[Movie Festival 4] Fuschia Territory by Joonisa

Fuschia Teritory

Fuschia Teritory

By Joonisa (Joieland)

Cast: VIXX Lee Hongbin – Astro Yoon Sanha – OC’s Young  with Seventeen Jeon Wonwoo as cameo | Genre: Fantasy, Dystopia | Rating: PG 15  | Duration: Vignette (+2,6k words)

.

That’s how we stay young these days: murder and suicide – Eugene Ionesco

.

 

“Argh!”

Pria itu mengerang tepat saat dua mata pisau itu menusuk jantung dan lambungnya secara bersamaan. Nafasnya tercekat di tenggorokan tanpa berhasil lolos barang satu helaan. Kematiannya sudah terlalu dekat, namun bibirnya masih mengeluarkan satu kata umpatan pada si pelaku yang menatapnya kosong.

“Berengsek!”

Darah menyembur setelah ia berhasil meloloskan deretan silabus bernada sumbang itu. Dalam hitungan detik, nyawa pria dengan setelan jas rapi itu sudah terpisah dari raganya. Sang pelaku pun mencabut dua pisau yang selalu digunakannya untuk beraksi dan membersihkannya dengan sapu tangan milik korban. Tak ada perubahan yang signifikan dari mimik si pelaku selain satu kalimat yang selalu diucapkannya setelah kedua pisaunya bersih.

“Aku hanya menjalankan tugas.”

Sembari menyimpan pisau-pisaunya dengan rapi di dalam sol sepatu, ponsel pelaku yang ada di dalam sakunya berdering. Tanpa harus melihat siapa yang menghubungi, ia langsung menempelkan ponselnya ke telinga.

“Sudah?” sebuah suara bariton menyapa di ujung telepon.

“Aku selalu tepat waktu.”

Terdengar sebuah dengusan diiringi tawa kecil.

“Kau memang selalu bisa diandalkan, Lee Hongbin. Silakan cek rekeningmu dan tunggu target berikutnya.”

Si pelaku, Lee Hongbin, hanya bisa menatap jengah ponselnya karena sang penelepon sudah mengakhiri panggilan tanpa menunggu jawaban apapun darinya. Detik berikutnya, Hongbin meletakkan ponsel itu di aspal dan menginjaknya sampai hancur berkeping-keping. Tidak hanya sampai di situ, ia juga mengambil pematik dari saku celananya lalu membakar kepingan ponsel itu sampai habis dilalap api tanpa sisa.

Berbekal sebuah masker berwarna abu-abu, Hongbin menutupi sebagian wajahnya dan berjalan menjauhi area tempat di mana ia melakukan aksi pembunuhan. Tidak ada siapapun di sana dan CCTV disekitar daerah itu pun telah dimusnahkannya sehari sebelum ia beraksi. Hongbin memang terlampau ulung dalam hal ini dan jejaknya terlalu bersih untuk ditelusuri.

Hanya Hongbin yang tahu ke mana ia melangkahkan kakinya. Berbelok dari satu gang sempit ke gang sempit yang lain, berhenti di depan mesin minuman otomatis, kemudian melanjutkan langkahnya mengikuti semilir angin malam yang sejuk, sampai akhirnya ia benar-benar berhenti ke sebuah gedung kosong yang sudah ditumbuhi tanaman rambat di sisi kiri dan kanannya. Selama beberapa menit, Hongbin memindai gedung itu dengan seksama. Di beberapa bagian gedung itu terdapat dinding yang catnya sudah mengelupas dan berganti warna menjadi putih. Ada pula beberapa bagian dinding yang ditumbuhi lumut hijau hingga bau lembap samar-samar menyapa indera penciuman Hongbin.

Pria itu mengeluarkan pisau dari sol sepatunya. Ia berjalan memasuki gedung itu dan menggoreskan pisaunya di sepanjang dinding hingga terdengar bunyi derak yang menggelikan.  Seiring dengan keluarnya cairan hitam dari dinding, air mata Hongbin turut meleleh dari sudut matanya.

“Kapan kotaku ini akan kembali?”

.

.

Highlight pagi ini benar-benar mengejutkan.”

Sanha melirik Wonwoo yang berjalan di sebelahnya sambil membaca surat kabar. Tampang Wonwoo begitu serius sampai-sampai Sanha terpancing untuk ikut melongok ke surat kabar.

“Memangnya ada berita apa?”

“Kepala Inspektorat dibunuh …”

Langkah Sanha terhenti sebelum Wonwoo menyelesaikan kalimatnya. Tanpa menyadari Sanha yang tertinggal dua langkah di belakangnya, Wonwoo melanjutkan membaca.

“ … dan bukti korupsi besar-besarannya ditemukan keesokan harinya.”

Sanha menggenggam kuat-kuat telapak tangannya hingga ujung kukunya memutih. Namun kontras dengan fisiknya, di wajah pemuda itu justru terpatri sebuah senyum yang sulit dijelaskan sampai-sampai Wonwoo harus mendekatkan wajahnya pada Sanha.

“Sanha, ada apa?”

Yang ditanya hanya menjawab dengan gelengan dan senyum lebar.

“Aku duluan ya, Wonwoo. Sepertinya aku harus menggambar sesuatu pagi ini agar mood ku kembali.”

Wonwoo menjungkitkan alisnya. Seperti yang diketahui semua orang di sekolah, Sanha terkenal karena pameran lukisan muralnya yang begitu indah. Gaungnya tak hanya ke seantero kota, namun hingga ke mancanegara tahu kalau Sanha adalah seorang seniman muda yang sukses. Tetapi yang membuat Wonwoo Heran, Sanha pergi dengan punggung dan bahu yang tegang.

Mencerminkan kalau temannya itu benar tidak baik-baik saja.

Hongbin yang saat ini berada di kafe yang tepat bersebelahan dengan sekolah Sanha tentu saja tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi dengan emosi anak muda itu. Yang ia tahu sekarang adalah ia mendapat tugas baru lagi dalam waktu yang terlalu berdekatan tanpa bisa dibantah dan itu membuat Hongbin harus menahan diri.

“Tolonglah, aku butuh istirahat. Bukankah kalau melakukannya dalam waktu yang berdekatan, aku akan lebih mudah terendus aparat?”

Pemuda lawan bicara Hongbin menyesap espresso nya lalu kemudian tertawa kecil. “Pembunuh kelas kakap sepertimu takut terendus aparat? Yang benar saja! Kau sedang mencoba membuat lelucon?”

Hongbin jelas merasa terganggu dengan ucapan si lawan bicara. Ia mencoba bertahan dengan penolakannya, namun si lawan bicara mampu meluluh lantakkan pertahanan Hongbin dengan satu kalimat.

“Menurut rumor yang beredar, calon korban terakhirmu ini memiliki peninggalan bersejarah Kota Fuschia.”

Manik Lee Hongbin langsung terpancang. Rasa penasaran yang membuncah mendadak menyergap seluruh inderanya.

“Young … maksudmu, ti-tinta fuschia?”

Young, pemuda seumuran Hongbin yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya mengangguk dengan senyum puas di wajahnya. Ia tahu persis apa yang bisa membuat Hongbin bertekuk lutut.

“Jadi, bagaimana?” Young mendorong amplop yang ada di mejanya yang berisi arsip target Hongbin selanjutnya. Dengan cepat Hongbin mengambilnya dan merobek amplop itu tak sabar. Dibacanya dengan seksama biodata siapa yang tertera di sana.

“Anak sekolahan. Kurasa tidak terlalu sulit.” Hongbin memasukkan kembali arsip itu ke dalam amplop lalu menyeruput cappuccino miliknya dengan cepat. “Berapa bayaranku kali ini?”

“Separuh tinta fuschia akan menjadi milikmu. Separuhnya lagi milikku. Bagaimana?”

Deal.”

.

.

Mari kujabarkan padamu apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Tujuh puluh satu tahun yang lalu, Kota Fuschia adalah sebuah kota yang menjadi idaman setiap warga di dunia ini. Semua orang, bahkan mungkin juga kalian, ingin tinggal di sana. Kata sempurna paling tepat dijadikan sebagai sinonim nama kota ini.

Dimulai dari letak astronomis. Kota Fuschia benar-benar memiliki letak yang sangat strategis untuk jalur perdagangan. Semua negara dipastikan bisa mengakses pelabuhan dan bandara Kota Fuschia dengan mudah. Neraca perdagangan tentu saja selalu surplus bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun tanpa ada tanda-tanda akan stuck di titik yang sama. Warga negara semuanya makmur, bahkan yang tidak memiliki pekerjaan pun tidak perlu kuatir mengenai nasib perut mereka karena pemerintah akan dengan senang hati memberikan gaji secara cuma-cuma.

Selanjutnya, keindahan alam. Kota Fuschia diklaim sebagai kota dengan tingkat polutan terendah di dunia. Udaranya segar, banyak pepohonan dan hutan kota sehingga keteduhan bisa ditemukan di mana-mana. Belum lagi tata kota yang sungguh brilian hingga tak ada kata banjir meskipun musim hujan melanda.

Kita belum membahas kesejahteraan penduduk. Kota Fuschia bahkan masuk ke dalam salah satu kota dengan penduduk ter-bahagia di dunia. Parameter yang digunakan adalah jumlah kasus bunuh diri dan penduduk dalam sebuah rumah sakit jiwa. Jika kalian ingin lebih terkejut lagi, Kota Fuschia bahkan tidak memiliki rumah sakit jiwa. Satu pun. Sama sekali.

Tak ayal banyak orang dari luar Kota Fuschia melakukan studi banding ke kota tersebut setelah mendengar berbagai pencapaian yang begitu luar biasa. Namun tiba-tiba suatu hari, lima belas tahun yang lewat, sebuah pembunuhan dan perampokan massal terjadi di sebuah pabrik tinta di jantung Kota Fuschia. Pelancong yang sudah lama mengincar Kota Fuschia lah membakar pabrik tinta itu.

Oke, mungkin kalian bertanya-tanya kenapa pabrik tinta itu yang dibakar, dijarah, bahkan semua yang ada di sana dibunuh secara sadis.

Pabrik tinta tersebut adalah jantung dari Kota Fuschia. Tinta itu berwarna fuschia dan apapun yang ditulis dengan menggunakan tinta itu akan menjadi kenyataan. Keasrian, kedamaian, dan kesuksesan Kota Fuschia ini tak lepas dari keberadaan tinta tersebut. Tinta itu hanya dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah dan tidak ingin melakukan dosa selama hidupnya. Mereka mendapat sebuah kelebihan untuk bisa membuat intisari kebaikan di dalam diri mereka dalam wujud sebuah tinta yang berwarna sangat indah.

Setelah insiden penjarahan dan pembakaran pabrik tinta itu, Kota Fuschia bagaikan kota mati. Kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan mereka ikut musnah. Penduduk Kota itu sebenarnya bisa saja membangun kota mereka kembali, namun ada sebuah penghalang yang membuat mereka tak bisa berkutik.

Tinta Fuschia hanya bisa digunakan keajaibannya di dalam Kota Fuschia. Di luar kota itu, kekuatan itu nihil. Hal ini jelas membuat pelancong itu marah besar dan memutuskan untuk selamanya mengisolasi Kota Fuschia dari masa kejayaanya.

Adalah Young, seorang pemuda berusia hampir tiga puluh tahun, ingin memperbaiki keadaan Kota Fuschia seperti sewaktu dia masih kecil. Dia memanfaatkan pemuda yang sejak lahir selalu dilanda kemalangan, bernama Lee Hongbin, untuk mewujudkan ambisinya. Mereka membunuh siapa saja warga maupun pelancong yang mencoba memanfaatkan situasi runtuhnya Kota Fuschia untuk kesenangan mereka pribadi. Young menjadi ketua dan Hongbin adalah pelaksana.

Setelah mendapat mandat dari Young, Hongbin lantas bergegas. Membuang waktu merupakan sesuatu hal yang anti dilakukannya. Arsip mengenai target berikutnya yang harus ia bunuh adalah seorang anak SMA, yang saat ini tengah berada tak jauh darinya. Baru saja Hongbin menjejakkan kakinya beberapa meter dari kafe, ia melihat target sedang berada di tepi atap sekolah. Berdiri tegak dengan tangan membentang dan mata terpejam.

Sebuah senyum asimetris terpatri di wajah Hongbin.

“Tak perlu repot bunuh diri, Yoon Sanha.”

.

.

“Kau siapa? Apa maumu?”

Sanha melempar tatap penuh selidik pada Hongbin yang duduk di hadapannya. Tepat satu menit sebelum Sanha terjun bebas, Hongbin berhasil meraih bajunya dan membanting anak itu hingga sukses berguling-guling di atap sekolah. Alih-alih menjawab, Hongbin justru mengedarkan pandangannya ke lantai semen yang kini tengah ditapakinya.

Gambar bunga dengan warna fuschia dengan latar gedung pencakar langit sukses membuatnya menganga.

“Jadi ternyata benar … “ gumam Hongbin yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Air mata mulai menusuk bola matanya saat rasa haru itu menguasai perasaannya, namun terdistraksi oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh Sanha.

“Apa kau tuli?”

Hongbin mendongak. Harusnya ia marah karena seorang anak yang berusia jauh lebih muda darinya melontarkan pertanyaan bernada tak sopan, namun profesionalisme bercampur rasa bahagia berhasil membuatnya menyingkirkan amarah.

“Apa semua ini hasil karyamu?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, Bung!”

Mengehela nafas, Hongbin akhirnya menuruti kuriositas Sanha yang tampaknya sulit untuk diajak negosiasi.

“Aku Lee Hongbin, pemburu kebahagiaan di Kota Fuschia. Bolehkah aku ganti bertanya, kenapa tadi kau ingin lompat dari atap sekolah?”

Sanha mendecih–atau lebih mirip meludah–lalu kemudian tertawa sinis. Selama beberapa saat mereka hanya saling bertukar tatap. Hongbin menatapnya dengan senyum ramah sementara Sanha berlaku sebaliknya. Ia bahkan menggeram sambil menggenggam keras jemarinya.

“Kalau kau juga memiliki ayah yang sama berengseknya dengan ayahku, kau pasti tahu kenapa aku ingin melompat bunuh diri.”

“Kau mau bunuh diri karena ayahmu jahat?” tanya Hongbin setelah mendudukkan dirinya di sebelah Sanha, yang membuat Sanha menggeser pantatnya beberapa puluh senti.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku mau bunuh diri karena terlampau senang atas kematiannya kemarin. Tadinya aku bahkan ingin berterima kasih pada pembunuh itu karena ayahku si pelahap kebahagiaan rakyat sudah musnah beserta bukti kejahatannya. Tapi mendadak aku sadar … “

Hongbin berusaha mempertahankan eksistensi senyum hangatnya. Kalimat Sanha yang menggantung jelas menggambarkan kalau ayah Sanha adalah orang yang dibunuh Hongbin tempo hari. Kata maaf tersurat di dalam hatinya.

“Mendadak sadar?”

“Mendadak sadar kalau aku sudah berubah menjadi anak berengsek. Sama seperti ayah.”

Mengangguk paham, Hongbin lantas bangkit dari duduknya dan kembali menatap karya Sanha yang ada di bawah kakinya.

“Aku baru saja membuatnya sebelum melompat tadi. Bunga berwarna fuschia itu melambangkan kesenanganku.” Tutur Sanha terus terang. Hongbin lantas menjungkitkan alis.

“Kalau begitu, alat yang kau gunakan untuk menggambar semua ini masih ada?”

Sanha menggunakan dagunya untuk menunjuk ke arah tumpukan cat tembok dan cat spray tak jauh dari tempat Hongbin berdiri. Bagai melihat setumpuk berlian, Hongbin  lekas mendatangi tumpukan itu dan menatap kagum pada cat berwarna fuschia yang tak bertutup dan masih tersisa setengah.

“Bolehkah aku membeli cat ini?”

“Ambil saja. Di rumahku masih banyak.”

Hongbin lantas kembali membiarkan mulutnya menganga lebar. “Kau … punya banyak?”

Sanha mengangkat bahunya enteng. “Sebenarnya itu milik ayah dan disimpannya di sebuah brankas dengan kata kunci yang terlalu mudah. Kalau dipikir-pikir itu aneh karena ayahku bukan seorang pecinta seni tapi ia memiliki gudang yang dipenuhi cat. Jadi, yah, kuambil saja.”

Rasanya Hongbin ingin sekali berteriak lalu memeluk anak berseragam sekolah itu erat-erat, tapi urung dilakukannya karena dapat berimplikasi pada pandangan Sanha terhadapnya nanti. Berbekal rasa senang yang meledak-ledak, Hongbin mendekat pada Sanha dan mencengkram kedua bahu anak itu.

“Berapa usiamu, Sanha?”

“Lima belas tahun.”

Menatap Sanha selama beberapa jenak membuat Hongbin tersenyum puas. Jelas sekali kalau Sanha terlahir di saat Kota Fuschia mengalami kehancuran dan anak muda itu belum mengetahui seperti apa kota itu dulunya dan apa fungsi tinta berwarna fuschia bagi kota itu. Sanha di mata Hongbin saat ini adalah anak muda yang tidak mengenal potensi diri yang sebenarnya dan menjadi korban kejahatan orang tua yang tidak bermoral.

Dan keputusan Hongbin sudah bulat.

Ia tidak akan patuh pada Young kali ini.

.

.

“Demi apapun!”

Sanha tak bisa menahan dirinya untuk tidak memekik seirama degup jantungnya yang seakan meledak. Apa yang ia saksikan saat ini sungguh di luar akal sehatnya sebagai seorang manusia. Hongbin baru saja menuliskan kata ‘kebun dandelion’ di salah satu bagian tembok dan tiba-tiba saja Sanha dan Hongbin dikelilingi oleh rimbunnya bunga dandelion yang tumbuh di atas semen cor. Tidak masuk akal, bukan?

“Lihat. Apa masih ingin kutuliskan yang lain?”

“Cukup.”

Pemuda itu masih terperangah dengan apa yang dilihatnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memercayai apa yang dikatakan oleh Hongbin. Sepuluh menit yang lalu Hongbin menjelaskan mengenai keajaiban yang bisa dibuat oleh tinta apapun yang berwarna fuschia namun Sanha tidak percaya sedikit pun. Ia bahkan sempat menganggap Hongbin sebagai orang yang kurang waras.

“Jadi, karena kau sudah percaya padaku dan karena cat ini milikmu, maka kaulah yang berhak menggunakannya.”

Hongbin menyerahkan kembali kaleng cat semprot pada Sanha yang disambut dengan tangan gemetar.

“Selamatkan negeri ini, Yoon Sanha.”

“TUNGGU!!!”

Hongbin dan Sanha serempak berbalik saat mendengar ada seseorang yang tengah berlari ke arah mereka sambil berteriak-teriak. Orang itu adalah Young dan Hongbin jelas mengenalnya. Pria itu berlari dengan matanya yang menyalang penuh amarah pada Hongbin. Saat ia bersiap untuk melayangkan pukulannya pada Hongbin, tiba-tiba kaki Young tersangkut dedaunan dandelion dan menyebabkan pria itu terjerembap.

“Kau siapa?” tanya Sanha yang tampak tak suka pada kehadiran Young.

“Jangan dengarkan dia, anak muda!” Young memekik di sela kesakitannya, “orang itu … orang itu yang membunuh ayahmu semalam! Aku berani bersumpah demi apapun!!!”

Telunjuk Young mengarah tepat pada Hongbin dan Sanha spontan terperangah. Awalnya Hongbin panik, namun beberapa saat kemudian ia mengarahkan telunjuknya pada Young.

“Dia yang memerintahkanku untuk membunuh ayahmu, Sanha. Kalau bukan karena dia yang akan menjanjikan kedamaian negeri ini, aku tidak akan mau membantunya.”

“Bohong!”

“Kau yang bohong!”

“Apa buktinya kalau aku yang menyuruhmu?”

“DIAM!!!”

Sanha mulai terlihat muak melihat perdebatan dua orang yang tidak dikenalnya itu. Di saat ia sudah mulai memercayai Hongbin, datang seorang pengganggu yang menurutnya benar-benar menyebalkan. Dari cara berpakaian Young yang tak lazim saja (rambut berwarna hijau dan merah, lensa kontak abu-abu, kalung dan jam tangan emas, serta tato melintang di bagian leher) Sanha sudah tidak suka. Apalagi saat mendengar  Young berbicara, rasanya Sanha mendadak mual.

“Tinta ini adalah milikku. Jadi aku yang berhak menggunakannya untuk apapun. Ah, satu lagi, aku memang sedih kalau ayahku mati. Tapi kalau itu bisa menghentikan tindakan gilanya yang dahaga akan harta orang lain dan main perempuan setiap malam, kurasa tak masalah.”

Dua orang menanggapinya dengan reaksi yang kontras. Hongbin tak bisa menyembunyikan kegembiraannya sementara Young panik setengah mati. Lepas dari semua itu, Sanha mengangkat tinggi-tinggi kaleng cat semprotnya dan bersiap menuliskan sesuatu yang pastinya akan mengguncang peradaban Kota Fuschia.

“Aku perlu sebuah bidang yang cukup luas untuk menuliskan apa yang kuinginkan. Kalian berdua, apa ada pesan terakhir sebelum aku menuliskan sesuatu yang bisa jadi akan sangat mengerikan bagi kalian?”

Hongbin menatap nanar pada Sanha, sementara Young masih berusaha menggapai-gapai ke arah yang sama padahal Hongbin sudah membekuk pria itu dengan kedua tangannya.

“Tolonglah negeri ini, Sanha. Ia sangat memerlukan anak muda sepertimu,” ucap Hongbin penuh kesungguhan. Untuk beberapa saat Sanha membalas tatapannya dengan ekspresi yang sulit diartikan, namun pada akhirnya Sanha telah mantap. Ia bergerak ke dinding lebar yang masih tersisa banyak di sisi yang lain atap gedung tersebut dan mulai menulis.

.

.

.

Musnahkan siapapun yang serakah dan berniat tidak baik untuk negeri ini.

Musnahkan pelancong manapun yang akan merusak bangsa ini.

Buatlah semua orang di negeri ini untuk menggunakan otak dan hatinya dalam kebaikan.

Hongbin menyerahkan diri ke polisi.

Dan musnahkan Young.

 

FIN

8 thoughts on “[Movie Festival 4] Fuschia Territory by Joonisa”

  1. sejenis death note entah kenapa😀 aku jadi pengen punya tinta kayak gitu (terus nulis, album sama konser vias gratis :v)
    aku bingung sama latarnya. itu kota fuschia yg dimasanya sanha? Bingung disitu.
    gaya bahasanya keren!

    Suka

  2. Kenapa aku merasa ini lebih surrealis drpd distopia.
    Anw, aku sukaaaa bgt sama ceritanya! Distopianya kena dan sanha adlh krkter remaja anti mainstream yg aku suka! Tapi entah knp di bagian deskripsi kota fuchsia terasa agak mengganjalku ya, kyk krg berasa kak nisjoo.
    Ttp suka kok! Keep writing!

    Suka

  3. halo!
    fantasy! dan agak surealis kayaknya. distopia juga bener dibagian kehancuran fuschia. jadi fuschia hancur karena kawanan teroris tapi masih bisa ditinggali walau ga damai seperti dahulu kala. kejahatan dan kebejatan dimana-mana yg sebenarnya bisa dihilangkan sekejap mata pakai tinta yg tersembunyi di gudang seorang petinggi ckck. ternyata butuh media yg besar buat nulisnya? kupikir pakai buku aja cukup, jadi kayak death note yg tinggal tulis nama gitu.
    suka fantasy-nya 💜
    semangat nulis ya!

    Suka

  4. hi there!!

    sukaa sama tema Fuschianya. selain jadi nama kota, tapi ada keajaiban di dalamnya. Menyenangkan sekali kalau damain macem Fuschia. heheheh. Wow, jadi dystopianya karena akibat tinta yang entah ke mana ngga bisa dipakai lagi itu? Sebenernya ngga suka sama Young ._. ngga tau kaya dia yang sebenernya jahat dibanding niatnya memprrbaiki kota hahahaha.
    Dan Sanha macem Light di death note lol. Bedanya mah ini tintanya bisanya buat yang baik-baik dan dipakai orang berhati baik gitu.
    kereeeennnn \^^/ yey

    see ya~

    Suka

  5. Salam kenal, Joonisa-ssi!

    Mari aku mulai reviewnya.

    Judul:
    Fuschia Teritory. Sebuah daerahkah? Sukses banget bikin penasaran untuk dibaca.

    Isi cerita:
    Awal yang bagus. Tiba-tiba ada bagian action di awal. Bikin orang bertanya-tanya: Kenapa gitu? Kenapa dibunuh? Kenapa begini?

    Oh. Yang bunuh Hongbin. Lucu juga membayangkan Hongbin jadi penjahat gitu.

    Tapi kayaknya Hongbin baik deh. Dia bilang “Kapan kotaku akan kembali?”. Kota apa? Fuschia namanya? Tapi dia membunuh. Belum nangkep dia tuh baik atau jahat.

    Terus ada Sanha. Dia nonton berita pembunuhan tadi. Tiba-tiba dia pergi terus tegang gitu. Lah kenapa kamu Sanha? Masa aku mikirnya dia tuh punya indra keenan terus tau kalo ada pembunuh (Hongbin) di dekat dia.

    Di sisi lain ada Hongbin dan Young. Oh, ternyata bener kan dia orang baik. Dari percakapan mereka aku merasa kalau Young tuh jahat.

    Terus mereka menyinggung tentang tinta Fuschia. Apa lagi tuh?

    Oh, ternyata dulu ada kota Fuschia. Aku membayangkan kalau kota Fuschia tuh surga banget. Dan ternyata semua di dapatkan dari tintanya.

    Aku baru tau kalo Fuschia itu warna. HAHA. Malu aku.

    Terus aku bingun. Kok Hongbin mengincar Sanha? Emang Sanha punya tinta itu? Dapet dari mana dia?

    Oh. Ternyata yang dibunuh tuh ayah Sanha. Ternyata Sanha tegang dan mau bunuh diri karena jadi anak gak baik. Aku pikir di Sanha mau lompat gara-gara tau kalau Hongbin mau bunuh dia.

    Lalu Young datang. Hongbin menahannya. Sanha puyeng. Dia ngambil tintanya. Terus aku penasaran apa yang bakal Sanha tulis.

    Kupikir Sanha bakal nulis “Hancurkan kota ini!”. Ternyata dia nulis untuk memusnahkan orang-orang serakah yang bakal merusak kotanya.

    Cerita yang bagus. Menarik banget buat dibaca. Aku jadi tau kalo Fuschia itu warna HAHA.

    Terima kasih sudah memberikan bacaan seperti ini!:)

    With love,

    energytea

    Suka

  6. Halooo!
    Aku suka banget openingnya! Langsung ke intinya tanpa bertele-tele. Jadi bikin penasaran dan pingin ngelanjut baca.
    Ehm, aku nemuin kata yang tidak sesuai kbbi: nafas. Harusnya napas.
    Kata apapun itu seharusnya dipisah jadi apa pun.
    Tapi di luar itu, ceritanya ngalir kok! Bisa dinikmati, serius asyik banget. Dan nggak kerasa panjang. Pas sampai akhir aja aku masih mikir “Loh ini udah selesai, ya?”
    Nice, kak! Keep Writing!^^

    Suka

  7. Hi!

    Entah kenapa rasanya ngena, dan deskripsi Kota Fuschia-nya bikin aku keinget sama keadaan Indonesia yang strategis karena ada di jalur perdagangan, punya keadaan alam indah, dan penduduk yang sejahtera, tapi jadi jatuh gara-gara ulah teroris, drugs, dan koruptor. Idk why, tapi itu yang pertama kebayang di kepalaku pas baca ceritanya.

    Terus Sanhanya bikin aku tambah mikir, “negara kita butuh generasi muda kaya Sanha, yang punya kemauan buat ngerubah negaranya. Kunci perubahannya ada di tangan kita generasi muda.”

    Oke kok jadi sok bijak gini ya… /maafkeun/

    Overall, I like this story! Mulai dari opening sampai akhir, keren! Diksinya pas, dan aku bisa bayangin dan rasanya nyata gimana keadaan Kota Fuschia.

    Keep writing! Dan maaf kalau comment ini terkesan sok tahu dan sok bijak, dan terlalu panjang juga.🙇 😂✌

    Salam, Yulbam

    Suka

  8. Yoon Sanha digambarkan memiliki karakter yang kompleks, authornya gak salah milih cast Sanha *aroha detector* aku bener” ngebayangin muka polos Sanha di part dia kebingungan waktu Young datang dan debat sama Hongbin. sukses deh buat ffnya

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s