MY 20 eps.4 -END-

My 20 - 2

By Goo Ma Ra

Starring SEVENTEEN’s Jeonghan, HELLO VENUS Seoyoung and NUEST Aaron

4 Episodes/17/romance/Episode 4-END-

MY 20

Eps. 1 / 2 / 3

                                                                    Last episode             

Seoyoung tersenyum kepada Jeonghan dan membuat Jeonghan semakin tak sanggup berkata-kata. Mereka pun sampai di apartemen.

“Selamat malam, nuna.” Jeonghan mengucapkannya dengan nada lesu.

“Hey, kenapa nadamu seperti itu. Kau harus semangat, besok kan kau pulang.”

            Seoyoung menepuk-nepuk bahu Jeonghan.

“Selamat malam, Yoon Jeonghan.”

“Tidurlah dengan nyenyak, nuna.”

            Seoyoung membalasnya dengan senyuman dan masuk kedalam apartemen miliknya.

“Kenapa aku seperti tidak ingin meninggalkannya?”

            Jeonghan bergumam dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.

Episode 4 –END-

 

“Apa aku harus menelponnya?”

            Jeonghan seperti orang gila sedari tadi mondar-mandir diteras rumahnya.

“Aku sms saja dia.”

            Jeonghan pun mengsms Seoyoung. Ini sudah hari ketiga dia cuti. Dia khawatir Seoyoung akan minum-minum lagi malam ini. Seoyoung yang sedang mabuk pun menerima sms dari Jeonghan.

By bocah tengik

-Selamat malam, nuna..

-Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja.

-Bagaimana dengan pekerjaanmu?

-Kau sudah tidur, nuna?

-Kau tidak sedang minum-minum lagi kan?

-Kenapa kau tidak membalas, nuna?

-Nuna?

“Argh, bocah tengik ini menerorku. Aku malas membalasnya.”

            Seoyoung tak membalas satu pun sms dari Jeonghan. Dia melanjutkan acara minumnya. Lalu hp nya pun bunyi. Seseorang menelpon Seoyoung.

“Yak bocah tengik! Tidak usah mengusikku! Aku mau minum atau apa lah, tidak usah menggangguku!!”

“Seoyoung, kau ada dimana?”

“Pakai Tanya lagi. Tentu saja sedang minum ditempat favoritku. Kedai malbi.”

“Kau mabuk?”

“Banyak bicara kau bocah tengik.”

“Aku akan kesana.”

“Terserah kau saja.”

Nomor yang ada tuju sedang sibuk…

 

Kenapa nomornya sibuk? Kau membuatku khawatir Seoyoung nuna.”

                                                                                    *

                                                                                    *

                                                                                    *

“Kenapa kau ada disini?”

“Kau mabuk semalam, jadi aku menjemputmu.”

“Kau bohong, yang menjemputku bukan kau tapi Jeonghan.”

“Kau semalam terus saja memanggilku Jeonghan. Siapa dia? Kau membicarakan aku seolah kau berbicara dengan orang lain.”

“Kau dengar semuanya?”

“Iya.”

            Seoyoung pun membalikkan badan dan membelakangi Aaron.

“Pergilah. Lupakan kejadian tadi malam. Apapun yang kau dengar dari mulutku.. jangan pernah membahasnya lagi di depanku.”

“Tapi, kau…”

“Aku bilang pergi!!”

“Seoyoung, maafkan aku…”

“Aku sudah lama memaafkanmu jadi jangan pernah berbicara padaku, jangan pernah sebut namaku. Dan jangan pernah kau muncul dihadapanku.”

“Seoyoung, dengarkan penjelasanku…”

“Pergi!!”

            Pekik Seoyoung dan mendorong keluar Aaron dari apartemennya. Aaron pun keluar dari apartemen Seoyoung, sedangkan Seoyoung menangis sejadi-jadinya didalam. Di saat yang bersamaan Jeonghan datang dan berpapasan dengan Aaron saat dia hendak masuk ke apartemennya.

“Annyeonghaseyo.”

            Jeonghan membungkuk dan memberi salam kepada Aaron yang hanya dibalas tatapan kosong dan hampa dari Aaron. Jeonghan belum menyadari bahwa pria yang baru saja keluar dari apartemen Seoyoung adalah Aaron.

            Malam pun tiba. Jeonghan pulang satu hari lebih cepat dari cutinya. Sejak pagi dia datang dan hanya dia hanya diam saja di dalam apartemennya, perasaannya selalu saja tidak tenang. Dia bingung hal apa yang membuatnya tidak tenang. Dia pun mengutak-atik hpnya.

 

Konta : Seoyoung nuna

            Dia menatap kosong kontak Seoyoung di hpnya.

“Astaga, Seoyoung nuna.”

            Barulah dia menyadari bahwa yang membuatnya tidak tenang karena memikirkan Seoyoung.

“Pria tadi pagi… Aaron hyung?”

            Jeonghan akhirnya menyadari bahwa yang dia sapa tadi pagi adalah Aaron.

“Aaron hyung keluar dari apartemen Seoyoung nuna tadi pagi… jangan-jangan.. Aaron hyung…”

“Yang menjemput nuna saat mabuk tadi malam?”

            Jeonghan langsung keluar dan pergi ke apartemen Seoyoung. Saat didepan pintu apartemen Seoyoung, Jeonghan terlihat ragu untuk memencet bel pintu.

Tinung..

Tinung..

            Tidak ada respon dari dalam apartemen Seoyoung. Jeonghan pun memilih langsung masuk kedalam.

“Dia tidak ada.”

            Jeonghan berlari sekencang mungkin menuju kedai yang biasa didatangi Seoyoung sebelum dia terlambat. Dia yakin Seoyoung ada disana dan dia takut kalau dia tidak segera datang maka Aaron yang akan menjemput Seoyoung. Jeonghan pun sampai di kedai dan mendapati Seoyoung tengah meneguk segelas minuman.

“Nuna!!”

“Ah si bocah tengik. Kau sudah kembali. Sini-sini duduk denganku.”

“Kau mabuk, kau tidak menepati janjimu.”

“Apa aku bilang janji? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya secara sepihak?”

            Jeonghan pun duduk berhadapan dengan Seoyoung.

“Maaf aku tidak menawarimu minum, gelasnya cuma satu. Bocah tengik… Andai kau tau apa yang terjadi padaku kemarin malam…”

“Aaron hyung menemuimu?”

“Semua ini gara-gara kau bocah tengik.”

“Aku?”

“Ya kau! Aku kira yang menelpon itu kau tapi yang datang malah pria berengsek itu. Aku jadi harus melewatkan malam bersamanya. Aku sangat benci itu.”

            Seoyoung terus meneguk minuman keras itu. Jeonghan tak tahan melihat Seoyoung seperti ini.

“Ayo, kita pulang nuna. Kau sudah cukup banyak minum.”

            Jeonghan berjongkok memberi kode Seoyoung untuk naik ke punggungnya agar dia bisa menggendong Seoyoung.

“Tidak usah repot menggendongku. Aku tidak mabuk hanya karena minum beberapa gelas. Bibi uangnya aku tinggal di meja. Terima kasih banyak bibi.”

            Jeonghan pun memegang tangan Seoyoung, khawatir dengan keadaan Seoyoung yang sebenarnya tengah mabuk.

“Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri. Aku tidak mabuk. Dasar bocah tengik.”

            Seoyoung memukul kepala Jeonghan, Jeonghan hanya menerimanya dengan pasrah.

“Kita naik bus saja nuna.”

“Kalau kau mau pulang naik bus silahkan saja, aku mau jalan kaki saja.”

            Jeonghan pun tidak jadi naik bus dan memilih berjalan kaki bersama Seoyoung. Jeonghan begitu menikmati waktunya saat ini bersama Seoyoung, tak henti dia memandangi Seoyoung yang sedang berjalan didepannya. Jeonghan beberapa kali tersenyum-senyum sendiri karena kagum melihat wanita yang ada di depannya sekarang.

“Kau pasti sedang berfikiran aneh karena memandangi tubuhku dari belakang. Cih, dasar pria.”

“Kalau iya, memangnya kenapa?”

“Yak kau!”

            Seoyoung berbalik dan memukul Jeonghan dengan tasnya. Jeonghan malah menikmatinya dan hanya tertawa.

“Lihat, kau sudah gila sekarang. Aku pukul malah tertawa.”

“Semua ini karena kau, nuna.”

“Apa katamu?”

            Jeonghan hanya menggeleng sambil tertawa, dia senang bisa berada didekat Seoyoung sekarang. Lalu tiba-tiba Seoyoung oleng dan hampir terjatuh, untung saja Jeonghan sigap dan langsung menahan Seoyoung yang hampir terjatuh.

“Kau tak apa, nuna? Biar aku gendong nuna saja.”

            Seoyoung pun digendong oleh Jeonghan. Kepalanya benar-benar pusing sehingga tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri.

“Kepala mu pusing, nuna?”

“Iya, ini karena kau. Seharusnya aku lebih banyak minum agar tidak pusing seperti ini.”

“Yak nuna!” Jeonghan meneriaki Seoyoung.

“Kenapa kau berteriak kepadaku, ha? Turunkan saja aku, aku bisa jalan sendiri.”

“Aku tidak akan melepaskanmu.”

“Ck, dasar bocah tengik.”

            Mereka pun sampai di apartemen Seoyoung. Jeonghan membaringkan Seoyoung diranjang lalu Jeonghan duduk disamping Seoyoung.

“Kau boleh pulang. Terima kasih sudah mengantarku pulang.”

            Jeonghan pun merapatkan dirinya ke tubuh Seoyoung. Seoyoung terkejut dengan aksi Jeonghan yang tidak biasa ini.

“Yak, kau mau apa?”

            Jeonghan berbaring disamping Seoyoung lalu memeluk Seoyoung. Seoyoung kaget dan diam tanpa penolakan.

“Kau harus bertanggung jawab, nuna.”

            Jeonghan membelai lembut rambut dan wajah Seoyoung. Seoyoung syok dan hanya menghujami Jeonghan dengan tatapan heran.

“A-pa apa maksudmu?”

            Jemari Jeonghan menari diwajah Seoyoung dan membuat Seoyoung gugup. Jeonghan pun memainkan jari jempolnya di bibir Seoyoung. Seoyoung menatap aneh kearah jemari Jeonghan yang menyentuh bibirnya. Seoyoung diam tanpa penolakan.

“Kau harus bertanggung jawab karena sudah mencuri ciuman pertamaku.”

            Jeonghan menatap dalam mata Seoyoung dan membuat Seoyoung berusaha melepaskan pandangannya dari mata Jeonghan.

“Bukankah kau bilang aku tidak melakukannya?”

“Aku berbohong karena aku takut jika aku jujur maka sikapmu akan berubah kepadaku. Aku juga hanya ingin itu menjadi rahasia yang aku nikmati sendiri.”

            Seoyoung lagi-lagi hanya terdiam.

“Kau ingat kan bagaimana saat kau menciumku, nuna?.”

“Jeonghan…”

“Sebenarnya aku tak mau melibatkan perasaan saat ini. Tapi aku sudah tidak bisa menahan rasa sukaku padamu, nuna. Kau berhasil membuatku mendapatkan ciuman dan juga  pertama yang manis diumurku yang ke-20. You are my twenties, Seoyoung nuna.”

            Seoyoung masih saja diam tanpa komentar apapun. Jeonghan pun semakin jadi melancarkan aksinya mengutarakan cintanya pada Seoyoung dan mencuri hati Seoyoung.

“Aku hampir gila karena memikirkanmu saat aku jauh darimu. Jujur saja, aku sangat merindukan suaramu yang membuat telinga ku penging saat aku di Busan. Aku juga khawatir kau akan bertemu dengan Aaron hyung malam ini. Cukup bagiku terlambat karena kau bertemu dengannya kemarin malam. Malam ini tak akan aku biarkan kau bertemu dengannya lagi. Aku tak akan membiarkanmu memikirkan pria bajingan itu.”

            Seoyoung terkejut mendengar semua perkataan Jeonghan itu.

“Nuna…”

“Apa?” jawab Seoyoung yang masih syok

“Aku suka padamu. Tidak bisakah kau melupakan pria itu, nuna? Lupakan dia dan cobalah kehidupan yang baru denganku. Kau tidak bisa pungkiri bahwa semua yang kau butuhkan ada pada diriku. Jadilah milikku, nuna. Mungkin aku hanya bocah dimata mu. Tapi aku tidak akan bersikap bocah seperti Aaron hyung yang sia-siakan wanita sepertimu.”

            Seoyoung tak mampu berkata apa-apa. Dia benar-benar terkejut dengan sikap Jeonghan yang seperti ini. Jeonghan tidak terlihat seperti Jeonghan yang biasanya, dia terlihat dewasa dan mempesona dimata Seoyoung sekarang ini.

“Kau tidak harus menjawabnya sekarang, nuna. Kalau kau menerimanya, kau bisa datang kapanpun kepadaku. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kapanpun, Seoyoung nuna.”

            Jeonghan mengecup mesra kening Seoyoung dan berhasil membuat jantung Seoyoung berdegud kencang, membuat suhu tubuh Seoyoung naik turun serta membuat wajah Seoyoung merona.

“Tidurlah dengan nyenyak, nuna. Aku menyanyangimu. Selama malam.”

            Jeonghan tersenyum manis kepada Seoyoung lalu pergi meninggalkan Seoyoung. Seoyoung masih saja syok dan memandangi tubuh pria yang berhasil merebut hatinya pergi dari kamarnya. Pria yang berhasil memberi warna baru dihatinya. Setelah beberapa detik terdiam, Seoyoung pun sadar bahwa dia juga menyukai Jeonghan dan dia harus mengejar Jeonghan sekarang untuk memberi jawaban. Seoyoung pun mengejar Jeonghan yang baru saja keluar dari apartemen Seoyoung.

“Jeonghan!!”

            Seoyoung berteriak memanggil Jeonghan yang baru akan membuat pintu apartemen Jeonghan. Jeonghan pun berbalik dan melihat Seoyoung yang keluar tanpa alas kaki, Jeonghan tertawa kecil. Seoyoung melangkah mendekati Jeonghan.

“Jika aku menjadi milikmu. Apa kau tidak akan meninggalkanku?”

            Seoyoung menatap dalam penuh harapan mata Jeonghan. Jeonghan perlahan tersenyum lalu mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari kelingkingnya.

“Aku berjanji. Aku tidak akan pernah meninggalkan Seoyoung nuna.”

            Seoyoung pun tersenyum bahagia lalu mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jeonghan. Jeonghan pun menarik Seoyoung dalam pelukannya. Aaron yang baru saja keluar dari lift dan menyaksikan Seoyoung mengaitkan jari kelingkingnya serta berpelukan dengan pria lain menjatuhkan air mata dipipinya. Aaron menatap kotak cincin yang dia genggam sekarang. Seoyoung pun menyadari kehadiran Aaron, begitu pula dengan Jeonghan. Jeonghan langsung menggenggam tangan Seoyoung dengan erat, menunjukkan pada Aaron bahwa Seoyoung sudah menjadi miliknya. Aaron pun berjalan menghampiri Seoyoung dan Jeonghan.

“Seoyoung…”

            Aaron meraih tangan kanan Seoyoung lalu menciumnya. Jeonghan terkejut dengan tingkah Aaron yang seolah-olah tidak menganggap kehadiran Jeonghan disitu.

“Menikahlah denganku, Seoyoung.” Aaron lalu membuka kotak cincin yang dia pegang dan menampilkan sebuah cincin indah dengan permata berbentuk bunga kecil. Hal ini semakin membuat Jeonghan terkejut dan emosi.

“Kau tidak bisa seperti ini, hyung!” teriak Jeonghan yang mulai emosi.

“Ada apa?”

“Kau tak berhak berkata seperti itu pada Seoyoung nuna.”

“Lalu apa hak mu atas Seoyoung?”

“Aku berhak mempertahankan apa yang menjadi milikku.” Jeonghan menarik tangan kiri Seoyoung yang dia genggam sehingga tangan kanan Seoyoung terlepas dari tangan Aaron dan membawa Seoyoung ke belakang tubuhnya.

“Dan aku berhak merebut kembali apa yang pernah menjadi milikku.”

“Itu namanya mencuri, hyung. Bajingan kau yang melepaskannya lalu memintanya kembali padamu tanpa ada usaha sedikitpun. Sedangkan aku sudah berusaha sampai sejauh ini untuk mendapatkannya. Apa kau pantas memiliki dia? Kau itu pecundang, Aaron hyung.”

            Tatapan Jeonghan penuh amarah melihat Aaron.

“Seoyoung, kau pilih aku atau dia? Aku sudah mengenalmu sejak lama, sedangkan dia? Kau baru mengenalnya beberapa bulan saja.”

“Walaupun seperti itu, akan tetapi aku tidak pernah sia-siakan Seoyoung nuna sedetik pun.”

“Sudah hentikan!!”

            Seoyoung berteriak dan matanya berkaca-kaca menahan tangis. Seoyoung keluar dari balik punggung Jeonghan dan menghampiri Aaron dan tetap memegang erat tangan Jeonghan.

“Tidak. Aku tidak bisa menikah denganmu.”

“Seoyoung?”

“Bukankah aku sudah bilang sebelumnya…”

“Maafkan aku, Seoyoung. Kita mulai lagi semuanya…”

“Mulai lagi disaat kita belum saling kenal kan?”

“Seoyoung?”

“Maka aku tidak akan pernah sudi mengenalmu. Aku hanya akan mati secara perlahan jika aku hidup denganmu. Kau dan para penggemarmu itu menginginkan aku untuk mati kan?”

“Dengarkan aku, Seoyoung..”

“Jangan pernah kau berbicara denganku, jangan pernah kau memanggil namaku, dan jangan pernah kau muncul lagi di hadapanku.”

“Seoyoung…”

“Jeonghan, ayo kita masuk.”

“Seoyoung!!!”

            Aaron berteriak menyaksikan wanita yang dia cintai mencampakannya. Seoyoung dan Jeonghan pun masuk kedalam apartemen Jeonghan sedangkan Aaron menangis di depan pintu apartemen Jeonghan, menyesali perbuatannya selama ini yang telah sia-siakan Seoyoung yang sangat mencintainya dan selalu menunggunya dulu. Kini hati Seoyoung telah diisi dengan nama baru dan memilih untuk melupakan Aaron dan mencoba untuk memulai hidupnya yang baru lagi.

“Aku telah memilihmu. Jadi tepatilah janjimu, Yoon Jeonghan.” Seoyoung memeluk Jeonghan.

“Aku tak akan membiarkan kau lepas dariku, Seoyoung nuna.”

Jeonghan memeluk erat Seoyoung dan tidak akan pernah melepaskannya kapan pun.

THE END

 

One thought on “MY 20 eps.4 -END-”

  1. hi there!

    kayanya aku kelamaan bacanya baru kelar baca sekarang lol
    feels part terakhir ini kok cepet banget ya aku ngerasanya? hehehe. apalagi kedatangan Aron yg tina tiba dan alurnya kaya terbang cepet lol. ga bisa dibilang cepet banget sih, mungkin perasaanku doang kali ya? wkwkwkkw. cie jeonghan sudah besar (?) berani nyatain ke seyoung. ya happy ending sih hehhe.

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s