[Ficlet] I Don’t Love You

I Dont Love You

I Don’t Love Y o u

Jihyeonjee98 ©2016

AU, Comfort/Hurt | General | BTS’s Jin & OC’s Jung Ana

I just own the plot.

Ini bukan salahmu, bukan juga salahku. Hanya saja keadaan yang memaksa semua menjadi seperti ini.”

—o—

Apa yang bisa Ana lakukan? Hanya bergeming seraya meratapi penggalan bingkai-bingkai berjajar rapi di atas nakas. Bingkai yang didalamnya terdapat potongan memori-memori indah yang bisa dijadikan sandaran pelepas lara. Ana sangat merindukan sosok Seokjin, jelasnya.

Bukan, ini bukan salah Seokjin atas segala kesibukannya, pun bukan juga salah Ana karena lambat laun perasaan yang sempat menggenangi kalbu makin lama makin menyurut, mengalami deformasi tanpa seijin Ana. Lantas, siapa yang patut disalahakan? Waktu? Keadaan? Bahkan jika Ana mengeluh, tidak ada satupun yang bisa mengerti.

Karena hanya Ana yang tahu.

Yang jelas, Ana hanya bisa memendam segala rasa dalam asa. Mencoba membenahi segala keadaan namun pasir tak mungkin kembali naik ke atas lantaran gravitasi sudah menariknya kebawah. Meski lesungnya digenangi aliran sungai berkat bendungan pelopak matanya sudah hancur menahan pedih, perasaan itu tidak akan pernah kembali seperti semula.

Ana masih dalam pedihnya menyelami dimensi lain kehidupan masa lampaunya, tanpa menyadari presensi Seokjin yang sedari tadi menatapnya seraya menautkan ujung bibirnya, mengulas sebuah senyuman manis yang sedetikpun tidak pernah terkikis termakan waktu. Lantas apa yang harus Ana lakukan? Melukai perasaan lelaki yang selama ini mencintainya sepenuh hati? Dibalasnya senyuman Seokjin dengan seulas senyuman tiada rasa, menepisnya dengan mengalihkan atensi dan melangkahkan tungkai ke arah dapur.

“Apa kau akan membuat sesuatu?”

“Iya, apa kau tidak ingin minum?”

Seokjin tersenyum, lantas menepis jarak di antara mereka berdua. Merangkul gadisnya dalam-dalam dan mendaratkan kecupan di kening gadisnya. “Tidak, aku ingin bersamamu.” Rayu Seokjin kemudian.

Ana membalasnya dengan senyuman getir tanpa sedikitpun melirik Seokjin. Sungguh, untuk mengembalikan seluruh rasa itu sangatlah sulit. Menatap dwimanik Seokjin adalah hal yang tidak bisa Ana lakukan untuk saat ini lantaran gadis itu tengah bersembunyi dalam gerbang ketakutan. Takut akan menyakiti hati lelaki yang selama ini selalu ada bersamanya. Merangkai kata demi kata dalam benaknya sudah cukup membuat Ana membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan Seokjin rasakan selanjutnya.

“Ada apa—”

“Seokjin… apa yang harus aku katakan padamu sekarang?”

Ana terlebih dahulu menginterupsi, membuat alis Seokjin mengerjit. “Aku harus bagaimana? Aku terlalu biasa mengerjakan segala sesuatunya tanpamu.”

Lantas kedua insan itu sama-sama bergeming, membiarkan suara ribut televisi menjadi satu-satunya periuh suasana. Ana hanya menatap dinginnya ubin, meski kini lelaki di hadapannya tengah menatapnya lamat-lamat. Dwimanik Seokjin memerah, perih, lantas membuat genangan yang membasahi sekujur pelipis.

“Maafkan aku—”

“Tidak Seokjin, tidak. Ini bukan salahmu, bukan juga salahku. Hanya saja keadaan yang memaksa semua menjadi seperti ini.”

Demi seonggok keberanian yang akhirnya menyeruak kepermukaan, memendam segala rasa kepedihan serta kesendiran hanya dalam asa tidaklah semudah menorehkan setitik tinta hitam pada kertas putih. Memandangi serpihan memori indah di balik sebuah bingkai hanya kesenangan sesaat. Namun jika rindu tak kunjung terbalaskan, jangan salahkan hati. Toh, tak ada seorangpun yang bisa memaksakan rasa jika nantinya harus berakhir dengan sebuah perpisahan.

Begitu juga Ana. Gadis itu hanya bisa menahan semua rasa, memendam segala kepedihan dan menyembunyikan diri dibalik dinding fana tak kasat mata. Sejemang memori lama semakin membuatnya rapuh, menyadari kini Seokjin tidaklah lagi menempati hatinya. Waktu mengabrasi perasaan hati, bahkan menatap Seokjin yang tengah terisak tidaklah menimbulkan secercah rasa sakit di hati Ana.

.

.

.

Karena memang Ana tidak mencintai Seokjin lagi.

-fin-

a/n;

Maaf kalau ini agak—atau memang sungguh—absurd. Siapapun yang nyasar, tolong tinggalkan jejak♥

4 thoughts on “[Ficlet] I Don’t Love You”

  1. hi there!

    ga bisa berkata apa-apa. rasanya terlalu cepat sampai pada kesimpulan “tidak mencintai lagi”
    jeduak. pasti Jin sedih sakit hmm.
    hanya kadang keadaan memang sangat bisa merubah segalanya. kaya Ana dan Jin huhuhu

    see ya~

    Suka

  2. annyeong Jihyeonjee98~

    first thing first, aku salut banget sama pemilihan kata-kata kamu di cerita ini😀 pilihan kata-kata kamu bagus dan puitis banget. meskipun ceritanya ga panjang, tapi dari cara kamu menggambarkan perasaan Ana melalui pemilihan kata itu udah bikin dapet banget feel dramatisnya. menurutku, ini bisa jadi ciri khas kamu dalam menulis, jadi dipertahankan ya😀

    looking forward to read more from you🙂

    keep on writing, fighting!🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s