The Vow Part 4 [end]

the vow

Title: The Vow | Scriptwriter: nchuhae | Main Cast: Jessica Jung, Kim Heechul

Support Cast: Lee Donghae, Krystal Jung, Im Yoona |  Genre: Drama, Romance, Family

Duration: Chaptered | Rating: PG-15

Previous: 1 / 2 / 3

***

  1. WHAT IF

Heechul tidak pernah membayangkan akan tiba di hari di mana Lee Donghae mendatanginya untuk meminta dia melakukan sesuatu yang begitu konyol. Tapi di sinilah dia sore ini, di sebuah kafe dengan interior ala Eropa di Abad Pertengahan, memenuhi ajakan pria yang beberapa jam tadi mendatanginya di kantor dan bersikeras agar dia bersedia meluangkan waktu istirahatnya karena pria itu ingin membicarakan sebuah hal penting.

Hyung, aku ingin kau menjadi bestman-ku,” pinta Donghae.

Heechul yang terlihat mendengarkannya dengan malas. Pria yang lebih tua itu tampak lebih tertarik pada potongan tiramisu cheesecake yang tersaji di depannya. Dengan mulut mengunyah potongan kue yang lebih kecil, dia bertanya, “Kenapa aku? Kenapa bukan salah satu anggota bandmu?”

Donghae mengembuskan napas panjang. Pertanyaan itu memang sangat wajar ditanyakan, tapi menceritakan alasannya dengan lengkap berarti memberi tahu bahwa vokalis sekaligus gitaris bandnya mengancam akan mogok latihan jika posisi pendamping pengantin diserahkan kepada anggota selain dirinya, drummernya sudah menyiapkan pidato dan secara tidak langsung berharap dirinya ditunjuk menjadi pendamping agar kata sambutan sepanjang tiga lembar yang sudah disusunnya itu tidak berakhir sia-sia di tempat sampah, sementara si magnae yang bertugas memainkan saxophone bersikeras bahwa tampang menarik dan kepandaian berbicaranya adalah modal yang menjadikannya paling cocok untuk menjadi seorang pendamping pengantin.

“Mereka semua berebut. Aku tidak bisa memilih salah satu,” jelas Donghae.

Heechul menyeruput kopi yang tadi memang dia pesan sebagai pasangan tiramisu cheesecake-nya. Cuek, pria itu berkata, “Aku masih belum paham apa yang begitu istimewa dari seorang pembawa cincin hingga mereka semua memperebutkan posisi itu.”

Donghae juga sebenarnya tidak paham. Satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa hal terbaik yang bisa dia lakukan demi tidak terlalu mengecewakan teman-temannya adalah memilih orang lain yang lebih patut dihormati. Dan dalam hal ini, siapa lagi kalau bukan Heechul?

Sang calon pengantin itu membuka mulutnya untuk meminta kepastian dari Heechul, tapi kemudian mengurungkan niatnya setelah menyadari bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu. Akhirnya Donghae memilih diam saja, membiarkan Heechul mempertimbangkan tawarannya, dan menunggu pria yang dipanggilnya hyung itu memberinya jawaban sambil menyendok brownies kukus rasa pandan yang tadi dia pesan.

Tapi Donghae salah sangka. Heechul diam bukan karena sedang mempertimbangkan permintaannya untuk menjadi pendamping mempelai. Pikiran pria itu sedang melayang ke masa beberapa tahun yang lalu.

Ayah Heechul adalah seorang pengusaha dengan bisnis yang berkembang semakin pesat dari tahun ke tahun. Dan bagi seorang pria dengan pencapaian hidup gemilang seperti itu, menjalin hubungan dengan banyak wanita adalah sebuah hal yang lumrah.

Heechul kecil mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa hal yang dilakukan ayahnya itu digolongkan buruk, juga kenapa orang-orang bilang bahwa itulah alasan kenapa pada suatu hari ibunya tiba-tiba pergi dari rumah. Dia pernah mendengar para pembantu mengatakan bahwa ibunya pergi karena sudah bosan menghadapi omongan orang tentang perselingkuhan ayahnya. Heechul tidak paham apa arti kata-kata itu. Bagi bocah itu, tidak masalah jika ayahnya melakukan apapun, selama pria itu tetap rajin membelikannya mainan apapun yang dia minta dan mengajaknya ke tempat-tempat bagus setiap liburan.

Ketika dia sudah beranjak dewasa dan cinta kepada lawan jenis sudah menjadi bagian dari hidupnya, dia baru sadar betapa kebiasaan selingkuh ayahnya itu ternyata memang adalah hal buruk.

Usianya 19 tahun kala itu. Dia baru saja memasuki sebuah kafe dengan niat untuk bersantai di sana ketika pandangannya tertumbuk pada sesosok pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri. Heechul hanya melihat pria itu dari belakang, tapi dia sudah terlalu mengenal pria itu hingga bisa mengenalinya tanpa perlu melihat wajah. Pria yang sangat dikenalnya itu sedang duduk bersama seorang wanita cantik dan seorang anak gadis yang entah kenapa dia rasa juga tidak begitu asing baginya.

“Kau oppa pemberani itu, kan?” gadis kecil itu berseru, membuat dua orang dewasa yang duduk di meja yang sama dengannya langsung menoleh ke arah Heechul.

Sang pria—yang memang sudah sejak awal Heechul yakini sebagai ayahnya—membelalak kaget, sementara sang wanita yang sepertinya masih belum tahu apa yang terjadi, bertanya kepada gadis kecil di sampingnya, “Sooyeon-ah, kau mengenal oppa itu?”

Gadis itu mengangguk mantap. Dia tidak mungkin melupakan wajah orang yang sudah menyelamatkannya. Gadis itu berdiri, lalu berlari kecil ke arah pahlawannya dan menggamit lengan pria itu sambil mengumumkan dengan bangga, “Oppa inilah yang waktu itu menolongku saat dimintai uang oleh siswa sekolah lain.”

“Ah, jeongmalyo?” seru wanita itu. “Kalau begitu kau harus bergabung dengan kami. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menolong anakku.”

Heechul tidak mengerti kenapa waktu itu dia menurut saja ketika gadis kecil yang dipanggil Sooyeon itu dengan begitu bersemangat menariknya ke meja yang sama dengan meja tempat ayahnya berada. Mungkin dia tidak tega membiarkan gadis kecil itu kecewa. Mungkin juga karena dia menikmati ekspresi salah tingkah ayahnya yang kedapatan sedang berkencan dengan seorang wanita beranak satu.

“Kau tampak cukup akrab dengan adikmu,” kata ayahnya malam itu.

“Siapa yang kau maksud?”

“Siapa lagi kalau bukan gadis yang makan siang bersamamu hari ini?”

Heechul diam, masih belum begitu mengerti ke mana ayahnya ingin membawa pembicaraan ini.

“Aku dan ibunya adalah rekan kerja,” pria yang lebih tua itu menjelaskan. “Dia wanita yang menarik. Dia memiliki semua hal yang diharapkan seorang lelaki untuk ada dalam diri seorang wanita. Cantik, pintar, dan bergaya hidup modern.”

“Yang saking modernnya sampai sudi diajak berkencan oleh seorang pria beristri,” sambung Heechul. “Kenapa kau tidak menikahinya saja kalau memang sebaik itu nilainya di matamu?”

“Karena dia tidak ingin meninggalkan suaminya.”

Heechul hanya menanggapi penjelasan itu dengan sebuah anggukan pelan yang terkesan tidak tulus. Dia jadi penasaran pria seperti apa yang begitu bodoh tidak mengetahui istrinya berselingkuh di belakangnya selama bertahun-tahun dan malah menerima anak hasil perselingkuhan itu sebagai bagian dari keluarganya. Ataukah selama ini pria itu tahu dan memilih untuk tidak peduli?

“Jadi apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”

“Hanya ingin kau berjaga-jaga saja. Orang bijak mengatakan bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Darah brengsek dari ayahmu ini mengalir juga di dirimu. Dan Nak, kau tahu kan, menjalin hubungan dengan saudara sendiri jauh lebih tidak bermoral dibanding menjalin hubungan dengan istri orang lain.”

Heechul merasa mungkin itulah yang dinamakan feeling seorang ayah. Sejak dulu ayahnya sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Pria yang bahkan tidak pernah berlaku bijaksana di mata Heechul itu ternyata sudah melakukan tindakan paling bijaksana dalam hidupnya ketika memperingatkan agar putranya tidak jatuh cinta kepada Sooyeon.

Heechul jadi mulai berandai-andai. Seandainya waktu itu dia mendengarkan nasihat ayahnya dan tidak keras kepala mendekati Sooyeon hanya demi membuktikan kalau ayahnya itu salah, seandainya dia tidak terlanjur menyayangi gadis itu dan mulai menjauh sebelum perasaanya jadi lebih dalam lagi, seandainya dia tidak begitu munafik pada dirinya sendiri dan langsung menerima saja saat Sooyeon menyatakan cinta kepadanya—di atas segalanya, bukankah waktu itu Sooyeon menyatakan cinta juga dengan kesadaran penuh bahwa mereka berdua adalah saudara?

Hyung, bagaimana? Kau bersedia?”

Seandainya waktu itu dia memiliki keberanian yang sama besarnya seperti Sooyeon… apa yang akan terjadi pada mereka sekarang?

“Aku tahu kita tidak begitu akrab. Tapi aku rasa, ini adalah win-win solution bagi kita berdua.”

Seandainya dia dan Sooyeon tidak terikat hubungan darah, akankah dia tiba di hari di mana seorang pria datang kepadanya, meminta dia menjadi seorang pendamping di acara pernikahan yang akan membawa gadis yang disukainya ke dalam sebuah ikatan sakral yang tidak mungkin bisa dia wujudkan bersama gadis itu?

“Apa maksudmu dengan win-win solution?” Heechul akhirnya menanggapi ucapan Donghae setelah tadi terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ya, seperti yang sudah aku jelaskan padamu, aku tidak ingin membuat temanku saling iri satu sama lain, karena itu aku merasa harus memilih orang lain yang juga berhak untuk berperan serta di acara ini. Dan siapa lagi yang lebih berhak selain kakak dari mempelai wanita?”

Donghae memang akhirnya tahu bahwa pria yang dulu dilihatnya menemui Sooyeon di hari kelulusan bukanlah kekasihnya, melainkan kakak tiri yang kebetulan begitu akrab dengannya. Gadis itu sendiri yang memberi tahu status Heechul padanya ketika suatu hari Donghae menyinggung kejadian itu. Pengetahuan itu pulalah yang semakin memantapkan niatnya untuk segera melamar Sooyeon waktu itu. Selama ini dia ragu melakukan itu karena tidak ingin terburu-buru mengajak gadis itu menikah sementara gadis itu mungkin masih menyimpan rasa untuk pria yang ditatapnya penuh kasih di hari kelulusannya itu. Tapi setelah tahu apa yang terjadi dan yakin bahwa batasan-batasan yang dibuat Sooyeon dengan dirinya bukan karena gadis itu sedang mengencani pria lain, Donghae semakin yakin pada niatnya.

“Sebagai kakak, tentu kau ingin mengambil peranan penting di pernikahan adikmu, bukan?”

Iya, Heechul memang ingin mengambil peran penting dalam pernikahan Sooyeon, tapi bukan sebagai pendamping pengantin pria.

“Baiklah, aku terima tawaranmu. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti istrimu malah jatuh cinta kepadaku,” ujar Heechul tanpa niat bercanda sedikitpun.

Donghae hanya tertawa menanggapi hal itu.

  1. THE VOW

Ruangan itu bernuansa putih. Pencahayaan yang berasal dari lampu-lampu kristal lebih dari cukup untuk membuat helaian kain-kain satin berwarna gading yang menggantung artistik di langit-langit terlihat jelas. Di dalam situ juga terdapat bunga-bunga berwarna senada yang ditata sedemikian rupa hingga orang-orang yang melihat tidak akan bisa menampik kesan elegan muncul. Soojung layak mendapat apresiasi untuk hasil kerjanya ini. Seleranya memang bagus.

Ruangan itu ramai. Mungkin ada ribuan orang di dalamnya. Semua berpakaian menarik, entah berapa nominal yang harus mereka keluarkan untuk pakaian itu. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil berisi teman-teman yang mereka kenal, berbincang mengenai hal-hal yang mereka anggap menarik. Beberapa pelayan berpakaian seragam mondar-mandir membawa nampan, mendekati setiap yang ada di ruangan itu tanpa terkecuali, menawarkan sajian yang mereka bawa. Di sudut ruangan luas itu ada seorang orang pianis berusia pertengahan 40 tahun yang nyaris tidak berhenti menekan tuts pianonya sejak acara dimulai sejam lalu. Lantunan piano itulah yang menjadi pengiring semua kegiatan yang ada, mesti tak semua yang ada di dalam sana menyimak lagu apa saja yang dimainkannya.

Sooyeon termasuk salah satu yang tidak menikmati berada di dalam ruangan itu. Dia memilih menyingkir meski tahu bahwa dialah tokoh utama dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan hari besar dalam hidupnya itu. Gadis itu masih sempat melihat Donghae, suaminya, berbincang dengan temannya sebelum melangkah menuju balkon, satu-satunya tempat sepi yang bisa dia jangkau saat itu.

Pesta pernikahannya ini diselenggarakan di lantai teratas sebuah hotel mewah dan menghabiskan dana yang membelalakkan mata. Kalau ada yang berpikir bahwa pesta semewah itu bisa terlaksana karena karier Donghae sebagai penyanyi sudah begitu maju hingga bisa membayar semua biaya yang dibutuhkan, itu salah besar. Pesta ini adalah kado dari ayahnya—ayah Heechul—yang tampaknya begitu senang melihat dia menikah dengan pria yang bukan saudaranya.

Pria yang kini berada di usianya yang sudah menjelang senja itu memang sejak dulu menaruh kecurigaan bahwa gadis itu dan Heechul menjalin hubungan asmara terlarang seperti yang dia lakukan bersama ibu Sooyeon, tapi tidak pernah berhasil membuktikan kecurigaannya. Melihat gadis itu menikah dengan pria lain membuatnya yakin bahwa kecurigaannya tidak bisa lebih keliru lagi. Seandainya saja pria itu tahu seberapa kuat feeling-nya selama ini, Sooyeon yakin dia pasti sudah terkena serangan jantung saat itu juga.

Angin malam yang bertiup cukup kencang meniup-niup rambut Sooyeon yang ditata dalam jalinan longgar dan dipermanis dengan hiasan berbentuk bunga yang dipasang di sisi kepalanya. Dengan gelas wine di tangan kanannya, dia mendekati pagar pembatas dan menyandarkan tubuhnya di sana. Pemandangan malam kota Seoul menyambutnya.

“Apa kabar, Pengantin Baru?” Sapaan itu terdengar tidak lama kemudian.

Sooyeon merasa tidak perlu menengok untuk tahu siapa pemilik suara itu.

“Masih mencintaimu,” gadis itu menjawab dan diikuti oleh tawa halus dari lawan bicaranya.

Gadis itu menoleh, mendapati Heechul berdiri di sampingnya. “Kenapa kau tertawa? Kata-kata itu mengingatkanmu pada sesuatu?”

Heechul tidak akan pernah lupa pada kata itu—kata yang dibisikkan Sooyeon kepadanya sebagai jawaban atas pernyataan cintanya beberapa waktu lalu dan akhirnya bermuara pada kesepakatan mereka menjalin sebuah hubungan terlarang seperti yang mereka lakukan sekarang. Memutuskan tidak membahas masalah itu lagi, Heechul mengganti topik pembicaraan mereka, “Sepertinya abeoji bahagia sekali melihat kau menikahi Donghae, bukannya aku. Lihat saja bagaimana dia tertawa begitu lepas menyambut tamu-tamunya.”

Sooyeon tidak tahu apa yang begitu lucu dari kalimat itu, tapi dia tidak bisa menahan tawanya. Ah, mungkin dia sudah gila. Dan jika benar itu yang terjadi, sepertinya dia tahu siapa yang paling layak dia salahkan: ibunya.

Gadis itu berpikir, seandainya dia tidak terlahir dari rahim wanita itu, seandainya dulu wanita itu tidak berselingkuh dengan ayah Heechul dan akhirnya melahirkan dirinya, mungkin hubungan darah yang konyol antara dirinya dan pria itu tidak harus ada.

Di malam ketika Heechul menyatakan cinta kepadanya, Sooyeon tahu bahwa hidupnya tidak bisa lebih sempurna lagi. Oppa yang selama ini disukainya, yang memahaminya lebih dari apapun, ternyata berbagi kegilaan yang sama dengannya. Pria itu membalas cintanya meski tahu bahwa hubungan mereka jauh dari kata wajar. Mau diapakan lagi, perasaan suka itu berkobar begitu saja di hati mereka tanpa bisa dipadamkan. Sooyeon sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meyakinkan dirinya bahwa yang dia rasakan terhadap Heechul bukanlah cinta, tapi pada akhirnya selalu saja gagal. Dia tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan pria itu untuk melakukan hal yang sama sebelum menyerah dan mengakui kalau dia merasakan hal yang sama seperti Sooyeon. Bukan salah mereka kan, jika ternyata perasaan itu lahir dalam kondisi yang tidak tepat?

Dari ibunya, Sooyeon tidak pernah belajar banyak. Sampai akhir hayatnya pun, wanita itu masih terlalu sibuk menikmati statusnya sebagai wanita modern yang tidak pernah punya cukup banyak waktu untuk mengajari anaknya ini-itu. Tapi setidaknya, dari wanita itu Sooyeon belajar bahwa untuk menjalin sebuah hubungan terlarang, kau hanya perlu mencari seorang suami baik hati yang tidak akan pernah curiga kalau kau dekat dengan pria lain, juga yang akan tetap memaafkanmu meski kau telah jelas-jelas ketahuan bersalah.

Ibunya telah membuktikan itu. Dia menikahi lelaki yang begitu baik hingga rela memberikan marganya kepada anak hasil perselingkuhan istrinya. Sooyeon merasa hanya harus mencari pria seperti itu untuk menjaga kelangsungan hubungannya dengan Heechul. Dan siapa lagi yang lebih memenuhi kriteria selain Lee Donghae?

Di saat Sooyeon butuh sosok kekasih untuk memanas-manasi Heechul, pria itu muncul. Waktunya terlalu tepat. Dan seiring kebersamaan mereka, dia tahu bahwa keberadaan Donghae di sampingnya punya fungsi yang jauh lebih besar dibanding hanya sekedar membuat Heechul cemburu. Sooyeon jadi bertanya-tanya, apakah posisi Im Yoona bagi Heechul juga sama seperti posisi Donghae bagi dirinya?

“Mana Yoona? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” gadis itu bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari kelap-kelip cahaya di depannya.

“Kau merindukannya?”

Sooyeon menggeleng pelan. “Hanya ingin membuktikan dugaanku saja.”

“Dugaan?”

“Bahwa kalian sudah putus.”

Heechul tertawa. “Tidak adil sekali,” ujarnya. “Kau sudah memiliki Lee Donghae sebagai tameng untuk melindungimu dari kecurigaan abeoji, jadi bukankah sudah seharusnya aku juga menyimpan Yoona untukku?”

“Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah marah besar karena kau tinggalkan begitu saja di malam di mana kalian seharusnya merayakan peringatan 500 hari kebersamaan kalian. Tapi wanita itu, hanya dengan alasan bahwa kau tiba-tiba mendapat ide untuk menyelesaikan pekerjaanmu, langsung percaya dan memaafkan kelakuan burukmu begitu saja,” komentar Sooyeon, mengenang kembali saat ketika Heechul meninggalkan Yoona untuk menyatakan cinta kepada dirinya. “Sepertinya dia benar-benar menyukaimu.”

“Lebih besar dari yang kau rasakan padaku?”

Who knows?”

Hening menyelimuti mereka setelah itu. Masing-masing larut dalam pikirannnya sendiri.

Heechul menemukan kesadarannya lebih dulu. “Mau sampai berapa lama lagi kau berdiri di sini?” tanyanya.

Sooyeon menatap Heechul dan tersenyum sambil menyesap cairan berwarna merah darah yang ada di gelas di tangannya. “Entahlah,” jawabnya setelah cairan itu dia teguk, “sampai kau menyuruhku masuk, mungkin?”

“Kau begitu menyukaiku hingga lebih memilih berlama-lama denganku di sini daripada bersama suamimu, huh?”

Sooyeon hanya mengangkat bahu dan kembali mengarahkan pandangannya ke arah lampu-lampu mobil yang dari jauh terlihat seperti lampu hias.

“Masuklah, jangan sampai suamimu panik mencarimu.”

“Baiklah,” jawabnya, “tapi setelah kau berjanji menyusulku ke Jepang.”

“Untuk menyaksikanmu berbulan madu? No way!”

Sooyeon berbalik agar bisa berhadapan dengan Heechul. Sambil menunduk mempermainkan ujung dasi pria itu dengan tangan kanannya, dia memberitahu, “Donghae ke Jepang bukan hanya untuk berbulan madu denganku. Sebagian besar waktunya akan dihabiskan untuk promo album bersama teman-temannya. Kau tidak akan tega melihat dongsaeng kesayanganmu ini menghabiskan masa bulan madu sendirian di hotel menunggu suaminya pulang konser, kan?”

Tawa renyah pria itu memenuhi indra pendengaran Sooyeon sesaat setelah dia menyelesaikan penjelasan mengenai situasi bulan madunya. “As bitchy as your Mom, eh?” komentar Heechul.

“Bukankah wanita jalang memang tipemu?”

Heechul mengangguk, membenarkan pernyataan Sooyeon barusan sekaligus menyatakan persetujuan atas tawaran gadis itu kepadanya. Di atas segalanya, dia dan gadis itu memang lahir dari hubungan yang tidak sehat, jadi apa salahnya meneruskan tradisi yang orang tua mereka ciptakan dengan cara mereka sendiri? Rasanya itu bukan ide yang begitu buruk.

Sebelum kembali masuk ke ruang resepsi dan meninggalkan Heechul di balkon sendirian, sebuah sumpah diucapkan Sooyeon pada dirinya sendiri. Tidak peduli tantangan apa yang memisahkan dirinya dan pria itu, dia akan selalu mencari jalan untuk kembali ke pelukan Heechul.

.end

3 thoughts on “The Vow Part 4 [end]”

  1. hi there!

    WOOOOOHHH INI AUTHORNYA BUSET GILA (?) MASA DARI CHAPT 1 – 4 TIAP CHAPT BIKIN NGETWISSSTTT ERRR…..

    dan endingnya ga tertebak sama sekali. sasugaaa! 2 orang yang kelakuannya jadi sama persis kaya orang tuanya. woaah. ngga nyangka! awalnya aku kira jess nikah sama Heechul. tapi ternyata salah. aku kiri heechul udah ngerelain. tapi salah juga.
    endingnya seriusan deh di luar dugaan. woooah!! kece banget nih authornya hahha

    see ya~

    Suka

    1. halo. terima kasih udah ngikutin cerita ini sejak awal dan setia ninggalin komen di tiap part. really appreciate it!🙂
      terima kasih juga udah ngatain aku gila. kamu bukan orang pertama yg bilang kayak gitu *eh

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s