Destiny (Part 6)

Destiny

D E S T I N Y

Scriptwriter: Eunhaecutiepie (eunhaecutiepie.wordpress.com)

Cast(s): Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating: PG-13

Duration: Chaptered

Previous: 1 / 2 / 3 / 4 / 5

++

Part 6

Pagi ini Yonghee sudah siap dengan seragam sekolah dan segala keperluan lainnya, hari pertama ia diperbolehkan sekolah oleh oppanya.

Sesampainya di sekolah, berbagai macam ocehan itu kembali terdengar lagi, setelah belasan hari ia meninggalkan sekolah ini ternyata mereka belum bisa menghilangkan hobi mengocehnya itu, seakan belum puas melihat Yonghee terbaring selama 8 hari di rumah sakit.

“Yong!” Yonghee tersentak kaget saat seseorang menepuk pundaknya pelan.

“Oh… anyeonghaseo[1] Kyuhyun seonsaengnim.” Sapanya sambil membungkukkan badan,  bagaimanapun juga ini adalah sekolah. Ia harus memanggil dan berlaku sopan pada Kyuhyun, apapun hubungan mereka.

“Aish, jangan memanggilku seperti itu Yong…” Protes Kyuhyun sambil memajukan bibirnya, membuat Yonghee memutar bola matanya malas melihat kelakuan lakilaki yang kelewat manja ini.

“Maaf seonsaengnim, tapi ini masih area sekolah.” Jawabnya, mencoba  menyadarkan Kyuhyun akan keberadaan mereka.

Apa Kyuhyun tidak sadar kalau aksi mengerucutkaan bibir seperti tadi akan jadi berita besar se antero sekolah? Jika ada murid yang melihatnya tadi, ia yakin tak lama lagi akan ada breaking news di mading dengan tulisan

‘setan yang mengerucutkan bibirnya’

Atau

‘si dingin yang mengerucutkan bibirnya’

 Kyuhyun tak biasa menunjukan sifat aslinya di sekolah, dan ini akan menjadi masalah besar jika ia menunjukannya saat bersama Yonghee disini, hubungan mereka di luar guru dan murid akan terbongkar dan Yonghee semakin dibenci semua siswi.

“Aish, aku lupa!” Rutuk Kyuhyun, laki-laki itu kemudian menegakkan badannya lalu membalas sapaan Yonghee.

“Anyeong haseyo Yonghee-ssi.” Ucapnya kembali ke sikap dingin dan tak pedulinya lalu berlalu dari hadapan Yonghee dengan cara jalan yang anggun.

Aish laki laki itu…

Yonghee melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam kelas, sesampainya di sana ia mengerutkan keningnya melihat si pirang dan antek-anteknya berdiri di dekat tempat duduknya yang berada di barisan paling belakang. Yonghee melangkahkan kaki ke sana, mencoba bersikap tenang dan biasa saja,  gadis itu berjalan melewati si pirang seolah-olah ia tak peduli dengan keberadaannya.

“Yak, Lee Yonghee!” Panggil si pirang yang kesal karena diacuhkan, namun Yonghee tak menghiraukan sapaannya, gadis itu lebih memilih mengeluarkan buku dan alat tulisnya dari dalam tas dan sibuk mengerjakan sesuatu. Si pirang itu menghembuskan napasnya kesal, lalu merebut pensil yang sedang dipakai Yonghee kasar, membuat gadis itu memejamkan matanya menahan emosi lalu beralih menatap si pirang itu tajam.

“Kembalikan pensilku!” Perintahnya dingin.

 Si pirang memutar matanya meremehkan.

“Sebegitu sulitnya kah mendapatkan maaf darimu?”

“Apa maksudmu?”

“Well, aku datang kesini untuk minta maaf padamu, Cho Kyuhyun yang menyuruhku.” Jawabnya setengah hati, membuat  Yonghee memalingkan wajahnya dan terkekeh pelan.

“Jadi seperti ini caramu meminta maaf?” Tanyanya sinis.

“Lalu aku harus apa?” gadis pirang itu terlihat kesal.

“Layani aku seharian penuh ini, dan ingat…”

Yonghee menggantungkan kalimatnya lalu melirik teman-teman Hara yang berada di belakang gadis pirang itu dengan dagunya

“Kau tidak boleh meminta bantuan pada antek-antekmu itu.” Jawab Yonghee santai, membuat gadis pirang itu membulatkan matanya tak percaya.

“Apa kau bilang? Hah, di dalam mimpimu saja Lee Yonghee!” Teriaknya  kasar, tapi orang yang diteriaki hanya diam saja, seperti tidak terganggu sama sekali dengan suara keras  gadis yang ada di hadapannya.

“Ya itu sih terserah  padamu, yang jelas aku tidak akan memaafkanmu sebelum kau mau melakukan hal itu.” Ucap Yonghee cenderung mengancam sambil memainkan kuku jarinya yang mulai panjang.

 Hara mengeram pelan melihat kelakuan adik kelasnya yang ia anggap sangat menyebalkan untuk ukuran orang miskin.

“Aish, aku juga tidak akan sudi melakukan hal ini jika bukan Kyuhyun seonsaengnim yang meminta.” Gerutu Hara sambil mengacak-acak rambutnya.

“Jusnya terlalu manis!”

“Aish, mana saladnya? Aku sudah menunggu dari tadi!”

“Yak! Park Hara, Cepat habiskan makananmu dan ambilkan aku air minum!”

Mereka sedang di kantin sekarang, Area  paling ramai di sekolah yang menjadi tempat pertama Yonghee dipermalukan oleh gadis pirang bernama Park Hara . dan hal menarik yang sejak tadi menjadi pusat perhatian seisi kantin adalah, seorang Park Hara, anak dari pemegang Saham terbesar di Seoul International High School berjalan dan makan bersama dengan murid miskin yang selalu menjadi bahan cemoohan favorit mereka. Dan yang lebih mencengangkan lagi, gadis miskin itu memerintah si gadis kaya seenaknya yang dituruti saja oleh gadis kaya itu walau terlihat jelas kekesalan di wajah mulusnya. Apa dunia sudah terbalik?

“Aku kepanasan pirang, kipasi aku!”

Yonghee mengipas-ngipaskan tangannya ke depan wajah, matanya berputar kesal saat melihat Hara diam saja dengan Mata yang menatap tajam ke arahnya.

“Yak! Kau ini niat tidak sih! Kau tidak lihat aku kepanasan?” teriak Yonghee, membuat Hara  yang sedang memegang kipas  berwarna Pink itu kesal dan melampar benda itu kasar.

“Jangan dilempar-lempar Hara sayang, lebih baik kau gerakkan kipas itu secara teratur agar bisa menghasilkan angin untukku, hmm?”

Yonghee memungut kipas itu tanpa rasa bersalah lalu meletakkannya di genggaman hara,  gadis itu membuka mulutnya tak percaya melihat kelakuan Yonghee yang benar-benar menyebalkan.

“Tunggu apa lagi? Cepat kerjakan!” Perintah Yonghee, membuat Hara mau tidak mau mulai menggerakan kipas yang ada di genggamannya setengah hati.

“Lee Yonghee.”

Yonghee menolehkan kepalanya ke belakang saat ia mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal memanggilnya. Orang itu berjalan mendekati Yonghee, menimbulkan bisik-bisik tak penting dari murid-murid di sana yang pasti tak suka dengan adegan ini. Guru matematika kesayangan mereka menunjukan kedekatannya dengan seorang gadis miskin yang selalu mereka rendahkan, itu bukan hal yang menyenangkan untuk dilihat bukan?

“Kyuhyun Oppa, ah, maksudku seonsaengnim…”

Yonghee berdiri dari duduknya dan menundukkan badan 90 derajat yang diikuti oleh Hara.  Gadis itu mendecakkan lidahnya kesal melihat Kyuhyun yang hanya menyapa Yonghee saja, sedangkan dirinya dianggap tak ada padahal berada tepat di samping Yonghee.

“Ikuti aku, ada yang harus kita bicarakan!” Perintah Kyuhyun dengan nada datarnya, mencoba bersikap ‘cool’ pada Yonghee di hadapan murid lain. Ini masih di lingkungan sekolah, dan ia tak mau image ‘ice prince’ nya menghilang. Kata-kata yang Kyuhyun ucapkan itu sontak membuat seisi kantin terkejut, semakin bertanya-tanya tentang ‘seperti apakah hubungan Cho Kyuhyun dan Lee Yonghee?’ setau mereka, Kyuhyun tak pernah dekat dengan satupun siswa di sekolah ini, sikapnya yang kelewat dingin itu yang membuat sosoknya terlihat tidak suka untuk didekati orang lain, bahkan guru sekalipun masih sangat canggung jika berdekatan dengan Cho Kyuhyun. Pantas saja kejadian ini menjadi topik panas di sekolah, apalagi murid yang dekat dengan laki-laki itu adalah seseorang dengan ‘kasta’ rendah menurut mereka.

“Ba-baiklah.” Jawab Yonghee terbata-bata dan dengan ragu berdiri dari duduknya, membuat Kyuhyun tak sabar dan langsung menggenggam pergelangan tangan Yonghee lalu menarik gadis itu dari kerumunan manusia yang menjadikan mereka sebagai bahan tontonan menarik, membuat warga sekolah lain yang ada di sana menahan napas selama beberapa menit saat melihat kyuhyun dengan mudahnya berjalan melewati mereka dengan tangan seorang gadis di genggamannya.

14.00 p.m

Ruangan kerja cho kyuhyun – Seoul international school

Yonghee’s pov

“Oppa, kau gila.” Ucapku sebal saat melihat setan tak waras itu membungkuk-bungkukkan badannya heboh karena terlalu keras tertawa.

Laki-laki itu tidak menghiraukan gerutuanku, ia malah sibuk memukul-mukul meja sambil tertawa  makin heboh. Untung saja ruangan ini kedap suara, kalau tidak, matilah image ‘ice prince’ sialan itu.

“Aku berharap kau tersedak paru-parumu sendiri karena terlalu keras tertawa” Ucapku kasar, membuat guru matematika tak jelas itu menghentikan kegiatannya  dan menatapku tak percaya.

“Apa kau bilang? Bagus Lee Yonghee, kau sudah berani mengatai gurumu sendiri.” Balasnya yang tiba-tiba menunjukkan sikap ‘cool’ nya, namun hal itu tak bertahan lama, karena yang terjadi saat ini adalah dirinya yang sudah kembali tertawa berguling-guling di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Tidak pantas dikategorikan sebagai manusia normal.

“Aku akan pergi jika kau hanya ingin konser kebodohan di hadapanku Cho Kyuhyun.” Ancamku hendak membuka pintu, tapi langsung ditahan oleh laki-laki tak waras itu yang kini sudah menghentikan tawanya dan menggenggam tanganku yang ada di atas handle pintu.

“Baiklah, baiklah, aku serius sekarang.” Balasnya sambil merangkul pundakku dan menuntunku untuk duduk di sofa bersamanya, dan beberapa detik kemudian Tiba-tiba saja Laki-laki itu menggenggam tanganku erat sambil menatapku dalam, membuatku mengerutkan keningku heran.

“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, mungkin kemarin aku tidak meminta kau menjelaskan masalah ini secara detail karena aku terlalu shock, tapi sekarang aku benar-benar penasaran.” Ucapnya, membuat badanku melemas seketika saat mengerti apa yang ia maksud dengan ‘hal ini’ entah apa yang harus aku katakan padanya, keadaan ini terlalu rumit, dan mungkin saja ia akan menganggapku manusia hina yang harus ia jauhi. Aku menyunggingkan senyum palsuku untuk menutupi kegugupanku saat ini.

“Tentang apa?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Jangan banyak alasan Lee Yonghee. Kau mengatakan bahwa kau memiliki perasaan yang sama denganku waktu itu. Aku kira kau membalas cintaku tapi ternyata kau menyukai laki-laki lain. Kau memiliki perasaan yang sama tapi perasaan itu bukan untukku. Dan aku masih tak habis pikir kenapa kau lebih memilihnya dibanding aku.” Jawabnya miris.

Aku menundukkan kepalaku dalam dan menghela napas beberapa kali, mencoba melemaskan tubuhku yang tegang, walaupun sebenarnya itu tidak berhasil.

“Aku tidak tau oppa, aku juga tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.” Balasku lemah, pasrah dengan tanggapan apapun yang akan ia berikan setelah ini.  Kyuhyun oppa mengertakan genggaman tangannya, seolah-olah hal yang akan ia tanyakan adalah sesuatu yang sangat berat untuk diungkapkan.

 “Sejak kapan?” ia menghela napas beratnya

“Sejak kapan kau menyukai oppamu sendiri?”

Flashback

                        Mokpo

 (sabtu malam, sehari sebelum Kyuhyun menyatakan cintanya pada Yonghee)

Yonghee’s pov

 “Jangan terlalu dekat dengan guru matematikamu itu Yong, apalagi sampai membiarkannya tertidur di pangkuanmu dan melakukan skinship berlebihan. Dia itu laki laki dewasa, kau pasti mengerti apa maksudku.” Ujar Donghae oppa sambil merapikan anak rambutku yang keluar dari ikatannya, aku mengerutkan keningku bingung.

“Tapi aku juga sering melakukannya denganmu.” balasku polos. Donghae oppa menghembuskan napas beratnya.

“Dia adalah orang asing Yong, mungkin saja dia menyukaimu dan berniat melakukan hal-hal aneh padamu. Sedangkan aku adalah kakakmu, aku tak mungkin mempunyai perasaan padamu. Begitu juga dengan kau, kau tak mungkin memiliki perasaan khusus untukku yongie, jadi jika aku tertidur di pangkuanmu ataupun sebaliknya, itu bukan masalah besar, kita tak mungkin melakukan sesuatu hal yang lebih.”

Donghae oppa tersenyum di hadapanku, tapi senyumannya itu tak bisa mengurangi rasa sakit di hatiku saat mendengar penuturannya yang seakan merebut semua oksigen dari sekitarku, membuat paru-paruku harus bekerja keras untuk mendapatkan zat tak kasat mata itu.

“Tidak…boleh?” gumamku lemah, aku menundukkan kepalaku dalam mencoba mengatur napasku yang tersendat-sendat tak beraturan, kurasakan tangan hangatnya  mengelus kepalaku lembut.

“Hmm… tidak boleh, kita memiliki hubungan darah jadi kau harus berhati-hati dengan Cho Kyuhyun karena ia bisa saja menyukaimu.” Jawabnya serius, kata-katanya membuatku semakin ingin menangis. Kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi kekosongan yang ada di paru-paruku lalu kuangkat wajahku lemah.

“Jika aku menyukai kakakku sendiri, apa itu juga tidak boleh?” Donghae oppa berhenti mengelus kepalaku, lalu mengerutkan keningnya bingung.

“Kakak? Tentu saja tidak boleh, kalian mempunyai hubungan darah.” Jawab Donghae oppa tenang, tapi sedetik kemudian badannya menegang dan menjauhkan tangannya dari kepalaku. Mulai menyadari jika orang yang kumaksud adalah dia, kakak kandungku adalah dirinya sendiri. Aku tak mempunyai anggota keluarga yang lain di dunia ini selain Donghae oppa.

“Apa maksudmu Yongie-ya?” tanyanya terbata-bata lalu berdiri dari duduknya, aku mendongakkan kepalaku, menatap oppaku yang kini berdiri tepat di hadapanku.

“Aku…Aku menyukaimu oppa, maafkan aku.” Ucapku lemah.

Dan bersamaan dengan keluarnya pernyataan itu, air mataku menetes membasahi pipiku yang dingin karena terlalu lama terkena angin malam. Donghae oppa menutup mulutnya tak percaya, tubuhnya semakin mundur dan menjauh dariku.

“Oppa…” Panggilku serak, Donghae oppa menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat air mataku semakin deras mengalir.

“Maafkan aku oppa, aku sudah tak kuat lagi. Selama ini aku menyemnbunyikan perasaan ini darimu, menyembunyikan detak jantungku yang berpacu lebih cepat saat kau bersamaku, menyembunyikan pipiku yang selalu merona merah setiap kali kau menyentuhku, dan menyembunyikan rasa sakit hatiku saat kau bersama wanita lain, perasaan ini tak wajar, aku tau ini bukan rasa kasih sayang antara kakak-beradik, aku menyayangimu sebagai laki-laki. Bukan sebagai kakakku.”

Aku mencengkram jaketku kuat, kepalaku tertunduk tak berani melihat wajahnya yang aku yakin sudah tak ingin menatap wajahku lagi. Donghae oppa pasti akan membeciku karena perasaanku yang menjijikan ini. Mencintai kakakmu sendiri bukanlah hal yang wajar, dan sialnya aku mengalami itu selama bertahun-tahun. Aku tersiksa, aku sakit, dan dadaku sesak setiap kali memikirkan bahwa aku menyukai orang yang memiliki hubungan darah denganku. Bahwa aku menyukai pria yang hanya menganggapku sebagai adik kandungnya. Bahwa aku tak bisa memiliki laki-laki itu seutuhnya karena kami tidak mungkin ditakdirkan untuk bersama.

“Kau bercanda, kan? Hahaha aku tau kau sedang mempersiapkan kejutan untuk ulang tahunku, iya kan? Ulang tahunku masih lama Yong…” aku menatap Donghae oppa yang semakin berjalan menjauh dengan wajah yang sudah basah oleh air mata dan pandangan yang tak fokus lagi, bibirnya menyunggingkan senyum yang dipaksakan.

 Aku melukainya…,

Melukai orang yang aku cintai dengan pernyataan cintaku yang begitu hina.

Aku meringis menahan sakit saat kilasan-kilasan memori itu memenuhi otakku. Kyuhyun oppa masih setia menggenggam erat tanganku ketika aku mulai menceritakan semuanya, tentang perasaanku padanya, tentang rasa sakitku yang membenci diriku sendiri, dan semua cerita pedih yang aku sembunyikan dari semua orang, termasuk dirinya.

“Aku tak tahu harus bagaimana oppa, dia pasti membenciku sekarang.” Aduku padanya sambil terus meremas rok seragamku di bagian paha untuk menyalurkan rasa sakitku, Kyuhyun oppa menatapku dengan matanya yang sendu lalu menarikku ke dalam pelukannya.

“Semuanya akan baik-baik saja yong, dia tak mungkin membencimu.” Ucapnya menenangkan, membuatku menyandarkan kepalaku yang lemah ke atas bahu lebarnya.

 Aku tau ini jahat. Kyuhyun oppa menyukaiku sejak lama, dan aku menceritakan rasa sukaku terhadap laki-laki lain padanya. Bagaimana aku melihatnya, mengkhawatirkannya, dan semua hal yang kusuka dari laki-laki lain itu, mungkin disini bukan hanya aku saja yang tersakiti, perasaan hinaku ini juga menyakiti Kyuhyun dan Donghae oppa secara bersamaan. Termasuk Jinhae eonni yang sepertinya menunjukkan ketertarikan amat besar pada oppaku.

 “Aku mencintainya oppa, maafkan aku.” Racauku dengan suara yang sudah serak, Kyuhyun oppa terdiam beberapa saat lalu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku yang terasa sangat kecil dalam dekapannya.

“Oppa! aku pulang!” Teriakku semangat, mencoba bersikap seperti bisa agar suasana tidak terlalu canggung. Aku sudah menyiapkan beberapa topik obrolan yang bisa kugunakan untuk menjadi bahan obrolan kami. Miris memang, hubungan kami yang sangat lengket bagaikan saudara kembar tiba-tiba menjadi renggang sejak kejadian itu, sampai-sampai aku harus merencanakan ‘topik apa yang bisa kami obrolkan’, aku tak yakin bisa mengatasi keheningan yang pasti akan terjadi jika aku tak merumuskannya terlebih dahulu. Tapi yang aku temukan saat ini adalah, rumah yang terlihat sangat kosong dan hening.

“Oppa, aku pulang!” Teriakku sekali lagi.

Aku memeriksa ke semua ruangan dan tak menemukan Donghae oppa di sana, aku yakin ini bukan jadwal kerja malamnya, seingatku ia kebagian shift pagi sampai siang hari ini, dan seharusnya laki-laki itu sudah ada di rumah pada jam-jam sekarang. Mengabaikan rasa takutku akan penolakannya, aku mengeluarkan handphone-ku dari tas ransel dan mulai mengetikan serangkaian nomor yang sudah aku hafal di luar kepala, beberapa saat menunggu akhirnya panggilan itu diangkat juga.

Yeoboseo[2]?”

Yeoboseo, oppa…” jawabku canggung. Kita tak pernah menggunakan sapaan seperti ini sebelumnya, biasanya laki-laki itu akan berkata  ‘ada apa Yongie sayang?’ atau ‘wae? Kau merindukanku?’ atau setidaknya Donghae oppa akan memarahiku karena mengganggu pekerjaannya. Itu lebih baik daripada dia bersikap seformal ini padaku, aku seperti tak mengenalnya dengan baik.

“Jika kau hanya diam begini saja, lebih baik tidak usah meneleponku.” Ucapnya dingin, membuatku menggigit bibir bawahku pelan mendengar ucapannya yang sangat menyakiti hatiku, dia benar-benar berbeda setelah kejadian itu, dia bukan oppaku.

“Maafkan aku oppa, aku hanya ingin tahu kau sedang berada di mana sekarang?” tanyaku takut-takut.

“Menemani Jinhae belanja.” Jawabnya datar.

Aku memejamkan mataku erat saat kata-kata itu terdengar sangat menyakitkan di telingaku. Jinhae? Selalu saja wanita itu. Donghae oppa semakin menjauh dariku dan merapat ke sisi Jinhae eonni, aku sangsi kalau hubungan mereka masih sebatas teman saat ini, aku sudah pernah bilang bahwa Donghae oppa tidak pernah memiliki teman wanita yng sedekat itu dengannya, apalagi Jinhae eonni sudah sering sekali datang ke rumah hanya untuk mengobrol atau makan bersama kami.

“Yonghee?” panggilan itu menarikku kembali ke  alam sadarku, aku menjawab Donghae oppa panik.

“Ah, ya, oppa?”

“Aku tutup telponnya, kau mengganggu saja…” gerutunya kesal, lalu sesaat kemudian yang terdengar hanyalah suara telepon terputus, seolah menertawakan nasibku yang sangat menyedihkan.

 Yonghee?

Tadi dia memanggilku apa?

 Yonghee?

Selama ini dia jarang sekali memanggilku dengan nama itu, bahkan hampir tidak pernah. Panggilan itu terlalu asing di telingaku, aku semakin merasa jauh dengannya. Semakin jauh dengan oppa yang sangat ku sayangi hanya karena pernyataan cintaku yang menjijikan, tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa, jika aku boleh memilih, aku juga tidak mau mencintai oppaku sendiri, menganggapnya sebagai seorang laki-laki dewasa yang bisa menjadi pendamping hidupku seutuhnya. Aku sangat membenci ini, membenci takdir yang mepermainkan hidupku seakan aku hanyalah seonggok sampah kotor yang tak berhak merasakan kebahagiaan, bahkan dengan oppaku sendiri.

KRINGGG!

Kubiarkan telepon itu terus berdering di meja yang ada di depan sofa tempatku duduk sekarang, entahlah, aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.

KRINGGG!

Handphone-ku tidak berhenti berdering, menimbulkan kebisingan yang memekakan telinga, kulihat layar yang berkedip itu sekilas dan menemukan nama ‘Cho Kyuhyun’ di sana, tapi aku tak mengangkatnya, aku hanya menatap benda persegi panjang itu kosong, sampai akhirnya berhenti bergetar dan mati.

KRINGGG!

Namun beberapa saat kemudian handphoneku kembali berdering dengan ID caller yang sama, sepertinya dia tak akan menyerah sebelum kuangkat teleponnya. Ku hela napasku berat lalu mengambil handponeku dan menggeser tanda hijau, aku menempelkan alat komunikasi itu ketelinga.

“Yak! Lee Yonghee! Kenapa lama sekali, huh?” teriaknya keras, aku mencoba menormalkan suaraku agar tetap terdengar biasa saja di telinganya.

“Aku sedang di toilet tadi, tidak sabaran sekali!” Balasku balik berteriak, kudengar Kyuhyun oppa terdiam beberapa saat lalu kembali mengeluarkan suaranya.

“Yongie, gwenchana?” tanyanya lembut, membuat kedua sudut bibirku mengembang mendengar pertanyaannya, setan tampan itu mengkhawatirkanku mungkin.

“Ne, gwenchana oppa…” Jawabku.

“Oppamu… apa dia ada di rumah?” tanyanya lagi, aku menggigit bibir bawahku pelan memikirkan jawaban apa yang harus ku berikan padanya, jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku yakin Kyuhyun oppa akan semakin khawatir dan menyusulku kesini, aku tak mau mengganggu waktu istirahatnya hanya karena hal sepele seperti ini.

“Ada, dia ada di rumah.” Ucapku berbohong, Kyuhyun oppa menghembuskan napasnya lega yang justru membuat dadaku semakin sesak.

“Syukurlah, dari tadi aku terus mengkhawatikanmu. Oppamu itu berubah, dulu dia sangat overprotective, tapi sekarang dia berbalik menghindarimu dan itu membuatku khawatir” jelasnya panjang lebar.

Aku mendongakkan kepalaku ke atas, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku dan siap meluncur kapan saja. Menangisi kebodohanku yang melewatkan orang seperti dirinya dan lebih memilih mencintai seorang lelaki yang jelas-jelas memiliki hubungan darah denganku.

Author’s pov

Pagi-paginya Yonghee terbangun dengan keadaan sudah berada di dalam kamar dengan selimut  tebal yang menyelimutinya. Mungkin Donghae yang memindahkannya ke kamar, entahlah. Gadis itu tak mau memikirkannya.

Dia sudah siap untuk berangkat sekolah sekarang, seragam dan segala keperluannya sudah rapi, hanya tinggal merapikan penampilannya saja, seperti yang sedang ia lakukan saat ini.

“Hah…aku merindukan Hae oppa yang dulu…” Gumamnya lemah dengan mata yang berkaca-kaca menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya pucat dan lingkaran hitam itu tercetak jelas di wajahnya, menunjukkan dengan jelas jika kesehatan gadis itu sedang terganggu.

Yonghee mengambil tasnya di atas kasur lalu memutar kenop pintu itu pelan, dan hal yang pertama kali dilihatnya saat keluar dari kamar adalah Donghae yang sedang sarapan dengan lahapnya, senyuman itu mengembang begitu saja di bibir merahnya melihat orang yang dicintainya itu makan dengan baik. Namun beberapa menit kemudian senyuman itu pudar saat Donghae menyadari kehadirannya lalu memakan sarapannya terburu buru. Laki-laki itu mengmbil tasnya cepat dan berjalan menuju pintu keluar, mencoba menghindari adiknya.

“Oppa…” Panggil Yonghee sembari mencengkram erat jaket yang di pakai Donghae di bagian lengan, laki laki itu tidak bergeming, ia hanya menghentikan langkahnya, tapi matanya menatap lurus ke depan, seolah menghindari kontak mata dalam bentuk apapun dengan adik ‘kesayangannya’ itu.

“Maaf, jika aku memang menjadi beban untukmu. aku minta maaf…” Gumam Yonghee dengan suara yang bergetar, cengkramannya semakin erat di jaket Donghae, membuat kain tebal berwarna biru itu kusut.

“Tapi setidaknya jangan menghindariku seperti ini oppa… kau membuatku sakit.” Ucapnya lemah, Donghae menghembuskan napasnya berat lalu berbalik menatap Yonghee tajam.

“Lalu kau mau aku bagaimana?” tanyanya dingin, membuat gadis yang ada di hadapannya menundukkan kepalanya dalam.

“Kau mau aku tetap bersikap biasa padamu setelah semua yang terjadi, huh?” tanyanya lagi, membuat Yonghee semakin bergetar mendengar pertanyaan kakaknya yang cenderung kasar.

“Kau bisa menganggapnya lelucon jika kau mau.” Jawab Yonghee terbata-bata. Donghae mengusap wajahnya kasar lalu mencengkram bahu gadis itu kasar.

“Kau mau aku menganggap pengakuan cinta tak wajarmu itu sebagai lelucon, hah?” teriaknya keras di depan wajah adiknya, dan air mata itupun turun begitu saja seiring dengan kepalanya yang terangkat tanpa tenaga, menatap kakanya yang menhina perasaan cintanya itu tidak percaya.

“Tak wajar?” ucapnya lemah.

“Benar, tak wajar. Aku memang orang aneh.”

Yonghee tertawa mengenaskan sambil melepaskan tangan Donghae yang masih memegang erat bahunya.

“Hatiku memang hina, diriku mencintai orang yang salah, aku mengerti oppa, maafkan aku.”

to be continued.

[1] . Kata sapaan formal yang di ucapkan ketika bertemu atau pergi

[2] . Halo

2 thoughts on “Destiny (Part 6)”

  1. hi there!

    wah pas awal-awal baca ingin ngakak sama kelakuannya Kyuhyun. padahal di sekolah harusnya dingin malah nyapa Yoong dengan so swit wkwkkw.
    adududuu~ jangan jangan Donghae juga merasakan getar yang sama (?) jangan jangan mereka…. hmmmmm penasaran deh wkwkwk

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s