(Un)fortunate

#1 - Copy

(Un)fortunate

Kim Taehyung (V) of BTS & OC

PG-13

Vignette

Disclaimer: I own nothing but storyline.

Trailer: Kang Serin sial, atau kurang beruntung, karena melewatkan bus terakhirnya. Tapi, di saat ada laki-laki ganteng yang menawarkan tumpangan, apa ia masih sial? Toh, ia juga perempuan.

Malam ini benar-benar dingin. Angin musim gugur yang mungkin sudah mulai membawa masuk angin musim dingin berhembus menembus serat-serat halus kain sweater yang dikenakan Serin—gadis itu, yang malam-malam begini sedang duduk merapatkan tubuhnya di halte bus yang kosong dan begitu lengang. Sudah larut malam, itulah penyebabnya. Serin hanya bisa berharap bahwa ia tidak melewatkan bus terakhir. Tapi, ia cukup yakin ia tidak melewatkannya.

Sesekali, pandangannya ke ujung jalan aspal gelap untuk selalu mengharapkan bus kota warna hijau datang beralih pada mobil yang lewat. Kedua bola matanya akan mengikuti kendaraan roda empat itu hingga menghilang, lalu Serin akan kembali mengalihkan pandangannya pada ujung jalan yang tadi, mengharapkan bus agar segera datang.

“Brrr.”  Ia menggigil seraya memeluk tubuhnya sendiri. Sebenarnya malam ini tidaklah begitu dingin dibandingkan cuaca di bulan Januari nanti, di mana Sungai Han saja sampai dibuat membeku. Tapi Serin memang tidak pernah suka dingin. Jadi, level dingin yang seperti ini sudah sangat dingin baginya. Entahlah bagaimana selama 21 tahun belakangan ini ia bisa bertahan hidup melawan musim dingin yang sudah-sudah.

“Hallo?”

Serin dikagetkan dengan suara bariton yang terdengar jelas di pendengarannya. Ia menoleh ke sumber suara, yakni menghadap ke sebelah kanan, dan mendapati ada seorang pemuda di sana yang sedang menerima telepon.

“Iya, Adik. Sebentar lagi Kak Taehyung pulang. Tadi Kakak ketiduran di perpustakaan. Tolong Adik bangunkan Papa ya dan berikan handphone-nya pada Papa. Kakak ingin bicara. Karena Kakak pikir sudah tak ada bus lagi.”

Deg. Bukan bermaksud menguping, namun karena memang tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain Serin dan pemuda bermasker hitam yang hanya tampak figur sampingnya itu, Serin jadi merasa takut. Tidak ada bus lagi?

“Bus terakhir mungkin sudah datang beberapa menit lebih awal, Pa. Bisa Papa jemput saya? Baik. Saya tunggu di halte dekat perpustakaan.”

Pip.

Mata Serin membelalak. Alasannya tentulah karena usai pemuda yang mungkin namanya Taehyung itu menutup panggilan teleponnya, ia menoleh ke arah Serin dan menatapnya. Serin juga sedang memandanginya dengan lekat soalnya. Jadi, pandangan mereka sempat bertumbuk beberapa sekon sebelum akhirnya Serin memilih untuk menghindari kontak mata dengan orang asing itu.

Alis tebal, hidung mancung, rambut kecokelatan yang tampak sedikit dari topi hitamnya, serta masker hitam. Itulah sekilas visual yang dapat Serin ingat dari lelaki tersebut. Kelihatannya cukup ganteng, tapi tidak bisa digaransi, siapa yang tahu apa yang terjadi kalau dia membuka maskernya.

Ah…pikirannya terlalu mengada-ada. Mungkin karena ia cukup kaget tadi. Ini kejadian yang biasa terjadi. Ingin menyimak pembicaraan orang lain karena menyangkut situasi yang berhubungan dengan dirimu, namun orang itu justru menyadari kehadiranmu yang ingin tahu dengan urusannya.

“Kau menunggu bus terakhir?”

Lagi-lagi, Serin dapat mendengar suara bernada bariton yang sama. Tak perlu menebak-nebak, pastilah dari lelaki tadi. Kalau bukan dari dia, bulu kuduknya mungkin akan meremang.

“Iya,” jawab Serin patuh. “Tapi katanya sudah lewat ya?” tanya Serin, sekaligus menyiratkan bahwa ia tadi benar mendengar pembicaraan laki-laki itu ditelepon.

“Kurasa,” jawabnya. “Habis sudah jam segini dan tak lewat juga. Mungkin datangnya sedikit lebih awal tadi jadi ketinggalan begini.”

“Oh.” Serin mengangguk, lalu sedikit mengulas senyum yang mungkin maksudnya ingin memberi kesan ramah. “Kalau begitu aku tidak beruntung.”

“Jadi kau pulang bagaimana?” tanya pemuda itu lagi.

“Aku akan menunggu 5 menit lagi. Kalau tetap tidak ada, aku akan mulai jalan kaki.”

“Sendiri? Apa tidak takut?”

“Tidak ada pilihan lain kan?”

“Katanya sekarang sedang marak perampokan. Bahkan ada korban perempuan yang juga diperkosa dan dibunuh,” kata lelaki itu menimpali. “Well, ada juga sih yang diculik dan menjadi korban perdagangan manusia.”

Buruk. Nyali Serin menciut mendengarnya. Sejak ia melangkahkan kaki ke luar dari perpustakaan menuju halte, Serin sudah bertekad untuk berani. Termasuk berbicara kepada lelaki ini. Well, siapa yang tahu dia itu jahat atau tidak, kan?

“Tapi…daerah ini cukup aman, kan?” ujarnya dengan menutup-nutupi nada bicaranya agar kegelisahannya tidak terdengar. Sekaligus meyakinkan dirinya dengan pertanyaan yang akan dianggap pernyataan olehnya bila diiyakan oleh sang lawan bicara.

“Siapa yang tahu. Tindakan kriminal bisa dilakukan di mana saja…dan oleh siapa saja kan?”

Oh, dan jawaban berupa tanya retoris itu sama sekali tidak membantu.

“Ah…jangan begitu. Jangan menakutiku.”

“Tidak kok.”

“Jadi bagaimana dong?”

“Mau pulang bareng?” tawar lelaki itu, seraya melempar pandangan pada Serin.

“Oh?”

“Ayahku akan datang menjemputku. Papa pasti mau mengantarmu pulang dulu.”

“Tidak, tidak usah merepotkan.”

“Memang rumahmu di mana?”

“Sekitar Itaewon.”

“Oh, tidak terlalu jauh dari rumahku. Oh ya, aku Taehyung.” Lelaki itu lalu duduk bergeser dan mengulurkan tangannya yang lengannya ditutupi oleh baju abu-abu berlengan panjang. Serin pun menjabatnya, dan ia merasakan temperatur yang lebih tinggi dari pada miliknya.

“Aku Serin, Kang Serin,” jawab perempuan itu. “Tapi…apa benar tidak merepotkan?” tanyanya lagi untuk memastikan atau menanti penegasan.

“Tentu saja. Papaku orang yang baik. Ia akan senang hati bila dapat membantu orang.”

“Terima kasih, Taehyung-ssi.” Serin mengulas senyum kembali. Kali ini senyum senang, yang bisa terukir dengan tulus karena merasakan kebaikan hati dari orang lain.

“Aku coba hubungi Papa dulu ya.” Pemuda itu pun, yang mungkin tidak jauh berbeda usianya dengan Serin, mengeluarkan ponselnya, menyentuh-nyentuh sesuatu lalu membuat panggilan. “Papa di mana?”

“…”

“Saya menunggu di halte.”

“…”

“Ya benar. Saya memakai masker dan ada seorang perempuan di sini. Kang Serin namanya.”

“…”

“Oh, saya bisa lihat mobil Papa.”

Pip. Hanya selang beberapa detik, mobil hitam jip sudah datang di depan mereka.

“Ayo,” ajak Taehyung.

Dengan sungkan Serin mengikuti ajakan tersebut. Bagaimana pun, ia berterima kasih karena tidak perlu jalan jauh tengah malam begini, serta menjadi lebih aman karena diantar dengan mobil. Ia masuk lebih dahulu setelah Taehyung membukakan pintu mobilnya. Berikutnya menyusul Taehyung. Setelah semua masuk, pintu ditutup dan dikunci.

“Terima kasih sekali, Paman. Aku Kang Serin, maaf bila merepotkan Paman. Karena sudah malam dan tidak ada bus,” ujar Serin ke pada sosok di balik kemudi yang tidak kelihatan karena memang agak gelap dan lampu di dalam mobil tak menyala.

“Jangan panggil Paman, aku tidak setua itu kok.” Lelaki dibalik kemudi itu menoleh ke belakang seraya menyunggingkan senyumannya usai menginjak pedal gas dan melaju, membelah malam yang sunyi dan dingin.

Tapi entah kenapa, bulu kuduk Serin meremang, dan ia meneguk salivanya tatkala menyadari bahwa orang dibalik kemudi itu terlalu muda, bahkan mungkin usianya tidak jauh beda dengan orang yang mengaku bernama Taehyung.

“Dia bukan Papaku,” kata Taehyung.  Jantung Serin bertabuh begitu cepat dan dalam sekejap mukanya pucat pasi. Aliran darahnya rasanya seperti mau berhenti.  “Kami ini…patner,” ujarnya lagi, sembari tangannya sibuk dengan sesuatu.

“Ah. Bagi orang awam sepertimu, sebut saja kami…penjahat.”

Seiring dengan itu, Serin dapat merasakan pemuda di sebelahnya yang memiliki visual yang tampan dengan bermasker itu mengunci tubuhnya lalu menaruh sapu tangan di hidungnya. Tidak kuat menahan napas, gadis itu menghirupnya dan kesadarannya akhirnya lenyap.

Kejahatan bisa dilakukan di mana pun…dan oleh siapa pun, kan?

fin.

6 thoughts on “(Un)fortunate”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s