The Vow Part 3

the vow

Title: The Vow | Scriptwriter: nchuhae | Main Cast: Jessica Jung, Kim Heechul

Support Cast: Lee Donghae, Krystal Jung, Im Yoona |  Genre: Drama, Romance, Family

Duration: Chaptered | Rating: PG-15

Previous: 1 / 2

***

  1. JEALOUS!

Pernyataan cinta mengejutkan Sooyeon kepadanya beberapa bulan lalu masih terus membayangi Heechul. Awalnya dia sangat yakin bahwa menolak gadis itu adalah pilih terbaik untuk dia tempuh. Pria itu bahkan sudah dengan tega memanfaatkan gadis sebaik Yoona demi membunuh perasaan Sooyeon terhadapnya. Setelah malam ketika dia mengenalkan Yoona sebagai kekasih barunya kepada Sooyeon, dia percaya gadis yang disayanginya seperti adik kandung itu akan bersikap dewasa dan mulai berpikir untuk melupakan perasaannya kepada Heechul. Pria itu mengira, dengan keberadaan gadis lain di sisinya, Sooyeon akan menarik diri dan mulai mengarahkan cintanya kepada orang yang lebih tepat.

Dan rencananya berhasil. Hubungannya dengan Yoona berjalan mulus meski sejauh ini hanya gadis itulah yang terlihat berusaha begitu banyak agar hubungan mereka semakin mesra. Sooyeon juga akhirnya bisa membuka hati untuk seorang pria lain yang diketahui Heechul memang sudah lama menaruh hati kepadanya. Gadis itu bahkan sudah kembali lagi seperti dulu, tanpa canggung menceritakan hari-harinya kepada Heechul. Keakraban yang sempat hilang di antara mereka berdua pelan-pelan muncul lagi.

Semua berjalan sesuai harapannya. Lalu kenapa Heechul malah merasa ada yang salah dengan dirinya saat melihat kemesraan Sooyeon dan kekasihnya?

Heechul baru saja menutup aplikasi instagram di telepon genggamnya. Beberapa waktu belakangan, dia mendapati dirinya begitu rajin men-stalking akun instagram Sooyeon dan kekasihnya hanya demi melihat perkembangan hubungan mereka yang sepertinya semakin lama semakin mesra. Heechul merasa diam-diam mencari tahu seperti itu adalah hal paling menyedihkan yang bisa dilakukan oleh pria senarsis dirinya, tapi dia juga gengsi bertanya langsung pada Sooyeon. Pria itu tidak yakin bisa mengontrol ekspresinya kalau apa yang dia dengar terlalu membangkitkan kecemburuan yang berusaha dia kubur dalam selama ini.

Awalnya kegiatan itu tidak sengaja Heechul lakukan. Suatu hari dia mendapat pemberitahuan bahwa Sooyeon mulai mengikutinya di instagram. Dia mengecek profil gadis itu dan mendapati dongsaeng kesayangannya itu ternyata sudah mengunggah banyak sekali foto di hari pertamanya memiliki akun sosial media satu itu. Heechul sejenak tidak percaya bahwa Sooyeon sendiri yang melakukan semua unggahan itu. Sooyeon yang dia kenal selama ini sangat malas memperbarui postingan akun-akun dunia mayanya. Gadis itu bahkan pernah mencela Heechul karena terlalu rajin memamerkan kehidupannya untuk dikonsumsi orang banyak. Kenapa gadis itu mendadak berubah jadi tukang pamer seperti dirinya?

Foto-foto yang Sooyeon pamerkan sebenarnya normal. Kebanyakan hanya foto dirinya dan orang-orang terdekatnya. Fotonya bersama Heechul juga ada. Bahkan foto tanaman di kebun kecil di belakang rumahnya juga tampak di antara jejeran foto koleksi Sooyeon. Tapi tetap saja, yang paling menarik perhatian Heechul adalah sebuah foto yang diunggah Sooyeon pertama kali. Ada gadis itu dan kekasihnya di sana, sedang tersenyum lebar sambil memamerkan cincin pasangan yang sepertinya baru dibeli. Entah kenapa Heechul gerah melihatnya. Bahkan dia dan Yoona yang lebih dulu menjalin hubungan saja belum pernah memiliki couple thing dalam bentuk apapun, tapi pasangan baru ini malah sudah punya cincin pasangan.

Rasa ingin tahulah yang kemudian mendorong Heechul membuka profil pria bernama Donghae itu. Heechul akhirnya tahu bahwa Donghae yang dulu diceritakan Sooyeon sekelas dengannya di beberapa mata kuliah psikologi, ternyata adalah seorang pianis dari sebuah grup band yang saat ini sedang naik daun. Terbukti dari jumlah pengikut instagramnya yang jauh lebih banyak daripada Heechul.

Heechul berulang kali memperingatkan dirinya sendiri bahwa tidak sepatutnya dia cemburu melihat Donghae mengunggah foto apapun. Sama seperti Sooyeon, unggahan pria itu tidak lebih dari sekedar foto-foto tentang hal yang dialaminya dalam sehari. Kebanyakan diambil saat grupnya tampil, sisanya hanya gambar acak yang menampakkan hujan, bunga, dan hal lain yang diunggahnya dengan menambahkan beberapa baris sajak atau kutipan terkenal untuk menambah kesan melankolis-romantis dari sekumpulan foto itu. Tentu saja, foto Sooyeon juga ada, tapi jumlahnya tidak banyak.

Heechul pernah iseng memperbesar satu gambar yang menyajikan wajah Sooyeon yang jelas sekali diambil sembunyi-sembunyi, penasaran dengan yang kalimat yang ditulis Donghae sebagai caption-nya. Pria 33 tahun itu hanya bisa tersenyum mengejek ketika mendapati Donghae menuliskan potongan dialog Romeo dan Juliet karya Shakespeare di bawah foto Sooyeon. Cheesy, celanya.

Tapi seburuk apapun foto-foto itu bagi Heechul, tetap saja bisa membangkitkan rasa tidak suka di dalam dirinya. Sooyeon seharusnya berkencan dengan dirinya, bukan pria lain!

Rasa tidak suka itu semakin menjadi setelah hari ini dia melihat Donghae mengunggah foto sebuah cincin dan tulisan marry me yang dipajang tepat di samping kotak kecil berwarna merah tempat cincin itu disimpan. Heechul sempat terkejut dengan jumlah komentar dan tanda like untuk foto itu yang seolah memberi tahu betapa banyak orang di luar sana yang mendukung perbuatan Donghae.

“Sialan!” makinya, tidak sadar sudah menyuarakan pikirannya terlalu keras hingga seisi ruangan tempatnya bekerja langsung menghadiahinya pandangan penuh rasa ingin tahu. Kalau bukan seorang sunbae-nya langsung menegur dan menanyakan apakah dia baik-baik saja, Heechul tidak akan pernah tahu bahwa makiannya ternyata sudah mengundang begitu banyak perhatian. Pria itu hanya bisa meminta maaf, berdalih sedang pusing dengan deadline yang menghimpitnya.

Heechul kemudian menatap kembali benda tipis berwarna putih yang tadi dia geletakkan ke atas meja. Dia memutuskan menelepon Yoona. Biasanya suara lembut nan ceria gadis itu bisa dengan mudah menenangkan hatinya.

Oppa!” seru Yoona begitu telepon tersambung.

Seperti dugaan Heechul, gadis itu menyapanya dengan begitu ceria. Mereka mengobrol selama hampir setengah jam. Yang dibicarakan hanya hal-hal random tentang apa yang saat itu mereka kerjakan di tempat masing-masing. Yoona kebetulan tengah latihan untuk pementasan musikal terbarunya, sementara Heechul menjelaskan bahwa dia seharusnya mengonsep detail sebuah iklan parfum tapi sedang kekurangan inspirasi.

Setelah telepon ditutup, pria itu kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop, berusaha untuk konsentrasi terhadap pekerjaannya. Yoona tadi sudah sempat memberikan semangat kepadanya. Rasanya jahat sekali jika dia mengabaikan bentuk perhatian seperti itu.

Heechul menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. “Baiklah, fokus!” perintahnya pada diri sendiri.

Sayangnya, hari itu pekerjaan sama sekali tidak masuk ke dalam daftar hal-hal yang harus dia pikirkan. Belum sampai sepuluh menit berkaca di depan laptop, lamaran Donghae terhadap Sooyeon kembali menjadi perhatian utamanya.

“Menikah! Lee Donghae mengajak Sooyeon menikah! Memangnya sudah berapa lama mereka menjalin hubungan? Setahun saja belum. Berani-beraninya dia menyatakan cinta dengan cara kampungan seperti yang dilakukannya ini. Lalu apa pula yang dilakukan gadis-gadis remaja pengikut Donghae yang meninggalkan begitu banyak komentar dukungan dengan kalimat-kalimat yang begitu memuakkan?” gerutu Heechul dalam hati. “Sooyeon itu milikku! Gadis itu tidak boleh menikahi pria selain diriku!”

Dia meraih telepon genggamnya dengan kasar, membuka kembali aplikasi instagramnya, mencari akun Donghae dan membaca semua komentar yang masuk untuk foto sensasional pria itu, berharap akan menemukan Sooyeon menjawab lamaran itu dengan kata tidak.

Dengan tidak sabar Heechul membaca satu per satu komentar yang entah kenapa rasanya kalimat-kalimat itu begitu menyebalkan baginya. Pria itu menyerah setelah bosan menggulirkan tampilan layar teleponnya dan tidak juga mendapati komentar Sooyeon di sana. Rasanya tidak mungkin kalau gadis itu tidak tahu bahwa dia baru saja dilamar.

Heechul sempat terpikir untuk langsung saja bertanya kepada sang pemilik jawaban, tapi dia merasa bahwa itu adalah ide yang hanya akan merusak citranya. Dia tidak boleh menunjukkan kecemburuannya sedikit pun. Itu sama sekali tidak keren.

Gengsi yang teramat tinggi membuat Heechul penasaran selama berhari-hari. Berulang kali dia membuka aplikasi LINE-nya, menyalurkan rasa ingin tahunya lewat pertanyaan-pertanyaan beraroma posesif, hanya untuk kemudian menghapus lagi kata-kata yang baru diketiknya.

Heechul merasa dirinya begitu menyedihkan. Dan bersamaan dengan itu, dia juga jadi begitu pemarah. Dia marah kepada dirinya sendiri yang waktu itu menolak pernyataan cinta Sooyeon. Dia marah kepada Donghae yang secepat itu ingin mematenkan Sooyeon sebagai miliknya. Dia marah kepada Sooyeon yang tidak pernah membahas peristiwa lamaran itu meski mereka berbincang hampir tiap hari di telepon. Dia marah kepada semua orang, termasuk Yoona yang sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Kau kenapa?” gadis itu bertanya kepada Heechul yang baru saja membentaknya. Padahal dia hanya bertanya tentang menu yang ingin dipesan pria itu untuk makan malam mereka kali ini, kenapa pria di depannya itu terlihat begitu emosi?

Heechul tidak memberi penjelasan apapun kepada Yoona. Dia hanya menggumamkan kata maaf sebelum akhirnya mengambil jaket cokelat yang tersampir di sandaran kursinya dan meninggalkan gadis itu sendirian di sana bersama kebingungan yang melandanya. Heechul bahkan ragu apakah permintaan maafnya tadi bisa didengar oleh sosok wanita bergaun hitam yang malam itu sengaja mangkir latihan demi memenuhi ajakan makan dengannya, tapi dia merasa tidak punya waktu lagi untuk kembali menghampiri gadis itu hanya untuk sekedar berpura-pura bersikap selayaknya gentleman seperti yang selama ini selalu berusaha dia lakukan. Pikirannya saat itu dipenuhi oleh sosok lain: Sooyeon. Dan satu-satunya hal yang paling ingin dia lakukan saat ini adalah menemui gadis itu dan meminta supaya dia tidak menerima pinangan Lee Donghae.

  1. LOVE CONFESSION

“Kau tidak akan menikahi Lee Donghae, bukan?”

Sooyeon baru saja pulang kantor setelah lembur demi menyelesaikan pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya. Satu-satunya yang diinginkan gadis itu hanya mandi air hangat dan tidur nyenyak sampai pagi, tapi ketika membuka pintu pagar dan mendapati bahwa yang muncul di hadapannya adalah Heechul yang berdiri dengan ekspresi serius sambil menodongnya dengan pertanyaan yang juga serius, dia tahu bahwa mandi air hangat dan tidur nyenyaknya harus sedikit tertunda.

Gadis itu menutup pintu pagar lalu berjalan mendekati Heechul. Ketika jarak mereka sudah dekat, dia langsung menyuarakan rasa ingin tahunya. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Kau tidak akan menikahi Lee Donghae, bukan?” Heechul mengulangi pertanyaan itu lagi.

Sooyeon menaikkan alisnya dan menghadiahi Heechul pandangan yang membuat lawan bicaranya itu kontan merasa bahwa dia baru saja telah melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat konyol. Memasang tampang polos, gadis itu bertanya, “Tidak boleh?”

Heechul tahu dia tidak berhak melarang gadis itu melakukan apapun. Di atas segalanya, Donghae adalah seorang pria baik. Dia dan Sooyeon juga sudah sama-sama dewasa hingga pilihan untuk menikah adalah hal yang wajar. Ditambah dengan status mereka sebagai sepasang kekasih, rasanya tidak ada salahnya untuk membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Tapi dia juga tahu bahwa ketika pernikahan itu benar terjadi, hatinya akan sangat terluka.

Lagipula, dia menemui gadis itu memang bukan untuk melarang. Dia datang untuk mengajukan permintaan. Bukankah Sooyeon pernah bilang bahwa gadis itu menyukai dirinya? Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Bukankah sah-sah saja menyatakan cinta pada gadis yang sudah memiliki kekasih?

“Aku mencintaimu,” tembak pria itu langsung.

Rasanya seolah ada batu besar yang baru saja terangkat dari punggungnya ketika kalimat itu akhirnya lolos dari bibirnya. Selama ini Heechul mungkin bisa menahan kalimat itu dan mengkamuflasekannya dalam pernyataan sayang dari seorang oppa kepada dongsaeng-nya, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Dia merasa bodoh karena baru menyadari betapa dia menyukai Sooyeon dan betapa berarti keberadaan gadis itu di sampingnya setelah gadis itu menemukan pria lain. Pria itu hanya bisa berharap-harap cemas semoga kesadaran itu datang padanya tidak terlalu terlambat.

Sooyeon mengerjapkan matanya, sedikit kesulitan mencerna apa yang baru saja terjadi. Apakah Kim Heechul baru saja menyatakan cinta padanya? Pria itu tidak salah memakai kosa kata, bukan? Cinta? Bukan sekedar sayang atau suka?

“Kau mencintaiku?” gadis itu mengulang kalimat Heechul dalam nada berbeda. Ada ketidakyakinan yang tersirat dalam cara gadis itu bertanya.

Pria di depannya tidak butuh waktu lama untuk mengangguk yakin.

“Ah, tentu saja. Kau mencintaiku karena aku adik kesayanganmu.”

Ingin rasanya Heechul menjerit frustasi melihat Sooyeon menanggapi pernyataan cintanya dengan kalimat seperti barusan. Andai saja gadis itu tahu sudah berapa lama kalimat itu tersegel di kepalanya, serta betapa sulitnya kalimat itu lolos dari bibirnya.

“Aku mencintaimu sebagai seorang pria.”

“Ini bukan karena kau cemburu melihat aku bersama Donghae, bukan?”

Sebenarnya iya. Rasa cemburu itulah yang membuat Heechul meninggalkan Yoona duduk kebingungan di restoran hanya untuk kemudian berlari seperti orang gila ke rumah Sooyeon karena tidak kunjung mendapat taksi. Rasa cemburu jugalah yang mendorongnya mengaku pada diri sendiri bahwa dia sebenarnya sudah menyukai gadis itu jauh sebelum Sooyeon menyatakan cinta padanya. Tapi dia menolak mengakui semuanya di depan gadis itu.

Tidak kunjung menemukan alasan yang tepat dan sekiranya bisa menyelamatkan harga dirinya, Heechul akhirnya malah melakukan sebuah tindakan bodoh yang sesaat kemudian langsung disesalinya. “Aku sama sekali tidak cemburu padanya,” ujarnya dengan ekspresi yang justru berlawanan dengan apa yang dia ucapkan.

Sooyeon merasa ada kembang api yang tiba-tiba meledak di hatinya melihat pria di depannya salah tingkah seperti itu. Tidak diragukan lagi, Kim Heechul mencintanya!

Sooyeon tersenyum dalam hati. Senang sekali rasanya melihat raut muka Heechul saat ini. Merasa berada di atas angin, gadis itu memilih mempermainkan Heechul sedikit lebih lama lagi. Gadis itu memicingkan mata, menatap Heechul dengan pandangan curiga, dan bertanya, “Benarkah?”

Heechul mengerang putus asa. “Sialan, Sooyeon! Kau benar-benar suka melihatku menderita, huh?”

Kali ini gadis itu tidak mampu lagi menahan senyumnya. Hitungannya dulu ternyata tidak salah. Ganjil, berarti Heechul juga menyukainya. Dia tidak tahu kenapa selama ini dia begitu percaya pada hal konyol itu, tapi waktu telah membuktikan bahwa ternyata kepercayaannya sama sekali tidak keliru. Semua terbukti malam ini.

Berjinjit, Sooyeon mendekatkan bibirnya ke telinga Heechul dan membisikkan jawabannya kepada pria itu. Ketika sudah selesai, gadis itu mengucapkan selamat malam dan masuk ke rumah, meninggalkan Heechul yang berdiri mematung di depan pintu dengan sejuta perasaan berkecamuk di hatinya.

  1. THE GROOM

Heechul berdiri di sana, di altar sebuah gereja yang terletak tidak jauh dari kawasan tempat tinggalnya. Di sampingnya, seorang pria paruh baya berpakaian putih yang hari ini sekali lagi akan menyatukan sepasang manusia dalam sebuah ikatan suci melalui sebuah janji di depan Tuhan terlihat bersiap-siap dengan kitab di tangannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada kursi yang berderet rapi dan menghadap ke arahnya. Beberapa dari kursi itu diduduki oleh orang-orang yang terlihat familier baginya.

Heechul merasa ada sesuatu yang mendadak mencuri napasnya ketika pintu gereja itu dibuka dan menampilkan sesosok gadis bergaun putih yang sangat dikenalnya. Pria itu bingung bagaimana keterkejutan masih bisa menghampiri dirinya mendapati betapa memukau sosok yang saat itu sedang melangkah menuju dirinya. Padahal mereka sudah bertemu beberapa jam sebelumnya, ketika dia nekad menyelinap ke ruang rias hanya demi melihat penampilan gadis itu setelah didandani, lalu kenapa sekarang sensasi aneh itu masih bisa merajainya?

Dia selalu membenci adegan pernikahan di film-film drama, ketika pengantin wanita berjalan menuju altar dalam gerakan lambat dan orang-orang seisi ruangan hening memperhatikan bagaimana sosok feminin itu menunduk khidmat menuju pria yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dia lebih benci lagi pada ekspresi yang muncul di wajah sang pengantin pria ketika melihat calon mempelainya semakin mendekat dan lagu romantis menjadi pengiring semua peristiwa sakral itu.

Tapi betapapun Heechul membenci hal seperti itu, betapapun dia melakukan segala cara agar hal itu tidak terjadi padanya, semua tetap saja terjadi. Pria itu yakin, jika ada yang mengabadikan apa yang terjadi padanya saat ini dalam bentuk video, dia akan melihat kejadian yang sama persis seperti adegan di film-film drama yang selalu dia cela itu.

Sooyeon sudah berdiri di dekatnya. Jarak mereka sudah sedemikian dekat hingga Heechul merasa sangat sulit menahan godaan untuk tidak mewujudkan ide gila yang terlintas di pikirannya saat itu. Mereka masih sempat saling melempar tatapan menggoda untuk satu sama lain sebelum akhirnya menghadap ke arah pendeta dan menyilakan pria itu memulai prosesi pemberkatan.

“Apakah kau, Lee Donghae, bersedia menerima gadis di depanmu ini sebagai istri, mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, serta saling mengasihi sampai maut memisahkan kalian?” Suara lantang pendeta menggema ke seluruh sudut gereja itu.

“Aku bersedia.”

“Dan apakah kau, Jung Sooyeon, bersedia menerima pria di depanmu ini sebagai suami, mencintai segala kelebihan dan kekurangannya, serta saling mengasihi sampai maut memisahkan kalian?

Gadis yang disebutkan namanya itu diam sejenak, memperhatikan calon suaminya tersenyum manis kepadanya, menunggu dia memberikan jawaban atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan pendeta kepadanya. Di belakang pria itu ada Heechul, berdiri di sana dengan jas hitam rapi dengan status sebagai pendamping pengantin, juga menghadiahinya senyum yang sama manisnya seperti yang diberikan Donghae kepadanya.

Dengan pandangan terkunci pada calon suaminya, Sooyeon menjawab, “Aku bersedia.”

Riuh tepuk tangan memenuhi gereja setelah pendeta menyatakan Donghae dan Sooyeon resmi menjadi sepasang suami-istri. Teriakan yang meminta mempelai pria mencium mempelai wanita pelan-pelan terdengar hingga makin lama terasa makin menuntut. Donghae tentu saja tidak keberatan melakukan perintah itu. Dengan senyum melekat di bibirnya, dia mendekatkan wajahnya kepada Sooyeon yang menyambutnya dengan suka hati.

Semua orang di ruangan itu bergembira, kecuali seorang bestman yang hanya bisa ikut bertepuk tangan dengan senyum hambar tersungging di bibirnya sambil dalam hati berharap bisa menculik pengantin wanita dan membawanya ke tempat di mana mereka bisa bersama selamanya.

to be continued…

A/N: Pernah dipublish di blog pribadi author dengan judul dan cast yang sama.

2 thoughts on “The Vow Part 3”

  1. hi there!

    jadi… lo? jadi kok ngetwits wkwkwk. waaah kirain….
    ah tauk ah… komennya disambung di chapt lanjutannya aja kali ya hahha

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s