DESTINY (4/5)

picsart_04-27-09-20-48

DESTINY
dilaribear

Starring TWICE and GOT7
Genre family;school-life;friendship;slightromance • Rating pg-13 • Duration Chaptered

Kau takdirku, aku tak pernah bisa meninggalkanmu
Kau duniaku, pusat hari-hariku

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3

.

“Hore! Ini kerja kelompok terakhir kita!” seru Dahyun diikuti sorakan Chaeyoung dan Mina. Sedangkan Tzuyu sibuk memasukkan kertas-kertas bekas kedalam kantong plastik untuk dibuang nanti.

“Chae, apakah kamu nanti jadi kerja dibelakang?” tanya Mina yang masih khawatir tentang seragam sekolah Chaeyoung yang berubah warna menjadi merah muda karena cat lukis merah yang susah hilang dari seragamnya.

Dengan tulus Chaeyoung anggukkan kepalanya. “Setelah bazar kan ada liburan satu minggu, jadi aku akan memikirkan apa yang harus aku lakukan pada seragamku.” Ucapnya.

“Ini tadi guntingku, kan?” tanya Tzuyu sambil menunjukkan gunting merahnya.

“Iya, Tzu.” Jawab Chaeyoung. “Sudah, silahkan beres-beres, teman! Aku ke belakang sebentar, ya!” Dahyun dan Mina pun ikut membereskan barang-barang mereka kedalam tas ransel.

Selesai lebih dulu, Tzuyu memutuskan untuk melihat-lihat foto-foto yang tertempel di dinding ruang tamu. Tak terlalu memerhatikan yang di dinding, Tzuyu lebih tertarik melihat barang-barang indah di rak yang ada dibawah foto-foto tersebut. “Unni, lihat deh, lucu  banget!” seru Tzuyu sembari menunjukkan sebuah miniatur tentara.

“Eh, itu bukannya seragam tentaranya yang ada di drama Descendants of The Sun?” sahut Mina, langsung berdiri dan menghampiri Tzuyu.

Diikuti Dahyun, ia tertawa melihat Mina yang sangat gemas dengan miniatur tersebut. “Jadi, Mina Unni bisa jatuh cinta juga, ya?” godanya.

“Hei, aku ini juga gadis normal, eoh!”

“Sudah selesai?” tanya Chaeyoung yang barusan keluar dari kamar katanya adalah tempat hewan peliharaannya berada, kamar dengan pintu berwarna biru langit dan stiker bunga mawar di tengahnya.

Ketiga teman satu kelompok Chaeyoung tersebut menghampiri Chaeyoung, lalu mereka berempat berdoa bersama untuk kelancaran bazar yang diadakan besok. “Pulang dulu, ya! Dadah!” pamit mereka semua sebelum pergi meninggalkan Chaeyoung.

Chaeyoung langsung menjatuhkan diri diatas sofa ruang tamu setelah lelah tersenyum dan pura-pura sendirian dirumah selama kerja kelompok lima hari ini. Klek. “Mereka sudah pergi, Oppa!” teriak Chaeyoung dari sana, tanpa mengubah posisinya.

“Akhirnya aku bisa bebas!” teriak Jinyoung dengan senang. Ia berlari menghampiri Chaeyoung dan menarik tangan adiknya, “Ayo, kita kencan malam ini!” serunya.

Oppa, aku lelah hari ini!” tolak Chaeyoung, terduduk karena Jinyoung. Ia menguap sebentar, kemudian berdiri, “Aku mau membereskan bekas kerja kelompok dulu, Oppa siapkan makan malamnya, oke?”

Jinyoung mengacungkan jempolnya dengan gembira, lalu pergi ke dapur. Sedangkan Chaeyoung pergi membuang kantong plastik berisi sampah kertas bekas membuat prakarya untuk hiasan bazar kelas. Selesai, Chaeyoung yang hendak menuju dapur tersebut ditahan oleh pemandangan sebuah kotak pensil asing diatas rak ruang tamu.

.

Tok tok tok. “Permisi!”

Jinyoung menguap keras, “Siapa?” teriaknya sambil berjalan menuju pintu depan rumah.

“Temannya Chaeyoung, mau mengambil kotak pensil,” teriak seseorang dari luar. Jinyoung mengintip dari jendela, mendapati Tzuyu berdiri dibalik pintu. “Aku sudah minta izin pada Chaeyoung untuk mengambilnya sendiri dirumahnya, bolehkah aku masuk?”

Jinyoung segera berlari kembali masuk ke kamarnya tanpa menjawab orang tersebut. Ia kunci kamarnya, lalu membanting tubuhnya diatas kasur. “Bodoh! Harusnya aku lihat dulu sebelum berteriak!” ia belum berhenti merutuki diri sendiri yang merasa telah menghancurkan penyamaran dirinya sendiri sebagai hewan peliharaan selama ini.

Tiba-tiba Jinyoung mendengar pintu kamarnya diketuk. “Apakah itu kamu, Jinyoung Sunbaenim?” Jinyoung membulatkan matanya, lalu segera meringkuk dibalik selimutnya. “Apakah kamu benar kakak kandungnya Chaeyoung?” tanya Tzuyu.

Masih tak mendapat jawaban, Tzuyu berkata, “Katakan saja, kamu dapat memercayaiku.”

Jinyoung membuka selimutnya, lalu melangkahkan kakinya untuk berdiri didekat pintu kamarnya. Ia mengambil napas panjang sebelum menjelaskan, “Aku pikir, kalau orang-orang tahu tentang ini, Chaeyoung tidak bisa tenang selama di sekolah. Tapi ternyata menyembunyikannya malah membuat Chaeyoung disakiti, bahkan kami berdua harus sama-sama menabung untuk membeli seragam Chaeyoung yang baru.”

Tidak ada jawaban dari Tzuyu. “Jadi itu benar?” tanyanya setelah hening selama kurang lebih dua menit.

Jinyoung menghela napas, “Kamu boleh menyebarkannya, mungkin itu bisa membuat orang-orang berhenti membenci Chaeyoung, aku—“

“Aku pergi dulu, Sunbaenim! Bazar sudah dimulai. Dah!”

Hanya suara sepatu Tzuyu yang menjauh yang tersisa. Jinyoung membuka pintu kamarnya, melihat Tzuyu sudah berlari kembali ke sekolah tanpa sempat melihat Jinyoung sama sekali.

.

“Itu Tzuyu sudah datang!” seru Jihyo yang mengacungkan telunjuknya pada sosok Tzuyu yang sedang berlari kencang dari gerbang sekolah menghampiri stan bazar kelasnya.

Bugh. Tzuyu melingkarkan tangannya pada pinggang Chaeyoung, memeluknya dari belakang dan menangis. Terkejut, Chaeyoung menarik tangan Tzuyu dan berhadapan dengannya. “Ada apa, Tzuyu?” tanyanya sembari menghapus air mata Tzuyu dengan punggung tangannya.

“Aku yang menumpahkan cat itu…”

Chaeyoung terpaku mendengar pernyataan Tzuyu barusan. Rasanya ingin segera pergi pulang dan menulis surat penyataan keluar dari sekolah saat itu juga, namun rasa ingin tahu Chaeyoung lebih besar. Ia menengok ke belakang dan sekitar, kemudian mengajak Tzuyu berbicara di belakang bazar agar tidak didengar siapapun. Disana hanya ada beberapa teman sekelasnya yang sedang menyiapkan gelas dan piring untuk makanan bazar.

“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Chaeyoung, setengah berbisik.

Tzuyu menundukkan kepalanya dan menjawab, “Aku adalah penggemar Flower Boys, aku merasa cemburu karena kamu bisa berinteraksi dengan mereka,” ia menarik napas lalu melanjutkan, “Aku sengaja meninggalkan kotak pensilku dirumahmu, agar aku punya alasan untuk pergi kerumahmu dan melihat hewan peliharaan yang selama ini kamu sembunyikan,”

Chaeyoung terkejut, “Si-siapa yang kamu temui?”

“Kamu bilang kalau rumahmu tidak dikunci, tapi aku sengaja mengetuk pintu agar ada yang membukakan, lalu aku mendengar suara Jinyoung Oppa. Jadi dia menjelaskan padaku yang sebenarnya…” Tzuyu diam sejenak, ia mengangkat kepalanya dan meraih kedua tangan Chaeyoung, “Chae, aku tahu sulit untuk memaafkan perlakuanku padamu, tapi aku akan membelikan seragam baru untukmu, sebagai ganti atas kesalahanku.”

Chaeyoung melepas tangan Tzuyu. “Tidak perlu berlebihan, Tzu. Kamu menyadari kesalahanmu itu sudah lebih dari cukup.”

“Aku tidak mau, aku… ingin berteman denganmu…”

Menghela napas, Chaeyoung pun menyahut, “Kamu resmi menjadi temanku kalau kamu tutup mulut mengenai identitasku sebagai adik kandungnya Jinyoung Oppa. Bisa?” dengan senang hati Tzuyu mengangguk pasti.

“Adiknya Jinyoung Oppa?!” pekik Dahyun tiba-tiba. “Jadi yang aku lihat di hanphone-nya Chaeyoung saat itu benar-benar pesan dari Jinyoung Oppa yang—“ segera Chaeyoung bungkam mulut Dahyun dengan tangannya.

Dahyun menarik-narik tangan Chaeyoung untuk menyingkir dari sana. Namun Chaeyoung tak berkutik, lantas ia berkata, “Kamu juga bisa mati kalau orang-orang sampai tahu. Mengerti?” Chaeyoung lepas tangannya dari mulut Dahyun lantaran mendapat anggukan dari Dahyun. “Astaga, aku merasa menjadi penjahat!” rutuknya.

“Jangan khawatir, Chae. Aku akan membantumu menyembunyikannya!” seru Dahyun diikuti anggukan setuju dari Tzuyu. “Tapi, kenapa aku malah merasa Jinyoung Sunbaenim itu sedang menyukaimu?”

Awalnya ucapan itu sama sekali tidak masuk akal. Tapi setelah Dahyun menjelaskan argumennya, Chaeyoung jadi merinding dibuatnya. Tzuyu sempat mengusulkan Chaeyoung untuk berbuat sesuatu pada Jinyoung yang akan membuatnya marah. “Kalau seseorang sedang marah, dengarkanlah, karena saat itulah kejujuran muncul.” Ucap Tzuyu.

“Hei, kamu ini diam-diam bijak juga, ya!” gurau Dahyun, membuat mereka bertiga tertawa renyah bersama.

.

“Hai, Jin—“ Bambam berhenti melangkah lantaran melihat Jinyoung yang seharusnya berhenti di gerombolan Flower Boys ini malah berlari entah kemana seperti terburu-buru. “Jinyoung kenapa lagi?” tanya Mark. “Mungkin sedang mengurusi persoalan adiknya.” Jawab Youngjae singkat, lantas mengajak teman-temannya masuk kelas tanpa Jinyoung.

“Aku mau ikut Jinyoung.” Ucap Jaebum tiba-tiba. “Kalian duluan saja, oke?” pamitnya, meninggalkan senyuman sebelum berlari pergi menyusul Jinyoung yang rupanya ada di koridor kelas 3 di lantai 2 sedang bersama Nayeon.

“Akh!” pekik Nayeon, membuat Jaebum berhenti melangkah dan memilih untuk bersembunyi dibalik dinding tangga. “Oppa kok jahat, sih!” pekik Nayeon yang menarik-narik tangan Jinyoung agar lepas dari kedua bahunya.

Jinyoung menyipitkan matanya, “Aku sudah bilang kan, kamu yang akan aku salahkan jika aku orang-orang tahu identitas Chaeyoung!”

“Hei, aku tidak memberitahu siapapun!” bantah Nayeon.

“Lalu menurutmu darimana Tzuyu tahu?”

Nayeon terdiam, “Tzuyu?” ulangnya. Ia kembali mengingat dua hari yang lalu, saat ia menyatakan cintanya pada Jinyoung di ruang dance. “Orang itu! Orang yang tiba-tiba kabur setelah menguping, itu pasti Tzuyu!” jawabnya asal, mengingat ia bertemu dengan Tzuyu sebelumnya.

“Jangan beralasan.” Ucap Jinyoung yang semakin sarkasme.

“Memang Tzuyu kok.” Jaebum keluar dari sana, menghampiri mereka berdua dan menarik Nayeon dari cengkraman Jinyoung. “Aku, Youngjae, dan Jackson yang memerhatikan kaca saat kamu mengancam Nayeon kemarin,” Jaebum menjelaskan.

Nayeon melangkah mundur, “Aku jadi curiga padamu, Jinyoung Oppa,” sahut Nayeon kemudian. Raut mukanya berubah menjadi kebencian. “Kenapa kamu terlalu berlebihan pada adikmu? Coba saja kamu memberitahu semua orang kalau Chaeyoung adalah adikmu, kehidupanmu tidak akan serumit ini, tahu.”

“Kamu tidak tahu apa-apa!” bentak Jinyoung, hampir saja menarik Nayeon lagi, Jaebum segera menahan Jinyoung dan menatap Nayeon dengan tatapan menyuruhnya pergi dari sana. Nayeon menangkap tatapan itu dan berlari pergi. “Argh!” gertak Jinyoung, mendorong Jaebum.

“Nayeon benar, Jinyoung-ah. Aku yakin semua orang akan menerima keberadaan Chaeyoung kalau kamu mengatakan yang sebenarnya, seperti kamu memberitahu kami—Flower Boys—mengenai Chaeyoung.” Tutur Jaebum, “Katakanlah, demi kebaikanmu dan Chae—“

“Diam.” Potong Jinyoung. Ia menatap Jaebum dengan tajam, lalu berkata, “Kamu pikir aku memberitahu kalian bahwa Chaeyoung itu adikku sejak kapan?” sepertinya kalimat itu selesai, tapi terdengar menggantung bagi Jaebum. Jinyoung menghela napas sebelum ia pergi dari sana, meninggalkan Jaebum yang keheranan.

“Apa maksudnya?” tanya Jaebum.

-to be continue-

A/N: KEMBALI LAGI SETENGAH MENGHILANG LAGI. mungkin kalian udah agak lupa sama jalan cerita ff ini, jadi kusarankan baca chapter sebelumnya dulu biar ngeh wkwkwk. tolong beri kritik dan saran ya, butuh banget🙂

One thought on “DESTINY (4/5)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s