[6 of 6] Messed Up

messed up - tsukiyamarisa

a special movie written by tsukiyamarisa

starring [BTS] Kim Seokjin, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Namjoon, Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook duration Chaptered genre AU, Life, Friendship, slight!Angst, Dark, and Psychology rating 17 loosely based on Run MV and HYYH Prologue

previous part

important note I have some announcement at the end of the story, so please do read it too if you have free-time. Thank you.


Messed Up

But what is a friendship?

Something that collide with us, or something that stay with us during collision?


.

#6: Epilogue

—Reminiscing Past

.

.

.

Seulas senyum milik Kim Seokjin.

Itulah yang Taehyung temui kala langkahnya membawa ia ke pesisir pantai, ke tempat kawan tertuanya duduk seorang diri. Selama beberapa saat tak saling bertukar kata, sampai Seokjin mendongak dan menjungkitkan ujung-ujung bibirnya. Entah memaksudkannya sebagai sapaan, penyambutan, atau mungkin malah untuk menutupi kekecewaannya. Apa pun itu, Taehyung bisa merasakan sesak hadir di dadanya kala ia berakhir jatuh terduduk dan mulai sesenggukan seperti anak kecil.

“M-maaf… m-maafkan aku, Hyung. Aku… a-aku teman yang tak berguna, kan?”

Seokjin tak langsung menjawab. Alih-alih, lelaki itu malah beringsut mendekati Taehyung. Menepuk pundaknya dengan sikap hangat, sebelum akhirnya berkata, “Jadi, kau akhirnya mengambil keputusan ini.”

“Ah, aku—“

“Aku paham.”

Seketika Taehyung pun bungkam, sedikit terkejut karena Seokjin baru saja memotong ucapannya. Terlebih, lelaki yang lebih tua itu telah melontarkan dua kata yang sama sekali tidak Taehyung harapkan. Sungguh berlawanan dengan fakta bahwa Taehyung telah berlaku egois, juga terpaksa membuat kawannya menyia-nyiakan hidup. Namun, bukannya makian, yang ia dapatkan malah….

“Terkejut?”

Yang ditanya hanya bisa meneguk saliva, memberikan anggukan lamat-lamat sebagai jawaban. Tak yakin harus berkata apa, lantaran Seokjin malah mengulum sebuah senyum lagi sebagai respon. Biarkan keheningan kembali datang, sembari keduanya melempar pandang ke lautan  lepas. Sebuah panorama yang sukses membuat Taehyung sedikit bergidik, rasa bersalah kembali menghantui tatkala ia teringat Seokjin yang tewas saat berusaha menolongnya.

Hyung…

“Kau mau bercerita lebih dulu, atau aku yang berbicara lebih dulu?”

Taehyung tak lekas menjawab. Lelaki itu tahu bahwa Seokjin baru saja memberinya pilihan, berusaha untuk membuatnya merasa nyaman alih-alih menyalahkan. Dan jujur saja, perbuatan itu malah menghadirkan rasa tak enak hati yang makin mendalam. Setelah segala yang ia lakukan… mengapa Seokjin masih mau menganggapnya sebagai sahabat?

Hyung… a-aku….”

“Aku memberikan pilihan agar aku bisa berbicara lebih dulu, omong-omong.” Seokjin berujar mengingatkan, seakan paham bahwa masih ada berbagai hal yang berkecamuk di benak Taehyung. “Kalau perkataanku bisa membuatmu merasa lebih baik dan berhenti menyalahkan diri—“

“Aku memang salah.”

“Kita semua membuat kesalahan.”

“Tapi yang kuperbuat—“

“—adalah sesuatu yang harus dimengerti,” lanjut Seokjin tanpa jeda, diikuti imbuhan, “Ingatlah kalau saat ini kita sudah… well, kaupaham kan, kalau penyesalan kita sekarang tak ada artinya?”

Taehyung menjawab dengan satu anggukan pelan. Tentu saja ia paham akan itu. Tak peduli di mana pun mereka berada sekarang, mereka tak akan pernah bisa kembali ke dunia sana. Mereka tak akan berjumpa dengan kawan-kawan mereka lagi, pun menyaksikan bagaimana lima orang lainnya melanjutkan hidup. Ironis memang—bagaimana ia akhirnya terbebas dari segala beban serta kegelisahan yang ada, namun di satu sisi ia mulai mencemaskan apa dampak dari perbuatannya kepada mereka yang ditinggalkan.

Bagaimana kalau mereka….

“Kau menyesali keputusanmu?” Seokjin memotong jalan pikir Taehyung, menebak tepat pada sasaran. “Atau kau merindukan mereka?”

“Rindu mungkin lebih tepat,” balas Taehyung, kedua kelopaknya terpejam seraya ia membiarkan kenangan demi kenangan melintas di dalam benaknya. Saat-saat ketika mereka masih bahagia, tatkala perpecahan ataupun perbedaan pendapat belum muncul ke permukaan. Itulah yang tepatnya Taehyung rindukan: masa-masa serta kenangan yang tidak akan pernah kembali lagi. Sederhana saja, waktu bagaikan telah merampas segalanya dari mereka. Meninggalkan kepingan-kepingan memori serta hidup yang tak lagi utuh, yang rusak serta terkadang tampak mustahil untuk dibenahi.

Melihat Taehyung yang kini terdiam, Seokjin pun hanya bisa maklum. Tanpa banyak kata memutuskan untuk berbicara lebih dahulu, berpikir bahwa membuka suatu konversasi serta menjelaskan isi pikirannya adalah hal yang tepat untuk dilakukan.

“Kau tahu, aku sama sekali tidak marah, Tae.” Seokjin berucap ringan, lantas lekas menambahkan sebelum Taehyung bertanya-tanya. “Aku sudah memikirkannya, dan kurasa sekarang aku bisa memahami hidupmu. Kenapa kau memutuskan seperti itu, kenapa kau terkesan menyia-nyiakan apa yang dulu kulakukan untukmu. Tapi, bagaimana kalau menurutku itu tak sia-sia?”

“Tidak?”

“Tidak,” ulang Seokjin mantap, mendadak melempar tatap berkaca-kaca ke arah Taehyung. “Karena terkadang… yah, terkadang ada masanya ketika sesuatu yang telah rusak tidak bisa diperbaiki lagi, bukan? Memaksanya tidak akan membawa hasil; di sanalah aku membuat kesalahan.”

Butuh waktu bagi Taehyung untuk meresapi makna di balik kalimat itu, sekon-sekon yang berlalu lambat dalam keheningan. Barulah ketika ia akhirnya menyadari bahwa Seokjin sedang membicarakannya, kernyitan itu segera datang di kening. Tanda bahwa ia tak setuju—tepatnya tak suka dengan cara Seokjin yang berkata bahwa dirinya telah membuat kesalahan.

Hyung, kau tidak—“

“Tadi aku sudah bilang kan, kita semua membuat kesalahan.” Seokjin cepat-cepat menyela, tak mengizinkan kawannya untuk membantah. “Ini hidupmu, Taehyung-a. Memang tak semestinya bagiku untuk ikut campur, pura-pura mengerti, atau malah menghakimi. Jadi, kalaupun akhirnya kau mengambil keputusan macam itu, aku tak akan menyalahkanmu.”

“Tapi yang lain….”

“Mereka akan mengerti,” balas Seokjin, namun nada suaranya berubah menjadi bisikan kala ia mengimbuhkan, “Butuh waktu, tapi pastinya mereka akan mengerti, kan? Kendati mungkin mengakuinya itu susah, tapi dalam hati mereka pasti….”

“Seokjin Hyung….

Untuk kali pertama, Taehyung bisa melihat ucapan Seokjin mulai tersendat dan terbata. Digantikan dengan isak tertahan yang muncul kemudian, selagi sang lelaki memalingkan wajah untuk menyembunyikan kesedihannya. Namun, tak peduli seberapa pun besarnya usaha Seokjin untuk menutupi semua itu, ia tetap gagal. Semua yang telah ia pendam bagai mengalir keluar begitu saja, tak lagi bisa ditutup-tutupi ataupun disamarkan dengan senyuman.

“K-kalau boleh jujur, aku merindukan mereka, Tae.” Seokjin mengakui, mengusap bulir-bulir air yang nyaris meluruh keluar dan menggantinya dengan senyum sendu. “Aku… aku ingin tahu bagaimana kabar mereka. B-bagaimana kehidupan mereka berjalan, bagaimana mereka melalui semua ini. Aku ingin melihatnya, mungkin sekadar memberikan tepukan di pundak dan mengatakan bahwa mereka pasti bisa hidup dengan baik. T-tapi….” Satu jeda panjang mengisi—yang sama sekali tak dipecahkan Taehyung—sebelum akhirnya Seokjin bergumam, “Tapi aku tak bisa, bukan?”

Taehyung tak mampu menjawab.

“Bahkan untuk sekadar memastikan apakah mereka bahagia, aku tak bisa melakukannya, bukan?” tambah Seokjin, mendadak melontar segala tanya yang berkecamuk. “Apa mereka baik-baik saja sekarang? Apa Namjoon masih sering menghabis-habiskan uang tanpa alasan? Apa Jimin dan Hoseok masih suka menyalahkan diri mereka sendiri? Apa Jungkook masih suka berkelahi? Apa Yoongi masih sering pesimis dan berpolah seakan ia tak punya harapan?”

Dua kali berturut-turut, dan Taehyung hanya bisa tetap diam. Ia tak bisa, tak akan pernah bisa, untuk menjawab semua itu. Terlepas dari fakta bahwa mereka tak lagi bersama, Taehyung sendiri bukanlah sosok yang hobi memperhatikan. Ia tahu bahwa teman-temannya punya masalah, ia mendengarkan cerita mereka, tetapi ia tidak pernah memikirkannya sebagaimana Seokjin berpikir. Tidak sampai segala kekacauan ini terjadi; dan tidak sampai ia akhirnya benar-benar menemui ketiadaan.

Hyung, aku….” Taehyung menarik napas dalam, memutuskan untuk mengganti topik lantaran ia tak ingin kecanggungan datang mengisi. “Sejujurnya, aku ingin mati karena… karena seperti katamu tadi….”

“Seperti kataku?”

“Seperti katamu, ada hal-hal yang sudah kelewat rusak dan tak bisa diperbaiki lagi,” jawab Taehyung dalam gumaman. “Dan aku merasa seperti itu. Seakan… seakan ada bagian di dalam diriku yang rusak, yang tak lagi sanggup menghadapi dunia, yang senantiasa ingin agar semuanya lekas berakhir saja. A-aku….” Taehyung mengepalkan kedua tangannya, seolah sedang menahan sakit dan perih yang bergejolak. ”Aku sudah membiarkan ibuku terbunuh, aku membuatmu mati, dan aku takut jika suatu saat nanti aku bertemu dengan ayahku sendiri.”

Walau pengakuan itu tampaknya sudah bisa diduga, mendengarkannya terucap lantang tetap tak memperingan rasa terluka yang ada. Alih-alih, semua percakapan ini malah mengingatkan mereka akan betapa banyaknya hal yang sudah mereka lalui. Akan kejamnya manusia-manusia di dunia sana, akan nasib dan kekacauan yang tak pernah bisa diduga, serta akan persahabatan yang ternyata tak semudah itu untuk dipertahankan.

Dan ia, Kim Taehyung, telah kalah dari semua itu.

Ia kalah, ia kabur, ia seorang pengecut, ia—

“Terkadang, mengakhiri bisa menjadi pilihan terbaik, Taehyung-a,” ujar Seokjin, lengan terangkat untuk merangkul pundak sang kawan dan menariknya mendekat. “Karena menurutku, ada hal-hal yang sebaiknya tidak dibiarkan untuk berlanjut. Ada hal-hal yang terlampau kejam untuk dibiarkan merusak hidupmu, sehingga kabur adalah satu-satunya hal yang bisa kaupikirkan. Itu… itu tidak salah. Kauingat apa kata Yoongi?”

“Apa kata Yoongi Hyung?”

“Ingat malam itu, saat ia mengeluh kurang tidur sementara kita semua sibuk bermain dan membuat keributan?” Seokjin memasang senyum, jelas sedang mengenang memori yang ada. “Kala itu Yoongi berkata, ‘Kalian berisik. Tapi, selama kalian mempertahankan sikap selalu ceria dan sedikit kekanak-kanakan itu, aku menyukainya.’ Ingat?”

Taehyung mengangguk-angguk, kendati ia belum sepenuhnya paham apa maksud Seokjin.

“Kurasa aku mengerti sekarang,” lanjut Seokjin. “Di tengah semua kekacauan yang ada, kebahagiaan-kebahagiaan kecil macam itu memang diperlukan. Dan ketika kau sudah tak lagi memilikinya, mau jadi apa dirimu?”

Senyap selama beberapa sekon, sampai akhirnya Taehyung berkemam, “Kuharap yang lain masih memilikinya.”

“Aku juga berharap demikian, Tae,” ujar Seokjin, kepala terdongak untuk memandangi langit yang sudah menggelap. Seakan sedang berusaha menyesuaikan diri dengan suasana percakapan yang ada, lengkap dengan kerlipan bintang yang tersebar menghiasi. “Tetapi, seandainya ekspektasi kita tidak menjadi nyata sekalipun, aku tidak akan kecewa. Apa pun keputusan dan jalan hidup yang mereka pilih, aku akan menerimanya.”

Taehyung membenarkan, menyatakan persetujuannya sekaligus menutup percakapan mereka. Mengikuti Seokjin, ia pun kini ikut mendongakkan kepalanya. Memandang bintang-bintang yang ada di atas sana, menghitungnya sampai ia menyadari bahwa ada lima kerlip bintang yang sedang bersinar amat terang.

Lima bintang yang—Taehyung anggap—adalah perwujudan dari kondisi sahabat-sahabatnya. Mereka yang tetap bersinar serta menampakkan keindahannya, sekalipun kegelapan tengah melingkupi dan jarak pun terbentang di antaranya.

“Aku harap, bintang-bintang itu tak sedang berbohong.”

.

-o-

.

“Mulai minggu ini, dosis obatmu bisa dikurangi. Ingatlah untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan lagi, dan semisal kau mengalami kesusahan—“

“—aku hanya perlu mengingat niatku untuk sembuh. Yeah, aku paham, Dokter Choi.”

“Semoga berhasil, Tuan Jung.”

Diikuti dengan ucapan terima kasih dan suara pintu yang menutup, Jung Hoseok melangkah keluar sembari mengembuskan napas panjang. Lega bukan main atas kabar yang baru saja ia terima, sekaligus senang karena ia tak lagi menemui kegagalan. Bisa dibilang, mood-nya hari ini amatlah baik. Tak ada yang perlu dicemaskan, tak ada jam-jam yang dilewati dengan kontemplasi panjang nan irasional, dan tak ada rasa sakit yang mendera kepala. Hoseok sedang bahagia, terlampau bahagia hingga ia ingin membaginya dengan orang lain.

Namun, dengan siapa ia harus membaginya?

Melangkah keluar dari rumah sakit, Hoseok hanya bisa memikirkan nama-nama yang sudah kelewat familiar dengan hidupnya. Mereka yang sejak dulu ia sebut sahabat, yang senantiasa Hoseok rindukan selama enam tahun belakangan. Bahkan, kalau dipikir-pikir lagi, Hoseok sudah tak ingat kapan kali terakhir mereka bercengkerama. Selalu saja ada halangan yang datang merintang, selalu saja ada pemikiran buruk yang mengisi benaknya. Kendati demikian, mereka jugalah yang membuat Hoseok pada akhirnya memiliki niat untuk menjadi lebih baik.

Kira-kira, akankah mereka datang jika Hoseok meminta?

Sempat ragu sejenak, Hoseok hanya memandangi kontak keempat kawannya yang lain. Membiarkan nomor-nomor itu tertera silih berganti di layar ponsel, selagi ia menimbang-nimbang serta menyusun kalimat. Rasa takut dan cemas datang menghampirinya, bergelayut sesaat sebelum akhirnya kembali pergi.

Tidak.

Untuk hari ini, Hoseok tidak akan membiarkan dirinya kalah dengan perasaan cemas itu.

Maka, sembari sekuat tenaga mengabaikan segala skenario buruk yang mungkin terjadi, sang lelaki pun akhirnya mulai mengetik pesan. Mengabarkan keadaannya kini, diikuti dengan sebaris kalimat permintaan yang jujur dan apa adanya. Kalimat yang sedikit-banyak mengandung nostalgia akan masa lalu, yang membuat Hoseok sedikit mengulum senyum selagi ia mengirimnya.

.

Pukul tujuh di kedai makan biasa. Kalian harus datang!!

.

.

-o-

.

“Pukul tujuh….”

“Pesawatku akan lepas landas pukul enam,” sela Namjoon, memandang Jungkook yang jelas-jelas juga mengetahui fakta ini dan tampak kecewa bukan main. “Aku harus berangkat ke bandara sekarang, Jungkook.”

Hyung—“

“Sampaikan saja salamku dan—“

“Dan apa yang harus kukatakan? Bahwa kau pergi tanpa berpamitan?”

Jeon Jungkook tak bermaksud menuduh, tidak pula hendak menimbulkan pertengkaran. Setelah bertahun-tahun tinggal bersama dengan Namjoon, bisa dibilang kalau ialah yang paling paham dengan jalan pikir lelaki itu. Namun, selama beberapa tahun terakhir ini pula, ia bertanya-tanya. Ia ingin tahu apakah Namjoon memiliki niatan untuk mengembalikan semuanya seperti semula; ia ingin tahu akankah Namjoon dan Yoongi bisa kembali mengobrol akrab seperti dulu; ia ingin tahu bagaimana kelanjutan dari kisah pertemanan mereka.

Tapi, jelas bukan jawaban macam inilah yang Jungkook mau.

Hyung….

“Kau sudah dewasa, Jungkook-a,” ucap Namjoon akhirnya, seakan hal itu sudah bisa menjelaskan segalanya. Seolah fakta bahwa kelulusan Jungkook dari bangku perguruan tinggi setempat adalah sebuah batu loncatan, sebuah alasan untuk menyatakan bahwa perubahan adalah hal yang tak perlu ditangisi. “Sekarang, kurasa kau sudah mengerti kalau—“

“Kalau kita semua tidak akan menjadi seperti dulu lagi?”

“Apa perlu kau mengungkit-ungkitnya sekarang?” Namjoon balas bertanya, jemari terangkat untuk memijat pelipis. “Enam tahun berlalu, dan baru sekarang kau sadar akan fakta itu?”

Menarik napas panjang adalah hal yang Jungkook lakukan, seraya ia berusaha untuk mengatur emosinya. Memang benar bahwa enam tahun telah berlalu, memang benar bahwa segalanya telah berubah. Jungkook sendiri kini sudah lebih pandai dalam hal mengendalikan amarahnya. Tetapi, selalu ada pengecualian untuk segala sesuatu, bukan? Bagaimanapun juga, ia masih manusia—ia punya hati dan ia berhak kesal untuk ini.

“Yang kaukatakan memang benar,” ucap Jungkook akhirnya, perlahan. “Itu benar, dan sejujurnya aku selalu memikirkan itu setiap waktu. Hanya saja… dengan kepergianmu dan sebagainya….”

“Apa ajakan Hoseok barusan telah membuatmu menjadi sentimental begini?” Namjoon kembali menyela, menarik napas dalam-dalam seraya membuang pandang ke arah lain. “Apa kau… apa kau ingin kembali ke masa lalu atau semacamnya? Menganggap yang pernah kita lalui itu lebih membahagiakan dan—“

“Yah, apa kau tidak menganggap itu sebagai kenangan yang indah?” sambar Jungkook, memutuskan bahwa sudah saatnya ia memotong perkataan Namjoon. “Apa persahabatan kita tak pernah ada artinya? Setelah segala yang terjadi, setelah apa yang kita hadapi bersama—“

“—yang juga menghancurkan segalanya,” lanjut Namjoon, mengarahkan tatapnya kembali ke arah Jungkook. Tatap yang awalnya dipenuhi dengan rasa frustasi, namun lama-kelamaan melunak sebelum sang lawan bicara sempat membalas. “Jungkook-a…

Jungkook memilih untuk diam.

“Selama beberapa tahun ini, kau sudah melihat segalanya, bukan?” Namjoon melontar tanya, entah kalimat bernada tanya keberapa yang muncul di dalam konversasi ini. “Kau… kau memahami alasanku. Kau tahu kenapa aku memiliki pemikiran yang berbeda dengan Yoongi Hyung, kau tahu mengapa aku tidak mau bertemu dengan mereka.”

“Karena kau tidak ingin menyerah.”

“Karena aku tidak mau menyerah,” Namjoon membenarkan, kemudian mengimbuhkan dengan suara lirih, “Dan karena aku tidak mau menerima perubahan.”

“Aku—“

“Yang kau ketahui belumlah segalanya. Selama ini, akulah yang bersikap seperti pengecut dan aku mengakuinya.”

“Namjoon Hyung….”

“Aku hanya…” Satu jeda singkat, yang digunakan Namjoon untuk menelan saliva dan menyingkirkan sisa-sisa egonya yang masih bercokol. “Aku menghargai persahabatan kita lebih dari apa pun, Jungkook. Semua kebahagiaan itu, kebodohan-kebodohan kita, pengalaman yang membuat kalian lebih terasa seperti keluarga bagiku….” Jeda lagi, kali ini dimanfaatkan Namjoon untuk berbalik dan meraih sebuah tas kertas. “Aku merindukan semuanya; aku hanya ingin mempertahankan kenangan itu sebagaimana adanya.”

Butuh beberapa detik bagi Jungkook untuk mencerna segalanya, semua pengakuan Namjoon yang teramat tak terduga itu. Padahal, Jungkook selalu mengira bahwa sang kawan adalah orang yang optimis dan rasional. Yang senantiasa memikirkan jalan terbaik, sampai-sampai ia pun susah menerima kematian Taehyung kala itu. Siapa yang sangka kalau sebenarnya….

“Sekarang kau mengerti, kan, kenapa aku menghindari segalanya dan ingin bergerak maju seorang diri?” Namjoon berkemam, menarik atensi Jungkook kembali. “Kita bertujuh… aku ingin mempertahankannya di dalam ingatanku seperti itu. Kita bertujuh yang bersenang-senang bersama, bukan kita yang kacau dan berantakan.”

Tak bisa membantah, Jungkook akhirnya memilih untuk maklum atas keinginan Namjoon yang satu itu. Atas kelemahan yang baru saja diakuinya, atas sebuah penjelasan yang entah mengapa membuat dada Jungkook terasa lebih sesak dari sebelumnya. Inikah jawaban dari pertanyaannya selama ini? Bahwa mereka semua—tak terkecuali dengan dirinya—sebenarnya sedang berusaha bertahan dengan cara mereka masing-masing?

Hyung.”

“Maaf, aku….”

Jungkook lekas menggeleng. “Kita semua….”

Yeah?”

“Kita semua masih bersahabat, bukan? Masih keluarga seperti dulu?”

Yang ditanya tak langsung menjawab, memilih untuk menyerahkan kantong kertas yang ia bawa kepada Jungkook lebih dahulu. Diikuti dengan satu senyuman, tarikan pada sudut-sudut bibir yang sendu sekaligus menenangkan. “Jungkook-a, aku menemukan itu semalam. Tanpa sadar aku menyimpannya, membawanya selama ini sejak… sejak liburan terakhir di pantai itu.”

“Ini—“

“—handycam milik Seokjin Hyung. Juga semua kaset rekamannya. Aku menyempatkan diri untuk menontonnya semalam dan kurasa… kurasa saat itulah aku menyadari bahwa aku memang menyayangi kalian.”

“Maksudnya kau pernah berpikir—benar-benar berpikir—bahwa kau membenci kami?”

“Tentu saja tidak.” Namjoon menghadiahkan dorongan ringan ke pundak Jungkook, sedikit tergelak sebelum kembali bersikap serius. “Kau tadi bertanya apakah aku masih menganggap kalian sahabat atau tidak. Jawabannya adalah ‘ya, tentu saja, dasar bodoh’. Kalian akan selalu menjadi keluargaku, orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam hidupku. Dan itu akan tetap berlaku, sekalipun… sekalipun….”

“Sekalipun kau memilih untuk menjauh saat ini, menjalani hidup dan pilihanmu sendiri,” lanjut Jungkook, kali ini diiringi anggukan paham dan tepukan di pundak Namjoon. “Aku mengerti, Hyung. Akan kupastikan agar yang lain juga paham, dan agar mereka melihat rekaman ini.”

Simpulan dari Jungkook tersebut lantas diikuti dengan pelukan singkat bersahabat, juga kelegaan karena perpisahan ini tidak diwarnai dengan pertengkaran.

Thanks, Jungkook. Sungguh aku—“

Jungkook lekas memotongnya, singkat dan cepat dengan satu kalimat yang klise namun bermakna.

“Itu gunanya sahabat, bukan?”

.

-o-

.

“Aku sudah menyelesaikan bagian—Yoongi Hyung?”

Kekeh tawa lantas terdengar, selagi Jimin menggeser kursi berodanya ke meja kerja Yoongi dan menyenggol pundak kawannya yang separuh terlelap itu perlahan. Timbulkan erangan serta keluhan singkat dari bibir Yoongi, seraya sang lelaki membuka mata dan mulai meregangkan tubuh.

“Apa?”

“Bagianku sudah selesai. Liriknya juga sudah dan—“

Jimin tak sempat menyelesaikan perkataannya, lantaran Yoongi sudah keburu balik mendorongnya dan bergerak mendekati layar komputer yang menyala. Manik dengan cepat memindai hasil kerja Jimin, diikuti dengan decak kekaguman saat ia menyadari makna di balik tiap lirik yang tertulis.

“Kenangan masa muda yang mengubah hidupmu menjadi lebih baik.” Yoongi berkata lamat-lamat, menguraikan dan menyimpulkan tiap kiasan yang ada menjadi satu kalimat sederhana. “Aku benar, kan?”

Yep. Aku hanya sedikit mengubah idemu yang ingin bercerita soal masa muda saja—“

“Kau melakukannya dengan baik, Jimin,” puji Yoongi, mengalihkan pandangnya ke arah Jimin. “Sungguh. Aku menyukai apa yang kautulis dan….”

“Dan?”

“Entahlah.” Yoongi mengedikkan bahu sejemang. “Rasanya familiar, itu saja. Membaca lirikmu membuatku ingat akan banyak hal. Seolah kita bisa menjadi seperti ini karena apa yang telah kita lalui…”

Jimin mengulum senyum saat mendengarnya.

“…dan seakan kau masih terus ingat akan semua kejadian, seberapa pun menyakitkannya itu.”

“Kau membencinya?”

Yoongi menggeleng pelan. “Apa yang membuatmu berpikiran begitu?”

“Karena—“

“Karena segalanya berubah setelah itu?” tebak Yoongi, berpolah seakan ia tahu apa isi pikiran Jimin. “Well, banyak hal memang berubah, Jimin. Dan aku tidak akan menyangkal—terkadang aku memang berharap untuk memiliki masa lalu yang lebih baik.”

Sang sahabat hanya diam, mengerjapkan kelopaknya beberapa kali sembari menunggu lanjutan dari kata-kata Yoongi.

“Tapi—meskipun ini akan terdengar tega—ada juga bagian dari diriku yang bersyukur.” Yoongi menghela napas, mengedikkan kepala ke arah Jimin. “Bersyukur karena kita bisa bertahan, bersyukur meski ada perubahan yang terjadi. Walau tentu saja, aku masih bersedih atas kepergian Seokjin Hyung dan Taehyung.”

“Sama denganku.”

Hanya itu jawaban Jimin, yang sekarang mengalihkan pandang ke lengannya sendiri. Lengan yang membawa banyak cerita dan luka, yang tak lagi ia sakiti sejak hari Taehyung pergi. Kendati susah, Jimin benar-benar berhenti sepenuhnya—bahkan menjurus takut untuk sekadar menyentuh benda-benda tajam lagi. Ada campuran rasa bersalah serta kengerian yang menggelayut dalam benaknya; sebuah perubahan yang membuatnya melangkah pergi dari rutinitas lama.

Karena sebagai gantinya, Jimin berubah menjadi seperti Yoongi.

Ia mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, ia mulai terobsesi dengan musik yang menjadi tujuan hidupnya. Sang lelaki akhirnya memilih untuk mengabaikan kuliahnya begitu saja, secara mengejutkan berubah menjadi Park Jimin yang berani membantah keinginan orang tuanya. Pertengkaran-pertengkaran kerap terjadi, yang kemudian diikuti oleh rasa frustasi serta emosi. Dan untuk mengatasi semua itu, Jimin terpaksa mencari cara pelarian yang baru. Tidak tidur di malam hari adalah pilihannya, waktu-waktu kelam yang ia habiskan untuk belajar membuat lagu serta merangkai lirik.

“Aku senang, Jimin-a.”

“Hm?”

“Kupikir kau—yah, atau mungkin kita—akan menjadi gila suatu hari nanti.” Yoongi terkekeh pelan, diikuti dengan senyum lega saat ia kembali menatap hasil kerja Jimin di layar. “Setelah semua yang kita lalui, setelah semua kerja keras yang tampaknya tak akan pernah berbuah itu….” Satu kedikan bahu, disusul gelak tawa Jimin yang menggema di dalam studio. “Untung saja itu tidak sia-sia, yeah?”

Yeah.” Jimin mengiakan, mendadak teringat akan satu momen yang terjadi sekitar setahun lalu. Kala itu, ada yang menawari mereka kesempatan untuk menjadi produser dari sebuah lagu. Dan berawal dari sana, segalanya pun berubah. Mereka mendapat tawaran-tawaran lain, juga kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan diri. Layaknya jalan beraspal yang membujur lurus, segalanya berjalan dengan baik bagi mereka.

Hanya saja, tak selamanya jalan beraspal itu bebas dari hambatan, bukan?

Hyung.”

“Ya?”

“Kau tahu—“

“Aku tahu.” Yoongi memotong, mendongak untuk bertemu tatap dengan iris hitam sang kawan yang mendadak diselimuti kesedihan. “Kau memikirkan yang lain lagi, kan?”

“Ya, dan….” Jimin meraih ponselnya, menunjukkan pesan yang terpampang di sana—tanda bahwa ia sengaja membiarkan baris-baris kalimat itu menggantikan wallpaper yang ada. “Hoseok Hyung mengajak bertemu. Sama seperti dulu. Apa kau akan datang?”

“Kau sendiri?”

“Aku—“ Jimin menggigit bibir, tampak ragu. “—aku merindukan mereka, tentu. Namun….”

“Kau takut,” tebak Yoongi, diikuti dengan jungkitan alis yang bermakna aku-bisa-menebakmu-dengan-mudah-Park-Jimin. “Kau takut jika suasana menjadi canggung, kau takut jika mereka—bukan bermaksud sombong—memiliki kehidupan yang tak sebaik kita. Kau takut jika hidup mereka masih sama berantakannya seperti dulu, takut jika dirimu nanti merasa bertanggung jawab atas itu.”

“Bodoh, ya?”

“Dulu, ya,” jawab Yoongi tanpa jeda. “Sekarang? Kurasa itulah yang disebut peduli. Mungkin memang akulah yang menjadi sahabat dan rekan kerjamu selama beberapa tahun belakangan—maksudku secara fisik. Tapi, bukan berarti kau menganggap ikatan persahabatan yang lain putus, bukan? Aku tahu kalau kau tidak begitu, aku tahu kalau kita semua pasti saling merindukan. Dan asal kautahu saja, Jimin….”

Yang disebut menelengkan kepalanya, diikuti oleh rasa lega lantaran Yoongi baru saja mengucap sebaris kalimat yang membuatnya tak lagi merasa seperti orang pengecut.

“Aku pun sama denganmu. Jadi, ayo kita temui mereka bersama-sama, oke?”

.

-o-

.

Menatap ke arah gedung kontrakan Namjoon, Hoseok bisa merasakan nostalgia membanjir masuk.

Rasanya seolah enam tahun belumlah berlalu, seakan ia mampir kemari hanya untuk bercengkerama. Rumah kontrakan itu masihlah sama seperti dulu, terselip di antara sekian banyak bangunan tua, diterangi lampu jalanan yang remang. Jujur saja, Hoseok sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan kembali ke sini. Ke tempat di mana mimpi buruknya dimulai, ketika rasa dingin serta ngeri datang mengguyur tubuhnya. Hoseok pikir ia akan membenci tempat ini; namun anehnya, ia malah dengan senang hati melangkahkan kaki ke kontrakan Namjoon kala Jungkook memintanya untuk mengubah tempat pertemuan.

Jeon Jungkook yang sekarang berdiri di hadapannya, tersenyum lebar layaknya seorang anak yang baru saja mendapat mainan.

“Hoseok Hyung!”

“Hai. Eum—

“Yoongi Hyung dan Jimin Hyung sudah di dalam. Masuk saja!” Jungkook menyambut dengan penuh semangat, menarik lengan Hoseok tanpa ragu. “Aku sudah memesan ayam goreng dan memasak ramyeon, kuharap kau tidak keberatan. Lalu—“

“Bagaimana dengan Namjoon?”

Memotong ocehan Jungkook, Hoseok melepaskan sepatunya seraya mengedarkan pandang ke dalam kontrakan. Interiornya masih serupa seperti dulu, namun tertata lebih rapi dan tak lagi terlalu pekat dengan aroma tembakau. Melangkah masuk perlahan, samar-samar Hoseok dapat mengingat kenangan tak menyenangkan dari masa lampau itu. Masa tatkala mereka berdiri di sini, saling melempar kepanikan dan kecemasan akan kondisi Taehyung.

Hoseok bahkan masih bisa melihat dirinya yang waktu itu berdiri dalam gemetar, menunggu sampai serangan kecemasan datang, dan—

“Aku akan menjelaskan soal Namjoon Hyung nanti.” Suara Jungkook terdengar, menarik Hoseok kembali ke masa kini. Mengerjap, Hoseok menunggu sampai pandangannya terfokus ke arah Jungkook. Lelaki yang lebih muda itu sedang menggaruk tengkuknya, terlihat bingung harus berbuat apa. “Bagaimana… bagaimana kalau kita duduk dulu saja?”

Menyetujui usul tersebut, Hoseok pun menarik napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan dirinya. Tanpa banyak kata mengikuti langkah Jungkook, lantas mendudukkan diri tepat di sebelah Yoongi yang sedang menyesap sekaleng kopi. Keduanya bertukar sapaan singkat, saling menganggukkan kepala sebagai salam, lantas membiarkan hening datang mengisi untuk sementara. Sedikit canggung memang, sampai….

“Jadi… bagaimana kabar kalian? Semua tampaknya baik dan—“

“Oh, ayolah! Aku merinding kalau kau mendadak sopan begini.”

Sarkasme Yoongi itu muncul begitu saja, diikuti dengan kedikan bahu yang dipenuhi lagak sok. Suatu gestur yang amat dirindukan Hoseok, juga mampu membuat kekehan muncul di bibir dua orang lainnya. Tak butuh waktu sampai semenit, keempatnya pun tenggelam dalam gelak tawa. Spontan melesapkan segala kekakuan yang ada, menggantikannya dengan rasa akrab nan hangat yang lebih familiar.

“Kami baik. Masih hobi begadang, masih hobi mengutak-atik lagu.” Jimin akhirnya menjawab, menepuk punggungg Yoongi yang duduk di sampingnya. “Dan seperti yang kalian lihat, kami masih begini-begini saja—”

“Bilang saja kalian masih pendek,” ucap Jungkook tanpa dosa, yang dibalas dengan pelototan tajam dari Yoongi. “Sahabat-sahabatku yang pendek, tapi akhirnya bisa mewujudkan mimpi, bukan? Aku mendengarkan lagu buatan kalian, setiap hari malah.”

Alih-alih marah, Jimin membalas perkataan itu dengan cengiran. Tampak sepenuhnya bahagia, selagi ia berujar, “Kalau kau wanita, aku sudah mengencanimu, Jeon Jungkook.”

“Ya Tuhan, untung saja aku diciptakan sebagai lelaki.”

“Hei!”

Tawa lain kembali pecah, membahana sementara Jimin merengut sebal. Butuh nyaris semenit sampai keriuhan itu reda, digantikan dengan suasana yang lebih tenang sementara Hoseok berkata, “Aku juga baik. Aku berhasil melewati banyak hal….”

Ah.

“Yep.” Hoseok mengangguk, membenarkan Yoongi sebelum lelaki itu sempat berucap panjang lebar. “Aku mungkin memang belum bercerita banyak—kecuali pada Yoongi Hyung—tapi kalian semua tahu intinya, kan? Kebiasaanku untuk selalu mencemaskan segala sesuatu kembali, bahkan bertambah parah semenjak kepergian Taehyung. Tetapi…” Hoseok mengedarkan pandang, berusaha untuk menunjukkan betapa berartinya presensi mereka semua saat ini. “…aku baik-baik saja. Sekarang, aku bisa berkata demikian. Berkat kalian.”

“Kami—“

“Aku memang belum bisa menerima segala yang terjadi, belum sepenuhnya.” Hoseok buru-buru berkata, tersenyum tipis saat ia menambahkan, “Aku juga tahu bahwa semuanya tak akan bisa kembali seperti dulu. Aku tahu, namun di saat yang sama, aku juga tahu kalau kalian pasti akan bergerak maju. Kita akan baik-baik saja, meskipun hal-hal mulai berubah. Dan itulah, di atas segalanya, yang membantuku untuk bertahan. Jadi, terima kasih, guys.

“Terima kasih juga karena kau tidak menyerah.” Yoongi buka suara, entah mengapa tak berminat untuk melontar kata-kata sarkastis lain. “Tahukah kalian betapa leganya aku melihat kalian semua baik-baik saja? Melihat kita bisa kembali berkumpul seperti ini meskipun—“

“Namjoon Hyung memintaku untuk menitipkan salamnya pada kalian,” sela Jungkook, merasa bahwa ini adalah saat yang tepat. “Ia minta maaf karena tidak bisa ikut berkumpul, karena terpaksa berpamitan dengan cara seperti ini. Yang pasti, ia baik-baik saja. Ia tidak lagi merokok sebanyak dulu, ia tak terlalu sering menghambur-hamburkan uang. Malahan, ia mendapat tawaran untuk melanjutkan sekolah di Amerika.”

Mengikuti penjelasan Jungkook, senyap yang tadi sempat terusir kembali datang bertamu. Mengisi tiap inci ruangan sampai-sampai tak ada yang berani menanggapi, hanya disela oleh rangkaian kata yang terlontar dari bibir Jungkook. Lelaki yang menjadi kawan serumah Namjoon selama enam tahun terakhir itu tengah mengisahkan segalanya, membeberkan semua alasan demi secuil pengertian. Toh, memang hanya itulah yang bisa ia lakukan.

Mereka kini sudah dewasa.

Dan layaknya seseorang yang sudah melalui banyak hal, sudah saatnya pula bagi mereka untuk memberikan anggukan tanda mengerti.

“Satu-satunya penyesalanku adalah…” Yoongi menelan ludah, tampak sedikit kesusahan untuk berkata-kata. “…adalah perbedaan pendapat kami waktu itu. Aku menyesal karena tidak bisa memahaminya lebih awal, karena terpaksa membuat banyak hal makin berantakan.”

“Bukan salahmu.” Hoseok angkat suara, menggeleng-gelengkan kepalanya seakan hendak menegaskan sesuatu. “Hyung, kita semua memang berantakan waktu itu. Kita semua memiliki masalah dan pemikiran masing-masing. Tapi….”

“Tapi kita adalah sahabat,” sambung Jimin, menangkap ke mana arah pembicaraan ini. “Kita selalu seperti itu. Lantas, apa artinya jika kita terpisah jarak? Apa? Lagi pula, pada akhirnya, kita semua tetap saling mengerti dan memaafkan, bukan?”

“Sejak kapan kalian semua menjadi dewasa seperti ini, huh?” Yoongi berdecak, terbagi antara kagum dan kesal karena dinasihati oleh mereka yang lebih muda. “Jangan bilang kalau Jungkook juga—“

“Aku sudah lulus kuliah dan akan mengajar anak-anak, tahu,” potong Jungkook, mengejutkan semuanya dengan kabar tak terduga ini. “Well, entah mengapa aku menginginkan itu. Sudah beberapa bulan terakhir ini aku bekerja di penitipan anak, dan aku sering membantu di taman kanak-kanak dekat sini. Rasanya… rasanya menyenangkan, itu saja. Aku senang berada di sekitar mereka, anak-anak yang belum memahami kerasnya dunia dan masih bisa bersikap sesuka hati.”

Jungkook tidak perlu menjelaskan lebih jauh lagi; mereka semua langsung bisa menangkap maksud pemuda itu. Di tengah semua rintangan menuju kedewasaan yang ada, wajar jika seseorang membutuhkan sesuatu yang bisa mengingatkannya akan hal-hal baik. Akan sebagian kecil dunia yang tak ternodai oleh kerusakan, akan tawa serta tangis yang disebabkan oleh perkara sepele.

“Kau membuat pilihan yang tepat, Jungkook-a. Mungkin kapan-kapan kami bisa mampir, kan?”

Satu persetujuan lekas diberikan Jungkook, diikuti acungan jempol dari Jimin yang tadi bertanya. Seolah konversasi-konversasi bernada sendu yang tadi sempat mengisi telah pergi sepenuhnya; digantikan dengan obrolan-obrolan ringan yang tak membebani pikiran, sepanci besar ramyeon, serta sekotak besar ayam goreng. Barulah ketika malam semakin larut, Jungkook akhirnya bangkit berdiri dan melangkah mendekat ke arah handycam yang sudah dihubungkan dengan televisi.

Guys?”

“Ya?”

Mmm, aku tak tahu bagaimana harus memulainya tapi…” Jungkook menunjuk handycam yang ada di atas meja, menarik atensi mereka semua. “…kalian tahu apa artinya ini, kan?”

“Itu—“

“—milik Seokjin Hyung, yeah. Ternyata, selama ini Namjoon Hyung-lah yang membawanya. Ia sudah menonton semua rekamannya, dan—“

“Ayo kita tonton kalau begitu.”

Singkat dan sederhana, perintah Yoongi itu lekas dituruti oleh yang lain. Duduk membentuk setengah lingkaran di hadapan televisi, lalu membiarkan Jungkook untuk menekan tombol play. Keempatnya diam tak bersuara, menanti sampai gemeresak keabuan di layar hilang dan digantikan dengan sosok Seokjin yang kala itu berusia lima belas tahun.

“Tes, tes. Hei, kameranya sudah siap, nih!”

Diikuti tawa Yoongi dan Namjoon, figur Seokjin lantas digantikan oleh dua orang itu. Menampakkan keduanya yang sedang bernyanyi-nyanyi mengikuti sebuah lagu, tak peduli kendati nada yang mereka lontarkan sama sekali tidak sesuai. Tak jauh dari sana, di latar belakang, tampak Jimin, Taehyung, dan Jungkook yang sedang berebut makanan.

Tuh kan, aku tidak dibagi lagi!”

“Kau kan paling tua di antara kami bertiga!”

“Menyebalkan!”

“Oh, lihat, Park Jimin akan menangis!”

Dorongan di pundak Taehyung serta ekspresi cemberut adalah tanggapan yang diberikan Jimin, selagi ia mengentak-entakkan kaki dan berjalan mendekati Yoongi. Mungkin hendak bermaksud merajuk atau minta dibela, namun gagal kala Hoseok tahu-tahu muncul dan malah menyorongkan botol air mineral layaknya mikrofon.

“Akhirnya penyanyi utama kita datang! Park Jimin, Park Jimin!”

“Sebenarnya, kau bisa jadi penyanyi sungguhan kalau mau,” komentar Hoseok, selagi rekaman yang ada menampilkan kolaborasi penampilan Jimin, Namjoon, dan Yoongi. “Serius, aku tidak bercanda.”

“Suaraku memang bagus, Hyung, terima kasih banyak.”

Hoseok terkekeh, mengembalikan pandangnya ke layar tepat saat rekaman pertama berakhir dan berganti dengan rekaman lain. Saat di mana ketujuhnya berlibur ke kebun binatang bersama keluarga Seokjin, sibuk mengisi fokus kamera dengan celotehan tentang hewan-hewan. Semuanya tampak baik-baik saja, sampai sepuluh menit berlalu dan Jungkook tahu-tahu berlari mendekat seraya memasang tampang cemberut.

“Sumpah, bukan kami yang salah!”

Itu adalah seruan milik Taehyung dan Hoseok, yang serentak mengangkat kedua lengan untuk menunjukkan bahwa mereka tak bersalah. Ditimpali oleh decak meremehkan dari Yoongi dan Namjoon, seraya Seokjin menyerahkan handycam-nya ke tangan Jimin. Kawan tertua mereka itu lantas bergerak mendekati Jungkook, baru saja akan bertanya tatkala Jungkook tahu-tahu berujar lantang:

“Hoseok Hyung dan Taehyung Hyung tidak mau kuajak melihat singa!”

“Itu sih karena mereka takut!” seru Jimin.

“Aku tidak takut,” bantah Taehyung, telunjuk diarahkan ke Hoseok. “Hoseok Hyung nih, yang sudah mau menangis!”

Malu, Hoseok di masa kini bergegas menggumamkan permintaan agar mereka beralih menonton rekaman yang lain. Sebuah tingkah yang jelas mengundang ejekan-ejekan baru, tetapi toh tetap dituruti oleh Jungkook yang berada di posisi operator.

“Aku suka rekaman yang ini,” jelas Jungkook, sembari ia memasukkan satu tape ke dalam handycam dan menekan tombol play. “Sedikit jauh jaraknya, memang. Ini waktu ulang tahun Namjoon yang ketujuh belas.”

“Terima kasih sudah datang, teman-teman.”

“Jangan bersikap sok formal begitu,” komentar Yoongi, mengangkat sekaleng minuman yang langsung mereka kenali sebagai bir. “Lagi pula, alasan apa yang kita miliki untuk tidak datang?”

Kamera bergerak mundur—Seokjin memilih untuk melakukan zoom-out pada saat itu agar wajah keenam kawannya terlihat. Menampakkan rupa-rupa yang jauh lebih tua dan lebih lelah; yang sudah mulai digelayuti oleh beban bernama sekolah dan tuntutan akademis. Kalau mereka tak salah ingat, kejadian dalam rekaman ini adalah sesuatu yang terjadi tepat beberapa bulan sebelum ayah Taehyung kehilangan pekerjaannya.

Salah satu momen terakhir sebelum segalanya mulai hancur.

“Yah, kupikir kau akan sibuk dengan tugas sekolahmu.”

“Sekolah, ha? Bullshit,” balas Yoongi cepat, memutar bola matanya dengan lagak menyebalkan. “Asal kautahu saja, aku tidak begitu peduli dengan semua itu. Aku tidak pintar sepertimu, Kim Namjoon.”

“Memang, apa gunanya menjadi pintar?” Namjoon membalas sambil menatap lilin-lilin berwarna merah yang mulai leleh. “Aku tak melihat apa gunanya.”

“Jadi….” Taehyung yang duduk tak jauh dari Namjoon menelengkan kepala, bertanya dengan nada sungguh-sungguh. “Yang berguna itu apa?”

“Kalian semua,” bisik Jimin, nyaris bersamaan dengan jawaban Namjoon di dalam rekaman itu.

“Kalian semua, atau tepatnya, hanya kalian sajalah yang aku pedulikan.”

“Namjoon Hyung….

“Sudah ah sok melankolisnya! Ayo kita makan saja!”

Kala itu, Namjoon memang tak memberikan kesempatan bagi mereka untuk larut dalam konversasi yang terlampau serius. Yang ada hanyalah canda tawa, obrolan yang mengasyikkan, selagi ketujuhnya mengunyah makanan cepat saji yang tersedia. Begitulah cara mereka merayakan pesta ulang tahun Namjoon yang ketujuh belas, sekuat tenaga berusaha untuk menolak serta menyembunyikan perasaan bahwa segala sesuatunya akan segera berubah.

“Kita tak akan pernah bisa merasakan yang semacam itu lagi.” Yoongi sekonyong-konyong berujar di akhir rekaman, menunggu Jungkook untuk memasukkan tape yang lain. “Dan ya, aku setuju dengan Jungkook. Aku menyukai yang satu ini.”

Jimin dan Hoseok hanya mengangguk setuju, tidak sempat berkomentar karena suara riuh lain sudah terdengar dari speaker. Menoleh, keempat pasang manik tersebut lantas bertemu dengan hamparan rumput hijau yang terbentang di pinggir jembatan beton. Itu adalah tempat favorit mereka untuk berkumpul dan bermain semenjak dulu, tempat di mana ketujuhnya merencanakan berbagai keonaran. Namun, yang tampak di video rekaman itu adalah sebaliknya.

Alih-alih ribut, hanya ekspresi lelah dan sedikit mengantuk sajalah yang mereka tampakkan. Dengan malas memandang ke arah handycam Seokjin, sementara si pemilik yang berlakon sebagai juru kamera bertanya, “Ayolah, kalian sama sekali tidak mau bersenang-senang?”

“Kami lelah, Hyung.

“Hidup ini melelahkan, tahu.”

“Kenapa juga kita harus hidup, sih? Aku bahkan tak tahu tujuannya.”

“Hidup untuk mati, mungkin?”

Jawaban-jawaban segera terlontar, nyaris bersahutan. Semuanya bernada keluhan, semuanya menyatakan bahwa mereka tidak sedang dalam mood untuk bermain-main. Kalau diingat-ingat, saat itu memang saat yang berat bagi mereka. Masalah-masalah pelik mulai bermunculan, sampai satu-satunya pelarian yang ada—untuk saling bertemu dan berbagi cerita—tak lagi terasa melegakan.

“Aku sedang tak ingin melakukan apa-apa hari ini.”

Bernada sendu, kalimat terakhir tersebut adalah milik Taehyung. Setelahnya, tak ada lagi yang berbicara. Ketujuhnya terdiam, selagi Seokjin beralih menggerakkan handycam-nya untuk merekam langit senja, burung-burung yang beterbangan, serta air sungai yang mengalir tenang. Seakan dengan berbuat begitu, teman-temannya pun dapat melupakan segala masalah yang ada. Menenggelamkan diri pada sekelumit keindahan yang tersisa, pada alam yang berusaha menghadirkan penghiburan dengan caranya sendiri.

Lalu, rekaman berganti secara tiba-tiba.

Kontras dengan sebelumnya, rekaman kejadian yang terpampang di layar televisi adalah rekaman ketika mereka mulai berbuat onar. Malam itu, ketujuhnya memilih untuk bertandang ke peron kereta api yang sudah tua dan jarang dijamah. Menginap di sana layaknya petualang yang tersesat, dengan bangga menyatakan bahwa merekalah pemilik peron itu mulai saat ini.

“Lakukan dengan baik, Kook! Ini tempat tinggal kita sekarang!”

Hell no, di sini dingin sekali!”

Taehyung dan Jungkook—yang sedang membuat graffiti di dinding—hanya mendengus mendengar protes Yoongi. Abaikan sang lelaki yang sibuk membuat api dengan memanfaatkan kaleng drum bekas, sementara ketiga orang lainnya, minus Namjoon yang saat itu menjadi juru kamera, terkekeh puas.

“Yoongi benar, kita harus mencari tempat yang lebih hangat.”

“Selama kita bersama, rasanya akan hangat, kan?”

Seokjin hanya mengernyit mendengar balasan Hoseok yang terkesan penuh rayuan tersebut, sampai suara Yoongi—yang sudah sukses menyulut api—terdengar lantang:

“Kalau kau bukan temanku, aku pasti sudah membuangmu jauh-jauh, Jung Hoseok!”

“Sialan!”

“Harus kuakui, perdebatan itu bodoh tapi menghibur,” sela Jimin, memotong keasyikan mereka yang tengah menonton. “Cukup untuk membuatku lupa akan masalahku.”

Tiga orang lainnya serentak mengulum senyum tipis, tahu persis apa maksud Jimin barusan. Pertemuan mereka di peron kereta api itu memang dipicu dari keributan di rumah keluarga Park, saat ketika Jimin akhirnya memilih untuk kabur dan tinggal bersama Yoongi. Tak ayal, keenam orang lainnya pun berusaha menghibur dengan cara menyatakan bahwa mereka akan mencari tempat tinggal baru.

Komentar Jimin tadi menandai berakhirnya rekaman, digantikan oleh layar hitam seraya Jungkook bergerak memasukkan tape lain. Menunggu selama beberapa sekon lagi, sampai pemandangan langit biru serta pepohonan yang rimbun tampak menghiasi.

“Liburan terakhir kita,” ucap Jungkook, tepat saat ketujuhnya muncul di layar sembari melambaikan tangan. Mobil pick-up milik Seokjin sempat berhenti di pinggir jalan antarwilayah saat itu, memberi kesempatan bagi mereka untuk berpetualang ke dalam hutan yang ada di sekitar sana. Bukan hutan sungguhan tentu; hanya pohon-pohon yang tumbuh berdempetan hingga menutupi jalur rel kereta api tua. Tempat itu jelas terlantar dan ditinggalkan, tak akan menarik minat pengendara lainnya. Namun, bagi mereka, tempat itu meninggalkan kesan mendalam.

Seraya berlarian dan saling dorong, ketujuhnya membuat candaan tentang bagaimana hutan kecil yang terasing itu lebih terasa seperti rumah. Mereka menghabiskan hampir tiga jam di sana, sibuk memainkan hal-hal konyol seperti saling tusuk dengan dahan pohon, hingga sekadar melempar kerikil-kerikil kecil untuk melihat siapa yang bisa menempuh jarak terjauh.

“Ternyata kita semua pernah sekonyol itu,” ucap Jimin, terbahak ketika ia melihat dirinya melonjak girang setelah berhasil mengalahkan Namjoon. “Bagaimana kalau kita melakukannya lagi?”

Gelengan dan decakan lekas diberikan yang lain, kendati jelas bahwa respon itu tak sepenuhnya serius. Lagi pula, jauh di dalam sana, mereka semua merindukan masa-masa itu.

Adegan pun bergeser lagi, kali ini menunjukkan jalan yang membentang menuju pantai. Yoongi-lah yang memegang handycam saat itu, merekam semua toko-toko kecil serta minimarket yang ada di tepi jalan. Kendati demikian, hampir sembilan puluh persen isi dari adegan itu adalah kegelapan, lantaran daerah yang mereka lewati bukanlah suatu permukiman padat penduduk. Hanya kekosonganlah yang ada, kosong seperti isi pikiran mereka pada malam itu.

“Berikutnya….”

“Berikutnya adalah saat kita di pantai. Pagi hari saat kita bersenang-senang, dan….” Jungkook menggigit bibir, tak jadi menuntaskan jawaban yang akan ia berikan pada Hoseok. Ia tak bisa, atau mungkin, ia memang tak perlu mengatakannya.

Segala kesenangan yang mereka lalui dari pagi hingga sore lewat begitu saja di depan mata, pun dengan saat ketika mereka pergi ke pom bensin dan minimarket untuk mencari makanan. Tak ada yang berani angkat bicara, tak ada yang berniat untuk menertawakan kebodohan-kebodohan yang ada. Keempatnya bungkam, dan masih terus mengatupkan bibir sampai layar kembali menggelap.

Akhir dari rekaman.

Atau setidaknya, itulah yang Jungkook ketahui sampai sebuah suara terdengar.

Ah, sial, bintangnya sama sekali tak terlihat.”

“Taehyung.” Jungkook otomatis bergumam, melempar pandang bingung ke arah handycam yang masih tersambung pada televisi. “Tapi, kukira rekaman ini sudah berakhir. Aku sama sekali tak tahu ada bagian ini ketika menontonnya tadi.”

“Ia tak benar-benar merekam sesuatu,” timpal Yoongi, menunjuk ke arah layar yang kembali gelap. Jelas sudah bahwa mendiang kawan mereka itu gagal dalam menangkap panorama langit malam, tetapi tetap membiarkan handycam Seokjin dalam mode merekam. Secara tak langsung mengizinkan suaranya untuk tetap terdengar, mengiringi layar yang sepenuhnya gulita.

“Padahal ada bintang jatuh, dan kalian semua malah tertidur.” Jeda sejenak, yang diisi kekeh serta decak ringan dari bibir Taehyung. “Aku jadi ingin tahu….”

Hening lagi selama beberapa puluh detik, hening yang entah mengapa terasa mencekam. Hoseok dan Jimin bahkan sampai ikut menahan napas, membiarkan manik-manik mereka dilapisi air, tepat ketika…

“…kalau aku terjatuh seperti bintang itu, akankah kalian memaafkanku?”

“Kim Taehyung….”

“Kalian tak akan memaafkanku, bukan? Tetapi, terkadang seseorang perlu mengambil peran sebagai bintang jatuh agar harapan yang lain dapat terkabul.”

“Apa maksud—“

“Aku rela menjadi bintang jatuh, karena dengan begitu aku tidak akan merepotkan lagi, kan? Tidak dengan segala kerusakan yang aku perbuat, tidak dengan semua kekacauan yang ada dalam diriku.” Terdengar tarikan napas tajam, debur ombak membentur karang yang sedikit menenggelamkan suara Taehyung. “…kalian semua berhak atas kehidupan yang lebih baik, tahu. Kalian dan semua mimpi kalian yang begitu cerah.”

Fokus dari kamera tiba-tiba beralih, menampakkan postur karang yang kokoh di kejauhan serta rembulan yang bulat namun pucat.

“Jadi, biarkan aku mengawasi kalian dari atas sana saja, ya? Terima kasih untuk segalanya, guys.

.

.

.

Diam.

Hening.

Senyap.

Dan setetes air pun turun di tiap lengkung pipi yang ada.

“Kurasa….” Hoseok berusaha membuka pembicaraan lagi, tetapi buru-buru bungkam kala ia menyadari fakta yang tengah tergantung di depan mereka semua. Bahwa mereka sama sekali tak perlu menyatakannya dengan kata-kata, bahwa kali ini tak akan ada kesalahpahaman yang lain lagi. Karena, bersamaan dengan berjalannya waktu serta berakhirnya rekaman tadi, hanya ada satu konklusi yang terbentuk di benak mereka semua.

Mereka toh memang sahabat. Mereka memang ada untuk saling mewarnai hidup, untuk belajar dari satu sama lain, untuk tumbuh dewasa bersama, dan untuk senantiasa saling mengingat layaknya keluarga.

Mereka baik-baik saja.

Hal-hal buruk sudah terjadi, tengah terjadi, dan bisa terjadi lagi di masa depan. Tak akan ada yang tahu, tak akan ada yang bisa mempersiapkan diri. Namun, di atas segala ketidakpastian, kekacauan, serta kecemasan yang ada, mereka hanya butuh satu hal. Satu pegangan, satu pengingat bahwa mereka tidak akan pernah sendiri.

Mereka baik-baik saja….

…dan mereka pasti akan tetap baik-baik saja.

.

.

.

Karena di atas sana,

jauh di langit malam yang kelam,

tujuh kerlip bintang sedang bersinar terang tanpa keraguan.

.

.

.

After all, our life is just a little bit messed up, right?

.

fin.

hi, there!

It’s been months since the fifth chapter, and I’m very sorry for the delay. Right now, I’m still in the middle of my social community service. Not really much time to write, so yeah… glad to know that I’m still be able to finish this one.

The epilogue, honestly, really took a lot of strength to write. I just want to pour myself, both physically and mentally, into this chapter. Into every single word that I type, every scene, every character, every dialogue. Their journey into adulthood might be finished now, their youth might be already left behind. But remember, and please do believe, that youth has no age.

Also, aside from the epilogue, I have some important news.

This epilogue not only mark the end of their journey. There is no easy way to say this, so let me put it out bluntly.

This epilogue will be my last fiction in this blog.

I know that I need to give some explanations, but the only explanations that I have is something that I can’t say here. There are—honestly—a lot of personal problems that I need to face right now, and I have made this decision since few months ago. The thing is, I still want to post this epilogue before I officially resigned.

Also, I’m not stop writing. I still write, and you can find me in another place (well, if you want to).

And that’s all. I have no other words except thank you and I love you—both for IFK and for all of my readers here. 

Last but not least, I hope you can enjoy this epilogue. Thanks for reading, thanks for supporting me all these times.

sincerely,

tsukiyamarisa

3 thoughts on “[6 of 6] Messed Up”

  1. AMER!!!! semoga kamu masih inget aku ;;
    ya ampun honestly aku belum baca fictmu secara utuh, cuman part ini aja tapi udah komen aja~ bacanya note di bawah duluan :’D
    giliran aku balik komen komen eh ini last post kamu aja :((

    good luck with your personal things!
    hope I can read your writing someday somewhere hehhehe~

    anyway meskipun aku cuman baca epilognya, entah kenapa penuh pesan berarti. pesan hidup~ (?) hehhehe.

    hidup makin lama emang makin rumit. jadi ya masa masa hidup belum rumit emang selalu menyenangkan dan membekas di memori. ya mirip mirip sama ringkasan chapt ini lah ya. kalau ga mirip, dimiripin aja lah ya huhuhu

    good luck Amer!
    see ya~~~~~~

    Suka

  2. KEREN PARAH AKU NGIKUTIN DARI PERTAMA DAN MENANTI NANTI INI DAN AKHIRNYA KELUAR JUGA AAARGHHHHH #CAPSjebol😄
    Kak keren parah, nanti buat lagi ya kak FF lainnya. semangat terus buat bikin FFnya terus berkarya kak .. FIGHTING!!!! 😍😍😍😍😍

    Suka

  3. Hallo there!
    Barangkali kita memang belum saling kenal, tp aku merasa kenal melalui tulisanmu🙂
    Aku udah baca ff ini dari awal dan maaf baru ninggalin jejak di epilogue, soalnya aku baca ngebut seharian ini. Dan rasanya agak susah buat ninggalin jejak di tiap chapter jadi aku ringkas sekalian disini.

    First of all, aku suka cerita kamu (suka banget). Sebenernya susah juga mau bilang apa sebab menurutku aku tidak dalam koridor yg tepat utk berkata macam2, jadi ijinkanku mengutarakan isi kepalaku saja.
    Jujur aku belum pernah nonton mv run (aku tahu bts dan hafal membernya, jg ngikutin beberapa variety show mereka), tapi aku pernah baca review mv mereka di sebuah blog. Aku paham setiap orang punya interpretasi yg berbeda pada sebuah hal dan aku terkejut kamu menginterpretasikan mv tersebut dg sebegini indahnya.
    Aku senang kamu mampu menghidupkan setiap karakter dalam ceritamu serta membiarkan mereka mengambil keputusan mereka sendiri, dan jarang author yg bisa melakukan ini (bahkan aku pun kesulitan melakukannya).
    Walaupun ada beberapa typo dan beberapa kata yg menurutku kurang tepat, tp aku yakin seiring berjalannya waktu kamu akan semakin baik sebab jelas kamu punya bakat.
    Selain itu aku suka ff ini sebab begitu banyak makna kehidupan yg dapat diambil dari sini (semacam tersenyum sambil mengangguk trus nggumam, “that’s the real life” tiap kali ada kalimat yg ‘mengena’).
    Semoga aku dapat membaca tulisan kamu di lain tempat dan di lain kesempatan.

    Sorry, komennya terlalu panjang (fyi, it’s the longest comment I’ve ever made) untuk ukuran orang yg belum saling mengenal. Tp aku sangat ingin memberikan apresiasi pada sebuah karya.
    Terus berkarya ya🙂

    Ps: sebenarnya ada lebih banyak hal yg ingin aku sampaikan, hahaa. Tapi yaudahlah segini udah mewakili semua.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s