[Movie Festival 4] Be the Sun – ChanLu’s Mate

Be the Sun

Be the Sun

Junhoe & Jisoo

Friendship, Bromance, Romance, Slice of life | Rated R for language and brief sexual reference | Vignette

Untuk Junhoe yang ‘ngakunya’ nonton 12 Angry Men dan untuk hutang birthday fic yang gak pernah jadi dua tahun berturut-turut, ini buat lo. Juga untuk Jisoo yang layak untuk main di lebih banyak film atau drama yang lebih prominent.

Let’s go back to our roots; being the sun. Not only the sun that shines every nook of darkness, but also the sun that radiates warmth to the cold.

 

“Okay, okay. I won’t bring it up again.” Jisoo mengangkat kedua tangannya tanda menyerah begitu Junhoe mendelik ke arahnya. Keheningan sejenak di antara keduanya memberikan Jisoo cukup waktu untuk kembali menyusun kalimat yang sejak lama menggelitik keingintahuannya.

“Ini bukan karena Ahri kan?” Tangan Junhoe yang memegang gelas bir berhenti tepat di depan mulutnya. Ia biarkan gelasnya menganggur di atas meja kemudian menatap Jisoo tanpa sabar.

“Kenapa tiba-tiba namanya disebut?”

“Jadi ini benar gara-gara dia?”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Reaksimu yang bilang begitu.”

Junhoe merasakan kerutan dalam di keningnya seketika. Dan seketika itu pula keningnya mengendur diikuti dengan helaan napas panjang. Setelah berhasil menahan dirinya untuk tidak melayangkan tinjunya pada Jisoo, Junhoe dengan mantap menyatakan pernyataannya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Ahri.”

“Kupikir kau masih belum bisa menyebutkan namanya.”

Junhoe sudah siap untuk menyanggah namun Jisoo tidak memberikannya kesempatan.

“Kau bisa menyebutkan namanya bukan berarti kau sudah melupakannya, Junhoe. Kau tahu kau tak bisa membodohiku.”

Melupakan Ahri memang tidak semudah yang Junhoe bayangkan. Gadis itu begitu memengaruhi setiap inci kehidupan Junhoe sampai ke titik di mana apa yang ia lakukan selalu dibayang-bayangi olehnya; bagaikan hantu yang terus mengikuti dan mengamatinya tanpa bosan. Ia merasa lebih hidup ketika bersama Ahri serta tawa dan pelukan eratnya. Mereka melakukan berbagai macam hal bersama; hal-hal yang belum pernah Junhoe lakukan sebelumnya dan ia menikmatinya seiring dengan berjalannya waktu. Ia mencintai Ahri dengan segala spontanitas dan jiwa bebasnya. Dan untuk pertama kalinya, Junhoe merasakan secuil kebahagiaan melakukan hal-hal yang belum pasti bersama Ahri; mengambil risiko.

She excites him, Jisoo tahu benar hal itu. Ketika excitement itu hilang dari dalam dirinya, ia kehilangan hasrat untuk menjalani hidup sebagaimana yang ia jalani sebelumnya. Bagi Junhoe, tanpa gadis itu di sisinya, apa pun yang ia lakukan, bahkan untuk dirinya sendiri, tidak akan ada gunanya. She’s not here to see it anyway, ujarnya. Junhoe sudah terlalu lama terlarut dalam kehilangan yang selalu ia cari kembali dengan susah payah. Junhoe tidak akan bisa sembuh jika ia terus-menerus meraba lukanya daripada mendiamkannya. Junhoe harus belajar menjalani kehidupannya dengan menerima keberadaan luka itu apa adanya.

“Can we not talk about this?” Menyadari suasana yang tiba-tiba berubah tidak enak, Jisoo merasa memang sekarang bukanlah momen yang begitu tepat untuk membicarakan hal itu. Padahal ia sudah sengaja mengajak Junhoe minum-minum supaya kepalanya rileks sedikit. Ya, apa boleh buat?

Fine, tetapi tawaran kencan buta itu masih berlaku.”

Hyung,” rengek Junhoe. Sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa supaya mulut lelaki di hadapannya berhenti mengocehkan hal yang tidak penting.

“Well, that’s a first since,” Jisoo menghitung dengan jemarinya kemudian melanjutkan, “forever.”

“Jangan berlebihan.” Junhoe menggeleng dengan senyuman tipis di wajahnya. Ia memang tidak begitu sering memanggil Jisoo dengan embel-embel tersebut. Ia pikir mereka cukup (sangat, mungkin) dekat untuk tidak memikirkan sebutan formalitas apa pun. Jisoo juga tidak begitu mempermasalahkan, anehnya.

“Seriously, though.” Jisoo memulai setelah mengacungkan tangannya, memesan bir lagi untuknya dan Junhoe.

“Kau harus berhenti mengasihani dirimu sendiri. Date as many girls as you can while you’re still young.

“Tidak terdengar seperti saran yang baik di telingaku.” Komentar Junhoe tanpa antusias. Ia tahu Jisoo selalu punya sisi itu di dalam dirinya. Jisoo selalu punya pemikiran yang begitu berbeda dengan Junhoe dalam beberapa hal. Junhoe bahkan tidak mengerti bagaimana pemikiran-pemikiran yang di matanya begitu quirky itu bisa muncul di kepala Jisoo.

“Then you’re missing the point of life!” Seru Jisoo menggebu-gebu. “Kau bahkan tidak tahu kenapa di antara semua tempat, mengapa aku membawamu ke sini.”

“Untuk minum?” Jawab Junhoe tak begitu yakin.

Jisoo memijit pelipisnya sambil memejamkan mata. Ia antara percaya dan tidak percaya seorang seperti Junhoe dengan segala kemahirannya membuat film ternyata agak lamban juga dalam beberapa hal. Ia rasa memang benar di dunia ini tidak ada yang sempurna.

“Bukan. Tapi untuk ini,” bisik Jisoo di akhir kalimat.

Bertepatan dengan itu, seorang waitress dengan dress yang bisa dibilang cukup minim dan ketat datang menghampiri meja mereka dengan dua gelas bir di tangannya. Waitress itu melenggang pergi setelah meletakkan minuman mereka di atas meja dengan senyuman. Dan Junhoe yakin sekali ia melihat Jisoo yang mengamati waitress itu beberapa detik lebih lama. Dan saat itu pula ia menyadari pengunjung di sekitarnya yang sebagian besar adalah laki-laki dan waitress-waitress lainnya yang berjalan kesana-kemari sibuk mengantarkan minuman.

“You’re such an animal.” Junhoe menggeleng. Setengah serius, setengah bercanda.

“Kupikir kau sudah punya pacar.” Lanjutnya sambil kembali menenggak bir yang baru saja diantarkan.

“I did, didn’t I?”

“Wow.” Junhoe tertawa tak percaya. Ia menatap Jisoo untuk melihat jika ada ekspresi bersalah secuil pun di wajahnya hanya untuk dikecewakan. “Demi apa pun, kau sudah punya pacar dan sekarang kau sudah 31 tahun¾”

“Akan 31 tahun 7 bulan lagi.” Jisoo membenarkan.

“¾akan 31 tahun 7 bulan lagi, dan apa? Kau masih berkeliaran memandangi paha wanita seperti orang tidak punya kerjaan. Tell me again, why am I friends with you?

Jisoo memamerkan giginya yang hanya membuat Junhoe semakin kesal. Ia senang jika Junhoe mulai banyak bicara dan mengomelinya seperti ini. Berbeda sekali dengan Junhoe yang sedang duduk di balik meja kerjanya atau Junhoe yang membuat orang-orang disekitarnya mengambil jalan lain karena melihat wajah masamnya.

“Kau tahu kau tidak akan berhenti berteman denganku hanya karena itu.”

“Seriously, one day I’ll file a report of you sexually harrasses women.”

Jisoo terdiam sejenak dengan keningnya yang berkerut; memandangi Junhoe yang dengan tak sabar meminum birnya. “Kau membuatku terlihat seperti seorang bajingan sungguhan.”

“Well, aren’t you are since college?” Goda Junhoe dengan seringaian di wajahnya. Tiba-tiba saja ia jadi teringat akan masa-masa kuliahnya. Masa ketika ia punya sedikit kekhawatiran akan apa yang akan terjadi di hari esok. Ia ingat Jisoo pada masa itu yang selalu menampilkan senyuman boyish-nya kemanapun ia pergi. Serta perempuan-perempuan yang selalu meminta Junhoe untuk memperkenalkan mereka pada lelaki itu. Ia juga ingat ia pernah bertanya kepada salah satu pengagum Jisoo apa yang membuatnya begitu menggilai Jisoo. Dan Junhoe ingat ia dibuat bingung dengan jawaban perempuan itu yang mengatakan suara serak Jisoo-lah yang membuatnya jatuh hati. And damn, ia bahkan ingat bagaimana wajah cinta pertamanya ketika memainkan rambut di bawah lindungan pohon besar di taman kampus.

Kadang memiliki memori yang bagus bukanlah suatu keuntungan bagi Junhoe. Ia bisa mengingat sekecil atau setidak penting apa pun kejadian yang pernah dialaminya. Tetapi bukankah lebih baik jika hal-hal tidak penting itu dilupakan saja untuk mengingat sesuatu yang lebih penting? Sayangnya ia tidak memiliki kemampuan itu. Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa sulit sekali baginya menghilangkan Ahri dari memorinya. Karena sampai saat ini, Junhoe masih ingat perasaan menggelitik yang muncul ketika Ahri berbisik di telinganya.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” ujar Jisoo setelah berdeham; berusaha mengalihkan pembicaraan. “Ngomong-ngomong, apa ya yang kita bicarakan sebelum ini?”

“Oke. Akan kulupakan semua percakapan kita sampai pada detik ini. Akan kuanggap alasan kita disini hanya untuk merayakan kecil-kecilan proses preproduction yang sudah rampung. Bukan karena kau yang ingin melihat paha perempuan atau kau yang berusaha membujukku ikut kencan buta. Jika kau melakukannya, I won’t bring it up to you.”

“Tentu saja kita datang ke sini untuk merayakan itu!” Jisoo berseru dengan penuh semangat yang Junhoe tahu sekali ia memaksakannya. Junhoe memutarkan bola matanya sebelum menyambut tangan Jisoo yang menunggu untuk ditos.

“For finishing the most draining part of filmmaking.” Jisoo mengangkat gelas birnya dan mengadunya dengan milik Junhoe sebelum meneguknya.

So,” ujar Jisoo sambil mengamati Junhoe. Menimbang apakah topik yang akan diangkatnya kali ini akan kembali membuat Junhoe jengkel. Menyadari hal itu sepertinya layak untuk dicoba, Jisoo melanjutkan. “Aku tidak tahu kau dekat dengan asisten direktur baru kita.”

“Sohyun?”

Jisoo mengangguk. Menghiraukan pandangan aneh yang dilemparkan Junhoe padanya dan menghiraukan fakta bahwa Junhoe memanggil perempuan itu dengan keakraban yang begitu jelas.

“Berhenti mencoba menjodohkanku dengan practically semua orang.”

“Kata siapa aku berniat seperti itu? Aku hanya penasaran bagaimana kau bisa dekat dengannya. Kau tahu kan dia itu,” Jisoo terdiam. Berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan pikirannya tanpa melukai perasaan siapa pun.

Peculiar?” Sahut Junhoe melengkapi.

“Ya, itu. Memangnya kau tidak merasa tak nyaman dengannya mengatakan kau warna ini, kau warna itu?”

Not really. Aku pernah bertemu dengan orang yang lebih peculiar darinya.”

Jisoo terdiam mengamati Junhoe yang memberinya tatapan ambigu. Sedetik kemudian ia tertawa paksa dan berkata, “Terimakasih banyak atas pujiannya.”

“Sama-sama.”

Anyway,” lanjut Jisoo sambil mencoba mengenyahkan keinginan untuk menghantam Junhoe dengan gelas birnya. “Dia baru bekerja dengan kita untuk proyek kali ini tetapi dia sudah berhasil membuat hampir seluruh kru kesal padanya.”

“Memangnya dia bilang kau warna apa?”

“Oranye.”

Junhoe mengerutkan keningnya sebelum berkomentar. “Aku tidak mengerti kenapa kau mempermasalahkan hal ini sejak awal. Oranye itu kau. Warm, cheerful, friendly, flamboyant and stuff.

I know, minus the flamboyant.

“With the flamboyant.

Shut up. Aku hanya tidak suka seseorang bilang padaku aku adalah warna ini karena begini, padahal belum tentu semuanya benar. Dia bilang warnamu apa?”

“Hitam.” Junhoe mengedikkan pundaknya acuh tak acuh. Menghiraukan Jisoo yang gagal menahan tawanya.

“Aku dekat dengan Sohyun,” Junhoe mendesah, membuat Jisoo melotot karena kalimat yang sebenarnya belum selesai itu. “Hanya sebatas karena dia tahu apa yang kuinginkan dan dia melakukannya dengan baik. I appreciated her work, that’s all.

“Kau akan selalu jatuh cinta pada perempuan yang tahu apa maumu. Lihat saja nanti.”

“Kim Jisoo, sekali lagi kau membicarakan hal apa pun yang berhubungan dengan romantic entanglement and shit, aku bersumpah akan mencekikmu ketika tidur.”

Jisoo tertawa remeh, tak percaya gertakan Junhoe. Junhoe bukanlah orang yang dengan mudahnya ingin memusnahkan seseorang hanya karena dibuat kesal. Tapi begitu melihat wajah Junhoe yang menyeramkan sekaligus menantang Jisoo, lelaki itu tiba-tiba merasakan tubuhnya merinding.

“Kau tak akan mungkin melakukannya.”

I sure as hell will.”

“Oke, karena aku tak ingin kau berubah menjadi seperti karakter-karakter filmmu yang psychotic, sudah ada pikiran untuk proyek baru?”

“Kita bahkan belum menyelesaikan film ini,” ucap Junhoe setelah memutarkan bola matanya atas kemahiran Jisoo mengalihkan pembicaraan.

“Siapa tahu kau sudah ada ide lagi.”

Junhoe memainkan gelasnya, berpikir. Ia sudah lama punya pikiran ini namun ia tidak begitu yakin pengamatannya benar atau tidak; tidak sampai saat ini. Jisoo sepertinya tidak begitu menyadari hal itu, atau mungkin meyakinkan dirinya tidak seperti itu, dan itulah sebenarnya yang membuat Junhoe khawatir.

“Kenapa kau selalu bertanya jika aku sudah ada ide baru atau belum?”

Jisoo menangkat bahunya. Tidak sadar ia menghindari kontak mata dengan lelaki yang lebih muda darinya itu.

“Entahlah. You’re the director.”

You’re the screenwriter.”

Kesunyian menghapiri mereka sejenak. Jisoo terus menolak untuk mengangkat kepalanya dan melihat Junhoe; seperti anak kecil yang ketahuan memecahkan kaca jendela tetangga sebelah. Dan Junhoe terus menatap Jisoo; berharap tatapannya, by some miracle, dapat membuat Jisoo mengerti tanpa ia perlu menjelaskan.

“Aku tidak bergantung padamu, Junhoe, jika itu apa yang kau pikirkan. I’m a 31 year old grown man.

There’s no point denying in that. Kau bisa mengurus dirimu sendiri, bisa menghidupi dirimu sendiri tanpa bantuan orang tua yang notabene meragukan karir pilihanmu selama ini, dan mengambil tantangan tanpa takut akan hasil yang tak pasti. Kalau hasilnya buruk, you accept it like a man dan menjadikannya pelajaran untukmu ke depan. Kau orang yang sudah merasakan manis-asinnya dunia, Jisoo. You made you. Sementara aku hanya segelintir orang yang belajar dengan melihat orang lain, orang-orang sepertimu, berjuang dan bertahan hidup kemudian mencatatnya dalam-dalam di kepalaku. You got this little perfect life around you, and you’re so good at it, tetapi kenapa kau tidak bisa melakukan hal mudah seperti memperlihatkanku skenario-skenariomu yang entah sudah berapa lama hanya tertumpuk di mejamu?”

Jisoo mendongak dan menatap Junhoe tak percaya akan apa yang ia dengar. Ia tahu Junhoe orang yang sangat teliti dan punya insting kuat, tapi ia tidak menyangka Junhoe benar-benar akan tahu. Tidak secepat ini.

“Kau pikir aku tidak tahu?” Tanya Junhoe dengan lirih sambil menetapkan pandangannya ke meja. Menyadari pandangan Jisoo yang terus tearah padanya. Ia lega pada akhirnya bisa mengutarakan unek-uneknya, namun ia tidak begitu tahu kalimat yang seperti apa yang tepat untuk mewakili perasaannya. Junhoe memang selalu tidak mahir dalam hal ini. Itulah hal yang membuat Ahri merasa di-shut out olehnya, menimbulkan segala masalah yang seharusnya mudah diselesaikan jika saja Junhoe bisa lebih mudah mengeluarkan pikiran dan perasaanya menjadi sebuah kata-kata.

“Kau penulis skenario, kau punya kebebasan untuk menulis apa pun yang kau mau. Heck, semua orang bebas mau menulis apa pun yang mereka inginkan. Dan anehnya kau terlihat seperti orang yang dosa terbesarnya baru saja terkuak.”

“Aku hanya kaget.”

“Yang membuatku kecewa,” ujar Junhoe tak memedulikan ucapan Jisoo. “seseorang yang membuatkanmu kopi lebih tahu tentang ini daripada aku.”

Jisoo meringis pelan. Ia menyesal memberi tahu office boy kantor mereka tentang skenario-skenarionya yang saat itu, secara kebetulan, tertumpuk di atas mejanya. Singkatnya, tanpa sadar Jisoo memberitahu kertas-kertas tersebut adalah skenarionya yang sudah lama ia rampungkan. Dan mengalirlah pertanyaan-pertanyaan dari office boy itu yang tak bisa Jisoo hindari.

“Percaya padaku, kau tidak akan menyukainya.”

Junhoe mengernyit, menatap Jisoo yang entah sejak kapan tidak terlihat seperti Jisoo yang dikenalnya. “Bagaimana kau bisa begitu yakin? Dari seorang yang selalu dapat membuat skenario terbaik yang pernah kubaca, bagaimana kau bisa mengatakan itu?”

“Ini bukan idemu, jadi ini bukan skenario-skenario terbaik seperti yang baru saja kau katakan.”

“Kim Jisoo.” Junhoe memperingatkan.

“Apa? Memangnya orang sepertiku yang sudah merasakan manis-asinnya dunia seperti katamu ini otomatis sudah tidak punya ketakutan apa-apa lagi terhadap segala hal yang terjadi di dunia ini? Tidak, Junhoe. Aku masih takut. So does everyone in the world. Aku masih begitu memperdulikan apa yang orang-orang akan pikirkan tentangku, tidak seperti kau. Jadi segala kerja kerasku, segala pengorbananku, segala yang kulakukan untuk sampai di titik ini, tak ada hubungannya dengan skenario-skenarioku itu. Aku yang memilih untuk menulisnya dan aku yang memilih untuk tidak menunjukkannya. Aku tidak bergantung padamu dan aku tidak akan mati hanya karena tidak menunjukkannya padamu. Period.”

“Jadi apa? Semua skenariomu itu mau kau jadikan hiasan saja sampai kau tua nanti? Kalau begitu maafkan aku karena mengatakan ini, but you’re only wasting your time, youth, and energy writing something that people would never hear of.”

Jika orang-orang bilang Jisoo hidup tanpa kesulitan, orang itu benar sekaligus salah. Benar karena Jisoo bisa dibilang lahir dengan sendok emas di mulutnya; membuatnya mendapatkan kemudahan yang mungkin tak dapat dirasakan orang lain. Salah karena tidak mudah baginya untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukannya karena tak direstui orang tuanya sendiri.

Setelah tidak diizinkan masuk sekolah film, Jisoo anehnya berhasil masuk sekolah bisnis yang ia tidak minati sama sekali. Berpikir mungkin perkataan orang tuanya benar dan takdirnya memang sudah digariskan seperti itu, ia masuk universitas yang prestisius itu hanya untuk membolos dan mabuk-mabukan di tahun pertamanya. Jisoo pikir ia akan mulai menyukai bisnis seiring berjalannya waktu, but god knows how naïve that thought was.

Jadilah wajib militer sebagai pelariannya. Dan Jisoo harus mengatakan bahwa ia lebih menikmati hidupnya di sana daripada harus berkutat dengan segala hal yang berhubungan dengan bisnis. Lalu kurang lebih dua tahun berlalu sebelum akhirnya masa wajib militernya selesai. Jisoo yang sempat bercekcok hebat dengan sang ayah karena tak ingin kembali melanjutkan kuliahnya pada akhirnya hanya berdiam diri di rumah. Mau diam-diam masuk sekolah film pun tidak mungkin.

Lalu singkatnya, orang tua Jisoo tak tega melihatnya berjalan dengan begitu lesu ditambah dengan sorot matanya yang redup. Ayah Jisoo pun merelakan egonya dan mendaftarkan Jisoo ke sekolah film dengan beberapa syarat. Dan bertemulah ia dengan Junhoe yang kini duduk di seberangnya.

“Sudahlah. Skenario itu sama sekali bukan gayamu. Kau barangkali sudah tahu dari informanmu.”

“Dan aku tak mempermasalahkan jika skenariomu bukan gayaku. Kau sebagai teman terdekatku seharusnya tahu itu.”

Jisoo menenggak bir di genggamannya dengan cepat, menunjukkan betapa topik ini begitu menguras energi dan kesadarannya. Rasanya ia hanya ingin mabuk malam ini. Tak peduli jika Junhoe nanti membiarkannya tergeletak di jalanan.

“Sohyun bilang dulu warnaku oranye,” sahut Junhoe tiba-tiba. Jisoo menatap kawannya itu untuk mengetahui kemana arah pembicaraan ini sebenarnya.

“Mungkin kau benar, film-film kita sangat mempengaruhiku sehingga aku menjadi pribadi yang ‘hitam’ ini.” Junhoe mendesah. Memijit batang hidungnya sebentar.

And you should know how shitty I felt about this. Seharusnya aku tidak memperbudakmu untuk menulis skenario berdasarkan ideku hanya karena aku tak pandai menulis. Seharusnya aku sadar betapa banyak ide-idemu yang kukekang. I’m such a pathetic bastard and I’m sorry.”

Jisoo menggeleng. Ia sama sekali tidak pernah merasa terkekang oleh Junhoe. Ia justru mendapatkan banyak pelajaran mengenai hal-hal substansial dalam membuat skenario film. Junhoe memberikannya banyak pandangan baru yang kadang tak terbesit olehnya. Itulah mengapa sebagian darinya merasa kecil atas kemampuan yang dirasanya tak ada apa-apanya dibanding dengan Junhoe.

“Aku tahu aku berputar-putar, aku tak pandai dalam hal ini, but my point is, aku ingin mencoba mencari diriku yang dulu melalui skenariomu yang sangat kau slash oranye itu. It’s a win-win solution. Kau tahu apa maksudku.” Junhoe memohon sambil menatap Jisoo tepat di matanya.

Jisoo terlihat menimbang. Ia tahu betul sosok Junhoe sebelum Ahri pergi dari kehidupannya, sangat berbeda dengan Junhoe yang sekarang. Ini adalah kali pertama Junhoe pada akhirnya meminta bantuannya dalam masalah itu. Dan harus diakui, Jisoo pun sangat menginginkan sosok Junhoe yang sebenarnya untuk kembali berada di waktu dan dimensi yang sama dengannya. Bukan hanya sebuah kenangan ataupun angan-angan. Tapi di sisi lain ia masih ragu akan kemampuannya sendiri. Jisoo tentu saja dengan senang hati akan membantu Junhoe dengan masalahnya itu, Junhoe sudah seperti saudaranya sendiri. Tapi ia takut jika ada ketidakpuasan baik dalam proses maupun hasil film tersebut. Ia tak ingin membuat kredibilitas Junhoe turun.

Tetapi jusru di saat keraguan itu muncul, seperti yang biasa dilakukannya, Junhoe datang melunturkan itu semua dengan mudahnya.

You’re my full time life companion, isn’t growing together is part of one? Dan inilah momen yang tepat untuk tumbuh bersama itu. Tidak usah kau khawatirkan hal-hal yang tidak mungkin terjadi. “

Dan malam itu, dengan dua gelas bir yang teracung tinggi dan wajah yang berseri, kedua sahabat itu berjanji untuk menikmati hidup sebagaimana seharusnya; tanpa penyesalan.

fin

Memang jaraaaang banget ada movie makers yang semuda mereka, but because this is a work of fiction, which we can fully take advantage of, it is possible lah, in some way, orang-orang dengan umur segitu udah punya nama di industri perfilman and they’re really good at it. If fiction was too real, where’s the fun in it, right?

Bacot ah gue.

Btw Ahri itu nama korea-korean w azeeeek. UDUDUDU JUNE GAMON SEMANGAT MZ.

Oh iya, buat yang mungkin bingung, setting cerita ini tuh di masa depannya cerita Sohyun-Joohyuk yang kemaren. Itulah kenapa ceritanya di sini Sohyun jadi asisten ditrekturnya Junhoe. Udah kerja gitulah. Btw, terimakasih pada Niswa yang sudah memperbolehkan supaya karakter Sohyunnya berubah jadi sudah gede tapi tetep emay! Huehehe.

Terimakasih juga buat Fikha yang memberikan keringanan deadline dan masih mau menampung diri yang tidak produktif ini di IFK :’’’)

Oiya terimakasih juga buat wacana squad aka HBG Ent (wkwkwk) yang mau direpotin buat nyari inspirasi. Muah muah lah pokoknya.

Mohon dimaafkan juga segala kekurangan fic ini ya temans.

Dan terakhir, selamat ultah IFK!

3 thoughts on “[Movie Festival 4] Be the Sun – ChanLu’s Mate”

  1. halo! belum pernah tahu pen-name ini di ifk, tapi ya kembali memang akunya juga jarang muncul di kotak review setelah sekian lama. jadi, halo! Risma disini🙂

    ternyata memang beberapa disambung dari fic sebelumnya toh. sohyun jadi kerja ditempat junhoe. bareng joohyun juga kali yaa haha.
    habis tentang warna sekarang bahas film dan sriptwriter-nya. duh bisa banget lah director disini bikin cerita, ga kalah sama duo movie maker itu. beranda ifk jadi makin banyak genre dan latar belakang. /claps/
    jadi akhirnya acara minum-minum malah jadi sesi pengakuan buat jisoo-junhoe. selamat! akhirnya kalian bisa kembali menatap hari esok dengan lebih baik!

    good idea! semangat nulis ya!

    Suka

  2. Salam kenal, Chanlu’s Mate-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya!

    Judul:
    Be The Sun. Dari judulnya aku merasa kalau ini tentang persahabatan cowok yang sahabatnya itu butuh pencerahan makanya ada ‘Sun’ di judulnya.

    Eh. Bener.

    Isi Cerita:
    Aku suka percakapan antara Junhoe dan Jisoo. Mereka tuh sahabatannya dapet bangettt. Bahasa yang mereka pake juga unik.

    Lalu ada Sohyun dari cerita sebelumnya. Lucu deh.

    Tapi aku gak terlalu menangkap makna dari cerita ini. Jujur sih agak membosankan. Tapi aku gak lihat ada typo. Good.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperi ini!🙂

    With love,

    Energytea

    Suka

  3. Halo!
    Salam kenal, kak!

    UWUWUWU jisooku😍 yaampun aku gembira menemukan jisoo😂

    Awalnya bingung ini cerita mau dibawa ke mana. Kok sampai pertengahan belom kelihatan konfliknya? Aku ngerasa kok ini kepanjangan openingnya.

    gaya bahasanya bagus! Aku suka. Bisa dinikmati. Tulisannya juga rapi. Aku nggak menemukan typo.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s