[Movie Festival 4] Envious Sunshine by thelittlerin

Envious Sunshine - thelittlerin

The Envious Sunshine

a movie presented by thelittlerin

.

GOT7 Youngjae as Ehre

.

BLOCK B Zico as Zico

INFINITE Sungyeol as Stark

APINK Namjoo as Ivory Aurum

.

genre Fantasy, Family, Dark, slight!Thriller, Angst

rating PG-15

duration Vignette

.

 

He’s a fluffy ball of sunshine

With a pair of dark-green eyes of envy

.

Namanya Ehre.

Ketika ia lahir, ayah dan ibunya seperti sedang melihat matahari.

Ia tidak menangis layaknya bayi pada umumnya, malah tertawa lebar dengan mata sedikit terpejam. Tawa lebar yang memancarkan aura kuning cerah pada sekeliling ruangan. Bahkan tabib yang menolong proses persalinan pun ikut tertawa mendengar suara tawa Youngjae waktu itu.

Bertahun-tahun kemudian, ketika ia beranjak dewasa, seluruh kota pun akan tertawa jika mendengar suara tawa Ehre. Hanya melihat anak lelaki itu tersenyum saja pun tak seorang pun yang dapat menahan bibirnya membentuk sebuah lengkungan indah.

Dia adalah sinar matahari di keluarga Arcus. Dengan sinar kuning cerah yang memancar terang.

.

.

Kedua irisnya berwarna hijau gelap. Warna hijau penuh keirian dan kecemburuan.

Namun tak ada satu pun yang menyadari.

Semuanya tertutupi sinar matahari yang seakan memancar dari senyumnya.

.

.

Umurnya baru tiga tahun saat kedua orang tuanya menyadari bahwa Ehre memiliki sepasang iris berwarna hijau. Hijau gelap yang seakan bersinar di tengah kegelapan. Sangat kontras dengan aura berwarna kuning yang menyelimuti bocah lelaki itu.

“Matanya indah sekali!”

Begitulah kata orang-orang saat menatap langsung kedua manik mata Ehre. Penuh dengan pujian, seolah-olah keberadaan manusia yang memiliki mata seperti itu sudah langka—di kemudian hari, ketika beranjak dewasa, Ehre menemukan setidaknya separuh penduduk kota memiliki warna mata yang serupa, bahkan ada beberapa yang jauh lebih indah.

Ehre kecil, kebingungan dengan berbagai perhatian yang dilimpahkan padanya, hanya bisa memandangi orang-orang di sekitarnya dengan kedua mata membulat. Sama sekali tidak membantu, mengingat kini mereka malah semakin mengeluarkan suara-suara bernada tinggi setelah melihat Ehre.

“Bagaimana rasanya punya dua matahari di dalam keluarga, Sir?”

Pertanyaan itu dilontarkan oleh tetangga sebelah rumah, yang sering dimintai tolong untuk mengasuh anak-anak keluarga Arcus—merujuk pada kakak ketiga Ehre, Stark, yang juga memiliki aura kuning yang sama seperti Ehre. Hanya saja, aura kuning milik Stark semakin diperkuat dengan kedua bola matanya yang memiliki sepasang iris berwarna kuning cerah.

“Saya rasa tidak akan ada kegelapan yang berani mendekati keluarga ini,” jawab Sir Arcus. ”Dan tidak akan ada yang lebih baik daripada ini.”

Tangan besar Sir Arcus mengusap lembut pipi Ehre, membuat bocah lelaki itu menggeliat—separuh kegelian dan separuh risih—tangan Sir Arcus tidak pernah terasa halus, tak peduli seberapa sering beliau mencuci dan menggosok tangannya. Kemudian pria berusia tiga puluhan itu memberi isyarat pada anak nomor empatnya untuk mendekat ke arah sang ibu—sudah waktunya bagi Ehre untuk tidur siang.

“Apa Ehre juga seperti Stark, Sir?”

Sir Arcus menggeleng sembari tersenyum. Kepribadian Ehre berbeda dengan Stark, walaupun keduanya sama-sama memancarkan aura sehangat sinar matahari dan dapat menularkan senyum kepada orang lain.

“Tidak, dia berbeda dengan Stark. Anda tidak lihat matanya?”

.

.

“Stark, kenapa kamu ingin jadi badut?”

Ketika itu umur Ehre sudah lima belas tahun dan Stark sembilan belas—empat tahun jarak yang memisahkan antara kedua saudara itu.

Stark, yang sedang mengepak baju-bajunya ke dalam dua koper berukuran sedang—ia akan bergabung dengan kelompok sirkus mulai musim gugur ini—terdiam sejenak. Kembali memikirkan alasan mengapa ia memilih jalan ini untuk melanjutkan hidupnya.

“Karena aku suka membuat orang lain bahagia,” jawab Stark sembari tersenyum. Namun lelaki itu tidak tahu apakah adik kecilnya—Stark masih menganggap Ehre sebagai anak berumur tujuh tahun—itu mengerti jawaban yang diberikannya. ”Kamu sendiri mau jadi apa?”

“Entahlah,” gumam Ehre. Nada suaranya terdengar sedih. ”Aku suka bunga, jadi kurasa aku bisa membuka toko bunga, kalau Ayah mengizinkan. Tetapi aku lebih suka menyanyi—“

“Jadi anggota paduan suara kerajaan saja!” sambar Stark tiba-tiba. Dan beberapa saat kemudian ia sudah bergabung dengan Ehre di tempat tidur, duduk menyilangkan kaki di atas kasur berlapiskan sprei berwarna putih gading. ”Kamu bisa jadi seperti Nona Aria!” tambah Stark lagi, mengingatkan Ehre pada Nona Aria yang tinggal di ujung jalan—rumahnya bagus, omong-omong.

“Tapi aku harus berumur dua puluh satu untuk bisa bergabung,” protes Ehre. ”Dan itu enam tahun lagi, Stark. Setelah aku lulus sekolah pun aku masih harus menunggu tiga tahun lagi.”

Stark merengut.

“Apa aku ikut denganmu saja Stark? Bekerja di sirkus?”

Kali ini gelengan pelan langsung tertuju pada Ehre. Menandakan bahwa Stark sangat tidak setuju degan ide Ehre yang satu itu.

“Kamu berbeda denganku, Ehre. Kamu—“

“Tapi aku punya aura yang sama sepertimu!”

“Tapi kamu tidak sama sepertiku, Ehre,” kata Stark lagi, kali ini memberi penekanan pada kalimatnya agar Ehre mengerti. ”Dan sirkus tidak merekrut orang hanya berdasarkan auranya saja.”

Kali ini giliran Ehre yang merengut.

“Mereka juga melihat ke dalam matamu, Ehre.”

.

.

Selama lima belas tahun hidupnya, Ehre merasa tak ada yang salah dengan kedua matanya. Kedua mata beriris hijau yang sering mendapat pujian dari banyak orang. Iris hijau gelap yang sangat kontras dengan aura kuning secerah matahari yang dimilikinya.

Namun, sejak hari kepergian Stark, Ehre mulai tak suka dengan matanya.

Kenapa kedua irisnya berwarna hijau?

Kenapa matanya tidak berwarna kuning sama seperti Stark? Bukankah aura mereka sama—mereka dijuluki sinar matahari keluarga Arcus, demi Tuhan!

Apakah warna matanya yang menyebabkan ia tidak bisa bergabung dengan sirkus?

(Ehre tidak sungguh-sungguh ingin masuk sirkus, ia lebih suka bernyanyi. Hanya saja, kalimat penolakan dari Stark sungguh sangat menyakiti hatinya)

Ehre memandang langsung refleksi dirinya di dalam cermin. Menatap tajam iris hijau yang sudah menemani dirinya sejak ia dilahirkan.

Dan tanpa disadari, hatinya berbisik pelan.

Aku ingin punya mata seperti milik Stark.

.

.

“Selamat!”

Entah sudah yang keberapa kalinya Ehre mendengar kalimat itu hari ini. Ucapan selamat tak henti-hentinya dilontarkan oleh para tetangga dan kerabat dekat, menyampaikan rasa gembira mereka atas kebahagiaan yang tengah meliputi keluarga Arcus.

Tidak, ucapan-ucapan itu tidak sepenuhnya ditujukan untuk Ehre. Walaupun ia tengah merayakan kelulusannya dari sekolah menengah atas hari ini, pujian itu bukanlah semata-mata untuknya.

Hari ini, di hari kelulusan Ehre, adiknya yang bermata biru terpilih sebagai wakil kerajaan untuk perlombaan strategi perang. Umurnya masih muda—dua tahun di bawah Ehre—sehingga menjadikan adik Ehre yang satu itu sebagai peserta termuda dalam perlombaan tahun ini.

Ehre sendiri sudah cukup mendapat porsi pujian untuk dirinya hari ini. Namun sang adik masih tak henti-hentinya tersenyum sembari mendengarkan pujian-pujian yang masih terlontar. Membuat Ehre hanya bisa berdiam diri di aula rumah dengan piagam kelulusan tergenggam di tangan.

Sir, anda pasti bangga si kecil biru bisa terpilih!”

Kalimat itu tanpa diminta masuk ke dalam kedua indera pendengaran Ehre. Membuat pemuda itu mau tak mau menoleh ke sumber suara dan mendapati sang ayah tengah dirubungi oleh beberapa kerabat dan rekan kerjanya—Ehre hanya mengenali beberapa di antaranya.

Ah tidak, ini hanya awal dari perjuangan yang sesungguhnya,” jawab Sir Arcus sebelum menyesap anggur putihnya. ”Masih lama sebelum kami sekeluarga bisa benar-benar berbangga hati.”

Mau tak mau Ehre mendengarkan percakapan itu sembari berkecil hati.

Aku tidak bisa membuat ayah bangga.

Kedua maniknya tertuju pada arah pukul 2, ke arah lelaki bermata biru yang lebih muda darinya.

Dan lagi-lagi, tanpa disadari, iris hijaunya berubah menjadi semakin kelam.

.

.

Perlu waktu seminggu bagi Ehre untuk akhirnya memutuskan apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya.

Seminggu setelah hari kelulusannya, Ehre baru berani menghadap sang ayah dan mengutarakan keinginannya.

Perlahan namun pasti, lelaki berusia sembilan belas itu berbicara empat mata dengan sang ayah. Menyampaikan mimpinya untuk menjadi anggota paduan suara kerajaan—tentu saja ketika umurnya sudah genap mencapai dua puluh satu. Suaranya mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun, juga ketika ia mengatakan bahwa ia akan menyiapkan diri sembari bekerja.

Dan ketika Sir Arcus bertanya di mana Ehre akan bekerja, lelaki itu sudah menyiapkan jawabannya.

“Toko bunga milik Tuan Aurum,” jawabnya sembari menyerahkan selembar perkamen ke arah ayahnya.

Kontrak kerja.

Kening ayahnya berkerut. Sedikit terkejut akan kesiapan anak lelakinya yang satu ini dalam menghadapi masa depannya. Juga sedikit heran kenapa Ehre memilih bekerja pada Tuan Aurum yang notabene tinggal di sudut kota—sedikit jauh dari kediaman keluarga Arcus.

Seakan bisa membaca pikiran sang ayah, Ehre melanjutkan perkataannya, ”toko Tuan Aurum dekat dengan akademi persiapan. Aku akan menyewa kamar di dekat sana supaya aku bisa langsung ke sana setelah bekerja.”

Namun bukan kalimat penjelasan itu yang membuat Tuan Arcus terkesimak.

Melainkan perkataan selanjutnya dari Ehre.

“Aku akan sukses seperti saudara-saudaraku yang lain dan membuat ayah bangga.”

Dan di saat itu Tuan Arcus baru menyadari iris hijau kelam milik Ehre.

.

.

“Bagaimana ini? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

Sedari tadi Tuan Arcus hanya bisa berjalan mondar mandir di kamar tidurnya. Disaksikan oleh sang istri tercinta yang dengan tenang menyisir rambutnya. Raut wajahnya lembut, tidak seperti Tuan Arcus yang sudah memasang tampang kalut sejak mengiyakan keinginan Ehre.

Sejak beliau menyadari iris hijau kelam milik putranya itu.

“Sayang, tenanglah—“

“Bagaimana aku bisa tenang?!” sambar Tuan Arcus bahkan sebelum istrinya sempat meneruskan kata-kata.”Ehre tidak seharusnya memiliki warna mata sekelam itu! Pasti ada yang salah dengan semua ini.”

Suara derit terdengar sejenak, sebelum digantikan oleh suara lembut dari langkah milik nyonya rumah. Tak perlu waktu lama setelahnya sampai Nyonya Arcus meletakkan kedua tangan melingkari pundak sang suami, berusaha menenangkan pikirannya yang sedang kalut.

Beliau juga tahu ada yang salah dengan putera keempatnya itu.

“Bagaimana kalau kita minta tolong seseorang untuk mengawasi Ehre selama ia bekerja di sana? Paling tidak, kita bisa mengantisipasi jika sesuatu benar-benar akan terjadi.”

Usulan Nyonya Arcus terdengar masuk akal.

“Tapi aku tidak punya kerabat di sana!”

“Panggil Zico.”

Zico. Sang pria abu-abu. Dia bukan pria jahat, tetapi juga tidak bisa dibilang sebagai pria baik-baik. Terlalu banyak hal-hal ilegal yang dilakukannya jika kalian mau menyebutnya sebagai warga teladan, tetapi hal-hal dibalik kelakuannya itu berkata sebaliknya. Aura dan irisnya berwarna abu-abu metalik, sesuai dengan julukannya.

“Hanya dia yang bisa dipercaya,” lanjut Nyonya Arcus.

Tuan Arcus menghela napas. Tahu pasti bahwa ia tak punya pilihan lain selain yang diajukan oleh sang istri.

“Baiklah.”

.

.

Ehre tahu ia diawasi.

Atau paling tidak, ada yang menjaganya selama ia pergi cukup jauh dari rumah.

Zico—sampai sekarang Ehre masih heran dengan nama unik pemuda itu—hampir setiap hari datang ke toko bunga ketika Ehre sedang bekerja. Berdalih ingin membelikan kekasihnya setangkai bunga, bertanya ini itu kepada Ehre. Ehre, yang sedari kecil memang menyukai tanaman, dengan senang hati menjawab.

Pada awalnya.

Namun, lama kelamaan Ehre sadar ada misi tersembunyi yang dibawa oleh Zico. Kedua iris Zico selalu tak fokus jika Ehre menjelaskan arti bunga yang dibeli pemuda itu, seolah Zico memang tidak punya niatan untuk membelinya. Zico juga selalu menanyakan arti bunga yang pernah dibelinya, sampai-sampai Ehre bosan menjelaskannya.

“Katakan, Zico, kamu disuruh orang tuaku, ‘kan?” tanya Ehre suatu siang, ketika toko bunga sepi pengunjung dan pemilik toko sedang berada di luar.

Well, aku sedang butuh pekerjaan,” jawab Zico santai. Tidak memedulikan tatapan tajam dari iris hijau kelam dari Ehre yang dilayangkan untuknya. ”Lagipula rumahku hanya di ujung blok dan aku juga butuh teman bicara.”

“Apa yang diminta oleh ayahku?”

Pertanyaan itu hanya disambut oleh gelengan pelan dari Zico—pemuda itu bahkan masih belum menatap Ehre, lebih memilih untuk memainkan ujung daun tanaman yang ada di dekatnya—dia lupa nama tanamannya.

“Itu rahasia.”

Ehre menghela napas sebal. Baiklah, lagipula tidak ada salahnya menjadikan Zico sebagai teman, toh dia tidak punya teman yang bisa diajak bicara di daerah ini.

“Kenapa kamu tidak mencari pekerjaan lain, Zico?”

Tawa sarkas terdengar, sebelum sepasang iris abu-abu bertemu dengan iris hijau kelam.

(Jika diperhatikan dengan seksama, Zico pun terkesiap melihat iris itu).

“Aku ini abu-abu, Ehre. Aku tidak bisa bertahan lama di satu tempat karena orang-orang tidak bisa percaya padaku. Kelompok preman pun tidak bisa menerimaku karena aku terlalu putih bagi mereka.”

Ehre terdiam.

“Aku tidak menyalahkan mereka, kalau kamu bertanya. Kenapa?” Zico berhenti sejenak, memerhatikan lelaki yang lebih muda di hadapannya itu sejenak. ”Karena aku tahu aku abu-abu. Aku tahu aku punya dua sisi yang seimbang yang tidak bisa menempatkanku di posisi mana pun di negeri ini. Aku tahu siapa diriku.”

“Lalu, apa kamu bahagia, Zico?”

Zico tertawa lagi. Kemudian berbalik lagi memandangi jejeran pot-pot berisi tanaman bunga beraneka warna—sudah masuk musim semi, waktunya bunga-bunga di seluruh penjuru negeri bermekaran.

“Tentu saja, Ehre. Aku masih bisa hidup berkecukupan. Mungkin tidak cukup jika dilihat oleh orang sepertimu, yang lahir di keluarga bangsawan yang bisa meneruskan usaha keluarga kapan saja—walaupun hak itu dimiliki oleh kakakmu yang paling tua, si Merah.”

Ehre terdiam lagi.

“Tetapi, aku bahagia, Ehre. Itu yang paling penting.”

.

.

Oh, tidak.

Kedua iris Ehre menjadi semakin kelam ketika ia terdiam menyimak perkataan Zico.

Lihatlah, bahkan pemuda seperti Zico pun bisa membuat Ehre merasakan keirian yang luar biasa dalam.

Kenapa aku tidak bisa seperti Zico? Yang bisa memahami dirinya sendiri dengan baik?

Kenapa aku tidak bisa memahami diriku sendiri?

Siapa aku?

.

.

Hari-hari selanjutnya, Zico masih tetap berkunjung.

Bukan untuk membeli bunga, namun hanya untuk sekedar mengobrol dengan Ehre. Itu pun tidak pasti kapan ia akan datang. Kadang ia datang sepuluh menit setelah toko dibuka, kadang tepat ketika matahari berada di atas kepala, dan malah terkadang ia datang ketika shift kerja Ehre sudah hampir selesai. Pola kunjungan Zico yang seperti itu membuat Ehre tidak berminat menanti kedatangannya.

Kling!

Bel di atas pintu berdenting, menandakan ada seseorang yang datang. Ehre dengan sigap berdiri tegap dan merapikan pakaiannya, siap menyambut pelanggan yang datang siang itu—semoga bukan Zico, batinnya dalam hati.

“Halo, Ehre!”

Suara riang itu jelas bukan milik Zico.

Ivory, anak Tuan Aurum, sang pemilik toko masuk ke dalam toko dengan wajah ceria. Aura kuningnya bersinar terang mengikuti lengkungan sempurna yang menghiasi wajah—sama seperti aura kuning milik Ehre dan Stark.

“Selamat siang, Nona Ivory,” sapa Ehre riang. Aura kuning miliknya juga memancar kuat, tidak ingin kalah dengan gadis yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu. Senyum lebarnya juga tak lupa disematkan, memberikan efek lebih pada aura miliknya.

“Sudah kubilang, jangan panggil aku ‘nona’!”

Ehre hanya menyeringai.

“Pantas saja aku kesilauan di depan toko, ternyata ada Ivory di sini.”

Suara berat yang sudah sering didengar oleh Ehre menghinggapi indera pendengarannya, membuat Ehre hanya bisa menghela napas.

“Zico! Sudah lama tidak melihatmu!” Suara riang milik Ivory kembali terdengar, kali ini menyapa Zico yang baru saja masuk ke dalam toko.

“Lain kali kendalikan auramu, Nona Aurum. Kamu hampir membutakan orang-orang di depan sana,” kata Zico sebelum duduk di bangku panjang di dekat pintu.

“Salahkan Ehre juga, dong!” balas Ivory, tidak terima hanya dirinya yang disalahkan. ”Dia juga tidak mengendalikan auranya, malah membalas sapaanku!”

Hanya kerutan di dahi Zico yang menjadi tanggapan untuk dua kalimat Ivory.

“Kenapa, Zico?” tanya Ehre. Heran kenapa Zico bertingkah demikian—kan memang benar yang dikatakan oleh Ivory. Masa Zico bisa tidak tahu?

“Aku tidak merasakan aura milik Ehre,” kata Zico pelan. Sekejap menjawab rasa penasaran Ehre. ”Aura kalian sama-sama kuning, tapi berbeda, dan aku tahu perbedaannya. Tetapi tadi aku tidak merasakan aura milik Ehre di depan sana.”

Ehre dan Ivory terdiam. Untuk Ivory, kedua matanya membesar tidak percaya, sedangkan Ehre gantian mengerutkan keningnya.

“Kurasa aura milik Ivory lebih kuat,” kata Zico lagi. ”Sama seperti Stark.”

.

.

Malam harinya, Ehre duduk termenung di tepi tempat tidur.

Memikirkan perkataan Zico hingga kepalanya berdenyut kesakitan. Namun hal itu tak urung membuat Ehre berhenti memikirkannya. Malah semakin besar segala emosi yang dirasakan oleh pemuda itu.

Kenapa aura Ivory bisa lebih kuat? Aku keturunan keluarga Arcus, demi Tuhan!

Benak Ehre terus mencari jawaban. Kembali mengulang kalimat sang pria abu-abu kata demi kata, mencari jawaban di setiap silabel yang ditemuinya.

Kurasa aura milik Ivory lebih kuat. Sama seperti Stark.

Sama seperti Stark.

Ehre terlonjak. Dia menemukan jawabannya!

Dengan cepat Ehre berlari menuju cermin, lantas mengamati lamat-lamat refleksi dirinya di sana. Menatap baik-baik kedua manik mata yang selama ini banyak dikagumi orang. Sepasang iris berwarna hijau kelam.

Hijau kelam.

Jemari milik Ehre perlahan menyentuh matanya. Mengingat kembali persamaan di antara kakak laki-lakinya dan anak pemilik toko tempatnya bekerja.

Stark dan Ivory sama-sama memiliki iris berwarna kuning cerah.

Kuning cerah, sama seperti warna aura yang dimiliki oleh keduanya. Mungkin itu yang menyebabkan aura Stark dan Ivory menjadi lebih kuat dibandingkan oleh milik Ehre. Iris hijau kelam Ehre sepertinya menahan aura yang dimilikinya untuk keluar lebih kuat—itu yang disimpulkan oleh Ehre.

Bagaimana ini?

Ehre tidak mungkin mengubah auranya—karena, jika menurut perhitungan singkat Ehre, ia seharusnya memiliki aura berwarna hijau—yang menjelaskan kenapa ia sangat nyaman berada di antara tanaman-tanaman. Aura seseorang merupakan garis keturunan yang dibawa orang tersebut sejak lahir hingga meninggal, tidak ada cara untuk mengubah aura itu.

Kalau ada, Ehre yakin Zico pasti sudah mengubah auranya sedari dulu.

Aku menginginkan mata seperti milik Stark dan Ivory.

Ehre terlonjak lagi.

Masih ada satu cara untuk mengubah segalanya.

.

.

Sore itu, angin semilir berhembus pelan. Memberikan kesejukan di musim semi ini. Orang-orang berjalan pelan menuju tempat tujuan masing-masing, sesekali melihat keindahan bunga-bunga yang tertanam di tepi jalan.

Sore itu, Ivory tertidur di bangku panjang di dekat pintu toko.

Novel tebal bersampul cokelat tergeletak di pangkuannya. Sepertinya nona muda itu jatuh tertidur saat sedang asyik membacanya. Gerakan napasnya naik turun secara teratur, menandakan gadis itu sudah tertidur pulas sejak beberapa saat yang lalu.

Dan di dekatnya, Ehre memandanginya dengan tatapan datar.

Iris hijaunya dipenuhi dengan keirian dan kecemburuan.

Di tangan pemuda itu, tergenggam erat sebuah gunting taman.

Perlahan, Ehre berjalan mendekati Ivory yang masih tertidur. Lantas berjongkok tepat di sebelahnya dan mendapati wajah damai sang gadis dengan mata terpejam erat. Menyembunyikan sepasang iris berwarna kuning cerah di balik kelopak matanya.

Kedua iris yang sangat diinginkan oleh Ehre.

Tidak mengucapkan sepatah kata pun, Ehre mengarahkan gunting di tangannya ke arah wajah Ivory. Ke arah mata lebih tepatnya. Melancarkan aksi untuk mengubah segalanya.

Ehre akan mengganti matanya dengan milik Ivory.

Ujung tajam gunting sudah menyentuh permukaan kulit Ivory, membuat gadis itu dengan cepat terbangun dan menyadari apa yang sedang terjadi. Dan tak lama berselang—hanya butuh sepersekian detik—sebuah lengkingan nyaring memenuhi seisi toko yang sedang tidak didatangi pengunjung itu.

“Ehre?!”

Teriakan kedua menyambangi telinga Ehre, namun pemuda itu belum sempat menengok ketika gunting di tangannya dijatuhkan ke atas tanah. Gagal menyongkel mata sebelah kanan milik Ivory, walaupun kini segaris luka terpasang di bawah kelopak matanya.

Dan hanya sepersekian detik dari teriakan kedua, tubuh Ehre sudah terpelanting jatuh, menjauhi Ivory yang kini bergetar histeris.

“Lepaskan aku, Zico!” teriak Ehre.”Aku harus mengambil matanya!”

“Kau gila?!” balas Zico, kali ini sembari menindih tubuh Ehre agar pemuda itu tidak bisa mengulangi tindakan bodohnya.”Apa tujuanmu?!”

“Auraku tidak sekuat miliknya! Aku tidak diakui di mana-mana! Ini semua karena mataku berwarna hijau!”

Zico hanya bisa terkesiap sejenak sebelum kembali fokus menahan Ehre yang semakin memberontak.

“Bodoh! Itu tidak akan mengubah segalanya!”

Dan teriakan Ehre menjadi teriakan ketiga yang mengisi seluruh penjuru toko sore itu.

.

.

Jumat kelabu.

Awan mendung menghiasi langit, menghalangi sinar matahari untuk datang menghampiri permukaan bumi. Suara gemuruh sesekali terdengar, namun hujan tidak kunjung turun sejak beberapa jam yang lalu.

Suasana kelabu juga meliputi rumah kediaman keluarga Arcus, keluarga bangsawan nan terhormat yang terkenal di seluruh penjuru negeri. Akan tetapi, mulai hari ini, sejarah keluarga itu akan tercoreng tinta hitam yang tidak akan bisa terhapus sepanjang masa.

Hari eksekusi Ehre.

Perbuatannya tempo hari tentu tidak bisa dimaafkan. Dewan Kota bahkan memutuskan pemuda itu telah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar.

Envy. Kecemburuan. Keirian.

Dosa besar yang disimbolkan oleh warna mata Ehre.

Nyonya Arcus tak henti-hentinya menangis. Ia tidak diperbolehkan ikut mendatangi eksekusi Ehre, takut jika wanita itu tak sanggup melihat sang buah hati dimasukkan ke dalam peti es untuk enam hari ke depan. Dan pemuda itu akan kembali masuk ke dalam neraka beku tersebut sekiranya dosa itu tidak hilang dari dirinya dalam enam bulan ke depan.

“Ada kata terakhir?”

Hanya Tuan Arcus dan Zico yang memberanikan diri datang menemui Ehre di hari eksekusinya. Keduanya kini menatap Ehre nanar, seakan mengharapkan pemuda itu untuk berbicara lebih dari sepatah dua patah kata.

“Aku akan kembali,” kata Ehre pelan. Kedua iris hijau kelamnya menatap tajam sosok sang ayah. Tidak berkedip ketika mengatakannya, bahkan sepertinya ia tidak mengindahkan sosok Zico dan aura abu-abunya di samping Tuan Arcus. Aura kuningnya meredup, sama seperti sinar matahari hari ini yang tertutupi oleh awan mendung di atas sana.

“Ehre.”

Ehre menggeleng pelan, melarang sang ayah untuk mengatakan apa pun untuk dirinya.

“Dan ketika aku kembali, aku akan jadi sosok yang lebih baik dari Stark. Atau pun Ivory.”

Tuan Arcus terdiam. Zico hanya bisa menghela napas.

“Bahkan lebih baik dari siapa pun.”

15 thoughts on “[Movie Festival 4] Envious Sunshine by thelittlerin”

  1. iri emg gak baik (gak bisa bayangin ivory matanya dicongkel).
    ada typo kak, di kalimat “selamat siang nona ehre” yg seharusnya ehre ucapin buat ivory (karena ehre cowo, gak mungkin dipnggil nona).
    aku suka gaya bahasanya. settingnya kubayangin di inggris dijaman victoria gitu. tapi gak tau kalo setting yg sebenarnya.
    good job kak

    Suka

    1. maaf ya, aku kebanyakan nonton SAW .__. iya itu bukan typo lagi, pas ngetik udah gak konsen hehehehehe tapi udah dibenerin kok. kalo setting ak sendiri juga bayanginnya semacem London abad pertengahan gitu hehehe

      makasih yaaa ^^

      Suka

  2. halo!
    wah akhirnya rada beda dari sebelumnya ya. unsur kerajaan dan warna aura dalam arti sesungguhnya. ini zico jadi berada di alternate universe ceritanya wkwk. suka sama makna-makna warna disini. dari awal yg bikin ehre beda adalah rasa ingin tau yg tidak diimbangi dengan rasa percaya diri. yah nasib adek emang selalu jadi lihat kakaknya sebagai panutan. tapi siapa si merah? si kakak ini jadi tokoh sukses yg mana? penasaraann.
    great! bagus penulisannya, rapi. nemu satu typo aja di kemunculan aurum, yg harusnya jadi “nona aurum” malah jadi “nona ehre”. si youngjae jadi cewek wkwk.
    sip! itu dulu deh. semangat nulis yaa!

    Suka

    1. siapa si merah? silahkan tebak sendiri wkwkwkwk soalnya ak juga gak punya bayangan siapa si merah hahahahaha /dikeplak/

      typo-nya udah diperbaiki, makasih yaaa ^^

      Suka

  3. hi there Tiwi!
    duh long long long timeeee Tiwi!

    kuning kuning kaya warna Tiwi (sok tau kamu, Thi)
    jadi mata dan auranya bisanya sama ya? dia irisnya hijau kaya Harry Potter wkwkwk. beda ding tapi. aku suka ala-ala kerajaan gitu macem negeri dongeng banget. dan cerita keirian Ehre. tapi tapi masih penasaran kenapa bisa aura dan matanya ngga sama? jangan-jangan itu kejadian langka gitu tah?

    udag ah, see ya Tiwii~

    Suka

    1. halooo thiaaa
      long long time banget ya ak balesnya :”

      iya dong, ak kan anak ayam :3 makanya warnanya juga kuning (enggak ding, pas milih warna ak gak mikir kayak gitu) eh ia, Harry matanya ijo juga ya .__. mungkin dulu pas hamil ehre, ibunya salah makan(?)

      hahahahaha makasih thiaa see ya~~

      Suka

  4. Salam kenal, Rin-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    Envious Sunshine. Menarik. Bikin penasaran. Karena biasanya matahari yang diirikan bukan dia yang iri.

    Isi cerita:
    Aku bisa banget ngebayangin Ehee kecil dengan mata hijauny dan auranya yang terang. Tiba-tiba kebayang Chenle NCT. Entah kenapa.

    Lalu muncul sang kakak dengan mata kuning cerahnya. Bisa kebayang sih aura dari Sungyeol.

    Terus aku mulai mencium bau-bau iri si matahari.

    Ehre iri.

    Lalu muncul Zico si abu. Pas banget sama tampangnya. Karakternya cocok.

    Terus Ehre bener-bener iri sampai mau congkel mata Namjoo. Jangan gitu, nak. Serem.

    Terus dia dieksekusi. Kirain kepalanya bakal dipenggal. Haha. Ternyata dikurung di es selama 6 hari. Tapi gak mati kedinginan tuh? Tapi dia bilang bakal balik?

    Cerita ini mengajarkan kalau rasa iri hati tuh bisa menghilangkal akal sehat. Iri hati emang gak baik dan aku merasakannya.

    Aku suka dengan penggambaran warna karakter mereka dari warna bola mata. Unik.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini!:)

    with love,

    energytea

    Suka

    1. terima kasih irene atas komennya yg superb sekali :”) ak terharu

      betewe, pas kamu bilang zico si abu, ak mikirnya zico si upik abu ‘-‘ maafkan aku mas…..soal hukumannya ehre, itu sesuai sama teori(?) seven deadly sins, di mana hukuman buat jealousy/envy itu masuk ke freezing hell (bisa digoogling sendiri ya) so ak mengintepretasikannya dikurung di kulkas .__.

      Suka

  5. Halo kak jul! Tob disini. Salam kenal:)

    Cerita yang kakak sajikan sangat menarik. Setiap kata dijelaskan dengan manis dan mudah dipahami. Agak serem juga pas bagian mau mencongkel mata ivory, aku pikir ini bakal pembunuhan gitu tapi ternyata enggak. Itu yabg serunya, bikin deg-degan.

    Nice, kak!^^

    Suka

      1. Tunggu… kuingin menutupi wajah…
        Kuingin menenggelamkan diri
        Kuingin…

        HADUH KAK MAAF BANGET HEUHEU KENAPA GAFOKUS GITU YAAAA HEUHEU MAAFKEUN 😂😂😂😂

        Suka

  6. Haloo!
    Salam kenal, Kak!

    “Selamat siang, Nona Ehre,” sapa Ehre. mungkin nona Ehre di situ maksudnya Ivory ya….

    Ceritanya bagus! Pesannya dapet banget! Gaya bahasanya aku sukaaaa! tapi aku ga bisa bayangin Youngjae nyongkel mata :”

    Nice, kak! Keep Writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s