My Life? – Part 2

My Life END

Title: My Life? – Part 2

Scriptwriter: Shayo

Twitter/Instagram: @ssharoon/@sharonyoputri

Genre: Drama, Friendship, Slice of Life

Duration: Series (4 Parts & 2 Extra Parts)

Rating: PG-15

Main Cast:

  • Yoon Doojoon
  • Choi Jun Hee
  • Yang Yoseob
  • Yong Junhyung

Support Cast:

  • Jang Hyunseung
  • Son Dongwoon
  • Heo Gayoon
  • Lee Gikwang

Previous: 1

Summary: Don’t force together pieces that don’t fit – PictureQuotes.com

Ruangan yang penuh dengan pernak – pernik berwarna putih. Tapi ruangan ini tidak dapat disebut sebagai kamar tidur ataupun ruang tamu. Ruangan ini hanya memiliki beberapa lemari dengan ukuran yang berbeda, sebuah meja lengkap dengan kursinya, dan ranjang yang kecil bahkan seperti ranjang yang berada di UKS (Unit Kesehatan Sekolah).

Seorang yeoja tertidur lelap di atas ranjang itu. Tidurnya sangat pulas dan juga damai. Tak ada seorangpun yang membangunkannya, bahkan nyamuk pun enggan membangunkannya. Perlahan tubuh yeoja itu bergerak sedikit demi sedikit, mungkin yeoja itu mulai tersadar dari mimpinya yang indah. “Ini dimana?” bisik yeoja itu perlahan sambil mengedip – ngedipkan kedua matanya agar sadar sepenuhnya. Yeoja itu berusaha mengingat – ngingat hal yang terjadi sebelumnya.

“A..!!” Yeoja itu mengingat sesuatu dan duduk di ranjang. Yeoja itu membungkam mulutku dengan saputangan dan akhirnya kesadaranku menghilang. Setelah itu.. ehm.., batin Junhee. Ya benar, yeoja itu adalah Junhee. Junhee terlihat berpikir keras mengingat apa yang terjadi setelah ia tak sadarkan diri.

“Akhirnya kamu bangun juga, yeoja beasiswa” kata seseorang dari arah pintu.

“Kamu..?”  Yoon Doojoon! Junhee segera beranjak dari ranjang.

“Heee.. ternyata yeoja beasiswa macam kamu bisa berubah drastis juga” kata Doojoon sambil melihat Junhee dari atas ke bawah.

“Maksudnya?” Apa maksudnya? Ada yang aneh? Bajuku memang diganti.. Apa?! Bajuku diganti?!! Ini.. Baju terusan?

“Tsk.. Babo.” Doojoon menarik paksa tangan Junhee yang sedang kebingungan.

“Nih lihat sendiri” Doojoon membawa Junhee ke depan cermin yang besar dan panjang. Cermin itu dapat menyorot bagian tubuh dari atas sampai bawah.

“Ini.. Aku?” Junhee tak percaya dengan apa yang ia lihat. Gaya rambut Junhee di ikalkan dan di ikat ke atas. Riasan yang cantik dan juga lembut cocok untuk wajah Junhee yang oriental. Baju terusan berwarna kuning keemasan membuat gaya Junhee menjadi anggun dan berkelas. Junhee seperti Gongju, ya benar. Seorang gongju yang berada di istana menunggu seorang wangja yang datang menghampirinya. CTIK.. CTIK.. Suara hentakan jari Doojoon menghilangkan lamunan Junhee. “Ya! Jangan melamun saja. Aku mengerti kamu terkejut. Tapi bukan berarti kamu menjadi bisu.”

“Ne. Lalu, kenapa aku..?”

“Kamu janji akan mengikuti apa yang kita mau selama kamu bekerja disini bukan?”

“Ne. Sunbae-nim ingin apa?” tanya Junhee pasrah.

“Tiga hal yang akan kamu lakukan. Pertama, selama di rumah panggil aku dengan sebutan Oppa.”

“Eh?” Oppa? HAHA.. Ga salah?

“Kedua, di sekolah dan saat kamu bekerja menjadi hanyeo di rumah ini, kamu tetap memanggilku Yoon Doojoon Sunbae-nim. Tidak boleh kurang sedikitpun.” Junhee hanya mengangguk – ngangguk tanda mengerti.

“Ketiga, di depan keluargaku dan juga yeoja menyebalkan itu, kamu harus berpura – pura menjadi yeoja-chinguku. Arraseo?” Junhee mengangguk – ngangguk dan..

“Baiklah..Eh? Tapi kenapa?”

“Aku tidak menerima pertanyaan, pokoknya kamu harus melaksanakan semua hal yang harus kamu lakukan.”

“Tapi.. menjadi yeoja-chingu itu sulit. Apalagi kalo bumonim sunbae ada di rumah. Bagaimana bisa aku menjadi hanyeo dan juga yeoja-chingu sunbae?” (부모님 bumonim : parents)

“Itu masalahmu. Kamu tinggal tidak bertemu dengan bumonimku atau tidak usah mendekat saja. Mudah bukan?” jawab Doojoon dengan santai.

“Tapi…”

“Tidak usah tapi – tapi. Beberapa menit lagi tugas kamu untuk menjadi yeoja-chingu akan dimulai.” Kata Doojoon sambil melihat jam tangannya.

“Ne.. Arraseumnida” Kenapa? Kenapa harus menjadi yeoja-chingu nya? Permainan apalagi ini? Baiklah Junhee-ya. Kamu harus mengikuti permainan ini untuk kehidupan yang lebih baik. Bersabarlah Junhee-ya, jangan melawan. Ikuti saja apapun kata – kata Wangja ini.

“Ya! Doojoon-a, yeoja itu sudah datang!” kata Yoseob berlari ke arah pintu diikuti oleh Junhyung. Yoseob dan Junhyung terkejut melihat penampilan Junhee yang tidak seperti biasanya.

“Wow! Ternyata yeoja beasiswa bisa berubah menjadi Gongju” kata Yoseob takjub.

“Memang make over itu bukan ide yang buruk” kata Junhyung tersenyum tipis. Junhee hanya menunduk malu mendengar kata – kata mereka. Benarkah? Apa aku.. Cantik? Babo Junhee-ya! Aneh – aneh saja kamu.

“Sudah – sudah kalian berdua. Jangan aneh – aneh. Yeoja itu datang sendiri?” tanya Doojoon.

“He – eh. Dia seharusnya sudah menunggu di kamar kamu” kata Yoseob.

“Baiklah. Acting start.” Kata Doojoon tersenyum lebar. Doojoon berjalan keluar menuju kamarnya diikuti oleh Yoseob. Junhee tetap diam tak mengerti.

“Ya! Kenapa diam? Ayo ikut.” Kata Junhyung. “Kamu peran utama dalam sandiwara ini, jangan seperti orang tidak mengerti begitu.”

“Aku? Peran utama?”

“Sudahlah ikuti kami” Junhyung menarik tangan Junhee. Junhee dan Junhyung berjalan mengikuti Doojoon dan Yoseob ke arah kamar Doojoon.

“Baiklah aku akan menjelaskan secara singkat.” Kata Junhyung dengan nada menyerah, Junhyung tak tahan karena melihat wajah Junhee yang polos seakan tak tau apa yang harus ia lakukan.

“Yeoja yang akan kamu temui nanti adalah calon tunangan Doojoon. Tapi itu mungkin.” Kata Junhyung menjelaskan. Junhee terkejut dan menoleh ke arah Junhyung.

“Pasti kamu merasa aneh, kenapa seorang namja yang sudah memiliki calon tunangan ingin kamu berpura – pura menjadi yeoja-chingu nya bukan?” Junhee hanya mengangguk pelan.

“Doojoon tidak ingin dijodohkan. Ya itu alasannya, walaupun yeoja yang berada di kamar itu belum pasti menjadi calon tunangan Doojoon-ie. Tapi untuk berjaga – jaga, lebih baik menyiapkan suatu trik.” Kata Junhyung lagi. “Sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan?”

“Ehm.. Ne..”

“Tenang saja, kamu tidak terlihat seperti yeoja beasiswa sekarang. Kalo tau seperti ini, aku tidak akan mengikuti rencana Doojoon” kata Junhyung tersenyum simpul.

“Maksudnya?” tanya Junhee tak mengerti. Tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu kamar Doojoon.

“Ya! Yeoja beasiswa, jangan sampai salah. Arraseo?” ancam Doojoon.

“Ne..”

Pintu kamar Doojoon terbuka. Mereka serempak berjalan menuju ruangan paling dalam. Seorang yeoja sudah duduk menunggu disana. Yeoja itu berambut panjang ikal berwarna coklat tua, pakaian sabrina warna biru langit membuat yeoja itu lebih manis, juga dengan legging warna hitam dan sepatu heels berwarna putih gading. Wajahnya oriental, cantik, make up natural membuatnya semakin manis dan dewasa.

“Annyeong Doojoon-ie!” Yeoja itu bangkit dari duduknya dan menyapa Doojoon dengan ceria. “A.. Annyeong Junhyung-ie, Yoseob-ie”

“Annyeong..” kata Junhyung dan Yoseob serempak.

“Annyeong Heo Gayoon. Ada perlu apa kamu kesini?” kata Doojoon sedikit ketus.

“Ehm.. Memang aku tidak boleh datang kalo tidak ada perlu?” Gayoon tersenyum tipis. “Siapa yeoja ini?! Imut dan manis. Ini chingu kamu Junhyung-ie?” Gayoon melihat ke arah Junhee dengan sangat ceria.

“A.. Annyeonghaseo.” Junhee refleks membungkuk 90 derajat.

“Ani. Choi Junhee, hoobae kami di Sekolah Rebellion. Dia juga yeojachingu ku mulai sekarang.” Kata Doojoon sambil merangkul pundak Junhee. (후배hoobae : junior, 여자 친구 yeojachingu/yeochin : girlfriend)

“A.. Begitu. Kenapa tidak mengenalkannya padaku?” Gayoon mendekat ke arah Junhee.

“Namaku Heo Gayoon. Kamu bisa memanggilku Gayoon eonni. Bangapseumnida Junhee-ya” Gayoon menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Junhee. Junhee secara terburu – buru menjabat tangannya.

“Ne.. Gayoon eonni. Bangapseumnida.” Ini tunangan Doojoon sunbae? Cantik..

“Heyhey, bagaimana kalo kamu temani aku berbelanja? Sudah lama aku tidak berbelanja bersama teman. Ayo ayoo.” Gayoon menarik tangan Junhee.

“Yaa!! Jangan mengajak yeochin ku sembarangan.” Kata Doojoon sedikit membentak. Bukannya Doojoon tidak mengijinkan, tapi kalo sampai Junhee salah bicara. Habislah semua rekayasa ini.

“Huuu baiklah kalian kan bisa ikut. Ayoo Junhee-ya. Aku akan memilihkan pakaian yang imut, bahkan lebih imut dari pakaian yang kau pakai sekarang.”

“A.. Tapi eonni..” Junhee melirik Doojoon, Junhyung, Yoseob secara bergantian. Mereka mengangguk setuju.

“Ne eonni. Aku ikut.” Junhee tak biasanya kau begini. Apa kamu mahir di bidang akting?

“Baguss.. Ayoo” Gayoon menggandeng tangan Junhee. “Lalu? Kalian para namja ikut?”

“Tentu saja, aku juga ingin mencari baju” kata Yoseob.

“Kalo begitu kamu yang bawa mobil Junhyung-a. Aku duduk di belakang bersama Junhee dan Doojoon-ie”

“Hhh.. Baiklah”

Tak sampai 20 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah gedung mall yang terlihat mahal dan mewah. Selama perjalanan, Gayoon mengajak Junhee mengobrol seperti latar belakang keluarga Junhee dan juga kapan bertemu dengan Doojoon dan yang lainnya. Hampir semua jawaban Junhee di jawab oleh Doojoon.

“Keluargamu mempunyai usaha apa Junhee-ya?” tanya Gayoon.

“Keluarganya memiliki museum lukisan” jawab Doojoon. Okay itu bohong, tapi tau darimana aku suka melukis?

“Wahh, apa kamu suka melukis? Kapan – kapan lukis aku yaa?”

“Tapi eonni, aku belum sepandai kedua orangtuaku” Junhee-ya sudah berapa kali kamu berbohong hari ini?

“Tenang saja, asalkan kamu membuatku lebih cantik dari aslinya, aku tetap suka kok” kata Gayoon tersenyum lebar.

“Lalu, bagaimana bisa kamu bertemu dengan Doojoon dan yang lainnya?”

“Kita bertemu dan berkenalan, lalu aku suka padanya dan akhirnya menjadi yeochin ku.” Jawab Doojoon ketus.

“Yaa!! Doojoon-a aku bertanya kepada Junhee, bukan kamu!” kata Gayoon sedikit bete.

“Sudah sudah. Kita sudah sampai.” Kata Yoseob menengahkan.

“Junhee-ya bagaimana dengan ini?” Gayoon memperlihatkan baju terusan berwarna peach dengan renda – renda di sekitar lingkaran roknya.

“Bagus. Eonni pasti cocok.” Aku bisa langsung bicara akrab dengan Gayoon eonni? Tapi.. memang eonni sangat baik dan cantik.

“Ini bukan untukku. Untuk kamuu. Ayo coba Junhee!!” Gayoon mendorong Junhee menuju ruang ganti. “Kalo sudah pakai, perlihatkan padaku ya.”

Karena toko baju ini menjual pakaian namja dan juga yeoja. Junhyung yang sangat menyukai fashion berkeliling melihat kesana kemari baju yang ingin ia beli, begitu juga dengan Yoseob. Sementara Doojoon yang khawatir dengan apa yang Junhee lakukan tetap mengikuti Gayoon dan Junhee tanpa memperdulikan baju – baju di toko itu.

“Sedang apa kamu disini Doojoon-a? Lebih baik kamu bersama Junhyung dan Yoseob mencari – cari baju juga.” kata Gayoon yang bingung melihat Doojoon yang malah duduk di depan ruang ganti pakaian Junhee.

“Yeoja itu lama memilih baju, lebih baik kamu bersama namja saja.” Kata Gayoon lagi.

“Apa rencanamu Gayoon-a?”

“Maksudmu? Aku tak mengerti.”

“Untuk apa mengajak Junhee berbelanja bersamamu?”

“Memang tidak boleh? Aku memang sudah lama tidak berbelanja. Lalu aku suka dengan Junhee dia manis dan imut, dia seperti dongsaengku.”

“Mana ada orang yang baru bertemu langsung menganggap orang itu dongsaengnya sendiri.”

“Ada. Itu aku.” Cibir Gayoon.

“Gayoon-a, lebih baik kamu..” SREKK.. Ucapan Doojoon terhenti sesaat karena tirai Junhee bergerak terbuka. Junhee memakai gaun terusan yang tadi di pilihkan oleh Gayoon. Doojoon dan Gayoon hanya melihat ke arah Junhee. Aneh ya? Mereka diam saja. Eottokhe?

“Ehm.. Aneh ya?”

“Kamu imuuttt banget Junhee” Gayoon memeluk Junhee. Doojoon hanya memalingkan wajahnya karena merasa panas di kedua pipinya.

“Aku belikan kamu baju ini yaaa. Nanti kamu pakai saat pesta ulang tahun Doojoon bulan depan.”

“Eh? Tapi eonni.. aku tidak enak.”

“Tidak apa, ayo ganti dengan pakaian mu yang semula. Aku akan membelikannya untukmu.”

“Tapi.. eonn..”

“Ga ada tapi – tapian. Sudah sana.” Kata Gayoon mendorong Junhee pelan.

Setelah selesai berbelanja dan berputar kesana kemari. Mereka makan di restoran yang mewah dan menuju mobil yang Junhyung parkirkan tadi. Gayoon masih menggandeng tangan Junhee dengan akrab.

“Junhee-ya, ayo kita lari.” Bisik Gayoon.

“Maksud eonni?” tanya Junhee sedikit bingung dengan perkataan Gayoon.

“Sudahlah, aku hitung sampai 3 lalu kita lari, jangan berhenti, arraseo?” Junhee hanya mengangguk mengerti. Baiklah, Doojoon sunbae akan memarahiku nanti. Tapi aku bisa apa?

“Na.. Dul.. Set.. Kajaaa!!” (가자kaja : let’s go) Gayoon menarik Junhe berlari keluar mall dan langsung menaiki taksi terburu – buru. Doojoon, Junhyung dan Yoseob masih terdiam bingung dengan apa yang terjadi.

“YAA!! GAYOON-A MAU KEMANA KAMU?!!” teriak Doojoon membentak.

###

“Hahahahaa..” Gayoon masih terkekeh karena berhasil kabur dari Doojoon, Junhyung dan Yoseob.

“Kamu lihat kan wajah mereka bertiga? Kebingungan gitu. Hahahaa.” Kata Gayoon.

“Ehm.. Eonni, Doojoon sunb.. Eh maksudnya Doojoon oppa pasti marah.” Kata Junhee khawatir. Babo Junhee-ya. Kalo kamu tau Doojoon sunbae akan marah, kenapa kamu ikuti ide Gayoon eonni?

“Biarkan saja, Doojoon aneh, dia tidak membiarkan kita berdua. Padahal yeoja itu membutuhkan waktu tanpa namja bukan? Untuk berbicara hati ke hati.” Eh? Maksudnya?

“Ajusshi, berhenti di depan kafe itu ya.”

“Baik.”

Sebuah kafe yang bernuansa vintage dan anggun. Furniture kafe tersebut terbuat dari kayu berwarna coklat. Suasana kafe itu sangat sepi dengan alunan musik klasik yang menenangkan hati. Pengunjung yang datang rata – rata para karyawan kantoran dan juga orang tua. Gayoon dan Junhee duduk di pojok dengan kursi yang hanya untuk 2 orang. Setelah itu mereka memesan minuman dan kue – kue kecil untuk cemilan.

“Kamu suka kafe ini?”

“Suka. Kafenya tenang dan sepi. Eonni suka kesini?”

“Ne. Dulu bersama Doojoon dan yang lainnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi.”

“Waeyo?” Junhee-ya, kamu terlalu ikut campur urusan mereka! BABO!!

“Doojoon sudah berubah sekarang. Banyak masalah.” Gayoon menghela napas. “Oh ya, kenapa kamu bisa tertarik dengan Doojoon? Di sekolah banyak yang naksir dia ya?” tanya Gayoon lagi.

“Banyak eon. Banyak banget yang suka Doojoon oppa.”

“Berarti kamu salah satu yeoja yang beruntung ya, bisa meluluhkan hati Doojoon.” Kata Gayoon cengengesan.

“Ani.. Itu.. hanya keberuntungan saja.” Beruntung? HEHEHE.. MENYEDIHKAN!!

 “Tapi aku senang hari ini. Baru pertama kali ini aku bertemu dengan orang yang langsung cocok denganku. Bahkan aku merasa memiliki dongsaeng.” Kata Gayoon sambil menyeruput jus stroberinya.

“Ne.. Aku juga.”

“Lagipula yeochin Doojoon berarti chingu ku juga.” kata Gayoon tersenyum. Drrt.. Drrtt.. Suara ponsel Junhee bergetar di atas meja.

“Doojoon-a lagi ya?” tanya Gayoon memastikan. Junhee hanya menggangguk.

“Sudahlah biarkan saja. Aku akan antar kamu pulang. Nanti sampai rumah kamu kasih kabar saja kalo aku mengantarmu, pasti kemarahannya mereda.”

“A.. Tidak usah. Aku lebih baik pulang sendiri saja eonni.”

“Jinjja? Tapi lebih baik aku antar.”

“Kwaenchana eonni, aku bisa kok.”

“Arraseo. Aku tidak akan memaksa. Sudah malam lebih baik kita pulang sekarang.”

“Ne. Gomawo eonni untuk bajunya sama traktirannya.”

“Tentu. Kapan – kapan kita belanja lagi ya?”

“Ne.”

Akhirnya pukul 09.00 Malam, Junhee sampai di rumah keluarga Yoon. Hhh.. Untung saja Gayoon eonni tidak memaksa ingin mengantarku. Kalo tidak apa jadinya kalo ia tau aku tinggal di tempat Doojoon sunbae sebagai hanyeo? Rekayasa ini bisa terbongkar..

“Ehem.” Namja itu mengeluarkan suara terbatuk yang tertahan. Padahal kerongkongannya sama sekali tidak kering. Namja itu hanya ingin Junhee menyadarinya.

“Junhee-ya mengapa kamu terlambat pulang?”

“A.. Dongwoon oppa. Mianhaeyo. Aku..”

“Ne. Arraseo. Jang-ssi sudah memberitahukanku tentang Doojoon-ssi.”

“A.. Ne..”

“Doojoon-ssi dan yang lainnya mencarimu sejak tadi. Tadi mereka bilang untuk menemuinya jika kamu sudah pulang.”

“A.. Tapi… Dongwoon oppa, bagaimana kalo hari ini jangan memberitahukan mereka?” Sebenarnya aku lelah hari ini, aku juga tidak ingin mendengar ocehan mereka. UGH..

“Hmm.. Baiklah. Sebagai gantinya esok kau harus membuatkan bekal untukku juga.”

“Eh?” Bagaimana Dongwoon oppa bisa tau aku membuat bekal?

“Kau selalu membuat 2 bekal setiap hari. Entah itu untuk siapa. Bagaimana kalo aku mencobanya? Mungkin saja kamu calon yorisa sepertiku?” kata Dongwoon tersenyum.

“Arraseo. Akan ku buat besok. Annyeonghijumuseyo Dongwoon oppa. Kansahamnida.” Junhee membungkuk 90 derajat memohon pamit masuk ke kamar.

“Annyeonghijumuseyo.” (안녕히 주무세요annyeonghijumuseyo = good night)

 

Doojoon sejak tadi hanya berputar – putar di kamarnya. Berjalan kesana kemari kebingungan. Karena esok hari Senin dan diharuskan sekolah, Junhyung dan Yoseob sudah pulang. Doojoon memanggil Hyunseung untuk menemaninya menunggu Junhee yang tak kunjung pulang.

“Yaa!! Hyunseung-a, kemana yeoja beasiswa itu? Sampai sekarang belum pulang?”

“Bagaimana kalo Doojoon-ssi menelpon Gayoon-ssi?”

“Andwae!! Aku tidak ingin menelponnya.”

TOKTOK.. Suara ketukan berasal dari pintu kamar Doojoon.

“Hhh.. Itu pasti dia. Masuk!!”

Raut wajah kemarahan Doojoon berubah saat melihat Dongwoon yang datang muncul dari balik pintu tersebut.

“Wae? Yeoja beasiswa itu sudah sampai di rumah?”

“Sudah Doojoon-ssi. Tapi..”

“SUDAH?! Dan ia tidak datang kesini?”

“Junhee terlihat lelah hari ini, sedangkan esok sekolah, karena itu ia berjanji akan menemui Doojoon-ssi saat pulang sekolah.”

“CK.. Baiklah. Kalian berdua boleh istirahat sekarang. Hyunseung-a, katakan pada Junhee kalo esok sepulang sekolah tidak menemuiku, ia akan di usir. Ingatkan itu!!”

“Ne. Algoseumnida.” Hyunseung dan Dongwoon serempak memberi hormat dan keluar dari kamar Doojoon. Cih, yeoja beasiswa itu sudah berkata apa saja dengan Gayoon? ARGH!! Sudahlah aku akan tanyakan itu besok!, batin Doojoon.

“Doojoon-ssi merencanakan itu semua?” Dongwoon tersentak kaget saat mendengar rencana Doojoon dari Hyunseung.

“Ne. Doojoon-ssi benar – benar tidak ingin di jodohkan, karena itu menyuruh Junhee menjadi yeochin nya sementara waktu.”

“Daebak. Padahal aku kira tadi ia pulang malam karena kabur dari mereka.”

“Aniyo. Gayoon-ssi mengajak Junhee kabur, karena itu Doojoon-ssi dan yang lainnya tampak cemas. Mungkin takut Junhee mengatakan hal yang aneh.”

“Benar juga. Arraseo.”

“Ini rahasia Dongwoon-ie.”

“Ne. Hyunseung hyung. Ani, Jang-ssi.” Kata Dongwoon meledek.

“Kamu ini!!”

“HAHAHAA..”

###

Sekolah Rebellion, Pukul 08.00

Junhee sudah sampai pagi ini, setelah menyiapkan 3 bekal sekaligus. Untuk Dongwoon, Junhyung dan untuk dirinya sendiri. Tapi, karena pagi ini tidak dapat bertemu Dongwoon, Junhee hanya menaruh bekal tersebut di depan pintu kamarnya dengan sebuah pesan. Sedangkan, pagi ini seperti biasa Junhee menaruh bekal Junhyung di atap sekolah. Setelah menyelesaikan semua tugasnya pagi ini, Junhee mencari Gikwang untuk mendengarkan ceritanya yang terkesan absurd kemarin.

“LEE GIKWANG!!” seru Junhee yang senang melihat Gikwang terlihat dari pintu gerbang sekolah. Gikwang tersenyum dan berlari ke arah Junhee.

“Tumben kamu yang memanggilku duluan. Ada apa ini?” tanya Gikwang tersenyum menderetkan gigi – giginya yang putih.

“Hhh.. Banyak kejadian yang harus aku ceritakan padamu. Bagaimana kalo hari ini kita membolos jam pertama?”

“Mwo?! Seorang Junhee membolos pelajaran? Ada apa ini?”

“Sudahlahh, ayoo ke kantin. Aku ingin menceritakan semuanyaaa” Junhee segera menggerakan tubuhnya ke arah kantin sekolah. Ada apa ini? Apa Junhee mempunyai masalah? Ini pertama kalinya ia membolos pelajaran, batin Gikwang. Gikwang hanya pasrah mengikuti Junhee dari belakang, untungnya sekarang pelajaran bahasa Korea yang Gikwang kuasai, karena itu Gikwang tidak terlalu cemas.

“Jadi begitu ceritanya..” kata Junhee menjelaskan apa yang terjadi kemarin.

“HAHAHAHAAA..” tawa Gikwang meledak. Sejak tadi Gikwang menahan tawa saat Junhee menjelaskan apa yang terjadi kemarin.

“Ya! Kenapa kamu tertawa? Seharusnya kamu membantuku menyelesaikan masalahku.”

“Haha.. Ha.. Arraseo arraseo. Tapi ternyata rumah itu benar – benar milik bumonim Yoon Doojoon. Daebak. Jinjja daebak!” kata Gikwang sambil menahan tawanya.

“Aku juga tidak menyangka hal ini terjadi. Padahal nama keluarga Yoon kan banyak.” Kata Junhee sambil meminum ocha hangatnya.

“Seandainya aku memberimu ide ini, pasti kamu juga tidak akan setuju.”

“Eh? Apa idemu?” tanya Junhee dengan wajah berbinar – binar.

“Tinggal bersamaku. Eottokhe?” Gikwang menatap Junhee serius. Namun Junhee menggeleng kepalanya perlahan.

“Andwae. Aku sudah banyak menyusahkanmu. Lagipula tidak mungkin aku menumpang di rumahmu selamanya kan? Aku harus mencari kerja.”

“Ne. Arraseo. Aku tau kamu pasti menolak.”

“Lalu, aku merasa Gayoon eonni sangat baik, ia juga cantik, sopan, dan juga anggun. Aku bingung kenapa Doojoon sunbae tak menyukainya.”

“Perasaan mana ada yang tau? Mungkin Doojoon sunbae memang tidak ingin dijodohkan. Mereka juga sepertinya chingu sejak kecil bukan?”

“Sepertinya begitu. Gayoon eonni bilang sering berkumpul dengan Doojoon sunbae dan yang lain. Tapi.. Aku kurang yakin juga.”

“Ehm.. Sudahlah, menurutku kamu hanya perlu bersabar dan mengikuti apa yang diinginkan Wangja sekarang.”

“Benar juga. Yang penting aku masih bisa tinggal disana.”

“Kalo kamu sudah tidak sanggup, rumahku selalu terbuka untukmu Junhee-ya.”

“Ne. Gomawo Gikwang-a. Kamu yang terbaik!” kata Junhee sambil tersenyum.

“Mian menganggu pembicaraan kalian.” Seorang namja berdiri di samping meja tempat Junhee dan Gikwang duduk. “Tapi ada yang ingin aku bicarakan dengan Junhee.”

Gikwang dan Junhee menoleh ke arah namja tersebut.

“Yang Yoseob sunbae?”

“Bisa minta waktunya?”

“A.. Ne.” Junhee segera beranjak dari kursinya. “Gikwang-a aku duluan ya, lebih baik kamu masuk kelas saja duluan. Pelajaran pertama kan sudah berakhir.”

“Ne. Aku tunggu kamu di kelas Junhee-ya.”

“Ne.” Junhee segera mengikuti Yoseob dari belakang. Semoga kamu bisa lebih sabar Junhee-ya, kamu pasti bisa, batin Gikwang.

Yoseob membawa Junhee ke taman belakang sekolah. Karena masih jam pelajaran, taman yang biasanya ramai oleh haksaeng, sangat sepi sekarang. Hanya hembusan angin yang memecahkan kesunyian. Yoseob duduk di tepi pohon besar yang berada di taman tersebut, Yoseob tak ingin ia ketahuan orang lain sedang bersama Junhee. Junhee hanya mengikuti Yoseob dan duduk disebelahnya walaupun jaraknya lumayan jauh.

“Kamu tau mengapa aku memanggilmu?” tanya Yoseob memecahkan keheningan.

“Karena masalah kemarin?”

“Ne, itu salah satunya. Tapi.. Kwaenchana?”

“Eh? Maksudnya?”

“Gayoon tidak ngapa – ngapain kan?”

“Ani. Gayoon eonni baik sekali. Ia malah mentraktirku minuman di sebuah kafe saat kami kabur kemarin.”

“A.. Baguslah. Sebenarnya.. Ada yang ingin aku katakan.” Yoseob menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Walaupun aku tau ini mungkin tidak ada hubungannya dengan masalah ini.”

“Waeyo? Apa aku melakukan kesalahan lagi?” Apa yaa? Pasti aku melakukan kesalahan, Babo Junhee.. Jangan – jangan karena kemarin kamu begitu ingin tau urusan orang lain. Uhh..

“Sebenarnya aku sudah tau dari awal kalo kamu bekerja di rumah Doojoon-ie seminggu sebelumnya.” EH?! JJINJA?!

“Tapi saat itu entah kenapa aku tidak ingin memberitahu Doojoon dan juga Junhyung. Bahkan mereka sepertinya tidak tau akan hal itu. Karena itu aku hanya diam saja, tapi memang sebuah rahasia lama kelamaan akan ketahuan juga ya.” Kata Yoseob terkekeh.

“Tapi.. Kenapa?” Kenapa kamu bertanya Junhee-ya? BABO!

“Hmm.. Aku akan menceritakannya padamu. Tapi, jangan tertawa. Bagaimana?” Junhee mengangguk setuju.

“Saat kecil, aku pernah bertemu dengan seorang yeoja. Mungkin ini cerita saat aku masih berumur 6 sampai tahun. Namanya Kim Heera. Ia yeoja yang cantik, baik, juga manis. Tapi kondisi keuangan keluarganya di bawah standard. Appa nya pergi meninggalkan hutang dan Eomma nya meninggal karena sakit leukemia.”

“Aku bertemu dengannya di taman dekat sekolah. Saat itu, aku tidak diijinkan bermain di taman karena bumonim ku merasa itu berbahaya. Aku kabur dari klub sekolah dan bermain disana bersama anak lainnya. Ternyata chingu di sekolah dan chingu yang berada di taman itu berbeda. Anak – anak di taman lebih ceria dan tidak memikirkan nilai sekolah agar tidak memalukan nama keluarga. Tapi.. Dibalik keceriaan mereka, mereka memiliki masalah keluarga sendiri.”

“Ada beberapa yang sudah tidak memiliki salah satu bumonim dan yang sudah tidak memiliki keduanya akan menghilang satu per satu, mereka di kirim ke panti asuhan. Saat itu, aku merasa hidup itu tidak adil. Takdir yang diberikan Tuhan sangatlah berat. Tuhan memberikan beban yang berat untuk anak – anak yang berada disana.”

“Tapi, Heera berbeda. Ia yeoja yang aneh menurutku. Walaupun eommanya sakit, ia tetap tersenyum ceria, ia juga bekerja menyemir sepatu untuk membantu eommanya membeli obat. Walaupun sulit, Heera tetap saja ceria dan bermain bersama chingu nya. Saat itu juga, aku merasa Heera sangat aneh. Ia tidak pernah terlihat bersedih sedikitpun.”

“Tapi suatu malam, suasana hatiku sedang tidak enak. Karena itu aku kabur dari rumah dan pergi ke taman itu. Ternyata Heera ada disana. Heera yang selalu ku lihat selalu ceria dan tersenyum sedang duduk termenung di salah satu ayunan di taman ini. Heera menangis untuk pertama kalinya. Eommanya meninggal dunia dan esok ia harus tinggal di panti asuhan, ia tidak bisa datang ke taman ini lagi untuk bermain.”

“Lalu aku berkata, ‘Tuhan itu memang tidak adil Heera-ya. Tuhan menentukan takdir tanpa melihat kondisi kita. Padahal hal itu sangat berat untuk dijalankan’ Tapi, Heera malah menjawab ‘Ani Yoseob-a, Tuhan itu adil. Walaupun kaya ataupun miskin, tidak ada yang sempurna bukan? Lagipula, takdir itu di tangan kita, bukan di tangan Tuhan. Tuhan sudah menyiapkan berbagai jalan, hanya kita yang salah menjalankannya. Sisi positifnya, aku tinggal di panti asuhan dan tidak sendirian lagi di rumah. Tuhan tau kalo aku kesepian.’ Jawaban Heera membuatku terkejut. Walaupun sampai sekarang aku belum percaya sepenuhnya dengan kata – katanya. Tapi..” Yoseob terdiam sejenak.

“Tapi..?”

“Tapi kamu mirip dengan Heera, Junhee-ya. Eomma mu meninggal dan kamu tetap tegar. Bahkan mencari pekerjaan juga tempat tinggal.”

“Ani. Heera-ssi lebih hebat dari aku. Ia sangat tegar.” Yoseob hanya tersenyum simpul.

“Lalu, Heera sekarang dimana?”

“Mollayo. Setelah itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi, aku harap Heera baik – baik saja.”

“Itu pasti Yoseob sunbae! Heera-ssi pasti baik – baik saja!” kata Junhee memberikan semangat.

“Hahahaa. Yeoja beasiswa yang aneh. Baiklah, itu rahasia kita berdua. Jangan beritahu Doojoon dan juga Junhyung. Hanya kau yang tau, arraseo?”

“Ne. Aku akan bekerja lebih giat sekarang.”

“Lalu, Junhee-ya.. Mian. Karena ideku untuk menahanmu, Doojoon jadi memiliki ide untuk menjadikanmu yeochin nya karena menolak pertunangan.”

“Kwaenchana sunbae. Justru itu lebih baik, aku sekarang masih memiliki tempat tinggal dan pekerjaan. Kamsahamnida”

“Haha.. Ne.. Lalu soal nanti..”

“Algoseumnida sunbae, aku akan tetap bersikap seperti biasanya. Yoseob sunbae tetap sunbae ku bukan? Ini rahasia.”

“Baiklah kalo kau mengerti. Hwaiting Junhee!”

“Hwaiting!”

###

Junhyung sedang duduk di atap sekolah sambil menyantap bekal buatan Junhee. Junhyung memang tipe penyendiri, ia membutuhkan waktu sendiri untuk berpikir dan menenangkan diri. Hmm.. Nyam.. Nyam.. Ternyata masakan yeoja beasiswa itu semakin membaik setiap harinya. Hmm, batin Junhyung.

“Yo! Junhyung-ie” Doojoon mendatangi Junhyung yang masih memakan bekal buatan Junhee.

“Wae? Tumben sekali kamu kesini.”

“Ada yang ingin aku diskusikan. Loh? Yorisa spesialmu masih membuatkanmu bekal?”

“Ne. Mau coba?”

“Pass! Aku sudah makan tadi.”

“A.. Ne. Lalu apa yang ingin kamu diskusikan?”

“Aku mencari Yoseob daritadi, tapi ia tidak ada. Karena itu aku langsung mendatangimu.”

“Hooo.. Lalu, ada apa?”

“Ini tentang masalah yeoja beasiswa itu. Menurutmu, apa Gayoon mengancamnya atau melakukan sesuatu padanya?”

“Memang kenapa?”

“Ani. Hanya kepikiran. Tapi, sepertinya tidak. Junhee tidak menemuiku kemarin, katanya ia akan memberitahu apa yang ia lakukan dengan Gayoon saat di rumah nanti.”

“Kalo begitu, mungkin tidak. Jika di ancam, Junhee pasti akan bicarakan langsung padamu.”

“Hm.. Benar juga.”

“Lalu, rencanamu selanjutnya?”

“Memperkenalkan yeoja beasiswa itu ke bumonimku”

“MWO?! Kau gila Doojoon-a? Aku mengerti kau tidak ingin dijodohkan. Tapi apa kau yakin?”

“Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin dijodohkan dengan Gayoon.”

“Mian sebelumnya, tapi apa tidak aneh. Gayoon dan kamu sungguh akrab sejak kecil. Kedua bumonim kalian juga tau hal itu, lalu kenapa kamu tidak ingin bertunangan dengannya?”

“Aniyo. Gayoon hanya chingu. Sudahlah, jangan membahas perasaanku dengan Gayoon.”

“Apa kamu melihat sesuatu yang salah pada Gayoon?”

“Aniyo! Sudahlah! Pokoknya nanti setelah pulang sekolah kamu lebih baik ikut ke rumahku. Ajak Yoseob juga. Aku kembali ke kelas dulu.”

“Ne ne. Arraseo.”

Rumah Keluarga Yoon 05.00 sore.

Junhee tampak tegang sesampainya di rumah Doojoon. Sekarang ia harus menjelaskan apa yang ia lakukan bersama Gayoon kemarin. Walaupun tidak melakukan kesalahan, Junhee tetap takut akan ada kesalahan dalam pembicaraannya kemarin. Junhee sudah berdiri di depan pintu kamar Doojoon sekitar 5 menit yang lalu, ingin mengetok pintu namun hatinya belum siap menerima makian dari Doojoon. Hhh.. Tenang Junhee-ya, kamu harus tenang..

TOKTOK.. Akhirnya Junhee mengetuk pintu kamar Doojoon. “Masuk!” Mendengar suara Doojoon, Junhee membuka pintu secara perlahan.

“Duduk disini, jelaskan apa yang kamu lakukan dengan Gayoon kemarin.” Kata Doojoon menyuruh Junhee duduk di sofa. Junhyung dan Yoseob juga sudah berada disana.

Setelah mendengar cerita Junhee, mereka hanya duduk termenung. Tak lama, Yoseob beranjak dari kursinya dan membisikkan sesuatu kepada Doojoon. Doojoon mengangguk – ngangguk mendengar ucapan Yoseob. “Arraseo.”

“Ini memang aneh.” Kata Doojoon lagi.

“Aneh?” Refleks suara Junhee keluar seakan bertanya. Junhee.. Mengapa suara hatimu selalu saja keluar? UGH

“Aneh karena Gayoon tidak seperti calon tunangan yang biasa mengancam yeoja yang di anggap saingannya.”

“Benar. Apa jangan – jangan Gayoon tidak menginginkan pertunangan itu juga?” kata Junhyung.

“Ehm.. Kalo begitu kenapa ia tidak bilang kepada bumonim nya? Bukankah Gayoon sendiri juga setuju waktu itu?” tanya Yoseob.

“Ne. Gayoon setuju. Eomma ku yang bilang, karena itu saat aku menolak. Ia menganggap aku bercanda. Padahal, mereka tidak pernah memikirkan anaknya.”

“Setidaknya mereka masih pulang untuk menemuimu Doojoon-a.” Kata Yoseob.

“Cih. Mereka pulang ke rumah juga karena pekerjaan, mereka menjodohkanku juga karena pekerjaan. Semua semata – mata hanya karena uang. Aku yakin itu.”

“Belum tentu begitu bukan?” Junhee yang tadinya diam akhirnya ikut berbicara. “Aku yakin bumonim Doojoon sunbae ingin yang terbaik, karena itu menjodohkan Doojoon sunbae dengan Gayoon eonni. Lagipula, Gayoon eonni baik, cantik, dan ramah. Bumonim Doojoon sunbae tidak salah menjodohkan kalian.”

“DIAM! Kamu tau apa yeoja beasiswa? Kamu hanya perlu mengikuti apa yang kita katakan!” Amarah Doojoon meluap. Junhee, kamu ikut campur lagi. Babo babo babo!!

“Sebentar lagi ulang tahunmu kan? Yeoja beasiswa ini harus datang?” tanya Junhyung.

“Tentu saja! Gayoon sudah mengundangnya kemarin, bahkan membelikannya gaun terusan pesta. Mana mungkin yeoja beasiswa ini tidak datang?”

“Tapi bukannya Hyunseung-a bilang ia kekurangan hanyeo?” tanya Yoseob polos.

“Harus bisa di atur. Bumonim ku sepertinya akan datang juga.”

“Ehm.. Berarti kamu yakin akan mengenalkannya nanti?” tanya Junhyung memastikan.

“Kita lihat sikon aja nanti. Yasudah Junhee-ya. Kamu boleh pergi.”

“Ne. Pasti Hyunseung-a mencarimu.” Kata Yoseob menambahkan.

“Ne. Algoseumnida.” Junhee membungkuk hormat dan meninggalkan kamar Doojoon.

Hhh.. Junhee-ya kenapa kamu tadi berani berkata seperti itu pada Doojoon sunbae? Sepertinya kamu gila? Ani ani.. Aku hanya kesal karena ia begitu jahat dengan bumonim nya. Sudahlah. Memang hidup itu sebuah permainan, aku iri dengan Doojoon sunbae. Sedangkan Doojoon sunbae tidak ingin kehidupannya. Manusia itu aneh..

###

“Junhee eodisseo?” tanya Doojoon.

“Ada di dapur Doojoon-ssi. Ada apa?” tanya Hyunseung heran. Untuk apa Doojoon mencari Junhee?

“Bilang padanya untuk ke kamarku sekarang.”

“Ne. Algoseumnida.”

TOKTOK.. “Waeyo Doojoon sunbae, A.. Doojoon-ssi?”

“Kemarin untungnya akting payahmu tak ketahuan oleh Gayoon. Hari ini kamu harus belajar menjadi orang berkelas. Cepat ganti pakaianmu, aku tunggu di mobil.”

“Tapi.. hari ini aku harus bekerja.”

“Waktumu 5 menit. Lewat dari itu kau tau akibatnya. Ka!” Doojoon meninggalkan Junhee di kamarnya. Ugh, angkuh. Tapi yasudahlah, mau bagaimana lagi?

Kurang dari 5 menit Junhee sudah berada di tempat mobil Doojoon di parkirkan. Benar saja, Doojoon sudah ada disana lebih dulu daripada Junhee. Melihat Junhee yang sudah sampai, Doojoon membukakan pintu mobil dan Junhee segera membuka pintu dan duduk manis di sebelah bangku kemudi.

“Mian.. Kita mau kemana?” Junhee memberanikan diri untuk bertanya.

“Ikuti saja, jangan banyak tanya.” Jawab Doojoon singkat.

Mereka pergi ke salon, berbagai toko baju, dan juga tempat les untuk table manner. Doojoon ingin Junhee mengahapalkan semua agar Junhee menjadi sesuai image yang ditanamkan Doojoon kepada Gayoon. Seorang anak dari pemilik museum yang gemar melukis, sopan, dan kaya raya.

Tanpa sadar karena semua pelajaran itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Junhee terlihat lelah dan merebahkan dirinya di kursi mobil. Rasanya hari ini sangat berat, Junhee harus melakukan praktek dan mencatat semuanya untuk di hapalkan. Bahkan ini lebih melelahkan dari menghapalkan pelajaran sekolah.

“Ingat! Jangan sampai melupakan semuanya, hapalkan yang diajarkan hari ini.” Ancam Doojoon.

“Ne sunbaenim.. Ne..” kata Junhee dengan nada pasrah. Tak lama kemudian, kedua mata Junhee menangkap pemandangan yang sangat ia kenal. “Sunbae, bisa berhenti sebentar?”

“Mwo? Kau mau apa?”

“Jebal.. Aku ingin ke taman disana.” Karena melihat Junhee yang begitu antusias dan tidak meninggalkan pandangannya pada taman itu, Doojoon menghentikan mobil dan memarkirkannya di samping pintu taman. “Kamsahamnida sunbae. Sunbae pulang duluan saja, aku bisa pulang sendiri. Annyeonghigyeoseyo” Setelah berpamitan dengan Doojoon, Junhee segera berlari kecil menuju taman itu. “YA!!”

Taman itu tidak begitu besar, walaupun sudah malam masih banyak orang behalu – lalang di sekitarnya. Ada yang berolahraga, berjalan santai bersama chingu, dan juga ada sepasang kekasih. Taman ini sangat membuat Junhee rindu, tempat ini berada dalam kenangan Junhee bersama bumonimnya. Memang itu sudah sangat lama sekali, bahkan Junhee sulit untuk mengingatnya, Junhee hanya ingat bahwa ia pernah ke taman ini. Ah, aku kangen sekali bermain disini bersama orang tuaku. Bermain ayunan, perosotan, membangun istana pasir.. Ehm.. Sepertinya aku melupakan sesuatu… Ada seorang anak laki-laki yang sering bermain disini denganku. Siapa ya?

Junhee berkeliling sejenak melihat pemandangan di dalam taman yang di terangi oleh cahaya lampu taman. Setelah itu Junhee duduk di salah satu kursi taman dan memejamkan kedua matanya. Hembusan angin membuat rambut Junhee berterbangan juga membuat hati Junhee merasa sejuk. Semua hal yang pernah ia lakukan bersama bumonimnya di taman ini hanyalah sebuah kenangan. Kenangan yang tidak akan terjadi lagi..

PUK.. Sesuatu yang hangat menempel pelan pipi Junhee ringan. “Kyaa..” pekik Junhee terkejut.

“Ocha hangat.” Seorang namja menyodorkan segelas ocha hangat ke pipi Junhee.

“Doojoon sunbae? Wae?” Junhee terkejut melihat Doojoon yang ia kira sudah pulang. Junhee menggenggam ocha dari tangan Doojoon dan Doojoon duduk di samping Junhee.

“Aku tak ada kerjaan di rumah, karena itu aku masih disini.” Kata Doojoon sambil meneguk ochanya.

“A.. Kamsahamnida sunbae.” Kata Junhee sambil menunjukkan gelas ocha yang diberikan Doojoon tadi.

“Lalu, apa alasan kamu kesini? Ada sesuatu yang penting?”

“Ani.. Hanya nostalgia saja.”

“Nostalgia? Maksudmu?”

“Ne. Dulu aku pernah kesini sama bumonimku. Tapi, sekarang hanya sebuah kenangan.”

“Mian.” Doojoon sedikit merasa bersalah karena membicarakannya.

“Ani. Kwaenchanayo. Setidaknya aku senang masih dapat mengingatnya. Padahal dulunya aku masih kecil.”

“Ne. Kau beruntung, walaupun sekarang aku masih memiliki bumonim, aku tidak pernah ingat kenangan yang indah bersama mereka. Mereka hanya bekerja dan bekerja, tak pernah memperhatikanku.” Protes Doojoon. Kenapa aku jadi cerita sama yeoja beasiswa ini? Ah, terbawa suasana, batin Doojoon.

“Aniyo sunbae. Bumonim sunbae itu memperhatikanmu. Buktinya ia ingin sunbae mendapatkan pasangan hidup yang baik.”

“Ya! Sudah ku bilang, aku dijodohkan paksa. Bahkan mereka tidak mendengarkan pendapatku. Mereka kertelaluan.”

“Hm.. Menurutku lebih baik sunbae bicarakan nanti bersama bumonim sunbae, agar mereka tidak memaksa sunbae.”

“Mereka susah di temui, bahkan aku sebagai anaknya saja tidak tau mereka berada dimana. Lagipula mereka tidak akan mendengarkan pendapatku. Aku mudah naik darah jika berbicara dengan mereka.”

“Coba dulu, mungkin saja bisa diatasi. Kita harus mencobanya bukan? Kalo tidak mencobanya kita tidak tau apakah itu dapat berpengaruh atau tidak.” Kata Junhee serius.

“Akan ku pikirkan nanti.” Kata Doojoon singkat. Junhee hanya tersenyum mendengar jawaban Doojoon. Hembusan angin yang sejuk membuat Junhee tak kuat lagi membuka matanya. Perlahan Junhee menutup matanya dan tertidur lelap.

“Ya yeoja beasiswa. Ayo kita pulang.” Doojoon bangkit dari duduknya dan mendapati Junhee yang sudah tertidup pulas. Doojoon tersenyum geli. Siapa sangka seorang yeoja bisa tertidur pulas di taman terbuka seperti ini. Perlahan Doojoon mendekati Junhee, menggerakan tangan kanannya ke atas kepala Junhee dan membelai lembut rambut coklatnya. Wajah Doojoon mendekati telinga Junhee sampai jaraknya hanya tinggal 5cm. “Gomawo.” Bisiknya pelan. Lalu Doojoon menggendong Junhee sampai ke mobil dan membawanya pulang.

Tanpa terasa sudah hampir 1 bulan Junhee berakting menjadi yeoja-chingu Doojoon. Terlihat akrab di depan Gayoon yang hampir setiap hari datang ke rumah Doojoon. Dalam waktu sebulan ini, Gayoon sudah 2 kali jalan – jalan dengan Junhee. Untungnya Junhee tak pernah salah ucap, sehingga Gayoon tidak curiga bahwa Junhee memang bukan yeochin Doojoon. Di hati Junhee sebenarnya, ia merasa tak enak dengan Gayoon. Padahal, Gayoon calon tunangan Doojoon. Tapi, Gayoon tidak pernah memberitahukan hal itu kepada Junhee. Sehingga mau tak mau Junhee hanya diam dan pura – pura tidak tau. Semua yang Gayoon ceritakan adalah ia berteman akrab dengan Doojoon sejak kecil. Juga berteman dengan Junhyung dan Yoseob saat SMP.

Malam ini, ulang tahun Doojoon akan di adakan di rumah keluarga Yoon. Para hanyeo sudah sibuk sejak beberapa hari yang lalu untuk menyiapkan segalanya untuk ulang tahunnya esok. Junhee juga membantu persiapannya, mulai dari pakaian, dekorasi, undangan para tamu, pembawa acara, instrumen, dan susunan acara. Semua tugas di bagi – bagi agar para hanyeo dapat bekerja secara optimal. Tentu saja yang paling sibuk adalah Hyunseung dan Dongwoon untuk makanan para tamu.

“Oppa, aku taruh sini bunganya.”

“Ne. Gomawo Junhee-ya. Kamu boleh urus yang lain.” Jawab Dongwoon singkat.

“Ne. Cheonmaneyo.” Oh ya, Doojoon sunbae sudah mengijinkanku untuk mengajak chingu. Lebih baik aku tanya Gikwang lagi apa ia bisa datang atau tidak.

DORR!!Saengil Chukahae!!” Junhyung dan Yoseob membuka petasan mini yang berisi kertas berwarna – warni. Alhasil, sekujur tubuh Doojoon dipenuhi kertas berwarna – warni.

“Gomawo chingu-deul.” Kata Doojoon tersenyum pasi.

“Waeyo? Masih memikirkan hal itu?” tanya Junhyung.

“Ne. Bumonim ku akan datang katanya. Ckck..”

“Sudahlah, jalankan saja rencana. Junhee akan mengikuti alur pasti.” Kata Yoseob.

“Ne. Semoga.”

Suasana rumah keluarga Yoon hari ini sangat berbeda dari biasanya. Memang rumah keluarga Yoon ramai akan penghuni, namun suasananya sunyi dan tenang. Namun, malam ini rumah keluarga Yoon sangat ramai dan meriah. Hampir semua tamu yang datang terlihat elegant, kaya, dan keren. Baju yang mereka pakai terlihat mahal dan beberapa di antaranya membawakan hadiah untuk Doojoon. Junhee mengintip sedikit dari balik pintu, Junhee ternganga sebentar melihat semua tamu yang datang. Semuanya cantik, ganteng dan keren.. Eottokhe?!!

“Ya!! Kenapa kamu masih disini?” Junhyung mendapati Junhee yang masih memakai seragam hanyeo nya.

“Mian.. Aku hanya sedikit gugup.” Junhyung tersenyum kecil melihat tangan Junhee yang gemetaran. Tanpa sadar, Junhyung menggengam kedua tangan Junhee.

“Tenang, kamu pasti bisa. Ikuti saja alur yang ada.”

“A.. Ne.. Gomawo Junhyung sunbae.” Sekelebat Junhyung melepaskan genggamannya.

“Ya!! Sudah sana ganti pakaian. Para tata rias sudah menunggu daritadi.”

“A.. Ne.. Aku duluan sunbae.” Tangan Junhyung sunbae.. Hangat.. Junhyung hanya diam melihat punggung Junhee yang menjauh.

Ya!! Apa yang kamu lakukan Junhyung? Meoncheong!!,batin Junhyung

Pukul 08.00 malam, Pesta ulangtahun Doojoon dimulai. Pembawa acara sudah naik ke atas panggung dan memulai acara. Mulai dari video ucapan selamat untuk Doojoon dari sekolah Rebellion. Sampai doa bersama. Ternyata Doojoon sunbae banyak chingu nya.. Sampai ada video seperti itu..

Setelah itu Doojoon pun muncul dan naik ke atas panggung, kedatangan Doojoon di sambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para tamu juga sorak – sorai. Kue ulang tahun Doojoon pun datang dibawa oleh Hyunseung, tingginya hampir 1 meter, hasil karya Dongwoon. Di setiap tingkatnya ada miniatur sepak bola yang sangat Doojoon sukai.

“Acara tiup lilin dan potong kue akan segera dilaksanakan.. Doojoon bumonim, bisa naik ke atas panggung bersama kami..?” Pembawa acara itu memanggil bumonim Doojoon.

Seorang namja yang lumayan tinggi, berwajah tampan dan memiliki aura yang sangat kuat walaupun sudah berumur. Namja itu berpakaian jas berwarna coklat tua lengkap dengan celananya yang sepadan. Sedangkan seorang namja yang sangat serasi dengan namja itu menggandeng mesra tangan kanan namja tersebut. Gaun merah darahnya membuatnya semakin cantik dan anggun. Benar, mereka berdua bumonin Yoon Doojoon.

Bumonim Doojoon ikut berdoa saat Doojoon hendak meniup lilin, lalu memotong kue bersama. Namun wajah Doojoon tidak memiliki senyuman yang asli sama sekali, semuanya hanya senyum seadanya. Tak ada kebahagiaan yang terukir di wajah Doojoon.

Saat selesai memotong kue, Doojoon appa mendatangi pembawa acara dan membisikkan sesuatu. Lalu, pembawa acara itu memberikan mic untuk Doojoon appa.

“Ehem.. Saya sangat berterimakasih kalian semua sudah datang ke pesta ulang tahun anak saya yang ke 25, Yoon Doojoon.”

“Sebagai tambahan.. Saya akan memperkenalkan seseorang hari ini.”

Doojoon eomma terlihat melambaikan tangannya kepada seseorang untuk hendak menaiki panggung. Yeoja itu naik ke atas panggung dan berdiri di samping Doojoon eomma. Raut muka Doojoon berubah saat melihat yeoja itu naik ke atas panggung.

“Kami perkenalkan, dia adalah Heo Gayoon, putri tunggal keluarga Heo. Gayoon akan bertunangan dengan Doojoon secepatnya dalam bulan depan. Kami mohon dukungan dari kalian semua.” MWO?!!

###

Prolog ‘My Life?’ – Part 3:

“MWO?! Apa maksud kalian? Kenapa mendadak seperti ini?” kata Doojoon geram.

“Menurut kami lebih cepat lebih baik, agar hubungan dengan keluarga Heo terjalin dengan baik.”

“Apa hidupku ini hidup kalian?!” Amarah Doojoon memuncak, tidak ada satupun yang mengerti perasaannya. Bahkan masa depannya sudah di tentukan. Sebenarnya aku hidup untuk siapa?

N/B: Annyeonghaseo, Shayo imnida ^-^. Kamsahamnida sudah membaca Fanfiction “My Life?” *bow*. Mohon maaf jika alurnya berantakan, membingungkan ataupun gampang di tebak, atau mungkin juga ada kesamaan cerita? Tapi Author jamin ini hasil imajinasi Author sendiri. Mungkin para pembaca bertanya – tanya kenapa Author bisa bikin story tentang Juniel (Choi Junhee) dan BEAST. Author sendiri juga bingung #eh. Soalnya Juniel kesannya innocent dan classic, karena itu Author merasa cocok dengan Junhee sebagai karakter utama perempuannya kkk. Bagaimana menurut kalian? Author masih harus banyak belajar dalam menulis, karena itu Author sangat membutuhkan komentar serta kritik/saran dari pembaca sekalian. Don’t forget to comment below. Your comment is very precious for me~

3 thoughts on “My Life? – Part 2”

  1. hi there!

    setuju! hehhe. Juniel emang polos lugu gitu kan mukanya. pas banget dijadiin kaya gini (?) hehhhe.
    wah penasaran deh sebenernya Gayoon suka atau engga sih u,u

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s