[Vignette] We Don’t Talk Anymore

dontt

a Movie created by: DaeHanBingu

iKON’s Jung Chanwoo and OC | Romance, Fluff, Conflict, Hurt/Comfort, College Life, Sad | General | Vignette (2000+ Words)

.

.

.

Trust is worthy, you know?

Distance. Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata tersebut?

Begini menurut pengertian Fei: jarak adalah suatu hal yang memisahkan dua insan dari kedekatannya. Kendati demikian, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda, bukan?

Ada sebuah kutipan—Fei sempat membacanya kemarin—bahwa jarak bukan suatu pemisah tapi keraguanlah yang memisahkan. Cukup masuk akal dan tidak dapat dipungkiri, namun agaknya hati Fei acapkali memberontak.

Lihat saja raut wajah yang terpatri; keraguan, kegelisahan, pun kegundahan tampak jelas bermunculan dari muka lonjong kepunyaan Fei. Sesekali gadis itu mengaduk-aduk es krim kesukaannya—yang sekarang sudah kehilangan rupa—tanpa minat. Ketika ia kembali memakan es krim tersebut, Fei seakan-akan memakan daun green tea langsung, bukan esens green tea yang manis serta enak di lidah seperti biasa Fei makan saat penat seperti ini.

Sudah. Selera gadis itu menguap seketika, dengan kasar ia mendorong es krim dalam cup di depannya.

Jung Chanwoo, pria yang Fei tunggu sejak tadi belum terlihat jua. Tidak mungkin pria itu telat karena di setiap mereka sepakat untuk bertemu Chanwoo akan selalu datang lebih dulu. Namun, kiranya Fei tahu dengan sangat pasti apa yang menyabkan keganjilan terjadi pada diri kekasihnya itu.

Beberapa sekon kemudian, terlihatlah Chanwoo yang berjalan cepat dengan tergesa-gesa ke tempat Fei, siap menerima kekesalan gadis pilihannya. “Maaf aku terlambat. Tadi aku harus mengurus berkas-berkas untuk mendaftar ulang ke universitas sebelum waktu tenggat. Maafkan—”

Fei tak kuasa mendengus, ia melihat Chanwoo yang duduk di hadapannya sebal. Sejemang, gadis itu mendesah putus asa. Chanwoo—dengan sangat jelas memandang itu semua pun tak mengerti mengapa—sigap mengatupkan bibir rapat-rapat. Akibatnya, semua kalimat yang sudah ia rangkai terhenti.

Benar, kan, dugaanku. Gadis berambut pendek itu berusaha menahan tangis.

Sungguh, Fei ingin sekali mengutarakan isi hatinya, tapi entah mengapa logika gadis tersebut selalu menahan. Logika menganggap Fei terlalu kekanakan, berperilaku tidak dewasa. Bukan salah kekasihnya jika ia diterima di universitas negeri ternama, apalagi melalui jalur tanpa tes. Chanwoo seolah-olah mudah sekali untuk lolos dari persaingan ketat—yang bahkan, kemungkinan untuk lolos tak mencapai setengah persen—karena kelebihan otak encer pria itu.

Lalu…, di mana letak kesalahannya?

Chanwoo hanya tidak peka.

Ketidakpekaan seorang Chanwoo—yang notabene merupakan salah satu orang berharga dalam kehidupan Fei—menyebabkan hati gadis itu terluka. Chanwoo yang tak mengerti perasaan gadisnya. Chanwoo yang seakan-akan melupakan kenyataan bahwa Fei masih harus berjuang keras untuk dapat mengejar cita-citanya; berkuliah di universitas negeri tahun ini. Ia bersikap tak peduli dengan menceritakan kehidupannya yang berubah drastis.

Semenjak Chanwoo diterima, semua orang—keluarga, teman-teman, terkecuali Fei—memanjakannya, mengelu-elukan nama Jung Chanwoo dan tampak bangga. Oh, tentu Fei bangga, sangat bahkan. Siapa yang tidak bangga?

Namun…, rasanya tetap pahit. Terlalu pahit untuk Fei menerima kenyataan. Realita seakan menghantam kuat, menghancur-leburkan harapan gadis cantik itu.

Agaknya semesta berkomplot dengan Dewi Fortuna agar menjatuhkan ia ke dalam gelapnya palung laut. Berlebihan memang, tapi sungguh perasaan seperti itu nyata. Teruntuk kalian yang tidak pernah mengalaminya (seperti Chanwoo): lebih baik menyimak saja.

Mungkin, kalian bisa coba bayangkan perasaan ini: ketika kekasih atau sahabatmu berhasil lolos menjadi mahasiswa baru di universitas negeri, sedangkan kamu sendiri tidak. Perasaan ikut senang pun bangga pastilah hadir, akan tetapi terlintas pula perasaan sedih. Entah, sangat rumit untuk dideskripsikan karena terlalu bercampur aduk tak keruan. Ditambah pula kabar yang baru saja Fei ketahui kemarin.

Ia pun menutup mata sejenak, berusaha mengontrol hatinya. “Aku tahu mengapa kamu terlambat. Bukan salahmu, Chan. Aku…”

Setetes kristal lakrimasi mulai turun dari manik karamel Fei. Sungguh, ia tak sanggup berkata lebih banyak. Mau tak mau, suka tidak suka, ia harus segera mengambil keputusan.

Helaan napas keluar dengan perlahan dari bibir mungilnya beberapa sekon. “Lebih baik kita rehat sejenak, Chan. Berpisah untuk sesaat. Aku… Aku perlu waktu untuk berpikir tentang hubungan kita.”

Gendang telinga Chanwoo berdengung ribut sesudah itu, membuat si empunya mengernyit tidak suka. Apa yang baru saja didengarnya? Apa ia tuli? Perkataan gadisnya menyebabkan semua indra perasa lelaki itu rusak; telinganya seketika pengang, napasnya tersendat, demikian juga hatinya yang remuk menyakitkan.

Tidak mungkin, ini hanya mimpi. Sayang, kamu masih akan berada disisiku setelah aku terbangun, bukan? Katakan iya, kumohon?

Sayang tinggallah sayang. Alih-alih mengejar gadisnya yang telah pergi meninggalkannya sendirian yang entah sejak kapan, pria itu hanya termangu. Pandangan Chanwoo menggelap, seolah sinar ikut hilang bersamaan dengan kepergian Fei. Tatapannya kosong tak berisi kebahagian—yang selama ini ada karena Fei—seperti semestinya. Chanwoo pun kalut, tanpa disadari air bening mulai membuyarkan pandangan lelaki jangkung tersebut.

***

Genap dua minggu sudah, Fei mendiamkan sang kekasih hati—mungkin semakin lama sebutan ini akan menghilang. Ternyata benar, jarak akan menarik tali hubungan yang mereka ikat semakin kuat. Tak ada kabar. Tak ada lagi tawa renyah dan suara cempreng—terkadang manja—dari gadisnya. Teramat senyap, sepi menyesakkan.

Hari demi hari Chanwoo lalui dengan berat. Pikiran lelaki tersebut benar-benar bercabang begitu banyak. Perasaannya juga tidak menentu; terkadang marah, sedih, gundah, pun terselip sedikit bahagia karena ia telah resmi menjadi mahasiswa baru di universitas impiannya.

Chanwoo menenggelamkan kepala ke bantal semakin dalam, ia tidak bisa tidur dari semenjak Fei menghilang. Insomnia menyerang dirinya telak, seakan mengejek, ‘Rasakan kau, lihatlah dirimu sekarang. Dulu menganggapku tidak baik dan menghindariku, sih.’

Argh! Sial.” Chanwoo tak kuasa mengumpat. Ia kesal, membenci dirinya sendiri yang tidak mampu berbuat apapun untuk mengembalikan Fei ke dalam pelukannya. “Apa yang mesti kulakukan? Aku rindu sekali, Fei…”

Dengan ragu, pria itu mengambil ponsel yang terletak di sebelah bantal. Sedari tadi, Jung Chanwoo hanya menyalakan layar lalu mematikannya pula. Jikalau Chanwoo mau, ia bisa menghubungi Fei lagi. Iya, sudah puluhan kali lelaki tersebut menelepon dan mengirimkan pesan melalui media sosial. Malangnya, puluhan kali itu juga ia tak mendapat balasan dari Fei.

Tanpa disengaja, jemari Chanwoo membuka laman obrolan dirinya dengan wanita manja itu. Penasaran, pun karena terlalu rindu, ia melihat kembali history obrolan mereka.

 

Jung Chanwoo!
Aku ingin es krim (sad)
Sepertinya aku mengidam
Ayo tanggung jawab! (merong)
Malam-malam begini?
Hahaha
Tidak mau! Beli sendiri saja
Jahaaat! (angry)
Ini anakmu yang meminta
Jangan salahkan aku kalau anak kita nanti mengiler!
(haha)

 

Hal-hal semacam ini lah—bersenda gurau bersama kekasih tercinta—membuat seorang Jung Chanwoo teramat merindu. Jantungnya kembali berdetak cepat tatkala membaca obrolan mereka. Gadisnya mengerti betul bagaimana cara membuat ia tersenyum bahagia.

Fei sungguh bertolak belakang dengan dirinya, gadis berpipi tembam itu sangat berisik, tidak tahu malu, periang dan terlalu ekspresif—dimana ia jarang sekali menyembunyikan perasaannya. Oleh karena itu, Tuhan seakan telah menakdirkan mereka untuk bersama agar saling melengkapi satu sama lain. Bagi Chanwoo, kelemahan Fei adalah kelebihan pria itu dan Fei mempunyai berbagai macam hal yang tidak ada pada diri seorang Jung Chanwoo.

Meskipun demikian, semestinya lelaki itu menyadari bahwa Fei juga memiliki sifat sensitif. Sifat yang berakibat fatal bagi nara tak peka. Serupa pria bernama Jung Chanwoo.

 

Chaaaaan
Chanwoo-ya
Jung Chanwoo…
Hm?
Aku tak mengerti soal fisika dan matematika ini (cry)
Bagaimana bisa aku mengerjakan tes masuk univ nanti?
(CRY)
Bantu aku chaaaan~
Oke, kirimkan saja foto soal yang susah
Nanti akan kukerjakan
Jangan khawatir
Soal masuk tes univ mudah, kok
Kamu sih enak, Chan!
Sudah diterima masuk univ tanpa tes lagi
Kalaupun kamu tidak lolos, pasti melalu jalur tes kamu tetap akan lolos
JUNG CHANWOO MENGAPA KAMU PINTAR SEKALI
HUHUHUHU

 

Ringisan Chanwoo terdengar kentara, ia masih ingat kejadian setelahnya. Pria itu—dengan ceroboh—lupa untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh Fei. Hingga keesokan harinya ia baru teringat. Jung Chanwoo terlalu lelah akibat dua hari sibuk bolak-balik sekolah-rumah karena perlu mengurus banyak berkas. Pria itu pun tak sempat untuk mengabari kegiatannya kepada Fei.

Seolah itu semua belum cukup, Chanwoo dengan tanpa tedeng aling-aling—mungkin karena teramat bahagia—mengisahkan bahwa ia diberi mobil oleh kedua orang tuanya tanpa pria itu pinta. Orang tua Chanwoo memang mengaggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang sulit diwujudkan. Tidak sampai di situ saja, ayah Jung Chanwoo pun menawarkan anak lelaki paling bungsunya itu untuk tinggal di sebuah apartemen mewah sebagai tempat tinggal sementara saat ia kuliah nanti. Semua hal tersebut Chanwoo ceritakan—tanpa ada yang terlewat.

Kalian tahu apa yang terjadi kemudian? Fei sukses mendiamkan lelaki tak peka itu hingga seminggu lamanya. Chanwoo pikir, Fei sekadar tidak ingin diganggu. Sebab, dua bulan lagi gadisnya itu akan menghadapi tes. Ia juga tak mempermasalahkan hal tersebut. Entah ia tak tahu, entah ia bodoh atau bagaimana.

Fei pun mengajak Chanwoo bertemu setelah 120 jam mereka saling bungkam. Pada pertemuan hari itulah tepat dimana gadisnya memutuskan agar mereka break sementara.

Jung Chanwoo… Kau benar-benar… Kau sekarang mengerti jelas apa yang membuat Fei seperti itu. Semua memang salahmu. Oh, Jung Chanwoo yang agung. Sukmanya berujar masam.

Chanwoo seketika membanting ponsel dengan marah ke kasur (pria itu masih cukup waras supaya tidak merusak benda mahal tersebut), sementara jari-jemari panjangnya menjambak rambut kesal. Dirinya boleh cerdas dalam bidang akademik, tapi lihatlah, ia tak mampu mengimbangi nilai akademiknya ke dalam persoalan cinta. Persoalan yang membutuhkan banyak aspek untuk diperhatikan dengan cermat—termasuk perasaan.

Ia segera berpikir serius mencari cara agar dapat berbicara dengan Fei, menyelesaikan permasalahan mereka dengan baik-baik. Jung Chanwoo perlu mengesampingkan egonya kali ini. Lelaki itu sudah tak sanggup melanjutkan kegiatan mereka—berhenti berbicara melalui media apapun. Because that’s sucks, really.

***

“Fei…” Orang yang dipanggil menjengkit seketika, tubuh mungil perempuan itu mematung. Ternyata…, Chanwoo masih memiliki efek yang cukup signifikan terhadap dirinya bahkan hampir sebulan mereka tidak bertemu. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan jantung—yang mulai berdetak melebihi keadaan normal.

Ini tidak baik. Fei membatin.

Bagaimana bisa Jung Chanwoo masuk ke rumahnya? Padahal ia sudah memperingatkan semua orang rumah untuk tidak mengizinkan pria itu masuk. Setelah mendapat pesan singkat darinya bahwa ia akan datang ke rumah hari ini, Fei sesegera mungkin menutup akses lelaki kurang ajar tesebut.

“Ibumu berbaik hati memperbolehkanku bertemu denganmu. Yeah, walaupun aku harus memohon-mohon.” Hebat. Tidak cuman cerdas, Jung Chanwoo terbukti bisa menjadi seorang cenayang. Begitu paham pun mengerti apa yang sedang dipikirkan gadisnya itu hanya dengan melihat raut wajah yang terpampang.

Oh, Fei masih gadisnya, bukan?

“Aku ke sini karena ingin menyelesaikan permasalahan kita.”

Fei memandang Chanwoo tanpa minat, seolah-olah orang yang berada di depannya hanya bayangan tak kasatmata. Lalu, berbalik mengerjakan kembali kumpulan soal tes masuk universitas tahun kemarin yang sempat ia tinggalkan tadi.

Biarkan Jung Chanwoo melakukan apapun yang dia mau. Fei tak ingin peduli.

Namun, sia-sia saja usaha Fei. Dia membenci aroma parfum maskulin lelaki itu yang tercium begitu menyengat tatkala Jung Chanwoo mengambil selembar soal dari meja ruang tamu pun ikut duduk di lantai bersamanya. Tak tahukah Chanwoo bahwa Fei ingin kabur saja saat ini?

Cukup sudah. “Apa yang kamu lakukan?! Berhenti mendekatiku! Pergi saja sana jauh-jauh! Sekalian kita tidak usah bertemu lagi karena kamu pun akan sibuk berkuliah di kota lain! Kita ini, Chan… Telah berbeda jalan.

“Lihatlah dirimu. Aku dan kamu bagaikan koin—kamu angka sedangkan aku gambar. Semakin kita berusaha untuk mendekat, semakin kita menjauhi satu sama lain. Dalam artian, kita tidak akan pernah bertemu, Chan.” Lagi-lagi, Fei mengutuk mulutnya yang tidak bisa bungkam terlalu lama. Dirinya begitu terbuka dan Fei tidak suka—teramat di depan Jung Chanwoo.

“Tapi kita bukan bertemu, Fei. Kita ini dipertemukan.” Senyum mengembang dari bibir Chanwoo begitu lebar. “Kamu…, tidak merasakannya?”

Jung Chanwoo, masih saja tidak berubah. Selalu melempar pertanyaan-pertanyaan yang tidak  dapat Fei mengerti, terlebih ketika otaknya sudah tidak mampu berpikir setelah mengerjakan soal-soal sedari pagi.

“Apa, sih, maksudmu? Bisa langsung ke intinya saja?” Biarkan pertanyaan dijawab oleh pertanyaan, Fei hanya ingin lelaki itu cepat pergi.

Alih-alih menjawab, Chanwoo malah terkekeh geli beberapa sekon. Tawanya pun terhenti setelah mendapat delik tajam dari—yang masih menjadi—kekasihnya. Ia berdeham pelan, kemudian menggaruk tengkuk malu.

Seketika Chanwoo mengeluarkan tampang seriusnya. “Oke. Aku ke sini ingin meminta maaf atas semua kesalahanku, Fei. Aku paham kamu marah terhadapku karena perilaku yang aku lakukan—terlalu bahagia hingga melupakan perasaanmu. Aku ini memang lelaki tidak peka, pemalu, dan apapun itu yang membuatmu tak suka. Tapi, Fei, aku hanya ingin kamu tahu bahwa kamu itulah yang menjadi penutup bagi kelemahan-kelemahanku. Tanpa dirimu… Entah, aku tidak bisa membayangkannya, bahkan.

“Jadi, Fei… Jangan tidak berbicara hingga dua minggu begini, ya? Karena aku membencinya.”

Fei terisak, gadis itu sungguhlah terharu. Apa yang baru saja diucapkan seorang Jung Chanwoo? Apa ini nyata? Tidak dapat dipercaya. Sempat Fei menganggap bahwa ia tertidur saat mengerjakan terlalu banyak soal—yang boro-boro dimengertinya—kemudian bermimpi.

Pelukkan hangat menghampiri tubuh mungil Fei kemudian. Chanwoo memberikan dengan sukarela tanpa diminta, menjadi sandaran untuk gadisnya ketika ia menangis. Ini…, yang semestinya pria itu lakukan, bukan?

“Karena aku sudah selesai mengurus semuanya, aku akan membantumu untuk lolos tes masuk universitas. Lihat, banyak sekali soal matematika dan fisika yang tidak kamu isi,” ucap Jung Chanwoo tak percaya sembari menggelengkan kepala setelah pelukan mereka terlepas.

“Jangan mengomel dulu, Chan. Aku ingin menjawab pertanyaanmu.” Fei balas mengerucutkan bibir tidak senang. Gadis itu perlu menyelesaikan permasalahan pun kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.

“Iya, Chan. Aku juga minta maaf, ya. Kelakuanku sangat childish, sepatutnya aku bahagia dan mendukung semua keputusanmu. Namun, aku bahkan semakin merepotkan. Maka dari itu, aku perlu waktu untuk berpikir dan memutuskan apa yang harus aku perbuat selanjutnya akan hubungan kita.”

Chanwoo menatap kekasih pilihannya itu tanpa berkedip, lanjut bertanya dengan gelisah, “Lalu, apa keputusanmu sekarang, Fei?”

“Aku memutuskan untuk menyusulmu, Chan! Ayo sekarang ajari aku semua yang tidak aku mengerti! Tinggal bebrapa minggu lagi, Chan! Kamu harus berjanji membantuku, ya? Supaya aku bisa berkuliah di tempat yang sama denganmu. Agar kita bisa mengikat kembali tali hubungan kita semakin kencang!” Fei berseru girang, dengan cepat mengambil kembali pensil yang tergeletak tak berdaya di atas tumpukkan kertas soal. Ia mulai membaca pertanyaan dengan serius, mencoret-coret di kertas kosong sembari berusaha menghitung.

Kali ini, Fei harus percaya bahwa ia bisa lolos berasama Jung Chanwoo—yang biarpun telah lebih dulu berhasil—karena tak ada yang tak mungkin. Betul, tidak?

Kendati demikian, agaknya Fei tidak tahu-menahu akan keputusan lelaki yang telah dipilih gadis itu. Ini bakal menjadi sebuah rahasia.

Keputusan Jung Chanwoo adalah untuk selalu ada di sisi gadisnya, seberapa jauh pun jarak memisahkan mereka. Jung Chanwoo akan selalu memercayai Fei, andaipun keraguan berkehendak merusak hubungan mereka. Sebab bagi Chanwoo, jarak bukanlah pemisah tapi keraguanlah yang memisahkan.

Trust is worthy, you know?

The End.

A/N: WAWAWAWA AKHIRNYAAAAAA WB TELAH SELESAI MENYERANG :””) (TAPI TAK TAU APA WB AKAN MENYEBARKAN VIRUS LAGI) WKWKWKWKWKW X’D

TAPI YANG JELAS AKU SENENG BANGEEET BISA NYUGUHIN CERITA LAGI BUAT READERS IFK WEHEEEEEEEY \^^/ (TEBAR KECHUP PENUH CINTA) /EWH/😦 WKWKWK

BTW…. Halooo readers baru ifk ^^ salam kenal aku Fei 98l hehehehe kalau readers lama pasti udah tau (?) /TIMPUK/ (PEDE BANGET LO)😦 mau minta maaf dulu soalnya Fei udah lama banget gak post ff😦 karena kemaren izin ke budir hiatus selama udah dapet ptn baru kambek lagi😄 wkwkwkwkws dan buat cerita di atas…. itu pengalaman pribadi sih sumpah :””) jadi bagi kalian yang masih sekolah, kejar terus ya cita-cita kalian yang penting rajin-rajinlah belajar! (EAAAA KEK GUE BELAJAR AJA) /TIDAK PATUT DICONTOH/ /NGUMPET/

mau bilang aja, ptn gak menjamin kalian buat jadi sukses kok :”’) tapi tetep ya, kalo aku… harus dapet ptn biar gak nyusahin ortu :””) gitu ajasih :”’) wkwkwkwkwkwk (KOK JADI CURHAT WEJANGAN GINI SIH)

AND THANKS TO:

  1. Budir IFK yang ngebolehin aku buat hiatus begitu lama :”’) terus seneng banget deh gabung ifk isinya anak2 cerdas semua :”’) wkwkwkwkkw makasih ya budir :*❤ maaf lho sering ngerepotin😦
  2. BUAT @ghivorhythm THANKS BANGET FOR EVERYTHING YA BEB WKWKWKWKWK :”) {{}} (sesama pejuang sbmptn) :””) les bareng tiap hari ampe gue bosen wkwkwkwk❤
  3. Weheartit.com makasih banyak yaaa wkwkkwwk aku ambil gambar dari kalian buat bikin poster di atas :* ehehehe❤
  4. KELUARGA IFK :* LOVE YOU ALWAYS❤❤❤
  5. Buat readers IFK yang setia (CIYEE) wkwkwkwk makasih banyak kalian udah baca, comment, dan like cerita-cerita aku :””) karena itu sungguh berarti buat ke depannya! saran dan kritik sangat diperbolehkan asal jangan nge-bash ya😄 (agak ngeri)

POKOKNYA AKU CINTA KALIAN SEMUA❤❤❤❤

Sincerely,

FEIBRI❤ (maafkan kenarsisanku yang OC-nya ehem nama sendiri) EHEHEHE XDv

 

5 thoughts on “[Vignette] We Don’t Talk Anymore”

  1. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA HAPPY COMEBACK CHINGUKU!!! YEAYYYYYYY❤❤❤

    Karena ini kambekmu setelah sekian lama (asheeek) maka aku akan fokus pada kebahagiaanku dulu ya wkwkwk pokoknya ini romens bingit wow fei mainnya peluk-peluk!!! TERUS ADA MENTION BUKU SOAL TES UNIVERSITAS JUGA!!!!!!!!!! Gokil fei nyeret dia sampe ke sini HAHAHAHAHA❤

    Btw soal a/n-mu, aww iya kalian manteman 98lku memang jjang banget aku bangga sama kalian semua!!!! Like really really bangga❤ :') i feel not good enough to be your friends, guys. like what did i do to deserve you all?????❤

    ANYWAY HAPPY COMEBACK FEI! Semoga wb-nya gak muncul lagi ya!! Luvyouuuuuu

    p.s : ckckck mainnya sama chanwoo

    Disukai oleh 1 orang

  2. Waduuh jadi inget lagunya charlie puth sama mbak seley deeh wkwkwk. we dont talk anymore like we used to do….. lalalalala. Selamat ya mba feiii sudah dapet ptn sudah senang dan jadi maba heheheh. selamat menjalani ospek dan masa-masa awal SMA. Doakan aku untuk tahun ini!!! :*

    Suka

  3. ANJIRLAH INI KURANG BAPER APA LAGI
    KAMU PARAH KENAPA BAWA BAWA LDR SEGALA (karena gua akan ldr, hiks)

    Gils akhirnya post juga, selamat ya calon mahasiswi jakun

    Jangan berhenti berkarya!

    Suka

  4. hi there Fei!

    selamat kembalii kalau gituuu~
    anyway ini ceritanya penuh penghayatan apalagi based on true story hehhe. dunia setelah sekolah emang kadang lebih kejam :<
    dan dibalut romance ihir~

    semoga ga wb lagi ~
    gutlak college life soon to be :))

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s