With You (CHAPTER 1)

with you

With You

[ story and art by khaqqiadrei | ©2016 ]

Short-story (chapter pendek)

Romance, Hurt

G

Ahn Rian \ Kim Jong In \ Lee Yura \ Park Chanyeol

Tulisan ini dibuat sekadar untuk hobi dan tidak ada maksud menjelekkan atau mengubah karakter yang ada. Kesamaaan nama dan hal-hal lainnya adalah ketidak-sengajaan dan murni ditulis dengan imajinasi serta tidak mengandung unsur plagiat. Tidak diperbolehkan mengkopi secara ilegal atau menyebarluaskan tanpa izin.

 

Dipublikasikan juga di akun wattpad @dreisqy

WITH YOU

“Even when I die and disappear in a long time, and then reborn—not as myself—I will keep falling in love with you.

CHAPTER I

“I DON’T KNOW”

“Kau harus minum obatmu secara teratur. Kami akan beritahu keluargamu agar kau melakukannya. Jadi, segeralah sehat.” Ia meletakkan segelas air putih dan juga sepiring nasi—aku tidak yakin apa mereka menyebut itu makanan—ke atas meja. Di sana juga ada ponsel milikku dan barang-barang yang aku bawa saat masuk ke ruangan ini tiga hari lalu. Orang-orang tidak datang lagi karena sekarang sudah  larut. Rasanya lebih nyaman duduk sendiri di samping jendela seperti ini daripada mendapat pertanyaan yang sama sekali tidak ingin kujawab. Aku berulang kali meminta mereka agar berhenti tanya ini-itu dan ketika mereka menurutinya, penjenguk lain datang lagi lalu melakukan hal sama. Membuatku muak.

Kata dokter, udara malam tidak baik untuk kesembuhanku. Aku tidak begitu yakin… karena ini nyaman. Dingin dan sejuk. Mereka selalu memaksaku keluar di jam tujuh sampai sembilan pagi, padahal aku benci sekali panas matahari. Aku suka yang dingin-dingin, misalnya es krim. Ah ya, aku juga suka kesejukan. Jadi aku memilih warna hijau daripada merah. Aku juga tidak suka pink. Tunggu, tunggu. Ada satu lagi yang mesti kuberitahu: Aku alergi bulu. Aku tidak yakin… tapi kata pria tadi begitu.

Ia—yang kumaksud pria tadi—datang kemarin sore dan membicarakan apa yang aku suka dan apa yang tidak kusuka. Ia juga memberikan buku diary-ku. Katanya, itu bisa membantu memulihkan ingatanku. Saat ia datang, ia juga membawa dua buku komik. Ngomong-ngomong, belum kubaca sampai sekarang.

Aku seperti memasuki dunia baru. Begitu aku sudah di dalamnya, semua orang membuka tangan mereka dan menawariku pelukan. Tapi aku tetap saja merasa asing walau situasinya sedekat ini. Aku ingin mengingat dan merasakannya kembali.

Aku tidak bisa terus-terusan menghibur diri seperti ini dengan bilang kalau aku akan berusaha mengingatnya. Aku susah mengatakan kalau aku juga menyayangi mereka seperti mereka menyayangiku. Seharusnya aku tidak begini—tapi aku masih ragu.

Saat orang-orang datang dan mereka berjalan ke arahku lalu memelukku dengan erat, aku tidak bisa membalas juga tidak tega melepasnya. Aku terlihat menyedihkan? Yeah, kau pasti berpikir begitu. Tapi aku harus bagaimana? Aku tidak boleh egois. Untuk segala hal yang terjadi sekarang, aku harus belajar banyak. Orang-orang di sekitarku, mereka menyayangiku.

Aku tidak ingin hanya memikirkan diriku sendiri. Aku harus berusaha agar mereka tidak banyak mengkhawatirkanku.

**

Ia belum membuka mulut dan kedamaian ada di sela-sela langkah sneakers-nya.  Aku melihat lengannya seolah sengaja ia jatuhkan kembali ke sisi tubuhnya saat terangkat barusan. Aku berharap hari ini ia tidak membawakanku sesuatu, tapi nyatanya, di tangannya ada segelantung paper bag yang kemudian ia letakkan di sisi kasurku. Aku tahu, baik aku maupun dia, sebenarnya kami sama-sama merasa tidak nyaman. Tapi menurutku cukup menyakitkan kalau aku terus-terusan bilang ingin sendiri.

Ia duduk di kursi di samping kasurku setelah meletakkan paper bag tadi. “Kamu sudah makan? makan dulu sebelum minum obat.”

Aku masih canggung untuk berbicara dengannya secara akrab. “Perawat sudah mengantar makananku—aku baru mau memakannya tadi. Tapi kamu datang jadi aku….”

“Ah, aku tahu, aku tahu.” Ia berdiri dari kursinya lalu mengambil nampan yang ada di meja kemudian memangkunya. “Sudah lama ‘kan?”

“Ya…, kurasa begitu.”

“Baiklah, Cantik. Mari makan.” Ia mengangkat tangannya yang menggenggam sesendok nasi. Aku tidak tahu kenapa aku terus begini; masih saja memikirkan apa yang harus kulakukan saat kami bersama. Rasanya aku tidak sanggup melihat ia terus tersenyum sedangkan—aku tahu—hatinya pasti sedang terluka. Siapa yang tidak sakit saat orang yang kita sayangi melupakan kehadiran kita begitu saja? Huh?

Aku memajukan badanku sedikit agar sendoknya masuk ke dalam mulutku dengan mudah.

“Ah, pasti tidak ada rasanya.”

Aku mengangguk menyetujui pernyataannya.

“Harusnya aku beli makanan tadi. Karena kupikir kamu sudah makan, jadi aku tidak jadi membelinya. Hah, dasar.” Kurasa ia cukup berhasil membuat wajahnya tampak kesal.

“Tidak papa.” Ia menyuapkan sesendok nasi lagi ke dalam mulutku.

“Eung… apa kamu ingin jalan-jalan? Ayo kita keluar setelah makananmu habis.”

“Ke mana?”

“Kemana saja. Aku akan terus berada di sampingmu agar kita….” aku bisa melihat ia menyembunyikan ekspresi itu lagi dariku. Kau ketahuan, sangat jelas.

“… Baiklah. Kita pergi sekarang saja. Bagaimana?”

“Oh… oke.”

Udara di luar memang lebih baik daripada bau obat-obatan di dalam ruang rawatku. Rasanya seperti hidup kembali setelah seharian berbaring tidak melakukan apa pun selain makan-minum-tidur.

“Kamu mau minum?”

“Ya?”

Ia berpindah menghadapku. “Aku akan membelikanmu minum, jadi tunggu saja di sini. Jangan kemana-mana, okey?”

Aku mengangguk lalu ia pergi.

Terkadang—hanya terkadang—aku suka memikirkannya: Aku punya banyak alasan untuk bunuh diri sekarang, tapi tidak tahu kenapa aku sama sekali tidak menginginkannya. Mungkin karena orang-orang di dekatku selalu datang bergantian dan membuatku merasa tidak nyaman kalau aku harus pergi tanpa membawa satu kenangan pun bersama mereka—setidaknya salah seorang dari mereka. Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya aku memang sudah egois sejak aku masuk rumah sakit ini. Aku melupakan semuanya. Aku tidak punya siapa-siapa tapi mereka datang tanpa kuminta dan mengulurkan tangan mereka untuk kugenggam. Mereka—keluarga dan orang-orang yang menyayangiku—tetap memberikan cinta walau aku sendiri masih suka salah menyebut nama mereka. Aku serakah ‘kan?

Aku masih terus berusaha agar setidaknya, salah satu saja, dari puluhan foto ini ada yang bisa kuingat atau paling tidak supaya aku menemukan sesuatu—sedikit saja—kemudian mulutku bilang ‘Ah, ini. Aku bahagia saat ini’ dan aku bisa merasakan kedamaiannya. Tapi rasanya sangat sulit dan seolah otakku benar-benar menolak untuk aku bisa mengingat diriku yang dulu.

Karena kupikir ia masih cukup lama untuk kembali, aku memutar roda kursi rodaku perlahan. Suara derak roda dengan aspal halaman rumah sakit ini memasuki ruang pendengaranku secara beruntun. Tidak itu juga, langkah kaki orang yang ada di sekitarku juga membuat telingaku lebih bising dari biasanya. Suara angin berembus semakin membuatku ingin di sini lebih lama, berharap semua yang terjadi hari ini hanya mimpi jadi aku bisa bangun dan kembali berangkat bekerja.

“Halo, Rian.”

Suaranya yang lembut menandakan pasti ia seorang wanita. Aku bisa menebak tubuhnya lebih tinggi dariku dari suara langkahnya di belakang punggungku. Ia menepuk pundakku tiba-tiba sebelum aku menoleh dan menanyakan apakah dia temanku. Irama langkahnya memelan seiring tubuhnya yang memutar menghadap padaku. Dari situ saja, aku sudah bisa membuktikan kalau ia memang lebih tinggi dariku, juga lebih cantik. Rambutnya terurai bebas sepunggung dan kulitnya putih mulus. Ia mengenakan dress seatas lutut berwarna hitam, senada dengan sepatu flatnya. Ah, aku tampak malu sekali ada di dekatnya karena lihatlah aku, aku cuma memakai sneakers putih dan juga setelan baju rumah sakit dengan rambut yang kukucir. Sempurna.

“Kau sudah baikan?”

Matanya indah sekali saat ia bertanya padaku. Ia berlutut untuk menjajarkan pandangan kami dan ia menggenggam tanganku erat. “Kita dulu, sangat dekat.”

Aku menundukkan kepalaku sejenak lalu napasku terdengar mendesah. “Ah, ya. Kita bisa mulai lagi dari awal.”

“Dari awal?”

Why not?”

Ia mengangguk lalu tersenyum sambil mengusap rambutku lembut. Ia tampak penuh kasih dan sepertinya selisih umur kami tidak banyak, jadi mungkin ia satu-satunya teman wanita yang bisa kuajak bicara—tanpa ada rasa sungkan.

“Bagaimana Jong In padamu sekarang?”

Ah, dia juga mengenali Jong In. Ya, pria itu. Aku bahkan baru menyebutnya sekarang sepanjang tulisan ini.  “Dia baik.”

“Yeah… dia belum berubah.” Aku mendengar nada kecewa dari desahannya.

“Belum?”

“Ah, ngomong-ngomong, namaku Lee Yura.”

“Ahn Rian.”

Kami berjabat tangan dan ia memelukku. Kemarin aku merasa canggung untuk membalas pelukan seseorang, tapi kurasa aku dan dia, pernah sangat dekat hingga aku memeluknya sangat erat sekarang. “Senang bertemu denganmu.”

 “Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

Ia berjalan ke belakangku dan mulai mendorong kursi rodaku secara perlahan. “Aku akan membuat awal yang indah.”

“Ah….”

“Kau siap?”

Aku memang tidak melihat wajahnya, tapi kurasa ia sedang tersenyum. “Siap!”

**

Aku dan Yura pergi ke mall dekat rumah sakit. Dia juga membelikanku beberapa setel pakaian dan sepatu. Yura membeli satu high-heels untuknya. Ia juga menawariku tadi, tapi aku menolak.

“Menurutmu bagus yang mana?”

Yura memegang dua dress, ungu dan satunya lagi biru. Kalau disuruh memilih, aku tidak akan pilih salah satu pun. Menurutku dua-duanya terlalu pendek untuk wanita setinggi dia, juga warnanya tidak cocok untuk kulitnya.

“Biru.” Tapi mulutku tidak keberatan sama sekali begitu aku mengucapkannya. Aku sedikit tidak peduli apa ia menganggap hal tadi adalah saran, tapi kurasa iya karena ia jadi membeli yang biru.

 “Apa aku terlihat begitu cantik?”

Aku mengangguk. “Kau memang cantik, Yura-ssi.”

“Apa kita ke kafe saja? Temanku ada di sana, aku ingin menemuinya sekalian.”

“Oh, ya? Apa ini reunian?”

“Bisa juga dibilang begitu, karena memang sudah lama tidak bertemu—eh, tunggu! Kau harus ganti pakaianmu ‘kan?” Yura memutar kursi rodaku.

“Eh, buat apa?”

“Aku tidak bisa cantik sendirian. Kajja!”

**

Yura memesan dua americano. Ia sedang menerima telepon selagi pelayan belum mengantarkan pesanan kami. Aku melihat orang-orang melalui kaca besar di samping kami duduk. Sebentar lagi musim gugur akan berakhir dan musim dingin datang. Aku seolah memiliki sesuatu di musim dingin hingga tak sabar menantikannya. Seolah itu sesuatu yang berharga, sesuatu yang sudah dijanjikan seseorang padaku.

“Udara semakin dingin di pergantian musim.” Yura datang setelah pelayan kafe meletakkan pesanan kami ke atas meja.

“Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu, Yura-ssi?”

“Aku model. Kau tak tahu?”

“Ah… aku tidak tahu.”

“Itu bagus karena kau baru saja hilang ingatan. Tapi, setelah kau ingat nanti, kau pasti terkejut.”

“Semengejutkan itukah dirimu?”

“Heum, geureom.”

Aku mengambil ponselku dari dalam saku begitu berbunyi. “Yeobseyo.”

[Kau di mana? Aku sangat khawatir?]

“Aku di kafe dekat rumah sakit. Ke sini, deh. Ada seseorang yang harus kau temui.”

[Baiklah. Tunggu, ya. Jangan kemana-mana.]

Aku menutup teleponku lalu memasukkan ponselku ke dalam saku mantelku lagi.

“Siapa?”

“Kau akan tahu begitu dia sampai.” Aku tersenyum.

Tidak butuh waktu lama untuk melihat Jong In datang. Ia masih mengenakan mantel berwarna cokelat. Langkah kaki jenjangnya tampak terburu-buru dengan mengenakan sepatu hitamnya. Aku tidak melihat semringah dari wajahnya seperti saat di rumah sakit tadi. Yura berdiri begitu Jong In sampai di hadapan meja kami.

“Lee Yura?”

Sepertinya Jong In dan Yura sudah saling kenal, dilihat saat mereka terkejut mengetahui eksistensi satu sama lain.

“Oh, hai.”

Kim Jong In mundur selangkah saat Yura baru saja mengangkat kedua tangannya. Entah itu untuk apa, sepertinya Yura bermaksud memberi pelukan—tapi tidak jadi karena Jong In seolah menghindarinya.

“Kalian, di sini? sejak tadi?”

Aku mengangguk meyakinkan ekspresinya yang tampak bingung juga terkejut.

“Ada apa?” aku melihat Jong In tidak tenang dengan posisi berdirinya yang sekarang. Kakinya benar-benar tidak tegap dan raut mukanya tampak gelisah dan kebingungan.

“…Kau belum minum obat ‘kan? Ayo kembali.”

Aku bisa melihat kalau Jong In seperti tidak ingin berlama-lama di kafe ini. Ia menarik pegangan kursi rodaku lalu mengantarku menuju pintu. “Kenapa?”

“Sudah kubilang ‘kan? Kau harus minum obat.” Suaranya terdengar tidak biasa. Berat dan bimbang.

“Nanti juga bisa.” Aku mencoba mengundur waktu untuk bisa memerhatikan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.

“Harus sekarang.”

“Apa kau mengenali Lee Yura? Kalian sudah saling kenal?”

Jong In tidak menjawab, malah terus mendorong kursi rodaku hingga melewati lalu lintas pejalan kaki.

“Kalian sudah saling kenal ‘kan? Apa itu masalah?” desakku ingin mendengar penjelasannya.

Kursi rodaku berhenti tiba-tiba dan kudengar napas Jong In berembus panjang. “Kami pernah satu sekolah, dan yeah, kau tahu, dia sainganku.”

“Itu dulu ‘kan? Seharusnya kalian baikan.” Aku mencoba untuk memberi saran sebisaku, karena melihat Jong In menghindar dari Yura seperti itu terlihat sangat menyakitkan.

“Tentu. Kami akan baikan.”

“Kapan?”

“Aku yakin kami bisa bertemu lagi. Sekarang tidak bisa.”

Kursi rodaku kembali berjalan, melintasi trotoar.

Aku menoleh, lalu kugenggam tangannya. “Kalian harus baikan, sekarang. Aku bisa minum obat nanti.”

Jong In mengalihkan pandangannya, dan ia melepas genggamanku. Situasinya kembali tidak nyaman, seperti saat ia datang ke kafe tadi.

“Ayolah… aku tidak ingin melihat dua orang yang berharga bagiku saling kenal tapi berjauhan… kumohon….”

“Tidak bisa.” Ia tetap kukuh.

“Baiklah. Kau memaksa.” Aku meraih ponsel dari sakuku, kemudian memencet kontak Lee Yura. “Yeobseyo, Yura-ssi?”

“Kau bisa menemui kami?” aku menoleh kanan-kiri melihat di mana aku berada. “Aku di halte. Kumohon, kemarilah.”

Aku mendengar ia berkata oke.

Jong In ada di depanku tiba-tiba saat aku menutup telepon. “Rian-ssi, aku ingin kau bahagia.” Nada bicaranya melemah.

Aku sama sekali tidak paham dengan apa yang ia katakan saat itu. Yang aku rasa, itu hanyalah sebuah harapan yang setiap orang katakan saat menemani orang sakit. “Aku akan bahagia, Jong In.” Aku tersenyum.

“Oke, aku akan pergi. Temui Yura dan selesaikan masalah kalian. Aku menunggu di rumah sakit,” kataku sambil memutar roda kursi rodaku.

“Kau harus berjanji, Rian. Kau harus bahagia.”

Aku tidak begitu mendengarnya, tapi, lirih sekali, aku yakin Jong In berucap demikian.

Aku akan bahagia. Jika kau di sisiku, aku janji akan bahagia, Kim Jong In.[]

A/n: halo~ wuaoh makasih banyak udah baca ya^^ anyway, aku pengen baca komentar kalian soal ff ini^^  kritik, saran, atau apa pun itu, bakal aku terima dengan senang hati❤ ~ sekalian kalau tertarik baca tulisanku lainnya, bisa kunjungi blog-ku di khaqqiadreipark.wordpress.com! tunggu next chapternya juga~ /bow/

One thought on “With You (CHAPTER 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s