[Movie Festival 4] Left Behind by slmnabil

Left Behind

Left Behind

presented for IFK’s anniversary

scriptwriter slmnabil cast Gray x Tiffany

genre Romance duration Vignette rating PG-15

It was clear that I didn’t want him anymore,

.

 

.

 

.

 

I guess.

.

 

.

 

.

Mungkin tindakanku ini—yang akan terealisasikan dalam beberapa menit—akan menuai gelar orang paling tolol. Bahwa aku tahu ada masalah yang menungguiku di depan sana, dan dengan kesadaran penuh sepasang kakiku bergesekan dengan permukaan tanah untuk menemui permasalahan itu. Ini sinting, tapi anggaplah sinting adalah nama tengahku. Lagipula aku tidak bisa menyalahkan Gray dan fakta kalau kami berpisah di waktu yang oh-sangat-tidak-tepat.

“Bisa-bisanya kamu meninggalkan proyek kelompok kita di tempatnya!” bentak Hyorin marah. Ya, ya, aku tahu reaksinya adalah yang ternormal. Tapi serius, deh, bagaimana aku tahu kalau malamnya aku akan putus dengan Gray? Tidak semua orang bisa jadi Alice Cullen.

“Lalu kamu mau aku melakukan apa? Menelpon mantan pacar yang kuputuskan semalam dan merengek minta kunci apartemennya?” balasku enggan.

Rasanya nyaris seperti menjejalkan kembali permen karet yang kubuang di detik sebelumnya. Ditambah gengsiku yang mencapai horizon, kurasa argumen ini tak akan menemui akhir. Ngeri membayangkan bertemu kembali dengan Gray setelah apa yang kukatakan padanya semalam.

“Urusi urusanmu sendiri, Gray, karena itulah yang akan aku lakukan. Selamat tinggal.”

Daripada reaksi Gray, aku lebih mengkhawatirkan apakah aku sanggup menanggung malu. Sumpah, deh.

“Ya, lakukan itu,” kata Hyorin. Aku menaikkan sebelah alis. Apa dia bilang tadi? “Merengeklah dan minta kunci apartemennya.”

Sialan.

“Atau aku akan mengadukanmu pada Mrs. Moore,” ancamnya.

“Kau bercanda.”

“Kau tahu aku tidak.”

Min Hyorin memang temanku, well, meski terakhir kali kuperiksa tidak begitu. Tapi dia selalu serius dengan perkataannya, dan aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang.

“Jadi?” Ia memastikan.

Oke, aku kalah. Lagipula dapat nilai F di kelas Mrs. Moore adalah tindakan bodoh lain setelah bunuh dirinya Juliet—apalagi ini semester terakhir di perkuliahanku.

Aku mengeluarkan ponsel, mengetikkan beberapa digit nomor lalu menunggu. Dia menjawab pada dering pertama. Selalu begitu.

“Hai, Darling. Ada apa?”

Baritonnya ceria seperti biasa, namun menyelipkan nada khawatir di celah-celah kosongnya. Aku diam, panggilannya membuatku tidak nyaman.

“Gray, ini Tiffany.”

Semua orang tahu itu, Bodoh! salak Hyorin lewat pandangan.

Dia mendesah sejemang. “Tiffany yang memutuskanku semalam.” Gray sudah ingat.

“Ya, Tiffany yang itu.” Jeda sejenak. “Uhm…. aku tahu ini agak sulit, tapi bolehkah aku mampir ke tempatmu? Ada barangku yang tertinggal.”

Hyorin melotot di hadapanku. Oh, dia bereaksi berlebihan untuk ukuran seseorang yang memaksaku melakukan ini. Aku ragu Gray akan mengatakan ‘ya’ dan Hyorin akan menyelipkannya di setiap humornya yang menyebalkan setidaknya selama seminggu. Soal penolakan-sang-mantan-pacar.

“Ya, tentu. Kapan kau datang?”

Entah aku harus merasa berterimakasih atau tidak. “Uhm, sekarang? Kau di apartemen?”

“Kau tahu jawabannya,” katanya. “Kalau begitu sampai jumpa … Tiffany.” Lalu dia memutus sambungan.

“Puas?” tanyaku sinis.

Hyorin tersenyum hingga menyentuh ujung-ujung matanya. “Lebih dari puas. Sekarang pergilah untuk memperjuangkan nilai kita dan … kisah romansamu kalau bisa.”

Mengabaikan perkataannya, aku meninggalkan Hyorin di tempat. Kuharap aku sempat menitip pesan padanya untuk menyampaikan pada Mingyu kalau tidak ada agenda belajar hari ini. Pengajarnya sedang absen untuk mengurusi kecerobohannya.

.

Pintunya terbuka saat aku sampai. Kelebatan soal kejadian semalam berdatangan, layaknya potongan-potongan puzzle yang berusaha membuat kesatuan utuh. Aku ke luar dari pintu ini, meninggalkan bunyi berdebum nyaring dan vibra yang cukup kuat. Sekarang? Aku melewatinya lagi untuk masuk, dengan sopan.

Gray tak terlihat di mana pun. Tidak di tempat tidurnya yang berantakan, meja belajarnya yang penuh lembaran-lembaran sketsa, tidak pula di dapur mininya untuk menguarkan aroma lezat. Mungkin dia sedang mandi.

Ide pengecut cerdas tiba-tiba terpikirkan olehku. Kupendarkan mata melingkungi sisi-sisi ruangan, melangkah berjingkat agar tak menimbulkan bunyi mengusik. Dan kemudian aku menemukannya di bar dapur, portofolio kelompokku. Aku masih ingat dia merajuk karena kupaksa membantu, padahal ada sinema yang sangat ingin ditontonnya bersamaku.

“Kau tidak romantis dalam beberapa poin, Tiffany. Aku ragu apakah Komisi Perlindungan Hak Berkencan akan menerima keluhanku.”

O Tuhan, itu terjadi selang sehari dari hari ini. Aku tidak tahu dalam waktu singkat segalanya bisa dijungkir balik. Seakan itu tidak pernah terjadi dalam kehidupanku, seolah itu hanya bagian dari film yang sering kutonton.

“Mengambil barangmu diam-diam lalu meninggalkan pesan ‘Tadi kau tidak ada jadi aku mencarinya sendiri. Terima kasih, Gray.’ Tiffany sekali.”

Tepat seperti yang kupikirkan.

“Senang bertemu denganmu juga, Gray,” kataku berusaha meredakan kegugupan. Pamit sekarang juga bukan pilihan bodoh, ‘kan? “Kalau begitu—”

“Kau mau kopi?” potongnya cepat. Dia tidak ingin aku pergi. Bukannya kelewat percaya diri, tapi Gray memang sangat transparan. “Bagaimana dengan teh? Jus? Air?” cecarnya.

Aku diam saja sebagai bentuk penolakan.

“Kalau begitu bicaralah denganku, sebentar saja,” pintanya. Terselip nada memohon di antara gerahamnya.

Yah, saling lempar kalimat selama beberapa menit tak akan membuatku gila dan melompat ke pelukannya. Aku duduk di kursi bar. Dia juga melakukan hal yang sama. Gray membiarkan keheningan mendominasi selama beberapa menit.

“Kalau kau mau berorasi cepatlah, keburu kiamat datang,” kataku mengusiknya.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Ya ampun, dari sekian banyaknya jenis pertanyaan di dunia ini kenapa pula dia memilih yang itu? Meski agak bodoh kalau Gray bilang, “Tiket konser band indie di kota sudah terjual habis. Apakah kau tahu calo yang terpercaya?”

“Pertanyaan berikutnya,” kataku. Menghindar lebih baik.

“Tidak. Itu jelas tidak lebih baik.”

Nah, dia bisa baca pikiran. Jadi mari anggap saja menjawab pertanyaannya adalah tanggung jawab moral.

“Karena kau selalu bersamaku.”

Dia mencermati jawabanku. “Ada yang salah dengan itu?”

“Tidak ke luar dengan teman-temanmu? Mengabaikan panggilan mereka? Ya, jelas salah sekali.”

Aku perlu pemadam kebakaran. Ada api di sekujur tubuhku kalau Gray memperhatikan. Dia membuatku kesal.

“Kau bahkan mengajakku untuk mengganti onderdil mobilmu, menonton balapan mobil walaupun aku tidak minat. Kau seharusnya melakukan itu dengan teman-temanmu dan bukannya aku!”

“Tapi aku ingin membagi kebiasaanku bersamamu,” dia membela diri.

“Dan mengabaikan teman-temanmu? Oh, Gray, coba ingat berapa kali kau ke luar dengan temanmu saat berpacaran denganku. Nyaris tak pernah. Karenanya aku juga kehilangan waktu bersama teman-temanku. Hyorin memang tidak peka, tapi aku tahu kami jarang bersama-sama belakangan ini.”

Gray diam.

“Cukup membayar rasa penasaranmu?” tanyaku emosi.

“Pertanyaan berikutnya.”

“Kau menyebalkan.”

Dia tersenyum. “Aku selalu tahu itu.”

Aku melunak melihat ekspresinya. Gray tahu ia salah dan aku tidak cukup membencinya untuk membiarkan dia larut dalam itu.

“Boleh aku minta minum sekarang? Tenggorokanku sakit habis teriak-teriak.”

Ekspresinya lebih santai, bahunya menjadi rileks. Dia bangkit untuk mengambilkan segelas air dan menyodorkannya di hadapanku. Aku menegang sekejap, sepertinya Gray menyadarinya juga.

“Gelas punyamu.”

Benar, punyaku. Oh, berapa banyak barang-barang yang kubawa ke mari?

“Cukup untuk menyebut kalau kau pindah ke apartemenku.”

Dia melakukannya lagi—membaca ekspresiku.

“Aku akan mengambil semuanya.”

Dia tersenyum lagi. “Aku tahu kau akan.”

Kami biarkan keheningan mendominasi beberapa saat sebelum dia bicara lagi.

“Daripada mengambil semuanya secara bersamaan ….” Dia menggantung perkataannya. “Bagaimana jika setiap hari kau ke mari untuk mengambil satu-satu? Sambil mengawasi perubahanku.”

Apa kau berusaha mengajakku berkencan lagi?

“Ya.”

It was clear that I didn’t want him anymore, I guess. But there he is, trying to leave colors again in my canvas. Perfect.

—end

Happy anniversary yang kelima buat IFK❤❤

Ini tahun pertama nabil menjadi bagian dari IFK dan terima kasih sekali untuk rekan-rekan scriptwriter dan budir tercinta sudah mengizinkan nabil bergabung❤

Yang terbaik untuk IFK❤ #MakeIFKGreater

16 thoughts on “[Movie Festival 4] Left Behind by slmnabil”

    1. yang kuamati dari lingkunganku sih gitu, cowo cowo yang tadinya sama temennya kemana mana tbtb pas udah punya pacaran sama pacarnya ((which I found annoying hahaha))

      makasiih yha sudah membaca dan berkomentar❤

      Suka

  1. satu hal yg terlintas waktu baca cast-nya: christian gray, is that you? /its grey please/ /slapped/ lagipula sejak kapan that grey jadi kayak gini haha.
    halo! sering lihat pen-name nya dulu😀 suka sama penggambaran sifat tiffany disini. walau santai dan suka seenaknya (“tidak semua orang bisa jadi alice cullen” wkwk) tapi tetep peduli sama orang lain. dia sadar kalau gray terlalu sering bersamanya itu ga baik dan ia sendiri juga jadi kehilangan hyorin. oh, yang bagian mingyu itu juga bisa menunjukkan tiffany peduli dan bertanggung jawab. disini mingyu belum jadi anak berandalan sepertinya wkwk. baca beranda ifk kali ini berasa ada di dunia paralel dimana semua orang sebenernya saling terhubung dengan ikatan temannya-teman. great job!
    love it! semangat nulis yaa!

    Disukai oleh 1 orang

    1. haaai rineema, percayalah kalo ini grey ff ini akan memuat dobel kontroversi hahahaaa😄 and I’m glad you found the value I wanted to share❤ makasiiih ya sudah baca dan berkomentar❤

      iyaniiih ifk lagi seruu, yuuk ajak temen temennya buaat main🙂

      Suka

  2. hi there!
    we meet again hehhe.

    wah! sebelum-sebelumnya banyak yg lebih menceritakan makna warna di ceritanya. lemme guess, ini warna abu-abu dan dipakai jadi nama tokoh. kalau salah, malu-maluin banget deh saya hahha. abu abu yg biasanya ngga jelas, bisa jadi berubah di Gray. at least, dia ngga terlalu ngga jelas (?) banget lah ya. di sini, alasan putusnya sama sekali ngga terpikirkan sama orang. hehhe. cool ^^

    see ya~

    Suka

    1. haai thia glad to read you here hehe just call me nabil, please biar lebih enaak :))

      tapi thia…. ini…. putih…. mungkin putih yang ternoda wahahaha😄 makasiih looh jadi nabil bisa belajar lebih gimanaa menyampaikan makna tersurat🙂

      makasiih udah mampir❤

      Suka

  3. Salam kenal, nabil-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    Left Behind. Dengan cast Tiffany x OC. Kesan pertamaku tuh jadi teringat dengan /uhuk/ kasus /uhuk/ yang menimpa Tiffany. Jadi kupikir cerita ini bakal sedih. Bakal tentang Tiffany yang tertinggal.

    Semua berubah setelah kulihat genre romance.

    Isi Cerita:
    Aku suka banget cara penulisannya. Hyorin yang galaknya tergambarkan. Tiffany yang gengsinya gak ketulungan. Serta karakter Grey yang genit gitu. HAHA. Lucu. Kamu bisa banget bikin aku membayangkan ekspresi, latar, keadaan mereka.

    Keren.

    Aku suka cara si Grey yang mau ngajak Tiffany balikan. Lucu. Modus.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini!:)

    With love,

    Energytea

    Disukai oleh 1 orang

  4. OMAYGAT LEE SUNGHWA IS DAT U BOI?!

    Halo kanabil (aku nggak tau manggilnya kakak atau bukan, aku juga nggak tau namamu nabil atau bukan aku hanya nyontek dari komen di atas. BTW aku line ’00 tolong benerin kalo aku salah karena sumpah demi apapun aku kudet banget soal iefka dan penghuninya)(et panjang bener)

    FIRSTLY YA, GRAY SEGITU SAYANGNYA SAMA TIFANY SAMPE DIA NINGGALIN TEMENNYA? HM-HMM, na-ah boi, gaada yg suka cowo yg ninggalin semua temennya demi cewenya dan vice versa.

    SEKENLI, dia y so cute? Aku suka caranya ngajakkin balikkan lewat nawarin ngambil barang satu-satu perhari, like ?? Smooth sumpah. Se smooth pantene. Atau apapun yang smooth.

    Dan, demi apapun, ini rasanya amerika sekali ya. Serasa baca fic terjemahan yang bahasanya baku tapi kasual tapi santai.

    Aku sangat harus pergi ato ga lee sunghwa sang master gray bakal menghantui. Bye, bye~
    Zyan

    Disukai oleh 1 orang

    1. Haloo, Zyan! waah nabil balesnya ini telat banget waduuh otoke :(( kita belum kenalan btw, nabil juga masih baruuu, baru taun kemarin gabungnya🙂 nabil 99L, let’s geet closeeee zyaan🙂

      Gray kubuat gitu dari gambaran yang sering kuliat di sekolah sih, cowo-cowo sering banget keliatan sama ceweknya daripada temennya dan cewe-cewenya pun gituu hehe

      uwiih pantene, tapi kutakbisa setuju bikos nabil pake zinc HAHA😄

      makasiih ya zyan udah mampirr, nanti nabil mampir juga deeh :))

      Suka

  5. Halo!
    Salam kenal, kak!
    pas liat cast, yaampun ini Gray? Serius? seneng bangettt!
    Pas baca ceritanyaaa, wah nggak kecewaa. Aku menikmati banget ceritanyaaa. Bebas typo juga ini. Suka penggambaran karakter Tiffany sama Gray.
    btw, Gray yang ngajak balikan Tiffany itu sumpaah unyuuu bangeeettt!

    Nice, kak! Keep writing!^^

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s