[Vignette] Be Better, Be Better

Be Better, Be Better

Be Better, Be Better

By Snowords

Main Cast:

Son Wendy

Park Chanyeol

Support Cast:

Kim Jongin

Oh Sehun

 

Duration:

Vignette

 

Rating:

General

 

Genre:

AU! School Life

 

Disclaimer:

This story belong to Snowords.

Alternate Reality! Untuk keperluan cerita, penggunaan detail-detail tertentu dalam cerita ini sepenuhnya murni karangan. Scriptwriter tidak mengambil keuntungan komersil apapun atas karyanya, sepenuhnya hanya untuk kesenangan.

.

Summary:

Meski ini sudah yang ketiga puluh tujuh, dia masih saja ditolak. Hah, payah sekali Wendy!

***

Sepasang kaki beralas sepatu hitam itu mengambil langkah hati-hati di balik dinding kelas. Sesekali ia berjingkat untuk kemudian melihat ke dalam dan mencari-cari apa yang sangat ingin dilihatnya saat ini. Ketika beberapa kali salah satu murid di dalam mendapatinya sedang melancarkan aksinya yang demikian, ia dengan satu gerakan cepat membungkukkan tubuh dengan dada bergemuruh.

Kemudian, langkah pendeknya berhenti ketika dinding kelas itu sudah berbatasan dengan kusen pintu. Satu langkah pendek saja yang ia ambil akan memposisikan tubuhnya tepat di depan ambang pintu. Alih-alih melangkah lagi, ia menggeleng keras-keras. Berusaha ‘engusir jauh-jauh dua sisi dirinya yang kini justru berdebat seru.

‘Maju saja, lalu tunjukkan dirimu. Mau sampai kapan sembunyi-sembunyi terus?’

‘Hentikan langkah dan berbaliklah, Wendy! Dengan begitu, harga dirimu akan baik-baik saja.’

Tidak lagi hanya menggeleng, kini Wendy sudah menggerakkan tangannya tak tentu arah. Melakukan aksi pengusiran untuk dua bisikan tanpa wujud itu.

“Wendy?”

Satu sapaan berbuah pekikan nyaring yang menggema hingga ke sudut koridor terujung. Hanya dengan satu sapaan pula sukses membuat Wendy terlonjak berlebihan dengan sekali gerakan memutar posisi tubuh. Tangannya bergerak-gerak ke depan tak tentu arah, seolah menghalau segala jenis marabahaya yang mengancam keselamatan hidupnya.

Seluruh murid yang berada di koridor serempak melayangkan pandangan ke arah Wendy dengan beragam ekspresi wajah. Petugas kebersihan sekolah yang sedang menyapu sampai harus menghentikan pekerjaannya hanya untuk memastikan keadaan. Sementara beberapa murid dari dalam kelas tampak melongok ke jendela.

Ada apa,sih?

Melihat keadaan sekitar, Wendy menyuguhkan senyum manis yang dipaksakan seraya mengusap leher. Lalu, membungkukkan badan tepat 90◦ ke segala arah secara bergantian sebagai tanda minta maaf. Usai begitu, orang-orang tadi kembali pada urusan masing-masing.

Di sisi lain, orang di depan Wendy justru masih melongo. Pikirannya kosong begitu saja selama beberapa saat. Respon yang diberikan Wendy benar-benar berlebihan, kan? Diam-diam ia mencatat satu hal penting untuk diri sendiri: jangan pernah melakukan hal tadi lagi atau kau akan menanggung malu.

Seperti tersadar kembali, orang itu mendehem sebentar. Lantas, mecoba sekali lagi dengan ragu-ragu, “Wendy?”

Wendy menatap orang di depannya dengan wajah merah padam karena malu. Ia menggaruk dahi berhias poni rambut cokelatnya dengan meringis.

“Ya… mmm, eh, Sehun? ”

Tanpa sadar, Wendy membuang wajah ke samping kiri. Satu hal yang langsung membuatnya terlonjak kaget lagi. Siapa sangka, reaksi kagetnya yang berlebihan justru membuat posisinya berpindah menjadi di depan ambang pintu kelas. Dilihatnya beberapa murid di dalam masih menatap Wendy dengan kening berkerut.

“Kau sedang apa?” tanya Sehun ingin tahu.

Sepasang manik cokelat gelap Wendy mengedar dengan cepat, berniat mencari seseorang yang menjadi tujuan awalnya. Tidak lama berselang, sepasang manik coklat itu berhenti di arah jam 10. Sosok itu sedang menulis sesuatu, tepat di sampingnya sekotak bekal pemberiannya –yang dia taruh diam-diam– masih di sana.

Sadar Wendy tak memberikan atensinya pada Sehun, laki-laki itu kemudian mengambil satu langkah maju lantas ikut melongok ke dalam kelas.

“Kau mencari seseorang, ya? Siapa? Biar kubantu,” tawar Sehun berbaik hati.

Gadis itu tak berniat memberi jawaban. Matanya sibuk mengawasi sosok yang masih sibuk menulis di dalam sana. Tak lama berselang, seorang anak laki-laki menghampirinya dengan senyuman jenaka. Lantas tanpa diduga anak laki-laki itu mengambil alih kotak bekal tersebut dan membukanya.

Wendy kemudian meringis.

Begitu, ya.

“Wendy?” ujar Sehun seraya mengibas tangan di depan wajah Wendy.

“Ah, uh, oh… mmm, tidak ada. Aku sedang tidak mencari siapa-siapa. Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya, sampai jumpa nanti, Sehun!”

Kalimat panjang dalam satu tarikan napas Wendy akhiri dengan memutar tubuh lantas berlari tergesa-gesa begitu saja. Menyisakan Sehun yang kebingungan.

Di balik tikungan koridor Wendy menghentikan larinya. Sejurus setelahnya ia menyandarakan tubuh pada dinding koridor. Satu helaan napas dalam-dalam Wendy lanjutkan dengan hembusan panjang di sela-sela bahunya yang naik-turun kelelahan.

 “Bekal hari ini masih tidak enak, ya?” tanya Wendy pada diri sendiri. Gadis itu menepuk jidat, merutuki kepayahannya.

Lagi-lagi, bekalnya ditolak.

Bekal buatannya yang ketiga puluh tujuh.

***

‘Wah, Irene kau cerdas sekali! Chanyeol pasti suka padamu. Ya, kan, Chanyeol?’

Kalimat Jongin −teman sekelas Chanyeol, yang dengan seenak hati mengambil alih kotak bekal misterius di meja Chanyeol − seminggu yang lalu di perpustakaan sekolah terngiang berkali-kali dalam pikiran Wendy.

Gadis itu menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan kesal. Selama beberapa saat ia merenung dalam posisi seperti itu, sedikit banyak merutuki dirinya yang begitu payah.

Ya ampun.

Kertas hasil ulangan matematikanya menunjukkan angka sembilan terbalik. Dengan nilai tersebut, Wendy dianggap belum bisa mencapat batas minimal. Tentu saja, itu artinya ia harus mengulang lagi, seperti biasa.

‘Wah, Irene kau cerdas sekali! Chanyeol pasti suka padamu. Ya, kan, Chanyeol?’

Wendy mendesah sedih kala kalimat Jongin yang justru terlintas lagi dalam pikirannya.

‘Kalau begini, bagaimana Chanyeol akan suka padaku?!’

Selanjutnya, Wendy kembali menjatuhkan kepalanya. Lantas meringis, baru sadar bahwa meja kayu itu keras.

***

Dalam keadaan kamar yang lampunya masih menyala terang, Wendy tertidur di pinggir ranjang dengan keadaan yang tidak seperti biasanya. Kertas-kertas soal matematika dan beberapa buku rumus tergeletak tak tertata di sampingnya. Satu buku rumus lainnya terbuka lebar menutupi wajahnya.

Sepulang sekolah kemarin, gadis itu menghabiskan sisa waktunya dengan menekuni rumus dan soal-soal matematika. Dengan semangat yang tersulut tiba-tiba, ia benar-benar tak membiarkan dirinya beranjak sama sekali. Bahkan, ia melewatkan makan malamnya.

Suasana gadis itu mudah sekali berubah. Baru tadi siang ia benar-benar merasa dunianya telah berakhir hanya karena nilai matematika. Belum lagi memikirkan Chanyeol yang tak mungkin menyukainya, membuat dia nyaris kehilangan semangat. Namun tiga jam setelahnya, ketika melihat Chanyeol di gerbang sekolah dengan senyuman –meskipun, tentu saja bukan untuknya−, semangat Wendy kembali menggebu-gebu, seolah lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya.

Getaran di balik bantal cukup sukses membuat ia bergerak dari tidur lelapnya. Gadis itu memutar badan ke samping sehingga buku rumusnya terjatuh ke lantai. Suara berdebum dan sinar lampu yang menyapa kelopak matanya memaksa Wendy untuk tersadar dari tidurnya.

 Wendy mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya tersadar sempurna. Sepasang matanya terpaku pada jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Pikiran Wendy kosong, lalu selang beberapa detik ia terduduk tegak dengan satu kali gerakan.

“Ya ampun! Wendy! Wendy! Wendy! Buat bekal! Buat bekal! Tidak boleh terlambat!” racaunya pada diri sendiri.

Tangannya dengan tergesa meraih ponsel di balik bantal. Beberapa kali menyentuh layar ponsel dengan sepasang mata yang bergerak cepat.

“Di mana resep menu barunya?! Di mana aku simpan semalam− ah! Ini dia!”

Tanpa memperdulikan kamarnya yang masih berantakan, Wendy beranjak keluar secepat kilat. Memasuki dapur lantas membuka kulkas dengan terburu-buru. Ia tidak sempat menyadari sosok ibunya yang baru saja hendak ke dapur dengan kening berkerut.

“Anak ini kenapa?”

***

Sudah putaran kelima Wendy mengelilingi lapangan basket. Ia sejenak menghentikan larinya, bahunya naik turun tak beraturan. Dalam posisi setengah membungkuk, gadis itu berusaha menormalkan kembali deru napas lelahnya.

Sejujurnya, Wendy payah dalam berlari

Namun, peduli apa? Setelah ini Wendy berniat melanjutkan larinya lagi. Melupakan fakta bahwa guru olahraganya hanya meminta para murid-murid untuk berlari 5 putaran lapangan. Pun ia mengabaikan keadaan bahwa kakinya sudah tak mampu lagi diajak berlari.

‘Aaa, Chanyeol, jadi tipemu gadis penyuka olahraga, ya?’

Satu kalimat yang sempat didengarnya sekilas lalu dari Jongin cukuplah membuat semangat gadis itu tersulut penuh.

Wendy kembali melanjutkan putaran larinya yang keenam. Teman-temannya sudah setengah berteriak untuk menyuruh Wendy berhenti. Namun, Wendy hanya menyuguhkan cengiran polosnya. Satu tangannya mengepal ke udara.

“YOSH! HWAITING!”

Padahal, Wendy tidak tahu respons Chanyeol di pinggir lapangan waktu itu.

Tidak juga, kata siapa?’

***

Wajah Wendy merah padam karena terlalu lelah. Gadis itu baru saja menyelesaikan lari 10 putaran.

Dengan langkah terseok-seok ia memasuki kantin. Pandangannya mengedar sejenak, niat awal ingin mencari tempat beristirahat, namun siapa sangka langsung berbelok ketika dilihatnya Chanyeol bersama teman-temannya sedang duduk-duduk santai di meja sudut kantin. Terlebih lagi kotak bekal darinya yang ada bersama Chanyeol sukses membuatnya memekik girang dalam hati.

Dengan hati-hati, sebisa mungkin agar tidak ketahuan, Wendy menuju meja tepat di seberang Chanyeol dan kawan-kawan. Pandangannya terarah ke arah lain, tapi diam-diam ia memasang telingannya baik-baik. Mencuri dengar bukan pelanggaran hukum, kan?

“Ah, Yeol! Tadi aku melihatmu di pinggir lapangan, sedang apa?” tanya seseorang di seberang. Wendy kenal suara ini. Suara yang pernah membuatnya memekik nyaring, Sehun.

“Hm, kapan?” sahut Chanyeol tidak begitu jelas. Mungkin sedang mengunyah sesuatu, atau mungkin sengaja begitu.

“Sebelum ini. Benar, kan?”

“Oh, itu. Mmm… iya, ada urusan.”

Lalu, hening panjang.

Kening Wendy berkerut. Kenapa diam? Bukankah tadi mereka tampak tertawa-tawa saat Wendy baru saja datang ke kantin. Padahal Wendy menunggu percakapan selanjutnya.

Ayolah…’

“Kotak bekal ini lagi?” tanya suara lain. Belakangan Wendy tahu ini suara Jongin.

Wendy tiba-tiba menggigit bibirnya. Tahu-tahu dadanya bergemuruh lagi, menunggu jawaban dengan harap-harap cemas.

Apa akan ditolak lagi?

“Apa tidak masalah jika aku yang makan?”

Sementara Chanyeol tak kunjung bersuara. Wendy mencoba menebak, bisa jadi Chanyeol menggeleng, atau justru mengangguk. Wendy ingin tahu, tapi harga dirinya menahan kepalanya untuk tidak menoleh.

“Baiklah, aku makan, ya?”

Seketika itu juga Wendy mengerucutkan bibirnya. Untuk sekian kalinya lagi ia meringis seraya menoyor kepalanya, lantas menggaruk keningnya yang tak gatal. Seperti biasa, lagi-lagi ia merasa payah.

Bekal yang ketiga puluh delapan: gagal. Lagi.

Makananmu masih tidak enak, Wendy!

Dengan perlahan Wendy beranjak dari duduknya lalu berjalan dengan langkah terseok. Ia tidak lagi melanjutkan aksi mencuri dengarnya. Sampai di situ sudah cukup, Wendy hanya ingin tahu yang itu.

“Bekal ini semakin hari semakin enak saja.”

Wendy sempat menghentikan langkahnya, namun kemudian tersenyum kecut seraya menggeleng sekilas. Pasti salah dengar.

‘Masih tidak enak, kan?’

Tapi, bukan Wendy namanya. Alih-alih kecewa, pancaran mata Wendy justru berkilat semangat. Seraya melewati pintu kantin, tangan Wendy terkepal lantas meninju udara diam-diam. Ia bertekad untuk berusaha lagi. Bekal yang ketiga puluh sembilan harus enak.

“Tapi, kenapa selalu memberikan bekalnya padaku? Apa menurutmu bekal ini tidak enak?”

Tanpa Wendy tahu, Chanyeol melirik sekilas ke pintu masuk kantin, tepat saat tubuh Wendy menghilang di baliknya.

“Tidak, siapa bilang?”

Sayang sekali, Wendy tidak melihat senyum jenaka milik Chanyeol.

**

Bukankah hidup memang harus lebih baik setiap harinya?

***

END

Hallo? Hehehe. Fyi, sih, biasku Wendy😄 Jadi, kalau buat fanfic ya nggak jauh-jauh dari dia hehehe. Aku suka aja kalau liat dia bareng bias-namja-ku yang lain(?) Habis Wendy ship-able sih:3 Jadi, sejak suka Wendy, OTPku banyak wahahaha

Nah, semoga kalian gak keberatan kalau tiap aku buat fanfic ketemunya Wendy lagi:p Tapi, untuk apresiasi yang hangat, kenapa tidak?:)

With Snow,

Snowords.

4 thoughts on “[Vignette] Be Better, Be Better”

  1. Arghhhhh sukaaaa!
    Diksinya bagus, ceritanyaa manisss….

    aku juga, wendy juga biasku di RV , hahahhaa lucuuu. bisa banget ngebayangin wendy yang absurd macam diatas kekekeke…
    Aku juga suka OTP-in uri olaf sama biasku -kyungsoo… hehehehe
    btw salam kenal yaahh…

    Suka

  2. hi there!

    ya ampun kok ngebayangin Wendy semacem Kotoko yg ngejer-ngejer Irie-kun sih wkwkkw. abisnya dia absurd gitu. kaya mendadak sedih mendadak semangat dan gerak geriknya itu lo konyol. hahahha.

    lucuk cinta cinta ala anak anak sekolah gitu kan hihihi~

    see ya~

    Suka

  3. Fanfiction pertama yang saya baca setelah selama ini lebih cenderung ke buku2 fantasy dewa yunani.

    Sampai lupa rasanya baca fanfiction, ringan, lucu, apalagi kalau sambil ngebayangin bias yang main. Duh ><

    Mungkin kalau dulu saya bakal bilamg ceriyatanya kurang panjang, atau pengen baca lagi. Tapi nyatanya ini cerita udah pas. Nggak perlu diperpanjang lagi. Apalagi kata2nya mudah dipahami.
    Terus menulis yaaa…😀

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s