[Movie Festival 4] Jerque by Pikabuddy

Jerque

Jerque

Pikabuddy

Color tagged: Dark Sea Green (#8fbc8f)

Dean a.k.a Kwon Hyuk & Lalice Manoban

Support Cast Jeonghan of Seventeen

PG 13 | Sad, Angts, Romance

Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang dan ia tidak tahu mau melakukan apa hari ini—lagi. Sudah hampir seminggu ia tidak melakukan sesuatu yang produktif kecuali makan, ke kamar kecil, lalu kembali berbaring di kasurnya sembari mendengar beberapa lagu bergenre country. Ia hanya akan mandi jika ia mulai merasa ia harus mandi. Untuk saat ini ia hanya memandang langit-langit kamar hotelnya sembari mengetuk jari tangan kanannya sesekali di atas dahi.

“Kwonnie!”

Kwonhyuk tidak menjawab panggilan tersebut. Ia bergumam mengikuti lirik lagu yang ia dengar dari handphonenya.

“Kau sekarang tidak di Korea! Ini Hawaii! Kau tidak mandi sehari saja badanmu benar-benar akan bau seperti orang marathon seharian!”

“Aku bersumpah aku tidak mau mendengar apapun yang kau katakan!” Jawabnya dengan ketus sambil menutup matanya dengan tangan kanannya dan kembali bergumam.

Lisa—sang pemilik suara lalu menepuk tangan kanan Kwohyuk. Berdiri manis menghadap ke bawah, tepat kehadapan wajah Kwonhyuk.

“Ayolaah, aku tau kau benci cuaca panas, tapi kau sedang di Hawaii, kau tidak akan menemukan tempat sehangat disini!”

Kwonhyuk masih sibuk bergumam, tak mempedulikan ocehan Lisa.

“Kau sudah hampir seminggu lebih tidak memperbarui blog-mu! Ayolah lakukan sesuatu yang produktif!”

“Aku sudah memutuskan untuk keluar dari dunia blog!”

“Kalau begitu kau masih bisa bernyanyi, kan? Penggemarmu menunggu song-cover terbarumu!” Ajak Lisa dengan nada ceria dengan sesekali menyentuh punggung tangan kanan Kwonhyuk dengan jari telunjuknya yang lentik.

“Aku bersumpah, pergilah! Kau bahkan masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu!”

Lisa tersentak mendengar teriakan yang dikeluarkan Kwonhyuk tepat di depan wajahnya. Namun dengan segera ia menghela nafas dan duduk tepat di sudut kasur dan menepuk pelan lengan Kwonhyuk.

“Ayolah. Aku benar-benar ingin mengajakmu keluar, hari ini saja. Kau tau kan aku tak bisa di sini sampai malam?”

“Dan apa peduliku?” Balasnya dengan ketus.

“Jika kau mau ikut keluar denganku, hari ini saja. Aku berjanji tak akan masuk ke kamarmu lagi”

Kwonhyuk tak menjawabnya. Ia hanya memutar badannya memunggungi Lisa.

“Ayolah, buang harga dirimu sekali saja. Hari ini saja”

“Kau tahu aku hanya bisa berkata kasar padamu”

“Iya aku tahu. Ayolah kita keluar sebentar dan kau boleh berkata kasar padaku, sepanjang hari ini”

“Aku ingin menjawab ‘iya’, tapi aku bersumpah harga diriku terlalu tinggi untuk melihat wajahmu” Balas Kwonhyuk dengan suara yang sedikit tenggelam. Ia membalikkan badannya menghadap Lisa, namun masih menutup matanya.

“Aku akan menunggu di luar. Bersiaplah, aku tau kau mandi tak pernah lebih dari lima menit!” Ucap Lisa dengan ceria, ia menepuk punggung Kwonhyuk dengan senang dan lalu berlari ke luar kamar Kwonhyuk.

Mengetahui Lisa telah keluar dari kamar, ia lalu membuka matanya perlahan, memastikan bahwa Lisa benar-benar telah keluar dari kamarnya.

Aku pasti benar-benar gila. Tapi ia telah berjanji.

Kwonhyuk yang tau dirinya memang tak bisa melakukan apa-apa dan tak tau mau melakukan apa, langsung beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dan memang benar tak sampai lima menit, ia telah siap mandi dan berpakaian. Menggunakan t-shirt dengan lengan ¾ berwarna biru dongker dan putih dan celana katun hitam sepanjang lutut berwarna hitam dan sepatu espradille berwarna biru dongker juga.

“Lisa?” Panggil Kwonhyuk sembari membuka sedikit pintu kamarnya, memastikan keberadaan Lisa.

“Hadir!” Jawab Lisa tiba-tiba sambil memunculkan wajahnya tepat di hadapan Kwonhyuk.

Kwonhyuk sedikit terperanjak, namun ia langsung memasang kembali wajah datarnya. Ia lalu keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

“Kau tahu? Sebagai seorang blogger yang cukup terkenal karna wajahnya, gayamu sedikit off!” Ejek Lisa sembari memandang Kwonhyuk dari atas hingga kebawah.

“Lihat siapa yang berbicara, mengajak jalan keluar dengan kaus putih oversized dan hotpants, dengan sandal pula” Balas Kwonhyuk sembari mengarahkan jari telunjuk kanannya mulai dari kepala sampai kekaki.

Sure you are good at dissing

“Aku seseorang yang akan menggeluti dunia musik, aku belajar banyak tentang diss

Lisa hanya tersenyum mendengar ucapan Kwonhyuk, dan ia langsung tersadar bahwa Lisa kali ini sedang tersenyum kepadanya.

“Apa? Apa kau akan tertawa mengejekku?”

“Tidak!”

“Lalu?”

“Aku tahu saat ini mood-mu mulai membaik. Kau tak perlu menutupi dirimu terlalu lama. Tak baik bersedih terlalu lama, apalagi di negeri yang bahkan tempat tinggalmu!”

Kwonhyuk sedikit terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan Lisa. Semula wajahnya yang sedikit cerah kembali suram mendengar perkataan Lisa.

Mudah bagimu mengatakannya. Bagaimana bisa kau mengucapkan kalimat yang seperti itu dengan segitu mudahnya?

“Kau mau kemana hari ini, Lisa?”

“Entahlah, Hawaii bukan hanya satu pulau. Kurasa kita hanya akan berkeliling di sekitaran saja!”

“Hanya berkeliling?” Tanya Kwonhyuk dengan serius.

“Oh ya, nanti sore, aku ingin melihat matahari terbenam! Dua jam sebelum matahari terbenam kita akan kesana!”

“Yang benar saja! Jam segitu langit masih cerah! Kau tahu kan aku sangat membenci panas!”

Lisa cekikikan mendengar omelan Kwonhyuk tentang dirinya yang membenci cuaca panas, tapi justru omelan Kwonhyuk benar-benar membuat suasana hati Lisa semakin membaik.

“Tak ada salahnya kulitmu sedikit terbakar, toh juga nantinya kamu akan kembali bergelut di kamar ber-AC dan menulis di blog sepanjang hari!” Ejek Lisa atas terhadap sensitifitasnya terhadap cuaca panas.

Kwonhyuk yang terkejut lalu melototi Lisa sembari mengernyitkan dahinya dengan serius.

“Kau kalah! Dasar lemah!” Tawa Lisa memandang ekspresi Kwonhyuk yang tak bisa membalas omongan Lisa.

“Kau harusnya bersyukur karna aku teman terdekatmu satu-satunya semenjak kau buta apapun tentang Korea lima tahun yang lalu! Jika tidak aku benar-benar tak akan kesini!”

“Heeei, ini sudah impianku untuk pindah ke Hawaii. Lagipula cuaca di Korea benar-benar bukan tipeku!” Balas Lisa dengan nada mengejek.

“Ya ya baiklah, ayo jalan” Ajak Kwonhyuk sembari menghela nafas panjang. Ia berjalan di belakang Lisa, dengan tatapan yang kembali suram.

– –             –             –             –             –             –             –             –             –              –

“Sial, aku tak menyangka Waikiki akan seramai dan sepanas ini!” Keluh Kwonhyuk sembari mengibaskan telapak tangannya karna kepanasan.

“Kau harusnya bersyukur Waikiki cukup jauh dari Mauna Loa!” Ucap Lisa dengan nada sedikit kesal sembari menyesuaikan kecepatan jalannya dengan Kwonhyuk yang kini mulai melambat karna ‘terjangan’ sinar matahari.

“Oh, gunung berapi yang aktif itu”

“Yup, dan seharusnya kau memakai topi jika kau memang kepanasan!”

“Tidak, kepalaku akan lebih kepanasan, aku tidak ingin rambutku mengalami kerontokan dini!”

Ucap Kwonhyuk masih dengan usahanya mendinginkan diri dengan mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

Mereka masih melanjutkan perjalanan. Jalanan masih cukup ramai meskipun hari ini bukan hari libur. Tepat di sudut jalan tepat di depan sebuah taman, beberapa turis berkerumun dan sibuk bertepuk tangan melihat sesuatu.

“Kwonhyuk! Ayo kesana! Aku penasaran apa yang membuat mereka terpukau!”

“Yang pasti bukan spot seekor Pokemon yang langka” Balas Kwonhyuk dengan nada tidak tertarik.

“Ayolaah, aku rasa ada artis jalanan di sana!” Ucap Lisa dengan nada memohon—lebih seperti memaksa.

“Yaah, baiklah” Ucap Kwonhyuk pasrah. Lisa yang mendengarnya langsung berlari menuju ke arah kerumunan tersebut.

“Hei Lisa! Jangan berlari!” Teriak Kwonhyuk sambil ikut berlari mengikuti Lisa, namun langkahnya terhenti sejenak, menyadari sesuatu.

Benar, biarkan saja ia berlari.

Lalu Kwonhyuk berjalan dengan pelan menyusul Lisa.

“Hei Kwonhyuk! Aku rasa aku mengenal orang ini! Wajahnya seperti orang Korea” Ucap Lisa dengan semangat sambil menunjuk si ‘artis jalanan’. Kwonhyuk yang sebenarnya cukup penasaran lalu melihat wajah si ‘artis jalanan’.

“Oh! Aku tahu dia!” Ucap Kwonhyuk sedikit terkejut.

“Benarkah? Siapa?”

“Dia bukan artis jalanan, beberapa anak muda di Korea sering mendapatinya melakukan atraksi sulap di beberapa bar. Sebut saja dia seorang magician yang ‘nomaden’. Dia jarang tampil di tempat tetap”

Lalu Lisa membelalakkan matanya kearah si ‘artis’ tersebut.

“Ternyata benar dia orang Korea! Apa yang ia lakukan di Hawaii? Di luar ruangan pula?”

Kwonhyuk mengangkat sedikit pundaknya, sebuah gestur yang menandakan ‘aku tak tahu dan aku tak peduli’.

“Dia lumayan cantik sebagai seorang pesulap”

“Asal kau tahu saja, seorang lelaki, seumuran denganku pula. Mungkin dia hanya ingin liburan dan ketahuan oleh beberapa orang yang mengenalnya”. Balas Kwonhyuk masih dengan nada bicara tak tertarik sembari berjalan menjauhi keramaian.

Dan Lisa? Diam di tempat. Masih terkejut mendengar pernyataan bahwa sang pesulap ternyata seorang pria. Lalu Lisa berlari menyusul Kwonhyuk yang menjauhi keramaian.

“Kau yakin ia seorang pria? Dia punya rambut pirang yang panjang hampir sama sepertiku, dan wajahnya jauh lebih feminim dariku. Kau tak salahkan?” Tanya Lisa dengan penuh rasa penasaran sembari melihat dengan serius kearah Kwonhyuk yang masih berjalan dengan pelan dan memandang lurus kedepan.

Nope, dia seorang pria, benar-benar pria” Balas Kwonhyuk sambil mengarahkan langkahnya ke penjual popsicles.

“Apa buktinya?” Tanyanya dengan nada menantang.

“Sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu setelah aku berjumpa dengan teman sekampusku di bar, aku pergi ke kamar kecil. Tak lama itu ia masuk ke kamar kecil juga. Bisa dibilang ‘tak sengaja terlihat’ olehku. Dan ya, memang seorang pria”

Lisa lalu terdiam tak tau membalas apa, dan wajahnya memerah hingga ke daun telinganya.

“Sudah cukup puas dengan jawabku?” Tanya Kwonhyuk dengan nada sedikit menggoda.

“Ja..jangan dibahas lagi! Ya Tuhan aku menyesal bertanya padamu!” Umpat Lisa sambil memukul punggung Kwonhyuk, Kwonhyuk hanyan bisa tertawa.

“Mau popsicle?”

Lisa terkejut mendengar tawaran Kwonhyuk, ia langsung menolak dengan sopan tawaran Kwonhyuk.

“Ah…haha aku sedang tak ingin makan popsicle, kau saja..”

Sudah kuduga.

“Yasudah, aku beli satu saja, jangan minta!”

Ekspresi Lisa yang tadinya sedikit terganggu langsung berubah, ekspresi ‘memaksakan kehendak’.

“Ti..tidak akan! Kau mengira aku tak tahu ya seberapa pelitnya dirimu?”

“Ya, aku benar-benar pelit, apalagi kepada bocah” Ejek Kwonhyuk dengan suara pelan, lalu ia mengeluarkan uangnya dan menyerahkannya kepada si penjual popsicle.

Which one?” tanya si penjual popsicle.

Kwonhyuk terdiam sebentar memikirkan rasa yang akan ia beli.

Watermelon with lime-juice, please

Dan sang penjual popsicle memberikan es pilihan Kwonhyuk. Kwonhyuk mempunyai alasan yang kuat kenapa ia memilih rasa itu. Ia tersenyum kepada penjual dan kembali berjalan menuju pesisir pantai.

“Kwonhyuuuuk”

Ia tak membalas, dengan sangat sengaja.

“Kau sengaja kan?” Tanya Lisa dengan serius sambil melototi Kwonhyuk dan popsiclenya.

“Aku sudah menawarimu tadi” Balasnya santai.

“Tapi kenapa harus rasa ITU?” Tanya Lisa dengan serius sambil mengarahkan jari telunjuknya ke popsicle milik Kwonhyuk.

“Mau?” tawarnya.

Lisa menelan air ludahnya mendengar penawaran Kwonhyuk.

“Ti..tidak! Ambil saja! Lagian es itu sudah terlanjur terjilat olehmu!” Balas Lisa sambil kembali mengarahkan pandangannya kedepan, berfokus untuk tidak memandang es itu lagi.

“Haha aku tak tahu kau berubah menjadi seorang wanita penjijik. Biasanya kau juga meminum kopi punyaku tanpa bertanya apa boleh atau tidak kau meminumnya” Ejeknya.

“I..itu kan aku masih bocah! Tentu aku sangat ceroboh! Sekarang aku seorang wanita! Kau tak tahu apa-apa maksud dari makan ataupun minum sesuatu bekas laki-laki!” Balas Lisa dengan nada kesal sembari menyilangkan tangannya.

“Apa?” Tanya Kwonhyuk sembari memandang Lisa sekilas. Kwonhyuk tahu Lisa akan kesusahan menjawab karna ia menyembunyikan sesuatu.

“I..itu..”

“Apa? Aku bahkan sudah menggosok gigi dan berkumur, harusnya bekas mulutku tak sekotor itu..”

In..indirect ki…” Ucap Lisa dengan suara yang mulai tenggelam. Ia mengalihkan arah kepalanya ke arah yang berlawanan dari di mana Kwonhyuk berada.

“Hei. Aku tak mendengar apapun. Kau bilang apa?”

“Tak ada..”

Kwonhyuk hanya tertawa kecil sembari mengelus pelan kepala Lisa. Ia sebenarnya mendengar dan tahu apa yang dimaksud Lisa, tapi Kwonhyuk sangat rindu melihat reaksi Lisa seperti ini.

Sudah lama aku tak melihat reaksinya seperti ini. Sama sekali tak berubah.

Aku merindukan ekspresinya yang seperti ini.

“Hei bocah, jangan merajuk! Kita sudah hampir sampai ke pantai”

Lisa kembali memutar kepalanya dan memandang ke depan, tak berani menatap Kwonhyuk.

“Iya, aku tahu!”

“Dasar tsundere

Lisa mengangkat sedikit kepalanya memandang Kwonhyuk. Dan Kwonhyuk hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Lisa yang terlihat marah dengan wajah yang memerah.

– –             –             –             –             –             –             –             –             –              –

 “Kurasa kita terlalu cepat berjalan ke pantai, masih ada waktu sekitar tiga jam lagi matahari terbenam akan terlihat” Ucap Kwonhyuk. Ia memandang Lisa sebentar, dilihatnya mata Lisa berbinar melihat ombak pantai dan suasana tepian pantai yang tak cukup ramai namun cukup asri.

“Li..sa?”

Lisa tak menjawab, ia masih terkagum dengan pemandangan yang ia lihat.

“Lisa!” Panggil Kwonhyuk sambil menepuk pundaknya. Lisa sedikit terperanjak, ia langsung menatap Kwonhyuk dengan pandangan takjub.

“Hei Kwonhyuk! Kau lihat itu? Aku sangat suka warna pantainya! Ya Tuhan warna airnya benar-benar indah!” Ucap Lisa dengan girang sambil menarik-narik lengan baju Kwonhyuk.

Kwonhyuk yang melihat Lisa sangat senang hanya bisa ikut tersenyum, memandanginya dengan tatapan senang dan sedikit dipaksa.

“Lisa, ayo kita duduk dekat situ” Tunjuk Kwonhyuk ke arah sebuah pohon kelapa yang cukup rendah dan teduh. Tanpa mendengar jawaban Lisa, ia langsung menariknya untuk berteduh di tempat tersebut.

“Kau… benar-benar benci panas?” Tanya Lisa khawatir.

Kwonhyuk terdiam sebentar. Lalu ia membalas pertanyaan Lisa dengan sebuah senyuman—senyuman yang dipaksa.

Aku rasa Kwonhyuk sudah mengetahui semuanya.

Lisa hanya bisa pasrah dan duduk di samping Kwonhyuk. Kwonhyuk menggigit potongan terakhir popsicle nya mengarahkan tangkai popsiclenya ke arah ombak di pantai.

“Kau tak ingin berselancar?”

“Tidak mau, aku mau duduk disini saja, di sebelah ‘Kwonhyuk si pelit’ ”

Kwonhyuk tergelak sedikit, lalu mengembalikan pandangannya ke arah pantai.

“Apa yang kau suka disini? Kau sepertinya mencintai pantai di Hawaii melebihi pantai di Asia” Tanya Kwonhyuk sambil merendahkan posisinya, setengah berbaring dengan posisi masih menyandar ke pohon kelapa tersebut.

Lisa memandang lama kearah pantai, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Kwonhyuk.

“Apa kau pernah melihat pantai dengan warna seperti ini? Berwarna sedikit kehijauan, tanpa ada angin musim dingin yang datang tiap akhir dan awal tahun. Pantai dengan suasana seperti ini benar-benar tempatku”

“Itu saja? Aku tak puas dengan jawabanmu”

Lisa tertegun sejenak. Ia memikirkan jawabannya yang sebenarnya namun masih ragu untuk ia katakan.

“Sebenarnya ada lagi, tapi harga diriku terlalu tinggi untuk mengucapkannya”

Kwonhyuk lalu memutarkan pandangannya ke Lisa. Lisa masih memandang jauh ke pantai. Lalu tak sengaja ia bertemu pandang dengan Kwonhyuk dan langsung memerah wajahnya.

“Ka..kau tahu? Warna pantai ini hijau lalu makin ke penghujung warnanya semakin membiru, ombaknya cukup besar. Aku tak pandai bagaimana mengungkapkannya, tapi gambaran dari pantai ini mengingatkanku..sedikit denganmu”. Lalu Lisa berusaha memandang Kwonhyuk dari sudut matanya. Kwonhyuk masih sedikit terkejut mendengarnya lalu tertawa tiba-tiba.

“Ja..jangan tertawa!”

“Aku seperti mendengar pernyataan cinta, namun dengan ungkapan yang sedikit menggelikan!” Gelak Kwonhyuk sambil memainkan jari telunjuknya ke pipi Lisa.

“Aku bukan anak-anak!” Ucap Lisa dengan sedikit berteriak. Ia menjauhkan jari telunjuk Kwonhyuk. Mengambil posisi berbaring tepat menghadap Kwonhyuk dan ia meletakkan helaian rambutnya yang panjang ke arah wajahnya untuk menutupi wajahnya yang masih tersipu malu.

“Bangunkan aku jika matahari sudah mau terbenam!”.

Kwonhyuk disaat itu juga mengambil posisi berbaring tepat menghadap Lisa. Sedikit tertawa mendengar ucapannya yang terdengar malu-malu.

“Hei Lisa, sampai matahari terbenam aku benar-benar tak akan tertidur”

“…….”

“Apa tak bisa kita seperti ini saja?”

“…….”

“Aku tak masalah jika dibilang gila”

“…….”
“Maaf aku tak bisa memberikan popsicle kesukaanmu”

“…….”

“Maaf jika aku marah-marah padamu. Kau tahu sangat wajar jika aku marah melihatmu”

“…….”

“Aku tahu kau tak tertidur, dan tak akan tertidur sampai matahari terbenam”

“…….”

“Waktu yang berjalan sekarang sangat berharga, tak mungkin kau lewatkan dengan tertidur”

“…….”

“Tak masalah, aku akan menganggapmu masih tidur. Jadi tolong dengar berbagai ucapanku sampai matahari mulai terbenam”

Lisa memang sedang tak tertidur. Ia saat ini menangis tersedu, dengan mata masih tertutup, berusaha memainkan ‘peran’nya agar tetap tertidur.

“Kau tidak mendengarkan sebuah cerita menjelang tidur untuk kali ini, jadi aku mohon jangan tertidur” Ucapnya sambil merapikan rambut Lisa yang berantakan diwajahnya. Air mata Lisa masih terlihat mengalir ke bawah, jatuh ke pasir pantai. Ia lalu menempelkan dahinya ke dahi Lisa. Lisa masih menutup mata dengan air mata yang masih menggalir.

“Wajahmu benar-benar jelek jika menangis. Aku tidak akan membersihkan wajahmu. Kau benar-benar terlihat jelek. Percayalah” Ucap Kwonhyuk dengan sedikit tergelak.

.

.

.

.

.

.

“Lisa, matahari sudah mulai terbenam”

“…….”

“Kau tertidur?”

“Tidak”

“Kalau begitu buka matamu” Ucapnya sambil mencubit hidung Lisa.

“Aww! Sakit!” Teriak Lisa yang refleks saja membuat matanya langsung terbuka. Lisa terkejut melihat mata Kwonhyuk kini benar-benar dekat dengannya.

“Selamat sore!” sapa Kwonhyuk sambil tersenyum dengan jarak antar mereka berdua yang masih berdekatan.

Lisa yang terkejut langsung duduk terbangun. Membiarkan Kwonhyuk terbaring sendirian.

“Hei bocah, sepertinya  kau memang ingin sekali melihat matahari terbenam? Semangat sekali mengambil posisi duduk” ejek Kwonhyuk sembari menegakkan badannya, duduk tepat di sebelah Lisa.

“Ti..tidak!” Balas Lisa dengan gugup. Lalu ia menfokuskan pandanggannya kembali ke pantai.

“Pembohong” Ucap Kwonhyuk.

Lisa hanya tersenyum, lalu menghela nafas.

“Kwon..”

“Ya?”

“Sejak kapan kau tahu aku berbohong?”

Kwonhyuk lalu tertegun  sambil memandang matahari yang juga mulai terbenam.

“Semenjak kau terus memaksaku untuk keluar. Keberadaanmu mulai dari hari itu sampai tadi pagi benar-benar menganggu. Aku kira dengan memarahimu dan mengacuhkanmu kau akan pergi dengan sendirinya”

“Lalu kenapa kau mau keluar denganku hari ini?”

Ia lalu terdiam sejenak. Sedikit berat baginya untuk mengatakannya.

“Karna kau berkata kau tidak akan datang lagi”

“Hanya itu?”

“Aku tak bisa lama-lama seperti ini. Aku kira aku berimajinasi. Jadi aku memastikannya sendiri selama perjalanan tadi”

“Aku tahu, popsicle itu kan?”

“Bukan hanya itu saja, aku membiarkan kau berlari seenaknya. Aku pertamanya khawatir, tapi aku melihat semuanya”

“Hahaha, ternyata aku sudah ketahuan dari awal” Jawab Lisa dengan gelak tawa yang sedikit dipaksakan.

“Dan satu lagi, kau tahu berapa banyak orang yang berbisik tentangku?” Ejek Kwonhyuk sambil memandang Lisa. Lisa lalu memandang sekitarnya, beberapa penduduk lokal dan turis berjalan menjauhi Kwonhyuk, beberapa masih ada yang berbisik sambil memandangi Kwonhyuk.

“Maafkan aku, aku benar-benar menghancurkan karirmu sebagai blogger dan penyanyi cover

Kwonhyuk hanya menghela nafas lalu tersenyum memandang langit.

“Tak apa, aku akan menjadikan pengalaman ini sebagai judul fiksiku yang baru”

“Umm, bisa kau buat karakterku dengan baik dicerita fiksimu nanti? Buat karakterku dengan karakteristik dandere misalnya..”

“Tidak! Tsundere lebih baik” Balas Kwonhyuk dengan segera. Dan Lisa kembali merungut mendengar ucapan Kwonhyuk. Ia hanya bisa tergelak kecil melihat ekspresi Lisa.

Kini mereka berdua hanya terdiam sambil memandang matahari terbenam.

Sampai Lisa memecahkan keheningan.

“Warna hijau lautnya sudah menghilang..”

“Ya, aku tahu..”

“Aku tak bisa melihat ‘Kwonhyuk’ lagi dari pantai ini..”

“Sekarang kau akan kemana?”

Lisa tersenyum  sambil memandangnya. Kwonhyuk kini memandangnya dengan penuh rasa khawatir.

“Aku akan pulang, aku akan memenuhi janjiku saat ini juga”

Kwonhyuk sedikit ragu, namun ia seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Kau tahu? Kau..kau perempuan paling hebat yang pernah kulihat!” Ucap Kwonhyuk pada Lisa dengan nada sedikit gelisah.

Lisa tergelak mendengarnya. Lalu ia tegak dari tempat ia duduk.

“Hahaha, ucapan cinta macam apa itu?” Tanya Lisa masih dengan sedikit tergelak sambil mengelus pelan kepala Kwonhyuk.

“Kau tahu harga diriku terlalu tinggi..”

“Ya, aku tahu..”

“Apa aku boleh ikut?”

Lisa merendahkan posisinya sedikit lalu menjetikkan tangannya ke dahi Kwonhyuk.

“Tidak boleh!”

“…….”

“Kwonhyuk, besok pagi, pagimu harus berjalan seperti biasa. Kembalilah ke Korea dan lanjutkan perjalananmu. Aku harus kembali ke rumahku”

“…….”

Dengan perlahan Lisa berjalan menjauh dari Kwonhyuk. Berjalan menuju pesisir pantai yang mulai pasang.

Kwonhyuk tahu bahwa ia tak bisa melakukan apa-apa, hanya memandang Lisa dari kejauhan yang mulai berjalan jauh ke dalam air. Tepat saat ia menghilang sepenuhnya, langit mulai gelap. Tak ada lagi cerminan warna air pantai berwarna kehijauan yang Lisa bilang merupakan perlambangan dirinya.

“Dan pada akhirnya kau pergi dengan masih memikirkanku, dasar bocah…”

.

.

.

.

Kwonhyuk kini berada di dalam pesawat. Tepat setelah ia pergi ke pantai kemarin, paginya ia langsung memutuskan untuk langsung kembali Korea, melupakan berbagai kejadian yang telah terjadi di Hawaii.

“Hei, apa kau orang Korea?” Sapa sebuah suara yang cukup berat. Ternyata seorang pesulap yang kemarin tak sengaja ia jumpai.

“Ah, kau si magician yang selalu tampil di bar, bukan?” Sapa Kwonhyuk dengan senyuman yang sopan.

“Dan beruntungnya saya berjumpa dengan orang Korea yang sedang naik namanya” Balas si magician sembari mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman.

“Kwonhyuk, kau juga bisa memanggilku dengan namaku di dunia maya—Dean”

“Jeonghan, senang berjumpa denganmu”

“Begitu juga dengan saya”

Si magician—Jeonghan lalu mengeluarkan sebuah koran dan mengulurkannya ke Kwonhyuk.

“Bahkan pesawat belum berjalan, kau sudah jetlag duluan. Baca saja koran ini daripada kau termenung”

Kwonhyuk sedikit terkejut, lalu ia mengambil koran tersebut dengan sopan.

“Terimakasih banyak, maaf membuatmu repot”

“Tak masalah, lagipula aku membeli koran ini karna sesuatu menarik perhatianku, lihat headline news nya”

Kwonhyuk lalu membaca headline news koran tersebut.

Penyelenggara lomba surfing di Hawaii turut berduka cita atas hilangnya peserta berkewarganegaraan Thailand, Lalice Manoban.

Sudah seminggu, jasad korban masih belum ditemukan.

Tim pencari menyatakan jasad benar-benar tak bisa ditemukan dan melakukan pencarian terakhir sore ini.

“Kau tahu, sangat disayangkan kematiannya untuk gadis secantik dia”

Kwonhyuk hanya menghela nafasnya.

“Ya, kau benar”

“Tapi ia menghilang di pantai yang indah yang kau tahu pantai ini warnanya sangat indah, warna kehijauan, aku berharap ia tidak merasakan beban dalam kematiannya”. Ucap Jeonghan sembari membersihkan suatu peralatan sulapnya  yang bentuknya cukup aneh.

“Aku rasa ia meninggal dengan tenang”

Jeonghan hanya tersenyum mendengarnya sembari memandang alat sulapnya dengan senang.

“Apa ini peralatan sulapmu yang baru?”

“Wah apakah terlalu mencolok? Aku sengaja membelinya jauh-jauh ke Hawaii”.

– –             –             –             –END–    –             –             –             –             –

Ohayoou, ini Oja dengan penname Pikabuddy (prev: Yoorazelo9796). Sebelumnya meminta maaf karna jarang mengupdate karya tulis terhadap blog sendiri ataupun IFK karna waktu luang yang ada tak mencukupi untuk mengupdate blog (Bahkan proyek comeback juga masih terbengkalai dan..dan…dan…).

Warna yang saya ambil adalah Darksea Green (Hex CSS code: #8fbc8f) dengan pemeran Dean dan Lalice + Jeonghan!

Jerque sendiri adalah istilah dalam kegiatan pelayaran yang artinya kegiatan pencarian barang yang dimuat oleh kapal. Seperti yang kalian baca, karna udah lama gak nulis, saya rasa ada beberapa kata ataupun kalimat yang tak sedap dibaca, jadi…mohon kritik dan sarannya. Gomenasai!

Iklan

8 pemikiran pada “[Movie Festival 4] Jerque by Pikabuddy

    1. Hahaha duh senangnya ada yang merespon, terimakasih sudah membaca yaa hehe. Jangan baper kelamaan wkwk. Intinya makasih yaa udah mau baca dan memberi respon, hehe xD

      Suka

  1. halo, Oja! ga pernah tahu pen-name pikabuddy, tapi familiar sama nama yoorazelo. keliatan banget golongan tua disini /slapped/.
    halo! Risma disini 🙂

    ternyata lalice disini sudah tak ada… ga nyangka! awal ceritanya mengalir banget, bikin aku pikir kalau mereka temen lama yg lagi liburan ke hawaii, mulai mencurigakan di bagian popsicle, eh ternyata si tsundere lalice udah ga ada 😦 si kwon hyuk ternyata ga produktif gara-gara kehilangan lalice 😦 tema kayak gini sebenernya udah umum, tapi dialog-dialog nya berhasil bikin kuterjebak. good!
    dan ada jeonghan the magician disini! udah ga jadi pesulap-halte dia wkwk.
    oh ya, beberapa kalimat disini ga diakhiri dengan tanda baca ya, kebanyakan titik sih. jangan lupa titik ya! diluar itu, ini bagus kok. semangat nulis ya!

    Suka

    1. Haai. Iya Oja jadi freelancer di IFK 3 tahun yang lalu dan jadi SC ifk dua tahun yg lalu hehe baru ganti jadi pikabuddy tahun lalu sih, gak terlalu muncul di ifk karna sering sibuk hehe.
      Iyaa oja sebenernya udah ngasih clue sih (dikit), dan jujur aja oja lemah banget bikin ungkapan indah seperti senior-senior ifk yg luarbiasa kayak fikha, Al,dhila, jul huhuhu:’) jadi oja usahain buat dialog yg singkat dengan harapan tiap pembaca punya asumsi masing2 ditiap dialog :).
      …..dan ya, oja masih gagep tentang tanda baca wkwk /sadar dong ja udah umur 19 gapandai pake tanda baca/ /gampar/
      Dan ya, terimakasih sudah membaca, memberi respon dan sarannya, responnya sangat membantu. Terimakasiih :)))

      Suka

  2. hi there!

    sudah kuduga itu hantunya Lalice wkwkwkwk. tapi di awal-awal emang masih belum tertebak kalau ternyata Lalice udah meninggal. dan menjelaskan kenapa di awal-awal Dean ngga mau denger Lisa, karena mungkin dia ngira itu imajinasinya, macem Ano Hana pas pertama kali Menma ngomong ke Jintan hehehe.

    warnanya bagus dan ngehubungin sama warna pantai yang sialnya adalah tempat Lisa dimakan ombak :”)
    ouch terharu dan sedih huhuhuhu

    see ya~

    Suka

    1. Hai jugaa :))
      Yah yah ketahuan kalau oja terinspirasi dari anohana duh duh /kabur cantik/
      Dan yaa, terimakasih yaa udah membaca dan memberi respon, senengnya ada yg respon :))
      Terimakasih :))

      Suka

  3. Salam kenal, Oja-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    Jerque. Aku asing dengan judul ini. Tapi pas lihat castnya aku jadi penasaran. Ada Dean kesayangan. Hihi.

    Isi Cerita:
    Awalnya aku penasaran kenapa Dean mengurung dirinya di kamar. Lalu Lisa datang dan maksa dia keluar. Kutebak kalau Dean ada masalah serius. Mungkin ditinggal pacarnya atau apalah.

    Lalu aku dibuat bingung dengan pernyataan Lisa kalau dia tidak bisa sampai sore. Kenapa? Ada acara lain?

    Aku pun scroll. Kedekatan Dean dan Lisa tergambarkan banget. Dean kayak sayang sama Lisa. Begitu pun Lisa perhatiana sama Dean.

    Lalu pernyataan Lisa ke Dean tentang warna air pantai tuh lucu.

    Dan.

    Oh.

    Jadi Lisa udah meninggal? Jadi Dean ditinggal? Kesian.

    Aku suka sih ceritanya.

    Yang gak aku suka dari cerita ini adalah tata penulisannya yang berantakan. Bikin cerita ini gak menarik dan membosankan di awal.

    Banyak yang (menurutku) salah. Contoh:
    “Aku ingin menjawab ‘iya’, tapi aku bersumpah harga diriku terlalu tinggi untuk melihat wajahmu” Balas Kwonhyuk dengan suara yang sedikit tenggelam. Ia membalikkan badannya menghadap Lisa, namun masih menutup matanya.

    Seharusnya:
    “Aku ingin menjawab ‘iya’, tapi aku bersumpah harga diriku terlalu tinggi untuk melihat wajahmu,” balas Kwonhyuk dengan suara yang sedikit tenggelam. Ia membalikkan badannya menghadap Lisa, namun masih menutup matanya.

    Jadi tolong diperbaiki, ya! Padahal ceritanua bagus.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini! 🙂

    With love,

    Energytea

    Suka

    1. Hai jugaa, hehe sebenarnya bener banget, oja sendiri sebenarnya merasa ada yg salah dengan penggunaan kata, kalimat, dan tanda baca, cuma sedikit ‘gak sadar diri’ karna oja tipikal yang ‘ga peka’ hehe. Tapi kritik dan sarannya sangat membantu! Terimakasih sudah mau membaca, memberi respon dan kritik sarannya.
      Semangat selalu :))

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s