[Movie Festival 4] The Circus of Misery by kihyukha

the circus of misery

The Circus of Misery

/ black ♣ black ♣ black /

Jung Kiseok [Simon D] & Jung Jaewon [ONE]

AU, Dark, Family, Life, Psychology │ PG-15

.

.

.

.

“Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima belas tahun lalu.”

++

the circus of misery.

“… ya? Mau beli apa?”

Ada jeda kira-kira lima detik sebelum dan setelah pemuda penjaga toko itu menjawab. Pria abnormal yang tiba-tiba mendatangi toko buku kecil tempat ia bekerja paruh waktu itu tersenyum, dan hanya tersenyum, hingga lima detik persis selayaknya yang diberikan si pemuda penjaga toko untuknya.

“Kau tidak marah? Atau menangis?”

“Heh?”

Mata si penjaga toko mengerjap-ngerjap. Kalau bukan orang gila, mungkin presenter acara televisi, pikirnya, seraya menengak-nengok kecil mencari kamera, tetapi hasilnya nihil. Kelewatan juga sih kalau acara televisi menyiarkan kalimat sensitif macam ini—bisa-bisa diprotes khalayak Korea yang senang mencaci.

Si penjaga toko mengeluarkan uang recehan dari sakunya, siapa tahu orang di depannya ini sebenarnya mau memalak baik-baik. Sejurus ia mengumpat, baru sadar uang receh yang ia miliki hanya tinggal sekeping, dan dompetnya nyaris gersang, dan malang betul nasibnya dihampiri orang gila di hari-hari begini.

“Tunggu, kenapa kaukeluarkan uang?” tanya pengunjung aneh itu. Si penjaga toko menjengitkan alis sembari memandang lawan bicaranya, kali ini lekat-lekat—penampilan pria itu jelas tidak kelihatan macam orang miskin. Pakaiannya kelihatan mahal dengan jubah hitam. Sepatunya juga, si penjaga toko yakin harganya selangit ketujuh.

“Mau buku apa, Pak?” tanya si penjaga toko, baru sadar posisinya masih agak kurang sopan dengan buku nyaris di depan wajahnya, sehingga ia menurunkan buku di tangannya itu ke paha, dekat dengan kucing kecil manis berbulu putih yang mendengkur di pangkuannya. “Kalau Anda mau buku psikologi, di sudut situ ada beberapa.”

“Jangan panggil pak.”

“Ya, Tuan.”

“Lebih baik. Nah, kau penjaga toko ini, kan? Suka baca buku?”

“Lumayan.”

“Namaku Jung Kiseok.”

“Oke.”

Pria itu mengernyitkan kening. “Bisakah kau bereaksi lebih ekspresif lagi? Siapa namamu?”

“Apakah itu penting?”

“Apakah kau lebih memilih untuk dipanggil dengan Tuan Kasir? Atau Pemuda Pendiam yang Tak Sopan? Oh, tunggu, itu terlalu panjang.” Jung Kiseok merepet sendiri seraya menggonta-ganti ekspresi, sementara si penjaga toko mengawasinya dalam diam. Sekonyong, Jung Kiseok menepukkan tangannya. “Ah! Sudah kuputuskan, kupanggil kau Si Diam!”

Si penjaga toko berpikir panggilan jelek itu tidak terlalu berbeda dengan yang di awal, dan ide itu adalah ide teridiot yang didengarnya hari ini, tetapi ia memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya. Kelihatannya orang di hadapannya ini bukan orang yang bisa diganggu gugat jika telah memutuskan sesuatu. Ia pula tak mau berdebat dengan orang yang merepotkan.

“Ya, sudah, silakan saja.”

++

Nama si penjaga toko itu adalah Jung Jaewon.

Jung Jaewon bekerja di toko buku lama yang jarang dapat pengunjung ini sejak tiga bulan lalu, setelah statusnya resmi menjadi mahasiswa drop out. Kegiatannya sebelum  betul-betul bekerja hanyalah membaca buku, makan keripik, dan jalan-jalan mencari kucing liar untuk diajak main. Penampilannya sangatlah membuat gerah, dengan jubah belel panjang bertudung warna hitam, baju dan celana jeans hitam, serta bot cokelat tua yang diberikan oleh seorang tukang sepatu karena kasihan melihat sneakers-nya yang sudah dalam kerusakan memprihatinkan. Kendati wajahnya rupawan, tetapi ia tak acuh untuk memamerkannya, dan gadis-gadis tak ada yang mau mendekatinya lantaran di kampus ia terkenal sebagai orang aneh yang jalannya linglung macam mabuk setiap saat dan hanya kelihatan bersemangat jika menemukan kucing untuk dielus-elus. Di kelas, ia diam pasif, hanya bersuara kalau dipanggil absen, dan langsung pulang tanpa ikut kegiatan apa pun atau bersosialisasi dengan siapa pun.

Jaewon punya dunianya sendiri, orang-orang bilang, dan akhirnya kehadirannya mulai diabaikan, dan ia hidup dalam bayang-bayang semesta kelabu, tembus pandang di mata insan lain. Karena itu jugalah ia tak pernah diajak belajar bersama atau mengerjakan tugas secara berkelompok—orang-orang malas mengajaknya yang tak punya ponsel untuk dihubungi, bahkan sedikit yang ingat eksistensi Jung Jaewon di kelas mereka, sehingga tahu-tahu saja nilai rata-ratanya sudah buruk dan ia dinyatakan drop out. Dosen-dosen sangat menyayangkannya, karena pada nilai individu, nilai Jaewon tak pernah selain A, tetapi jika dipanggil untuk diajak bicara soal sikapnya yang seakan antisosial itu, Jaewon selalu menghilang tak ubahnya hantu.

Tak ada yang mau pusing-pusing mengurusmu di universitas. Jaewon tak protes pula, maka terjadilah semua itu dan menganggurlah ia.

Astaga, bagaimana sih orang tuanya mendidiknya?

Tetapi bahkan pihak universitas tak tahu banyak mengenai Jung Jaewon, maupun keluarganya.

Dia tak mau terikat dengan apa pun, kata seseorang dari mereka.

Pernyataan itu sesungguhnya salah bagi orang yang kenal Jaewon, tetapi tak ada yang mengenalnya di kampus, jadi hal itu dianggap benar oleh semua orang.

++

Jaewon sebetulnya terikat kepada satu hal.

Jaewon selalu bersama buku. Beberapa orang cinta membaca buku, beberapa orang menjadi kolektor buku, tetapi buku dan tempat di mana benda itu berkumpul adalah sesuatu yang lebih mendalam bagi Jaewon. Menurutnya, buku dan bentuk tulisan lainnya adalah cara manusia berkomunikasi dengan cara paling halus dan elegan, tanpa menuntut balasan segera, sehingga memberi waktu untuk Jaewon berkontemplasi dan berdiskusi dengan kepalanya sendiri tanpa interupsi. Jelas ia tak suka diburu-buru.

Buku adalah media untuk jatuh cinta diam-diam kepada manusia yang tak pernah kita lihat. Jaewon suka gagasan itu, jatuh cinta pada orang asing yang tak pernah ia temui, tanpa perlu bertemu dan bertegur sapa. Entah mengapa ia bisa merasa cukup akan hal itu, tidak mendambakan interaksi langsung dengan manusia.

Sentuhan, kasih sayang.

Tidak.

Aku tidak butuh itu.

++

Di sinilah toko buku tua yang selalu merengkuhnya bersama bacaannya, dimiliki oleh seorang pria tua yang memelihara lima kucing, dua dewasa dan tiga masih cilik. Pria tua tersebut gemar berpetualang entah ke mana dan dengan sukacita menitipkan toko beserta kucing-kucingnya kepada Jaewon, yang sudah ia anggap sebagai asisten dan cucunya sendiri. Toko buku itu dinamakan Toko Buku Haengbok, kebahagiaan, yang sebenarnya agak bodoh buat Jaewon, tetapi ia tidak menyampaikannya kepada si kakek lantaran terlepas dari namanya, semua fasilitas di toko itu memuaskan Jaewon—sofa-sofa tuanya, bau kayu dan kertas, kehangatan cahaya yang menerobos jendela besar dan langit-langit toko yang tinggi sehingga membuat nuansa luas, lengkap dengan lapisan kaca sehingga kita bisa melihat cakrawala luas di luar sana, tak lupa kopi dan cokelat gratis di malam-malam dingin dan hari-hari berhujan, juga kucing-kucing manis untuk melepas stres tentunya.

Buku-buku di sini kebanyakan buku-buku tua dan sudah lama tidak dicetak lagi, koleksi-koleksi pribadi kakek itu, dan beberapa buku baru dan populer yang dimasukkan oleh Jaewon untuk mendukung finansial toko. Meski ia kelihatannya hanya sibuk dengan hal-hal yang disukainya, Jaewon sesungguhnya tahu apa yang sedang disukai orang-orang sekarang, hanya saja ia tidak menemukan kesenangan untuk mendiskusikan itu dengan orang lain.

Biasanya yang bisa sampai mengunjungi Haengbok hanya orang-orang yang sangat getol mencari toko buku indie, kolektor buku lama, atau pencinta kucing, atau paling-paling yang acap kali menghampiri hanyalah teman-teman si kakek, yang datang bukan untuk membaca buku melainkan duduk-duduk di lantai dan menumpang bermain baduk.

Sekarang, masih ingat pria kaya aneh yang muncul di awal? Ya, ia datang lagi keesokan harinya ke Haengbok, duduk di sofa dengan nyaman seolah sofa itu miliknya dan menoleh ke arah Jaewon yang berjarak lima meter darinya, duduk di meja kasir ditemani buku dan dua ekor kucing kecil.

“Baca ‘Sirkus Samsara’?” tanya Jung Kiseok sambil bersenandung.

“Apa?” Jaewon mendongak.

“Kubilang, baca ‘Sirkus Samsara’?”

“Buku yang sempat terkenal dua tahun lalu dengan penulis yang namanya kedengaran seperti artis hip-hop?”

Jung Kiseok menyemburkan tawa heboh. “Ya! Ya! Itu. Pernah?”

“Ya. Direkomendasikan pemilik toko ini lebih tepatnya.”

“Kalau begitu, semestinya kau tahu dialog yang kukatakan saat pertama aku datang kemarin! Dialog itu ada si ‘Sirkus Samsara’.”

“Tidak ada.”

“Yakin?”

“Ya.”

Bagaimanapun, Jaewon bisa mendapat nilai A bukan karena modal hoki. Ia mampu mengingat apa pun, termasuk setiap kata pada buku yang dibacanya. Ia lebih dari yakin kalau kalimat ‘Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima tahun lalu.’ tak ada di dalam buku ‘Sirkus Samsara’.

“Tapi kalimat itu ada.”

“Tidak ada.”

“Tentu saja ada! Dia ada di buku ‘Sirkus Samsara’ edisi kedua!”

“Edisi kedua belum terbit.”

“Sebentar lagi akan terbit!”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku penulisnya!”

++

Sirkus Samsara ditulis oleh seseorang bernama pena Simon Dominic. Jaewon pikir, penulis macam apa yang menamai dirinya sendiri seperti rapper hip-hop itu—tebakan paling warasnya adalah orang ini menggunakan nama baptisnya, yang ternyata memang betul. Baguslah cerita di balik itu tidak terlalu menyebalkan.

Sirkus Samsara sendiri adalah buku dengan cara bercerita yang sangat abstrak, tetapi punya satu titik yang sama: menarik pembaca untuk berpikir, terkesima, dan terkejut dengan hal-hal yang ada di dalamnya, kemudian menarik semua titik itu menuju sebuah konklusi yang mempersatukan kesemuanya di akhir, selayaknya sebuah pertunjukan sirkus. Samsara diartikan sebagai sengsara—dan, ya, Jaewon harus mengakui bahwa isi buku itu penuh dengan orang-orang yang sengsara. Beberapa review pembaca yang dilihat Jaewon di situs review buku menyebutkan bahwa buku itu ‘terlalu mengganggu’, tetapi Jaewon pikir justru jika seseorang merasa terganggu dengan isi sebuah buku, apalagi buku yang memang menginginkan pembacanya untuk merasa begitu, di situlah buku itu dinyatakan berhasil.

“Jadi, bagaimana menurutmu bukuku yang pertama?”

Jaewon mendengus. “Biasa saja.”

“Maksudmu dengan biasa saja?”

Jaewon tidak menjawab, lanjut menggaruk leher kucing di atas pangkuannya, membiarkan Jung Kiseok terbingung-bingung lantas melakukan apa pun yang ia mau.

++

Jung Kiseok bertandang kembali, hari ini membawa sandwich untuk dirinya dan Jaewon.

“Makanlah!” perintahnya.

“Tidak menerima makanan dari orang asing.”

Tetapi Jung Kiseok mengabaikannya, mengambil sebuah buku komedi di rak dan tertawa-tawa sampai ia tersedak daging sandwich-nya.

“Orang aneh ini,” bisik Jaewon kepada kucing kecil di pangkuannya, yang balas menatapnya dengan kedua mata bulat nan lucu, “entah mengapa, aku ingin dia segera menghilang. Kau setuju, kan?”

Kucing itu mengeong.

Jaewon anggap suara tersebut cukup sebagai jawaban.

++

Pada sore hari ketika Jaewon memberi kucing-kucing minum, mengatur makanan, dan membersihkan kotak buang air mereka, salah satu kucingnya hilang. Ia mencari kucing itu sampai pintu depan dan menemukan si kucing tengah bermain dengan Jung Kiseok.

“Hai!” sapa pria itu.

Jaewon diam saja, menatap dengan mata menyipit tidak suka. Sudah dua minggu orang ini selalu saja mampir. Karena sudah sore, dan biasanya si pria muncul di pagi hari, jadi Jaewon kira ia takkan menampakkan batang hidungnya. Nyatanya Jaewon salah.

“Dia manis sekali!”

“Tentu saja.”

“Lihat bulunya! Bersih! Lembut!”

“Ya.”

“Untuk mereka, kau cukup telaten, ya!”

Jaewon, terlukis gamblang pada wajahnya, kesal mengapa orang ini sangat kurang kerjaan.

“Tolong carilah pekerjaan,” tegurnya.

Jung Kiseok tampak tak terima. “Aku penulis! Tempat ini memberiku banyak inspirasi! Buku-bukunya! Kucingnya!”

“Ya.”

Jaewon duduk kembali di mejanya sambil membawa anak kucing yang tadi bermain dengan Jung Kiseok, menyelamatkannya dari tangan-tangan bernoda, sementara Jung Kiseok, tertawa sekaligus kaget melihat sikap over-protective Jaewon terhadap kucing, memilih berjalan berkeliling ruangan. Botnya mengeluarkan bunyi tak tuk tak tuk seiring ia melangkah, trep ketika ia berhenti, dan srek kala tumitnya berputar menggesek lantai kayu. Telinga Jaewon, entah bagaimana, tidak seperti biasanya, ketika bahkan suara tawa para kakek yang bermain baduk sama sekali tidak mengganggu konsentrasinya, merasa terusik dengan semua itu.

Barangkali karena ganjalan di hatinya pun terus-menerus mengusiknya.

“Oi, Simon.”

“Oh?” Jung Kiseok menimpali dari seberang ruangan. Sosoknya terhalang sebuah rak. “Kau akhirnya memanggil namaku juga, Orang Diam!”

Rasanya bukan itu panggilanku yang orang ini putuskan kemarin-kemarin, pikir Jaewon, tetapi ia tidak bernafsu mempermasalahkannya.

“Mengapa kau menulis tentang itu?”

“Tentang apa?”

“Tentang yang kautulis di Sirkus Samsara. Pria yang mengorbankan kakak laki-laki, istri kakak laki-lakinya, dan anak mereka untuk ritual, lalu menikahi jin seiring dengan jiwa dan hatinya yang membusuk. Di lain sisi, ternyata keponakannya lolos dari pengorbanan, dan ia melakukan perjalanan untuk membalas dendam kepada pamannya, meski sebetulnya ia tidak tahu dengan cara apa pamannya membunuh kedua orang tuanya—ia tidak tahu akan ritual pengorbanan itu. Kutebak dari kalimat yang kaubocorkan kepadaku, ia akhirnya bertemu dengan pamannya?”

“Ck, ck.” Jung Kiseok berjalan ke bagian depan toko sambil menggoyang-goyangkan jarinya. “Apakah kau sedang mencoba melakukan mind game? Supaya aku membocorkan cerita selanjutnya kepadamu?”

Jaewon mengernyit. “Tidak.”

“Ha! Sudah kuduga. Kau tertarik pada tulisanku!”

“Aku tertarik pada tulisan secara umum.” Jaewon menurunkan bukunya dari pandangan, meneruskan menggaruk leher kucing di pangkuannya. “Yang lebih penting, buku apa yang kaucari sebenarnya? Kalau tidak ketemu di sini, cari saja di tempat lain, masih banyak toko buku tua lainnya.”

“Aku merasa diusir.”

“Memang. Sudahi urusanmu dan pergi dari sini.”

“Nak, bukan begitu tata krama menjadi penjaga toko, kau bisa membuat pelangganmu kabur.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Jung Kiseok bergeming dengan ekspresi menahan tawa.

“Ha! Baiklah! Kuberitahukan kepadamu!” Jung Kiseok melempar tubuhnya duduk di sofa. “Aku sedang mencari respons, anak muda.”

“Respons? Kau petugas survei?”

“Bukan, aku penulis. Nah, aku sedang mencari respons terhadap kalimat yang kukatakan kemarin. Kau tahu bahwa One adalah nama karakter utamaku,” ujar Jung Kiseok perlahan-lahan, “kau tahu, One masih orang asing bagiku. Tentu, aku paham sekali mengapa dia ingin membalas dendam kepada pamannya. Dia cerdas, penuh kehati-hatian, dan mudah curiga. Emosinya dalam, tetapi terpendam dengan rapi. Aku tak tahu bagaimana cara ia melakukannya….”

Selalu menarik bagi Jaewon, seorang penulis membicarakan karakter fiksinya seolah-olah karakter itu nyata. Bisa dikatakan narsisme, tetapi juga bukan. Barangkali….

Itu proses sang penulis mengenali sisi-sisi dirinya yang lain.

Jadi, apakah ada sisi seperti One pada diri Jung Kiseok?

Jaewon menghela napas memikirkan itu. Kadang-kadang kita bisa tidak mengenali diri kita sendiri.

Tapi, tidak. Jaewon melirik pria di hadapannya. Mata itu, dan gerik kecilnya yang bersemangat, persis seperti orang yang sekelas dengannya di universitas dulu, bertanya kepadanya yang sedang mengusap-usap kepala seekor kucing dengan kemilau di mata—Boleh aku main dengannya juga?—dan setelah Jaewon mendiaminya lebih dari semenit, ia tak pernah lagi datang.

Orang ini hanya pria dengan imajinasi liar, Jaewon menyimpulkan. Ia hanya belum mengenali karakternya dengan baik. Seperti manusia penasaran.

Tetapi tentu saja orang ini berbeda. Orang ini harus tahu dan mengerti karakternya, tidak hanya asal tahu seperti manusia-manusia lainnya, karena ia mesti mampu menggerakkan mereka di dalam cerita yang ditulisnya.

Jung Kiseok melanjutkan, “Pokoknya, ada satu momen di mana seseorang mengatakan hal itu kepada One. Tetapi aku bingung akan seperti apa reaksi One. Apakah dia akan bingung? Apakah dia akan sedih? Apakah dia marah? Aku tak tahu. Karena itu aku mencoba bertanya hal ini kepada orang-orang.”

“Kau berjalan-jalan dan menanyakan hal itu kepada setiap orang?”

“Tidak, tentu saja aku pilih-pilih. Orang akan mencurigaiku dan membawaku ke pos polisi dengan dialog macam itu, tahu? Kebetulan aku melewati daerah ini dan melihat toko buku tua yang bagus, jadi aku masuk dan tidak sengaja menemukanmu. Aku terkejut, kau punya aura seorang One!”

“Karena itu kau bertanya kepadaku.”

“Ya, karena itu! Nah, bagaimana reaksimu?”

“Reaksi? Kau sudah melihatnya kemarin.”

“Ah, tapi itu tidak cukup bagiku! ‘Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima belas tahun lalu.’. Nah, bagaimana?”

Jaewon tidak terkejut ataupun bingung. “Itu tidak memberi efek apa-apa padaku.”

“Tidak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, posisikan dirimu sebagai anak yang ayah-ibunya terbunuh, seperti One.”

“Tetap tidak memberikan efek apa-apa padaku.”

“Oh, ayolah! Aku butuh emosi dari One.”

“Kalau begitu carilah One yang lain,” tandas Jaewon, “aku sendiri yang membunuh orang tuaku, jadi aku tak bisa memosisikan diriku dengan karaktermu yang jauh itu.”

++

Sirkus Samsara memang mengganggu benak Jaewon. Sebenarnya, ayah dan ibu One tidak dipaksa mengikuti ritual, malahan mereka bersuka rela melakukannya. One kecil sakit parah, tidak ada obat, dan sudah nyaris tutup usia ketika sang paman memberikan alternatif kepada kedua orangtuanya untuk mengorbankan nyawa mereka demi menghidupkan One. Tetapi, pada akhirnya mereka mati sia-sia, dan One nyaris dilempar ikut ke dalam ritual itu sebelum asisten rumah tangga di rumah sang paman membawa lari One balita dan akhirnya mengurusnya.

“Kau sudah nonton televisi? Kim Yuna membawa medali untuk Korea Selatan.”

Jaewon menghela napas. “Kurasa aku sudah mengusirmu secara halus kemarin?”

Jung Kiseok, yang datang lagi hari ini sambil memamerkan poster ice skater cantik Kim Yuna yang ia akui didapatkannya setelah harus berdesakan dengan ratusan orang penggemar atlet mengagumkan itu, tersenyum puas. “Sesungguhnya, berkat kata-katamu kemarin, aku jadi melihat cahaya terang.”

Alis Jaewon terjungkit. “Maksudmu?” Ia tidak terganggu dengan itu?

“Kau tentu sadar bahwa secara tidak langsung karena One sakitlah, orang tuanya akhirnya menemui ajal mereka di tangan yang salah.”

“Ya. Lalu?”

“Jadi bisa dikatakan, secara tidak langsung, One jugalah pembunuh orang tuanya, kalau dilihat dari sudut pandang yang salah dan kurang waras.”

“Kurasa begitu.”

“Boleh aku tanya kepadamu?”

Jaewon diam saja, mendengarkan.

“Apakah kau berpikir dirimu sendiri adalah pembunuh? Apakah kau mencari orang yang bisa disalahkan atas segalanya?”

Jaewon mendadak menyadari sesuatu.

Emosi asing sekonyong-konyong menggelegak di bawah dadanya. Ia sebelumnya tak pernah merasakan ini, sudah sejak lama, dan ia sadar dirinya kesulitan mengendalikannya.

“Keluar kau,” geramnya. Suaranya kuat penuh penekanan.

“Maafkan aku,” ujar Jung Kiseok penuh simpati, “maafkan aku, Jaewon.”

“Keluar kau!”

Jaewon melempar buku ke wajah orang itu. Jung Kiseok menutup mata, membiarkan wajahnya terluka, dan tatkala ia membukanya, ia menemukan muka merah dan air mata.

“Keluar!”

Jung Kiseok hanya mampu tersenyum, kemudian tanpa perlawanan beranjak dari sana.

++

“Anda memberi tahu mereka saya di sini.”

Kakek pemilik toko, yang baru saja pulang entah dari mana dan kini sedang duduk riang di atas sofa yang kemarin sempat diduduki Jung Kiseok, terperanjat. Kucingnya melompat dari pahanya.

“Mengapa Anda melakukannya?”

“Jaewon…,” gumam si kakek, “… aku mengerti kalau kau tak mau lagi bekerja di sini….”

“Tolong, bukan itu masalahnya,” tukas Jaewon tak sabar, “tapi saya pikir Anda sudah paham bahwa saya tidak mau terikat dengan siapa pun, termasuk pihak keluarga ayah ataupun ibu saya.”

Seekor kucing menghampiri kaki Jaewon, mengelus bulunya di sana. Pemuda itu selalu menemukan ketenangan dari kucing, jadi ia tak mampu mengusirnya, dan kedatangan kucing itu membuat si kakek sempat mengambil napas lega.

“Dia tidak bilang dia siapa,” kata si kakek, “seminggu yang lalu, dia datang bertanya apakah aku punya orang lain untuk menjaga toko ini, seperti seseorang yang khawatir melihat seorang pria tua bekerja sendiri, dan kujawab, ‘Ya, aku punya satu karyawan, seorang pemuda.’ Kemudian seperti yang kau tahu, dia datang sendiri.”

“Oh, Anda tahu dia siapa,” kata Jaewon, lebih tajam dari biasanya, “Anda yang merekomendasikan buku pria itu kepada saya. Memberi tahu nama saya kepadanya.”

Si kakek tersenyum penuh arti. “Dia orang baik, Jaewon. Aku hanya ingin kau berdamai—”

“—dengan masa lalu? Mengapa itu begitu penting?”

 “Kau tentu sudah baca ‘Sirkus Samsara’ sampai habis?”

Jaewon berusaha mengendalikan emosinya. Ketika si kakek dapat berbicara dengan tenang kepadanya, sungguh memalukan bagi Jaewon yang biasanya paling diam untuk meninggikan nada suara. Tetapi ia kadang kala tak tahu bagaimana caranya. Ia tidak pernah mencoba membiarkan emosinya, sedari ia bersekolah sendirian sejak dulu, melihat teman-temannya datang kepadanya, melihat guru dan dosennya peduli kepadanya, ia selalu menghindari mereka semua, karena emosi yang dirasakannya tak bisa ia tampung, tak ingin ia kenali, tak ingin berlama-lama ia biarkan bersarang di dalam dirinya.

++

Manusia penuh dengan emosi. Penuh dengan tuntutan.

Ia tidak mau ikut campur dalam semua itu. Ia ingin berdiri di pinggir saja, mengobservasi, merasakan diam-diam, tidak berbagi, karena mereka semua melelahkan. Sejak ia seolah menguras habis emosinya ketika dulu itu, ketika nyawa kedua orangtuanya terenggut kandas dimakan waktu, ia tidak mau lagi merasakan buncahan emosi.

Jaewon bercangkung sembari mengelus bulu seekor kucing jalanan di depan apartemennya, sebuah apartemen tua dengan biaya sewa murah di pinggiran kota. Dengan menyentuh kucing, ia bisa merasakan kehangatan dan kelembutan yang barangkali diam-diam didambakannya, dan ketika di saat-saat itu juga pikirannya menjadi berkabut dan dapat melanglang buana, dan ia merasa ingin menumpahkan perasaannya.

“Kau tidak menyalahkan dirimu, Jaewon?” Ia bertanya kepada diri sendiri, tetapi seolah-olah kepada kucing di hadapannya.

Tidak.

“Kau berpikir dirimu pembunuh?”

Tidak tahu….

“Kau menyalahkan orang lain?”

Tidak.

Tidak tahu.

Tidak tahu.

Aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

Jaewon tidak sakit. Ayah-ibunya tidak mati dalam ritual.

Ibunya menderita gangguan mental. Perempuan itu melukai dirinya sendiri, melukai suaminya, melukai putranya, dan ia akan menangis setelah itu, menyalahkan dirinya, mengubur jiwanya dalam kemarahan dan kesengsaraan berlapis-lapis. Tidak ada yang tahu mengapa ia bisa menjadi seperti itu, bahkan suaminya, sehingga sang suami meminta bantuan adiknya untuk mencarikan psikiater.

Jaewon kecil ada di sana setiap kali ibunya tersungkur dan menangis, setiap kali ayahnya pulang dan memeluk ibunya, setiap kali sang ibu seolah kesetanan menampar dan memukul suaminya, kemudian seolah setan itu keluar tiba-tiba, ia akan gemetaran dan meminta maaf, bilang bahwa ia tidak tahu apa yang sudah dilakukannya, bahwa badannya sakit dan ia merasa seperti ditusuk-tusuk setiap kali, sehingga ia butuh melakukan perlawanan. Jaewon berdiri di dekat pintu, tak berani mendekat, dengan bekas luka dan bilur-bilur baru di wajah dan lengan dan kakinya, tak tahu apa yang terjadi dan tak paham mesti melakukan apa.

Mengapa ibu seperti itu?

Apakah ibu yang salah?

Apakah ayah yang salah?

Mereka keluarga yang harmonis sebelum ibunya mulai aneh. Jaewon tak tahu apa yang salah.

Ketika ayahnya pergi bekerja dan ia pulang dari sekolah, ibunya selalu berdiri di depan pintu. Perempuan itu pada satu hari akan menoleh kepada Jaewon, memeluknya dan mengelusnya penuh kasih sayang, bertanya apa yang sudah dilakukannya di sekolah dan memujinya habis-habisan. Jaewon merasa sangat bahagia ketika itu. Tetapi di lain hari, ia bisa dicakar dan dipukul dan dihina dan didorong hingga tersungkur, sesekali menabrak barang-barang sampai kepalanya pusing. Jaewon sempat tak ingin pulang, dan setiap kali ia mengayunkan kaki ke rumah, ia selalu berandai-andai apakah hari ini ia akan ditendangi atau disayangi. Kegamangan menguasainya. Ia tidak mau pulang, tetapi berpikir siapa tahu hari ini ia akan dipeluk, jadi ia tetap melakukannya. Kadang kala ia mendapatkan harapannya, kadang kala tidak, sehingga Jaewon mulai belajar untuk berhenti berharap. Untuk mengalihkan diri dari pikiran buruknya dan acap kali suara-suara teriakan ibunya, ia memaksakan diri untuk membaca buku-buku milik ayahnya, hiburan yang paling tersedia di rumahnya, dan akhirnya berubah menjadi kebiasaan yang tak bisa terlepas darinya.

Di hari ketika ibunya hendak dikirim ke rumah sakit, adik ayahnya mendadak tak bisa mengantar dan meminta kakak dan kakak iparnya pergi terlebih dahulu. Tetapi di tengah jalan, dengan ayah memegang setir dan ibu yang tak dijaga siapa pun kecuali si kecil Jaewon di bangku belakang, tak ada yang bisa mengawasi dengan benar tatkala perempuan itu mengeluarkan pisau kecil yang diselipkannya di saku roknya, yang ternyata selalu dibawanya, dan suaminya yang melihatnya dari kaca spion depan berteriak, “Jangan!”, dan ia oleng.

Jaewon mendapat luka di kaki dan tangannya, tetapi ia masih membuka mata bahkan setelah ayah dan ibunya tak lagi bersuara, tak lagi bergerak. Malam itu gelap dan mereka berada di jalan sepi, tak ada mobil yang lewat dalam waktu lama. Jaewon kecil berusaha keluar dari mobil, dan ia berteriak meminta tolong, namun tak ada yang mendengarnya. Ia berpaling dan melihat kengerian itu, genangan darah dan tubuh yang terjepit, takkan berkutik walau anak lelaki itu berusaha menarik dan mengangkat apa pun.

Dirinya digerogoti perasaan sedih, marah, bersalah, dan entah bagaimana…. lega.

Jaewon tak tahu apa yang merasuki tubuhnya kala itu, barangkali jin sesat yang tolol, tetapi ia berlari, dan terus menjauh, diam-diam merasa lega telah meninggalkan penderitaan dan kebingungan yang dialaminya selama berbulan-bulan.

Aku tidak mau tahu lagi.

Aku tidak mau tahu lagi.

“Apakah kau senang, Jaewon?”

“Jaewon, apakah kau sedih?”

“Mengapa kau menangis?”

“Kau makhluk berengsek! Menjauh dariku!”

“Ampuni Ibu, Jaewon, ampuni Ibu….”

“Jaewon, Ayah tak bisa menjelaskan detailnya, tetapi Ayah ingin kau bersabar dan berdoa supaya Ibu cepat sehat.”

Bersabar?

Bagaimana cara bersabar?

Ia menghilang ditelan kegelapan, sementara jenazah ayah-ibunya terdampar dan baru ditemukan keesokan paginya.

Aku seharusnya mencari pertolongan untuk mereka, pikir Jaewon suatu kali. Seharusnya begitu. Mungkin mereka masih bisa ditolong. Tetapi aku lari dan terus lari.

Apakah aku yang salah?

Apakah aku pembunuhnya?

Setelah itu, Jaewon pergi jauh-jauh dari tempat tinggal asalnya, menghidupi diri dengan berbagai cara yang bisa terpikir olehnya, juga tidak membiarkan orang-orang melihat bekas luka di kulit lengan dan kakinya dengan mengenakan baju lengan panjang setiap saat, merasa akan merepotkan kalau orang ada yang bertanya soal bekas lukanya. Ia cerdas akademik sedari kecil, dan ia bisa terus mendapatkan beasiswa, jadi sama sekali tidak ada masalah dengan biaya sekolahnya. Tetapi ia mencapai titik jemu dan mulai mempertanyakan apakah ini yang betul-betul ia inginkan ketika sudah menginjak masa kuliah. Ia tidak tahu ia ingin menjadi apa, meskipun ia bersekolah di jurusan teknik sekali pun, yang seharusnya mengarahkannya untuk menjadi insinyur.

Bukan insinyur yang aku mau. Ataupun seorang akademisi.

Jadi apa yang kau mau, Jaewon?

Anehnya, Jaewon tak pernah menemukan dengan jelas apa yang ingin dijalaninya di masa depan.

Jaewon sebenarnya tertarik pada psikologi. Mungkin sesuatu di dalam dirinya menyuruhnya mencari tahu apa yang terjadi kepada ibunya. Tetapi ia tak pernah memperdalam lebih lanjut, hanya mengamati orang dan membaca penjelasan mengenai beragam karakter di buku, mencoba mencocokkan kondisi mereka dengan dirinya sendiri, juga diam-diam dengan ibunya maupun ayahnya, tetapi tetap tak menemukan apa pun yang bisa diungkap dari ibunya.

Apakah Jaewon takut jika ia menemukan sesuatu yang tidak ia inginkan?

++

Jaewon datang ke toko hari ini, menemukan si kakek sedang menyapu bagian depan toko. Ia berhenti sekitar sepuluh meter jauhnya, enggan mendekat, hingga pandangan mata keduanya bersirobok dan si kakek mengulas senyum.

Pria tua itu berjalan mendekati Jaewon dan menepuk lengannya.

“Jaewon, pamanmu datang tadi.”

“Jangan bilang begitu.” Rasanya aneh kalau ia tiba-tiba punya paman.

“Dia menyesali apa yang telah diperbuatnya lima belas tahun lalu.”

Menyesal?

Buat apa dia menyesal?

“Dia berpikir bahwa kalau ia dulu menyempatkan diri untuk mengantar ibumu, ayahmu bisa menjaga istrinya dari melakukan yang tidak-tidak dan mereka akan selamat. Ia terpukul berat ketika tahu kau telah hilang dan membayangkan kau menyalahkan dirinya, membayangkan kau sedang merencanakan sesuatu untuk membalasnya. Lahirlah buku itu. Tetapi ia kadang kala berpikir, siapa sebetulnya yang salah, dan barangkali tak ada yang salah dalam peristiwa itu—memang itulah yang harus terjadi. Ini, Jaewon.”

Si kakek menyerahkan sebuah buku ke tangan Jaewon.

Sirkus Samsara 2: Akhir.

“Dia bilang, jika kau ingin tahu apakah One betul-betul bertemu dengan pamannya, buku itu bisa menjadi awal untukmu.“

Butuh waktu lama untuk Jaewon hingga akhirnya ia menggenggam buku itu.

“Terima kasih. Aku… punya paman yang aneh.“

Si kakek tertawa.

++

Jaewon masih belum yakin tentang apa pun. Kemunculan Jung Kiseok juga sebetulnya adalah sesuatu yang sangat cepat dan mengejutkan, sehingga ia tak tahu harus bereaksi macam apa.

Jadi, ia duduk di tempatnya yang biasa, memulai Sirkus Samsara 2.

Setelah melewati berbagai petualangan, One akhirnya bertemu dengan pamannya. Tetapi pamannya sudah nyaris sekarat oleh kekuatan jin yang menguasainya. One bertanya mengapa ia melakukan itu semua, dan pamannya menjawab:

“Aku ingin bahagia.”

“Lalu, sekarang kau sudah bahagia?”

Alih-alih menjawab, sang paman berkata, “Aku dihantui bayangan ayah dan ibumu setiap hari. Oh, aku telah menjual nyawa mereka, One, apa yang harus kulakukan?”

“Apakah dengan membunuhmu akan mempercepat penderitaanmu?”

Sebelum pamannya menimpali, One sudah berkata:

“Kubiarkan kau hidup. Menderitalah lebih lama.”

Kemudian One pergi memburu jin yang telah memakan jiwa ayah dan ibunya serta melahap energi kehidupan pamannya. Jaewon baru saja hendak memulai bagian itu ketika ia menemukan kartu nama Jung Kiseok beserta nomor ponselnya di tengah-tengah halaman.

Ragu-ragu, ia mengalihkan pandangannya ke telepon toko, kemudian ke lantai, sekejap tak sengaja bertemu pandang dengan si kucing jantan, ayah dari ketiga anaknya, dan mereka berkomunikasi lewat tatapan.

Haruskah aku?

Ya.

Entah mengapa, Jaewon merasa si kucing mengatakan itu.

Tiga menit kemudian, dengan telapak tangan berkeringat dingin, Jaewon sudah bisa mendengar suara yang menyebalkan namun tak asing baginya dari seberang telepon toko.

“Halo? Pak Editor? Mohon maaf, tapi hasil revisi….”

“Ini One.”

Hening.

“… bagaimana buku keduaku?”

“Biasa saja.” One memberi jeda sebentar, semata-mata supaya Jung Kiseok merenunginya. “Tetapi kau tahu, aku percaya isi sebuah buku adalah bentuk komunikasi seorang penulis kepada pembacanya.”

“Ya, kau benar.”

“Kau berpikir bahwa diamku berarti dipanjangkannya penderitaanmu.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Menginap di mana kau sekarang.” Jaewon menolak menggunakan intonasi tanya.

“Hotel yang tak jauh dari toko. Tiga minggu menginap sama sekali tidak murah, tahu.”

“Apa kau berencana untuk bunuh diri.”

“Jangan tersinggung, tapi aku tidak bodoh. Namun, kalau hal macam itu bisa memuaskanmu….”

“Tak perlu. Kubiarkan kau menderita, seperti maumu.”

Jung Kiseok tertawa.

“Lima belas tahun. Sudah lama sekali.”

“Ya.”

“Pulanglah, Kiseok. Aku punya hidup di sini, kau punya hidup di sana. Kumaafkan kedatanganmu yang diam-diam itu, asalkan setelah ini, jangan ganggu aku lagi.”

“… baiklah.”

“Aku membaca banyak buku dan bisa berbagai macam hal. Aku mampu melakukan pekerjaan yang tak pernah kaubayangkan.”

“Ya, lima belas tahun hidup sendirimu sudah menjadi bukti untuk kami.”

“Selamat tinggal.”

“Jaga diri, Jaewon.”

Jaewon mengambil napas, menunggu telepon ditutup, tetapi sedetik sebelum Jung Kiseok menekan simbol merah di ponselnya, Jaewon bersuara lagi.

“Kalau kau berniat untuk terus menulis,” ia mengembuskan napas, agak terlalu buru-buru, “kuawasi dari sini. Tulisanmu lumayan.”

Jaewon mematikan telepon.

Di seberang sana, Jung Kiseok tersenyum.

++

Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima belas tahun lalu.

.

.

Halo juga untukmu, Jaewon.

Sebelum itu, mari berkenalan terlebih dahulu.

Apakah kita terlambat?

Kuharap kita tidak terlambat.

 

 

fin.

++

Harapan terkait dengan masa depan! Jadi izinkan saya berharap supaya rumah ini semakin baik lagi dan saya tidak mager dan teman-teman pembaca beserta kru IFK bisa menjalani hari-hari dengan sehat. (/^_^)/ selamat ulang tahun, IFK. Terima kasih juga untuk semua yang telah bertahan di sini, maupun berencana untuk menjelajah di sini, semoga kalian semua terus mencintai tulisan sebagaimana Jaewon di cerita ini.

DAN KALAU CERITANYA BAGI KALIAN RANDOM DAN BIKIN, “Paan sih nih cerita.” SAYA MOHON AMPUN.

xx, fikha.

36 thoughts on “[Movie Festival 4] The Circus of Misery by kihyukha”

  1. Yaampun aku dibawa muter-muter baca fic ini :”) seru sih. Dan aslian aku sama sekali nggak nebak kalo si jaewon itu tokoh One dalah novelnya kiseok. Aku mikirnya malah terlalu jauh; si jaewon itu paman yang udah bunuh kakak dan keponakannya, terus si kiseok datang menyindir(???) WAKWAK.

    Nice fic, kak fikha~~~~

    Suka

    1. HALOOOO LAMA GA LIAAAT atau aku yang hilang terlalu lama huhu:””) eh itu seru juga sih kalau ternyata jaewon pamannya hahahah terus perannya kiseok bisa lebih misterius ceritanyah. Makasih banyak yaaaa reviewnya<333

      Suka

  2. KAPIKA~!
    Hehehe aku datang kedua kalinya setelah baca versi pertama di post sama sekarang yg katamu ada perubahan dan aku lupa yg di rubah bagian mananya /plak

    FIKH AKU SUKA SEKALI IDE CERITA SAMA KARAKTERISTIK PEMAIN-PEMAINNYA! ASTAGA AJARKAN DAKU SEPERTI ITU FIKH INI BAU-BAU PENULIS BESAR YA GINI ASTAGA RASANYA KAYA BACA NOVEL TAU GAK SIH FIKHA ASTAGA AKU MASIH TERPESONA FIKH!❤

    Oke berawal dari cerita, kayanya ini mirip sama drama dr. frost gak sih? Eh, gak mirip-mirip banget sih cuma aku langsung kebayang si jaewon itu macem si frost xD Psikologinya kuat bat astaga aku sampe gatau mau komen apa lagi sebenernya mau bilang banyak tapi isinya pujian semua aku bisa apa :'D

    Aku berharap ide ini dijadiin novel /ngarep lu juls/ soalnya aku masih gagal move on sama cerita ini😀 DAN ENDINGNYA… ASTAGA KUTAKMENYANGKA KISEOK ITU PAMAN JAEWON DAN DIA BUAT NOVEL GEGARA KEPIKIRAN SI KEPONAKAN HAMDALAH FIKH….

    Gatau lah fikh mau komen apa lagi. Aku suka banget pembukaan terus ke tengah, nah bagian ending itu aku mulai mikir dan pas!
    Kalimat ini "Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima belas tahun lalu.” masih ngena di hatiku suka bangettt!❤

    Dan andaikan penulis Simon Dominic itu beneran ada… aku penasaran segimana menyebalkan dan nyetriknya beliau xD HAHA

    Thank you for nice fic!❤
    Kip nulis dan kutunggu novel selanjutnya~

    Suka

    1. KAKJULZZZZZZ
      Alhamdulillah memang yang versi lama itu lebih aneh dan lebih singkat jd tak kurekomendazikan
      WADU WADU AAMIIN KAKJULZ SERING-SERING AJA UTAK-ATIK KARAKTER KATA URANG MAH CUMA URANG PUN MASIH BELAJAR JD BELUM JAGO BETUL???? Makasih banyak kakjuls sudah membaca karyaku hiks terus menulis juga kakjuls!!! <333

      Suka

  3. Fika 😑 aku harus komen apa. Tapi aku pengen nyerocos, tapi juga gatau omong apa😭

    Karena ide tulisan ini yg super berat (bagiku lho dek😂) di pertengahan aku menemukan kejenuhan. Tapi karena disini perasaan si pembaca diaduk-aduk macem adonan sampe kalis. Alhasil aku berhasil sampe fin.
    Komenin ide nya? LUAR BIASA!!!!!!😍😚

    Penggambaran tokohnya. YASALAM!! Ini tulisan jdi si pembaca kan berimajinasi sosok tokoh-tokoh yg ada di cerita. Tokoh si Jaewon kuat banget. Dapet bgt feelnya. Jdi berasa kek ngerasain klo kita itu diposisi Jaewon yg ga secara gamblang buat mengeluarkan ekspresi (au ah bhasa gue kek apa, pokoknya gitu). Mendem sesuatu itu ga enk fik 😭😭😭😭

    Entahlah fik, jmpolku kudu nulis apa lagi 😣 udah khabisan kata-kata. Teros nulis yak dedek kece 😚😚😚 pankapan ajarin aku /uhuk/ 😂

    Suka

    1. Kakaaaak halooo!!!
      Iya ya berat? Aku sukanya yg topik-topik cem gini huhu ;; aaah iya aku tahu kenapa jenuh, udah kuperbaiki sih bagian itu huhu aku ga banyak ngedit soalnya krn udah dikejar waktu HUHU aku penulis gagal :((
      Iyaaa bethul mendam sesuatu tuh gapernah enak kak😦 tapi jaewon bisa hidup seperti itu sih mungkin memang sudah jalannya ((apasih))
      Teros nulis juga ya kaaak huehehe aamiin!! Semangat juga kakaaak<3 HUAHAHA ntar kapankapan kita sharing aja jgn aku mengajarkan

      Suka

  4. YOU.
    DID.
    GREAT.
    UP.
    THERE!!!!!!!!!!!!!

    Ma friend kamu kenapa sih ini tuh enak banget dibaca dan sangat menyenangkan. Aku suka banget sama karakter Jaewon, you have no idea!!!! Di luar kesukaanku pada jaewon (HAHAHAHAHAHAHA) ini bikin aku jatuh lagi sama dia:( You did wonderful! Terus pertamanya aku belom sadar Jung Kiseok itu SimonD tapi ternyata dia terus jadi ketawa HAHA soalnya Jaewon bener ugha, namanya teh hibhab. Ini terorganisir banget sampe sirkus samsaranya ugha. Ini nyenengin banget aku bakal membayar mahal kalo ini diperjualbelikan. Terus editannya oke ugha, cuma aku lebih suka kata-kata Jaewon yang ‘Aku punya paman yang aneh’ ketimbang ‘Terima kasih’ walaupun duaduanya bagus. Terima kasih lebih masuk ke karakter Jaewon sih kalo kupikir-pikir juga! Ngebuktiin kalau dia pada akhirnya bisa berterima kasih juga, soalnya kan dia gak merasa perlu mengekspresikan apa-apa selama lima belas tahun sendiri. Jadi pas diganti ‘Terima kasih’ itu menyentuuuuh. But still, emang dasarnya kepala w geser jadi suka sama yg ‘aku punya paman yang aneh’ WKWK.❤❤❤❤ this is so lovely, you are too lovely, and i missed you all along! Semoga kita bisa keep in contact lagi yaww despite kesibukan baru!❤ You know how much I love you and grateful for your presence.

    Suka

    1. H
      A
      I
      M
      B
      A
      D
      H
      I
      L
      !!!!!!
      ALHAMDULILLAH YA ALLAH. Jung Jaewon muka dan sikapnya so ff-able banget sih jd enak diapa-apain. HAHAHAHAHH emang orang jarang tau sih nama aslinya doi, pokoke rapper-rapper tuh jarang ada yg tau nama aslinya wkwkw. Wis lain kali kujual ah(?) mayan untuk biaya hidup anak kosku:(((
      NAH BERKAT KAMU KEDUA KALIMAT ITU KUGABUNG WKWKWKW sebenere karakter kayak Jaewon tuh sering banget kupake sih, pernah di The Realm of Expectation buat si hyunseung dan karakter ssamdi as bapaknya hyunseung, abis aku suka menulis sarkas :33 ((lho)) ((apasih emotnya))

      MAKASIH DHILAAAAA SEMANGAT ATUH KULIAHNYA<3333

      Disukai oleh 1 orang

  5. FIKHA!

    cerita ini beneran bikin komen “apaan sih…”, tapi ada tambahan “…keren banget”😄

    tulisanmu tetep keren deh yaa. kalimat awalnya udah cukup menohok rasa penasaran, belum lagi duo Jung yang sama-sama aneh latar belakangnya. alurnya bikin kaget waktu jaewon bilang dialah yg bunuh kedua orang tuanya, lebih kaget lagi waktu tahu kiseok ternyata pamannya. DUH DUH.
    suka banget sama latarnyaaa. alurnya jugaaa. ringan dan main psikologi itu udah kamu banget. jadi penasaran sama bukumu yg aku telat po itu DUH.

    mau komen yg bagus bagus lagi juga ga perlu lah :”) semua tau kamu emang bagus nulisnya😄 oh ya, tadi cuma nemu ada keluputan titik di akhir kalimat salah satu momen, jadi rada spotable wkwk.

    semangat nulisnya, fikhaaa. makin jaya ifk dan buku-bukumu ya.
    ((besok-besok klo buka po lagi, bilang padaku yaa. sekarang harus nabung dulu wkwk))

    Suka

    1. KAKAK!!!!
      WAAA huhu Alhamdulillah :”’)
      Aku sudah lama tidak nulis fenfik…. tapi penulisan fic ini kepengaruh banget Eka Kurniawan sbnrnya soalnya aku baru aja baca bukunya dia wkwkw. Ih atuh aku gatau mau bales apa karena aku senang dan campur aduk huhu beginikah rasanya dikomentari tulisannya :”””) (udah lupa) (kelamaan ngilang)
      Black Circus sedang kurombak jadi ketika sampai di tangan kakak kelak in syaa Allah akan lebih menarik lagi!!! Iyaaah aku juga menemukan si titik itu soalnya sebelom ngepost ini aku ga ngedit dengan saksama hubu :””)

      SIAP KAKAAAAK zemangat juga terus nulisnyaaa terima kasih banyaaak <333

      Disukai oleh 1 orang

  6. Buerat bgt ini ceritanya budirrr beraaat
    Tapi dibacanya enak bgt sih, kyk kata2nya ngalir dan perpindahan dari satu kalimat ke kalimat lainnya tuh manis.
    DAN ENDINGNYA YA TUHAN
    Bikin speechless. Sebegitu pentingnya berdamai sama diri sendiri ya TT pesannya sampe!!
    Dan krn apa yg ingin kukatakan sdh terwakilkan semua sama komen yg atas2 aku cuma mau bilang… Keep writing! Ditunggu karya2nya yg lain fikhaa

    Disukai oleh 1 orang

    1. YA ALLAH KAK LIANA BERKOMENTAR DI FIC SAYA:””’) nanti kusamper juga lapaknya masternim!!
      Iyaa wajib banget berdamai sama diri sendiri! Jadi ternyata yang nanya itu Jaewon sendiri kepada dirinya sendiri hihiw aku senang banget kak liana sadar bagian itu x))
      Keep writing juga kak lianaaa! Ih aku masih tersepona dikomen orang-orang huhu makasih banyak kaaak!! <33

      Suka

  7. Salam kenal, fikha-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    The Circus of Misery. Entah kenapa begitu baca judul ini aku jadi teringat film berjudul Victor Frankestein. Itu loh si Daniel Redcliff yang jadi budak sirkus. Aku jadi keinget betapa menderitanya dia di sirkus.

    Isi cerita:
    “Halo, namamu One? Perkenalkan, aku yang membunuh ayah dan ibumu lima belas tahun lalu.”

    What?! Apaan tuh? Kaget tiba-tiba baca kalimat kayak gitu. Aku pun menebak kalau cerita ini tentang penyesalan seseorang yang telah membunuh orangtua One.

    Aku pikir One adalah Jaewon. Setelah baca lagi aku jadi berpikir kalau mereka orang yang berbeda. Soalnya tidak diceritakan entah One adalah nama panggilan Jaewon atau semacamnya.

    Aku penasaran. Apa yang terjadi dengan Jaewon sampai-sampai ia bisa di drop out? Kesian. Apa karena orangtuanya yang tidak peduli? Atau orangtuanya meninggal? Aku masih belum bisa menebak.

    Lalu.

    Siapa sih Kisoek? Kok dia datang terus? Apa dia benar-benar orang yang membunuh orangtua Jaewon. Eh, tapi emangnya orangtua Jaewon beneran meninggal?

    Lalu aku scroll.

    Setelah baca lebih bawah lagi, rasa penasaranku pun terjawab.

    Oh. Ternyata kalimat di awal adalah quotes dari buku milik Kisoek.

    Oh. Jadi ini alasan kenapa Jaewon pendiam, ansos, drop out. Rupanya dirinya sendiri yang membunuh orangtuanya.

    Dan oh oh lainnya.

    Tapi bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa Jaewon bunuh?

    Terus, kenapa Jaewon marah dan mengusir Kisoek?

    Oh. Jadi Jaewon tuh bukan bunuh macam pshyco. Ternyata ia membunuh secara gak langsung. Ternyata dia hanya menyalahkan dirinya.

    Oh. Ternyata Kisoek adalah pamannya.

    Oh. Ternyata kakek tua itu sengaja memberi buku Sirkus Samsara ke Jaewon.

    Oh. Aku pun jadi mengerti.

    Di akhir cerita, Jaewon memaafkan pamannya secara gak langsung. Ah, happy end. Aku suka!

    Aku suka cerita ini. Kesan di awal memang seperti gampang ditebak alurnya. Sebenarnya emang gampang ditebak tapi penyajiannya bikin terkecoh.

    Aku suka penjelasan yang mendetail di cerita ini. Apalagi baca penjelasan kucingnya. Aku bisa membayangan bagaimana reaksi Jaewon dengan kucing-kucingnya. Lucu.

    Ah, ya. Aku menemukan sedikit typo; kaukeluarkan -> kau keluarkan. Tapi aku tidak terlalu terganggu dengan typo.

    Aku suka cerita ini. Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini!🙂

    With love,

    Energytea

    Suka

    1. Halo, energytea!!
      Wah kamu berkomentar persis kayak penjurian gitu ya mantab!
      Budak sirkus tuh gaenak sih huhu jadi bahan tontonan tapi disiksa juga.
      Tentang penyesalan, bethul! Sebenernya intinya adalah bagaimana kita harus berdamai dgn diri kita sendiri dan masa lalu kita untuk bisa melangkah ke depan sih, HUAHAHA tapi enggak papa kuserahkan interpretasi bebas kepada pembaca!
      Iyaaap betul sekali! Wah aku terharu, cara kamu menyampaikan komentarmu lucu sekali. Alurnya memang gampang ditebak kok, mungkin krn aku habis baca buku Eka Kurniawan jd terpengaruh pembawaan ceritanya yg sebenernya alurnya mudah ditebak tp pengungkapannya berbeda hehehe.
      Pokoknya bagaimanapun semua unsur yang ada di cerita, termasuk kucing, dimanfaatkan semaksimal mungkin. X)

      Oh, itu bukan typo kok, memang benar “kaukeluarkan”. Jadi untuk kata kerja setelah kau, itu memang bisa disambung, contoh kau putuskan, jadi kauputuskan. Penggunaannya sama seperti ku putuskan jadi kuputuskan. Begitu^^

      Terima kasih juga sudah berkomentar dengan manis, energytea.❤

      Suka

  8. hi there fikhaaaaa!!

    long long long long time yaaaa hehhhe.
    balik balik baca movie festivalmu aja Fikh! AND W O W, ceritamu Fikh…. bingung mau bilang apa :”D

    aku suka banget statement yg dari buku itu “perkenalkan aku yg membunuh ayah ibumu” dor. meskipun ALHAMDULILLAH nyatanya ngga bener-bener membunuh terang-terangan, tapi statemen itu macem gravitasi (?) Fikh.

    Sebenernya fict kamu yang ini banyak bikin aku berasumsi asumsi yang dipatahkan pada kejutan di alur selanjutnya hahha. macem udah digiring pamannya pembunuh tapi ternyata digiring ke Jaewoon pembunuh terus berubah lagi digiring ke yang lain. SO GREAT!

    dan duh menebus rasa bersalahnya pake novel itu kece banget. siapa coba yang kepikiran wkwkwk. dibanding bikin karakter yg mencari cari ketakutan malah jadi Simon D yang ya agak nyeleneh nyentrik gimana gitu ya wkwkwk.

    sudah ah Fikh!
    selamat ulang tahun IFK!

    see yaaa Fikhaaa :))

    Suka

    1. THIAAAAAAAAA KANGEEEEN :””””’D
      Maaf aku sudah jarang muncul huhu cuma ngisi event aja kerjaanku aku merasa berdosa :””'(
      Cerita ini tuh draft awalnya sebenernya tokohnya bukan Jaewon tapi Twice’s Jungyeon dan alurnya beda, tibatiba aja kepikiran soal dialog dr buku dan jadilah cerita begini huhu ;;; HAHAHA itulah mauku! Gimana caranya punchline(?) sebelum ++ berakhir itu harus yang bikin orang “Hah apa sih.” gituuu
      Kece ya thi jadi dia tuh ga buang-buang waktu gituloh sekalian aja dijadiin buku biar dapet duit dari rasa penyesalannya HAHAHA merasa bersalah terus bikin duit tuh produktif, patut dicontoh!
      Selamat ulang tahun IFK!

      Terima kasih banyak Thiaaaa huhu kangen kangen kangen <333

      Suka

      1. FIKHAAAAA!!!! YA AMPUN KURINDU KOMENKU DIBALAS FIKHA LOL .
        aku juga kemarin-kemarin sering ngga mampir sini Fikh. Terus kangen ya udah mampir deh. wkwkwk. Nggapapa lagi Fikh. Ngga usah merasa berdosa lah Fikh. Aku juga merasa bersalah, baru baca existentia yang terbaru yang terbit udah lama tapi baru baca BARU BARU INI MASA. YA AMPUN! DAN AKU BARU GESREK DI SITU ADA REN FIKH (mbak mbak, salah lapak oy)

        Dibanding Jungyeon kayanya lebih ngena Jaehyun. Ya kalau cewek kan sudah biasa (?). wkwkwk. Yaps! “hah apa sih” nya ini yang malah bikin penasaran karena beda dari asumsi awal hahha.

        Thankyooou jugaaa Fikhaaaaa❤❤❤❤ I MISS YOU MORE HEHEHEH. KANGENKANGENKANGENKANGEEENPOKONYA.

        Suka

  9. Fikhaaaaa! Ini ceritanya Bagus banget. Kayaknya setiap kalimat itu punya arti lain. Bukan hanya x. Tapi juga ada unsur y. (Bingung deh bingung)

    Aku excited banget masa ;_; duh ini jaewonnya keren! Dan dia pecinta kucing! Aku awa lk nya agak bingung, ngapain gitu ya simon masuk ke toko dan ngelakuin hal-hal yang bikin jaeon kesel. Tapi akhirnya terkuak semua isi ceritanya dan aku berasa… “yaampun, sedih banget.” Tapi aku juga sisi sarkastik dari semua tokohnya. Dan cerita ini khas fikha banget. Duh, suka dan gak tahu kenapa rasanya seneng bisa baca karya fikha lagi(?)

    Selamat ya, fikha! Ini nice banget dan semangat terus nulisnya! Semoga IFK semakin lebih baik lagi. Aamiin^^

    Suka

    1. TOBBBBBB LAMA GA LIAAAAT atau aku yang sudah terlalu lama menghilang huhuhu :””'(
      HAHA iyaa aku bingung! Tapi kurang lebih kupaham huehehe xD
      Dan dia pencinta kucing tuh krusial ya! Ih aku jadi jaewon juga pasti kesel kenapa ada om-om dateng ngerecok tiap hari. Semua tokohku akhir-akhir ini kayaknya sarkastis semua apakah krn diriku yg mulai suka sarkas(???) aku juga senang bisa nulis fenfik lagi dan keinget kembali senangnya dapat komen dan balas komen huhu terima kasih sudah berpartisipasi dan menjadi reader yg baik :”””))))
      Semangat jugaaakk dan terus menulis yah!! Aamiin, terima kasihhhh <3333

      Suka

      1. ADUH FIKHA (SETELAH BACA KOMENAN TERNYATA AKU BANYAK YANG TYPO. SYUKURLAH KAMU PAHAM WKWK))
        Nggak, kok. Aku pun sedang dalam masa ‘menghilang’ jadi wajar jarang berkeliaran di ifk. Ehehe.
        Wah, bahaya sekali fikha jadi sarkas wkwk. Dan, ya makasih juga! 🌟

        Suka

  10. Hai, aku reader baru salam kenal. ^^
    Satu hal yang tercetus di pikiranku setelah baca fanfic ini, GREAT STORY!!!!!
    aduh, aku gak tahu harus nulis apa lagi, tapi yang pasti, kamu udah buat aku terpesona *jiahbahasanya….
    Maafkan aku jika kata kataku terlalu formal, apakah mungkin karena efek fanfic ini? Entahlah…. *ditabok
    Keep writing and fighting!!!

    Suka

    1. HALOOO NANO!! Aku panggilnya apa nihh? Panggil aku fikha aja yaa, kelahiran 98!
      Alhamdulillah hehe terima kasih banyaakk masih belajar kok ini >:)) gapapa formal kl kamu emg ngomongnya gitu tp kalo bisa santai, santai aja gapapaa!
      Semangat juga yaaa!

      Disukai oleh 1 orang

      1. Panggil mela aja. Aku 99, berarti kak fikha? Gak apa apa di panggil kak fikha, kan?
        Sama-sama, tapi bener loh aku emang terpesona dengan alur dan genre yang kayak gini, bikin otak harus mikir lebih keras?
        Aku orangnya labil, kadang formal kadang ngaur, ya begitulah…*abaikan

        Suka

  11. oke, pembukaan dulu. hehe.
    fikha eonn, onnyaaaaanggg!^^ Namie di sini, kalau gk keliatan pakai kamera inframerah sj, nanti pasti masih gk keliatan/ggg\ haha, abaikan, abaikan xD

    omo! daku gakuat sama Kiseok yg entah kenapa suka cute di mataku, becoz dia suka nimbrung ke si Jaewon-nya >^^<

    Suka

  12. oke, pembukaan dulu. hehe.
    fikha eonn, onnyaaaaanggg!^^ Namie di sini, kalau gk keliatan pakai kamera inframerah sj, nanti pasti masih gk keliatan/ggg\ haha, abaikan, abaikan xD

    omo! daku gakuat sama Kiseok yg entah kenapa suka cute di mataku, becoz dia suka nimbrung ke si Jaewon-nya >^^< semangat buat keluarga besar IFK!^^

    Suka

  13. oke, pembukaan dulu. hehe.
    fikha eonn, onnyaaaaanggg!^^ Namie di sini, kalau gk keliatan pakai kamera inframerah sj, nanti pasti masih gk keliatan/ggg\ haha, abaikan, abaikan xD

    to the point-nya, novel Sirkus Samsara itu kayak kisah nyata si Jaewon plus Kiseok. kan? dan, dan Jaewon, kasian. jadi pingin. meluk:’/ggg\ yaampun, diksinya, alurnya, jempol deh! >^< semangat buat keluarga besar IFK!^^

    Suka

  14. oke, pembukaan dulu. hehe.
    fikha eonn, onnyaaaaanggg!^^ Namie di sini, kalau gk keliatan pakai kamera inframerah sj, nanti pasti masih gk keliatan/ggg\ haha, abaikan, abaikan xD

    Kiseok imut, suka nimbrung Jaewon xD and always like sama karakter introvert—walau introvert gegara konflik masa lalu ya:’—, si Jaewon.

    to the point-nya, novel Sirkus Samsara itu kayak kisah nyata si Jaewon plus Kiseok. kan? dan, dan Jaewon, kasian. jadi pingin. meluk:’/ggg\ yaampun, diksinya, alurnya, jempol deh! >^< semangat buat keluarga besar IFK!^^

    Suka

  15. Kupikir kata diawal emang kata yg tertuju buat jaewon, tapi pas ke sini2 oh cuma kutipan novel eh ke bawah2 lho beneran buat jaewon. Hahaha

    Bagus ih gaya nulisnya, alurnya jg bikin ngecoh. Great story fikha!! :*

    Suka

  16. HALO!
    salam kenal, kak!

    ITU SERIUS OM SIMON SAMA ONE? yaampun liat castnya aja aku udah histeris sendiri😂
    yaampun aku bingung mau komen apaaa😂gaada typo, tulisannya juga udah rapi banget😂😍
    Penggambaran latarnya detail bangeet. serius deh, ini ff ngaduk-ngaduk emosi banget. Apalagi pas adegan flashbacknya si one yang lari ninggalin orang tuanya. Pas aku tau kalau si simond itu pamannya, aku kaget. Dari awal gak kepikiran sama sekali. Aku sukaaa banget cerita inii!

    nice, kak! Keep writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s