[Movie Festival 4] Blue in His Eyes by Baekpear

blue-in-his-eyes

Blue in His Eyes

baekpear’s storyline

 

Mark Tuan as Mark Lockwood, Wendy Son as Wendy Trestavor

 Kingdom!AU, Romance, Sad

Oneshot

.

.

Seharusnya ia paham bahwa biru yang ia percaya  tak hanya menyimpan kebahagiaan dan tawa.

Tiupan angin menderu kencang kala Sang Pangeran memutuskan berdiri di tepian benteng Istana. Langit tengah murka, demikian pula hati Mark. Pelupuk matanya berkedut  tak kuasa menampung bulir yang tersimpan. Hingga air matanya memaksa jatuh dan Mark mengijinkannya. Lututnya yang dilapisi jubah kebesaran pun turut tersungkur.

Mark menangis sejurus tumpahan dari perut awan yang menghujaninya. Menyamarkan tindakannya sekarang yang tak seharusnya dilakukan pria, apalagi Putra Mahkota. Pemuda itu mengerang, kesal pada apa pun yang membuat takdir tragis seperti ini. Ia mengusap sisi atas rupanya hingga ke surai dengan serampangan.

Namun lebih dari apa pun, Mark jengah pada dirinya sendiri. Seharusnya ia paham bahwa biru yang ia percaya  tak hanya menyimpan kebahagiaan dan tawa. Bersamaan dengan asap yang mengepul dari kejauhan, Sang Pangeran menyaksikan percikan biru yang diterbangkan bebas udara.

Melayang dan pergi.

.

.

Pagi hari di pertengahan musim semi, Trios dianugerahi cuaca cerah nan hangat. Sinar fajar menembus liar pada jendela berukuran cukup besar di lorong Istana. Dentum alas kaki Pangeran Muda sudah tercipta kendati masih terlalu dini baginya untuk mengitari lingkungan kastil. Mark Lockwood mendapat sapaan hormat dari tiap pelayan yang berpapasan dengannya. Ia tersenyum sebagai balasan dan memberi isyarat agar mereka kembali bekerja tanpa menghiraukannya.

Mark lekas melesat di antara setapak yang menghantarkannya pada salah satu bangunan dalam lingkup Istana. Jubahnya bergerak naik turun akibat langkah semangatnya. Lekuk bibirnya tak mampu disembunyikan dan terpajang terus hingga ia menemukan sebuah pintu. Pemuda itu mendorongnya tanpa ragu.

Di sana, di tepian ranjang, Mark sekali lagi paham alasannya bahagia ketika pagi menyambut.

Gadis yang tengah memperlihatkan tatanan surai birunya yang elok itu bahkan sudah menggoda Mark dengan sisi belakang tubuhnya. Ia tak berbuat apa-apa memang tapi debar jantung Pangeran kian menderu. Mark menautkan jemarinya di balik punggung sembari berjalan menghampiri. Air mukanya makin sumringah saat berhasil menangkap rupa pujaannya.

“Apa yang kau lakukan pada wajahmu?” Mark menepis jarak di antara keduanya. “Mengapa mereka mengalahkan keindahan lembah penuh kembang di seluruh Trios?” lanjutnya sambil terkekeh jail.

Dipandangnya lagi sang gadis penuh kasih. “Kau tidak suka? Baiklah aku tak akan mengatakan hal seperti itu lagi.” Sang Pangeran mengarahkan jarinya ke kening gadisnya, dimana anak surainya dijalin rapi dalam sebuah ikatan.  Usapan lembut ia daratkan di sana.

“Setiap hari aku selalu khawatir, apakah semua yang kusiapkan ada yang terlihat tak serasi bagimu. Kata para pelayan, selera berpakaianku sedikit kuno. Mereka selalu bergumam di belakangku.” tawa Mark menguar. “Tapi sepertinya kecemasanku tak banyak berarti.”

Jemari Pangeran telah menjelajahi sebagian rupa sang gadis. “Karena Wendy akan selalu terlihat sempurna apa pun yang dikenakannya. “

Wendy, sang gadis bermanik senada angkasa, enggan mengubah raut mukanya. Gaun semata kaki miliknya membebat rapi dengan sematan storphion di sekitar pinggang. Kendati tengah dipandang lekat oleh Mark, Wendy memilih menikmati rindangnya taman dari bingkai jendela. Mark segera mengikuti arah tilikan sang gadis.

Sudut bibirnya terangkat. “Sewaktu aku kecil, daerah di sisi Pavilliun Utara masih berupa rawa. Aku sering sekali terjerembab di sana.” Kekehan Sang Pangeran tak terelakkan. “ Ayahku yang menyadari hal tersebut menimbun dan mengubahnya menjadi taman yang kau lihat sekarang.” jelasnya.

Ketukan pintu diikuti derit pergeseran lawang mengusik percakapan Mark dengan Wendy.  Seorang pelayan hadir dan lekas membungkuk hormat. “Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Yang Mulia.”

Mark bangkit. “Siapa yang berkunjung sepagi ini?”

“Dia bilang Anda pasti mengenalnya.” jawab sang pelayan, tetap dalam posisi menunduk.

Kembali perhatian Mark jatuh pada gadisnya yang masih terduduk diam. Ia menimang dalam sekian detik sebelum memberi titah. “Perintahkan dia untuk kemari.”

Presensi pelayan tersebut lekas sirna setelah memberi salam dan digantikan dengan sosok wanita yang membuat pupil Mark melebar. Sejurus senyumnya sebagai tanda rindu tercipta, Mark mengambil langkah lebar sebagai sambutan. Wanita itu tak melupakan hal lumrah yang dilakukan kepada keluarga kerajaan, salam kehormatan.

“Sudah kuduga kalau itu kau Heeyeon. Berani sekali kau memutuskan hubungan denganku selama ini.” seloroh Mark. Ia menggiring Heeyeon ke sudut ruangan, dimana kursi berukuran besar diletakkan di sana.

“Hidup sebagai rakyat biasa di daerah perbatasan tak memungkinkan saya bermain ke Istana setiap saat, Yang Mulia.” ucap Heeyeon setelah menempatkan dirinya berhadapan dengan Sang Pangeran. Wanita itu enggan memendam kesukaannya ketika bercengkrama dengan Mark.

“Seharusnya kau menerima tawaran untuk tinggal di jantung Trios, Heeyeon.  Aku tak mampu menjamin seluruhnya, tetapi mungkin akan lebih mudah bagimu.” Ada rasa penyesalan dalam kalimat pemuda berdarah biru tersebut.

Heeyeon menautkan jemarinya. “Anda sudah terlalu banyak membantu saya, Yang Mulia. Sekarang saya harus berusaha sendiri. Saya telah mendapat pekerjaan di sebuah pertunjukkan sirkus diluar wilayah kerajaan.” jelas sang wanita. “Untuk itulah saya kemari, mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi jauh.”

Kesedihan sekaligus kelegaan terpahat di wajah Mark. Ia menganggukkan kepalanya sebagai respon akan kabar yang Heeyeon sampaikan. Bagi Pangeran, wanita berparas lembut namun berkepribadian tegas itu sudah seperti kawannya. Kendati terakhir kali mereka bersua, dua tahun lalu.

“Selain itu,” Heeyeon kembali bersuara. “saya juga ingin memastikan hal lain, Yang Mulia.”

Mark diam, menanti kelanjutan kalimat wanita bersurai marun tersebut.

“Tentang Wendy. Apakah Yang Mulia yakin akan terus merawatnya?” tanya Heeyeon serius. Heeyeon tahu ia lancang tetapi hal ini harus diketahuinya. Bukan untuk dirinya sendiri, namun demi kebaikan Putra Mahkota.

Pangeran Mark menyunggingkan senyum tipis. Seolah telah meramal bahwa suatu saat seseorang akan mengajukan pertanyaan demikian. Sembari melekatkan punggungnya pada sandaran, manik gelap Mark bersirobok dengan milik Heeyeon.

“Aku akan menikahinya. Aku akan menikahi Wendy.”

.

.

Sejak setengah jam yang lalu, lorong menuju area singgasana telah dipadati para tetua berjubah merah. Mereka saling bercakap hingga menciptakan kebisingan sepanjang koridor sempit tersebut. Pasalnya, sebuah undangan pertemuan baru saja dilayangkan kepada seluruh Dewan Kerajaan. Dengan pokok permasalahan yang mampu membuat mereka berpendapat macam-macam tentang kabar yang terkesan tanpa perundingan terlebih dahulu itu.

Pernikahan Mark Lockwood, Pangeran Trios.

Pintu berhias relief alam kerajaan terbuka. Menyuguhkan ruangan cukup luas yang menampung puluhan kursi di sisi kanan dan kiri yang ditata berhadapan. Serta singgasana milik Raja yang menjadi pusat atensi di sana. Kemegahan jelas terpancar dari kubah yang berbentuk setengah lingkaran dengan lukisan kisah para Dewa. Pilar raksasa menjadi kaki dari langit-langit nan indah tersebut.

Para Dewan telah menempati posisi masing-masing. Mereka serempak berdiri ketika Sang Raja dan Ratu tiba dan mengisi singgasana agung. Disusul pemuda bersurai perak yang mengambil tempat tepat di sisi Raja. Rautnya terkesan datar meski pun dialah alasan pertemuan ini diadakan.

Raja mengambil napas berat sebelum mengawali kalimatnya. “Pangeran Mark Lockwood selaku penyelenggara pertemuan kerajaan bisa menyampaikan tujuannya.”

Tubuh Mark menegang kala namanya disebut. Perhatian khalayak sudah menyorotnya dan entah kenapa hal tersebut membuatnya trauma. Ini memang bukan kali pertama ia berdiri di sini dengan maksud yang sama. Namun hal tersebut juga tak berarti ia telah terbiasa dengan suasana tak bersahabat semacam ini.

Pangeran membungkuk pada hadirin. “Saya mengundang Dewan Kerajaan yang terhormat untuk suatu tujuan yang penting bagi saya dan juga bagi Trios. Hal tersebut telah saya pertimbangkan dan putuskan dengan sungguh-sungguh.” ujar Mark penuh wibawa.

“Saya akan menikahi gadis yang saya kasihi dan menjadikannya sebagai permaisuri.” Pernyataan lugas Mark bagai kilat yang mengundang keterkejutan. Kendati mereka semua sudah mengetahui sebelum tiba dalam ruangan.

Satu tangan terangkat dari kalangan Dewan Kerajaan. Pria bernentra tajam bangkit setelah mendapat persetujuan Pangeran. “Bagaimana bisa Yang Mulia mengutarakan hal sepenting ini tanpa sepengetahuan kami? Kami bahkan tidak tahu seperti apa gadis yang kelak akan menduduki tahta Ratu Trios.” ujarnya terkesan membantah ide Pangeran.

Bukan amarah –akibat penolakan secara halus– yang Mark perlihatkan, hanya seringai samar yang makin mengherankan seisi manusia di sana. “Oleh karena itu, saya akan memperkenalkan secara langsung gadis tersebut kepada Anda sekalian.” balas Mark, percaya diri.

Seketika kebingungan menjangkit para anggota Dewan Kerajaan, tak terkecuali Raja dan Ratu yang memandang putra mereka tengak. Mereka saling melempar pertanyaan satu sama lain. Hingga kehadiran yang dinantikan memasuki ruang maha agung dan menghentikan segala macam suara.

Sosok rupawan berbusana biru laut yang serasi dengan corak rambutnya mengundang tiap pasang mata untuk mengaguminya. Didampingi dua pelayan yang menguatkan lengannya, gadis tersebut kini berdiri sempurna di hadapan petinggi Trios.

Untuk kesekian kali, Mark tak tahu cara menutupi kebahagiaannya. “Wendy Trestavor yang akan menjadi permaisuriku. ”

Kesunyian enggan menetap. Khalayak dibuat tak percaya tentang sosok yang dipuja oleh Putra Mahkota. Mereke berbisik rendah, ragu dengan apa yang mereka saksikan. Namun, tubuh kaku serta tatapan kosong gadis bersurai biru tersebut telah menjelaskan segalanya.

“Yang Mulia, Anda sedang bercanda bukan?” tanya salah satu Dewan Kerajaan berbadan tegap. “Mengapa Anda membawa sebuah maneken ke singgasana? Ini bahkan tidak mirip lelucon.” cibir pria tua itu yang diimbuhi tawa tak percaya.

“Apa mungkin gadis tersebut menghilang sehingga Anda membawa benda ini sebagai gantinya, Yang Mulia?”

“Mungkin Pangeran kita ingin menghibur di tengah sibuknya Trios.”

“Namun untuk ukuran sebuah maneken, dia cukup membuat saya terpesona. Dimana Anda mendapatkannya, Yang Mulia?”

Riuh mewarnai seluruh penjuru ruangan. Ada yang melontarkan olokan secara terang-terangan. Ada pula yang tergelak begitu lepas seakan Mark baru saja menyuguhi atraksi kocak yang pantas ditertawakan. Mereka mengubah singgasana menjadi arena pertunjukan yang jauh dari kata senyap.

Mark merasakan darah di sekujur tubuhnya mendidih. Tangannya memutih akibat kepalan yang terlalu erat. “Aku,” serunya lantang. Mampu membungkam bibir sibuk para Dewan barang sesaat. “akan tetap menikahinya apa pun yang kalian katakan. Tolong catat hal–“

“Cukup!” gema bariton Sang Raja menghentikan pernyataan Mark. Pemuda tersebut merasakan intimidasi yang sangat kuat dari ayahnya. Murkanya menyala. “Pertemuan ini berakhir sampai di sini. Kalian semua bisa kembali dan menganggap jika hal ini tak pernah terjadi.” perintah Raja tegas.

Tak butuh waktu lama hingga Raja bangkit dan meninggalkan tahta. Para Dewan Kerajaan yang masih tercengang terburu-buru memberi hormat. Sebelum menapak keluar ruangan, Raja melipir ke belakang Pangeran sejenak. Ia menyampaikan titah tak terbantahkan yang membuat Mark menelan liurnya gugup.

“Kau, temui aku setelah ini.”

.

.

Ribuan kali Heeyeon memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. Mungkin karena bilik peristirahatan ini terlalu besar sehingga tiap kalimat yang dilontarkan menjadi kabur. Tapi selambat apa pun Heeyeon menangkap ucapan Pangeran, ia masih mendengarnya dengan jelas. Pangeran ingin menikahi Wendy, yang nyatanya sebuah maneken.

“Yang Mulia, Anda tidak bersungguh-sungguh kan?” Heeyeon bertanya hati-hati. “Wendy tidaklah hidup. Ia bahkan bukan manusia. Bagaimana–“ Napas sang wanita tercekat. Heeyeon segera membuang pandang.

“Aku tahu.” lirih Mark. Rautnya mendadak murung. “Tapi aku mencintainya.” lanjutnya sendu. Kedua netranya tertuju pada ubin berpetak, enggan mencari tahu seperti apa reaksi Heeyeon. Mark sudah bisa menduganya.

“Saya rasa, Anda tak bisa menyebut itu sebagai perasaan cinta.” simpul Heeyeon. Berulang kali sang wanita menghela udara, seakan pasokan oksigen kian menipis. “Jika Yang Mulia masih menganggap Wendy adalah Mina yang telah tiada.“

Hati Sang Pangeran tergolak akan pernyataan kawannya barusan. Hanya sebuah nama diperdengarkan dan seluruh kerja sarafnya melambat. Karena nama tersebut merupakan kunci menuju masa lampau Mark Lockwood. Dimana kesedihan dan kepahitan memainkan peran penting.

Mina hanyalah sesosok gadis biasa yang tak sengaja dipertemukan dengan Putra Mahkota. Seperti kebanyakan kisah romansa, mereka jatuh cinta. Perjalanan mereka cukup jauh hingga mencapai tahap terpenting dari sebuah hubungan. Pernikahan.

Namun kebahagiaan mereka tidaklah cukup untuk menciptakan jalan yang lancar membangun rumah tangga. Tepat sebulan setelah persetujuan pernikahan mereka dibawa ke hadapan Dewan Kerajaan, Mina beserta keluarganya ditemukan tak bernyawa akibat kebakaran hebat yang melalap kediaman sederhana mereka.

Detik itu Mark tahu kalau dunianya telah berubah. Semua yang ia raba, lihat, dan rasakan menggelap sepekat batinnya.

“Saya menyerahkan Wendy kepada Yang Mulia dengan maksud agar kepedihan sepeninggal Mina lekas terobati.” tutur Heeyeon nelangsa. “Mina menciptakan Wendy bukan untuk dicintai secara manusiawi.“

Seakan disumpah bisu, Mark setia bungkam. Keadaan tersebut dimaanfaatkan sang wanita untuk mengeluarkan bebannya selama ini. “Wendy adalah wujud sempurna Mina yang merasa beruntung karena dicintai seorang Pangeran. Mina mencurahkan bayangan dirinya dalam tiap jengkal tubuh Wendy jika ia dipertemukan dengan Yang Mulia dalam keadaan berbeda, bukan dari kelas jelata tetapi dari tingkat yang sepadan.”

“Ia sering bertanya, akankah dirinya jauh lebih serasi dengan Yang Mulia bila demikian?” Heeyeon hanyut dalam emosi. Setitik air matanya tak sanggup dibendung. “Oleh karena itu, Mina menyimpan maneken tersebut dalam peti besi. Satu-satunya benda yang bertahan pasca insiden yang merenggut hidupnya.”

Mark berusaha menyelami keruh memorinya. Waktu kedua maniknya memandang nanar peti yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ia ingat saat menilik isinya, paras Wendy yang terbujur kaku dalam balutan busana berkilau, dengan hiasan yang teramat mahal. Di pelukannya terdapat sebatang mawar biru yang tetap mengembang begitu indah, kontras dengan sekitarnya yang telah hancur.

Mawar biru yang menggambarkan cinta yang murni. Mawar biru yang melukiskan kebahagiaan. Mawar biru yang mencitrakan kesetiaan, begitu Mina sering bercerita.

Seketika nyeri itu menujam hati Sang Pangeran. Ia tergesa-gesa bangkit. Namun langkahnya tersendat, seolah pandangan Heeyeon mengikatnya. “Tapi tetap, aku tak bisa berhenti. Aku sangat mencintai Wendy.” akunya lirih.

Mark hampir menggapai ambang lawang ketika Heeyeon menyahutinya. “Satu hal Yang Mulia, jika saya boleh berkata lancang, keegoisan Anda adalah pedang. Yang tanpa disadari melukai wanita yang Anda kasihi. Ia bahkan enggan melawan kendati mampu. Malah dengan senang hati membiarkan dirinya tersakiti.” Pangeran mampu merasakan tusukan tajam dalam tiap kata yang wanita itu lontarkan.

“Kini Anda ingin mencoba pedang tersebut pada sosok yang mustahil melakukan perlawanan?” Heeyeon tersenyum remeh. “Saya tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi.”

.

.

 “Dari banyak hal kebodohanmu, mengapa kau selalu mempermalukanku?”

Kalimat pemecah sunyi Raja membuat pupil Mark bergetar gelisah. Sejurus pertemuan dengan Dewan Kerajaan selesai, Mark lekas digiring menuju bilik pribadi sang ayah. Keduanya sempat hening sekitar sepuluh menit sebelum Raja menumpahkan kekesalannya. Punggung dinginnya yang mampu Mark saksikan sekarang.

“Aku memberimu kebebasan memilih pendamping hidup untuk membuatmu pandai menentukan sesuatu. Bukan untuk menunjukkan kalau kau pemuda sinting yang tak memiliki pikiran.” sindir Raja.

Mark mengais nyalinya demi berkata-kata. “Aku mencintainya, Ayah.” ungkapnya jujur.

“Cinta?” Raja terkekeh cuai. Bahunya bergetar akibat tawa yang terkesan dibuat-buat. “Lalu kemana gadis yang kau cintai waktu itu? Kau tidak belajar dari kesalahanmu?”

Dahi Mark sontak berkerut.  “Apa maksud ayah? Mengapa ayah membawa Mina?”

Sang Raja berbalik pelan. Enggan menyampingkan keangkuhannya, ia melangkah berat ke arah guci antik di sudut ruangan. Ekor manik Mark terus membuntutinya, menagih jawaban. Raja mengelus bibir guci yang berkilauan ditabrak redup percikan sinar.

“Gadis itu tak ubahnya sebuah rawa bagimu, dia menjatuhkanmu. Oleh karena itu ayah menimbunnya, agar wilayah bermainmu semakin luas.” Raja berujar enteng. “Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau terjatuh pada bayangan rawa tersebut? Tidakkah kau berkaca pada masa lalu?”

Semakin Pangeran mencoba untuk memahami, semakin perih akalnya mau pun batinnya. Ada sebuah kilatan terlewat cepat yang membuat Mark geram sekaligus merinding saat mengartikannya. Diamatinya sekali lagi figur sang ayah, murka itu mendidih dalam hatinya. “Jadi maksud ayah, kematian Mina adalah sebuah rencana demi menggagalkan pernikahanku? Apa itu masuk akal!” seru Mark.

“Bumi tak mampu menimbun dirinya sendiri. Sedari awal Para Dewan tak pernah mengganggap serius kebebasanmu. Mereka telah menentukan pasanganmu jauh sebelum kau dilahirkan.” balas Raja tenang.

Tawa kosong Mark mengudara. “Dan ayah mengikutinya seolah hidupku tak ubahnya sebuah lelucon.” katanya putus asa.

“Yang terpenting sekarang, segera singkirkan maneken tak berguna milikmu itu atau Dewan Kerajaan yang akan melakukannya. Mereka bergerak lebih cepat dari yang terduga.”

.

.

Benak Mark berharap jika Heeyeon masih menunggunya kendati telah ditelantarkan kurang lebih dua jam penuh. Pemuda itu tak habis pikir bagaimana mungkin ia meninggalkan tamunya sendirian hanya karena terluka dengan perkataannya. Tidak beretika.

Namun jelas harapan Pangeran tinggal kekosongan belaka. Ruang peristirahatan di Pavilliun Utara tak menampakkan wanita bersurai kemerahan itu. Pelayan yang bertugas pun melapor jika Heeyeon –dengan berat hati– telah pergi tak lama setelah Pangeran memutuskan untuk mengakhiri konversasi di antara mereka.

“Nona tersebut juga menitipkan pesan bagi Yang Mulia.” imbuh sang pelayan wanita.

Sedikit tak acuh, Mark menapak lesu ke dalam bilik. Ia mendapati Wendy, masih terduduk, sama seperti terakhir kali ia menjumpainya. Segera atensinya berpaling ke gadis itu. Kedamaiannya dapat ditemukan dengan mudah dalam tiap sentuhan pada pualam pipi sang gadis. Mark meraih jemari Wendy yang tergeletak di pangkuan.

“Kali ini aku akan menghadapi resiko keegoisanku.” ujar Mark, teringat akan inti dari percakapan panjangnya dengan Heeyeon tadi. Air mukanya mengeras. “Kita pasti akan menikah Wendy. Nyawaku taruhannya.”

.

.

Hentakan puluhan pasang alas kaki telah berdengung sejak Mark mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia yakin bahwa kegaduhan ini jelas dari lingkup Istana. Mungkin derap langkah prajurit yang tengah berlatih, Mark asal menebak. Namun pelatihan macam apa yang mengusung dini hari sebagai latar waktunya.

Sang Pangeran beringsut sembari menekan pelipisnya. Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit, tapi keadaan luar sudah sangat riuh. Seakan tengah melakukan sesuatu yang bersifat rahasia.

Mark tersedak. Pupilnya membesar kala berusaha menyadari situasi. Hatinya sangsi. Ia menghela napas kasar selagi bermaraton melewati setapak ke arah Pavilliun Utara. Jantungnya mencelos ketika mendapati beberapa prajurit berlalu-lalang dengan bebas ke tempat yang biasanya begitu sunyi.

Dengan ragu Mark  merangsek ke dalam bangunan, hanya untuk mendapati ruangan milik sosok yang ia puja telah hampa. Dunianya lekas menggelap. Sang Pangeran mendelik ke segala penjuru demi mendapati siapa pun yang mampu menjelaskan semua ini. Ia berlari kesetanan menuju arah yang dilewati sebagian prajurit.

“Dimana dia? Beraninya kalian menyentuhnya!” teriak Mark sambil menyambar atasan seorang prajurit yang berjaga di gerbang belakang. Maniknya sarat akan amarah.

“K-kami hanya menjalankan perintah Yang Mulia.” jawab sang prajurit terbata.

Cengkeraman Mark kian mengerat. “Buka atau kupatahkan lehermu!” sentaknya. “Buka!”

“Anda tidak boleh melakukan ini Yang Mulia!” Seorang prajurit berpangkat lebih tinggi menghentikan tindakan Mark. Beberapa dari mereka bahkan menghalangi dan menarik Pangeran untuk segera menjauhi barikade.

Mark mengebaskan lengannya yang ditahan. Pengamanan pada gerbang belakang kian diperketat semakin menyakinkannya jika mereka tengah menyembunyikan suatu hal di sana. Pemuda itu tak kurang akal. Mark memanfaatkan menara pengawas untuk tiba di benteng yang membatasi lingkungan Istana Trios.

Tiupan angin menderu kencang kala Sang Pangeran memutuskan berdiri di tepian benteng Istana. Langit tengah murka, demikian pula hati Mark. Pelupuk matanya berkedut  tak kuasa menampung bulir yang tersimpan. Hingga air matanya memaksa jatuh dan Mark mengijinkannya. Lututnya yang dilapisi jubah kebesaran pun turut tersungkur.

Netranya menangkap pemandangan tersebut telalu jelas. Di sana, diatas tumpukan kayu dan jerami yang membara, Wendy tengah berbaring. Dengan sebatang mawar biru yang siap menghitam dalam dekapannya. Seakan kembang tersebut menjadi saksi kala pertama ia dipertemukan dengan Pangeran dan disaat terakhir ia memberikan salam perpisahan.

Mark menangis sejurus tumpahan dari perut awan yang menghujaninya. Menyamarkan tindakannya sekarang yang tak seharusnya dilakukan pria, apalagi Putra Mahkota. Pemuda itu mengerang, kesal pada apa pun yang membuat takdir tragis seperti ini. Ia mengusap sisi atas rupanya hingga ke surai dengan serampangan.

Namun lebih dari apa pun, Mark jengah pada dirinya sendiri. Seharusnya ia paham bahwa biru yang ia percaya  tak hanya menyimpan kebahagiaan dan tawa. Tidak, sedari awal arti biru sesungguhnya yang Mina tuangkan dalam paras Wendy memang tak biasa. Mark tahu hal itu namun mengesampinngkannya demi keegoisan.

Bersamaan dengan asap yang mengepul dari kejauhan, Sang Pangeran menyaksikan percikan biru yang diterbangkan bebas udara. Begitu pula kedua tungkainya yang turut melayang kala pijakan kuat pada sisi benteng ia lepaskan. Diiringi seruan ngeri para penjaga yang menatapnya malang, Mark membiarkan tubuhnya dipermainkan angin.

“Pangeran harus ingat, alasan Mina meletakkan mawar biru lekat pada rengkuhan maneken ciptaannya. Karena birunya melambangkan hal yang terus Anda perjuangkan–

 

sebuah  kemustahilan.”

Fin.

Pertama-tama, aku mau minta maaf sama budir alias fikha-ssi atas keterlambatan deadline-ku yang sudaaah kebangetan ini L Maaf udah ngrepotin dan bikin pusing mengurusi hal ini *deep bow*

Kedua, buat kak Liana-nim yang Hani-sunbae-nya kupinjam, maafkan kalo malah jadi terlibat dalam kisah rumit ini dan kehilangan karakter asli di fiksinya senpai. HUHU. Abis kebablasan nulisnya *otoke*

Ketiga, untuk para pembaca, yang telah melewati tiga ribu kata dalam kesakitan tolong jangan lempari saya dengan batu atau semacamnya. Iya sadar kalo agak (banyak) melenceng dari temanya, alurnya juga yang mungkin bikin bingung, atau bahasanya yang semakin ngelantur, saya minta maaf juga. Kalau ada yang masih belum paham, saya dengan senang hati menjawab pertanyaannya kookk :)))))

Anyway, selamat ulang tahun yang keempat untuk IFK-ku tercintahh. Semoga kedepannya makin daebak dan jadi tempat yang nyaman buat penulis dan pembacanya untuk saling berbagi cerita J

 

pat

 

16 thoughts on “[Movie Festival 4] Blue in His Eyes by Baekpear”

  1. haloo!! ((pake 2 tanda seru biar semangat))
    sekali lagi, ga familiar sama pen-name ini😦 dan yg nulis pasti juga ga familiar. Risma, garis 96🙂

    kingdomAU! satu genre yg beda di movie festival kali ini. lalu kolerasinya dengan biru…. KEREN! suka sama narasi dan dialog yg bikin suasana makin ‘kingdom’. suka sama karakterisasi yg bikin ceritanya kompleks. suka sama kejutan manekin itu. suka sama ending-nya yg singkat, padat, jelas. nasib darah ningrat :”( panjangnya ga kerasa, sayangnya aku baca kepotong gegara ada kelas /itu masalah lu/ /abaikan/

    great job! semangat nulis ya!

    Suka

    1. Halo Kak Risma!😀 Iya emang ini penulisnya udah tenggelem entah dimana, Pat disini, 99 garis keras HEHE
      Aku juga waktu nulis ini idenya udah muter kemana-mana tapi jatuhnya tetep ke AU aja, apalagi kingdom. Wah beneran ini masih bisa dinikmati yahh? Padahal nulisnya itu serasa ga maksimal abis disambi nugas /malahcurhat/ /abaikan/😄
      Anyway thankyou sudah mampir dan baca ya kak~

      Suka

  2. Huaaaaa
    Taukah kamu aku baru ngeh kalo wendy itu manekin agak lama setelah melewati event Mark ditertawakan di istana. Bodoh
    Duh idenya unik2 pol buat color rivers aku merasa nistaaa. 3rb word aja masi kuat kok aku baca sebab ini memang bikin penasaran. Dan endingnya yg sebuah kemustahilan itu nyesek polll
    Trs heeyoon nya yg agak ooc aku maafkan bikos latar belakangnya kan kingdom AU, etika harus di perhatikan bukan?
    Pokoknya suka banget! Keep writing!

    Suka

    1. Emang ini alurnya ngelantur, wajar kalo gagal paham kok kak😄
      Aku sendiri ngetiknya sambil ketir-ketir, takut entar yang baca nggak ngeh dan malah bosenn :’)
      Dan soal Hani HUHU, aku asli bingung mau diapain mba hani ini di setting kingdom, jadilah begitu :))))))))))
      Makasih udah baca Kak Li❤ Keep writing too~

      Disukai oleh 1 orang

  3. Paterrr!!!!!kyaaaaaa! setelah sekian lama aku mangkir melawat ke Kerajaanmu(hehehe) sekarang akhirnya kesampaian juga yeay! Mianhae banget aku jarang mampirT_T

    anyway, anyway, arghhhhh why oh why fict ini menghablurkan pairing-ku, sonwen x parkchan tergeser hebat oleh kehadiran mark lockwood yang setelah kutimbang dengan timbangan(ggg) dan kupikir masak2 cocok bersanding dengan sonwen karena paras kebule-buleannya ituuh. haha.
    dan, yeah, plis, mau komen apa soal story-line yg cetar macem inih :”) aku kehabisan kata-kata. berasa kaya nonton film disney haha.
    dan sungguh aku makin jatuh cinta dengan gaya bahasa yang mencirikan tulisannya Pater bangetlah🙂

    dan, semangat terus untuk berkarya, Pat^^ hwaitting!

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kaxian! /hug dulu sini/ omomo liat komennya kaxian itu serasa pengen sujud yah /lebay/😄 bikin adem aja bacanya HEHE
      Aku juga kangen wenyeol aselii, tapi lama nggak menulis mereka itu juga bikin goyah *apaan*😄 apalagi pas tahu kalo disebelah pairing ini begitu laris karena sama2 blasteran hah
      Film disney apaan sih kak, ini mah cuma iklan yutub yang belom sedetik langsung disekip :’) tapi seneng deh kalo masih bisa dinikmati yey😀
      Thankyou sudah menyempatkan mampir dan baca ya kak❤ aku juga kangen main ke baesuzy's housenya kakak HEHE

      Disukai oleh 1 orang

      1. HAHAH😀
        kamu memang pairing-wrecker kesayanganku pat :”) hehe *peace* nah setujuu. udah blasteran, jomblo juga lagi (ehh :”D)
        serius, latar kingdom kaya gini tuh khas disney banget pat. untuk urusan genre kingdom dan fantasy mah udah jadi kaya gorengan yang kamu makan sehari-hari dah.
        yay itu yang terpenting^^ enjoy and appreciate it!
        hihi, santai aja pat~

        Disukai oleh 1 orang

  4. hi thereeee!!

    Oh, jadi ini tog cerita dongeng Pangeran Lockwood dan Wendy si manekin. Khas kerajaan banget sih, alias Pangeran Mark ngga bisa bebas ngelakuin apapun, karena Raja dan Dewan Kerajaan lebih berkuasa.

    Ya astaga! Dan aku kira Wendy itu bukan manekin di awal-awal. lol. Baru sadar pas yg dibawa ke pertemuan itu. Ogeb banget ya. Habis, kayanya Wendynya beneran ngomong sih wkwkwk. Agak gila emang kayanya Pangeran ini, bisa-bisanya cinta sama manekin. Ya tapi emang karena pengaruh pengalaman masa lalunya sih sampai dia begitu.

    Endingnya tragis… karena alasan biru bukan hanya keindahan tapi juga kemustahilan. huhuhuhu. ngenaa lah.

    see ya~

    Suka

    1. Halo thia!
      Hehe fantasy apalagi kingdom emang banyak nyerempet ke arah dongeng kali yaa😀 Iya nih si Mark apa segitunya, dia kaya masih kebayang sama cewenya yang dulu jadinya malah gitu.
      Makasih udah baca yaa~~

      Suka

      1. iyaaaa sama-sama, my pleasure xD
        tapi bikin cerita ala dongeng juga gampang-gampang susah lo😦 jadi suka baca yang dongeng-dongeng gitu hehehehe xD

        Suka

  5. Halooo!
    Salam kenal, kak!
    Aku koreksi dikit ya, itu kata disini seharusnya di sini. Karena di menunjukkan kata tempat. Ada typo juga. DIkit doang kok.
    Terus, kata nafas seharusnya napas.
    Dari segi cerita, serius keren!
    Pas awal-awalnya kupikir itu si Wendy itu bisu. Soalnya kan diajak ngomong diem aja gitu. Taunya…:”
    Ceritanya mengalir banget! Aku juga suka gaya bahasanya.
    Tapi ya aku kasihan sama Mark yaampun :”) dia miris amat hidupnya. Sampai suka sama maneken segala yaampun:’ sini Mark, kamu sama aku aja /ditendang/

    Nice, kak! Keep Writing!^^

    Suka

    1. Halo ghina!
      Wah terima kasih, sudah kubetulin🙂 ini waktu ngebeta-nya kurang teliti emang :’)
      Aku malah takut kalo ceritanya udah ketebak dari awal. Habis wendy nggak dikasih dialog sama sekali. Pertama kali bikin fiksinya mark, malah kunistain yah duh *dikeroyok ahgase*
      Makasih sudah baca ya~ keep writing tuu~

      Suka

  6. Halo, Pat! Apakah kamu masih inget aku? Dhila, 98l di sini!😀

    Pertama-tama aku mau ngasih tau dulu kalo aku seneng banget sama ide cerita dan pemilihan karakter serta pemilihan warna kamu karenaㅡAAAA BIRU IS MY LYF. Anyway, aku dari awal udah curiga banget nih si Wendy kok diem aja dan langsung mikir kalo Wendy manekin. Bukan berarti ceritamu kebaca koook, lebih karena aku terbiasa nulis ambigu begini ahahahaha. Jadi gabisa ditahan kecurigaannya.

    Aku baper banget baca hubungannya Mina-Mark-Wendy ini. huhuhuhu😦 Tiga-tiganya biaskuuuuu❤❤❤ Ohiya, koreksiku utamanya di setiap kata 'di'. Seharusnya tiap kata 'di' yang merujuk pada keterangan tempat itu dikasih spasi, Pat. Contohnya, 'disana'. Yang betul itu 'di sana'🙂

    Talu terlepas dari itu, semuanya oke kok! aku malah suka banget hahahahaha😀 Nulis Kingdom!AU gak gampang dan menurutku you did a good job!😉

    p.s : longtimenosee, baekpear! ㅡaku dahulunya dhiloo98.

    Suka

    1. Halo kadhila! omo longtaimnosi, jelas ingat dungss😀
      Iya kak wajar lah, aku juga takut kalo mudah ketebak, abis wendy-nya ngga dikasih dialog HUHU. Aku lagi kecanduan bikin fiksinya Mina akhir-akhir ini, dan baru inget kalo dia seagensi sama Makeu
      Siap, thankyou udah diingetin😀 Suka ngga teliti waktu ngebeta ini mah hehe.
      Thankyou sudah baca kadhil, keep writing❤

      Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s