[Movie Festival 4] The Earth by Charon Ly

The Earth – Charon Ly

Hiruk pikuk tepukan tangan memenuhi hanggar kala sebuah pasukan elit menapakkan kaki setelah turun dari pesawat tempur. Walau tampang mereka tampak lusuh dan lelah–bahkan beberapa ada yang terpaksa ditandu oleh kawan mereka–senyum kemenangan terus mengiringi langkah 10 anggota pasukan. Terkecuali pemimpin mereka yang dengan gagahnya berjalan di barisan paling depan namun tak mengulas raut bahagia maupun bangga. Gerombolan penonton tidak memandang sikap sang pemimpin dengan kecewa atau marah. Sebab memang sudah tabiatnya menjadi sosok dingin dan suram meski hatinya sedang penuh kebahagiaan.

“Setidaknya tersenyumlah sedikit dan sapa para penggemarmu,” bisik seorang laki-laki yang dikenal tangan kanan ketua pasukan. Ia Ravi yang tak lain adalah saudara angkat sang pemimpin pasukan, Leonardo Aleon.

Yang dibisiki sama sekali tak menggubris. Namun Ravi tidak menyerah. Berulang kali Ravi meninju pelan pinggang kanan Leo, menyuruhnya menyapa para gadis pemula yang berteriak kesetanan melihat Leo menggiring pasukannya memasuki ruangan senjata. Ada yang berteriak mengagung-agungkan namanya. Ada juga yang tak sampai menyuarakan kekagumannya sudah tersungkur di atas lantai. Leo tak memperdulikan para pengagumnya lantas mempercepat langkah menuju ruang komandan.

“Harusnya semangat seperti itu berkobar di medan perang.” batinnya sarkastik pada para wanita yang tergeletak tak berdaya di gotong tandu karena kehabisan napas.

Pintu kaca terbuka otomatis saat Leo mendelikkan retinanya pada sebuah alat sensor pengunci di samping. Ruangan itu tak begitu luas–namun lebih luas dari ruangannya tentu saja–hanya diisi oleh meja kerja di ujung tengah, miniatur distrik yang biasa digunakan untuk menyusun strategi penyerangan, serta beberapa sofa hitam kelam di sudut kanan. Sebenarnya ada satu pintu di dalam ruangan tersebut. Namun tidak ada yang pernah tahu apa yang tersimpan di balik pintu itu.

“Beri hormat pada Komandan!” perintah Leo kala pasukannya memasuki tempat kerja orang yang disebutnya komandan. Serentak mereka meletakkan helm di pinggang kiri seraya menegakkan badan memberi hormat pada sang komandan.

“Selamat atas keberhasilan kalian menghancurkan distrik 7. Kuharap tidak ada yang terluka parah.”

“Siap, Komandan!” Sekali lagi teriakan hormat terdengar serempak.

“Kerja bagus. Leo aku ingin bicara empat mata denganmu.”

“Siap, Komandan!” Kali ini hanya Leo yang mengangkat tangan membentuk gestur hormat. Tanpa diperintah pasukan Leo termasuk Ravi meninggalkan ruangan itu. Leo dipersilahkan duduk. Komandan Aiden membuka sebuah berkas lalu menyerahkannya pada Leo.

“Ini perintah terbaru sekaligus tugas terakhir dariku untukmu.” Leo mengerutkan dahi menyampaikan kebingungan abstrak dalam benaknya. Ia baca lembar demi lembar. Deretan kalimat dalam kertas itu ternyata perintah penyerangan distrik 6, distrik terkuat wilayah Zona Bahaya Alpha. Bukannya Leo takut atau tidak sanggup, ia hanya tak mengerti mengapa ini menjadi tugas terakhirnya.

Komandan Aiden menyadari ketidakpahaman tersirat dari raut wajah anak emasnya. Ia terkekeh pelan yang menyebabkannya semakin dihujani tatapan tak paham dari Leo.

“Kemarin lusa para jenderal termasuk Jenderal Besar datang. Aku dipindahkan ke pusat. Ada beberapa kekacauan yang perlu kubersihkan di sana. Otomatis kursiku kosong.” Komandan Aiden beranjak dari kursinya menghampiri Leo. Ditepuknya pundak Leo kuat. “Markas Ares adalah yang terbaik dari markas-markas lain di bumi. Kita penghancur terkuat. Bayangkan bila tak ada yang mengendalikan tempat ini. Jadi, aku mengambil keputusan, Leonardo Aleon kau penggantiku.”

Meskipun masih tidak percaya dengan perkataan komandannya Leo berdiri memberi hormat sebagai tanda diterimanya perintah itu.

“Inilah yang kusuka darimu. Tak banyak bicara dan tak banyak memberontak. Selamat bekerja! Tugasmu sebagai komandan utama dimulai setelah kau dan pasukanmu berhasil menghancurkan distrik 6.”

“Apabila kami gagal?” tanya Leo sedikit meragu. Pasalnya distrik itu dijaga ketat oleh ratusan pemberontak yang sebagian dari mereka adalah seniornya. Komandan Aiden mengganti senyumnya dengan raut datar. Ia menepuk keras dada Leo.

“Kau tidak pernah mengecewakanku. Dan tidak akan pernah.”

***

Leo tiba di depan kamarnya. Kertas tugas itu masih tergenggam di telapak kanannya. Sepertinya ia tengah melamun sebab intuisinya tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ravi merebut lembaran itu dari tangan Leo membuat kesadaran sang pemegang kertas kembali. Ia berbalik badan, mendapati sahabatnya membolak-balik surat perintah Komandan Aiden.

“Wow! Apa ini? Distrik 6? Sepuluh tahun berlalu dan ia masih berambisi menghancurkan distrik itu. Sepertinya ia lupa markasnya porak poranda akibat berurusan dengan distrik 6,” komentar Ravi setelah mengetahui apa isi surat perintah itu. Ia pun menemukan surat tugas khusus Leo. “Hah! Bahkan ia menjadikanmu komandan utama. Tolak saja perintah ini!”

“Kenapa?”

“Pikir baik-baik! Ia mengirimmu ke distrik itu lalu setelah kau berhasil baru diangkat menjadi penerusnya. Apa itu masuk akal?” Ravi melempar surat tugas ke tanah yang disambut oleh tatapan tak suka dari kaptennya. Sejurus kemudian lengan Leo mendorong leher Ravi hingga menempel ke tembok.

“Jadi kau bilang pasukan kita akan mati dalam penyerangan itu? Atau maksudmu aku akan mati sebelum bisa duduk di jabatan itu? Kau meremehkan kemampuan pasukanmu sendiri, Ravi.”

Wow, slow down brother! Aku tidak ingin mengatakannya tapi itulah yang nantinya terjadi.” Tak terima dengan perlakuan Leo, Ravi balas mendorong hingga saudaranya terpental ke lantai. Satu hentakan keras membuat tubuh Leo seakan remuk tertimpa baja. Leo tahu seberapa kuat adik angkatnya itu. Namun ia heran kenapa ia merasa bukan adiknya yang ada dihadapannya. Serupa tapi tak sama.

Ravi menghambur pergi, tak menghiraukan Leo kesakitan. Leo hanya bisa menyaksikan kepergian Ravi sembari mencoba untuk berdiri. Ketika berhasil menegakkan tubuh meski harus menopang badan dengan satu lengan menempel di tembok tiba-tiba Ravi kembali dari arah lain. Berlawanan dari saat ia pergi.

“Hai, sedang apa kau di sini? Menungguku?” tanya Ravi seolah-olah mereka belum berjumpa sejak pemanggilan Komandan Aiden. Intuisi Leo terpanggil saat hal-hal mencurigakan memenuhi saraf otaknya. Ia belum membalas pertanyaan Ravi meskipun yang bertanya menunggu jawaban. Leo berlalu masuk kamarnya diikuti oleh Ravi dengan tampang masih ingin tahu.

“Ada yang salah?” tanya Ravi lagi tapi kembali tak mendapat jawaban. Leo malah sibuk mengutak-atik komputernya. “Apa kau mencurigai sesuatu? Aku juga. Tadi aku berpapasan dengan Komandan Aiden. Aku mendengar percakapannya melalui telepon. Kurasa dengan salah seorang jenderal dari pusat. Ia membicarakan tentang pemberontak. Dan jika aku tak salah dengar pemberontak itu adalah salah satu dari kita. Makanya, Komandan Aiden mengangkatmu sebagai komandan setelah ia pergi ke pusat.”

Leo menghentikan aktivitasnya lalu memandang ke arah saudaranya. Ravi hanya tersenyum simpul seraya berujar, “Haha, mana mungkin aku mengkhianatimu kakak. Komandan itu terlalu bersemangat karena dipanggil pusat sampai mengada-ada hal yang bukan-bukan. Tentu saja. Bayarannya fantastis, 10 kali lipat dari sekedar duduk memimpin markas.”

Ia semakin curiga. Ada sesuatu dibalik peristiwa janggal yang terjadi padanya secara bertubi-tubi. Leo mengambil langkah seribu menuju ruang CCTV yang letaknya di ujung lorong utama. Segera ia masuk walau petugas keamanan menghalaunya karena belum mendapat ijin. Leo tak peduli kicauan para petugas itu bahkan ancaman. Karena ia telah menemukan penyusup yang menyamar menjadi Ravi.

“Tutup seluruh pintu keluar! Ada penyusup!” perintah Leo yang sontak membuat seluruh personil keamanan kalang kabut. Leo berlari lagi menuju tempat lain.

“Komandan, kurasa distrik 6 telah mengetahui rencana penghancuran kita. Mereka mengirim mata-mata kemari. Kita harus cepat bertindak!” Komandan Aiden yang tadinya bersantai menikmati espresso hangatnya secepat kilat melempar gelasnya asal.

“Bagaimana mungkin? Segera perintahkan pasukanmu untuk melakukan penyerangan ke distrik 6.”

“Tapi kami baru saja pulang dari perang. Pasukanku perlu mengumpulkan tenaga.”

Komandan Aiden menarik paksa kaus hitam Leo. “Aku tidak mau tahu. Kau bisa mengerahkan seluruh pasukan di markas ini bahkan para trainee sekalipun.”

Kondisi tenang dalam sekejap berubah kacau. Layaknya ribuan beras yang tumpah dari karungnya seluruh pasukan berlarian ke sana ke mari mengambil peralatan tempur. Kendaraan-kendaraan super canggih berkekuatan monster dikeluarkan dari kandangnya.

Pasir-pasir berterbangan saat tank-tank raksasa pasukan yang dipimpin oleh Leo melewati gurun pasir tandus. Sejumlah 10 tank dan 25 truk angkut menerjang badai pasir yang kala itu sedang terjadi. Leo bukan hanya memimpin pasukannya. Kali ini seluruh batalion bersatu di bawah kepemimpinannya. Bebannya tambah berat mengingat ia harus membawa pulang kemenangan atau mati di medan perang.

Distrik 6 telah bersiap. Dalam radius 1 km dalam jarak pandang yang tak sampai 10 meter ribuan tentara pemberontak menghadang para militan. Baku tembak pun terdengar. Korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Distrik 6 ditembaki tanpa ampun oleh tank-tank raksasa. Kota yang telah hancur itu semakin kehilangan bangunan-bangunannya.

Leo didampingi oleh Ravi  dan beberapa pasukan menerjang maju ketika semua orang sibuk membunuh. Mereka berhasil memasuki sebuah gedung dengan penjagaan ketat. Dengan menghabisi beberapa penjaga saja pintu besi besar di hadapan mereka tak lagi dalam pengawasan ketat.

“Kita berpencar. Ravi, kau bawa separuh pasukan ke kanan. Sisanya iku aku,” perintah Leo ketika sampai di antara dua jalur. Ravi mengangguk kemudian segera bergerak.

Sepanjang lorong gedung tua itu sangatlah sepi. Berbeda dengan suasana di luar yang sedang pesta ‘kembang api’. Meskipun begitu kewaspadaan Leo sama sekali tak menurun. Hingga tibalah mereka di ujung lorong. Tembok bata habis tergantikan oleh baja anti peluru. Dari kejauhan dapat terlihat pintu dengan prajurit bersenjata lengkap.

“Itu pasti ruang utama.” Leo dan pasukannya berhenti di belokan menyusun strategi penyerangan. “Ingatlah! Lebih baik mati di medan perang daripada pulang dengan kekalahan.”

Dan mereka menyerbu. Peluru berterbangan ke mana-mana setelah tuannya menarik pelatuk. Penjaga yang lengah dapat ditumpas meskipun dua dari pasukan Leo terpaksa meregang nyawa. Ketika pintu terbuka Leo beserta pasukannya menembak tanpa ampun. Salah seorang anggota melempar bom ke berbagai sudut ruangan dan menyebabkan ledakan kecil yang mampu menewaskan lima orang sekaligus. Kepanikan melanda ruangan super besar itu. Namun tak lama sebab seluruhnya telah tewas di tangan pasukan elit.

Leo menurunkan senjata, memandangi lautan darah yang mengalir di sekitarnya. “Ada yang aneh,” ujarnya dalam hati. Distrik 6 terkenal dengan pertahanannya yang sulit ditembus bahkan oleh militer pusat. Tapi dalam kurun waktu singkat saja ia berhasil menghabisi nyawa orang-orang distrik 6. Sebuah panggilan walkie talkie masuk segera dijawan oleh Leo. Dari sana terdengar kabar bahwa pasukannya telah memenangkan peperangan. Bahkan jumlah pasukan dan amunisi tak banyak berkurang.

Leo mengambil identitas seorang mayat yang ternyata berpangkat mayor. Keheranan semakin menjadi-jadi. Ia menekan walkie talkie-nya mencari saluran Ravi. Namun nihil tak ada jawaban.

“Ke mana anak itu?” gumam Leo. “Cari Ravi dan pasukannya! Tetap waspad.” Leo menyebar pasukannya. Dirinya sendiri juga mencari keberadaan Ravi dengan terus berusaha menghubunginya.

Satu jam pencarian dan hasilnya nihil. Tidak ada tanda-tanda Ravi dan pasukannya. Bahkan dari mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah sepertinya tidak ada Ravi. Banyak mayat yang hancur wajahnya dan tak dapat lagi diidentifikasi identitasnya.

Komandan Aiden berulang kali menghubungi Leo untuk segera kembali ke markas. Dengan kondisi saudaranya belum ditemukan tidak mungkin ia kembali. Apalagi keadaan ini sungguh membingungkan walau pasukannya telah menang melawan musuh legendaris militer.

“Ketua, sebaiknya kita kembali ke markas. Hari mulai malam gurun akan mengalami penurunan suhu sangat drastis. Kita tidak mau kehilangan pasukan hanya gara-gara terserang flu gurun,” ujar Komandan Batalion Andrew pada Leo. Flu gurun memang sangat berbahaya di era sekarang. Polusi-polusi perang menyebabkan atmosfer semakin rusak. Wabah penyakit mematikan cepat menyebar apalagi dalam suhu rendah. Leo tak ingin pasukannya mati sia-sia. Dengan berat hati ia meninggalkan distrik 6 dengan membawa beribu tanda tanya di dalam kepala.

“Ia tidak mudah dibunuh.”

***

Pesta besar-besaran diadakan di Markas Ares. Nama yang diambil dari dewa perang mitologi Yunani itu berhasil memetik anugerah peperangan. Malam itu benar-benar merupakan hiburan sekaligus liburan bagi pasukan inti maupun trainee.

“Dalam sejarah militer kita telah menorehkan kalimat kemenangan terbesar. Distrik 6, distrik yang melegenda dengan banyak pasukan pemberontak itu telah berhasil kita runtuhkan. Habis tak tersisa. Pusat menyambut kemenangan ini dengan penuh kebanggaan. Maka, kalian semua diberikan hari bebas selama 1 minggu penuh.” Sorak-sorai memenuhi aula utama markas ketika Komandan Aiden menuntaskan pidatonya dengan pengumuman menggembirakan bagi para pasukan. “Ah, aku sebagai komandan kalian sangat senang karena sebelum kepergianku kalian telah mencatatkan kemenangan berharga dalam masa kepemimpinanku. Akan aku umumkan sekaligus sebagai sebuah penghargaan. Komandan Batalion Leonardo Aleon pada malam ini resmi menggantikan posisiku sebagai komandan utama. Leo majulah!”

Leo mengenakan seragam lengkap memberikan gestur hormat sebelum naik ke atas panggung. Berhadapan dengan Komandan Aiden.

“Anakku, kebanggaanku, kau resmi menjadi Komandan Utama. Jaga bumi ini baik-baik.” Komandan Aiden melepas tanda pangkatnya lalu menyematkan pada bahu datar Leo. Riuh tepukan kembali terdengar saat Leo berbalik badan menampakkan ketampanan dan kegagahannya di depan ribuan pasukan. Tidak ada pidato darinya. Apa yang bisa didengar dari orang yang tak banyak bicara? Laki-laki itu tak pernah menyangka jabatan komandan utama akan ia pegang dalam waktu singkat. Dulu, ia sangat ingat bagaimana Komandan Aiden berjuang mati-matian demi mencuri perhatian dari Jenderal Besar. Tapi Leo bagaikan tertimpa durian runtuh.

Pelantikan berlangsung khidmat. Komandan Aiden memberikan pidato sebelum menyematkan pangkatnya pada Leo. Pun Jenderal Besar yang turut menyumbang suara lantang dan tegasnya di balik mimbar.

Kini, tiba saatnya Leo memberikan sepatah dua patah kata. Seperti singa yang melindungi teritori dan koloninya,  dengan gagah ia berdiri di atas podium. Menyaksikan lautan manusia tidak membuatnya gugup. Namun tak ada yang berbisik mencerca ataupun mengejek. Mereka paham komandan baru mereka adalah sebongkah es kutub selatan.

Red for blood, red for earth. Terima kasih.” Leo menyelesaikan kalimat singkatnya diikuti oleh riuh siul, teriak, dan tepukan tangan. Para wanita terlihat sangat bahagia menyaksikan wajah tampan Leo tersorot cahaya lampu. Leo yang tak suka dengan suasana seperti ini segera turun sambil menyalami satu-persatu pemimpinnya.

“Aku yakin Ravi bangga padamu,” tutur Komandan Aiden–yang masih terus menjadi komandan bagi Leo. Sebenarnya, ia menangkap gelagat aneh dari dua pemimpin yang sangat disegani itu. Dari tadi tutur kalimat mereka seakan menggambarkan bahwa Ravi telah tiada. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam Leo percaya Ravi masih bernapas di luar sana, entah di mana.

Perayaan berlangsung semalam suntuk. Namun Leo sama sekali tak berbaur di dalamnya. Ia masih memikirkan keberadaan Ravi serta keanehan yang ia saksikan hari ini. Leo memilih untuk berdiam diri di ruangannya. Memandangi langit-langit kosong berwarna abu-abu kusam. Biasanya Ravi selalu menemaninya berbicara meski Leo lebih cenderung menjadi pendengar.

Leo mulai merindukan Ravi. Ditambah bumbu kekhawatiran tiap malam matanya tak mau terpejam. Pikirannya terus bekerja mengumpulkan fakta-fakta janggal yang ia temui di lapangan.

“Ke mana bocah itu pergi?”

“Masa depanmu masih panjang, Nak.” Leo tersentak kaget mendengar suara berat dengan aksen khasnyayang tidak dimiliki oleh bangsa manapun–dari ambang pintu ruangannya. Ia segera memasang sikap siap setelah mengetahui Jenderal Besarlah yang tadi menanggapi gumamannya.

“Terkadang kehilangan adalah kekuatan terbesar bagi manusia. Meskipun kebanyakan hancur karenanya.” Jenderal Besar menghampiri Leo lalu menepuk pundaknya, “Aku tahu kau beda. Jangan sia-siakan hidupmu. Relakan dia dan buat dia bangga!”

“Apa maksud Anda?”

Jenderal itu menyunggingkan senyuman hangat, “Mulailah hidup baru. Kesetiaanmu pada kami adalah pertahanan terkuat bumi ini.”

***

Enam bulan berlalu sejak pengangkatan Leo menjadi pemimpin markas Ares. Sistem berjalan dengan baik bahkan banyak mengalami peningkatan. Para trainee digembleng habis-habisan namun tetap dalam porsi wajar. Sehingga lahirlah ‘Leo-Leo’ baru yang siap berkeliling dunia menumpas kesengsaraan.

Sebenarnya selama ini Leo telah melakukan sebuah penyalahgunaan kekuasaan. Dibalik pangkat komandannya dengan bebas ia mengirim orang-orang khusus yang ia seleksi dari pasukan-pasukan istimewa. Leo belum percaya kalau Ravi telah tiada.

“Bagaimana?” tanya Leo ketika salah seorang kepercayaannya datang menghadap. Jam dinding menunjukkan tengah malam. Semua aktivitas berhenti dan keadaan ini selalu Leo manfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang Ravi.

“Kami mencurigai distrik 6.”

“Distrik itu berubah menjadi gurun pasir. Sama sekali tak ada lagi kehidupan di sana.”

“Tapi selalu ada keganjilan di sana tiap kali kami melintas pada larut malam seperti ini. Tanahnya seakan bergerak naik. Namun ketika kami cek kejadian itu terhenti seketika.” Leo terlihat berpikir keras mencerna kalimat suruhannya. Ia lalu mengibaskan tangan ke udara lantas sang pesuruh hilang dalam hitungan detik.

Ia berkelana dalam asumsi-asumsi saat tiba-tiba seekor kucing melompat ke atas pangkuannya.

“Astro,” panggil Leo antusias. Astro adalah kucing yang ia temukan di gurun dekat markas kala ia mengawasi pelatihan trainee. Kucing berbulu putih lebat itu seolah-olah menjadi pengisi sebagian ruang yang dulu pernah diisi Ravi. Meskipun tak dapat menggantikan posisi Ravi setidaknya Astro membuatnya tersenyum di saat-saat Leo jatuh dalam kepenatan.

“Kucing kecil, aku selalu berpikir Tuhan mengirimmu untuk menggantikannya. Namun apa daya aku tak bisa menghapus jejaknya begitu saja. Entah kenapa aku merasa bahwa kau sebelumnya aku pernah bertemu denganmu. Dulu sekali aku pikir kau adalah milik seseorang yang pernah ada dalam hidupku.” Kucing itu mengeong ketika jari-jemari Leo menelusup di antara bulu-bulunya. Namun bukannya tertidur Astro malah bangkit lalu melompat keluar ruangan.

Keluarnya Astro bukan sesuatu yang baik. Pasalnya di markas ini tidak ada makhluk hidup lain selain manusia. Apabila ketahuan ada binatang di sini secara otomatis binatang tersebut langsung kehilangan nyawanya. Karena ada indikasi penularan virus berbahaya yang sangat cepat melalui binatang dibandingkan perantara manusia. Lalu kenapa Leo tak khawatir dengan indikasi tersebut? Apapun alasannya ia tak mungkin meninggalkan binatang kesukaannya itu mati di gurun. Sekalipun ia harus suntik antivirus tiap 4 hari sekali.

“Hei, Astro berhenti!” Usaha Leo tak membuahkan hasil. Astro terus berlari memutari lorong hingga ia kembali sampai di depan ruangan Leo.

“Jadi kau tak punya tujuan lain selain ruangan ini ya kucing nakal?” Leo yang gemas segera merengkuh Astro dalam pelukannya sembari membawanya masuk. Ketika ia menuju meja ia melihat pintu rahasia terbuka. Pintu itu tak pernah dibuka meskipun banyak komandan telah menempati ruangan itu, termasuk Leo. Perlahan ia memasuki ruangan itu dan menemukan sebuah tas koper berukuran medium berlapis baja dan sebuah layar portable medium di dekatnya. Dibukanya koper misterius itu dengan hati-hati. Ternyata koper itu berisi potongan-potongan koran lama. Leo membaca satu persatu head-line potongan koran tersebut.

“Sejarah awal perang dunia ketiga. Jenderal Besar yang hidup abadi. Apa maksudnya?” Lalu di balik tumpukan kertas itu terdapat sebuah foto yang usianya mencapai 1 abad lebih, sama seperti usia koran-koran itu. Sungguh kaget Leo mengetahui bahwa foto lusuh itu adalah Jenderal Besar yang kini memimpin militer di bumi. Seluruh pertanyaannya telah terjawab. Pertanyaan yang timbul sejak kepergian Ravi.

“Jadi,” sebuah video tiba-tiba terputar dari layar portable. Sebuah kejutan, itu Ravi.

“Hai, kakak. Do you miss me? Aku minta maaf karena menghilang begitu saja. Tapi dibalik semua itu aku telah menemukan fakta-fakta penting dan ruangan ini. Bumi bukan milik militer.” Video berdurasi 2 menit 30 detik itu sontak membuat Leo terdiam. Ia senang mengetahui Ravi masih hidup dan terlihat sehat di video tadi. Namun yang membuatnya lebih khawatir dari sebelumnya adalah kalimat terakhirnya.

Ya, itu kalimat yang selalu diucapkan oleh para pemberontak militer.

“Tutup semua gerbang keluar dan sebar pasukan. Ada penyusup.” Tiba-tiba terdengar teriakan lantang dari seorang komandan pasukan membuat jantung Leo hampir melecos ke bawah lambungnya. Suasana malam di markas bawah yang tadinya hanya diisi oleh petikan dawai dari Nicole berubah menjadi kepanikan. Seluruh pasukan dikerahkan, pintu diamankan.

Dan terhenti seketika kala seseorang berucap, “Berhenti!” Ketukan sepatu dengan lantai marmer menimbulkan bunyi yang sangat familiar di telinga Leo. Ditambah suara tongkat yang mengiringi langkah kaki si sumber suara.

“Jenderal besar!” Leo memberi hormat. “Apa yang Anda lakukan di sini?”

“Abigael!” Seseorang yang dipanggilnya Abigael menyeret laki-laki dipenuhi luka lebam di sekujur tubuhnya. Diikuti bawahannya yang turut membawa 3 orang yang sama keadaannya dengan Ravi.

Leo berusaha terlihat tenang meski hatinya terbakar api kerinduan sekaligus kekhawatiran yang mendalam. Ravi dan pemberontak lain didorong paksa hingga tersungkur di depan Leo.

“Kau komandan utama di sini. Masih ingat bukan peraturan utama tempat ini?” Jenderal Besar menepuk pundak Leo kemudian pergi dari hanggar. Ia paham apa yang harus dilakukan pemimpin markas. Dilema besar meliputi kebijakan yang harus ia ambil. Menatap sang Jenderal Besar membuatnya mengingat artikel-artikel koran yang terdapat dalam ruang rahasia. Tapi di sini ia tidak mungkin mengalahkan jenderal yang ternyata memang tidak pernah bertambah tua. Berita-berita di koran itu semakin menunjukkan kebenarannya.

Perginya sang jenderal beriringan dengan kedatangan Astro.

“Guano! Kau melakukan tugasmu dengan baik.” Salah seorang pemberontak menyambut Astro yang mengerang di depannya. “Namanya Guano, bukan Astro. Ia kucingku sekaligus mata-mataku. Jika kau ingat siapa aku kau pasti juga mengingat kucing ini.”

Pemberontak itu melempar senyum pada Leo. Sial, lecutan memori terkuak di ruang otaknya. “One?” Senyuman si pemberontak semakin lebar menandakan tebakan Leo tepat sasaran. Satu persatu wajah para penyusup mulai muncul dalam memorinya. Orang-orang di hadapannya adalah kawan-kawannya dulu ketika ia tinggal di distrik 6. Kenangan tentang kedua orang tuanya pun terdesak dari kuburan. Leo menggeleng-gelengkan kepala, menghilangkan jejak-jejak kilas masa lalu yang tak boleh mempengaruhi kebijaksanaannya sebagai seorang komandan.

“Sekeras apapun kau mengubur masa lalumu, kau tetap tidak bisa menghapusnya seratus persen.” Akhirnya Ravi angkat suara.

***

Dan di sinilah dua bersaudara itu. Saling berharapan, salah satunya termenung dingin dan yang lain tangannya terikat rantai baja.

“Apa rencanamu?” Pertanyaan yang pantas diucapkan pada seseorang yang lama lenyap kemudian kembali lagi.

“Haruskah aku bicara sekarang?” Leo tidak menjawab. Ravi terkekeh sejenak, “Masih dingin. Baiklah, aku memilih diam dan eksekusi saja diriku saat ini.”

“Ravi, kumohon!”

“Leo, berapa banyak manusia yang telah kita renggut nyawanya? Lebih parahnya lagi mereka tidak bersalah sama sekali. Kalau saja kita mengetahui ini sejak lama, tidak akan sebesar ini rasa bersalahku pada mereka yang telah mati sia-sia.” Ravi tertunduk setelah berujar panjang lebar pada Leo. Laki-laki tiga tahun lebih muda dari Leo itu benar. Tangan mereka ternoda oleh darah-darah yang tak seharusnya tumpah.

“Distrik 6 sudah merencanakan ini jauh-jauh hari bersama distrik-distrik lain yang masih tersisa. Aku mau membalaskan kematian orang-orang itu. Apa kau mau ikut?” lanjut Ravi. Leo kehilangan kata-kata. Satupun huruf tak dapat ia rangkai menjadi deretan kalimat. Leo hanya mengangguk setuju yang disambut dengan senyuman hangat dari Ravi.

Red for blood, red for earth.”

*

*

*

*

*

*

“Kapten, sudah berakhir.” Seorang ajudan mendatangi tuannya yang tengah duduk menikmati teh di waktu fajar sembari membaca koran. Koran pertama yang terbit setelah berabad-abad dilarang beredar. Bukannya dilarang. Seluruh wilayah luluh lantak. Tidak mungkin ada percetakan kertas bsia beroperasi. Tapi kini matahari terbit dengan gembira. Pun disambut oleh seluruh manusia yang tersisa dengan helaan napas lega.

“Ya. Mereka adalah pahlawan.” Kapten itu menekuk korannya, mengguntingnya, lalu memasukkannya dalam figura lusuh. Kertas abu-abu kusam itu memuat satu tulisan yang dapat mengubah dunia.

Headline News

INDEPENDENT DAY: Markas Militer Pusat dan Markas Ares Hancur oleh Ledakan Dahsyat.

6 thoughts on “[Movie Festival 4] The Earth by Charon Ly”

  1. Pertama-tama salam kenaaaaaaalll 😍
    Selalu deh IFK menyuguhkan genre kece, ide gila yg anti mainstream (karena klo aku pasti ga kepikiran ide ide kek klian😭)

    Aku suka cara kmu membawakan ceritanya. Apalagi temanya lebih ke perang perang gitu kan? Meski jujur aja aku masih bingung pas udah nyampe ending (atau emang otakku yg rada lemot, mianhae😭)

    Aku suka tokoh Leo yg nyaris sama seperti yg kubayangkan 😂 diem diem gregetin gtu. Karakternya kuat bgt di sini. Karena bca ini jdi keingetan doc 😖
    Keep writing yaaa😚😚😚

    Suka

  2. revolusioner. ide tak biasa lain yang muncul di ifk.

    halo, sang revoluisoner! keren penggambarannya. karena emang alurnya lagi perang, perpindahan cepet itu udah biasa. intrik-intrik yang tersembunyi juga selalu ada dalam perang. suka banget bagian leo menyutujui ide ravi untuk membela distrik 6 dan bagian akhir dimana distrik 6 menang yang tanpa banyak kata. perjuangan memang diawali dengan tindakan!

    so far, good! semangat nulis yaa!

    Suka

  3. hi there!

    aku selalu suka genre peperangan dan pertumpahan darah macam giniii!
    dan macem nonton hunger game versi lain (?) ya pasti distriknya macem distrik di hunger games yang harus patuh ke pusat.

    suguhan cerita ngga cuman sekedar pertumpahan darah, tapi juga tentang merubah negara? heroik banget apalagi memerdekakannya dengan meledak gitu. eh semoga leo sama ravi ngga mati😦 wkwkwk oot banget yg barusan ini. dan red di fict ini, ngga bisa digambarkan dengan kata-kata. rednya antimainstream sekaliii. keceh.

    anyway, aku menemukan secuil typo di akhir, “percetakan kertas ‘bsia’ beroperasi.” tapi tidak mengurangi isi cerita yang kece ini dududu.

    see ya~

    Suka

  4. Salam kenal, Charonly-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    The Earth. Lalu aku baca quotes “Red for blood. Red for earth.”

    Ah.

    Militer.

    Isi Cerita:
    Pertama kali baca, aku bisa banget membayangkan sosok Leo yang dingin dan sosok Ravi yang hangat. Lalu aku suka nama Leonardo Aleon. Keren.

    “Sebenarnya ada satu pintu di dalam ruangan tersebut. Namun tidak ada yang pernah tahu apa yang tersimpan di balik pintu itu.”

    Ada apa dengan ruangan itu? Ada sesuatu yang misterius kah?

    Lalu tiba-tiba Ravi ada dua. Aku pun makin penasaran. Juga dengan rasa keanehan yang dirasakan Leo. Aku juga merasa ganjal dengan bosnya si Leo. Hal ini bikin aku terus scroll.

    Lalu pemberontakan di distrik 6. Aku tuh miris bacanya. Kenapa tiba-tiba diserang deh? Kan mereka gaada salah apa-apa. Eh tapi aku gatau deh mereke ada salah dengan militer atau ga.

    TERUS TIBA-TIBA RAVI HILANG.

    Kemana Raviku?

    Penjelasan Leo yang rindu akan Ravi dapet banget. Lalu ada kucing bernama Astro. Seketika keinget senyuman Moonbin. Hehe.

    Lalu Leo mengikuti Astro hingga ke ruangan misterius. Yes, akhirnya ruangan yang sempat aku lupakan itu terungkap juga. Awalnya aku pikir bakal ada jasad pasukan Ravi di situ. Ternyata cuman koper berisikan potongan koran serta video.

    Dan di video itu ada Ravi.

    Yes. Raviku masih hidup.

    Lalu Leo disuguhi Ravi serta teman-temannya.

    Lalu ada One yang aku baca di cerita sebelumnya.

    Lalu semuanya pun terbongkar.

    Ternyata pihak militer yang jahat.

    Lalu Leo setuju dengan Ravi. Kesan saling percayanya dapet banget.

    Aku menemukan beberapa typo:
    iku —> ikut
    bsia —> bisa

    Aku suka cerita ini. Walaupun tentang militer dan perang, cerita ini dikemas dengan menarik. Cara menyampaikannya gak bikin bosen.

    Lalu ada sosok One. Kyaaaaa. Apa cerita ini bagian dari novel Sirkus Samsara buatan Kisoek. Aku suka deh dengan sistem event IFK yang satu ini. Lucu.

    Cerita ini mengingatkanku dengan pelatihan militer untuk ospek kuliah. Huhu.

    Terimakasih sudah memberikan bacaan seperti ini!:)

    With Love,

    Energytea

    Suka

  5. Halo kak Ly! Tob disini. Salam kenal:)

    Ceritanya seru, tema yang diambil pun tidak seperti biasanya. Tentang militer dan keluarga(?). Alurnya agak kecepetan, menurutku. Tapi aku suka sekali pas bagian-bagian yang bikin penasaran karena bikin penasaran dan gak sabar buat cari tahu kenapa kok Leo gini kenapa ravi ngilang. Dan, endingnya mengejutkan. Dan aku suka.

    Nice, kak!^^

    Suka

  6. Halo!
    Salam kenal, kak!

    Aku menemukan beberapa typo. Terus juga kata manapun, apapun itu dikasih spasi jadi mana pun, apa pun (cmiiw)
    Terus kata dibalik. Itu seharusnya di balik karena menunjukkan tempat.
    Kalimat “aku merasa bahwa kau sebelumnya pernah bertemu denganmu” ini bikin aku gagal paham😂
    Tapi di luar itu, ceritanya wow sekali! Mengalir banget. Nggak ngebosenin. Bikin penasaran.

    Nice, kak! Keep writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s