[Playlist-Fic] #7: The Last Chance

the last chance

a fan fiction by Jung Sangneul

// The Last Chance //

starring [Seventeen] Mingyu & [OC] Reyna || genre Romance || duration Vignette || rating PG-15

Track #7: Adele – All I Ask

Yang kupinta tidak banyak: asalkan denganmu, semuanya cukup untuk berpura-pura.


Dalam pertemanan kita, kita selalu main kode. Kamu bersama teman-teman lelakimu, yang selalu kukatakan tidak sesuai dengan gaya dan kebiasaanku—sehingga aku tidak mungkin membaur dengan mereka. Sementara aku dengan teman-teman wanitaku, yang kamu katakan norak karena membicarakan apa pun yang mereka lihat di depan mata. Klop, kamu juga tidak mungkin membaur dengan kami dan bermetamorfosis menjadi lebah bergaung.

Kita selalu begitu, berteman di belakang mereka.

Ketika aku asyik menyendok es krimku, kamu datang dengan teman-temanmu; matamu terarah kepadaku dan jemarimu membentuk simbol ‘telepon aku’. Aku hanya tersenyum menanggapi, sambil memberi simbol balasan ‘oke’ dengan jari membentuk huruf O. Kamu tertawa-tawa lagi dengan temanmu, sementara aku hanya nyengir ketika temanku keheranan dengan maksud simbol di tanganku.

“Kamu nggak pa-pa, ‘kan, Na-ya?”

Aku menggeleng ragu, tapi senyumku tidak juga luntur. Karena aku tahu, nanti malam ada yang akan kupencet nomornya, sekadar untuk say hello, what’s up?, dan sesuatu seremeh itu.

“Hello.”

“It’s me.” Dia tertawa di seberang, “Jadi kayak lagu aja, deh, Na.”

“Minta telepon, ada apa?”

“Nggak ada apa-apa,” jawabnya enteng, “kamu sibuk? Lihat langit bentar, yuk.”

Lalu, dengan serta merta akan kutinggalkan buku PR yang masih tergeletak di sebelahku, seperti aku mengabaikan kemarahan Mr. Edmund esok harinya. Yang terpenting, sesi ini tidak boleh lewat. Karena kamu jarang sekali mengajakku melihat langit bersama.

“Warnanya apa, Na?” tanyamu di sana.

Aku berpikir sejenak, mencoba mendeskripsikan warnanya. “Biru metalik keabu-abuan, kehitam-hitaman, ada awan di sekelilingnya.”

Kamu di sana pasti tertawa. “Warna macam apa itu? Di sini warnanya biru gelap totol-totol putih.”

Giliran aku yang tertawa. “Sejak kapan langit punya motif polkadot?” ledekku.

“Hei, totol-totolnya itu bintang. Sedang banyak bintang di sini. Mudah-mudahan ada yang jatuh satu.”

Aku mengernyit, masih menatap langit—karena keyakinanku begitu besar bahwa langit itu yang bisa menyatukan perbedaan kita, menjadi satu hal abstrak yang orang lain takkan tahu. Seperti kode-kode yang biasa kita lakoni, seperti kata ‘sahabat’ yang sehangat itu terucap dari kita masing-masing.

“Memang, kalau ada bintang jatuh, kamu mau minta apa, Gyu?”

Aku bisa merasakan senyumanmu yang mencapai mata ketika kamu berucap, “Sekali aja, kita bisa ngobrol panjang, sebelum aku pindah.”

Dan, saat itulah tenggorokanku tercekat. “P-pindah?” kata itu terasa begitu tabu untuk didengar.

Tiba-tiba, ada rasa tidak rela yang menyesakkan. Sesak sekali sampai terasa seperti ditindih batu di atas dadaku. Malam itu berakhir dengan aku berkata, “Gyu, maaf, aku baru ingat tugasku banyak yang belum selesai. Lanjut lain kali, ya.”

Kumatikan sambungan dengan terburu-buru, tanpa sempat mendengar jawabanmu di seberang sana. Yang kulakukan selanjutnya bukan mengerjakan tugas, tapi bertanya-tanya apa alasannya aku merasa seperti ini, terlalu berlebihan rasanya.

Mingyu itu ‘kan hanya sahabatmu, yang cuma bisa bertukar kode, pula. Orang seperti itu datang dan pergi, seharusnya sudah biasa.

Pikiranku memperingatkan hati-hati. Namun, perasaanku tetap sama. Ada lubang menganga yang siap diisi dengan kekecewaan, atau bahkan lebih dari itu.

***

            Setelah malam itu, hari-hari terasa sunyi. Aku berusaha keras mengabaikan eksistensimu—Mingyu—hanya karena perasaan aneh itu masih menyelubungiku. Tidak lagi ada kerlingan mata serupa kode untuk berbicara di tempat yang hanya kami berdua yang tahu. Tidak ada lagi telepon ketika aku baru mengerjakan tugas Kalkulus. Tidak ada tawanya yang bertanya seperti apa rupa langit yang kulihat, samakah dengan apa yang dia lihat?

            Aku mengalihkan semua atensi pada teman-teman perempuanku. Mengobrolkan sesuatu yang biasanya hanya kutanggapi dengan manggut-manggut. Tidak sepenuh hati. Tanpa rasa nyaman berlebih. Sekadar formalitas.

            Aku jadi benci, mengapa Mingyu yang notabene hanya teman sejauh itu bisa bermakna sedalam ini? Hidupku jadi jungkir balik hanya karena satu kata yang dia ucapkan: pindah.

            “Mau ditatap berapa lama juga langitnya akan tetap sama, Na.”

            Kudongakkan kepala dengan terkejut. Sedang melamun sendirian, tahu-tahu lelaki itu datang bagai hantu. Seakan ia bisa tahu di mana aku berada cukup dengan memejamkan mata beberapa detik.

            “Tadi, radarku bunyi, loh. Dan, ternyata kamu betulan ada di sini.”

            Ia mengenyakkan diri di sebelahku, di atas rerumputan.

            “Berdirilah sebentar, Na,” pintanya. Dengan bodohnya aku menurut, meski tak ayal mengerutkan kening heran. Setelah aku berdiri, diletakkannya jaket yang ada di tangannya tadi di atas rumput.

            “Sudah. Duduklah lagi. Kaubisa digigit semut kalau duduk tanpa alas di sini,” komentarnya, menarik tanganku hingga terduduk.

            Tidak memberiku kesempatan lebih lama untuk bicara, ia berkata, “Kalau aku memang betulan mau pindah, kamu mau apa untuk kenang-kenangan?”

            Aku terdiam sejenak. Menghela napas panjang, kemudian menatap matanya, rambutnya, hidungnya. Ini menyakitkan, jika ternyata kata ‘sahabat’ itu justru terasa menyebalkan dan keanehan yang kurasakan tidak kunjung mereda bahkan ketika dia berada sedekat ini. Seharusnya, aku tidak perlu khawatir. Aku hanya harus yakin dia tidak akan melupakanku.

            “Kau tidak berpikir untuk membunuhku dan menyimpan mayatku di kulkas, ‘kan?” tanyanya konyol. Aku menjitak dahinya sebagai balasan.

            “Jangan gila,” gumamku.

            Setelah menghabiskan beberapa detik lagi untuk bergelut dengan batin, aku memutuskan meraih tangannya, menggenggamnya lamat-lamat. Mingyu mungkin terkejut, terlihat dari raut wajahnya. Namun, ia dengan mudah merilekskan diri dan merespons dengan menggenggam balik tanganku.

            “Jalan-jalan denganmu. Foto bersama. Makan untuk terakhir kali denganmu. Ya, sesederhana itu, mungkin.”

            Mingyu tersenyum mendengarnya. “Besok malam, ya?”

            Dan, aku rela membagi senyumku juga. Pura-pura tidak tahu bahwa itu artinya Mingyu tidak bercanda mengenai keputusannya yang entah karena apa. Pura-pura saja kalau besok malam kami akan jalan-jalan, tanpa berakhir dengan kemungkinan retaknya hatiku setelahnya.

—All I ask is if this is my last night with you. Hold me like I’m more than just a friend.

fin.

6 thoughts on “[Playlist-Fic] #7: The Last Chance”

  1. Halo kak Jungsangneul (?) :))
    Am I first here? hehehe. Kenalin aku Nuna dari line 96. Biasanya adalah oknumt silen reader, tapi sekarang sedang mencoba keluar dari kebiasaan untuk mengapresiasi karya orang dengan benar (ngga penting) wkwk.
    Bagi cewek punya sahabat cowok itu terkadang lebih nyenengin, tapi resiko terbesar adalah jatuh cinta :’) apalagi sahabatnya kaya Mingyu, gimana enggak cinta coba?
    Kata-katanya lebih dari indah dan hatiku ikutan nyesek, baper, guling-guling tak keruan huhuhu.
    Nice fic, keep writing kak!😀

    Suka

    1. Haloo juga Kak Nuna (kalo di bahasa korea jadi kak kakak xD) hehe kebetulan aku bisa dipanggil Niswa dan bergaris umur 99🙂

      Wah bagus itu, karena penulis online butuh lebih banyak lagi apresiasi supaya semangat berkarya. Jadi budayakan meninggalkan jejak meski hanya like, ehe. Hihi iyaa, Mingyu kan cakep :’) Makasihh atas kunjungannya yaa❤

      Disukai oleh 1 orang

  2. INI UNYUUUU IHHHH tapi kenapa gantung-endingggggggggg/?? greged aq tuh :”))))))) btw aku suka bgt sama paragraf pertama yg soal wanita berteman dg wanita dan lelaki berteman dg lelaki /? itu real af. Btw mingyu disini sweet bgt tapi naha sia gapeka gt kalo si reyna hayang sia batal pergi aja gt eleuh eleuh :((((( ((sundanya keluar)) ini ff yang bagusss, keep writing author-nim! dan sorry ini kalo komenku nyampah bgt :’)

    Suka

    1. Hihi im sorry for gantungendingnyaa lagi hobi bikin yang beginian wkwkw. Duhh aku tertarik sunda tapi bukan orang sunda jadi teu ngarti atuh huhuhu. Hatur nuhun komennya yaa, sering-sering mampir ke tulisanku ya ehe ^^

      Suka

  3. halo niswa😀 we’ve met once di fiksi kamu buat projectnya macseoul, if im not mistaken. semoga niswa masih inget aku yaah hehe

    karena aku suka bittersweet story jadi aku enjoy banget baca ini, apalagi temanya sehari-sehari banget ‘temen tapi demen’ ahahaha😀

    keep up the good work yaaa✨✨

    Suka

    1. Haiii kak nadya🙂 Pastinya masih inget, dong, ehe. Bener kok memang di project Tulus yang dibuat MacSeoul.

      Hihi lucu juga yah istilahnya, temen tapi demen. Ya begitulah romantika hidup wkwk. Makasih udah mau mampir kakak ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s