DESTINY (5/5)

picsart_04-27-09-20-48

DESTINY
dilaribear

Starring TWICE and GOT7
Genre family;school-life;friendship;slightromance • Rating pg-13 • Duration Chaptered

Kau takdirku, aku tak pernah bisa meninggalkanmu
Kau duniaku, pusat hari-hariku

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

.


“Oke, maafkan aku, sungguh.” Ucap Jinyoung kepada para Flower Boys sambil terus berjalan beriringan melalui koridor kelas 2 menuju ke kantin. Istirahat kedua berasa panjang saat mereka bertujuh harus menyelesaikan masalah Jinyoung yang membuat keenam lainnya sangat khawatir.

“Bukan minta maaf yang kita harapkan, Jinyoung,” sahut Jaebum.

“Tapi menyelesaikan masalahmu, Hyung,” sambung Bambam.

Jinyoung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu berkata, “Apa lagi yang perlu dipermasalahkan, hm? Semuanya sudah selesai, aku sudah membaik, dan—“

“Oppa, apakah kamu dapat sms dari Ayah?”

Mereka bertujuh menoleh dan menatap Chaeyoung yang tiba-tiba menghampiri Jinyoung dengan handphone di genggaman tangan kanan. “Tidak ada, sms apa?” Jinyoung mengambil handphone-nya yang ada didalam saku celana, lalu membukanya. Mendapati sms dari ayahnya yang berisi bahwa orang tua Chaeyoung akan pulang seminggu lagi.

“Hei, lihat tuh, bocah itu cari masalah lagi,” tiba-tiba terdengar bisikan dari murid-murid yang berlalu-lalang disana. “Sebenarnya apa sih tujuan Chaeyoung mendekati para Flower Boys?” komentar yang lain, “Masih belum puas sama teror cat diloker itu, ya!”

Jinyoung menatap Chaeyoung, lalu menolehkan kepalanya, mengisyaratkan untuk menyuruh Chaeyoung pergi dari sana sebelum masalah lain datang. “Sebentar saja, Oppa, serius deh!” pinta Chaeyoung.

“Apa lagi, sih?” ketus Jinyoung, yang langsung membuat Chaeyoung menekuk bibirnya, kesal. Jinyoung menghela napas, lalu mendekatkan wajahnya pada Chaeyoung dan berbisik, “Dirumah kan bisa, Sayang.”

Chaeyoung melangkah mundur, menjauhi Jinyoung lantaran terkejut dengan kata terakhir yang terucap oleh Jinyoung. Melihatnya, keenam Flower Boys lainnya sibuk membicarakan mereka. “Bukankah Chaeyoung tampak seperti menyuruh Jinyoung untuk mengungkapkan yang sebenarnya?” tanya Mark.

“Aku lelah, Oppa.” Tutur Chaeyoung kemudian. “Apa salahnya kalau kakak dan adik berinteraksi di sekolah? Maksudku, kenapa Oppa membuat ini semakin rumit sejak awal?”

Mendengar suara Chaeyoung yang cukup keras, beberapa murid menguping tanpa mengelilingi mereka berdua. “Chae, kamu tidak mengerti rasanya…”

“Atau Oppa hanya takut dilepas dari cap ‘lelaki yang membenci semua gadis’?” sahut Chaeyoung, merasa semakin jengkel.

“Aduh, kok Chaeyoung keluar rencana, sih?” bisik Dahyun pada Tzuyu, yang sedang menguping dibalik pintu kelasnya. Tzuyu menatap Chaeyoung dan para Flower Boys dengan khawatir, lantas berkata, “Aku rasa Chaeyoung akan puas dengan apa yang akan dia lakukan.”

“Atau Oppa malu memiliki adik seperti a—“

“Cukup, Chae!” bentak Jinyoung. “Kamu ingin tahu kenapa semua ini terjadi? Kenapa aku menyembunyikan hubungan kita?” ia melangkah mendekati Chaeyoung dengan penuh amarah, sedangkan Chaeyoung hanya menggerakan kakinya untuk melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kelas 2-3.

Bahu Jinyoung tampak naik-turun menandakan ia benar-benar sedang marah. “Jin-“ Jaebum menarik tangan Youngjae yang hendak melerai Chaeyoung dan Jinyoung. Jaebum menggeleng pada Youngjae, menyuruhnya untuk diam saja.

“Karena kamu memang bukan adikku!”

Chaeyoung menundukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap Jinyoung dan tersenyum padanya, perlahan ia berkata, “Jangan bilang Oppa menyembunyikan ini karena Oppa menyukaiku?”

Mendengar tebakan itu benar, Jinyoung menghela napas, lalu menundukkan kepalanya dalam. “Maaf, aku—“

“Cukup, Oppa!” bentak Chaeyoung yang sebenarnya sedang balas dendam karena Jinyoung membentaknya dengan ucapan yang sama. Chaeyoung kembali tersenyum pahit sebelum ia melangkah pergi masuk kedalam kelasnya, tanpa peduli teman-teman sekelasnya yang langsung menatapnya terheran-heran.

Dahyun dan Tzuyu langsung menghampiri Chaeyoung yang duduk di bangkunya. “Chae, kamu baik-baik saja, kan?” tanya Dahyun. Chaeyoung menggeleng, lalu memejamkan matanya.

“Hei, hei!” seru Mina yang ikut mengelilingi Chaeyoung. “Aku tidak tahu apa-apa soal ini, eoh. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?”

Tzuyu tersenyum dan berseru, “Chaeyoung pasti mengutip kata-kataku, ya!”

Chaeyoung mengangguk dan menyebutkan kata-kata Tzuyu, “Kalau seseorang sedang marah, dengarkanlah, karena saat itulah kejujuran keluar.”

“Jadi kalian sengaja membuat Jinyoung Oppa marah?”
.
Tet tet tet tet

Bel pulang berbunyi nyaring. Seluruh murid berhamburan keluar sekolah, seperti kumpulan burung yang baru dilepaskan dari sangkarnya. “Chaeyoung pulang lebih awal, dia sedang sakit.” Kata Dahyun yang merupakan satu-satunya teman dekat yang Jinyoung tahu.

Sore itu Jinyoung tidak bisa berjalan pulang dengan santai, melainkan berlari sekencang-kencangnya. Brak. Jinyoung hampir memecahkan jendela yang terpukul oleh pintu depan yang dibukanya. “Chae!” teriak Jinyoung saat melihat Chaeyoung baru keluar dari kamar orang tuanya.

Tanpa menoleh, Chaeyoung berlari menuju lantai atas diikuti oleh Jinyoung yang mengejarnya. “Pergi!” teriak Chaeyoung yang tidak cukup cepat untuk menaiki tangga secepat Jinyoung.

“Chaeyoung, tunggu!” seru Jinyoung saat Chaeyoung lebih dulu sampai di lantai atas dan segera berlari masuk ke kamarnya. Brak, Chaeyoung menutup pintu kamarnya dengan keras kemudian memutar kunci kamarnya dari dalam. “Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu sakit?” tanya Jinyoung sambil mengetuk-etuk pintu kamar Chaeyoung.

“Aku ingin sendiri.” Ucap Chaeyoung dari dalam. Jinyoung mendesah, lalu kembali menuruni tangga untuk berganti pakaian di kamarnya.

Malam itu tidak terdengar suara apapun dari kamar Chaeyoung, suara gesekan kecil sekalipun. Jinyoung pergi ke kamar Chaeyoung dengan membawa ramyeon pedas. “Chae, aku membuatkan ramyeon pedas kesukaanmu,” Jinyoung memberikan jeda, berharap Chaeyoung menjawab. “Aku hanya bisa memasak ini untukmu, tapi kamu harus makan setidaknya satu suap biar tidak sakit lagi.”

Masih tidak ada jawaban, Jinyoung semakin merasa khawatir. “Oke, aku bisa mendengarmu mengatakan ‘aku ingin sendiri’ untuk kedua kali. Aku taruh disini, ya.” Ucapnya kemudian meletakkan mangkuk tersebut di depan pintu kamar Chaeyoung.

Jinyoung pikir dengan benar-benar membiarkan adiknya sendirian dapat membuatnya melihat wajah ceria Chaeyoung esok paginya. Tapi nihil. Chaeyoung keluar kamar pada pukul 3 pagi dan pergi mandi, memasak sarapan sendiri, dan kembali masuk ke kamarnya. Jinyoung yang selalu bangun terlambat itu hampir tidak melihat Chaeyoung sama sekali.

Hari kedua, Jinyoung kembali mengetuk pintu Chaeyoung. “Apakah aku harus melaporkan ini pada ayah dan ibu?” tanyanya. Berharap dengan sedikit menggoda Chaeyoung bisa membuat gadis itu membuka kunci kamarnya. “Um, baiklah. Aku bisa mendengarmu menolak untuk kulaporkan pada ayah dan ibu.” Ucap Jinyoung asal.

Hari berikutnya Jinyoung tidak mengetuk pintu kamar Chaeyoung seharian. Mungkin mulai lelah harus mengetuk dan berbicara sendiri di depan pintu kamar Chaeyoung. Paginya, tepat di hari akhir pekan, Jinyoung kembali menaiki tangga dan berdiri di depan kamar Chaeyoung. “Chae, apa kamu sudah bangun?” tanyanya, meski kemungkinan kecil mendengar jawaban dari Chaeyoung.

“Mm.”

Jinyoung mengerjapkan matanya saat mendengar jawaban tersebut. Alih-alih tersenyum senang, Jinyoung menundukkan kepalanya. “Aku dikeluarkan dari Flower Boys, karena aku membohongi mereka,” ia berujar. “Aku hanya memiliki mereka sebagai temanku, jadi aku hanya tidak ingin kehilangan mereka. Tapi sekarang, aku tidak punya siapa-siapa lagi—“

“—selain kamu, Chaeyoung. Aku yang lahir-lahir sudah di Panti Asuhan ini, sampai detik ini masih merasa bahwa aku dilahirkan untuk menjaga dan menyayangimu seperti seorang kakak. Aku tahu sekarang aku gagal, dan membuatmu membenciku,”

Bugh. Jinyoung mendongak saat mendengar suara gaduh dari dalam kamar. Tidak peduli, Jinyoung kembali melanjutkan, “Ayah dan ibu memindahkanmu ke sekolahku karena berharap aku bisa menjagamu lebih lagi, karena mereka akan bekerja jauh lebih sibuk. Aku seharusnya menjagamu saat di sekolah juga, tapi aku malah bersikap egois dengan mencampakkanmu…”

Duk duk, Jinyoung mendengar langkah kaki, mendekati pintu. Masih tidak acuh, Jinyoung melanjutkan, “Jika aku bisa memiliki kesempatan kedua, akan aku buang jauh-jauh perasaan sukaku padamu, dan kembali hidup seperti seharus—“

Klek, klek. Suara kunci yang diputar dua kali membuat Jinyoung berhenti berbicara. Kemudian kenop pintu kamar tersebut bergerak turun, krek. “Jangan…” suara serak Chaeyoung muncul bersama dengan sosoknya yang berantakan dengan kepala yang tertunduk.

“Um, aku akan mengambilkanmu minum,” ucap Jinyoung seraya beranjak dari sana, “Pasti sangat haus bagi—“

“Aku,” potong Chaeyoung sebelum Jinyoung melangkahkan kakinya menuruni tangga. “Aku memberimu kesempatan untuk berbalik badan. Satu, dua,” Jinyoung berbalik badan dan berlari merengkuh Chaeyoung kedalam pelukannya. Tampak senyum tipis pada bibir Chaeyoung, sedangkan kedua matanya terpejam menikmati pelukan yang ia rindukan.

Jinyoung membelai rambut pendek Chaeyoung seraya menghela napas lega, “Aku akan membuang perasaanku dan menggantinya dengan—“

“Oppa,” memotong lagi, Chaeyoung bermaksud untuk mengucapkan, “Ayo pacaran.”

Spontan mendorong tubuh Chaeyoung dan menatapnya dengan tatapan tak percaya. Jinyoung membuka mulutnya, “Ayo kita kejutkan ayah dan ibu saat pulang besok!” seru Chaeyoung, kembali mengambil kesempatan Jinyoung untuk berbicara.

“Hei, aku bahkan belum mengatakan apapun.” Chaeyoung tertawa kecil melihat Jinyoung yang terlihat putus asa. “Dengar ya, aku dilahirkan untuk menjagamu, Chaeyoung. Menjaga dalam arti sebagai kakak. Jadi…” Jinyoung menghentikan ucapannya saat sadar Chaeyoung sedang memandanginya dengan muka sedih. “Jadi…”

“Jadi apa?” tanya Chaeyoung yang masih mempertahankan kekuatan memelasnya.

Jinyoung berdehem, lalu berkata, “Jadi ayo pacaran!”
.
Hari sekolah pertama Chaeyoung setelah membolos diri selama lima hari cukup merepotkan untuk beberapa hari kedepan. Dimana teman satu kelasnya melontarkan ribuan pertanyaan bahkan mengalahkan paparazzi, tak terkecuali Dahyun, Mina, dan Tzuyu yang paling tidak bisa percaya dengan berita bahwa Chaeyoung dan Jinyoung berpacaran.

Beep. Handphone Chaeyoung bergetar, “Aku pergi dulu, ya.”

“Kemana?” tanya teman-teman Chaeyoung hampir bersamaan.

Chaeyoung terkekeh, “Ada janji!” serunya cepat dan langsung berlari keluar kelas dan—Bruk. Sebuah tangan ramping terulur untuk Chaeyoung, ia mendongak, “Ka-kalian?”

“Maaf, aku sengaja, hihi…” kekeh Nayeon setelah membantu Chaeyoung berdiri. Gadis berambut hitam tersebut melirik Sana yang sedaritadi mengulas senyum manis. “Sana,” bisiknya, seperti sedang merencanakan sesuatu.

Sana tersentak, lalu tertawa kecil, “Oh, itu, anu,” gagapnya tiba-tiba. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum, “Kita mau minta maaf padamu karena sudah berbuat jahat, meskipun kamu sangat sulit memaafkan kami…”

“Em, maksudnya adalah,” Nayeon segera mengambil alih ucapan Sana yang keluar dari rencana mereka berdua. “Kami tidak akan sudi merebut lelaki pembohong seperti Jinyoung lagi, jadi—” Nayeon memotong kalimatnya sendiri saat melihat Jinyoung sedang berlari dari arah yang berlawanan menghampiri mereka.

“Nayeon Unni, ayo pergi.” Bisik Sana.

“Nayeon!” teriak Jinyoung sebelum Nayeon dan Sana beranjak dari sana. “Apa maksudnya ini?” tanyanya sembari menunjukkan handphone-nya yang memperlihatkan foto Nayeon dan Jaebum bersama.

“Itu… uh…” gumam Nayeon.

Sana mengangkat tangannya kemudian berkata, “Para Flower Boys punya kekasih mulai hari ini, Jinyoung-ah. Dan Nayeon adalah salah satu—“ buru-buru Nayeon membungkam mulut Sana. Cengiran lah yang Jinyoung dapat setelah itu.

“Oppa, aku rasa teman-temanmu itu akan kembali lagi.” Sahut Chaeyoung.

-end-

A/N: butuh saran dan komentar, itu aja xD

5 thoughts on “DESTINY (5/5)”

  1. Halo..
    Aku pembaca baru dan maaf langsung Kasih riview di chapter ini. Aku suka sama jalan ceritanya, apa lagi ceritanya ini school life. Terus suka juga sama karakter Jinyoung di sini, Jinyoungnya keliatan dewasa. Kata-kata yg kamu pakai juga gak bertele-tele jadi lebih enak dibaca. Tapi kalau boleh aku Kasih sedikit masukan, akan lebih Bagus lagi kalau ceritanya lebih diperpanjang lagi jadi kesannya gak terlalu terburu-buru. Dan kalau boleh dibuat sequelnya yg nyeritain anggota flower boys sama pacar mereka. Ah maaf kalau aku terlalu menggurui, aku cuma Kasih saran aja dan terserah kamu mau menerima atau tidak. Tapi, aku beneran suka sama ceritanya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Halo kak aprilia, makasih ya udah mampir dan berkomentar di ff buatanku ^^
      Aku gak nyangka kalo ada yang bilang ff ini kurang panjang loh xD masukannya diterima, ya! kapan-kapan aku bakal bikin sequel GOT7 yang lebih panjang dan seru~
      Makasih banyak kak, masukan dan sarannya sangat membantu dan bikin aku seneng, loh!

      Suka

      1. Aku bilang kurang panjang, soalnya baru juga baca tapi udah end aja.. Hehe
        Coba kalau kamu ceritain lebih rinci lagi soal keluarga Jinyoung dan Chaeyoung atau soal kenapa para flower boys gak suka sama cewek pasti ceritanya bakal lebih greget lagi. Makasih juga karena udah nerima sarannya ^^

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s