous: 1

***

  1. THE GAME

Heechul punya kebiasaan mengganggu Sooyeon yang hobi tidur pagi dengan datang ke kamar gadis itu dan menyetel musik kencang-kencang sampai gadis itu terbangun dengan ekspresi marah di wajahnya. Gadis itu kemudian akan melempari Heechul dengan benda pertama yang bisa dijangkaunya, dan tidak jarang, jika Heechul tidak sigap menangkap benda yang dilemparkan Sooyeon padanya, telepon genggam gadis itu akan berakhir di tempat sampah karena layar yang retak atau mesin yang tidak lagi berfungsi. Tapi beberapa hari belakangan, Sooyeon terbangun sendiri, tanpa gangguan dari siapa pun.

Sikap Heechul berubah sejak malam di mana Sooyeon menyatakan perasaannya. Pria itu memang masih tetap menjawab setiap Sooyeon menghubunginya untuk sekedar bertanya kabar. Dia tetap datang ketika suatu malam Sooyeon meneleponnya dan minta dijemput setelah lembur di kantor—alasannya masih sama seperti dulu, bahwa dia sedang melakukan tugasnya sebagai Oppa yang baik. Nada antusias dan candaan yang selalu diselipkan pria itu dalam pembicaraan mereka juga masih tetap ada. Hanya saja atmosfir aneh yang menyelubungi mereka begitu pekat hingga Sooyeon tidak mungkin bisa pura-pura tidak sadar.

Perubahan sikap Heechul semakin jelas terlihat ketika suatu hari dia mengajak Sooyeon menonton pertunjukan musikal. Gadis itu tahu betul Heechul bukan penggemar jenis drama seperti ini. Sooyeon pernah berulang kali mengajaknya, tapi pria itu selalu punya cara untuk menolak. Ketika pertunjukan berakhir dan Heechul membawanya ke backstage, dia tahu pertunjukan itu bukanlah hal utama yang ingin diperlihatkan Heechul padanya.

Seorang gadis cantik dengan pakaian ala putri kerajaan di zaman Joseon menghampiri mereka dengan senyum cerah. Dia adalah pemeran utama pertunjukan yang baru saja Sooyeon dan Heechul saksikan.

Oppa, kau datang!” seru gadis itu, seolah tak percaya mendapati Heechul ada di sana.

“Tentu saja. Aku sudah melewatkan banyak sekali pertunjukanmu. Kupikir tidak terlalu terlambat untuk rajin menghadirinya mulai dari sekarang,” jawab Heechul.

Sooyeon melihat ada senyum dan ekspresi ramah yang hadir dari cara Heechul menjawab perkataan gadis di depan mereka. Dia tidak begitu menyukai hal itu.

“Sooyeon-ah, kenalkan, ini Yoona, kekasihku,” ujar Heechul. “Dan Yoong, ini Sooyeon yang pernah kuceritakan padamu.”

Cih! Kekasih. Kenapa Sooyeon tidak terkejut mendengar kata itu?

Gadis bernama Yoona itu melempar sebuah senyum bersahabat kepada Sooyeon. Ada ekspresi malu-malu yang masih belum hilang dari wajahnya karena klaim kekasih yang baru saja diucapkan Heechul. Mengulurkan tangan, gadis itu berkata, “Aku senang sekali bertemu denganmu. Heechul oppa bilang kau adalah penggemar drama musikal klasik. Kuharap penampilanku barusan cukup menarik minatmu.”

Sooyeon menjabat tangan feminin yang terulur di depannya. “Kau tampil sangat baik,” pujinya sambil memberikan senyum yang sama bersahabatnya seperti yang Yoona berikan padanya.

Sooyeon menghabiskan sisa malam itu dengan perasaan kesal. Bukan karena setelah menonton pertunjukan itu Heechul memperkenalkannya dengan seorang wanita cantik yang dia sebut kekasih. Bukan pula karena setelah perkenalan dan obrolan singkat penuh basa-basi di antara mereka, Sooyeon harus cukup tahu diri untuk bersikeras pulang sendiri demi tidak menjadi penganggu kebersamaan pasangan baru itu. Sooyeon kesal pada Heechul yang menurutnya mendadak sangat kekanakan. Gadis itu masih percaya pada hasil hitungannya malam itu. Ganjil, berarti Heechul juga menyukainya. Meski pada akhirnya pria itu menolak menjalin hubungan romantis bersamanya, Sooyeon rasa sedikit keterlaluan jika pria itu menyuarakan penolakannya dengan cara seperti tadi.

Mau tidak mau rasa kasihan Sooyeon pada Yoona timbul. Ketika Heechul memperkenalkan mereka berdua, itu memang baru pertama kali dia bertemu gadis itu secara langsung. Tapi namanya sudah dia dengar sejak jauh-jauh hari. Ketika Heechul masih belum membuat jarak dengan dirinya, pria itu selalu menceritakan gadis mana saya yang sedang dia sukai dan mana yang dia duga menyukai dirinya. Yoona termasuk kategori kedua. Beberapa kali gadis itu memberi Heechul undangan pertunjukan yang dia bintangi, tapi undangan itu biasanya hanya akan berakhir sebagai pemberian untuk Sooyeon.

Sooyeon berpikir lama hingga akhirnya membulatkan tekad, dia akan meladeni permainan Heechul.

  1. LEE DONGHAE

Sooyeon mengenal pria itu saat kuliah. Keduanya mengambil jurusan yang sama, tapi mereka tidak masuk di tahun yang sama. Donghae adalah kakak tingkat Sooyeon. Mereka sering kali bertemu di beberapa mata kuliah yang harus diulang Donghae karena nilainya di mata kuliah tersebut tidak begitu baik.

Bagi Sooyeon, Donghae sama sekali tidak bodoh. Satu-satunya alasan dia tidak kunjung lulus adalah karena pria itu salah memilih psikologi industri sebagai ilmu untuk ditekuninya di universitas. Sooyeon pernah mengutarakan pendapatnya langsung kepada pria itu.

“Kau harusnya masuk jurusan seni musik,” ujar Sooyeon sembari mengacungkan sebotol air minum kemasan kepada Donghae yang saat itu baru saja turun dari panggung.

Waktu itu Sooyeon ditunjuk menjadi panitia acara ulang tahun kampus dan Donghae tampil sebagai salah satu pengisi acara. Pria itu menerima minuman yang diberikan Sooyeon dan langsung meneguk isinya hingga hanya tersisa sedikit. Penampilan tadi membuatnya begitu gugup hingga rasanya cairan dalam tubuhnya sudah keluar semua lewat bulir-bulir keringat yang bermunculan dari pelipisnya.

“Pertama kali tampil di depan umum?”

Donghae menggeleng. “Menurutmu aku akan dipilih untuk menjadi penampil di acara sebesar ini kalau panitia tidak menganggap kualifikasiku meyakinkan?”

Sooyeon ikut menggeleng. Dia tahu betul bahwa Jungsoo yang bertanggung jawab untuk hal itu tidak akan begitu gegabah memilih orang, apalagi jika orang yang dipilihnya harus tampil sebagai perwakilan mahasiswa. “Lalu?”

“Aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku adalah sunbae-mu di kampus ini. Aku juga tidak tahu apakah kau sadar bahwa semester ini kita belajar di mata kuliah yang sama karena aku harus mengulang beberapa dari mereka. Dan kau tahu, aku tidak ingin mengulang mata kuliah itu lagi tahun depan hanya karena dosen-dosen yang menyaksikan penampilanku tadi menilai aku tampil dengan buruk dan akhirnya memberiku nilai yang buruk juga di mata kuliah mereka.”

Sooyeon kontan tertawa mendengar hal itu. Mana mungkin ada dosen yang sejahat itu tidak meluluskan mahasiswanya hanya karena dia tampil buruk di acara tahunan terbesar di kampus. Lagipula, penampilan Donghae tadi cukup meyakinkan, terbukti dari riuh tepuk tangan yang muncul ketika lagu yang dia bawakan selesai mengalun. Sooyeon memang tidak begitu paham soal musik, tapi dia berani berkesimpulan bahwa penampilan pria di depannya jauh dari kata buruk.

“Itu kekhawatiran yang sangat wajar muncul di benak mahasiswa yang sudah nyaris di-drop out,” Donghae menambahkan, yang membuat tawa gadis di depannya semakin jadi.

Sooyeon berkomentar setelah tawanya berhasil dia redakan. “Dengan kemampuan bermain piano seperti itu, aku rasa minimal kau bisa seterkenal Yoon Han.”

Pujian itu membuat Donghae tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, sebuah gestur yang secara tidak sadar sering dilakukannya jika merasa tersanjung. “Aku sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dia. Lagipula, permainan piano tunggal bukan keahlian utamaku. Aku menerima tawaran Jungsoo karena dia bilang orang lain yang dia tawari menolak untuk tampil.”

Sooyeon mengangguk paham, tak lupa menyertakan sebuah senyum simpul di bibirnya.

“Aku sebenarnya seorang pianis untuk sebuah band pop-jazz. Kami secara reguler tampil di sebuah kafe di daerah Yeoksamdong. Kalau kau mau, datanglah. Aku akan menjemputmu,” beritahu Donghae.

“Tapi sebelumnya kau harus memberitahuku, kenapa psikologi industri?”

Donghae mengangkat bahunya. “Aku hanya berpikir musisi yang punya latar belakang ilmu-ilmu keren seperti psikologi akan terkesan keren juga di mata penggemar. Kuharap itu bisa menjadi daya tarik tersendiriku nanti,” jelasnya.

Penjelasan yang nyaris mengada-ada itu membuat tawa Sooyeon hadir lagi di antara mereka.

“Jemput aku di stasiun terdekat,” ujar Sooyeon menutup pembicaraan.

Dan dari situ, kedekatan antara mereka mulai terjalin.

  1. BOUNDARIES

Sama halnya seperti perasaan Sooyeon terhadap Heechul, perasaan Donghae terhadap Sooyeon juga terbit tanpa bisa benar-benar dia ketahui kapan mulanya. Yang pria itu tahu, kedatangan Sooyeon setiap kali dia tampil memberikan semangat baru baginya untuk menyajikan musik yang lebih menawan dari sebelumnya. Dia juga semakin produktif mengolah irama, tentu saja dengan menjadikan gadis bersuara seperti lumba-lumba itu sebagai inspirasinya. Di beberapa mata kuliah yang mereka hadiri bersama, Donghae sering kali mendapati dirinya mencuri pandang ke arah Sooyeon yang selalu memilih duduk di barisan paling depan. Pria itu menyukai tatapan serius gadis itu menyimak penjelasan dosen tentang sejumlah teori psikologi yang dikemukakan para ahli, bagaimana anak rambutnya terjatuh ketika dia menunduk untuk mencatat beberapa materi, bagaimana alisnya bertaut ketika gadis itu mendapati ada yang tidak dia mengerti dari buku bacaannya, juga bagaimana dia dengan semangat mengacungkan tangan untuk mengutarakan segala macam hal yang mengusik rasa ingin tahunya. Donghae sampai sempat berharap untuk tidak diluluskan saja di mata kuliah lain agar bisa lebih lama berada di ruangan yang sama dengan gadis pujaannya.

Sama pula halnya seperti perasaan Yoona terhadap Heechul yang selalu berusaha dia tunjukkan namun tidak pernah ditanggapi serius oleh pria itu, perasaan Donghae terhadap Sooyeon juga bagai dayung tak bersambut. Gadis itu membalas semua pesannya dengan ramah, menghadiri setiap ajakan untuk menyaksikan penampilan bandnya, bahkan membantunya menyelesaikan beberapa makalah yang kadang terlupa olehnya karena dia terlalu sibuk dengan urusan lain. Tapi hanya sebatas itulah kedekatan mereka. Sooyeon tidak pernah bersedia pergi berdua dengannya. Selalu saja ada si A atau si B yang disertakan gadis itu di setiap pertemuan mereka, dan Donghae tahu, Sooyeon secara tidak langsung ingin memberikan batasan bagi hubungan mereka.

Pria itu tahu diri. Dia akhirnya berkesimpulan bahwa selama ini gadis itu bersikap baik padanya hanya atas nama sopan santun saja. Lagipula, setelah dipikir-pikir lagi, cara Sooyeon berbicara padanya terlalu normal. Perbincangan mereka bahkan tidak terkesan lebih akrab dibanding percakapan gadis itu dengan wanita paruh baya yang menjual jajangmyeon di kantin kampus.

Prasangka Donghae terbukti ketika pada saat perayaan hari kelulusan—mereka akhirnya lulus bersamaan—seorang pria berpakaian tentara datang menemui Sooyeon di depan kampus. Saat itu Donghae sedang mengobrol dengan Sooyeon sekaligus memberikan serangkai bunga mawar sebagai kado kelulusan, tapi gadis itu memilih meninggalkannya di tengah percakapan yang tengah mereka lakukan lalu berlari ke depan kampus. Donghae mengikutinya, dan di situlah dia melihat Sooyeon menghampiri pria cantik berkulit putih susu. Mereka berpelukan. Pria itu bahkan sempat mendaratkan sebuah kecupan penuh sayang di kening gadis itu. Ekspresi tersipu Sooyeon sepanjang pertemuan singkatnya dengan pria berseragam itu juga tidak lolos dari pengamatan Donghae.

Hari itu, Sooyeon mematahkan hati Donghae, tanpa gadis itu pernah menyadarinya.

  1. CROSSING BOUNDARIES

Patah hati berujung cemburu yang dialami Donghae karena kejadian di depan kampus tidak serta merta memadamkan perasaan suka yang dimiliki pria itu. Di atas segalanya, memang tidak pernah ada pernyataan cinta yang muncul antara keduanya. Donghae menganggap itu sebagai sebuah keuntungan. Setidaknya, dengan begitu dia masih bisa berada di dekat Sooyeon sebagai seorang sahabat tanpa adanya perasaan canggung di antara mereka.

Pria itu masih rajin menjemput Sooyeon untuk menghadiri acara pementasan bandnya—frekuensi tampilnya mereka di panggung besar semakin meningkat setelah Donghae menamatkan kuliah dan bisa sepenuhnya fokus membesarkan nama grup yang dinamainya Rustling Andande itu. Sooyeon dengan suara melengking khas lumba-lumbanya juga masih menjadi sumber inspirasi utama Donghae dalam menciptakan lagu. Beberapa kali Donghae juga masih memberanikan diri mengajak Sooyeon nonton film berdua. Semua ajakan itu ditanggapi Sooyeon dengan ramah, tentu saja dengan membawa serta beberapa temannya agar dia dan Donghae tidak berakhir nonton berdua seperti sepasang kekasih.

Semua masih sama. Kecuali malam ini.

Handsome Fish: Sibuk? Ayo nonton bersamaku.

SooyeonJung: Sedang tidak ada kerjaan. Finding Dory, bagaimana?

Handsome Fish: Oke! Tempat dan jam biasa?

SooyeonJung: Yup! Sampai jumpa di sana🙂

Sebagai kejutan untuk Donghae, malam itu dia mendapati Sooyeon menunggunya seorang diri di depan pintu masuk bioskop. Pria itu sempat berpikir teman Sooyeon, entah siapa itu, akan muncul tidak lama kemudian sebagai tanda batas hubungan mereka. Donghae menganggapnya sebagai hal biasa saking seringnya kejadian itu dia alami. Tapi sampai film animasi tentang ikan biru pelupa itu berakhir, mereka tetap berdua saja.

Tidak hanya sampai di situ. Ketika Donghae menawarkan diri mengantar Sooyeon pulang, gadis itu juga bersedia. Sooyeon memang tidak langsung menyatakan kesediaannya. Donghae melihat gadis itu menghabiskan waktu hampir semenit untuk mempertimbangkan tawarannya sebelum akhirnya mengangguk setuju. Setidaknya itu adalah sebuah langkah maju.

Ini sangat jauh berbeda dengan usaha pendekatannya sebelum ini yang selalu berujung pada penolakan halus yang diucapkan gadis itu. Dulu, selalu ada alasan “aku masih harus mengunjungi tempat lain setelah ini, aku tidak ingin membuatmu bosan menemaniku ke mana-mana” atau “tidak usah, aku pulang bersama temanku saja, kebetulan rumah kami searah”. Pernah juga dia mendapat alasan klise seperti “aku tidak ingin merepotkanmu”.

Donghae menelan semua penolakan itu karena dia tahu, memaksakan keinginannya pada Sooyeon tidak akan membuat gadis itu menyukainya lebih dari sebatas teman. Dia memilih bersabar, dengan harapan suatu saat Sooyeon akan mengizinkannya melampaui batasan yang selama ini ada di antara mereka.

Ketika akhirnya Sooyeon secara tidak langsung memberikannya izin itu, Donghae tidak bisa membendung pertanyaan-pertanyaan yang secara liar muncul di kepalanya.

Mungkinkah pembatas itu sekarang sudah lenyap? Mungkinkah Sooyeon dan pria cantik berkulit putih susu itu sudah tidak lagi bersama? Akankah dia mendapat kesempatan untuk berada di sisi Sooyeon, menggantikan posisi pria itu?

Pertanyaan Donghae terjawab beberapa bulan kemudian. Di sebuah pementasan yang disiarkan live di stasiun televisi lokal, dia tampil solo dan menyanyikan sebuah lagu yang diklaimnya sebagai ciptaan terbarunya. Tepuk tangan penonton membuka dan menutup lagu itu dengan sempurna, dan di antara orang-orang yang bertepuk tangan, ada Sooyeon di antaranya.

Sebelumnya Donghae tidak pernah berani menyanyikan lagu ciptaannya di depan gadis itu. Dia terlalu takut jika Sooyeon sadar bahwa lagu yang dia bawakan ternyata berkisah tentang dirinya, gadis itu akan menyadari perasaan Donghae dan semakin menjaga jarak dengannya. Perpisahan dengan Sooyeon adalah hal terakhir yang diinginkan pria bersuara sengau itu.

Tapi perubahan sikap Sooyeon belakangan ini membuat keberanian pria itu perlahan tumbuh. Ditambah dengan dukungan dari para anggota bandnya, Donghae merasa mantap untuk menyudahi ketakutannya malam ini. Sooyeon sudah melonggarkan batasan yang selama ini dia pegang teguh. Sekarang gilirannyalah sebagai pria untuk membuat sebuah langkah maju agar hubungan mereka bisa beranjak ke tahap berikutnya.

Di lain sisi, Sooyeon yang memang sudah pernah beberapa kali diberitahu oleh anggota Rustling Andante yang lain bahwa lagu-lagu yang diciptakan Donghae banyak yang terinspirasi dari dirinya, memutuskan untuk tidak mempercayai ide itu. Dia tahu bahwa Donghae selama ini menyukainya, tapi dia tidak yakin sebesar itu pengaruh dirinya terhadap Donghae hingga rangkaian melodi yang begitu bagus bisa lahir karena dirinya. Terlebih lagi, kedekatan mereka belakangan ini sering dijadikan bahan olokan anggota yang lain. Mungkin saja lagu-lagu itu tercipta murni karena kepandaian Donghae merangkai nada.

Pemikiran demikian bertahan di kepalanya hingga malam itu. Ketika lagu berjudul Let Me Be yang dinyanyikan Donghae menyapa indra pendengarannya, Sooyeon baru sadar bahwa perkataan teman-teman Donghae selama ini bukan semata untuk membuatnya salah tingkah. Lirik lagu itu jelas menceritakan kisah mereka, serta bagaimana pria itu berharap bahwa Sooyeon akan membalas cintanya.

Sooyeon tidak langsung menyuarakan jawabannya saat itu juga. Barulah setelah Donghae mengantarnya pulang, dia meraih telepon genggamnya dan mulai mengetik pesan melalui social messenger kepada Donghae.

SooyeonJung: Jadi perkataan teman-temanmu selama ini benar, bahwa aku jadi inspirasimu dalam menciptakan lagu?

Pesan itu dijawab beberapa puluh menit kemudian.

Handsome Fish: Hahaha…

SooyeonJung: Kenapa tertawa?

Handsome Fish: Aku sedang salah tingkah sekarang. Apa kau tahu bahwa wajahku sedang memanas?

SooyeonJung: Seharusnya wajahkulah yang memanas. Perbuatanmu membuat aku malu.

Handsome Fish: Jadi kau marah?

Pasan balasan untuk Donghae datang lama setelah itu. Dia bahkan sempat mendadak bersedih karena menganggap Sooyeon tidak membalas pesannya karena gadis itu benar marah. Tapi penantian Donghae selama bertahun-tahun ditakdirkan berakhir semanis senyumnya.

SooyeonJung: Kalau aku bilang bahwa aku juga menyukaimu, apa yang akan terjadi pada wajahmu yang memanas itu?

to be continued…

A/N: Pernah dipublish di blog pribadi author dengan judul dan cast yang sama.

3 thoughts on “The Vow Part 2”

  1. hi there!

    woaaah there’s Donghae! hehhehehe
    lo? jadi pas waktu di militer heechul belum mengiyakan dong? lo gimana gimana?
    jadian nih sama donghae? hehhe

    waiting for next surprise~~

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s