Pepromeno Chap.1

Pepromeno

Title: Pepromeno

Scriptwriter: popowiii

Main Cast: Mark Lee (Lee Minhyung) NCT as Mark Choi

Support Cast: Choi Minho SHINee, Irene Red Velvet, Mina TWICE, Krystal f(x), Jaemin NCT, Donghyuk NCT, Jaehyun NCT, Ten NCT, Doyoung NCT.

Genre: Greek, angst, family, friendship.

Duration: Chaptered.

Rating: PG

Summary: Bayangkan jika dalam hidup kalian saat ini, kalian bertemu dengan tiga wanita yang mengaku diri mereka sebagai Moirai, dewi takdir. Seorang pemuda bernama Mark yang bertemu dengan Moirai diharuskan untuk memilih antara kehidupan atau kematian. Menurut kalian, keputusan apa yang akan ia pilih?

Pada dongeng Yunani kuno, kelahiran dilambangkan dengan benang yang melilit erat pada sebuah tongkat, kehidupan dilambangkan dengan seutas benang takdir yang dipintal dan kematian dilambangkan sebuah gunting kebencian yang akan memotong benang-benang takdir tersebut. Apabila benang kehidupan itu sudah dipotong oleh gunting kebencian, maka tak ada lagi yang bisa diubah. Segalanya akan berakhir.

Pemintalan takdir ini dijaga oleh 3 dewi bersaudara yang biasa disebut dengan Moirai (dalam mitologi Yunani adalah 3 dewi takdir). Pada kasus tertentu, kasus langka yang sangat jarang terjadi, yaitu kasus ‘gagal potong benang’ dimana gunting kebencian  tidak dapat memotong benang-benang takdir manusia.

Saat ini, di era millennium kedua ini. Ketiga Moirai harus dihadapkan dengan kasus ‘gagal potong benang’ yang terbilang menjengkelkan itu. Kejadian gagal potong benang itu disebabkan karena berbagai hal yang tak pasti dan berbeda-beda pada tiap orang. Kenapa? Tentu saja karena takdir tiap orang itu berbeda-beda.

Mau tak mau Moirai harus turun ke bumi dan meluruskan segalanya, sehingga takdir dapat berjalan sebagai mana mestinya. Namun tidak mungkin jika ketiga Moirai utama harus turun tangan menyelesaikan masalah ‘gagal potong benang’ itu. Jika iya, siapa yang akan mengatur takdir-takdir lain? Maka dari itu, untuk meluruskan urusan tersebut, mereka merelakan sisa-sisa sari pati tubuh mereka yang sudah renta termakan usia untuk membuat representasi yang tentunya bisa menggantikan mereka dalam menjalankan tugas tersebut.

Pepromeno - Klotho - Irene RV

Klotho. Sang pemintal yang menyediakan takdir bagi setiap orang. Dengan tongkat yang ia bawa, benang-benang takdir itu ditakar dan disimpan menjadi bulatan bola benang merah di pangkal tongkat kayunya. Dengan sari pati dirinya, ia ciptakan seorang wanita anggun dengan rambut pirang layaknya benang-benang emas. Bibir merah dan mata yang indah. Paras keibuan yang kental mengalir pada tiap air mukanya. Wanita itu ia beri nama, Irene.

Pepromeno - Lakhesis - Mina TWICE

Lakhesis. Sang penenun, dengan benang-benang yang telah disediakan oleh Klotho, Lakhesis menenunnya hingga terciptalah suatu rajutan utuh yang menggambarkan takdir kehidupan manusia. Lakhesis membentuk sari pati dirinya menjadi seorang wanita dengan rambut gelap tak ubahnya langit malam, manik mata tajam dan bibir merah darah. Paras anggun khas wanita Asia mengalun pada wajah wanita itu. Wanita itu bernama, Mina.

Pepromeno - Atropos - Krystal f(x)

Yang terakhir, Atropos. Sang pemotong, tugasnya adalah memotong benang takdir jika sudah tiba waktunya. Dengan gunting kebencian yang selalu ada bersamanya, ia menghentikan alunan  takdir dari Lakhesis yang sedang dianyam oleh Klotho. Wanita yang ia buat memiliki rambut berwarna merah gelap, dengan guratan kebencian di tiap tatapan matanya. Bibir tipis yang sedikit pucat merepreprentasikan tajam dan bengisnya gunting kebencian. Wanita itu bernama Krystal.

Takdir dari tiga orang belum terselesaikan, meskipun dua diantaranya sudah meninggalkan dunia yang fana.

♦‡♦‡♦

Presensi tiga orang wanita dengan gaun hitam kelam yang menjuntai hingga menyapu jalanan kota Seoul menjadi pusat perhatian. Di siang hari yang cukup panas ini, bisa-bisanya mereka mengenakan kostum aneh berwarna gelap yang tentunya akan menambah rasa panas menyengat dari matahari yang akan menyapa kulit mereka. Anehnya, hawa dingin seketika menyelimuti lingukungan sekitar yang dilalui ketiga wanita itu. Mereka tidak mengindahkan pandangan aneh orang-orang disekitar mereka dan beberapa orang yang menatap sinis kepada mereka merasakan dingin yang menusuk karena hawa dingin yang ketiga wanita itu bawakan. Dan ketiga wanita itu tak lain adalah representasi Moirai, dewi takdir dari deretan dewa dan dewi Yunani Kuno.

Pandangan mereka terfokus pada seorang pemuda yang sedang menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan saat yang tepat dan aman untuk menyebrang di jalanan kota yang padat. Dengan menuntun sepedanya, pemuda itu segera melangkahkan kakinya cepat menuju sisi jalan yang lain. Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju salah satu cafe yang ada di sisi jalan.

Setelah menjadikan diri mereka tak kasat mata, ketiga wanita itu mengikuti kemana pun pemuda itu pergi. Dari mulai memesan kopi hitam sampai akhirnya naik ke atap cafe, pemandangan hiruk-pikuk kota di siang hari dapat terlihat dengan jelas. Moirai menamatkan presensi pemuda tampan itu dari kejauhan.

“Tak salah lagi, dia orangnya!” ujar salah satu dari ketiga Moirai yang memiliki paras wajah Asia Timur yang kental bernama Mina. Ketiga saudaranya menjawab dengan anggukan kepala yang mantap.

“Benang merah darah yang berkilauan di kelingkingnya itu… Tidak salah lagi!” timpal Irene, Ketua dari ketiga Moirai.

“Takdir dari tiga orang belum selesai, meski dua diantaranya sudah meninggal,” lanjut Krystal, tak mau kalah dengan kedua saudaranya. Suara peraduan dua bilang sisi gunting yang tajam, berbaur dengan keramaian kota siang itu.

Pemuda yang sedari tadi menjadi pusat perhatian dari ketiga dewi itu pun masih menikmati tiap tetes kopi yang mengalir dan membasahi kerongkongannya. Sesekali dia menggerakkan jarinya lincah di layar ponsel yang ada di genggamannya. Jarinya mengetik beberapa kata lalu kembali meng-slide layar ponselnya. Sampai akhirnya, kegiatan itu terhenti setelah ia mengintip susunan angka yang tertera pada jam tangan digitalnya. Segera dia mengemasi barang-barangnya dan beranjak dari tempat itu. Dia berpapasan dengan Moirai, namun pemuda itu tidak menyadarinya.

Pepromeno - Mark NCT

Choi Mark, atau Choi Minhyung adalah seseorang pemuda tampan yang membuat ketiga Moirai pusat harus merelakan sari pati dari tubuh mereka yang sudah tua termakan usia yang sudah ribuan tahun angkanya untuk membuat sesosok representasi yang dapat menyelesaikan kasus “gagal potong benang” di bumi. Mengurusi takdir semua orang di dunia memang menyita banyak waktu.

Pemuda bernama Mark itu segera mengayuh pedal sepedanya, memangkas jarak antara cafe yang baru saja ia datangi dengan rumahnya yang menjadi tujuannya saat ini. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk bisa sampai di kediaman keluarga Choi, atau sebut saja rumah Mark. Pemuda tinggi semampai itu memarkirkan sepedanya dan melangkahkan kaki menuju pintu utama. Menekan tombol bel lalu menjadikan dinding sebagai sandarannya. Mengehela nafas panjang memejamkan matanya beberapa saat hingga suara pintu yang terbuka memasuki telinganya dan merangsang saraf-saraf fonoreseptor yang ada di telinganya.

“Akhirnya pulang juga,” sapaan hangat itu menyapa Mark lembut. Senyuman manis yang terlukis di wajah pemuda dihadapan Mark saat ini, rasanya mampu menghilangkan rasa lelah yang mendera Mark seharian penuh ini. Mark melemparkan kurva terbaiknya pada pemuda yang lebih tinggi dan lebih tua beberapa tahun darinya itu.

“Beli kopi dulu, Hyung,” jawab Mark singkat dan apa adanya. Dibalas pandangan tak percaya dari seserorang yang dia sebut “hyung” itu.

Pepromeno - Minho SHINee

“Buat Minho Hyung mana? Dasar penghianat, lihat, nih wajah tampanku merah-merah terkena letupan minyak saat menggoreng ayam goreng kesukaanmu,” keluh Minho manja pada adik bungsu semata wayangnya itu.

“Aku terburu-buru setelah tahu bahwa, Hyung pulang awal tadi. Sudah ku peringatkan untuk hati-hatikan,” Mark tidak dapat menyembunyikan air muka khawatirnya. Ditatapnya lekat titik-titik merah yang menghiasi wajah tampan kakaknya. Tak ingin berlama-lama melihat Mark dengan ekspresi khawatir pada Sang Kakak. Minho segera menarik majahnya menjauh dari Mark.

“Sudahlah, nanti aku obati. Cepat mandi lalu makan malam, oke?” Minho mengulum senyumannya setelah mengatakan itu. Mark mengangguk mengerti. Segeralah ia melepas tas ranselnya, beberapa detik berikutnya, tas itu sudah berganti posisi dari bahu lebarnya ke sofa ruang tamu.

Rambut Mark yang masih basah menempel di kening dan lehernya, menambah kesan maskulin pada pemuda kelas XI sekolah menengah atas itu. Wajah tampan tubuh tinggi semampainya yang atletis memang menjadi nilai plus dalam penampilannya, disamping ia juga memiliki otak yang cerdas. Sangat mirip dengan Minho, Choi Minho, kakaknya. Mereka berdua adalah presensi manusia yang cukup sempurna adanya.

Mark berebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Sesekali ia memejamkan matanya, lalu membuka lagi pada beberapa detik berikutnya. Begitu seterusnya hingga manik matanya menatap figura foto keluarga—Ayah, Ibu, Minho dan dirinya—yang berada di meja samping tempat tidurnya. Seketika dadanya terasa sesak, unsur oksigen di udara rasanya tak mampu ia hirup. Di raihnya figura foto tersebut lalu dipeluknya.

“Maafkan aku, Yah,” lirihnya.

Kedua hazel Mark kembali terpejam. Raga dan jiwanya memang berada di sana, namun memori dan perasaannya berlari kembali ke hari itu. Hari terakhir dia melihat Sang Ayah dan Ibu. Dia tak pernah tahu jika hari itu adalah hari terakhir baginya, jika dia tahu mengenai hal itu sejak wal. Maka Mark bersumpah dengan seluruh jiwa dan raganya bahwa dia akan melakoni apapun yang Ayahnya minta.

“MARK CHOI! Sejak kapan kau menjadi anak yang sulit diatur seperti ini?” bentakan yang keluar dari kedua bilah bibir Ayahnya masih saja terngiang di kepalanya. Pelukannya pada figura foto itu semakin erat.

“AYAH, PLEASE!!! Aku ingin menjadi penulis bukan dokter anak dan aku baru tinggal di Korea bahkan tak lebih dari dua tahun. Ayah menyuruhku untuk sekolah di luar negeri lagi?” Mark masih ingat dengan jelas apa yang ia katakan pada Ayahnya pada saat itu. Ia hafal pasti dengan apa yang ia katakan saat itu.

“Tapi ini London, Nak… bukan Kanada, Ayah sudah memikirkan yang terbaik untukmu,” suara lembut Ibunya pun tak mau kalah. Saat itu, Sang Ibu tengah menahan air matanya melihat suami dan anaknya beradu argumen di pagi hari, Minho berada dibelakang tubuh wanita paruh baya itu dan meletakkan tangannya dibahu Sang Ibu dengan air muka yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Memori itu turut berlarian memenui kepala Mark. Pelupuk mata pemuda kelahiran ’99 itu memanas, sesak yang ia rasakan semakin menjadi-jadi.

“Minho Hyung tidak usah ikut-ikutan ceramah! MARK MUAK! Kalian ini kenapa, sih?” saat itu Mark berdiri dan menggebrak meja makan yang ada di depannya. Mark naik pitam. Dengan tatapan mata yang berapi-api ia meninggalkan ruang makan. Tanpa sengaja lambaian tangannya mengenai kaca mata Ayah yang berada di atas meja makan. Mark hanya menatap sekilas kaca mata Sang Ayah yang bingkai dan lensanya sudah menjadi dua bagian itu di lantai. Ia memalingkan padangannya dan berjalan menuju kamarnya. Mark masih ingat dengan jelas derap langkah Minho yang mengekor dirinya dari belakang.

Pelupuk matanya sudah mendidih rasanya, tidak bisa ia menahan semua rasa sakit akan memori itu. Air matanya mengalir membasahi beberapa helai rambutnya yang sudah hampir mengering. Memori itu masih terus berlarian, hingga suara ketukan pintu terdengar di telinganya.

“Lama banget, sih! Ayo, makan,” suara bass khas Minho dari balik pintu.

Mark bangkit dari tidurnya. Mengembalikan figura yang tadi ia peluk ketempat yang semula. Mengatur nafasnya dan mengesut air matanya sebelum air mata itu menganak sungai.

“Minhyung?” Minho membuka pintu kamar adiknya. “Kau kenapa, hey!” Sang Kakak kebingungan melihat wajah adiknya yang tampak kelam dan kedua matanya yang sembab. Minho melirik ke arah figura foto yang posisinya berbeda dari posisi semula, dihelanya nafas panjang-panjang. Mark masih bungkam dan menatap Minho dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Hyung, semua salahku kan? Mereka meninggalkanmu. Semua karena Mark, iya?” suara Mark memecah keheningan. Buku-buku jari Minho memutih. Didongakkannya kepala pria 24 tahun itu, mencegah butiran-butiran air itu mengalir di pipi tirusnya. Ia raih pundak Mark dan mengguncangnya perlahan.

What do you mean, Buddy? Hey! Come to your senses, kau ini kenapa?” tatapan mata Mark kosong menatap kaos hitam polos yang dikenakan Minho. Minho masih terus menepuk pundak Sang Adik.

“Jika hari itu aku tidak—“

“Jika hari itu kau menuru,t maka kacamata milik ayah tidak aka jatuh dan Ayah bisa berkendara dengan baik karena mata tuanya ditolong oleh kacamata sialan itu. Jika begitu Ayah dan Ibu bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat, IYA?” geram Minho. Mark mengangguk lemah. “Itukan yang kamu mau! Kita tak tau apa yang akan terjadi saat itu. Kita tidak bisa mendasarkan takdir dengan kata-kata pengandaian.”

“Tapi…” Mark masih tak mau kalah. Dia terus saja menyalahkan dirinya. Sudah jelas bahwa pecahnya kacamata itu murni ketidak sengajaan dan penyebab meninggalnya kedua orang tua Mark adalah kecelakaan. Tidak ada yang menjelaskan bahwa kecelakaan itu disebabkan karena Sang Ayah tidak mengenakan kacamata kan?

“Bisa kau hentikan semua ini? Minhyung-ah hati Hyung sakit,” Minho melepaskan cengkramannya dari pundak adiknya dan pergi menjauh keluar dari kamar Mark. Mark hanya menatap Minho dengan tatapan pilunya.

Minho melangkahkan kakinya kasar menuju dapur. Digenggamnya tepian wastafel yang ada di sana. Ia mengatur detak jantung dan deru nafasnya. Menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memejamkan matanya. Genggaman tangannya semakin erat, bahunya bergucang dan samar-samar terdengar suara isakan dari pria itu bersamaan dengan mengalirnya air mata dari sudut mata indahnya. Ia menggigit bibir bawanya guna menyamarkan suara isak tangisnya.

“Hyung,” Minho mengelap air matanya lalu membasuh mukanya dengan air, setelah ia mendengar panggilan dari Mark. “Are you ok?” lanjut Mark.

Minho membalikkan badanya dan tersenyum ke arah Mark. Ia mendekati adiknya dan mendekap tubuh yang beberapa centi lebih pendek darinya itu.

“Hmm, I’m ok,” jawabnya singkat sesaat setelah berhasil ia memeluk tubuh kurus Mark.

“Hyung, aku lapar. Ayo, makan.”

Minho melepaskan pelukannya tanpa memisahkan tangannya dengan pundak Sang Adik. Minho menganggukkan kepala tanda setuju, tersenyum simpul lalu berjalan menuju ruang makan dan menyiapkan makanan yang sudah matang beberapa menit lalu. Mark membalas senyuman dari Minho dan berjalan mengekor Minho menuju ruang makan.

♦‡♦‡♦

Masih di lokasi yang sama dengan dua saudara tadi, namun pada tempat yang berbeda. Beraaskan atap dan beratapkan langit malam yang kelam. Tampak ketiga Moirai sedang duduk di sana. Dinginnya angin malam tidak dapat mengusik mereka sama sekali.

Suara ketukan tongkat Irene yang beradu dengan atap mengalun monoton memecah sunyi. Senandung kecil yang keluar dari bibir Mina mengiringi ketukan tongkat Irene. Krystal tak ingin kalah, ia menyumbangkan suara bilah gunting yang memotong kesunyian, seirama dengan ketukan dan senandung dari saudara-saudaranya.

“Bagaimana cara kita meyakinkan pemuda itu?” Mina berhenti bersenandung, lantas menatap Irene lekat dan mengharap jawaban dari wanita itu.

“Kita tunggu saja waktu yang tepat,” jawaban Irene dirasa cukup memuskan bagi Mina. Sehingga senandung merdu terdengar lagi di tengah malam itu.

Mark masih belum menyadari bahwa malam itu adalah awal dimana dia akan dihadapkan oleh dua pilihan yang mengharuskannya memilih antara kematian dan kehidupan.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s