[Vignette] Trap for/from Twins

Trap for SLASH from Twins

Title: Traps for/from Twins

Scriptwriter: Audyhan

Cast:

  • Woozi / Jihoon (Seventeen)
  • Suga / Yoongi (BTS)
  • Minha Park (OC)
  • Seventeen
  • BTS

Genre: Brother-ship, Friend-ship, Slight! Comedy and Romance

Duration: Vignette (2.571 words)

Rating: T-15

Summary: “Aku akan pergi dengan Jihoon. Sekedar untuk refreshing. Mungkin satu bulan?”

oOo

“Menyebalkan, bukan?”

“Wajahnya innocent, tapi ugh– “

“Sama seperti adiknya.”

“Rasanya perlu diberi pelajaran.”

“Ide buruk, jika ditinjau dari dampaknya nanti–“

“Kita butuh kegiatan yang meningkatkan adrenalin kita, guys.”

“Sabtu besok. Pukul 8 malam di dorm kami. Bagaimana?”

“Deal.”

Konversasi kedelapan pria itu pun selesai. Membuahkan hasil sebuah perjanjian kotor diantara mereka. Malam semakin larut, lantas kedelapan pria membubarkan diri. Dengan semangat yang membuncah di dalam dada mereka, tak ayal jika mereka menanti pasti hari Sabtu. Sesuai perjanjian.

.

.

.

“Aku tidak ikut.”

Seungcheol memutar maniknya malas. Merasa ide gila adik-adiknya sudah diluar batas wajar.

“Hyung!”

“Kubilang aku tidak ikut. Oke?”

Tangannya lantas menyambar ponselnya di atas meja. Kemudian menghilang  dibalik pintu kamarnya.

.

“Menarik.”

“Aku tidak ingin mencari gara-gara. Kalian lebih baik–“

“Bersabar? Oh, Come on. Untuk sekali ini saja.”

Seokjin menghela nafasnya. Pelan-pelan memijat keningnya yang sedikit terasa berkedut akan kelakuan adik-adiknya.

“Aku tidak ikut.”

Desah kecewa keempat temannya menggema di dalam kamar Seokjin. Tangan Seokjin akhirnya membuat gesture mengusir keempat kawannya agar segera keluar dari kamarnya.

“Dan kau Namjoon-a, kau ingin ikut mereka?”

Namjoon cepat-cepat menggeleng. Bagaimana pun, saran atau pilihan Seokjin selalu mengarah pada hal yang baik. Dan Namjoon sedang tidak ingin menghadapi masalah.

.

.

.

Yoongi menatap interior café di sekelilingnya. Sedikit berdecak kagum akibat nilai seni yang dimunculkan sangatlah indah. Tak lupa dengan kenyamanan pelanggan, disamping menonjolkan seni yang dimiliki café ini pun mampu menyediakan segala furniture yang menjunjung tinggi kenyamanan pelanggan.

Manik Yoongi masih setia melihat-lihat sampai terpaku pada pria dengan tinggi dibawah rata-rata dan surai coklat. Keningnya kemudian mengerut tatkala si pria tersebut berjalan ke mejanya.

“Hyung?”

“Kau sedang apa kesini?”

Alih-alih menjawab, si pria menarik kursi di hadapan Yoongi dan mendudukan diri disana tanpa disuruh.

“Yang lain sudah datang, Hyung?”

“Jihoon-ie, Kau tidak–“

“Aku diundang, Hyung. Lihat.”

Pria yang akrab dipanggil Jihoon oleh Yoongi pun menyodorkan ponselnya. Memberikan waktu pada Yoongi untuk membaca beberapa kalimat yang tertera pada layarnya.

Yoongi lantas mengangguk paham. “Maaf, kau tahu aku tidak punya banyak waktu untuk–“

“Sudah biasa.” Jihoon terkekeh. Kemudian memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.

“Kau sudah 19 tahun. Tidak bisakah kau menghilangkan kebiasaanmu memotong ucapan orang lain?”

Jihoon menaikan kedua alisnya. “Akan aku coba, Hyung. Maaf.”

Yoongi menghela nafas. Punggungnya lalu bersandar pada kursinya. Dalam diam mengamati wajah adiknya yang duduk di hadapannya. Pria yang dianugerahi bakat dan penampilan yang tak jauh beda dengannya. Kulit yang terlampau putih, mata yang sipit, senyum yang terlalu manis, dan kecintaan pada musik. Ada satu hal yang berbeda dengannya. Tinggi Jihoon dibawah rata-rata tinggi pria lainnya. Kadang Yoongi merasa kasihan, tetapi Yoongi lebih sering merasa bersyukur karena masih ada yang lebih pendek daripadanya.

“Vernon-ah!”

Yoongi terkesiap. Maniknya lantas mengikuti arah pandang Jihoon. Mendapati pria dengan wajah kebarat-baratan berjalan menuju mejanya. Kedua sudut bibirnya lalu terangkat sebagai sapaan, membuat si bule Vernon yang baru saja duduk cepat-cepat membungkuk padanya.

“Hai, Suga Hyung.”

“Kau hanya menyapanya? Sedangkan aku tidak?”

Merasa tidak enak dengan ucapan Jihoon, Vernon lalu membungkukan badannya. “Hai, Woozi Hyung.”

“Bagus.” Yoongi terkekeh melihat tingkah Jihoon yang tak jauh beda dengannya. Mereka memang hampir terlalu mirip. Jalan pikiran mereka pun tak luput dari kesamaan.

“Kau datang sendiri? Mana yang lain?” Tanya Yoongi.

“Sebentar lagi Hoshi Hyung akan datang. Dia sedang di toilet.” Jelas Vernon.

Baik Yoongi maupun Jihoon sama-sama mengangguk.

“Ah, Hyung–“ Vernon membulatkan kedua matanya kala kedua pria yang lebih tua daripadanya ini menoleh padanya bersamaan. “Suga Hyung, maksudku.”

Jihoon melirik kakaknya sekilas, kemudian mengangguk.

“Aku sedang menulis lirik baru. Entahlah saat aku menulis ini, aku sedang dilanda rasa lelah dan…yeah, apa kau mengerti hyung?”

“Tunjukan saja lirikmu itu padaku.” Vernon mengangguk dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Membuat Jihoon sedikit kesal.

“Tapi, aku sedang  tidak membawa ipad-ku. Apa kau memiliki waktu luang–“

“Besok pukul 5 sore di café ini saja. Bagaimana? Mungkin aku tidak bisa berlama-lama nantinya.”

“Deal. Aku tidak akan lama, sungguh. Terima kasih banyak hyung.”

Jika Jihoon tidak salah menghitung, maka Vernon sudah membungkuk seraya mengucapkan terima kasih sebanyak 7 kali pada kakaknya. “Kepalamu mau lepas atau apa. Hentikanlah.”

“Hyung-nim!!”

“Hyung-nim!!”

“Gawat! Hyung-nim!”

Suara serat milik Hoshi menggema di dalam café. Menarik seluruh atensi pelanggan yang sedang bersantai. Sedangkan empunya mengatur nafasnya di samping Jihoon.

“Kau ini kenapa?” Jihoon yang merasa tak nyaman mengeluarkan kuriositasnya.

“Kom– Komputermu hyung. Meledak. Aku baru saja menerima telepon dari S.coups hyung.” Seakan tak peduli dengan tatapan terkejut dari Yoongi dan Vernon, Hoshi kembali mengatur nafasnya.

Butuh sepersekian detik untuk Jihoon mengolah kata-kata Hoshi sebelum akhirnya…

“SHIT. AKU HARUS PULANG.”

Tanpa sadar Jihoon memukul meja. Menciptakan bunyi bedebam yang cukup keras.

“Jihoon-ie.”

“SIALAN. KOMPUTERKU.” Dengan nafas yang menderu, Jihoon lantas beranjak dari kursinya dan keluar dari café.

“Jihoon-ie!”

“Woozi hyung!”

.

.

.

BRAK!

.

“Mana kom–“

.

“Oh?”

.

“Komputerku..”

Jihoon menggantungkan kalimatnya. Ia merasa aneh. Keadaan studio-nya terutama komputernya baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda rusak ataupun bekas ledakan. Jihoon lantas membulatkan matanya ketika otaknya baru saja berpikir jernih atas kejadian yang menimpanya. Jika komputernya memang rusak, mengapa Seungcheol harus menelpon Hoshi? Kenapa tidak langsung menelpon dirinya saja?

Jihoon menjadi curiga…

.

“KWON HOSHI!”

.

Percuma saja Jihoon mencari Hoshi di dalam dormnya. Pun menelponnya. Hoshi maupun Vernon tiba-tiba menghilang. Padahal Jihoon yakin melihat jelas kalau mereka berdua ikut masuk ke dalam apartement. Jihoon mengumpat habis-habisan Hoshi dalam gumamannya. Ia akan memberikan pelajaran padanya.

“Oh, shit.” Kali ini bukan umpatan yang dikeluarkan oleh Jihoon. Melainkan oleh kakaknya, Yoongi.

Jihoon lantas menoleh pada kakaknya yang kini terhuyung menuju sofa kecil di dorm-nya. Melihat kakaknya yang tiba-tiba mengusap wajahnya kesal, Jihoon mendadak paham. Yoongi pasti punya masalah.

“Hyung? Kau baik?” Setelah menutup pintu studionya perlahan, Jihoon pun menduduki diri di samping Yoongi.

Alih-alih menjawab, Yoongi melempar ponselnya pada adiknya. Punggungnya lantas bersandar pada sofa dengan kedua manik menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

“Hyung, cobalah menelponnya terlebih dahulu.”

Jihoon menatap kembali layar ponsel kakaknya. Sebuah pesan dari Taehyung, teman kakaknya. Hanya sebuah pesan singkat, namun Jihoon tahu pesan ini membuat hati kakaknya hancur.

.

 

Hyung, bukankah ini Minha? Aku harap tidak, tapi dia sangat mirip.

.

Sebuah foto pun dilampirkan oleh Taehyung. Jihoon mengamatinya baik-baik. Ia mengenali gadis dalam foto ini. Itu adalah kekasih kakaknya, Park Minha. Tapi seorang pria dalam foto itu membuat segalanya menjadi janggal. Duduk di dalam café, tangan yang saling bertautan, serta wajah mereka berdua yang terlihat sangat bahagia.

Jihoon kasihan dengan kakaknya.

“Mungkin itu sebabnya dia tidak ada kabar selama satu bulan ini.”

“Hyung, coba kau telpon dia.”

“Untuk apa? Dia bahkan sedang bersenang-senang dengan pria lain.”

“Hyung–“

“Aku memang bukan pria yang baik untuknya. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di dalam studio. Bukan menemaninya pergi berbelanja, menonton atau sekedar mengajaknya jalan-jalan. Aku payah.”

Jihoon mengusap wajahnya gusar. Kakaknya selalu mengambil asumsi sepihak terlalu dini.

“Hyung, telpon dulu.”

Seakan sudah lupa dengan kejahilan Hoshi padanya. Jihoon kini mencoba menenangkan kakaknya.

“Aku memang pria payah, Jihoon. I’m so fuckin’ loser.” Jihoon menghela nafas. Kemudian segera menelpon Park Minha dari ponsel kakaknya tanpa izin.

“Apa yang kau lakukan?”

“Halo, Minha nuna? Ini aku Jihoon.”

Mata Yoongi lantas membulat. Tangannya berusaha merebut ponselnya dari tangan adiknya. Jihoon memang berbadan pendek, tetapi ia selalu lebih gesit dibanding kakaknya. Maka kini Jihoon sudah berlari ke dalam studionya. Mengabaikan umpatan kasar kakaknya di belakangnya.

“Yoongi hyung hampir  menangis saat melihat fotonya. Aku mengerti. Sekarang aku berikan ponselnya pada kakakku ya, Minha nuna.”

“Adik sialan! Kembalikan ponselku, sialan!”

“Minha nuna ingin bicara padamu.” Jihoon lantas memberikan ponsel Yoongi pada pemiliknya, kemudian melangkah keluar dari studionya.

“Apa?” Dengan ragu Yoongi mendekatkan ponselnya pada telinganya.

“Yoongi-ya.” Suara lembut milik Minha menyapa telinganya. Yoongi merindukan suara gadis itu.

“Minha-ya.”

“Foto yang kau lihat itu, dia Chanyeol. Sepupuku yang tinggal di Sydney. Bukankah aku pernah menceritakannya padamu, Yoongi-ya? Tapi memang belum pernah kau lihat fotonya.”

Lidah Yoongi terasa kelu. Ia baru ingat bahwa Minha pernah menceritakan sepupunya yang tinggal di Sydney dan bernama Chanyeol.

“Damn.” Yoongi mengumpat pelan sebagai perwakilan rasa malunya. Tapi Minha dapat mendengarnya, kemudian terdengar suara kekehan dari Minha.

“Maafkan aku Minha–“

“Aku yang minta maaf Yoongi-ya. Maaf karena membuatmu khawatir.”

Sudut bibir Yoongi terangkat. Sebulan ia tidak pernah bertemu bahkan menerima kabar dari kekasihnya. Kini konversasi mereka mengalir sangat hangat meski berawal dari kesalah pahamannya.

“Aku akan segera menemuimu, Minha-ya.”

“Jangan khawatirkan aku. Selesaikanlah pekerjaanmu dulu. Jangan terlalu mengorbankan waktu istirahatmu, ya? Aku akan sangat membencimu kalau kau seperti itu.”

Yoongi terkekeh. “Kau juga, Minha-ya.”

“Aku tutup, ya? Beri tahu Taeyung kalau itu sepupuku. Jadi katakan padanya jangan membuat gosip aneh nantinya. Aku menyayangimu, Min Yoongi.”

“Aku menyayangimu, Park Minha.”

Tepat setelah Yoongi memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Sebuah ide terlintas dalam pikirannya.

“Jihoon-ie!”

.

.

.

“Mereka pasti akan segera datang.”

“Sebentar lagi mereka sampai! Ayo ambil posisi!” Suara tinggi Jimin memberi aba-aba. Taehyung yang berada di sampingnya mendadak linglung mencari posisi. Membuat Jungkook terpaksa menariknya untuk duduk di dekat televisi.

“Hyung duduk disini saja. Anggap hyung tidak tahu apa-apa.”

Selagi Jungkook mengarahkan Taehyung. Seungkwan tanpa henti berseru di ruang tengah.

“Kelompok air, ambil posisi! Kelompok tepung, sembunyikan tepungnya dengan baik!”

“Hoseok hyung! Dimana stik playstationku?!”

“Di kamarku! Bukan bukan, ada di kamar Namjoon!”

“Dokyum! Kali ini kau harus akting dengan baik!”

Keadaan yang gaduh mendadak berubah sunyi. Menyisakan suara dering ponsel Jimin. Cepat-cepat Jimin mengambil ponselnya di atas televisi. Kemudian mengangkat panggilan dari kekasih adiknya, Min Yoongi.

“Ya, Hyung?”

“Disini mereka sedang bermain-main saja. Jungkook sedang bermain playstation dengan Mingyu. Tenang saja hyung, tidak ada yang masuk ke kamarmu.”

Jimin menatap ponselnya bingung. Yoongi memutus panggilannya tiba-tiba.

“Ada apa hyung?” Tanya Seungkwan.

Jimin hanya menggeleng sebagai jawaban. “Sepertinya dia benar-benar marah. Kita harus siapkan mental kita.”

.

.

.

“Aku pulang.” Yoongi melepaskan sepatunya di dekat pintu masuk. Tungkainya lalu melangkah ke ruang tengah apartement-nya.

Harus Yoongi akui, rencana yang disusun oleh adik-adiknya memang sempurna. Namun sayang, Yoongi terlalu pintar untuk menebak rencana mereka. Maniknya bahkan menangkap tepung yang menempel di tangan Jimin. Oh, Ayolah. Sejak kapan Jimin belajar membuat kue?

 “Kalian semua disini?”

Pertanyaan itu dilontarkan dengan susah payah oleh Jihoon. Amarahnya sudah membakar dirinya sejak melihat teman-temannya yang tengah asyik menumpang di apartement grup lain. Daripada Jihoon kelepasan, maka tangannya mengambil salah satu anime figure yang terpajang di atas kulkas. Mengamatinya dengan seksama, kemudian meletakkan kembali pada tempatnya.

“Aku akan mengambil kacamataku.” Yoongi lantas melesat masuk ke dalam kamarnya.

“Kalian tahu, komputerku baru saja rusak. Aku sungguh malang. Padahal banyak lagu yang sudah kubuat untuk album Seventeen selanjutnya.”

“Terima kasih Hoshi. Kalau kau tidak memberi tahuku, mungkin komputerku benar-benar akan hangus.”

“Ya.” Yoongi tahu-tahu sudah berdiri di samping Jihoon. Dengan tangan kanan yang membawa tas hitam. “Sekarang aku juga tahu kalau Minha tidak benar-benar mencintaiku.”

SPLASH.

Oh, amarah Yoongi benar-benar ada di puncaknya.

Jihoon menggertakan giginya. Maniknya menatap Dokyum yang baru saja menembaknya dengan pistol air.

“Huuuuuu–“

Dan kini serbuk-serbuk putih menempel di surai serta jaket Yoongi dan Jihoon. Memaksa Yoongi dan Jihoon untuk menutup mata sejenak untuk meredam amarah.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Mingyu merasa ada yang tidak beres. Menurut perkiraan mereka, baik Yoongi maupun Jihoon akan langsung menyemprotkan amarahnya sejak cipratan air pertama mengenai mereka. Tapi sampai kelompok tepung menaburi tepung di atas rambut mereka, Yoongi dan Jihoon sama sekali tidak berkutik.

4 detik…

5 detik…

6  detik…

Jimin yang menyadari keanehan yang terjadi pun menghentikan aksi menaburi tepungnya. Selang beberapa detik, anak-anak  yang lain pun menyadari keanehan yang terjadi dan segera menghentikan aksi mereka.

7 detik…

8 detik…

9 detik…

“Aku akan pergi dengan Jihoon. Sekedar untuk refreshing. Mungkin satu bulan?”

“Hyung!” Jungkook yang pertama kali merespon. Wajahnya berubah menjadi panik. “Satu bulan? Dua minggu lagi kita harus rekaman.”

“Ya kalau begitu, kalian buat lagu sendiri saja. Aku lelah.”

Kalimat Yoongi barusan membuat baik Jimin, Hoseok, Taehyung maupun Jungkook menatapnya tak percaya. “Hyung, kau tidak–“

“Aku juga akan pergi. Berhubung komputerku rusak. Jadi aku tidak perlu membuat lagu lagi bukan?” Kali ini Jihoon yang berbicara. Mengunci tatap tak percaya dari teman-temannya.

“Woozi hyung–“

“Jaga diri kalian baik-baik. Kami pergi. Ah, Hoseok. Katakan pada Namjoon kalau aku cuti sebulan.”

“Wonwoo, Mingyu. Mulai sekarang kau dan anak-anak HipHop team yang membuat lagu.”

“T-tapi, aku–“

“Kami pergi.”

.

BLAM.

.

 “Mereka tidak serius bukan? Apa mereka semarah itu?”

“Sepertinya kita sudah keterlaluan.” Dino menundukan kepalanya. Kepalanya menjadi pening mendadak. Masa bodoh dengan kantung tepung di tangannya. Dampak yang ditimbulkan benar-benar terlalu serius.

“Aku pikir mereka hanya akan marah-marah. Tapi ternyata…” Jungkook menggantungkan kalimatnya. Tangannya memijat pelipisnya pelan.

“Kita harus segera meminta maaf.”

“Cepat telpon!” Mingyu lalu berseru dengan gusar. Cepat-cepat mengambil ponselnya dan menelpon Jihoon.

“Sial. Tidak diangkat.”

“Kita benar-benar akan mati.”

.

.

.

“Sudah kubilang. Ide kalian buruk. Sekarang siapa yang akan memproduksi lagu kita?”

Suara Seungcheol meninggi. Setelah mendengar cerita adik-adiknya barusan. Emosinya seakan tak terbendung lagi.

“Hyung, kami–“

“Sudah meminta maaf?” Seungcheol memotong ucapan Mingyu begitu saja. Kemudian dibalas gelengan kepala oleh Mingyu.

“Tadi sudah kucoba telpon. Tetapi tidak diangkat.”

Seungcheol menghela nafas. Jika Jihoon benar-benar pergi, maka kata ‘tamat’ yang akan mereka temui.

“Sudahlah. Kalian yang membuat kekacauan ini. Jadi kalian yang harus bertanggung jawab.”

.

.

.

“Kali ini terserah kalian. Aku tidak mau membantu lagi.”

Namjoon langsung memakai earphones-nya, merasa jika terus mendengarkan keluhan adik-adiknya akan membuat kepalanya pecah.

“Seokjin hyung, tolong kami.” Taehyung menggunakan kebiasaan memohonnya. Dengan mata sendu yang dibuat-buat.

Sedangkan Seokjin sama sekali tidak tertarik melihatnya. Ia sudah tahu akan menjadi seperti ini. Dan kini Yoongi pergi, meninggalkan setumpuk project lagu mereka yang belum selesai.

“Cari jalan keluar sendiri. Kepalaku sakit.” Seokjin lantas pergi masuk ke kamarnya. Menutup pintu dengan lumayan keras, sehingga menciptakan bunyi bedebam.

Hoseok menatap ponselnya dengan tatapan kosong. Pikirannya sedang tidak benar-benar bersih saat ini. Penyesalan memang datang terakhir dan kini Hoseok menyesal untuk seumur hidupnya.

“Bagaimana ini hyung?” Jungkook yang biasa terlihat perfectionist, suaranya kini sedikit bergetar. Air matanya hampir menumpuk memenuhi matanya.

“Kita salah. Benar-benar salah.”

.

.

.

Jihoon menurunkan sedikit topinya. Berusaha sebaik mungkin untuk menyamar. Sedangkan kakaknya terlihat santai. Dengan menggunakan kacamata transparan dan topi hitam. Keduanya kini berjalan diantara puluhan orang yang tengah menunggu antrian untuk naik ke wahana roaler coaster.

“Hyung.”

Yoongi menoleh. Atensi penuh berada pada adiknya.

“Kalau dipikir-pikir, ada keuntungan yang kita dapat dari kejadian hari ini.”

“Kita bisa keluar bersama lagi setelah bertahun-tahun berpisah?” Yoongi menebak dengan asal.

Jihoon mengangguk. “Sejak kita sama-sama training, kita tidak pernah bertemu seperti ini lagi.”

Yoongi membenarkan dalam hatinya. Masa bodoh dengan kejahilan yang dilakukan teman-temannya. Dapat bermain bersama adiknya merupakan kesempatan langka. Maka Yoongi tidak berniat untuk mengacaukannya.

“Mungkin kau harus mengajak Minha kesini nanti, hyung.” Hanya dengusan dari kakaknya yang didapat Jihoon.

“Jihoon-ie.”

“Ya, hyung?”

“Bagaimana kalau kita liburan saja?”

“Sungguh-sungguh? Maksudku meninggalkan pekerjaan kita, hyung?”

Yoongi mengangguk. “Aku penat. Lagipula ini sebagai balasan kepada mereka yang sudah mengerjai kita.”

Jihoon tertawa pelan. Tawaran kakaknya benar-benar menarik. Sejujurnya Jihoon pun lelah dengan pekerjaannya. “Kau tidak mengajak Minha nuna?”

“Boleh?” Jihoon mengangguk pasti.

“Terima kasih.”

“Aku akan mengajak Tia juga.”

Yoongi mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat siapa Tia. Nama itu tidaklah asing baginya.

“Tia?”

“Kekasihku. Sejak SMA, hyung. Kau lupa?”

Sepertinya Yoongi benar-benar membutuhkan refreshing. Bagaimana bisa ia melupakan bahwa adiknya juga memiliki kekasih.

Gelak tawa Yoongi lepas. Menertawakan dirinya sendiri yang mudah lupa akhir-akhir ini. “Maafkan aku. Aku–“

“Ya, aku tahu. Kau sudah mulai mudah lupa akhir-akhir ini. Dasar tua.”

“Sialan kau pendek.”

Tawa mereka lantas pecah. Sama-sama menunjukan senyuman yang manis serta mata yang sama-sama tertutup saat  tertawa.

.

.

.

.

.

FIN.

7 thoughts on “[Vignette] Trap for/from Twins”

  1. Kebayang kalau mereka beneran adek kakak.

    btw tia itu namaku berarti aku kekasihnya jihoon dong😜😜😜

    Ceritanya bagus. Keep writung ya

    Suka

    1. Hai Tia!^^ wah ternyata kamu pacar jihoon ya ‘-‘
      btw aku audy 98l (gaada yg nanya).
      gemes kalo ngebayangin mereka beneran kakak adik tuh emes emes gimanaa gitu xD

      makasih ya udah mau baca😀

      Suka

  2. Ugh gemayyyy serasa mereka hyung dongsaeng beneran huhuhu jadi makin sedih tiap nyari interaksi mereka cuma sekedur, coba kaya gini kan gereget /?/
    keep writing yaaa! penggunaan bahasanya bagus banget loh! semangat! ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s