[Oneshot] Anxiety & Excitement

Anxiety and Excitement by littlejungg

Anxiety & Excitement

Scriptwriter poster – littlejungg // Oneshot

PG Teenager // Tzuyu Chou, Kim Mingyu, Jeon Jungkook

Romance, School-life, Bondage, AU //  already publicate on [here]

Summary // Chou Tzuyu seorang murid asal Taiwan yang mengalami kecemasan berat yang bersamaan dengan kegembiraanya. Berharap semua ini terjadi dengan kontrolnya, tapi haruskah dia berputus asa karena ini?

“Your life, is yours. Don’t try so hard, it’s alright to be lose” –BTS, Fire.

**

Tzuyu’s School / Daesooni High School / Chou Tzuyu POV

Hari ini aku pulang cepat, menyenangkan sekali- meski hanya sebagai murid Internasional biasa, tapi ada- tugasku untuk menerjemahkan Inggris ke Korea sebagai soal. Sungguh, itu tak bisa dibilang tugas yang ringan.

Sang mentari masih tersenyum memandangku yang berjalan tergesa-gesa, tak seperti biasanya- sinar itu sudah mati ketika aku kembali ke rumah. Koridor lantai tiga berbunyi khas langkah sepasang kakiku yang berdentum hebat. Para siswa yang masih berada di lantai itu menatapku dengan pandangan heran- ada juga yang biasa saja.

Sembari melangkah cepat, aku sibuk mencari ponselku yang tak bisa berhenti mengiang dengan ringtonenya. Aku terlalu gembira sekarang, maafkan aku ponsel.

Media komunikasi itu entah terselip diantara kertas dan aksesori remaja, aku masih sibuk mengubeknya- tidak peduli tangga atau apa, yang penting ponsel itu kutemukan.

Tapi aku penasaran, siapa sih yang menelepon-ku dini hari. Benar-benar orang yang tangguh, padahal kalau dihitung bisa semenit yang lalu ponsel itu bersuara.

BRUKK!

Aduh, bokongku sakit sekali- tidak bohong deh, aku ini menabrak orang atau tiang ya¾.

 “Ah- sial aku sedang buru-buru nih!” rupanya seorang pria, lumayan tampan, sepertinya orang sibuk dan tentunya- dia tinggi.

“YAK! perempuan sial, kenapa diam saja! Cepat minta maaf- dan aku harus pergi!” celetuk pria itu gusar. Aku masih diam memandangi- Kim Mingyu menurut tag nama, seragamnya- lecek dan sangat tidak bersopan santun, juga hairstylenya aku tidak tahu itu model macam apa.

PLETUK¾! Dia menjitakku.

“K-kim Mingyu! Kenapa kau menjitakku, aku pusing tahu!” benar deh, sedari aku berhalusinasi- dia masih di pijakannya, kukira sudah pergi. Artinya, sangat orang itu sok sibuk.

“Dasar orang tidak tahu diri, Siapa namamu? Mau aku lapor Kim InHwa-sonsaengnim karena sudah berurusan dengan aku?” Aku bergidik ngeri, bukan karena takut dilaporkan kepala sekolah itu, melainkan kancingnya sudah benar-benar kritis!

“Chou Tzuyu, murid internasional-”

“Aku tidak peduli kau murid pungutan atau luar negeri lah! Aku mau kau minta maaf karena sudah menabrakku secara- sengaja! Benar kan?” ujar Mingyu dengan nada sok berkuasa, memang dia siapa, Baginda raja? HAHA! Dasar lelaki tidak tahu diri.

Aku menyeringai kesal nan resah, waktu soreku dirampas habis-habisan dengannya.

“Kim Mingyu, dengar ya! Akupun begitu sama sibuknya denganmu- kaupun harus ganti rugi karena waktu istirahatku terbuang begitu saja karenamu! Dan ingat, memangnya kau siapa, sama-sama murid berani melawan wanita yang sungguh-tidak mau berurusan dengan pria sepertimu,” jelasku panjang lebar. Kuharap dia mengerti- dan aku bisa pulang lalu berbaring dikasur empuk. Ah bener deh, lelah sekali!

“Hem- baiklah, perkenalkan namaku, kau sudah tahu kan nona Chou Tzuyu perempuan cantik yang tidak tahu diri- dan berpura-pura bodoh karena sudah menabrak putra bungsu Kim Inhwa- sang pemilik sekolah yang terkenal dengan perusahaan mobilnya,” Mingyu terus berlagak angkuh dan sombong, nada bicaranya terlihat dipaksakan dan- DIA PUTRA BUNSGU PERUSAHAAN NOA!?

Sial, hancur sudah hari ini. Pasti anak manja ini akan mengadu pada Kim sonsaengnim dan berkata yang tidak masuk akal tentang hal ini. Menyebalkan, awas kau Kim Mingyu.

“Aku butuh istirahat, a-aku tidak peduli kalaupun kamu putranya Kim-sonsaengnim, Maaf dan aku pergi!” aku benar-benar mengambil pijakan langkah dan menjauh darinya,

“Chou Tzuyu! Kau belum selesai, lihat saja nanti!” aku masih mendengar setengah teriakan pria itu. Biarkan saja, aku yakin- dia pasti hanya memanfaatkanku beserta waktuku saja, sudah jelas dia tidak sesibuk yang dikatakannya.

Kulihat ada beberapa siswi yang masih jajan di kantin,  makan dan bahkan tidur. Diantara para siswi yang ada, mataku menyorot seorang siswa disana- teman kelasku. Benar deh, dia itu bukan tipe pria seperti Mingyu- Jeon Jungkook yang manis, ceria, dan lugu termangu sendiri disana, layaknya tipe seorang Chou Tzuyu. Apa? HAHA! Bodoh.

Aku menghentikan langkahku sebentar untuk berfikir, haruskah aku menegurnya? Atau lain kali saja ya. Tapi entah jin apa yang lewat, sepasang kakiku berjalan kearahnya- melihat kedatanganku dengan tatapan aneh.

“Halo, Chou-” ia menyapaku sembari menyeruput lemon tea miliknya.

“Oh, hai Jungkook. Boleh aku duduk disini?” aku menunjuk kursi yang ada di hadapannya dengan senyum andalanku. Ia mengangguk dan membalas senyuman andalanku dengan miliknya- tentu itu membuatku malu.

Untuk mengurangi rasa grogiku di hadapannya, aku memesan segelas lemon tea dingin yang sama dengan milik Jeon Jungkook.

“Ehm, kenapa kau belum pulang?” tanyaku kembali menatap matanya yang tidak fokus dan lelah.

“Kau lupa? Hari ini aku piket,” ujar pria itu membalas tatapanku yang sedari tadi membeku.

“Huh-? E..eh iya kamu kan piket ya. Besok aku kan?” timpalku acuh tak acuh, melihat gerak gerik Bibi Kantin disana- sepertinya lemon tea ku sudah siap. “Hm, sebentar ya aku kesana dulu” ujarku tanpa menunggu persetujuan pria itu.

**

“Terima kasih Bibi!” aku sedikit menunduk dan tersenyum pada Bibi Kang yang menyodorkan lemon tea-nya.

Kulihat sembari berjalan, anak itu fokus pada ponselnya. Kalau ponsel- aku jadi teringat kejadian dengan pria angkuh tadi. Uh, sebal.

“Ah, maaf sedikit lama tadi Bibi Kang tidak punya kembalian pas jadi harus menukarkan dengan siswi lain!” aku menarik kursi untuk duduk, dan menyeruput minuman asam nan manis itu. Kalau asam dan manis- kok jadi ingat wajah putra Kim sonsaengnim yang asam tentu dengan wajahku yang, bisa dibilang manis- hehe.

“Jeon Kookie-ssi , apa kau kenal dengan Kim Mingyu?” entah, aku tertarik untuk membicarakan hal ini. Mungkin karena aku tiba-tiba pergi dan menjadi penasaran. Ah tidak juga-.

“Ya tentu kenal, dia kan putra bungsu Kepala Sekolah kita sekaligus pewaris perusahaan mobil Noa. Hm, kenapa tiba-tiba bertanya itu?” jelas Jungkook dengan pasti.

“Tadi, sebelum aku disini- aku bertemu dengannya karena sebuah masalah sepele, dan membuatku kesal- sebelumnya aku tidak begitu kenal dengannya bahkan setahuku, Kim Mingyu hanyalah seorang murid biasa,” jawabku tanpa menatapnya, bukannya kenapa- aku tidak sanggup melihat sepasang mata berbinar dihadapanku. Itu sungguh cantik dan imut!

“Oh, coba ceritakan masalahmu itu. Ehm, maaf ya Tzuyu- aku tidak mau ikut campur masalahmu itu, tapi aku- sepertinya penasaran.”

Aku tersentak, dan menarik lengkungan pada kedua sudut bibirku “Benarkah? Kau akan mendengarkanku kan- Kalau begitu aku akan bercerita dengan senang hati!”

Jungkook tersenyum, aku bisa melihat senyum ceria dibalik wajahnya yang lelah. Akhirnya, tidak ada sahabatpun bisa menceritakan padanya- Jeon Jungkook.

“Ceritalah..”

“Jadi begini, hari ini kan aku pulang agak cepat- karena soal untuk hari ini sudah ku terjemahkan sebagian kemarin. Lalu karena bahagia, aku berjalan cepat untuk bisa sampai di rumah dan tidur- tapi tiba-tiba ponselku berdering sangat lama, kira-kira dua menit-” Aku berhenti sesaat untuk mengambil nafas dan fikiran. “Lalu?”

“Aku sibuk mencari ponsel yang berdering diselipan tasku, ehm memang agak berantakan jadi sulit ditemukan- entah itu tangga, aku turun dengan langkah cepat dan karena bergegas dari dua arah, aku dan pria itu terjatuh-” aku melihat ke sekeliling penjuru, memastikan bahwa orang itu tidak sedang menguping.

“Maksudmu Kim Mingyu?” tanya Jeon Jungkook masih menopang dagunya.

“Benar, kemudian dia bangkin dan tiba-tiba menyuruhku meminta maaf tiba-tiba dengan intonasi kesal, cemas, dan menggerutu. Tidak membantuku bangkit berdiri atau apapun, hanya mengomel dan berkata sok kuasanya- katanya dia  adalah anak seperti yang kau katakan tadi. Menjitakku, dan berkata bahwa ia bisa melaporkanku pada ayahnya. Menurutku itu bakal terjadi- karena dia manja. Aku-pun kesal kemudian meninggalkannya yang bersikeras bicara bahwa urusanku dengannya belum kelar¾ Begitu Kookie.” Ungkapku lalu meneguk gelas lemon tea itu untuk yang terakhir.

“Wah dasar orang itu! Setahuku dia seangkatan dengan kita kan?” Jungkook bertanya.

“Sejujurnya aku tidak tahu, tapi sepertinya begitu,” Aku terkekeh pelan, begitupun pria itu.

“Oh ya, kau tidak pulang- untuk istirahat, Tzuyu-ssi?” Jungkook mengganti topik pembicaraan, aku baru teringat soal itu! Ah begitu ya, soal cinta yang menurutku- norak. Tapi aku sedang merasakan dan menikmatinya.

“Ah! Tidak apa, Kookie-ah. Aku berubah pikiran, lagipula ini bukan lagi jatah untuk tidur siang di sore hari-”

“Tapi sekarang pukul 8 malam. Maaf ya, sudah membuatmu pulang semakin larut.” Timpal Jungkook sedikit khawatir.

“Kau tidak usah khawatir, seperti hari-hari biasa aku juga pulang jam segini- sendiri. Teman sekelasku sudah pulang semua dan kebetulan ada kau disini- dan aku senang ada yang mau mendengar curahanku ehehe!” ungkapku panjang lebar untuk membuat pria itu sedikit lega. Sejujurnya sih, aku suka saat Jungkook memasang tampang khawatir itu- uh manisnya.

“Hei, mukamu kenapa?” ia melambai-lambai di depan wajahku yang memerah.

Aku bergegas menutupi pipi itu dengan kedua tanganku membentuk dagu ‘V’. “Tidak, aku hanya- kedinginan mungkin.”

Jungkook menyodorkan minyak angin padaku, “Pakailah.”

“Ah, terima kasih Kookie- tapi sepertinya aku benar-benar merasa dingin.” Aku mengambil minyak itu dari tangannya. Sial, karena tadi sedikit berbohong- aku jadi benar kedinginan.

“Kalau begitu, mau kuantar ke halte?” tawarnya terdengar jujur tanpa arti apapun dibalik kalimat itu.

“Bolehkah? Apa kau tidak keberatan. Tapi aku ke-arah Distrik Gangnam-gu,” aku menjelaskan, berharap ia tidak membatalkan tawarannya.

“Tidak apa, aku juga merasa bersalah karena menemanimu hingga larut malam begini- aku yang laki-laki saja tidak sampai selarut ini!” ungkap Jungkook diiringi gelak tawa kami dikemudian sembari meninggalkan kantin yang sudah sepi.

Narator POV

Mingyu yang beberapa saat melihat kejadian itu, tersenyum hambar. Langkah kakinya terdengar galak dan penuh kecemburuan.

Sial! Aku memang pria penuh kesialan! Kenapa aku harus sakit melihatnya bersama orang lain, bodoh! –batin Mingyu berkecamuk. Padahal baru dihitung jam yang lalu pria itu bertemu dengan gadis Internasional, perasaan Mingyu tak bisa dimanipulasi oleh apapun, bukan perasaan Mingyu saja- sama halnya dengan semua manusia.

Halte / Jeon Jungkook dan Chou Tzuyu

“Ah gila! Kau pandai sekali membuatku tertawa, nona Chou!” ungkap Jungkook masih dengan intonasi tidak-bisa-berhenti-tertawa. Sedangkan Tzuyu gembira melihat pria itu lepas dari kelelahannya. Tapi sepertinya ia lelah tertawa –fikir Tzuyu diselingi senyuman manisnya.

“Rasanya tidak mau berpisah, Jungkook-ah. Tapi bus ku sudah datang lebih dulu, sampai jumpa besok!” Tzuyu melambaikan satu tangannya pada Jungkook sembari berjalan menaiki busway yang tengah menunggu penumpang masuk. “Baiklah!” gadis itu masih bisa mendengar sahutan Jungkook meski pintu perlahan ditutup.

Tzuyu tersenyum pada lelaki yang perlahan menghilang dari pandangannya seiring kendaraan melaju. Gadis itu duduk pada kursi yang telah disediakan, suasana sepi dan tidak-terlalu-terang karena hari sudah malam, supirpun bisa dilihat sudah lelah akan tugasnya hari ini. Tetapi sebentar lagi tugasnya akan selesai sebab menunjukkan pukul delapan malam.

Tzuyu mengusik tasnya untuk mencari headset kuningnya. “Ah ketemu!” ia bergumam penuh kemenangan.

Beberapa lagu terputar disana, sesekali ia bersenandung kecil mengikuti lirik dan nada lagu. Merasa aman dan lelah, Tzuyu terlelap dalam iringan Sayounara Arigato karangan Rimi Natsukawa.

Mencurigakan dan penuh kode, penumpang lain yang terjaga was was memeluk barangnya- takut kejadian itu terjadi. Kejadian apa?

“AH Copet!!” teriak seorang ibu paruh baya panik melihat lembaran won dari bilik kaca tebalnya milik seorang gadis- dirampas begitu saja. Seketika seisi bus langsung panik, Tzuyu pun panik bukan main melihat uangnya di tangan para pendosa.

“YAK! Para pendosa akut yang TIDAK TAHU DIRI! Cepat kembalikan dompetku!” Tzuyu berteriak hampir menangis, tidak peduli bagaimana reaksi penumpang lainnya yang sama halnya dengan gadis malang itu.

“Baiklah manis, kalau itu maumu- ikut dengan kami ya! HAHA!” kedua copet itu tertawa lepas seakan tanpa dosa. Penumpang lain takut dan cemas jika membela Tzuyu pasti akan kena batunya, di sisi lain mereka sangat prihatin dan ingin membantu gadis itu mendapatkan lembaran won-nya lagi. Tapi mau bagaimana lagi.

“Kau berdua! Tobatlah agar dosamu diampuni! Kasihan anak itu, dia butuh Won untuk pulang- k..kejamNYA! TOLONG¾!” Seorang pendeta yang ada di dalam memberanikan diri untuk berceloteh,  kedua pencopet itu malah meremehkan ocehan Pendeta paruh baya itu. “Hei pak tua! Tidak ada masalah denganmu, berdoalah sendiri ditempatmu! Tutup mulutmu!” ujar pencopet yang pendek. Tzuyu gemetaran, ia lebih takut dengan kalimat si pencopet.

PRANG!! #$@!%

“Wooshik cepat turun!” perintah si pendek pada si tinggi yang merampok beberapa perhiasan penumpang serta mengikat mulut supir dengan kain kafan putih.

Cekatan, mereka loncat dari bus yang berhenti karena kejadian dan kabur tanpa tujuan.

“Hiks.. eomma maafkan aku.. sungguh uangnya diambil semua-” Tzuyu menangis didalam bus yang keadaannya kacau balau serta beberapa penumpang yang mabuk karena obat bius. Sedangkan yang aman, meloncat keluar berusaha menenangkan Tzuyu dan memanggil pihak berwenang.

**

Untunglah tadi bala bantuan cepat datang, “Terima kasih banyak..terima kasih-!” Tzuyu berkali-kali menundukan badannya seiring berterima kasih. Seluruh uangnya sudah ada di pihak Tzuyu.

Kerapnya, pencopet tadi mengumpat dan berbagi hasil curian di gang kecil dekat kantor polisi- bodohnya. Penumpang mabuk lainnya pun ada yang sudah sadar- dan yang belum di istirhatakan di posko Penanganan Polisi, begitu pula dengan sang supir yang pingsan karena lelah tingkat maksimal.

Aku akan menelepon mama. “Ha-halo? Eomma!” gadis itu melonjak kegirangan mendengar sahutan seberang sana.

Ada apa sayang suaramu serak begitu, mama jadi khawatir.”

Tzuyu diam sejenak, ia sedih sekali mendengar ibunya khawatir. “Tidak apa-apa eomma! Habis nangis saja hehe- dan sebentar lagi aku akan sampai ma.”

“Benarkah? Nanti ceritakan semuanya pada mama ya. Ayah juga tadi telepon, katanya minggu depan pulang dari Chiayi.”

“Syukurlah kabar baiknya- aku jadi agak lega ma, kalau gitu aku matikan ya teleponnya. Supaya langsung pulang, aku capek!” ungkap Tzuyu melihat kanan kirinya, masih banyak orang di tempat kejadian. Maka gadis itu pamit pulang pada seluruh pihak karena memang sudah waktunya kembali ke rumah di pukul sembilan malam.

Sementara itu..

Kim’s House 21.14 PM KST

Mingyu menuruni anak tangga perlahan, melihat sekeliling penjuru ruang di rumahnya. Sunyi sekali- memang ini sudah larut malam dan Mingyu belum berniat untuk tidur, makanya pria itu menghampiri ibunya di ruang keluarga dengan televisi menyala.

“Kasihan ya gyu?” tanya Nyonya Kim Yuri sembari menoleh pada anaknya yang terpaku pada layar menyala.

“-Itu Chou Tzuyu?” ujar Mingyu tak percaya dengan tangan bergetar pelan.

Nyonya Kim tersentak, “ Kau kenal orang itu, sayang?”

Mingyu mengangguk pelan, meyakinkan kalau itu memang gadis yang membuatnya sakit- dalam arti cemburu sama sekali  tidak diinginkannya.

“Teman lesmu? Atau teman penamu?” Wanita paruh baya itu masih penasaran dengan gadis asing pada layar televisi.

“Bukan keduanya, dia pacarku-” Mingyu sontak baru menyadari ia berkata seperti itu layaknya pria murahan yang menyukai wanita apa saja. Mingyu menggeleng pelan, seiring detap langkah naik anak tangga perlahan.

“Hei, Mingyu! Kau bilang gadis Taiwan itu pacarmu? Baru dua bulan lalu kamu kenalkan seorang perempuan lain sebagai pacarmu. Jawab mama¾!” celoteh Nyonya Kim sembari melihat kepergian Mingyu ke kamarnya seakan kalimatnya itu bisa membuat Mingyu menjawab, Apa yang terjadi sebenarnya..

Mingyu’s Room

Tapi aku bukan seperti itu juga –gumam Mingyu mengacak acak rambutnya, frustasi dibuat seseorang.

“Lalu apa?” ia bertanya pada dirinya sendiri, Mingyu tahu kalau ia mencintai Chou Tzuyu-  tetapi ibunya juga sudah tahu, tidak mungkin Nyonya Kim memendam kalimat anehnya sendirian- pasti seiring waktu Ayah juga akan tahu.

Mingyu menyerah, ia memutuskan untuk menyudahi pada pemikirannya hari ini. “Chou Tzuyu, murid internasional yang menyebalkan! Tidak tahu diri- membuat orang repot saja!” setelah menggerutu lumayan lama, Mingyu lelah sendiri dan kemudian tertidur pulas.

**

.

.

.

Daesooni High School / Narator POV

“Pagi Tzuyu!” sapa Chaeyoung diselingi senyuman manis dengan rambut terurai seleher.

Tzuyu membalas senyumannya, “Pagi Chae! Mau ke kantin?”

“Wah, boleh-! Kalau gitu traktir juga ya, HAHA!” ujar Chaeyoung seonoh diiringi gelak tawa mereka kemudian.

“Hemm- tapi tidak jadi!” Tzuyu memutuskan ditengah langkah mereka, membuat Chaeyoung lesu. Gadis asing itu tersenyum kemudian, menjelaskan apa yang terjadi semalam.

“Benarkah? Kamu nggak bohong kan Tzu!” Chaeyoung memastikan, gadis yang tidak-begitu-tinggi itu terlihat khawatir. Sebab saat ia pergi ke Jepang untuk pertukaran pelajar, Tzuyu jadi terlibat banyak masalah.

“Hm, benar! Bukannya bangga ala pamer gitu ya, tapi aku jadi anak nakal lho-” ujar Tzuyu tersenyum-senyum sendiri, mengingat ia lebih dekat dengan Jeon Jungkook dan terlibat masalah- Kim Mingyu.

“Nakal apanya? Ih kamu lucu deh, mana mungkin kamu yang lugu begitu ikut-ikutan yang nggak baik!” canda Chaeyoung tertawa lepas.

“Aku terlibat masalah dengan- em Kim Mingyu dan lebih dekat dengan Jungkook,” entah kenapa gadis itu merasa bangga karena kedua hal yang membuatnya terlihat lebih cool.

Mendengar itu, Chaeyoung menghentikan langkahnya- sontak ia kaget mendengarnya! Mingyu kan siswa yang ditakuti para murid di sekolah ini, dan Jungkook- lelaki yang imut nan lugu tidak bisa menjadi terlalu romantis.

Dan ini terjadi begitu saja pada sahabatnya? Mustahil.

“Mustahil, Tzu-” Chaeyoung mengulangi perkataan otaknya. Sembari melanjutkan jalannya di kantin yang begitu ramai karena sudah mulai siang.

“Ah itu terserah kamu sih– aku mau pesan chicken katsu! Ayo temani aku,” Kedua gadis itu berjalan menuju Paman Han yang masih terlihat menggoreng chicken katsu dibanding penjual lain- tak terlihat karena sumpek oleh para murid yang antusias membeli.

“Paman, aku pesan satu. Bumbunya barbeque ya!” pesan Tzuyu dijawab dengan anggukan -hem oleh pria paruh baya itu. Sepasang makhluk itu saling tatap, kemudian memandang seluruh tempat duduk yang sudah penuh dengan raga mereka yang lebih dulu di sini. Hm, menyebalkan.

“Chae bagaimana ini?” Gadis asing itu terlihat kesal dengan situasi saat ini. “Silahkan-” Paman Han menyodorkan piring beserta chicken katsu pesanannya.

“Terima kasih paman!” kata Tzuyu sembari tersenyum lalu memandang Chaeyoung yang mengacuhkannya tadi.

“YA! Son Chaeyoung-ie, kita makan dimana? Aku lapar nih-” gerutu Tzuyu sedikit berteriak. Chaeyoung memandang tubuh Tzuyu dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Dia benar- baik baik saja.

“Huh? Kenapa tanya aku- kan cuma menemani. Lagipula aku sudah makan keripik ubi,” jelas Chaeyoung dengan tatapan datar. Aneh –batin Tzuyu merasa resah dengan perlakuan sahabatnya setelah ia memesan chicken katsu.

Apa dia ingin aku mentraktirnya?

Tapi seharusnya dia mengerti keadaanku saat ini dong –fikir Tzuyu, kemudian menggeleng pelan.

“Ah, itu ada satu meja kosong Tzu! Kamu makan disana saja, aku baru ingat dipanggil Song sonsaengnim untuk remedial- bye!” ujar Chaeyoung dengan seringainya- melambai sebentar kemudian meninggalkan Tzuyu yang mematung disana.

Chou Tzuyu POV

“Hei!” aku sedikit berteriak pada anak itu, nyatanya Chaeyoung langsung kabur. Menyebalkan-

“Oh ya, tempat duduk kosong? Hmm dimana ya-” aku bergumam sambil mengetuk-ngetuk bibirku diiringi pandangan elang khas ketika kelaparan.

Hah? Itu.. sial- kenapa harus sama mereka!

Aku ragu untuk duduk di sana, tapi apa boleh buat- untuk perutku yang sudah menggema. Ssh- memalukan.

Aku meletakkan piringku tanpa memperdulikan orang disamping kananku.

Selamat makan- hap! Aku berhasil memasukkan suapan pertama dengan tenang, mungkin mereka tidak menyadari kedatanganku.

“Chou Tzuyu?” Mingyu yang baru menyadari itu membuat teman-temannya memandangku aneh. “Kau kenal dia gyu?” tanya seorang yang agak pendek.

“Kenal, dia murid internasional yang berhasil menjadi pacarku,” jawab Mingyu seonoh

“Hey, bukan begi- uhuk!” dengan cepat Mingyu menyodorkan air mineral padaku, ragu tapi aku menerimanya.

“Sudahlah, teruskan makanmu, Tzuyu-a.”

“Wow! Dia memanggilmu ‘Tzuyu-ah’ hebat!” seorang berkacamata ikut melihatku seperti dengan mimik- kau beruntung .

Aku hanya memandang kesal mereka sebentar, lalu meneruskan makanku. Tidak peduli, Jangan peduli, Biarkan saja Tzuyu! Kalimat itu terus mengiang di kepalaku. Bagaimana bisa pria seperti itu menjadi kekasihku! Empati saja tidak- pokoknya aku tidak setuju.

“Oh ya, nanti kenalkan dirimu pada teman-temanku ya Chou Tzuyu!” timpal Mingyu diselingi senyuman yang terlihat- licik.

Glek! Aku menelan kunyahanku dengan cepat, lalu buru-buru menanggapinya-

“Jangan bercanda Kim Mingyu-ssi. Pertama, aku bukan pacarmu- dan aku tidak sudi kalau itu terjadi, orang sepertimu lenyap saja dari hadapanku! Dasar pecundang-!” aku menarik nafas lega.

“Wah lihat! Dia mengejek Kim Mingyu sebagai pecundang!” Ji-hoon heboh dengan intonasi berteriak- membuat para makhluk seisi kantin menoleh kearahku dan berbisik-bisik.

Aku tergugup, tidak biasa ditatap orang banyak seperti ini. Entah, Mingyu hanya tersenyum hambar- tidak berniat membalas perkataanku yang bisa dikategorikan kasar.

“P-pecundang karena dia hanya berani dengan perempuan, menggodaku bersama banyak kaumnya! Dan terakhir KIM MINGYU TIDAK TAHU DIRI!” aku bangkit dari kursiku, berlari tanpa peduli menyenggol siapa. Sungguh aku malu dan takut pada situasi ini. Son Chaeyoung kau dimana!

Aku terduduk di taman yang tidak begitu banyak orang, tempat kesukaanku dan Chaeyoung bertukar pikiran. Aku berusaha menyibukkan diri dengan menangis pelan, mendunduk dan mengacuhkan orang yang memandang dengan heran.

“Aku butuh Chaeyoung- hiks..” bergumam kecil dan berharap pada anak yang entah menghilang kemana.

Eoh? T-tzuyu, kau kenapa?” ia duduk di sampingku, aku tahu ini suara Jeon Jungkook. Tapi aku tidak mau menatapnya dengan wajah sembab seperti ini.

“Tidak apa soal wajahmu- ceritakan padaku Tzu!” pria itu mengelus punggungku yang bergetar karena aku masih menangis pelan.

Huh? Dia bisa membaca pikiranku kalau aku malu dengan menangis seperti anak bocah lima tahun! Mustahil.

Akhirnya aku menoleh pelan ke arahnya, berusaha tersenyum walau tidak bisa, “A-aku tidak bisa”

“Tidak bisa kenapa? Kau hebat, selama ini kau selalu membuatku terkesan Chou Tzuyu!” Jungkook berusaha menenangkanku, aku menatap sepatuku tak percaya.

“M-membuatmu terkesan? Aku tidak paham-” aku gugup saat ini. Menghentikan tangisanku dan mendengar jawabanya.

“Yah kau tahu, aku suka denganmu yang ceria dan niat sekolah penuh arti- maksudku tidak seperti kebanyakan siswi lainnya yang bermalas-malasan.”

“Apa? Terima kasih, tapi aku tidak seperti itu lagi- bagaimana?” aku tertunduk lemas dan memainkan sepasang kakiku.

Melihat keadaan, mereka- para siswa melihatku disini bersama Jungkook dengan tatapan dasar-wanita-murahan membuatku semakin ingin menangis lagi.

“Aku bisa membuatmu yang dulu lagi- tapi  jangan menangis ya!” pria itu tersenyum tulus dan mengelus punggungku. Andaikan aku bisa menghentikan semua ini, kemudian aku membalas senyumannya. “Terima kasih, Jeon Jungkook-ie.. kau yang merubah semuanya.”

Walau kulihat dia agak bingung- tapi Jungkook mengangguk paham. “Terima kasih juga sudah membuat hatiku tidak kesepian lagi.”

Apa barusan dia menembakku?

“Jadilah pacarku ya?” ujar Jungkook diselingi mimik khasnya. Sial- tampan sekali, Mingyu enyahlah kau! HAHA.

“A-apa? Tentu saja aku mau Kookie-ah..Ah-” aku berdehem diiringi gelak tawa kami kemudian.

“Terima kasih, saranghae Chou Tzuyu..” aku bisa meraskan hawa seorang pria yang benar-benar tulus mencintaiku.

“Aku juga oppa!~”

Jungkook terkekeh pelan. Aku tersenyum.

KRING-!

“Bel sudah berbunyi, ayo kita masuk bersama!” ajak lelaki itu bersemangat.

“Baiklah oppa! Haha~” aku membalas uluran tangannya dan melangkah menuju kelasku.

Kini aku sadar, cinta itu tidak semulus yang aku lihat- harus melewati langkah untuk menuju hubungan yang baik- bahkan saat ini aku lebih gembira dari jadwal pulang cepatku. HAHA!

-FIN-

 

2 thoughts on “[Oneshot] Anxiety & Excitement”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s