MY 20 eps.3

My 20 - 2

By Goo Ma Ra

Starring SEVENTEEN’s Jeonghan, HELLO VENUS Seoyoung and NUEST Aaron

4 Episodes/17/romance/Episode 3

MY 20

Eps. 1 / 2

Last Episode

“Kenapa matamu hitam, seperti tidak tidur semalaman?”

“Mungkin aku hanya kelelahan, nuna. Jangan mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja.”

“Siapa yang mengkhawatirkanmu? Kalau kau keseringan begadang, kau akan cepat lelah. Dan kalau kau kelelahan maka kerjamu tidak akan baik. Aku tak mau dibuat repot olehmu.”

            Seoyoung lagi-lagi melayangkan tangannya ke kepala Jeonghan dan membuat Jeonghan meringis kesakitan.

“Kau slalu saja memukulku.” Protes Jeonghan yang tak digubris oleh Seoyoung.

“Dari cara bicaranya dia tidak ingat sama sekali kejadian semalam. Fiuhh syukurlah kalau begitu, kenapa aku yang jadi gugup begini? Kalau dia lupa aku tak perlu takut sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi. Semoga saja.” Curhat batin Jeonghan.

Episode 3

            Selama seminggu ini, hal yang sama selalu terjadi setiap malamnya. Sepulang kerja Seoyoung selalu pergi ke kedai itu, minum banyak, mabuk, dan akhirnya menelpon Jeonghan yang tetap saja dia kira adalah Aaron. Setiap malam Jeonghan menemani Seoyoung di ranjang hingga Seoyoung tertidur. 2 malam yang lalu bahkan Jeonghan kelelahan hingga hampir tertidur bersama di ranjang Seoyoung, untung saja dia terbangun sebelum pagi sehingga Seoyoung tidak pernah mengetahuinya. Selalu sama setiap harinya. Di malam hari Seoyoung mengira Jeonghan adalah Aaron, maka keesokan harinya saat bekerja Seoyoung bersikap seperti tidak terjadi apa-apa semalam antara dia dan Jeonghan. Tapi ternyata Jeonghan makin hari makin dibuat gugup oleh Seoyoung. Tanpa dia sadari detak jantungnya berpacu semakin cepat tiap harinya ketika bertemu Seoyoung. Seoyoung juga belakangan ini sering berbuat baik pada Jeonghan dan membuat Jeonghan menentang hatinya sendiri bahwa dia mulai menyukai Seoyoung.

“Nah, untukmu.” Seoyoung menaruh sebuah roti diatas Jeonghan disaat Jeonghan sedang serius membaca naskah.

“Ah, tidak usah nuna. Terima kasih, aku sudah dapat tadi.” Jeonghan berusaha mengendalikan jantungnya yang mulai berdegub tak menentu.

“Aku tak terima penolakan.” Seoyoung menepuk kepala Jeonghan lalu duduk dikursinya yang bersebelahan dengan Jeonghan.

“Terima kasih, nuna.”

“Ya ya ya, kau harus makan banyak supaya kinerjamu semakin bagus. Supaya kau tidak lelah saat aku menyuruhmu.”

            Mau berkata bagaimana pun, Seoyoung tetap saja sudah membuat suhu tubuh Jeonghan naik turun dan juga membuat jantung Jeonghan berdegub tak menentu karena gugup.

            Jeonghan pun sampai dikamar apartemennya. Dia lirik arlojinya, dia menebak bahwa kurang dari 10 menit lagi Seoyoung akan menelponnya. Dia memutuskan tidak mengganti baju dan segera pergi ke kedai sebelum Seoyoung menelpon, daripada nanti dia harus berlari lebih baik dia pergi sekarang jadi dia bisa sedikit lebih santai.

Kring….kring…

“Tepat sekali, aku sudah hampir sampai. Yeoboseyo?”

“Jemput aku, sayang.”

“Oke.”

Tut..tut..

            Jeonghan pun sampai di kedai lebih cepat, dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan ini.

“Cepat sekali kau datang. Kau ini flash ya, Aaron? Haha.” Seoyoung masih mengira Jeonghan adalah Aaron.

            Jeonghan pun menggendong Seoyoung hingga sampai di apartemennya. Seperti biasanya, Jeonghan mengelap terlebih dahulu wajah Seoyoung sebelum merebahkannya di ranjang. Benar-benar seperti layanan plus-plus.

“Jangan pergi dulu ya.” Ucap Seoyoung sembari memeluk Jeonghan yang berbaring disebelahnya.

“Ne..” Jeonghan hanya menurut saja seperti biasanya. Jeonghan memeluk Seoyoung sambil membelai lembut Seoyoung agar segera tertidur.

“Bisakah kau tidak pergi malam ini?” Seoyoung membuka sedikit matanya dan memegang wajah Jeonghan. Jeonghan menarik kembali Seoyoung kedalam pelukannya agar Seoyoung tidak melihat wajahnya, kalau sampai Seoyoung sadar maka akan ada kesalahpahaman yang sangat rumit nantinya.

“Tapi…”

“Aku mohon, sekali ini saja. Aku ingin terbangun dengan kau masih disebelahku. Temani aku tidur hingga aku terbangun besok.”

“Baiklah.” Jeonghan hanya bisa berpasrah.

“Terima kasih. Aku selalu terbangun ketika kau melepaskan pelukanmu dari ku dan pergi. Hanya saja aku tak sanggup membuka mata dan memintamu untuk tetap tinggal.”

            Jeonghan hampir gagal jantung mendengar perkataan Seoyoung, dia kira Seoyoung menyadari bahwa dirinya bukanlah Aaron.

“Aaron..” panggil Seoyoung dengan nada lembut yang membius Jeonghan walaupun bukan Jeonghan yang di panggil.

“Ne, ada apa?” Jeonghan sedikit merasa sakit karena bukan namanya yang disebut.

“Mataku sepertinya kelilipan. Bisa kau tiupkan?”

“Kau sedari tadi terpejam, bagaimana bisa kau kelilipan? Dasar nuna babo.” Lirih Jeonghan dalam hati.

            Jeonghan menurut saja dan meniup mata Seoyoung. Saat sedang meniup mata Seoyoung, tiba-tiba Seoyoung menarik kepala Jeonghan dan mendaratkan bibirnya menyetuh permukaan lembut bibir Jeonghan. Jeonghan terkejut dan terpaku tanpa bisa menolak. Jeonghan terbuai dalam smooth kissing yang diberikan Seoyoung. Kali ini Jeonghan menyerah dan mengakui bahwa dia telah jatuh cinta pada Seoyoung. Seoyoung telah merebut hati Jeonghan, Seoyoung juga telah merebut first kiss milik Jeonghan. Setelah mereka berdua terlepas, Jeonghan hanya bisa terdiam. Dia hampir terkena serangan jantung karena ini. Dia tidak bisa lagi menyangkal semua reaksi dalam tubuh dan juga hatinya saat Seoyoung memberikan aksi terhadap dirinya. Seoyoung kembali menenggelamkan tubuhnya didalam pelukan Jeonghan.

Deg.. deg.. deg..

“Aku bisa merasakan jantungmu berdetak kencang. Apakah kau gugup?” Jeonghan gugup dan hanya bisa terdiam.

“Sudah lama ya kita tidak kissing.”

            Jeonghan masih terdiam dan matanya masih terbuka lebar, sedangkan Seoyoung sudah tertidur pulas.

“Kau berhasil merebut hati dan juga bibirku, Seoyoung nuna,” Jeonghan pun memeluk erat Seoyoung dan akhirnya tertidur pulas.

            Hingga mentari muncul Jeonghan dan Seoyoung masih tertidur pulas. Lalu Seoyoung membuka mata dan menyaksikan dirinya sedang memeluk seorang pria di sampingnya.

“Aku tak bisa menolak memimpikan Aaron tertidur disebelahku dan sedang memelukku. Aku suka tapi aku juga benci.” Seoyoung mengira ini adalah mimpi.

            Seoyoung pun mengangkat kepalanya dan melihat wajah pria yang sedang tertidur disebelahnya.

“Jeonghan? Bukan ini mimpi yang aku maksud.” Terjadi perang batin pada Seoyoung. Hingga Seoyoung mencubit pipinya sendiri dan dia sadar bahwa ini bukanlah mimpi.

“Eungghhh.” Jeonghan pun bergerak dan akhirnya bangun. Seoyoung langsung memejamkan mata dan pura-pura tidur.

“Kau masih tidur, nuna? Lihat wajahmu ini, tak seharusnya kau terus-terusan larut dalam bayang-bayang pria bernama Aaron itu.” Jeonghan membelai lembut wajah Seoyoung.

“Apa yang kau lakukan disini?”

            Seoyoung terbangun dan membuat Jeonghan terkejut.

“Nuna…” Jeonghan secepatnya bangkit dari ranjang.

“Beraninya kau bocah tengik!!!!”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, nuna..”

            Seoyoung menghujami Jeonghan dengan pukulan tak bertenaga. Jeonghan pun menahan Seoyoung agar tidak memukulnya.

“Dengarkan penjelasanku, nuna.”

“Lepaskan aku!” Jeonghan pun melepaskan Seoyoung. Seoyoung menjauhi Jeonghan dan mengambil bantal didekatnya bersiap-siap untuk melempar Jeonghan.

“Kau mabuk berat semalam…”

“Kau bohong!”

“Kau memang selalu seperti ini. Seminggu terakhir setiap pulang kerja kau pergi ke kedai dan minum sangat banyak. Disaat kau mabuk kau malah menelponku. Aku selalu mengantarmu pulang. Kau selalu mengira aku adalah Aaron. Kau selalu minta di temani tidur. Saat kau tertidur aku langsung pergi. Aku kira ini hanya akan terjadi satu kali saja. Tapi kau terus begini setiap malamnya hingga tadi malam, kau benar-benar menganggap aku adalah Aaron hyung. Kau menceritakan semuanya, mungkin hampir semua yang pernah kau lakukan dengan Aaron hyung kau juga lakukan padaku. Aku tak bisa menolak. Jika menolak kau mengancamku, kau akan berteriak dan juga menangis. Lalu, kau selalu bersikap biasa saja saat di kantor seakan tidak terjadi apa-apa semalam. Dan untungnya, orang yang kau telepon selalu sama. Bisa kau bayangkan kalau tiap malam akan berbeda orang yang kau telepon? Apakah kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu? Aku tidak bisa menolaknya. Siapa yang akan menjemputmu? Siapa yang akan mengantarmu pulang? Siapa yang akan menemanimu? Aaron hyung? Membaca nama Aaron hyung pada hp mu saja kau salah dan malah meneleponku. Aku mengkhawatirkanmu, Seoyoung nuna”

            Jeonghan menjelaskan semuanya dan Seoyoung hanya terdiam. Seoyoung pun akhirnya ingat semuanya. Mulai dari saat pertama kali dia menelpon Jeonghan hingga tadi malam.

“Apa saja yang aku lakukan padamu? Apa aku menciummu?” mata Seoyoung berkaca-kaca.

“Tidak. Ya tidak, kau tidak sampai melakukan hal sejauh itu.”

“Baguslah.”

            Seoyoung tertunduk tak percaya setengah mati. Dia menciumi bajunya dan benar, dirinya sangat bau akan alcohol.

“Kau seharusnya mengenal pria lain. Kau harus lupakan dia, nuna. Kau tidak bisa sok kuat seperti ini selamanya. Kau harus mencoba menyukai pria lain. Lihat betapa menyedihkannya dirimu. Apakah pria itu memikirkanmu sekarang? Bagaimana keadaanmu? Sedangkan kau masih saja memikirkannya hingga kau hampir gila seperti ini.”

“Sekarang kau tau semuanya.” Seoyoung menahan air matanya

“Tenang saja. Aku tak akan menjadi seperti orang-orang yang menjatuhkanmu. Akan aku jaga rahasiamu. Seperti aku menjaga rahasiaku sendiri. Aku berjanji.”

            Jeonghan mengacungkan jari kelingkingnya, Seoyoung hanya menatapnya sendu.

“Maaf aku sudah merepotkanmu. Aku tidak bermaksud melakukan semua ini. Semua ini diluar kendaliku. Terima kasih kau sudah mengerti semua ini, terima kasih untuk semuanya. Apapun yang aku lakukan padamu selama ini, mulai dari pertama kita bertemu hingga sekarang. Maafkan aku. Kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku. Kau bisa tidur tenang sekarang. Aku janji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Jangan pernah lagi menghiraukan teleponku jika aku meminta sesuatu yang aneh. Kau boleh pergi sekarang.”

            Seoyoung memalingkan tubuhnya membelakangi Jeonghan. Dia tak ingin Jeonghan  melihatnya menangis.

“Ingat ini. Jika kau butuh teman, aku selalu siap jadi temanmu nuna. Dan aku mohon, jangan ada yang berubah darimu. Tetaplah jadi Seoyoung nuna yang tegas, berprinsip kuat dan juga kasar. Yang harus kau ubah hanyalah isi hatimu. Carilah pria lain. Aku pergi dulu.”

            Jeonghan pun meninggalkan apartemen Seoyoung dan kembali ke apartemennya. Sedangkan Seoyoung terduduk lemas di lantai, menangis menyesali kejadian selama ini yang dia tidak sadari.

                                                                                    *

                                                                                    *

                                                                                    *

            Seharian ini Seoyoung tak berbicara sedikitpun. Dia hanya melamun seharian. Tingkahnya ini membuat orang-orang kebingungan. Seoyoung melamunkan kejadian tadi pagi.

“Menurutmu hal apa yang membuat singa itu jinak, Jeonghan?” Tanya ketua tim.

“Entahlah, aku tidak tau.”

            Jeonghan pun menghampiri Seoyoung yang sedang melamun di ruangan on air.

“Kau baik-baik saja, nuna?” Jeonghan khawatir dengan sikap Seoyoung yang tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini.

            Seoyoung tak menggubris pertanyaan Jeonghan.

“Nuna? Nuna?” Jeonghan melambaikan tangannya didepan wajah Seoyoung.

“Ah kenapa? Kau bilang apa?”.

            Seoyoung benar-benar melamun sampai-sampai dia tidak mendengar Jeonghan.

“Kau habis menangis, nuna?”

“Ti-tidak!!”. Seoyoung langsung memalingkan muka.

“Benar? Apakah kau baik-baik saja?”

“Sudah pergi sana, jangan ganggu aku.” Seoyoung berteriak dan memukul Jeonghan dengan gulungan kertas.

“Baiklah, nuna.” Jeonghan pergi sambil tersenyum. Dia berhasil membuat Seoyoung kembali menjadi dirinya.

            Saat selesai makan siang. Jeonghan menghampiri Seoyoung yang tengah duduk dimeja kerjanya.

“Nuna, apa kau sibuk?”.

“Tidak, kenapa?”

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Jangan bilang kau buat masalah lagi?”

“Tidak, nuna. Kali ini tidak. Aku hanya mau memberitahumu, kalau aku akan cuti selama 4 hari. Mulai besok aku tidak masuk kantor.”

            Seoyoung terkejut dan membelalakan matanya kearah Jeonghan. Jeonghan pun terkejut melihat reaksi Seoyoung. Sadar kalau Jeonghan mendeteksi reaksi terkejutnya, Seoyoung mulai meralat reaksinya.

“Kenapa kau cuti?”

“Ibuku akan pindah ke Busan. Tak ada yang membantunya, jadi aku akan pulang dan membantunya untuk pindahan.”

“Hm, begitu. Kalau atasan mengijinkanmu, ya silahkan pergi. Nikmati 4 harimu tanpa aku. Kau bisa berlibur dan bebas tanpa mendengar suaraku. Kau bisa tenang selama 4 hari.”

“Kenapa kau berkata seperti itu? Aku tidak pernah merasa seperti yang kau pikirkan.”

“Sudah hentikan, kau banyak bicara. Aku pusing mendengarnya. Pergi sana.” Jeonghan pun pergi meninggalkan Seoyoung.

            Jeonghan pun masuk kedalam kamarnya. Dia segera mandi dan membereskan barang-barang untuk besok dia berangkat ke Busan. Hari ini seperti biasa, dia merasa sangat lelah. Jeonghan pun menatap hpnya. Biasanya jam segini Seoyoung sudah menelpon. Jeonghan kali ini harus belajar tenang dan berusaha untuk tidak mengkhawatirkannya.

“Tetap saja aku tak tenang. Sial!!”. Jeonghan pun pergi dari kamarnya dan berlari menuju kedai.

            Dan seperti dugaannya, Seoyoung sedang ada disana. Seoyoung terkejut melihat Jeonghan datang ke kedai.

“Kenapa kau disini?”

“Kau bilang ini tidak akan terjadi lagi, nuna?”

“Aku tidak menelponmu kan? Bukankan hal seperti kemarin-kemarin tidak terjadi malam ini?”

“Ayo kita pulang.”

            Jeonghan menarik tangan Seoyoung tapi Seoyoung melepasnya.

“Sudah aku bilang, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Kau pulang saja. Bukankah kau harus menyiapkan barangmu untuk pergi besok?”.

“Berjanjilah. Kau tidak akan minum selama aku tidak ada. Aku mohon. Aku ini temanmu kan?”

            Jeonghan mengacungkan jari kelingkingnya. Dan hanya di balas senyuman oleh Seoyoung.

“Sudah kau pulang sana.” Seoyoung mendorong tubuh Jeonghan keluar dari kedai.

            Jeonghan pun pergi meninggalkan Seoyoung. Dia berharap Seoyoung menepati omongannya.

“Ini malbimu, nona.”

“Terima kasih, bibi. Mulai sekarang aku tidak bisa minum di tempatmu lagi.”

“Tidak apa, yang penting kau baik-baik saja.”

            Seoyoung pun keluar dari kedai dan mendapati Jeonghan masih menunggu didekat kedai.

“Kau masih disini?”

            Jeonghan hanya menatap Seoyoung dengan tatapan sedih.

“Kau pulang naik bus kan? Ayo kita barengan saja.”

            Seoyoung menarik tangan Jeonghan menuju halte bus. Saat didalam bus, Jeonghan duduk ditempat lain dan bukannya disebelah Seoyoung.

“Kau tidak sopan sekali. Membiarkan seorang wanita yang kau kenal duduk sendirian.”

            Kali ini tak ada nada tinggi keluar dari mulut Seoyoung. Jeonghan hanya menurut tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Jeonghan pun duduk di sebelah Seoyoung.

“Sudah lama aku tidak naik bus.”

            Seoyoung melihat keluar jendela sembari tersenyum. Jeonghan hanya bisa menatap Seoyoung.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

            Seoyoung tersenyum kepada Jeonghan dan membuat Jeonghan semakin tak sanggup berkata-kata. Mereka pun sampai di apartemen.

“Selamat malam, nuna.” Jeonghan mengucapkannya dengan nada lesu.

“Hey, kenapa nadamu seperti itu? Kau harus semangat, besok kan kau pulang.”

            Seoyoung menepuk-nepuk bahu Jeonghan.

“Selamat malam, Yoon Jeonghan.”

“Tidurlah dengan nyenyak, nuna.”

            Seoyoung membalasnya dengan senyuman dan masuk kedalam apartemen miliknya.

“Kenapa aku seperti tidak ingin meninggalkannya?”

            Jeonghan bergumam dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.

To Be Continue

 

3 thoughts on “MY 20 eps.3”

  1. hi there!

    waaaa cie Junghan jatuh cintaaaa~ Seoyoung bisa bisanya sampe baru sadar selama ini Junghan yg ngerawat (?) bukan Aron hehhhe.
    kayanya Seoyoung tumbuh bunga bunga ke Junghan gitu deh wkwkwk. gimana ya 4 hari tanpa Junghan~ hahhha xD

    see ya~

    Suka

    1. Hi here/? Wkwk

      Aku paling suka part ini tau :v waktu nulis bagian ini senyum2 sendiri hehe😀 mulai ada benih2 gimana gtu.. benih cinta mksdnya wkwk

      Tunggu saja kelanjutannya
      Gamsahamnida *goomara bow

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s