White Lies – Prologue

White Lies

White Lies : Prologue

By Cherrylion

Main casts:
Shin Bora (Gugudan’s HANA) & Cha Hakyeon (VIXX’s N)

Support casts:
Han Sanghyuk (VIXX’s HYUK) & Jang Sojin (Gugudan’s SOYEE)

Genre: Romance, Marriage Life, Hurt/Comfort | Duration: Chaptered | Rating: PG17

Disclaimer: Story and cover are made by me.

Did my white lies just made your heart turned black?

~

Dua sendok susu bubuk rasa vanilla dan satu sendok yang rasanya cokelat.

Pria manis itu lalu mencampurkan kedua rasa itu dengan air hangat di sebuah gelas yang ber-ornamen bunga. Lalu ia mengaduknya. Dia selalu melakukan ini setiap ia berkunjung ke apartemenku. Senang rasanya.

Han Sanghyuk namanya. Ia adalah kekasihku.

Dia masih belajar di SMA Seni Seoul Dia pernah bilang, dia akan bergabung dengan sebuah agensi dan debut sebagai anggota boyband. Aku takkan menghalangi jalannya. Walaupun ada yang mengganjal di hatiku bila itu akan benar-benar ia lakukan.

Ya, dia masih anak SMA. Tepatnya kelas dua.

Sedangkan aku?

Aku sudah kuliah, jurusan bisnis. Baru dua tahun. Untuk mendapatkan gelar sarjana, aku butuh dua tahun lagi.

Oh iya, namaku Shin Bora. Tapi nama panggungku adalah Hana. Bukan panggung acara musik, tapi panggung teater.

Dan dari seni teaterlah, aku bisa bertemu dengan Sanghyuk.

Salah satu staff guru pernah menyaksikan penampilanku, dan dia mengajakku untuk berpartisipasi dalam acara hiburan tahunan SMA Seni Seoul. Aku dipercaya untuk membimbing ekstrakulikuler teater dengan guru pembimbing utamanya. Tentu saja aku ambil kesempatan ini karena aku sangat gembira saat ada orang yang benar-benar mempercayaiku.

Singkat cerita, kau pasti bisa menebaknya. Terjadi sebuah “cinta lokasi”. Sanghyuk yang para anggota teater bilang adalah seorang playboy dengan percaya diri menyatakan perasaannya padaku di hari terakhir latihan, di depan semua anggota! Jujur saja, aku juga menyukainya. Kami pun menjalin hubungan.

Beberapa waktu setelah acara hiburan dilaksanakan, aku tak pernah datang lagi kesana. Biasanya aku datang untuk menonton ekstrakulikuler latihan sekaligus untuk bertemu dengan Sanghyuk. Tapi karena aku sibuk dengan kuliahku, akhirnya hubungan ini pun menjadi hubungan long distance relationship.

Sebenarnya, hal itu membuatku merasa tidak enak terhadap Sanghyuk.

Aku memiringkan kepalaku dan melayangkan sebuah pertanyaan aneh padanya. “H-hyukkie, apa kamu tidak bosan dengan noo–”

“Aku tidak akan pernah bosan denganmu~ Ini, minumlah.”

“Ah, iya. Terimakasih, hehe.”

“Aku kuat kok menjalani hubungan ini. Jadi, jangan coba-coba selingkuh, noonaku sayang~”

“Iyaa my Hyukkie~ kamu juga!”

Yosh!

 

Beep beep

 

 

Bunyi pesan masuk dari handphoneku yang sedang dicas. Aku pun permisi pada Hyuk.

 

From: Appa

Datanglah ke rumah sakit.

Appa punya kejutan.

 

 

Kejutan?

“Siapa, noona?”

“Appa. Aku disuruh ke rumah sakit.”

“Baiklah, aku akan mengantarmu.”

 

“Tak apa, Hyuk. Ini sudah sore. Aku takut kamu ketinggalan kereta.”

.

.

.

Aku sudah tiba di rumah sakit. Aku berangkat sendiri.

Aku memaksa Sanghyuk pulang sebelum keretanya berangkat. Dia itu anak yang benar-benar dididik disiplin oleh orangtuanya, jika ia pulang agak malam, pasti dia dihukum.

Aku memandang sebuah spanduk yang bertuliskan “Pembukaan Program Lansia Sehat di Bangsal 4”.

Itu programku. Aku menyarankan pada appa untuk membuka sebuah bangsal khusus untuk merawat lansia sakit. Dari yang perekonomiannya kurang sampai yang berkecukupan. Untuk yang perekonomiannya kurang, biaya akan ditanggung oleh rumah sakit. Setidaknya ini bisa membuat reputasi rumah sakit ini meningkat.

Appaku memang pemilik rumah sakit ini. Sedangkan penciptanya adalah harabeoji yang sekarang ingin benar-benar istirahat di masa tuanya.

Jadi malu rasanya. Setiap aku berkunjung kesini, aku selalu teringat kalimat-kalimat rekan appa yang berharap aku bisa jadi dokter disini, dan menjadi penerus yang kualitatif seperti appa dan harabeoji. Sayangnya, aku tidak suka kedokteran. Aku lebih suka berbisnis.

“Selamat pagi Nona Shin.”

Seorang dokter menyapaku. Itu Dokter Park Hyoshin, sahabatnya appa.

Aku pun menyapanya kembali setelah kami saling membungkuk. “Selamat pagi.”

“Anda hebat, nona. Teruslah mengembangkan program yang bagus untuk rumah sakit ini.”

“Terimakasih atas kerjasamanya. Saya usahakan. Saya permisi ya, dok–”

“Tunggu nona. Apakah anda sudah mendengar rumor dari para dokter?”

Aku mengangkat alis kiriku. Heran. Rumor? Biasanya rumor yang kudengar adalah rumor tentang kisah cinta rahasia para dokter di rumah sakit. Sudah umum bahwa sering terjadi “cinta lokasi” di rumah sakit, bahkan untuk mereka yang sudah mempunyai pasangan…

“Rumornya, Dokter Shin akan menyerahkan posisinya pada seorang dokter baru.”

Aku tertawa renyah mendengarnya. Dokter Park menakut-nakutiku.

“Haha, itu bagus, dok.”

“Tidakkah anda menginginkan posisi itu?”

“Saya? Saya kurang tertarik, dok.”

“Tapi, apakah anda tidak merasakan ada yang aneh?” tanya Dokter Park. Aku menggelengkan kepalaku. Wajar-wajar saja.

“Rumornya, dokter tersebut akan dijodohkan dengan anda.”

“A-apa? I-itu terlalu aneh, haha. Dokter Park, saya permisi duluan. Saya sudah ditunggu appa.”

 

Aku pun berjalan ke arah lift dengan hati yang tidak nyaman.

Aku masih tidak percaya dengan perkataan Dokter Park. Kau tahu, firasatnya selalu benar. Walaupun rumor, jika dia mengatakannya padaku, pasti ada benarnya. Perasaannya kuat.

Ah, lupakan saja.

Appa, ada kejutan apa hari ini?

.

.

Tok tok

 

 

“Appa? Ini Hana~”

“Masuk!”

Aku pun membuka pintu kantor appaku.

Ada seorang pria.

“Siapa dia?” tanyaku dengan isyarat. Appa malah memaksaku untuk duduk di samping pria itu. Wajah appa berseri sekali. Tumben.

Aku pun duduk di samping pria itu. Dia membungkukkan tubuhnya. Aku pun sama. Oh, dia tidak kelihatan tua seperti dokter yang lain.

“Dia adalah Dokter Cha Hakyeon yang pernah appa ceritakan padamu. Dokter bedah dari ibukota yang setuju untuk bekerja di rumah sakit kecamatan.”

“Oh! Benarkah? Saya mendengar banyak cerita tentang anda dari appa saya, Dokter Cha. Anda dokter yang hebat! Anda masih muda, tapi sudah punya masa depan yang cerah. Saya iri.”

Dia tersenyum. “Terimakasih untuk pujiannya.” Aku pun mengangguk.

“Dokter Cha, dia adalah putriku, satu-satunya. Namanya Shin Bora. Kau bisa memanggilnya Hana. Itu nama panggungnya. Dia adalah seorang bintang di teater Gangnam.”

“Teater? Anda suka akting, Bora-ssi?”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Semasa SMA, saya suka menonton teater. Saya lebih suka menonton daripada memainkan peran, saya kaku. Saya percaya anda adalah aktris yang hebat. Dan saya akan senang bila anda mengundang saya di penampilan anda.”

Aku terpaku mendengar kalimatnya. Ini pertama kalinya ada yang memujiku sebegitunya…

“D-dengan senang hati.”

Appa berdehem. Aku meliriknya.

“Ehem. Bukankah kalian sudah memiliki chemistry yang kuat?” tanya appa dengan nada meledek. Aku memasang wajah datar dan tidak menanggapinya. Aku tidak berpikir ke arah situ.

“Bora, bagaimana menurutmu tentang sebuah perjodohan dengan Dokter Cha?”

Perjodohan?

Aku membuka handphoneku dan menunjukkan foto Sanghyuk pada appa. Dia malah mengambil handphoneku dan mengetik sesuatu. Appa pun menyerahkan handphonenya kembali.

Terima saja. Masa depannya lebih cerah dibanding anak kecil itu.

Aku membalas ketikannya.

Yang benar saja appa. Aku sudah satu tahun berpacaran dengan Sanghyuk dan appa mau menjodohkan aku dan Dokter Cha secara satu arah? Bagaimana jika Dokter Cha tidak mau?

 

Aku menunjukkan teks itu pada appa.

“Dokter Cha, bagaimana?”

Aku menatap wajah Dokter Cha. Tanpa kebingungan, dia langsung mengangguk. Loh…

“T-tapi apakah dokter belum punya pacar?” tanyaku ragu. Tidak mungkin dokter setampan dia masih single. Dia menggelengkan kepalanya. Apakah aku harus percaya? “Maaf Dokter Cha, tapi aku suda–”

Appa mengambil handphone di genggaman tanganku, ia mengetikkan sesuatu lagi.

Jangan lebih mementingkan si calon idol itu. Atau appa akan menarik semua saham yang kau tanam!

“A-apa?”

Tidak… bagaimana ini? Kenapa appa selalu menjebakku untuk keuntungannya sendiri? Ini mengingatkanku pada saat aku dipaksa belajar dengan keras untuk ujian masuk ke perguruan tinggi.  Appa mengancam tidak akan membiayai hidupku lagi jika aku tidak lolos. Tapi syukurlah, aku bisa.

Apa aku rela sahamku ditarik semuanya? Saham yang aku tanam sejak aku masih newbie di dunia bisnis… Aku menggunakan keuntungannya untuk membeli keperluanku juga. Aku melakukan semua itu agar aku bisa lebih mandiri.

Tapi jika appa menarik semuanya…

“Maaf Dokter Cha, dia memang tipe pemikir yang lama.”

“Tidak apa-apa. Saya menghormati apapun keputusannya.”

Aku menghela nafas.

Aku tidak mau melepaskan Sanghyuk… aku tidak tahu apakah appa bisa dibilang keterlaluan atau tidak kali ini.

Sejak aku menceritakan tentang Sanghyuk yang ingin menjadi idol, appa jarang  menanggapi ceritaku tentangnya lagi. Sedangkan eomma masih selalu mendengarkan aku. Dia sepertinya percaya Sanghyuk adalah tipe orang yang pekerja keras.

Argh..

Bagaimana ini…

Apakah aku harus berbohong?

“Nona Shin, kita bisa memulainya dari hal yang terkecil, bersama.”

Apakah sebuah kebohongan bisa membuat hati si pembohong lega?

“Untuk masa depanmu, Bora.”

Apakah kebohongan bisa memberi keuntungan untuk orang lain?

“Baiklah, aku bersedia.”

To Be Continued

One thought on “White Lies – Prologue”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s