Destiny (Part 7/END)

Destiny

D E S T I N Y

Scriptwriter: Eunhaecutiepie (eunhaecutiepie.wordpress.com)

Cast(s): Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating: PG-13

Duration: Chaptered

Previous: / 1 / 2 / 3 / 4 / 5 / 6 /

++

Part 7

“Yongie-ya, gwenchana?” tanya Kyuhyun sambil menyentuh kening Yonghee. Gadis itu sedang dalam keadaan tidak baik sekarang, bahkan ia memebebaskan Hara dan membiarkannya berkeliaran sepanjang hari tanpa memerintahnya melakukan apapun.

Seharian ini ia hanya duduk termenung di sudut kelas dengan pandangan yang benar-benar kosong, membuat Kyuhyun khawatir dan membawa gadis itu ke ruangannya.

“Oppa…” panggilnya lemah, tidak mempedulikan pertanyaan Kyuhyun barusan.

“Apa aku benar-benar menjijikan?” tanyanya datar, membuat Kyuhyun membulatkan matanya kaget mendengar pertanyaan menyakitkan itu. Kyuhyun menghela napasnya pelan.

“Kau ini kenapa, hmm?” laki-laki itu mengelus kepalanya lembut, berusaha menenangkan wanita di hadapannya yang kini mulai berbicara yang tidak-tidak.

“Apa perasaanku benar-benar tak pantas dimiliki seorang manusia?” tanyanya lagi.

“Kau kelelahan Yongie-ya…”

“Jawab saja pertanyaanku oppa!” Teriak Yonghee dengan air mata yang mulai mengalir di sudut matanya. Kyuhyun menghembuskan napasnya berat.

“Yonghee, dengarkan aku…”

“Siapapun orang yang kau cintai sebagai laki-laki, itu bukan sebuah kesalahan. Setiap orang berhak mencintai siapapun walau ia belum tentu bisa memilikinya. Perasaanmu pada Donghae hyung juga tidak salah, mungkin kalian terbiasa bersama yang membuatmu mulai menganggapnya sebagai laki-laki dewasa yang kau cintai. Tidak ada perasaan yang salah Yongie-ya. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.” Ucap kyuhyun sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi gadis itu.

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya, kenapa ia bisa menyukaiku?” Donghae mengusap wajahnya kasar, tak bisa menyembunyikan sisi lemahnya di hadapan gadis yang kini menatapnya khawatir.

“Oppa…” Jinhae mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Donghae yang terkepal erat. Mereka sedang berada di restoran tempat Donghae bekerja sekarang, untung saja tempat itu sedang sepi jadi Donghae masih bisa bersantai disini dan menyampaikan keluh kesahnya di hadapan Jinhae,

“Kau jangan terlalu keras padanya, dia tidak sepenuhnya salah oppa…” Saran Jinhae.

“Aku hanya tak ingin perasaannya semakin tumbuh, aku bingung dengan semua ini. Dia adalah adik kandungku Jinhae-ya…” Ucap Donghae lemah.

“Jika kau memang menganggapnya sebagai adikmu, lupakanlah. Anggap saja pernyataan cintanya saat itu hanyalah sebuah gurauan, masalah ini tak akan selesai jika kau terus-terusan menghindarinya. Terlebih kata- kata kasar yang belakangan ini sering kau gunakan padanya pasti membuat Yonghee semakin tersakiti oppa, dia tidak terbiasa di perlakukan seperti itu olehmu.”

“Tapi—”

KRINGGG

“Aish!” Umpat  Donghae kesal saat handphonenya berdering kencang. Entahlah emosinya akhir-akhir ini sangat tidak stabil. Mungkin efek dari masalah rumitnya dengan Yonghee yang tak kunjung mendapatkan titik terang.

“Hyung, Yonghee pingsan di sekolah!” Suara panik Kyuhyun membuat seluruh tubuhnya menegang, ia mencengkram apronnya kuat sampai kain itu kusut tak beraturan, perang batin mulai terjadi di dalam dirinya. Antara jujur dengan kekhawatirannya atau bersikap dingin dan seolah olah tak peduli dengan keadaan gadis yang sangat disayanginya itu. Donghae menghembuskan napasnya kasar, mencoba menenangkan tubuhnya.

“Lalu?” jawabnya dengan nada yang datar dan terkesa dingin.

“Maksudmu?” tanya kyuhyun bingung.

“Lalu kenapa kalau gadis itu pingsan? Aku masih punya banyak pekerjaan lain yang harus kuselesaikan daripada mengurusi Anak itu.” Sungguh, tamparan maya itu benar-benar menghampirinya, menghakimi dirinya yang berbohong terlalu jauh dan malah menyakiti dirinya sendiri, bahkan tenggorokannya seperti tercekik sesuatu saat ia mengeluarkan kalimat kejam itu.

“Kau…” Kyuhyun tak dapat menyelesaikan kata-katanya, ia terdiam beberapa saat, mencoba menormalkan emosinya yang ikut terpancing.

“Dirimu berlari sepanjang 2 kilometer saat itu hyung, bahkan aku belum mengatakan keadaannya tapi kau sudah membanting ponselmu. Ini kejadian yang sama, tapi kenapa responmu sangat berbeda? ”

Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain saat Kyuhyun tiba-tiba menceritakan kejadian yang ia alami dulu, Sementara Jinhae memandangnya penuh tanya. Penasaran dengan siapa dan apa yang sedang Donghae obrolkan di ponselnya.

“Kau memarahiku habis-habisan hanya karena aku tertidur di pangkuannya, kau tak rela adikmu di sentuh orang lain, bahkan kau seperti orang gila saat melihatnya terbaring tak berdaya di ranjang Rumah Sakit hyung.” Donghae menghembuskan napas beratnya saat Kyuhyun terus menceritakan hal itu satu persatu.

“Lalu kau mau aku bagaimana? Melakukan hal seperti dulu? Maaf, aku sedang sibuk. Kau bisa mengurusnya sendiri, aku tak peduli.”

Jawabannya itu seolah bumerang yang berbalik menyerangnya, kata-kata yang ia ucapkan bahkan menyakitinya berkali-kali lipat.

“Kau gila hyung, kau bukan Lee Donghae yang kukenal.” Ucap Kyuhyun tak percaya, beberapa sat kemudian nada telepon terputus itu terdengar dengan jelas di telinganya, yang menunjukan bahwa guru matematika itu sudah mengakhiri panggilannya. Donghae menatap layar handponenya nanar.

“Oppa, wae-gurae[1]?” Tanya Jinhae penasaran melihat mata Donghae yang sudah tak fokus dan ekspresi tegang itu menghiasi wajahnya.

“Jinhae, tolong aku…”

“Bantu apa oppa? Apa yang terjadi?” tanya Jinhae bingung.

“Bisakah kau datang ke sekolah Yonghee? Dia pingsan di sana. Bantu aku untuk mengecek keadaannya dan pastikan dia baik-baik saja.”

“Yongie-ya….”

“Eonni?”

Yonghee memalingkan wajahnya ke arah Jinhae yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kesehatan itu, keningnya berkerut samar mendapati gadis yang memiliki hubungan khusus dengan oppa-nya itu datang ke sini menemuinya. Wanita itu meletakkan tas tangan yang ia bawa di ranjang yang kosong lalu duduk di hadapan Yonghee yang masih lemas dan tertidur di ranjang.

“Gwenchana?” tanya Jinhae khawatir. Yonghee menganggukkan kepalanya.

“Kenapa eonni bisa ada di sini?” Yonghee menaikkan salah satu alisnya heran.

“Ah, itu…. Cho Kyuhyun, dia… menelpon oppamu…lalu…”

“Lalu oppaku tak mau datang kesini? Begitu?” tanya Yonghee yang terpancing emosi. Jinhae menggelengkan kepalanya panik, tak mau gadis itu salah sangka dengan kejadian ini.

“Bukan begitu Yong… oppamu hanya sedang terlalu sibuk.” Jawab Jinhae mencoba memberi pengertian.

“Dia tak pernah tak seacuh ini padaku eonni, seberapa sibuk pun dirinya, Lee Donghae yang dulu akan langsung berlari mencariku, memastikan aku baik-baik saja tanpa luka gores sedikitpun.” Balas Yonghee miris.

Jinhae menatap Yonghee tak yakin, ingin sekali wanita itu berteriak dihadapannya jika orang yang membuatnya datang kesini adalah laki-laki itu, memohon padanya untuk mengecek keadaan adiknya. Ia hanya terlalu egois dan tak ingin mengeceknya secara langsung, laki-laki itu hanya terlalu takut jika ia menunjukkan perhatiannya pada Yonghee, maka perasaannya akan semakin tumbuh. Laki-laki itu hanya ingin membuat Yonghee membencinya agar adiknya berhenti mencintai kakaknya sendiri. Tapi Jinhae juga tak mungkin meceritakan fakta yang sebenarnya pada gadis yang ada di hadapannya, ia sudah berjanji pada Donghae bahwa ia akan merahasiakan semua itu.

“Mungkin dia terlalu membenciku sampai-sampai melihat wajahkupun tak sudi.” Jinhae mendongakkan kepalanya kaget saat mendengar kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut Yonghee dengan mulusnya.

“Yongie-ya…”

Yonghee’s pov

Sejak kejadian itu, sejak Donghae oppa benar-benar menunjukan ketidaksukaannya kepadaku, aku mulai menjauh. Menjauh dari dirinya yang memang lebih dulu menjauhiku. Mungkin memang seharusnya seperti ini. Bersikap tak peduli satu sama lain seakan kami adalah orang asing yang tinggal dalam satu atap. Aku mencoba mengabaikannya, mengikuti kemauannya yang selalu mengbaikanku dengan melakukan hal yang sama. Walau terkadang hati ini terasa sakit, tapi setidaknya aku tidak menjadi orang bodoh yang mengemis-ngemis perhatian padanya. Mungkin itu lebih baik. Untukku, Dan untuknya.

Kulangkahkan kakiku keluar kamar, mendapati laki-laki itu sibuk dengan sepotong roti di hadapannya. Seperti biasa, sudah beberapa minggu ini tak ada kalimat sapaan yang terlontar dari mulut kami. semuanya terasa hambar, hening, dan sepi. Aku tak suka keadaan seperti ini, aku tak mau lagi berhadapan dengannya jika hanya untuk menunjukan keegoisan masing-masing. Tanpa ada obrolan hangat di pagi hari, ataupun sebuah pelukan selamat tinggal yang biasanya selalu kuberikan sebelum berangkat sekolah.

Aku melangkahkan kakiku menjauh darinya, memutuskan berangkat ke sekolah, tanpa mengisi perutku terlebih dahulu. Tapi baru beberapa langkah aku melewati meja makan, suara itu sudah menghentikanku.

“Kau mau kemana? Habiskan dulu sarapanmu.” Ucapnya dingin. Aku menghentikan langkahku sejenak, menoleh ke belakang, menatap punggungnya dan berdecih pelan saat kalimat yang lebih terdengar seperti perintah itu berdengung di telingaku.

“Apa pedulimu? Lebih baik aku tak makan seharian, daripada harus menyantap sepotong roti dengan orang yang bahkan tak kukenal.” Balasku tak kalah tajam. Kulihat Donghae oppa mengepalkan tangannya yang ada di atas meja, dan urat-urat itu menegang seiring dengan kata-kataku yang meluncur mulus dengan indahnya.

Tanpa mempedulikan tanggapannya, kulangkahkan kakiku keluar rumah dengan perasaan yang tak menentu. Berharap bisa menemukan hal yang menyenangkan di sekolah. Kebetulan hukuman gadis pirang itu masih berlaku.  Aku akan memanfaatkan hari-hari terakhirku menjadi majikan Park Hara.

“Hei, kau!” Panggilku pada Hara—yang sebenarnya adalah seniorku—gadis itu sedang sibuk menyapukan bedak ke wajah mulusnya dan tak menyadari kehadiranku yang sudah berada di dalam kelasnya sedari tadi. Gadis itu mendecih pelan.

“Aku kira kau lupa dan membebaskanku dari hukuman sialan itu.” Ucapnya sambil membereskan alat-alat make up yang berserakan di mejanya. Aku menatapnya sambil tersenyum sinis.

“Sayang sekali harapanmu tidak terkabul Park Hara-ssi.” Ledekku. Gadis itu membulatkan matanya tak percaya.

“Aish, kau_” kesalnya hendak memakiku lebih jauh, tapi aku langsung menahannya.

“Simpan saja energimu untuk nanti Park Hara, karena ada tugas penting yang harus kau kerjakan sekarang.”

“Apa?” Tanyanya malas.

“Sakiti aku.”

“MWO???” gadis itu menatapku tidak percaya, bola matanya seperti hendak keluar saar aku mengeluarkan perintahku untuknya. Aku menatapnya malas, mencibir kekagetannya yang berlebihan.

“Sakiti aku sampai lebam Park Hara!”

“Tapi, kyuhyun seonsaengnim…” Gadis itu menatapku ragu.

“Aku jamin kau tak akan disalahkan. Dan jangan takut untuk menyakitiku, karena aku memang menginginkannya.” Jawabku santai dan mulai mengarakan tangannya untuk menjambak rambutku seperti dulu.

“Lakukanlah…” Ujarku mempersilahkan.

“Kau gila Lee Yonghee!” Teriaknya frustasi, bingung dengan tindakan apa yang harus ia lakukan. Aku yakin gadis itu juga takut jika ia akan dimarahi guru lagi.

“Kelas ini kosong, tenanglah, tak akan ada yang tahu.” Ucapku sedikit kesal dengan kerjanya yang lama. Tapi gadis itu masih terdiam, sibuk menggigiti kukunya untuk mengalihkan kegugupan.

“Kau harus menuruti kata-kata majikanmu Park Hara…” Ucapku mengingatkan. “Sakiti aku…”

“SAKITI AKU ATAU KAU TAK AKAN KUMAAFKAN!”

PLAKKKK

Kurasakan tamparan keras untuk kesekian kalinya menghampiri pipiku. Aku tersenyum senang.

“Aku belum puas park hara, sakiti aku sampai lebam, dan kau terbebas dari hukumanmu.”

BUGH

Gadis itu mendorong tubuhku kasar sampai pinggangku terbentur meja dengan sangat keras, membuatku terduduk lemah di lantai sambil memegangi pinggangku.

PLAKKK

Dan untuk kedua kalinya tamparan itu kembali mendarat di pipiku, membuat kedua sisi wajaku lebam. Aku tersenyum puas menanggapi hasil kerjanya. Kalian boleh menganggapku tidak normal, tapi aku merasa ada kepuasan tersendiri saat membuat tubuhku menjadi lebam. Donghae oppa sangat overprotective padaku, dia tidak suka dan tidak akan pernah terima jika bagian tubuhku ada yang cacat, dan sekarang, dia sudah tak peduli padaku. Jadi untuk apa aku menjaga tubuhku dari orang lain? Akan lebih menyenangkan jika aku membuat tubuhku penuh luka, lalu menunjukan lebam dan darah itu tepat di hadapannya.

“Park Hara!” Tiba-tiba saja tubuh gadis itu menegang saat suara lantang Cho Kyuhyun menggema di kelas ini, Membuatku ikut menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati guru matematika itu sedang berjalan terburu-buru ke arah kami dengan tangan terkepal.

“APA YANG KAU LAKUKAN? BELUM PUAS KAU MELIHATNYA TERBARING 8 HARI DI RUMAH SAKIT?”

Kyuhyun oppa menarik gadis pirang itu menjauh dariku lalu mencengkram bahunya kasar. Sedangkan Hara sudah menundukkan kepalanya takut. Aku mencoba bangkit dari lantai dan mulai mendekati mereka.

“Aku yang menyuruhnya oppa.” ucapku pelan membuat laki-laki itu menolehkan kepalanya ke arahku dengan tatapan tidak percaya.

“Aku yang menyuruhnya untuk menyakitiku. Lepaskan dia.”

“Apa kau sadar dengan perbuatanmu tadi? meminta orang lain untuk menyakiti dirimu sendiri? Cihhh…”

“Kau masih belum puas tak sadarkan diri seperti orang koma selama 3 hari di rumah sakit?”

“Apa kau waras, hah?”

“Kau…”

“Kau gila Lee Yonghee!”

Kyuhyun oppa tiba-tiba berteriak tak jelas sesampainya kami di rumahku, padahal sepanjang perjalanan tadi dia hanya diam, tak mau menatapku sama  sekali. Mungkin dia masih shock dengan apa yang dilihatnya tadi.

“Kenapa kau ini? Tadi kau baik-baik saja selama perjalanan.” Ucapku mencoba tersenyum. Tapi laki-laki itu malah menatap wajahku tajam.

“Katakan. Apa yang terjadi?”

“Maksudmu?” tanyaku balik.

“Apa yang terjadi sampai membuatmu seperti ini? Apa tujuanmu melakukan semua ini Yongie-ya… Lee Donghae membuatmu seperti kehilangan pegangan hidup.” Ujar Kyuhyun oppa mulai melemah. Matanya menatapku prihatin sedangkan tangannya sudah bergerak mengelus kepalaku. Aku terkekeh pelan.

“Aish, kau ini berlebihan sekali. Aku tidak apa apa, sungguh. Sudahlah, tak usah dipikirkan, aku harus masuk, oke?” bujukku sambil melepaskan tangannya dari kepalaku lalu membuka seatbelt dan pintu mobil. Aku tak mau terlalu lama berada di mobilnya dan membuat laki-laki itu tahu lebih banyak tentang keadaanku, ataupun berbagi tentang hal ini yang akan membuatnya  ikut merasakan penderitaanku. Cukup aku sendiri yang merasakannya, Ia sudah terlalu banyak kusakiti.

“Jangan melakukan hal aneh-aneh selama aku tak mengawasimu, kau benar-benar mengkhawatirkan, tahu?” gerutunya saat aku membungkukkan tubuhku, berkomunikasi dengannya lewat kaca jendela mobil yang terbuka.

“Obati luka-lukamu, kalau bisa panggil saja dokter ke sini, mengerti?” lanjutnya. Kekhawatiran itu tergambar jelas di wajahnya.

“Ne, arasseo.” Jawabku untuk menenangkannya.

Kyuhyun oppa menatap wajahku sejenak lalu menaikkan kaca mobilnya dan berlalu dari rumahku beberapa saat kemudian.

Aku menghela napasku berat, mendongakkan kepalaku ke atas sambil tersenyum miris. Memikirkan kehidupanku yang sangat rumit dan penuh dengan duri menyakitkan. Mencintai kakakmu sendiri bukanlah perkara yang mudah, terlebih kami adalah sepasang adik kakak yang hanya hidup berdua, tanpa orang tua ataupun kerabat. Membuat kami saling ketergantungan satu sama lain, Aku yang hanya memilikinya dan dia yang hanya memiliki diriku harus terpisahkan karena cinta terlarang. Menyedihkan sekali.

“Dari mana saja kau?”

Aku menghentikan langkahku saat suaranya tiba-tiba menembus indra pendengaranku, tak terasa ragaku sudah ada di dalam rumah. Seolah-olah kaki ini mengambil alih kekuasaanku dalam menentukan arah tujuan, tiba-tiba saja aku sudah berada di sini dengan dirinya yang berada tepat di hadapanku. Terlihat dari kaki panjangnya yang dapat kulihat walaupun aku sedang menunduk.

“Berkencan lagi dengan guru matematikamu itu? Cihh…” Ucapnya sinis.

Aku mendongakkan kepalaku menatap wajahnya, membuat laki-laki itu menegang di tempat dengan tiba-tiba saat melihat keadaan tubuhku. Sifat overprotectivenya itu masih terlihat, walaupun ia berusaha keras untuk menutupinya.

“Dengan siapapun aku pergi, itu bukan urusanmu Lee Donghae-ssi.” Balasku dingin. Tapi Donghae oppa tak menggubris ucapanku, dia hanya terdiam menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala, meneliti setiap inci tubuhku. Membuatku kesal dengan sikapnya dan hendak melangkahkan kaiku ke kamar, tapi tangan besar itu tiba-tiba menghentikan pergerakanku, membuatku menatap matanya tajam.

“Apa kau sebegitu bodohnya sampai mengalami hal ini dua kali berturut-turut?” tanyanya datar. Aku menyunggingkan senyum sinisku mendengar pertanyaannya.

Apa ini salah satu bentuk perhatiannya untukku?

“Kau mengkhawatirkanku?” Tanyaku tak percaya.

Laki-laki itu hanya terdiam, memalingkan wajahnya ke arah lain seolah menhindari mataku.

“Kau yang menghindariku oppa, kau memerintahku untuk menjauh darimu. Tapi sekarang apa yang kau lakukan? Kau bahkan terus merecoki urusanku sedari pagi. Kemana sikap tak pedulimu selama beberapa minggu terakhir?”

Aku membalikkan tubuhku, menatapnya yang kini masih memandang ke arah lain. Rahanganya terkatup keras, sedangkan cengkramannya di pergelangan tanganku semakin kuat. Aku meringis pelan saat Tiba-tiba saja dirinya menyeretku ke arah dapur.

Laki-laki itu mendudukkan tubuhku kasar di atas kursi makan lalu mengacak-acak kotak obat dan kembali dengan betadine beserta sebaskom air hangat lengkap dengan handuk kecil di tangannya. Aku menatap miris dirinya yang sibuk membuka plester luka lalu memeras kain yang sudah dibasahi air hangat.

Apa maksudnya? Dia mau mengobati lukaku? Lalu setelah membuatku terbang seperti ini dia akan kembali meghempaskanku? Begitu? Memandangku sebelah mata karena aku menyukai kakak laki-lakiku sendiri yang bahkan menunjukkan kedekatannya dengan seorang gadis kaya? Hah… picik sekali kau Lee Donghae.

“Apa yang kau lakukan oppa?” tanyaku serak. Tenggorokanku seakan kering melihat tangannya yang bergetar membersihkan lukaku yang cukup besar di bagian lutut. Rasa pedih dari luka itu tak sebanding dengan goresan maya yang ia torehkan di setiap organ vitalku.

“Jauhkan tanganmu dari tubuhku!” Perintahku dingin. Tapi pria itu tidak mempedulikanya, tangan yang tadi sibuk membersihkan luka itu kini beralih meneteskan betadine ke atas kapas lalu menempelkannya di bagian yang sudah ia bersihkan.

Dia belum puas menyiksaku… dia membiarkanku merasa dicintai lalu beberapa saat lagi dia akan menginjak-injak perasaanku sampai tak berbekas.

“Hentikan!”

“Hentikan Lee Donghae!!!” Teriakku emosi lalu menendang baskom dan kotak P3K yang berada tepat di sampingnya kasar, membuat alat-alat medis itu berserakan di lantai. Dadaku naik turun, seiring dengan napasku yang mulai tersendat sendat. Kutatap dirinya yang masih diam dengan lututnya yang menyentuh lantai, lalu bangkit dari dudukku dan melangkahkan kaki ini kasar.

GREPPP

Jantungku seolah berhenti berdetak saat itu juga.

Laki-laki itu, laki-laki yang beberapa minggu terakhir ini menjauhiku, menambah ketidaknormalannya  hari ini. Setelah menyuruhku sarapan dan mengobati luka di tubuhku, yang ia lakukan sekarang ini lebih tidak masuk akal lagi, membuat bulu kudukku meremang merasakan tangan berototnya melingkar erat di pinggangku.

“Aku sudah tidak kuat lagi yong…Maaf, maafkan oppa…” Ucapnya lemah, berbanding terbalik dengan pelukannya semakin mengerat, mencegah tubuhku untuk pergi dari dekapannya.

“Maafkan aku yang sudah membentakmu, maafkan aku yang menghindarimu selama ini, maafkan aku yang membuatmu hilang kendali sampai menyakiti tubuhmu untuk melampiaskan semuanya, dan maafkan aku yang menghina perasaan cintamu yang sebenarnya lebih dulu kumiliki.”

DEGGG

“Oppa,, apa maksudmu? Kau…” Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, seluruh oksigen di muka bumi ini seolah bergerak menjauhiku, membuat paru-paruku tidak bekerja sesuai dengan fungsinya dan hanya menghasilkan gerakan naik turun di dadaku.

“Aku lebih dulu menyukaimu yong, sejak kita keluar dari panti asuhan 8 tahun yang lalu. Maafkan oppa yongie, aku hanya tak mau perasaaku semakin bertambah jika aku mengakui semuanya padamu. Perasaan ini terlarang.”

“Lalu, kenapa kau mengakuinya sekarang?”

“Karena aku mengetahui sebuah hal penting. Seseuatu yang dapat merubah total hidup kita.” Donghae oppa membalikkan tubuhku, membuat kami saling berhadapan. Kutatap wajahnya yang mengukir sebuah senyum tulus.

“Dengarkan aku baik-baik…”

Laki-laki itu menangkupkan tangan besarnya ke wajahku yang di penuhi memar bekas tamparan Hara tadi siang.

“Kau, bukan adik kandungku. Kita tak memiliki hubungan darah apapun yong, kita dilahirkan dari rahim yang berbeda. keluargamu tak memiliki ikatan apapun dengan keluargaku.”

Aku mengerutkan keningku bingung mendengar ucapannya. Aku seperti mendengar mitos jaman dulu yang tak diakui kebenarannya.

“Oppa, jangan begini. Jangan membuat sebuah cerita palsu yang nantinya malah semakin menyakiti kita berdua.”

“Aku tidak mengarang cerita palsu yongie-ya. Semua itu benar adanya. 3 hari yang lalu Jinhae menceritakan semuanya padaku, alasannya mendekatiku selama ini karena ia mendapatkan petunjuk bahwa aku adalah kakak kandungnya, adegan copet-mencopet beberapa bulan yang lalu juga adalah rekayasa, gadis itu sengaja menjebakku dengan pakaian mewahnya agar dia menjadi sasaran copetku dan memiliki alasan untuk menyelidiki hidup kita lebih dalam. Awalnya dia ragu bahwa aku adalah kakaknya karena keberadaanmu di sampingku. Dia tidak memiliki adik perempuan, sedangkan kita berprasangka kalau aku dan kau adalah saudara kandung.”

Donghae oppa menghela napasmya beberapa kali lalu mengelus rambutku lembut.

“Tapi semua itu hanya prasangka yong, ibu panti menganggap kita saudara kandung karena kita ditemukan bersamaan, tapi sebenarnya kita kecelakaan dalam mobil yang berbeda. Keluarga kita ingin liburan bersama saat itu karena orang tuamu dan orangtuaku sangat dekat, bahkan mereka merencanakan untuk menjodohkanmu denganku, maka dari itu kedua orang tua kita ingin lebih mendekatkan diri satu sama lain dan berencana menginap di sebuah villa di mokpo, villa yang kita kunjungi beberapa minggu yang lalu. Tapi sayangnya rencana tersebut tak terealisasikan karena saat dalam perjalanan menuju kesana, Ayahmu menabrak mobil keluargaku karena rem yang ada di mobilmu tak bekerja sesuai dengan fungsinya, membuat kedua mobil itu jatuh secara bersamaan ke sebuah jurang landai. Aku sudah menemui kedua orangtuaku kemarin siang, dan aku usahakan kau bisa bertemu dengan orangtuamu juga dalam waktu dekat. Mereka sedang berada di jepang sekarang, setelah kecelakaan itu mereka memang menetap dan melanjutkan bisnis disana.” Jelasnya panjang.

Benarkah?

Apa aku sedang bermimpi?

Aku terlalu takut mempercayainya dan terhempas lebih jauh jika ternyata ini hanya bualan frustasinya akibat masalah rumit ini.

“Oppa… kau jangan bercanda. Leluconmu tidak lucu.”

“aku tidak bercanda Lee Yonghee, kita bukan saudara kandung! Aku memilki orangtuaku sendiri, begitu juga denganmu,  percayalah. Berhenti menyakiti dirimu sendiri, peganglah tanganku. Dan Maafkan aku yang terlalu takut utuk mengakui semuanya dari awal padamu, maafkan aku.” Ucapnya sambil menatapku dalam dan membelai lembut rambutku, seolah meyakinkanku bahwa apa yang di utarakannya sekarang ini adalah sebuah fakta.

 Ternyata hubungan ini tidak terlarang, hubungan Donghae oppa denganku adalah hubungan yang normal antara laki-laki dan perempuan. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah… Aku masih memiliki orang tua? Benarkah?

“Kita memang ditakdirkan bersama yong, alasan kita saling mencintai adalah karena kita memang dipersatukan sejak lama. Karena kau adalah takdirku, dan aku adalah takdirmu, takdir yang tak dapat di ubah.”

Mataku berkaca-kaca mendengar  penuturannya. Apakah ini halusinasiku yang terlalu frustasi memikirkannya? semua ini terlalu banyak, terlalu memusingkan. Aku tidak mengerti kenapa hidupku sangat rumit dan penuh kejutan. Kutatap wajahnya yang masih tersenyum ke arahku.

“Lalu, bagaimana denganmu dan Jinhae eonni? Aku kira kalian adalah sepasang kekasih…” Tanyaku penasaran.

Laki-laki itu malah semakin melebarkan senyumnya lalu menarikku ke dalam pelukannya yang sudah sangat kurindukan, menenggelamkan tubuh mungilku ke dalam dekapannya yang hangat dan tersenyum lega saat merasakan dadanya naik-turun mengais oksigen bersamaan dengan irama detak jantungnya yang mengalun merdu di telingaku.

“Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun Yongie sayang, dia adalah adik kandungku. Kau saja yang terlalu pencemburu dan sok tahu sampai-sampai menganggap kami sudah memiliki hubungan.” Ucapnya sebal sambil menyentil keningku. Aku terkekeh pelan, membuat laki-laki itu ikut tertawa dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku, membuat wajahku benar benar tenggelam dalam dada hangatnya.

Ternyata sesederhana itu…

Karena kita sudah dipersatukan sejak lama. Karena dia adalah takdirku, dan aku adalah takdirnya.

Takdir yang tak dapat diubah.

END

[1] . Ada apa

One thought on “Destiny (Part 7/END)”

  1. hi there!

    kyaaaa so sweeettt happy ending!! suka banget!
    yokatta, Jinhee emang adiknya Donghae. dan mereka berdua emang so sweet sampai saling mencintai. ya siapa sih yg gasuka sama donghae oppa~ hahhhaha
    nasibnya yg terkatung katung di sini (?) nasibnya Kyu wkwkwk.

    but after all, suka banget sama endingnya! pas baca sempet merinding (?) antara kedinginan sama saking emosionalnua penjelasan donghae hahhaha

    hmmm dikasih 1 chapt bonus leh ugha *banyak maunya nih*

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s