[Movie Festival 4] Cuai Sang Caba by DaeHanBingu

Cuai Sang Cabai

Cuai Sang Caba |

a Movie Festival created by: DaeHanBingu |

Cast: Kim Jiwon a.k.a iKON’s Bobby & Kim Jisoo a.k.a BLACKPINK’s Jisoo |

Genre: Family, Romance, Sad, Hurt/Comfort, Slice of Life, School-Life |

Duration: Vignette (2000+ Words)

.

.

.

Thank you so much snqlxoals818 for the amazing poster!

“Sang Caba tak suka diatur, keras kepala, pun membenci keteraturan. Kendati begitu, hanya satu nara yang mampu meretas habis Sang Caba cuai tersebut, nara paling indah di alam semestanya.”

Prolog

Gemerisik angin teduh menyapu kembang-kembang cantik dengan lembut, meniupkan keharuman bunga bermacam jenis pun warna, mereka bergoyang seirama layaknya penari ahli. Terkadang, kelopak-kelopak indah berjatuhan, terlepas dari induknya dengan terpaksa. Akibatnya, membuatku perlu memunguti kelopak tersebut agar tidak mengotori lantai. Namun, aku menyukainya; ketika angin mendobrak masuk ke toko bunga milikku di pagi hari. Teramat berharga untuk dilewatkan satu sekon jua.

Aku selalu terhipnotis—seperti sekarang, sampai pada saat suara bel dering pintu masuk membawaku berpijak lagi. Mataku melihat sosok gadis berambut gelap pirang, panjang hingga punggungnya, dan tergerai begitu saja. Gadis itu mengenakan kemeja putih, padu padan dengan rok kotak-kotak cokelat. Ia berjalan masuk ke tokoku, tidak seperti pelanggan yang acapkali datang.

Awalnya, ia nampak ragu memasuki toko bunga ini. Entah karena apa, gadis itu berakhir memasuki tokoku. Raut wajahnya menampilkan kegusaran. Aku hanya bisa melihat saja, tak berani untuk bertanya apa gerangan yang terjadi. Apa hakku? Mungkin ia ingin membeli bunga, mungkin pula ia ingin menanyakan arah jalan karena tersesat.

Aku pun tahu banyak hal tentang kehidupannya setelah kami berbincang panjang lebar. Gadis cantik inilah yang akan membimbingmu turut serta menyelisik ke dalam cerita kepunyaannya. Cerita ia dengan Sang Caba, sesosok yang tak akan pernah bisa hilang dari hidup gadis itu—kecuali jantung Sang Caba berhenti berdetak guna mengalirkan darah.

Lalu, pertanyannya: apakah kamu siap memasuki dunia gadis itu tanpa menghakimi?

***

Sejak kecil Jisoo tak pernah bilang hidupnya mudah. Jisoo selalu sadar bahwa masalah tidak bisa begitu saja ia biarkan. Ia sebagai anak sulung sangatlah mengerti kondisi orangtua mereka yang kesusahan. Tak pernah terpikir dalam benaknya sekalipun untuk menambah beban orangtua, ia bahkan belajar menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab agar dapat diandalkan.

Namun, agaknya perbuatan pun tindak tanduk gadis itu belum mampu mengambil hati Sang Alam Semesta untuk berbaik hati kepadanya. Seperti mengurangi beban hidup Jisoo, andai saja.

“Aku ingin satu sekolah tahu bahwa kita—“

“Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, Kim Jiwon! Aku tidak pernah sudi satu sekolah tahu tentang kita. Apapun itu.” Jisoo membentak tepat di depan wajah lelaki serampangan—yang terlihat nakal—bernama Kim Jiwon tersebut. Kata-kata Jisoo akan senantiasa membungkam lawan bicaranya tanpa ampun, apalagi ketika ia mengeluarkan suara keras. Tandanya, gadis itu tidak ingin dibantah.

Ini yang dimaksud beban hidup Jisoo semakin bertambah; semenjak Kim Jiwon hadir di hidupnya. Orang-orang menyadari kelakuan Jisoo berubah total—lebih emosional. Entah karena ia mengutuk Alam Semesta dengan tingkah lakunya, entah ia sudah kehilangan kesabaran akan beban (masalah) yang kian sulit bagi kehidupannya.

Nara bernama Kim Jiwon terlihat gusar, mengacak-acak rambutnya kasar. “Aku sangat menyayangimu, Jis. Aku nggak mau preman sekolah itu mengganggumu lagi jikalau mereka tahu tentang kita. Mereka akan segera berhenti! Aku tak ingin kamu terluka seidikit pun, tolong mengerti.”

“Bob… Please, untuk kali ini, jangan ganggu hidupku lagi. Aku menganggap kamu bukan siapa-siapa. Jadi, hindari kontak apapun denganku—terutama di sekolah.” Setelahnya, Jisoo melengos pergi dari pinggir jalan; tempat mereka berdebat, meninggalkan keterkejutan dari lelaki yang ia panggil Bob, atau lebih tepatnya Bobby.

Sungguh, mereka sangatlah dekat. Bagaimana tidak dekat, jika mereka saja memiliki panggilan akrab masing-masing? Jiwon alias Bobby, pun Jisoo alias Jis. Lihat? Salah satu di antara mereka—yang berpemikiran sekeras batulah—yang membuat hubungan keduanya semakin rumit.

Pelajaran Biologi pun dimulai. Guru paling menyeramkan dan terkenal tidak berkeprimanusiaan masuk ke kelas dengan angkuh.

Jisoo akhirnya dapat bernapas lega hari ini, ia sangat tahu Kim Jiwon akan berhenti mengganggu setelah dirinya memberi ultimatum telak kepada pria itu. Jisoo terlalu lelah harus meladeni sindiran, fitnah, juga gunjingan yang dilayangkan kepadanya akibat ulah Jiwon. Padahal, Jisoo sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan pria itu—menurut persepsinya. Ia menyapa atau bahkan bertergur sapa di sekolah dengan Jiwon saja tidak pernah. Lalu, kenapa? Kenapa orang-orang di sekolah selalu menyangkut-pautkan ia dengan lelaki berengsek itu?

Kim Jiwon sendiri, seumur hidupnya tidak akan pernah berani menentang apa yang diinginkan Jisoo. Sungguh, apapun permintaan gadis cantik pemilik alam semestanya itu, akan selalu Jiwon turuti tanpa mengeluh pun membantah. Jika Jisoo tidak menganggapnya ada, tak masalah bagi Jiwon. Namun, pria itu tidak bisa dengan tak acuh membiarkan Jisoo diincar oleh preman-preman sekolah—yang salah sangka dan bodoh—karena hal sepele saja. Mereka amatlah berbahaya, Jiwon tahu itu.

“Maaf, Seonsaeng-nim!” Dengan terengah, lelaki berpostur tinggi mendobrak pintu kelas, masuk dengan terburu. Ia seperti dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan, mukanya pias, napasnya tidak teratur, dan matanya menyalang ketakutan. “Saya…, ingin berbicara dengan Kim Jisoo. Ini sangat penting, apa diperbolehkan?”

Kim Jisoo menoleh, matanya mendelik tidak suka. Gadis berambut pirang itu mengenali pria yang sedang mencarinya ini. Dia adalah Kim Hanbin, sahabat dekat Jiwon, teman sepermainannya. Oh, jika teman yang sering diajak tawuran merupakan definisi dari teman sepermainan pula.

Apa yang diinginkan teman pria berengsek itu? Mau menambah gunjingan orang lagi terhadapku?  Jisoo menggeram dalam benaknya. Ia sudah terlalu lelah menghadapi perlakuan buruk dari orang yang tidak dikenalnya, merisak dirinya dengan kejam. Kesakitan di tubuhnya tidak akan pernah sebanding dengan rusaknya harga diri seorang Kim Jisoo—yang merupakan siswa berprestasi di sekolah.

Entah ada angin apa, Jung Seonsaeng-nim mengizinkan Hanbin membawa Jisoo untuk berbicara. Agaknya, wanita paruh baya itu tak mau kelasnya berubah menjadi lebih ribut lagi. Ia ingin segera anak urakan bernama Kim Hanbin, pergi dan membawa masalahnya. Jung Songsaenim pun tahu kelompok siswa-siswa nakal di sekolah menengah atas ini. Mereka sangat terkenal sebagai pembawa masalah, tak pernah kapok untuk dihukum. Hukuman apa saja tidak akan mempan untuk mereka, bahkan ancaman dikeluarkan sekalipun. Ini prinsip yang senantiasa mereka pegang teguh: senangi ketidakteraturan. Dan kamu tahu siapa ketua kelompok itu? Iya, dia adalah Kim Jiwon.

“Lepaskan genggaman tangan kotormu sekarang!” Jisoo lagi-lagi membentak. Sudah terhitung dua kali hari ini ia kehilangan kontrol akan emosinya. Untung saja mereka telah berada jauh dari orang-orang yang akan menonton mereka secara cuma-cuma.

Kim Hanbin sengaja menarik gadis teramat penting bagi hidup sahabatnya itu untuk berbicara empat mata. Ada hal genting yang harus diketahui Jisoo.

“Aku ingin berbicara. Ini mengenai Kim Jiwon.” Segera Hanbin bersuara setelah melepaskan tangan Jisoo. Ia berusaha mengatur jantungnya yang tak tahu mengapa berdetak ketakutan.

Kim Jisoo mendecak tidak suka, kemudian tertawa sinis. “Harus berapa ratus kali lagi aku bilang kalau aku tidak ada hubungannya dengan pria berengsek itu?!”

“Dengarkan aku dulu!” Habis sudah kesabaran Hanbin. Seharusnya ia dapat menahan segala emosi yang bergejolak dalam dirinya, itulah yang dipesankan Jiwon.

“Jiwon tidak sadarkan diri di rumah sakit! Ia adu kekuatan tadi pagi dengan preman-preman sekolah. Jiwon berusaha melindungimu, Jisoo… Ia tahu mereka akan menculikmu setelah pulang nanti. Dan sekarang kamu menganggap ia tidak ada hubungannya denganmu?! Dia adikmu for God’s Shake!”

Tanpa sadar, Jisoo jatuh tersungkur. Kakinya tak mampu lagi menahan beban. Ia mulai terisak, menangis sedih. Air lakrimasi tidak berhenti mengalir, bahkan semakin deras turun dari maniknya yang indah.

Benteng tinggi yang ia bangun runtuh sudah. Prajurit-prajurit yang seharusnya menjaga benteng perthanan Jisoo lari berhamburan, menyebabkan Sang Ratu tersesat kehilangan arah pun pegangan hidup. Jisoo lah Sang Ratu itu, pemilik perasaan yang sekarang tumpah ruah. Perasaan yang sepatutnya terkunci dalam benteng pertahanan buatan Sang Ratu.

Hanbin yang melihat keadaan Jisoo sekarang turut merasakan pedih di dadanya. Dengan begitu saja fakta rahasia—yang harusnya pria itu simpan rapat-rapat—keluar dari mulut jahanam Kim Hanbin. Ia tahu perkataannya sangat salah, tetapi Hanbin pun tidak dapat menyembunyikan kebenaran tersebut lebih lama lagi.

Sesungguhnya, Jiwon telah berterusterang bahwa Kim Jisoo adalah kakaknya beberapa waktu lalu. Jiwon amat menaruh kepercayaannya kepada Hanbin, lelaki nakal itu tahu Hanbin tidak akan mengkhianati kepercayaan yang ia beri.

“Bawa aku ke sana sekarang! Tolong…” Jisoo memohon dengan suara yang terputus-putus, paru-parunya begitu sulit bekerja sehingga membuat sesak di dada.

Hanbin pun mengangguk paham. Ia bergegas membantu Jisoo untuk berdiri dan membimbingnya menuju parkiran sekolah.

Masih terpatri dalam ingatan Jisoo, tatkala Kim Jiwon kecil mengajaknya untuk bermain bersama. Umur mereka tidak terpaut jauh, bahkan satu tahun pun tidak. Seharusnya hal tersebut menguntungkan bagi Jisoo karena tumbuh kembang mereka hampir mirip waktunya. Tak perlu ada ketidakcocokkan pemikiran. Mereka satu umur, Jisoo bisa sesekolah dengan Jiwon, menanyakan tugas, pun pulang-pergi bersama. Bukankah lebih menyenangkan mempunyai adik rasa pacar yang bisa menjagamu setiap saat?

Kendati demikian, tidak untuk perkara Jisoo. Ia bahkan membenci kenyataan bahwa Kim Jiwon adalah adiknya. Bagaimana tidak? Lelaki itu berbeda dari yang lain. Ia teramat nakal, sejak kecil Kim Jiwon tak suka diatur, sangat keras kepala pun anti dengan keteraturan.

Oleh sebab itu, Jisoo menjauhi Jiwon layaknya virus yang akan menyebar bila tersentuh pun memilih merahasiakan fakta di antara mereka. Jiwon menyadari bahwa kakaknya menghindar, tak mau menganggap dirinya ada sebab akan menimbulkan masalah. Namun, lama-lama Jiwon jengah dengan perlakuan Jisoo.

Ia pun nekat mendekati kakaknya itu.

Pada suatu saat, Jiwon memberi cokelat kepada Jisoo secara terang-terangan di sekolah. Lelaki serampangan itu tahu Jisoo amat menyukai cokelat. Tetapi sialnya, cokelat itu malah berpindah dari tangan Jisoo ke tempat sampah. Di lain waktu, Jiwon memberikan bunga mawar merah—yang berakhir sama seperti cokelat sebelumnya.

Jiwon tidak menyerah, ia selalu mempunyai banyak cara untuk mendapatkan hati kakaknya agar tidak menjauh. Kim Jiwon tidak mau Jisoo—sebagai alam semestanya—hilang begitu saja. Ia ingin Jisoo selalu berada di dekatnya, sebagi penopang jikalau ia terjatuh.

Namun, entah Jiwon tidak peka, entah memang dia adalah pria bodoh. Kelakuannya terhadap Jisoo dengan jelas membawa perhatian banyak orang; gadis-gadis yang memujanya, pun bahkan musuh-musuhnya (para preman sekolah).

Setiap hari, Jisoo mendapatkan teror dari berbagai arah. Gadis-gadis yang tidak dikenalnya merisak tanpa ampun. Bahkan, ancaman pembunuhan sempat mampir pula di ponselnya dari nomor tak diketahui.

Jisoo mempunyai alasan tersendiri atas sikapnya terhadap Jiwon. Sebagai kakak, ia tahu dengan pasti mana yang terbaik untuk mereka. Dan lihatlah apa yang terjadi? Bukan orang lain yang terluka, tetapi malah kesakitan datang berbalik arah bak bumerang ke arah mereka berdua.

Tidak dapat dipungkiri, walaupun ia membenci kenyataan bahwa Jiwon adalah adiknya, perasaan sayang itu pun selalu ada. Mereka satu darah, dilahirkan dari rahim yang sama. Jika Jiwon sakit, ia pun akan merasakannya, pun jika Jiwon bahagia, Jisoo akan tertular kebahagian yang dipancarkan adiknya itu karena di kehidupan ini mereka merupakan kakak beradik.

Because home is wherever i’m with you.

***

Epilog

“Cuai Sang Caba.” Aku berucap samar, tersenyum ramah ke arah gadis yang telah aku tahu namanya, Kim Jisoo.

Jelas, ia mengerutkan kening kemudian. Jisoo terlihat tidak mengerti akan kata-kata yang baru didengarnya tadi.

“Kamu menganggap remeh Sang Caba, Sayang.” Aku berusaha menjelaskan. Namun, dibuat terkikik oleh raut wajah bingungnya. “Sang Caba, siapa tadi? Oh, iya Kim Jiwon. Sang Caba yang bertingkah laku tidak keruan.”

Aku membiarkannya menelaah perkataanku beberapa saat. Sementara aku memanggil pegawai part-time di toko bungaku karena rasa-rasanya aku perlu memecahkan masalah gadis di depanku ini. “Youngjae, tolong ambilkan bunga yang sudah layu di tempat penyimpanan.”

“Baik!” Choi Youngjae—pegawai paruh waktu di tokoku—pun menyahut.

Beberapa sekon kemudian, ia telah kembali membawa bunga mawar merah yang telah layu dan menyerahkannya kepadaku. Bunga ini aku dapat di tempat sampah, sudah lama sekali. Entah mengapa, aku merasa wajib untuk mengambil dan merawatnya. Bunga mawar merah yang cantik, sekarang telah layu, berubah warna dari merah menjadi cokelat.

“Lihat bunga ini, Sayang. Ia kehilangan warna karena dipetik dari tanah. Orang tidak punya hati menganggap remeh bunga mawar merah cantik ini. Lebih parah lagi, aku menemukannya di tempat sampah.

“Andai saja ia dirawat, diberi kasih sayang, pun ditanam kembali. Bunga mawar merah ini pasti tidak akan menangis karena dengan terpaksa kehilangan warnanya. Warna yang sejatinya merah, berubah menjadi cokelat, menandakan bahwa ia telah kehilangan nyawa.”

Aku melihat ekspresi terkejut dari muka lonjong gadis itu. Dirinya seperti tertohok, ucapanku seakan menusuk tepat di sanubarinya. “Kamu tidak ingin kan hal yang terjadi pada bunga mawar ini terjadi pula terhadap Sang Caba?” Sekilas, Jisoo menggeleng pelan.

“Lihat pula daun yang berguguran di luar. Daun itu terjatuh menyakitkan ke tanah, menyisakan suara gemerisik karena mereka harus pasrah diseret oleh angin. Mereka telah habis masa waktunya, Sayang. Daun pepohonan itu dibiarkan berubah warna dari hijau gelap nan menenangkan hati berubah menjadi cokelat, tanda kematian mereka.” Aku menjelaskan dengan penuh kasih sayang dan senyum tak terlepas, layaknya ibu memberi penjelasan kepada anak kecil. Padahal Jisoo telah remaja pun sedang memakai seragam sekolah sekarang.

“Cokelat adalah makanan yang manis, bukan? Tapi jika kamu mengartikan warna cokelat untuk benda-benda hidup, semua akan berbeda definisi.

“Aku tidak akan berkata lebih banyak lagi, sekarang tergantung pada keputusanmu, Kim Jisoo. Apakah kamu memilih untuk merawat juga memperhatikan Sang Caba? Atau kamu lebih memilih mencuaikan Sang Caba? Aku di sini hanya bisa memberi saran dan pengertian besar kepada emosimu yang tergolong masih labil. Aku juga akan selalu mendukung apapun keputusanmu.” Gadis di hadapanku kini mulai menangis, ia mengangguk-angguk paham akan penjelasanku sedari tadi.

“Sekarang, pergilah. Sebelum Sang Caba bernasib sama dengan bunga mawar ini.” Aku mengantarkannya hingga pintu depan tokoku. Lalu, melihat sosok pria yang segera menghela gadis—cantik namun rapuh—itu masuk menuju mobil, sampai mereka hilang dari pandangan.

Bagaimana? Apa selama cerita kamu sempat menghakimi nara bernama Kim Jisoo? Kalau iya, berusahalah berada pada posisinya. Berpersepsilah dengan bijak setelah melihat sudut pandangnya karena semua orang tidak sama. Belajarlah pula untuk berempati, merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa sedikitpun menghakimi.

Sebab, aku percaya kamu merupakan manusia-manusia baik yang tinggal di alam semesta ini. Berbahagialah ketika melihat orang lain bahagia karenamu. Rasakan senyum tulus mereka-mereka yang akan menggetarkan sukmamu dengan indah.

The End.

A/n: YA ALLAH AKHIRNYA!!!! SELESAI JUGA CERITA SAYA HUHUHUHUHU :’’’’) TERHARU SANGAT… INI DIBUAT PAS SAYA LAGI SIBUK-SIBUKNYA JADI MABA :’’’’) MANGKANYA SENENG BANGET BISA SELESAI HAHAHAHAHAHA❤❤❤

Spesial thanks to:

  1. BUDIR, MY PIKARUUU❤❤❤ makasih banyak udah mau memperpanjang deadline yaampun :’))) aku sampe ngebut ngerjainnya hahahahahaha, fikha baik banget selalu menerima keluhan-keluhan dan pertanyaan tidak penting dariku :’’’’) EHEHEHEHEEHE
  2. KAKYEN alias snqlxoals818 buat posternyaaa❤❤❤ yaampun kusuka bangeetlaah HUAAAA SENENGGG❤ awalnya poster buatan saya sangat tidak bagus buat special event sebesar ifk ini hahahaha mangkanya ganti deh, eh minta tolong kakyen akhirnya❤❤❤ BAGUS BANGET KAAK DAN AKU SENENG LIATNYA HIHIHIHI❤❤❤
  3. READERS SETIA IFK heheheheehe❤❤❤ kucinta lah yaa pokoknya, semoga cerita ini layak deh buat jadi movie festival yang baru banget aku ikutin😄 hahahahaha, juga semoga kalian enjoy ya bacanya :)))) kutungu review dan likenya!😄 hahahahahaha :*****
  4. HAPPY BIRTHDAY TO IFK!!!!!

Sincerely,

FEI❤

9 thoughts on “[Movie Festival 4] Cuai Sang Caba by DaeHanBingu”

  1. halo! judulnya sukses bikin tertarik wkwk. dan isinya panjang juga. tapi entah kenapa butuh beberapa saat buat paham satu situasinya. menurutku pribadi mungkin karena narasi yang panjang. oh ya, ada beberapa typo juga tapi yang teringat “songsaenim”, harusnya “seonsaengnim”. karena kepanjangan mungkin bisa pakai Guru saja🙂
    tetep produktif ya. semangat nulis!

    Suka

    1. HALOOOO (KAK) RINEEMA!!! Hihihihi aku panggil apa nih? Salam kenal fei 98l di sinii 😊😊😊 WAAAAH MAKASIH BANYAAAAK YAAA UDAH NYEMPETIN KOMEN NGERIVIEW GINI:”””) YAAMPUN AKU SENENG BANGET :”””) jadi bisa buat masukkan banget buatku ❤❤❤

      Iyaaa wkwkwkwk sengaja judulnya aku buat begitu padahal awalnya juga ‘ih apasih judulnya aneh’ wkwkwkwk eeh karena aku ngambil tema warna cokelat, yaudah deh aku cari aja di kbbi yang depannya c hahahahahaha yaampun gitu banget😄 eh dapet kata2 itu yang sesuai sama cerita (tapi serius ini sesuai apa gak aku juga masih berandai-andai:”””””)

      Huhuhuhu maaf yaa kepanjangan:(( dan aku nulis bablas juga kebanyakkan narasi emang aku maunya begitu ihiiiik ihikkk:”””” biar gak bosen eh malah jadi bikin gam paham yaa :””””” maafkan (kak) rineema aku memang masih perlu belajar banget :”””)

      Nah buat koreksinya makasih banyaaak yaaa hehehehehe ❤❤❤ iya nih harusnya aku cari dulu xD gegara buru2 jadinya gak sempet wkwkwkwkwkwk XDD

      AKKKKK POKOKNYA MAKASIH BANYAAK YAAAA UDAH COMMENT ❤❤❤❤❤PADAHAL CERITANYA ABAL2:””””” bahkan buat kamu gagal paham (di sini kadang aku merasa sedih) :””””””””””””

      TERIMAKASIH (KAK) RINEEMA ❤❤❤❤❤❤❤ SUKSES BUAT KAKAK YAAA ❤❤❤❤

      Suka

      1. wah dibales ya hihi. halo, Fei! Risma, garis 96 disini 😊
        hoo, ambil dari tema cokelat to, pantes kayak pernah tau ((bukan anak kbbi, haha)). jadi tambah ilmu deh~ 😀

        Suka

    1. HALOOOO XIKA NISHA!!!!! Salam kenal yaaa Fei 98l di sinii hehehehehe ❤❤❤ MAKASIH BANYAAAK UDAH NYEMPETIN COMMENT YAAA :”””””) YAAMPUN KU SENENG BANGET EHEHEHEHEHE ❤❤❤

      HAHAHAAHAHAHAHA aduuuh awalnya aku mau buat mereka pacaran doang tauuu😄 eeeh karena aku mikir ‘ah bosen lah nuat cerita pacaran2 mulu wkwkekekwk’ akhirnya jadiin mereka sodara aja deh buat plot twist (tapi gatau plot twist apa gaknya)😄 ahahahahahahahag 😂😂😂😂 mereka juga marganya sama2 kim lagi hahahaha ghemees jisooXibob hahhaaha

      WAAAAH YAAMPUN AKU GAK NYANGKA PROLOG EPILOG YANG EMANG SENGAJA AKU BUAT GITU TERNYATA NYAMPE YAA KE KAMU :””) SYUKUUUR DEEH ❤❤❤ HIHIHIHIW 😘😘

      SEKALI LAGI TERIMAKASIH BANYAAK YAAA XIKA NISHA ATAS KOMENNYA HIHIHIHI ❤❤❤ SUKSES YAA KAMUU ❤❤😊😊

      Suka

  2. hiii thereeee!!!

    waaaah… walau awalnya bingung dengan Sang Caba dan Nara. Tapi untunglah ternyata mungkin itu hanya istilah dari bahasa lain. Hehehehe.

    narasi di prolog dan epilognya aku suka. Di prolog deskriptif sekali. Jadi bisa kebayang banget suasana toko bunga dan sekitarnya itu. Untuk epilog, pesan yang yang disampaikan sungguh ngena. Ya kita ngga bisa menghakimi keputusan/yg dilakukan orang, karena mereka pasti suda berpikir apa yang terbaik. Tapi, saya masih ngga ngeh sama endingnya :”D ((maafkan otak yg suka ngga konek)). Apa pemilik toko menyarankan Jisoo menyayangi Bobby? hehehehe.

    Dan untuk cerita inti Jisoo. Wow. Di awal pasti ngga terbayang kalau ternyata mereka adalah saudara. Mereka kembar kah? hehehhe. Abis kan umurnya ga sampai terpaut satu tahun dan dari rahim yang sama. cuman mengkonfirmasi, anyway.

    Di cerita inti penggunaan kata ‘pun’ menurutku kelewat sering. Meski buatku sendiri kata ‘pun’ punya keindahan tersendiri kalau dicantumkan di sebuah tulisan. Tapi kemunculannya yang sering agak ngga enak juga hehehe. Tapi ini opini pribadi, kok. Mungkin yang lain juga suka, kan? Meski begitu ngga mengurangi bobot ceritanya, kok (yaiyalah, Thi). Diksinya jos banget. sukiii dayooo~~~

    see ya~

    Suka

    1. KAK THIAAAAAAAA HALOOOO IH KANGEEN BANGET DEEH SAMA KOMENNYA KAKAK HAHAHAHA AKU JUGA UDAH BACA KOMENNYA KAKAK YANG DI WE DONT TALK ANYMORE WAHAHAHAHAHAHAHA (tapi belum kubales maafkan) :””’) KAK THIA YANG SETIA BANGET KOMEN DI IFK DARI ZAMAN AKU BARU MASUK DARI SEBELUM SEBELUMNYA :”) AIH HAHAHAHAHHAHAHAHA❤❤❤❤ SEMOGA KAKAK TERUS JADI PEMBACA DAN KOMEN SETIA IFK YAAA HIHIHIHIHI :* :* :*❤❤❤

      Waaaaaahhh :""") itu caba sama nara dari b.ind kak😄 ada di kbbi, kalau caba artinya serampangan, kalau nara itu artinya seorang jadi aku pake itu buat pengganti seorang hahahahhaha atau seseorang XDDDD biar berdiksi dikit lah ya /PLAK/ WKWKWKWKWKWKW😄

      YAAMPUN AKU SENENG BANGEEEEET PROLOG SAMA EPILOGNYA NGENA WAAAAAAAAH :''''''))) BAHAGIANYAAA HUEHEHEHEHEHEHEHE :* soalnya aku buat prolog sama epilognya beda dari isi cerita povnya :'''') sempet ragu juga apa bisa nyampe ke pembaca :'''') akhirnyaaaaaaa❤❤❤ ngerasa worth it banget nulisnya hihihihihi

      untuk epilognya itu aku buat si pemilik toko jadi tokoh yang bijak gitu dan mempengaruhi pikiran jisoo supaya menyayangi bobby, iyaaa bener asumsi kakak hahahahahaha😄 biar jisoo gak menyia-nyiakan bobby yang udah jadi darah dagingnya :((((( yaa begitulaah soalnya mereka bersaudara wkwkwkwk jadi harus saling menyayangi dan support satu sama lain :""")

      pada nanya ya apa jisoo sama bobby kembar, wkwkwkwkwk aku mau buat kembar tapi eeeem keenakan si bobby dong😄 wkwkwkwkwk aku buat mereka adik-kakak aja yang emang pas si jisoo lahir langsung hamil bobby XDDD AHAHAHAHAHA KEBAYANG YA SUSAHNYA :""""") (produktif berarti ortunya bobby jisoo WKWKWKWKWKWK /PLAK)

      WAAAAH iyaaa aku baru engeh kata 'pun' terlalu bertebaran ya disitu wkwkwkwkwk selalu deh mau jadi kata pengganti juga biar gak itu melulu eh malah kebanyakkan pun😄 wkwkwkwkwkwk ANYWAAAY MAKASIH KAAK KOREKSINYAAA❤❤❤❤ jadi catetan buat aku supaya ngurangin kata 'pun'😄 wkwkwkwkwkwk :*

      KAK THIAAAAAAAAA AKU TIDAK MENYANGKA DIKSINYA JOS :''''') AELAAAAH PADAHAL ITU AKU BOBROK ABIS DIKSINYA BIKIN GAGAL PAHAM :((( UHUHUHUHU ;_____; TAPI ALHAMDULILLAH KAK THIA SUKAAA❤❤❤ SUKI DAYOOO JUGA SAMA KOMENNYA KAKAK HIHIHIHI❤❤❤❤

      POKOKEEE MAKASIH BANYAAK YAA KAK UDAH NYEMPETIN BACA SAMA KOMEEEN KAAAK THIAA❤❤❤ :""") HUHUHUHU AKU TERHURA SEKALIII❤❤❤ LOVE LOVE {{}}

      Suka

  3. Salam kenal, author-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    Cuai Sang Caba. Aku gak tau maksudnya apa. Tapi menarik untuk dibaca. Pas lihat castnya tambah tertarik. Duo Kim? Kakak-adik kah?

    Isi Cerita:
    Di awal aku kira sosok ‘aku’ tuh si Bobby. Ternyata orang lain. Lalu Jisoo datang dengan raut wajah penuh masalah. Lalu aku disuruh untuk siap mendengar cerita Jisoo.

    Kemudian muncul part cerita Jisoo.

    Itu Jisoo sama Bobby sahabatan atau kakak-adik? Dari membaca nama panggilan sih aku pikir mereka sahabat. Tapi Jisoo bilang kalau mereka gaada hubungan apa-apa. Penasaran.

    Itu kenapa Jisoo gak suka sama Bobby sampai gak boleh ketemu lagi? Emang Bobby sebandel apa sih? Yailah kalo bandel-bandel biasa mah wajar aja kali. Lagian Bobby kan bukan siapa-siapa katanya.

    Terus dateng Hanbin. Mau ngomong sesuatu ke Jisoo. Ngomong apaan? Ngomong kalau sebenernya Bobby suka Jisoo?

    Oh.

    Ternyata Jisoo dan Jiwon tuh kakak-adik. Jisoo malu punya adik kayak Jiwon. Padahal Jiwon sayang sama kakaknya.

    Bener, sih. Gak tau mau nyalahin siapa. Karena aku juga harus memposisikan diriku jika aku itu Jisoo.

    Cerita yang bagus. Menyaarkan kakak untuk bersyukur dengan adik atau keluarga yanh ia dapat. Sebandel apapun mereka tetep sayang kakak. Huhu.

    Saran:
    “Sungguh, mereka sangatlah dekat. Bagaimana tidak dekat, jika mereka saja memiliki panggilan akrab masing-masing? Jiwon alias Bobby, pun Jisoo alias Jis. Lihat? Salah satu di antara mereka—yang berpemikiran sekeras batulah—yang membuat hubungan keduanya semakin rumit.”

    Paragraf di atas bagus sih buat panjangin isi cerita. Tapi aku lebih suka kalau author tuh menjelaskan sesuatu dengan dialog bukan narasi author. Lebih seru aja. Dari dialog Jisoo yang manggil Bob, dan Jiwon yang manggil Jis tuh udah dapet kok kalo mereka deket. Jadi menurutku sih gak usah dijelasin lagi.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini!🙂

    With love,

    energytea

    Suka

  4. Halo!
    Salam kenal, kak!
    pas kalimat “perbuatan pun tindak tanduk gadis itu bla bla bla” aku gagal paham maksudnya apa…)
    kata acuh. acuh itu kan peduli ya, tapi di sini kok kayaknya kata itu kurang pas pemakaiannya. Elipsis. itu seharusnya diberi spasi.
    Untuk segi cerita, aku suka alurnya! Twistnya kerasa pas jiwon ternyata adiknyaaa. kukira mereka itu sahabatan terus si jiwonnya naksir gitu wkwkwk. Prolognya keren!
    Soal pesan, itu kesannya terlalu menggurui. Saranku, pesan itu disampaikan secara tersirat/? aja. Tapi terserah juga sih, kan sesuai seleraaa:)))
    Keep Writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s