[Movie Festival 4] Beautiful Accident by Liana D.S

Beautiful Accident - Liana D.S

IFK 4th Anniversary ‘Color Rivers’ Event Entry by Liana D. S.

starring

EXID Hani (Ahn Heeyoon) & Apink Chorong

Friendship, Circus!AU, Hurt/Comfort, Oneshot (4,6K words), Teen and Up, poster:  #ChocoYeppeo Design

.

Broken in intriguing indigo.

***

Metamorphoses. Sebuah cerita klasik tentang gadis tak menarik yang lelah diejek sana-sini dan memilih berlindung dari kejam dunia dalam balutan kepompong sutra. Ketika gadis itu menjebol kepompongnya, muncullah kupu-kupu jelita yang terbang di atas kepala para pencemooh, membelah angin dengan kemenangannya atas mereka. Garis besar ceritanya begitu—sebab repot kalau harus merinci setiap aksi akrobatik pada masing-masing adegan, lagi pula keajaiban berwarna nila persembahan Indigofera Circus tidak semudah itu dijabarkan.

Sebagai salah satu penampil, Ahn Heeyoon merasa tidak semestinya ia berdebar-debar mengantisipasi lanjutan aksi layaknya para penonton di bawah sana. Ia, yang malam itu menjelma menjadi peri penjaga metamorfosis, sudah hapal di luar kepala akan jalan cerita dan urutan aksi yang dibawakan. Masih berayun dari satu trapeze ke trapeze lain bersama rekan-rekan perinya, Heeyoon menghitung detik dengan teliti, menunggu ‘kepompong selendang’ di tengah-tengah lingkaran trapeze terbuka setengah. Sehelai demi sehelai, kain panjang yang melilit tubuh mungil aerialist primadona Indigofera terlepas dan tanpa sadar, Heeyoon menghela napas. Bahkan bagaimana kain-kain itu melayang tampak begitu magis bila Park Chorong yang melepaskannya.

Sial, aku kalah telak.

Usai membebaskan diri dari lilitan tujuh kain panjang, sang bintang pertunjukan mulai tampak wujudnya. Chorong, aerialist terfavorit sirkus ini, dari kejauhan tampak seperti ulat biru yang menempel pada seutas benang. Pinggang hingga kakinya masih terbelit beberapa helai kain yang ujung lainnya terikat dengan batang baja besar tempat ia menggantung. Dalam keadaan demikian membatasi, si kupu-kupu yang baru terlahir menggerakkan lengan dan kaki, sedikit-sedikit tapi anggun tertata. Lampu-lampu panggung lantas diredupkan dan difokuskan pada sosok jelita tokoh utama, sementara para peri membentangkan sayap bercahaya mereka sebelum meluncur ke trampolin di bawah masing-masing trapeze. Secara bergiliran, mereka melenting di sekeliling sang kupu-kupu, membentuk formasi rapi mirip gelombang air. Latar belakang musik mengiringi gemuruh dalam hati masing-masing penonton, termasuk juga Heeyoon.

Bagaimana bisa dia begitu tenang melakukan aksi aerial silk seekstrem ini?!

Tidak ada jawaban yang menurut Heeyoon lebih tepat untuk pertanyaan itu selain satu: Park Chorong bukan seorang aerialist, melainkan betul-betul seorang perempuan ajaib. Heeyoon, lulusan sekolah akrobatik yang semata ingin dapat uang untuk menopang kehidupan keluarga, jelas tak akan bisa menyamainya sampai kapan pun.

“Kau ke sini hanya untuk menukar trik-trik trapeze murahan dengan nasi. Tidak begitu cara Indigofera bekerja!”

“Trikku tidak murahan! Aku bisa membuatnya seindah aksi aerial-mu kalau kau memberiku waktu!”

“Indigofera bukan tempat latihan. Ini adalah panggung di mana kesempurnaan menjadi syarat mutlak sebuah penampilan! Kau bahkan tidak cocok untuk menjadi pemain pengiringku!”

Bagi Heeyoon, mengingat apa yang Chorong katakan saat ia pertama melamar kerja sebagai artis trapeze cukup menyesakkan. Memang benar bahwa selama belajar di sekolah akrobatik, Heeyoon mempelajari trik-trik akrobatik secara teknikal belaka. Ia bisa membuat aksi trapeze terlihat mengagumkan di mata audiens, tetapi Chorong membawa mereka selevel lebih tinggi. Khidmat bagai ritual, jiwa Chorong seolah lepas dari kenyataan dan larut dalam misteriusnya dunia fantasi. Hanya sang primadona yang bisa menciptakan atmosfer semenghanyutkan itu, sampai-sampai orang-orang terluka ketika tokoh yang ia mainkan terlukai, berdebar-debar ketika tokohnya menghadapi tantangan, dan gembira setelah tokohnya berhasil melalui tantangan tersebut.

Kalah telak.

Kini, Heeyoon tahu derajatnya dengan Chorong terlalu jauh berbeda. Chorong bersinar terang bak bintang, sementara keberadaan Heeyoon di gelanggang ajaib ini semata akibat kemurahan hati si pemilik sirkus. Andai si pemilik sirkus tak mempertimbangkan kesulitan ekonominya, Heeyoon pasti sudah lontang-lantung, menerima pekerjaan serendah apa pun yang disodorkan orang asal bisa makan.

Pada akhirnya, Heeyoon sanggup menerima sebuah fakta.

Ternyata, aku memang sangat mengagumimu, Park Chorong. Itu tidak akan berubah biar kau menganggapku tak pantas berada sepanggung denganmu. Kau masih jauh dari gapaianku, tetapi aku akan bermetamorfosis dan menyusulmu sebagai penyaji keindahan, lihat saja nanti!

Tinggal sehelai kain panjang lagi yang harus dilepas dari tubuh Chorong sebelum ia bergulung turun dan memamerkan keindahan sayapnya. Chorong melilitkan kain ke sebelah telapak kaki agar ia dapat melakukan drop dengan mulus dan bergantung terbalik tanpa khawatir terjatuh. Saking seringnya latihan bersama Chorong, Heeyoon sampai hapal berapa kali dan ke arah mana saja kain itu dililitkan ke telapak kaki sang aerialist. Dari situlah, ia menyadari sesuatu yang ganjil. Lilitan kain Chorong terlalu longgar, pun irama tarian Chorong agak melenceng dari seharusnya—padahal sebagai seorang perfeksionis, mustahil Chorong menyalahi ketukan biar hanya sedetik. Tak lagi takjub, Heeyoon mendadak waspada, apalagi kemudian Chorong melakukan drop dengan kecepatan yang tak wajar.

Keindahan selanjutnya berubah jadi malapetaka.

Penonton memekik nyaris bersamaan ketika kain yang membelit telapak kaki Chorong terbuka simpulnya. Bukannya terbang, si kupu-kupu justru meluncur mulus dari ketinggian sepuluh meter tanpa sempat mengembangkan sayapnya.

Heeyoon terbelalak.

Dia jatuh!

… adalah satu-satunya sinyal yang Heeyoon olah dalam otak saat itu, membuatnya berani menabrak segala kemungkinan yang lebih berbahaya. Dengan tergesa, ia menekan trampolinnya lebih kuat saat mendarat, sehingga pada lentingan berikutnya, ia dapat melayang lebih tinggi. Gaya yang tersisa digunakannya untuk melakukan salto di udara, dua kali hingga dapat mencapai kain panjang di mana Chorong semula berpegang. Ditangkapnya kain itu sesegera mungkin dengan tangannya yang licin. Gesekannya tak main-main, melukai tangannya sedikit, tetapi itu tidak menghentikannya. Posisi Heeyoon yang sedikit merosot dari awal berpegangan malah mempermudahnya menangkap kaki Chorong.

Suara napas tertahan dari penonton terdengar jelas di telinga Heeyoon, mengalahkan patahan-patahan napasnya sendiri.

Jelek sekali penampilan kami malam ini, keluh Heeyoon dalam hati, tetapi pertunjukan harus tetap berlangsung!

Sekali lagi, Heeyoon mengumpulkan momentum dari kain yang berayun-ayun pelan bagai pendulum. Pegangannya kembali merosot dan Heeyoon memicing kesakitan. Gesekan kain itu terasa perih di kulit, tetapi ketika trapeze—yang rencananya akan diarahkan pada Chorong setelah ia mengembangkan sayap—diluncurkan dari atas menujunya, Heeyoon cepat bertindak. Telapak tangannya tangkas berpindah dari kain ke trapeze bar, kemudian ia dan Chorong berayun berdua. Posisi mereka tidak bisa dibilang cantik, beruntung Chorong adalah personifikasi kecantikan itu sendiri yang sanggup memercikkan euforia kala mengembangkan sayap buatan pada kostumnya. Setelah gaya dorong dari manuvernya dirasa cukup, Heeyoon melepaskan kaki Chorong dan sang kupu-kupu ‘terbang’ ke salah satu trampolin buat melanjutkan tarian seperti seharusnya.

Tepuk tangan kian membahana usai Heeyoon melenting ke trampolinnya semula. Di mata para penonton, ia langsung mendapat tempat terpisah sebagai peri penyelamat kupu-kupu yang baru lahir. Kesalahan aksi tidak terekam dalam memori mereka sebab kekaguman mereka yang membesar pada Indigofera Circus lebih dominan.

Sayangnya, misteri di balik kecelakaan yang ajaib ini masih belum terungkap.

Mengapa Chorong tidak melilitkan kain dengan erat ke kakinya? Ia bukan tipe orang yang gampang membuat kesalahan, bahkan meskipun sedang sakit. Ada apa?

***

Setelah pertunjukan diakhiri, Heeyoon bermaksud langsung menemui Chorong untuk bertanya mengenai kecacatan performanya. Kekhawatiran Heeyoon akan kesehatan Chorong yang kemungkinan besar sedang jatuh bebas ternyata tidak berbalas. Chorong berjalan lurus saja ke belakang panggung tanpa mengacuhkannya, padahal biasanya, perempuan mungil itu akan marah panjang lebar bila Heeyoon atau penampil lain menyalahi koreografi. Improvisasi Heeyoon sebelum ini juga termasuk pelanggaran ketertiban tarian yang lumayan berpengaruh pada keseluruhan aksi, makanya mengherankan jika hal itu terabaikan begitu saja oleh Chorong. Kelegaan yang biasa Heeyoon rasakan bila selip penampilannya terlewatkan oleh Chorong kini tidak mampir, kalah dengan rasa cemas.

Saat turun panggung, Chorong terlihat amat pucat.

Bayang-bayang itu menghantui Heeyoon hingga ia hendak pergi tidur, seolah mendesaknya untuk menolong Chorong tanpa diminta sebab tentu saja, Chorong tak akan meminta apa pun. Chorong pribadi yang amat tertutup; jangankan sesama penampil, pemilik sirkus saja tak pernah tahu apa isi hati artis seniornya tersebut. Daripada memperkeruh perasaan Chorong, para anggota baru sirkus memilih membiarkan semua apa adanya lantaran mereka mengira sikap Chorong adalah efek traumatik yang ditimbulkan pemilik sirkus lama, pria bertangan besi yang menjadikan Indigofera arena eksploitasi gadis di bawah umur. Sejak dirombak dan dikelola orang baru tiga tahun lalu, Chorong menjadi satu-satunya artis lama Indigofera yang bertahan. Sisanya perlu rehabilitasi mental yang lebih panjang untuk bisa menjalankan fungsi sehari-hari secara optimal.

Namun, kalau direnungkan benar-benar, sebenarnya sikap diam Chorong itu telah memasuki kadar yang tak sehat. Fakta ini membawa Heeyoon menyusuri koridor gelap asrama penampil, melewati lantai demi lantai dengan lift menuju kamar Chorong. Dalam lift itulah, tiba-tiba sebuah pemikiran melintasi benak Heeyoon.

Apa performanya hari ini menurun karena ia masih merasa gagal di pameran sirkus beberapa waktu lalu? Ya, itu mungkin saja … tetapi apakah kegagalan kecil bisa membuat kondisinya memburuk hingga jatuh sakit? Manuver Malaikat sangat sulit, tingkat keberhasilannya rendah sekali, wajar kan kalau dia tidak berhasil mengeksekusinya?

Sekitar tiga minggu lalu, sebelum latihan intens untuk Metamorphoses dimulai, Chorong dikirim sebagai wakil Indigofera ke sebuah pameran sirkus lima tahunan di Kanada. Sebagai primadona yang belum pernah melakukan kegagalan, sang aerialist dengan percaya diri memilih manuver tingkat tinggi yang disebut Manuver Malaikat. Sayangnya, di dunia, baru artis pencetusnya saja yang berhasil menampilkan manuver tersebut, jadi mereka yang gagal ujung-ujungnya hanya bisa menampilkan Fool’s Act, sebuah modifikasi dari Manuver Malaikat yang tidak dieksekusi dengan sempurna. Sama cantiknya, tetapi tidak sama prestisenya. Chorong beberapa kali berhasil melakukan Manuver Malaikat semasa latihan, tetapi barangkali akibat kelelahan hebat dan kegugupan luar biasa menjelang penampilan sesungguhnya, Chorong justru gagal di pameran sirkus tersebut dan terpaksa melanjutkan manuvernya dengan Fool’s Act. Berita kegagalan itu menjadi yang pertama didengar seluruh penampil baru Indigofera, termasuk Heeyoon yang belum ada sebulan bergabung.

Masuk akal kalau si perfeksionis Chorong jadi down gara-gara hal ini, bukan?

Sesampainya di lantai empat, Heeyoon kembali menelusuri lorong gelap. Kamar di lantai ini hanya beberapa, sebagian besarnya kosong atau dialihfungsikan, dan kamar Chorong berada di ujung lorong, berpintu paling besar. Setelah Chorong menjadi satu-satunya survivor dari kelompok penampil lama Indigofera, kamar berfasilitas lengkap itu dihadiahkan pemilik sirkus baru padanya untuk menghormati dedikasinya. Biar terkesan istimewa, menurut Heeyoon atmosfer yang kelewat sepi di lantai ini agak berlebihan. Apa boleh buat? Ketimbang dekat-dekat Chorong yang galak, lebih baik cari aman di kamar-kamar bawah, begitu penampil-penampil baru berpendapat.

Jelas saja Chorong orangnya tertutup; disendirikan di lantai atas begini, sih. Aku tidak keberatan pindah ke sebelah kamarnya, tetapi … duh, memangnya siapa aku?, Heeyoon menepuk pelan dahinya, lalu menggeleng-geleng, Cuma pemain pengiring yang kurang pengalaman, tidak layak mendapat fasilitas sespesial ini, meskipun yah, pasti lebih bagus bagi Chorong kalau punya teman selantai yang bisa diajak bicara ….

Pintu kamar Chorong tidak tertutup rapat, rupanya. Ada sedikit celah yang jelas menandakan pintu itu tidak terkunci. Keadaan tersebut memunculkan dugaan-dugaan mengerikan di benak Heeyoon, apalagi Chorong tak terlihat di dalam.

“Chorong?”

Tidak berjawab. Heeyoon membuka pintu lebih lebar. Chorong benar-benar tidak ada di atas ranjang, tetapi Heeyoon mendengar samar decit keran dan guyuran air dalam kamar mandi.

Juga bunyi tahak berulang.

Dia … muntah?, Pandangan Heeyoon segera beredar ke penjuru kamar, Obat. Pasti dia punya kotak obat di sini.

Tapi Heeyoon tidak perlu mencari terlalu jauh. Pada meja nakas di sisi lain ranjang, Heeyoon menemukan beberapa wadah obat yang tiap-tiap labelnya tidak terbaca jelas dalam keremangan kamar. Heeyoon terpaksa memicing agar pandangannya lebih fokus, menebak-nebak yang mana dari sekian obat itu yang merupakan antimuntah, tetapi akhirnya Heeyoon dapat membaca satu.

Antidepresan?!

Mengiringi decit keran yang ditutup, bunyi guyuran air berhenti dan kenop pintu kamar mandi diputar. Tergopoh-gopoh serta tak yakin harus melakukan apa, Heeyoon meletakkan obat-obatan tadi kembali ke meja dan berbalik, menanti Chorong keluar untuk membantunya jika ada apa-apa. Begitu pintu dibuka, dari kamar mandi keluar uap yang menutupi sebagian besar tubuh lembab berbalut handuk. Ragu Heeyoon melangkah maju, menghampiri sosok yang ia yakini sebagai Chorong, tetapi dia berhenti saat sosok itu bergerak mundur.

“Si-siapa …”

“T-tidak, aku bukan penyusup! Aku Ahn Heeyoon, penampil pengiringmu,” Heeyoon melangkah ke tempat yang lebih terang, membuat wajahnya dapat dikenali, “Maaf masuk sembarangan, aku hanya ingin membantu karena kau kelihatannya tidak enak badan ….”

Alih-alih menampakkan reaksi kesal yang Heeyoon harapkan, ekspresi takut Chorong malah berubah muram, pandangnya jatuh ke lantai kamar mandi. Mata Heeyoon yang belum menyesuaikan diri dengan peralihan gelap ke terang terlambat menangkap bercak-bercak merah luas di sekujur tubuh seniornya, agak terlalu menyolok untuk seseorang yang baru mandi air hangat. Kecemasannya meningkat lagi; apakah itu luka hasil perbuatan seseorang atau apa?

Heeyoon meraih tangan Chorong.

“Kita keluar dulu, ya? Ada … banyak hal yang ingin kutanyakan, sebenarnya, tetapi mula-mula, mari kita sembuhkan lukamu.”

Chorong menepis tangan Heeyoon dan menarik dirinya lagi.

“Aku bisa …” Satu telapak Chorong berpegangan erat ke pinggiran wastafel, “… menanganinya sendiri. Ini sudah biasa, kok.”

Tak sejalan dengan bibirnya, badan Chorong tak bisa menipu. Kakinya gemetar hebat dan ia terhuyung. Jika Heeyoon tidak lekas menangkapnya, Chorong pasti akan tumbang.

“Kau tidak bisa. Ayo.”

Tidak dapat mengelak lagi, Chorong pasrah, membiarkan dirinya dibimbing Heeyoon ke tempat tidur. Dengan hati-hati, Heeyoon memeriksa bagian tubuh Chorong yang tak tertutup handuk—dan meski ia tahu kelamnya masa lalu Chorong di Indigofera, hatinya tetap tersayat begitu menemukan bekas-bekas luka lama yang panjang dan tak beraturan di punggung sang aerialist. Heeyoon tak ingin membayangkan apa yang dilakukan pemilik lama sirkus ini pada Chorong yang masih belia dulu, maka ia mengalihkan perhatiannya pada bercak-bercak merah yang baru terbentuk tadi.

“Ini akan hilang sendiri,” Chorong menjawab pertanyaan Heeyoon yang belum terungkap, “Tadi suhu airnya kunaikkan.”

Heeyoon terperanjat.

“Bercak-bercak ini luka bakar ringan! Aku punya salep dingin, akan kuambil—“

“Tidak usah. Aku sudah bilang, ini sudah biasa.”

“Menyakiti diri sendiri separah ini bukannya ‘biasa’, Park Chorong.”

Jemari Chorong kian erat menggenggam permukaan handuknya.

“Lalu … apa kau tahu cara menumpulkan semua indraku?” Chorong mengangkat wajahnya, “Bagaimana caranya agar aku tidak mendengar suara-suara mengejek itu lagi? Tidak menyadari tatapan merendahkan orang-orang atas diriku? Tidak merasakan lecutan-lecutan itu lagi di permukaan kulitku? Apa kau tahu caranya, Ahn Heeyoon?”

Suara mengejek? Tatapan merendahkan? Bahkan lecutan? Dari mana itu semua? Siapa yang melakukannya? Heeyoon tidak mengetahui satu pun …

… tetapi tergeletaknya antidepresan di atas meja nakas Chorong pastinya bukan tanpa alasan.

Jangan-jangan, semua itu hanya halusinasi yang merupakan gejala depresinya?

“Hei, kau,” Tanpa peringatan, Chorong merenggut kerah baju Heeyoon, manik hitamnya memancarkan keputusasaan bercampur kengerian entah akan apa, “katakan … katakan bagaimana caranya menghindari semua itu selain dengan membunuh diriku sendiri! Katakan! Kaukira menolongku dari kecelakaan tadi adalah hal yang bagus, hah? Sekarang aku tidak berarti apa-apa selain sebuah kegagalan! Tidak Manuver Malaikat, tidak Metamorphoses, semua performaku cacat di mata orang-orang!”

Usai meneriakkan seluruh kekecewaannya, Chorong terengah-engah, begitu pun Heeyoon yang kewalahan menghadapi tumpahan perasaan seniornya. Kulit Chorong yang tadinya hampir kering kembali basah oleh titik-titik keringat dingin, tanda terpacunya adrenalin oleh emosi yang memuncak. Saat Chorong akhirnya dapat sedikit menguasai diri, cengkeramannya pada kerah Heeyoon melonggar. Disilangkannya kedua lengan melewati bahu dan ia tertunduk dalam. Gigilnya tak dapat disembunyikan, tetapi apa yang membuatnya sedemikian gemetar masih tak pasti.

Heeyoon menyampirkan kemeja putih yang semula tergeletak di depan meja rias ke sekeliling tubuh Chorong, bermaksud menghangatkan tubuh itu barang sedikit.

‘Cara selain membunuh diriku’, dia bilang. Berarti kecelakaan itu sebenarnya sebuah kesengajaan? Begitukah jalannya untuk mengakhiri karier sebagai seorang aerialist? Pertunjukan terakhir yang tragis?

Park Chorong. Apa lagi yang dipikirkannya? Masa lalunya yang gelapkah? Kegagalannya, mungkin? Atau ia sedang merasakan sesuatu yang buruk tapi tak nyata macam lecutan yang tadi ia sebut? Di balik aksi-aksinya yang mengagumkan, tak kusangka ada pribadi seperti ini yang ia pendam rapi-rapi …. Sebelumku, adakah yang sudah mengetahui ini dan coba memulihkan luka-lukanya?

Mengapa kau begitu tak tersentuh, bahkan ketika kita sudah sedekat ini ….

Karena Chorong tidak terlihat hendak merapatkan kemeja yang disampirkan ke tubuhnya, Heeyoon-lah yang bergerak untuk merapatkannya. Untuk itu, Heeyoon mencondongkan badan sedikit—dan  gumaman sedih Chorong mencapai telinganya.

“Setelah aku gagal, tidak ada lagi yang tersisa. Segala bagian diriku hanya untuk kesempurnaan performa, maka sekarang aku tidak bermakna apa-apa, bagi Indigofera maupun bagi penonton. Lalu buat apa aku ada di sini?”

Heeyoon menggeleng cepat.

“Masih banyak penggemar menunggumu, Chorong. Aksi yang kaubilang gagal itu, masih banyak yang menikmatinya.”

“Bohong. Mereka hanya mengasihaniku sebagai korban penganiayaan yang mampu bertahan, tidak lebih.”

Aku tidak mengasihanimu,” Heeyoon menatap Chorong lurus-lurus, “Aku tidak memandangmu sebagai korban penganiayaan, tetapi sebagai tujuan. Kau pernah bilang Indigofera adalah tempat  menyuguhkan keajaiban. Dengan meneladanimu, aku sedang belajar membuat keajaiban yang sama.”

Keheningan yang ganjil  menggantung di antara keduanya setelah itu hingga Heeyoon memutuskan untuk bangkit.

“Berpakaianlah dulu. Aku akan seduhkan teh.”

Saat Heeyoon berbalik, sayup-sayup terdengar pergerakan dari belakang—tampaknya Chorong mulai membenahi pakaiannya—disusul bunyi selimut yang ditarik lambat, timbul tenggelam di antara denting sendok teh Heeyoon. Minuman hangat nan harum siap tak lama kemudian dan  Heeyoon membawakannya menuju Chorong yang tengah berbaring di bawah selimut. Kelopak mata Chorong enggan tertutup, memperlihatkan sepasang manik yang hampa.

“Minumlah.”

Chorong bungkam.

“Kau barusan muntah, kalau perutmu dibiarkan kosong terus nanti mualmu kambuh.”

Masih diam. Heeyoon membuang napas, tidak terbiasa mendapati Chorong dalam keadaan terendahnya.

“Kucarikan camilan, ya? Mau tidak?”

Percuma. Chorong seakan mengunci dirinya dari dalam, sehingga tidak mampu merespon pertanyaan Heeyoon sama sekali. Heeyoon menggerakkan-gerakkan bahu Chorong dengan hati-hati agar tidak menyakiti, tetapi Chorong masih tidak menanggapinya dan Heeyoon menjadi kalut.

“Mengapa kamu tidak menjawabku?! Chorong! Chorong!”

Sudut mata Heeyoon berdenyut-denyut. Susah payah ditahannya tangis itu agar tidak tumpah. Menyakitkan menyaksikan sosok yang ia teladani hancur tanpa ada kemauan untuk bangkit dan Heeyoon tidak yakin cara apa yang harus ditempuhnya untuk mengembalikan harapan Chorong.

Tatapan yang semula terarah ke langit-langit kamar kemudian teralih pada Heeyoon.

“Aku ingin mati.”

***

PLAK!

***

“Jaga mulutmu, Park Chorong!!!”

Tamparan Heeyoon sama keras dengan bentakannya. Tangan yang menampar sama sakit dengan pipi yang ditampar, tetapi perihnya tidak sebanding dengan apa yang tersimpan dalam hati masing-masing. Di satu sisi, Chorong masih bergeming, sementara Heeyoon tanpa basa-basi menumpahkan semuanya.

“Apa kau menganggap hidupmu tidak berharga semata karena gagal? Ada banyak hal yang lebih patut disesali ketimbang satu-dua kegagalan yang bisa diperbaiki! Terserah kau mau menghargai nyawamu seberapa, tetapi arti kepergianmu akan sangat besar bagi Indigofera, kau paham?! Dengan merenggut nyawamu sendiri, kau bisa membunuh beratus-ratus orang sekaligus sebab kau telah menjadi bagian dari hidup banyak orang!

“Aku tak bisa merasakan bebanmu. Aku juga tidak mengerti banyak soal depresi, tetapi satu hal yang aku tahu: terlarang bagimu mengisolasi diri setelah ini. Izinkan kami masuk dan memahamimu, atau jika kau masih keras kepala, setidaknya bersandarlah pada kami saat kau mulai letih. Indigofera bukan cuma tempat untuk menyuguhkan keajaiban dan misteri, melainkan juga menjalin persahabatan.

“Jadi, jangan pernah berpikir untuk mati. Jangan. Kumohon.”

Heeyoon menggenggam selimut di bawah telapaknya sekuat mungkin, sayangnya itu tidak mampu mencegah isaknya lolos.

“Karena … jika kau mati … aku juga akan mati denganmu ….”

Benar bahwa setiap manusia memiliki jiwa dalam raga masing-masing, tetapi bagi Heeyoon, hidupnya di Indigofera ada pada setiap inci eksistensi Chorong. Seperti yang ia katakan sebelum ini, ia telah menjadikan Chorong sebagai sebuah tujuan. Mustahil ia terus-menerus berada pada fase lulusan sekolah akrobatik dengan bakat minimal; ia mesti memaksa diri untuk meraih sesuatu yang semula di luar jangkauannya—dan itu Chorong. Andai Chorong lenyap, lalu apa yang akan Heeyoon gapai? Tak ada. Heeyoon terlanjur melenting tinggi dari trampolinnya, tetapi di atas tak ada ­trapeze yang bisa ia raih, maka ia akan terjatuh dengan sangat keras.

Bodoh sekali air mata ini, mengapa tidak bisa dihentikan?, Heeyoon mengusap pipinya kasar, Mengapa aku jadi putus asa pula, padahal mestinya aku menenangkan Chorong dengan kata-kataku? Bodoh, bodoh!

Tak disangka, satu tangan Chorong mendarat di genggaman Heeyoon, menyalurkan kehangatan yang entah bagaimana terasa nyaman. Heeyoon perlahan mengangkat pandangan, tak siap jika ternyata pada wajah yang akan ditatapnya tidak terdapat ketulusan.

“Kata-katamu sangat berat buatku, Ahn Heeyoon.”

Beruntung, kehampaan di wajah sang primadona terhapus, ditukar dengan alur-alur basah tanpa dusta. Senyum getir Chorong sunggingkan untuk Heeyoon beriring beberapa patah kata.

“Mengapa, ya? Apa karena ungkapan kekagumanmu sangat jujur? Atau karena keinginanmu menahanku membuatku merasa diinginkan? Aneh, tapi aku merasa … tenang mendengarnya.”

Chorong mengulurkan lengannya yang lain.

“Apa kau nyata …  atau tidak? Kata-katamu sungguhan atau cuma mimpiku?”

Pertanyaan Chorong menyiratkan betapa kabur batas nyata dan maya di dunianya, entah itu akibat pekerjaannya yang meleburkan garis realitas-fantasi pada setiap pertunjukan atau akibat depresinya yang mulai tercampuri halusinasi. Itu juga menggambarkan betapa jauh Chorong dengan kehidupan hangat di mana teman-teman dan keluarga seharusnya berada. Sebagaimana yang sudah sering diceritakan para penampil, Chorong tak memiliki itu semua, ganjilnya baru kali ini Heeyoon benar-benar tersentuh oleh kisah kesendirian itu. Sepi, sakit, dan dinginnya kesendirian itu merupakan cacat di balik kesempurnaan sang aerialist, tetapi justru sisi itulah yang menarik Heeyoon pada Chorong lebih kuat lagi.

Mukaku pasti kelihatan hancur sekali saat ini.

Namun, siapa peduli? Tangis Heeyoon kepalang terbebas dari belenggu malu. Pelukan yang ia berikan pada seniornya adalah pelukan basah yang ‘menjijikkan’—menurutnya. Kendati demikian, pelukan itu adalah awal dari ikatan persahabatan yang berhasil menumpulkan indra Chorong sementara dari delusi penyerang akal sehatnya. Tanpa mengabaikan isakan tak elit Heeyoon yang begitu dekat dengan telinganya, Chorong menyandarkan kepalanya ke bahu si penampil pengiring dan berbisik lemah.

“Terima kasih.”

***

Dalam Arabian Knights, para penampil utama bisa bebas menunjukkan pesona maskulin mereka yang selama ini terkubur. Dasarnya Heeyoon adalah gadis tomboy, ia dengan senang hati menerima peran garang seorang pemimpin perompak yang hendak menghabisi kelompok saudagar pengarung lautan. Malam itu, tanpa kenal ampun, ia mengacungkan pedangnya ke arah putri sang saudagar. Kesalahan perhitungan tokoh perompak inilah yang membuat kisah menarik—sebab tak lama setelah disandera, sang putri menarik pedang dari balik gaun panjangnya untuk menyerang si perompak. Di atas papan tipis yang semula akan menjadi landasannya sebelum didorong ke laut, sang putri yang tampak rapuh mengayunkan pedangnya. Anggota kelompok saudagar bangkit keberaniannya menyaksikan nona muda mereka mengangkat senjata, maka pertempuran sengit pun tak terelakkan. Seluruh kapal menjadi arena duel, bahkan hingga ke tiang kapal.

Bagi penonton, ini adalah pertarungan antara sang perompak dan sang putri, tetapi bagi Heeyoon, ini merupakan ajang unjuk kemampuan untuk menempati posisi primadona. Heeyoon sang balancer dan Chorong sang aerialist, siapakah yang akhirnya akan berjaya?

Tali-tali dari tiang kapal menjadi garis awalan Heeyoon dan Chorong beraksi. Tanpa ragu, mereka melaju di atas landasan sempit itu dan bertarung habis-habisan seakan sedang berada di atas tanah. Jantung penonton melompat-lompat bersama mereka setiap ada yang nyaris jatuh, walau selip satu kaki tidak masalah bagi Heeyoon sebab tubuhnya, sebagai seorang balancer, sangat seimbang. Bila selip dua kaki, ia akan bertumpu pada satu tangannya, sementara tangan lainnya menyerang Chorong secara konstan. Di lain pihak, Chorong menggunakan keahliannya—‘terbang’—di saat-saat kritis. Ia lekas mencari properti lain—sobekan layar, patahan tiang, atau tali kapal yang putus—untuk membantunya melayang kembali ke dekat Heeyoon. Tingkat performa mereka yang luar biasa ini menjaga antisipasi penonton tetap tinggi hingga ke klimaks cerita.

Tebasan pedang Heeyoon akhirnya berhasil menjatuhkan Chorong. Penonton terkesiap begitu mendapati putri kesayangan mereka terjun bebas dari ketinggian luar biasa. Masih membekas dalam ingatan mereka, apa yang terjadi pada Chorong pada pertunjukan Metamorphoses. Akankah hal yang sama terulang?

Sembunyi-sembunyi, Heeyoon dan Chorong saling melempar senyum.

Dari saku gaunnya, Chorong mengeluarkan sebuah diabolo, menggantungkannya ke tali layar terdekat seperti saat latihan, dan meluncur ke arah Heeyoon. Manuver ini sukses mengejutkan audiens, membuat mereka terpana sebelum bertepuk tangan riuh. Sang putri selamat! Dengan mudah, Chorong mengangkat tubuhnya dan melanjutkan pertarungan yang tertunda. Heeyoon memasang wajah kesal, tetapi dalam hatinya, ia ikut bersorak gembira bersama para penonton kala Chorong mengulas senyum percaya dirinya.

Di Metamorphoses, Chorong sengaja jatuh karena tidak mau bangkit, namun sekarang, bahkan ketika ia memang jatuh, ia bersemangat untuk kembali terbang. Menyenangkan mengetahui hal itu, bahkan walaupun tokoh yang diperankan Heeyoon serta anak buahnya tamat dan terlempar keluar kapal.

Melihat sosok Chorong dari posisi ini memang luar biasa, Pasca adegan tenggelamnya sang kepala perompak, Heeyoon berbaring telentang pada trampolin di belakang properti kapal besar, Bercahaya, cantik, dan tak tergoyahkan. Kira-kira sudah bersihkan pikirannya dari semua halusinasi mengganggu itu?

Pertunjukan usai. Lampu-lampu panggung dimatikan, begitu pula efek-efek suara penutup acara.  Dari atas kapal, Chorong menerjunkan dirinya ke trampolin yang sama dengan Heeyoon tanpa peringatan, membuat si pemimpin perompak tergopoh minggir.

“Hei! Lihat-lihat ke mana kau akan jatuh, Nona!” teriak Heeyoon, kaget bercampur kesal, tetapi rautnya berubah saat menyadari betapa pendek-pendek napas Chorong. Titik-titik peluh yang berebut menuruni pelipis serta leher sang aerialist pun lebih banyak, bermakna bukan cuma kelelahan yang menimbulkannya.

“Aku dengar lagi …. Bunyi cambuk, dari jauh ….”

Ah, sudah Heeyoon duga halusinasi itu tidak akan hilang dengan mudah. Dengan lembut, diraihnya lengan kurus Chorong untuk membantu gadis itu turun dari trampolin.

“Kami di sini kalau si tukang cambuk itu mendekat, tidak perlu takut,” bisik Heeyoon, “Ayo, kita cepat ke ruang ganti dan minum secangkir teh habis ganti baju.”

Genggaman Chorong pada telapak Heeyoon melonggar, pertanda ketakutannya telah surut, tetapi ia berjalan rapat sekali dengan Heeyoon karena sisa-sisa ketakutan ini. Heeyoon tidak keberatan sama sekali biarpun mereka kadang ditatap aneh oleh beberapa orang di koridor ruang ganti. Aku toh hanya menolong teman, Heeyoon menguatkan diri sendiri, dan menolong teman seperti Chorong membutuhkan kesetiaan yang tinggi pada komitmen. Jika Heeyoon bilang ‘selamanya’, maka itu berarti selamanya atau ia akan menjadi bagian lain dari mimpi buruk Chorong di kemudian hari.

Ujung dari kecelakaan pada Metamorphoses itu rupanya besar juga.

Namun berharga.

“Kyungil!”

“Kau saja yang berikan bunganya, kan kau yang beli!”

“Tapi …”

Dua anak itu lagi-lagi berdebat di depan ruang rias penampil utama. Heeyoon dan Chorong belum pernah bicara langsung dengan mereka, yang jelas penggemar-penggemar cilik ini sering membawakan buket bunga usai penampilan perdana sebuah produksi. Mereka selalu menghindari kesempatan ngobrol dengan sang idola sebab keduanya terlalu malu-malu—setidaknya begitulah yang Heeyoon tangkap dari gelagat mereka.

“I-itu Kak Heeyoon dan Kak Chorong! Bagaimana ini?”

“Bodoh, kau kelamaan sih, Ten! Ayo kita pergi!”

“Bunganya …”

“Taruh saja di depan pintu, cepat!!!”

Sesuai saran sang kawan, anak laki-laki yang dipanggil Ten itu meletakkan buket di depan pintu, membungkuk sembilan puluh derajat pada idolanya yang bahkan belum ada lima meter dari tempatnya berdiri, dan segera menyusul temannya yang lebih dulu lari. Heeyoon kaget; biar malu-malu, mereka tetap bisa bergerak sigap sebagaimana anak lelaki, sehingga Heeyoon tidak bisa mencegah mereka kabur.

“Kok lari? Kita jadi gagal lagi berkenalan dengan mereka,” desah Heeyoon kecewa. Pandangannya lantas beralih pada Chorong yang berlutut untuk mengambil bunga di depan pintu ruang gantinya. Dalam diamnya, bagaimana Chorong mengamati tiap bunga di buket pemberian penggemarnya jadi lebih bermakna—dan Heeyoon tersenyum.

“Seperti biasa, buket yang mereka kirimkan cantik, ya. Ada suratnya, tidak?”

“Hm,” Chorong menarik selembar kertas kecil yang diselipkan pada ikatan pita buket, “’Pertunjukan yang luar biasa, kami selalu menanti aksi berikutnya! Dari Ten, dan Kyungil yang tidak mau mengaku tapi ngefans berat pada kalian.’ Kalimatnya mirip dengan buket di pertunjukan pertama Golden Phoenix.”

“Kau masih ingat surat yang mereka sertakan pada buket lili oranye-kuning waktu itu? Manis sekali,” goda Heeyoon, sukses memerahkan pipi Chorong yang sebelumnya berusaha tampak tak peduli.

“Tidak juga.”

Iya, kau ingat, batin Heeyoon seraya menahan kikikan, tetapi ia tidak mendesak Chorong lebih jauh karena raut gembira Chorong itu saja sudah cukup memuaskan. Di antara pasang surut kenangan buruk, merupakan suatu hal yang bagus apabila Chorong masih sanggup mengapresiasi kebahagiaan-kebahagiaan kecil dari beragam sumber. Tidak lagi menyelubungi hatinya dengan nila gelap, sang aerialist bersedia menerima variasi ungu dan biru muda yang sewarna dengan tulip-tulip dalam buket.

Iseng Heeyoon mengambil setangkai tulip dari buketnya sebelum membuka pintu ruang ganti.

“Aku bukan orang yang mempelajari bunga-bungaan, tetapi satu artikel yang tak sengaja kubaca menyebut tulip sebagai lambang persahabatan,” ujarnya sambil melirik Chorong, “Mereka anak laki-laki yang peka, ya, sampai memilih bunga untuk hadiah saja menyesuaikan keadaan kita sekarang.”

Andai hubungannya dan Heeyoon masih secanggung dua tahun lalu—sebagai senior yang didewakan dan penampil newbie—maka mungkin, Chorong tidak akan mengerti apa yang Heeyoon maksud dengan kalimat barusan. Ikatan mereka kini jauh lebih kuat akibat sebuah kecacatan aksi di Metamorphoses, sehingga mereka tidak perlu repot menyunting kata-kata demi menyampaikan sebuah pesan pada satu sama lain .

Chorong mengangkat bahu.

“Anak lelaki seringnya cuma asal memilih, tetapi kalau kau bilang begitu … yah, tidakkah ini kebetulan yang indah?”

TAMAT

happy 4th anniversary IFK!😄 #MadeIFKGreater

7 thoughts on “[Movie Festival 4] Beautiful Accident by Liana D.S”

  1. Halo!

    Oh mau komen apa aku… mungkin kenalan dulu. Risma, garis 96🙂

    Sekarang kembali ke komen. begitu baca identitas fic-nya langsung antusias, begitu baca isinya KEREN! Akhir-akhir ini lagi suka sama yang berbau dunia sirkus :”)) Baca movie festival kali ini berasa baca apa yang ada di kepalaku, semuanya ada :”) Pertunjukannya, perjuangannya digambarkan dengan bagus! Dapat dari mana semua pertunjukan itu? Kalau bisa nonton mereka pasti bahagia huhu.
    Tambahan Ten sama Kyungil disini lucu banget. Dasar kalian para pengagum noona-noona :”))

    Dan sang senior pun luluh oleh kehadiran sang junior yang pengertian. Great! Ga bisa komen yang lain lagi deh. Semangat nulis yaa!

    Disukai oleh 1 orang

  2. kak lianaaaaaaaaaa😀
    duh kangen banget sama ficts buatan kakli dan kak liana pastinya hahai😀

    eniwei, pertama-tama kuingin meminta maaf karena absen bertandang ke UtopiaT_T
    dan lanjut saja, review singkatku untuk special fict bertema friendship ini (dan yeah kebetulan sekali lagi suka melahap dan menggarap ff ber-genre yang sama akhir2 ini hehe) mudah related banget sama para pembaca.
    terlebih kakli juga menggaet sisi sirkus yang selama ini ngga kita ketahu secara dalam. dan salut sekali untuk riset yang mendalam ini tentang sirkus dan acrobatic show-nya kakli!^^
    pertemanan chohani macem permen jahe yang biasa dijual di bus pulkam antar provinsi/ggg/
    kaya bagaimana pergolakkan perasaan hani yang ter-delivery-kan dengan rapih (sungguh daku sangat iri dengan kelebihan kakli yang satu ini huhuT_T) begitu juga dengan gelut psikologi mbak chorong yang weh inimah camilan kakli banget kalu sedang menggarap dark-fict yg kental sama psychology.
    aku sampe bolak balik bacanya, dari bagian yang sedang aku baca ke bag. description’s fict-nyaT.T
    takut2 aku salah cerna, kira2 ini dark-fict yg berakhir tragis. soalnya pembawaan Chorong itu menjurus ke sanaT_T

    last, this is great kakli!
    ditunggu terus karya selanjutnya^^
    keep writting~

    Disukai oleh 1 orang

  3. aku baca karena ada chorongnya (aduh, bias). pertama, gak suka sama karakternya chorong, tapi waktu tau ceritanya memang seharusnya chorong galak.
    efek gak pernah nonton sirkus, aku susah ngebayanginnya. tapi dikit2 bisa ngebayangin. bagus banget ceritanya kak. sukses terus ya

    Disukai oleh 1 orang

  4. Kak Li dulu perasaan pernah bikin circus au juga ya, kalo nggak salah🙂 Ini risetnya gimana senpai, sampe bisa sedetail ini HUHU
    Di beberapa scene aku sempet ga bisa bayangin mba Hani yang emosional banget karena kebayang dia yang kayak gitu di weekly idol /tolong abaikan/😄
    Aku baca fiksinya kak Li itu serasa baca quotes yang digabungin jadi satu cerita, penuh life lesson banget. Dan mungkin itu khasnya tulisan senpai ya🙂 Terus scene yang paling kusuka pas Hani jadi kepala perompak itu, apakah dia pake kumis plus jenggot gitu? kalo iya pasti ngakak banget lah😄
    Top banget lah! Keep writing kak~

    Disukai oleh 1 orang

  5. haaaaiiiii

    ini ceritanya pahit manis persahabatan gitu. Hani yang blak blakan nolong Chorong dan akhirnya Chorong terbuka. Tema Sirkus dan deskripsi dari gerakan akrobatiknya ini perlu tepuk tangan duluuu… researchnya pasti ngga main main ya (mana ada research main main lol.)

    aku seneng dengan friendship Chorong Hani yang kental ini. Terbaek lah pokonya.

    duh itu ada Kyungil Ten nyelip. lucu sekali mereka. lol xD

    see ya~

    Suka

  6. HALOO!
    Salam kenal, kak!
    Sudut pandangnya unik, aku suka. Sirkus-sirkus gitu. Unik banget. Terus penjelasannya detail bangeeetttt, pasti risetnya nggak main-main ya :”))) Keren! Aku menikmati ceritanya. Kerasa tegang juga, pas si Chorongnya jatuh itu. Pesannya dapet banget!
    Nice, Kak! Keep Writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s