[Movie Festival 4] Heart of Spring by chioneexo

Heart of Spring - chioneexo

scripwriter : chioneexo | cast(s) : Ten [NCT-U], Song Kyungil [HISTORY], Shim Changmin [TVXQ] | duration : oneshot [4268w] | genre : family, brothership, slice of life.

 

so he tasted the deep pain that is reserved only for the strong, just as he had tasted for a little while the deep happiness.

 

            Tidak ada yang lebih biasa daripada mendengar rotan beradu kulit khas keluarga Yoon. Terdapat tangis di sela-sela pukulannya; tangis yang membuat semua orang membayangkan betapa sakit rasanya saat rotan itu menyentuh tubuh. Bocah remaja bernama Ten terjerembap untuk beberapa saat, kemudian bangkit dan menatap ayahnya dengan ketakutan.

            “Dasar tidak berguna! Lemah! Kau bukan laki-laki, Ten!”

            “Ma-maaf, Ayah,” isaknya hebat.

            Membanting rotan ke tegel kayu, Tuan Yoon mendelik sebal ke arah Ten. “Pergilah. Pergi dan jangan kembali sampai besok!”

            Melangkah takut-takut, Ten pun melesat keluar melalui pintu geser rumahnya yang berbingkai kayu mahoni. Ia merayap dalam kegelapan bulan Mei menuju rumah seberang, tempat dimana ia bisa mengadu pada Kyungil tentang semua yang terjadi selama hari itu.

            Rumah keluarga Song cukup luas, tapi tidak se-tradisional rumah Ten sendiri. Tidak ada aroma Korea kuno tertinggal di rumah tersebut, hanya model-model futuristik dengan lampu putih menyala sepanjang lorong. Di bagian depan rumah minimalis itu, duduklah Kyungil dengan tampang mengantuknya; seperti tahu benar Ten akan datang.

            “Hyung.” Ten melepas alas kaki lalu berdiri menghadap Kyungil, dada bocah itu masih naik-turun akibat menangis. “Hyung, ayah memukuliku lagi.”

            Selepas satu desahan panjang, Kyungil bangkit dan menyuruh Ten masuk. Lampu ruang tamu yang dimatikan menandai berakhirnya aktifitas di kediaman keluarga Song. Dari semuanya, mungkin hanya Kyungil yang masih terjaga. Mereka berdua duduk di sofa berlengan dan melakukan apa yang harus dilakukan.

            “Andaikan ini siang hari, aku pasti sudah menghajar balik ayahmu.” Kyungil dengan sangat hati-hati mengaplikasikan salep anti lebam ke punggung Ten, pria tersebut ikut mendesis sakit ketika melihat satu lebam paling parah di pagian kiri perut. “Ayahmu bukan manusia.”

            “Dia manusia, kok.”

            “Ya. Tapi nuraninya sudah minggat.” Kyungil mengoleskan salep pada satu lebam terakhir dan menurunkan piyama Ten. “Dia tidak akan memukulmu kalau kau tidak berbuat sesuatu. Kali ini apa, Ten?”

            “Aku tidak membalas saat anak-anak dari kompleks sebelah mengatai ayah seorang yakuza tak berotak. Mereka mengolok-olok ayah parah sekali, tapi aku diam dan tidak membelanya.” Ten lantas tengkurap, matanya kembali berkaca-kaca. “Sulit kalau harus membalas perkataan kasar mereka dengan perkataan kasar lain.”

            “Ck. Kali ini kau yang salah, tahu. Seorang anak harus bisa menjaga nama baik keluarga, terutama ayah. Tetapi aku tidak membenarkan cara ayahmu memukulimu hari ini, lebamnya terlihat tidak wajar.”

            “Itu karena ayah mengerahkan seluruh tenaga dan emosinya pada rotan tadi.” Ten menenggelamkan kepala ke permukaan sofa, setitik noda ingus meresap di sana. “Rasanya mengerikan, Hyung.”

            “Aku tahu itu mengerikan, makannya kubilang dia bukan manusia.” Pria Song tersebut lantas memberi aba-aba pada Ten untuk beranjak ke kamarnya lantaran hari sudah malam. Keduanya berbaring di tempat tidur Kyungil sambil mendengus berat, seolah-olah habis menjalani hari yang super tidak menyenangkan.

            “Besok tidak usah sekolah saja, ya?” Kyungil menyelipkan satu bantal untuk melindungi punggung Ten. “Akan kuurus surat izinnya.”

            “Nanti ayahku akan berteriak-teriak di depan rumahmu, Hyung. Dia tahu aku di sini. Ayah pasti berpikir bahwa untuk seorang anak lelaki, lebam ini seharusnya biasa saja dan tak mengharuskanku bed-rest.”

            “Dan aku akan mengeluarkan ancaman yang sama seperti kemarin; mengadukannya ke lembaga perlindungan anak supaya dia dipenjara. Ayahmu tidak bisa melarangku untuk melindungimu. Sudah, tidur sana.”

            Song Kyungil menarik selimut sampai sebatas dagu, berusaha mengenyahkan hawa dingin yang masih mengandrunginya sehabis terjaga di depan rumah demi menunggui Ten selesai dipukuli.

            Kalau kau tidak melarangku melaporkan ayahmu, dia pasti sudah dihukum dua puluh tahun penjara dan takkan sempat melihatmu lagi karena keburu mati di sudut sel.

 

__

            Matahari baru berwujud bulat utuh sekitar pukul enam lebih lima puluh menit, hampir jam tujuh saat Ten terbangun untuk mendapati punggungnya tegang dan tidak bisa digunakan untuk bangkit dari tempat tidur. Diremasnya seprai putih yang kini berupa kain kusut masai demi meredam sakit. Jujur saja, pukulan ayahnya kemarin adalah yang paling mengerikan.

            “Roti isi, sereal, oatmeal, atau susu?” Kyungil muncul di daun pintu dengan gagang wajan tergenggam di tangan kanannya.

            “Tidak ada bulgogi ya?”

            “Aku bukan ibumu yang setiap hari merendam kimchi dan mengaduk saengseonjjigae. Pilih saja, lebih baik daripada tidak makan.”

            “Sereal deh.” Ten mendesah kesal, pikirannya sekonyong-konyong membayangkan betapa mulas dirinya kalau harus menelan oatmeal. “Hyung, ayah belum kemari ‘kan?”

            “Dia tidak akan kemari. Omong-omong, kau tidak perlu pindah dari tempat tidur kalau masih sakit,” ucap Kyungil sambil lalu, ia kembali berkelontangan di dapur demi membuat ssatu-dua porsi sarapan untuk dirinya sendiri dan Ten.

            Well, kalau kau penasaran kemana perginya keluarga Song, maka begini penjelasannya: Nyonya dan Tuan Song sudah bertandang ke kantor subuh hari seperti biasa, pun tidak ketinggalan si sulung Song Kyungjae yang harus kuliah pagi demi mendapatkan konseling perihal skripsi.

            Meski tidak ingin menyusahkan Kyungil dan keluarganya lebih dari ini, nyatanya Ten selalu melarikan diri ke kediaman Song itu setiap kali dirinya kena masalah. Keluarga Song, tepatnya Song Kyungil, bak tameng yang bisa membuat Ten bertahan dalam kerasnya arus waktu, tempat yang menjadikan dirinya ingin hidup bahkan saat semua orang tidak menginginkannya.

            “Melamun apa, Ten?” Kyungil tahu-tahu sudah masuk dengan semangkuk sereal cokelat dan sepiring roti isi. “Kalau makan sambil sandaran bisa tidak?”

            “Memangnya aku harus makan sambil tengkurap? Aku bukan kura-kura, Hyung.” Ten bangkit dari posisinya, mencengkeram pinggiran tempat tidur kala otot-ototnya dipaksa bekerja menggerakkan tubuh. “Mungkin sebentar lagi noona akan kemari menjemputku.”

            Melahap gigitan roti isi pertamanya, Kyungil berujar. “Pintu gerbang sudah kugembok, tidak ada yang bisa masuk.”

            “Tapi noona tidak akan meny—“

            “Ten, kau sadar tidak? Tadi malam, kalau kau sempat bercermin, kau memakai piyama warna peach berbordir bunga mawar. Demi Jenggot Tebal Tuan Yoon, aku saja enggan membayangkan diriku pakai itu. Noonamu akan memanjakanmu dengan datang kemari, dan aku tidak menyukai itu. Kau harus belajar tegas. Nanti sore kita latihan bela-diri lagi, oke?”

            “Tapi punggungku—“

            “Berhenti bilang tapi. Aku tidak menerima penolakan.”

__

            Bukannya takut pada tatapan menakutkan sang ayah, Ten hanya tidak begitu bernyali kalau harus keluar rumah dengan ayahnya yang mengawasi dari rumah seberang. Bulu kuduknya berdiri lagi tatkala mengingat betapa keras dan menyakitkan kejadian kemarin.

            “Ten, mobilnya sudah siap. Kau lihat apa?” Kyungil lantas memasukkan satu lengan ke jaket kulitnya, kemudian menyamakan posisi di sebelah Ten yang menatap keluar jendela. “Ah, ayahmu? Dia sudah mematung di situ sejak sejam yang lalu, sepertinya hendak menunggumu keluar.”

            “Dan aku memang keluar sebentar lagi.”

            “Tapi kau ada di dalam mobilku. Nah, berhenti khawatir soal pria itu dan cepat kemasi tas olahragamu. Gym akan semakin ramai pada pertengahan musim semi begini.” Kyungil melesat menuruni tangga disertai derap langkah Ten di belakangnya. Mereka sudah berada di dalam mobil saat ayah Ten beringsut menuju pintu gerbang dan berdiri di sana selama sepersekian sekon.

            “Apa yang akan ayah lakukan?”

            “Dia hanya melihat, abaikan saja.” Ujar Kyungil sambil memutar mobilnya ke arah kiri, kemudian melaju pelan melewati selasar sempit tempat hunian tetangga mereka berbanjar rapi.

            Sepanjang perjalanan yang suntuk namun lumayan menyenangkan itu, Ten harus bertahan dengan punggungnya yang diganjal bantal mobil supaya tidak berdenyut-denyut. Bocah itu tak habis pikir mengapa ia harus latihan bela diri ringan—atau setidaknya, begitulah yang diucapkan Kyungil—sementara punggungnya masih berteriak-teriak minta diberi istirahat. Well, meski tak bisa dielak bahwa pergi dengan Kyungil seratus kali lebih baik daripada duduk termangu di rumah.

            “Oi, melamun saja kau ini.” Song Kyungil menjitak bagian belakang kepala Ten. “Katakan sesuatu.”

            “Punggungku masih sakit.”

            “Sayang sekali, Ten, alasanmu tidak menggoyahkan tekadku.”

            “Bagaimana kalau ternyata aku masih gagal seperti kemarin?”

            “Kita coba lagi dan lagi. Terus, sampai kau bisa melindungi dirimu sendiri tanpa bantuanku atau ayahmu.” Pria tersebut menekan klakson tiga kali setelahnya, mengumpat sebal kepada Hammer putih yang melaju pada lajur yang salah. Mereka berdua sudah merapat ke area parkir gym tepat pukul empat sore dan masuk ke dalamnya dengan perasaan bersemangat untuk Kyungil, dan takut untuk Ten.

__

            “Tangkis!”

            Bugh!

            “Tangkis seranganku, Ten!” Kyungil melempar satu tinju ke arah dada Ten, disusul tinju berikutnya pada bagian perut.

            Bugh!

            “Gunakan otakmu selagi kau menggerakkan badanmu! Anggap aku sebagai musuh yang selama ini menindasmu di sekolah, yang mengatai ayahmu yakuza, yang menyumpali lokermu dengan sampah! Ayo, Ten!”

            Ten berusaha mengerahkan fokus pada setiap inci ototnya untuk melawan Kyungil. Namun ia hanya bisa melemparkan pukulan lemah dan tendangan yang tak sampai pada targetnya. Dia juga kesusahan dalam menyamai kekuatan Kyungil meski Ten tahu pria tersebut tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Duel ini tidak pernah imbang, dan Ten tahu itu.

            Bugh!

Bugh!

Bugh!

 

HYUNG, HENTIKAN!” Ten jatuh terkapar dengan napas memburu. “Hentikan. Aku tidak bisa.”

Menatap pada sosok Ten yang lunglai di atas matras, Kyungil melepas pelindung dadanya dan duduk di sebelah bocah itu.

“Mungkin kau benar.” Kyungil menyambar handuk kecil dari tas olahraganya dan menyeka keringat dari pelipis.

“Soal apa?”

“Soal kau yang gagal lagi hari ini.”

Tidak ada konversasi setelah itu, keduanya duduk bersisian sambil menatap manusia berlalu lalang dengan latar belakang matahari oranye tua yang merembes melalui kaca bangunan gym. Kyungil menarik napas panjang, Ten juga.

“Setelah mandi, kita akan kemana?” Ten memalingkan wajahnya ke arah Kyungil, rautnya menampilkan seseorang yang harap-harap cemas. “Kita tidak akan latihan fisik lagi, bukan?”

“Mengapa kau berpikir begitu?”

“Kalau begitu kemana?”

“Ke tempat kesukaanmu. Beritahu aku kau suka ke tempat apa dan kita akan mengunjunginya. Tidak ada gunanya memaksamu menjadi orang yang bukan dirimu.” Song Kyungil beranjak dari tempatnya duduk. “Cepatlah mandi sebelum matahari benar-benar tenggelam.”

__

            Kyungil agak menyesal menawari Ten pergi ke tempat kesukaannya. I mean, jika bukan ke toko rajut, atau kedai es krim bercorak girly, Kyungil pasti sudah mengantarkan Ten dengan perasaan lega. Tetapi, yah, Kyungil tidak bisa berharap banyak pada tempat-tempat kesukaan Ten.

            “Di toko rajut nanti aku ingin membeli benang untuk membuat sweater.” Celotehnya kelewat bersemangat. Kali berikut Ten bicara adalah soal warna-sweater-apa-yang-cocok-untuk-musim-semi—yang ditanggapi Kyungil dengan asal bicara—dan sedikit wejangan soal memilih rasa es krim yang tepat untuk seseorang yang terkena penyakit tertentu (seperti cokelat baik untuk menjaga kesehatan jantung).

            Berpikir untuk segera menyudahi tema percakapan membosankan ini, Kyungil mempercepat laju mobilnya dan sampai ke toko rajut tak lebih dari lima belas menit setelah meninggalkan gym.

            “Es krim dengan kandungan lemak yang lebih sedikit biasanya lebih aman unt—“

            “Ten.”

            “—selayaknya minum susu tiga gelas dalam sehari dan kau tid—“

            “Ten!”

            “Eh? Apa, Hyung?”

            “Sudah sampai, Nak. Kau mau mengoceh sampai kiamat, huh?”

            Untuk pertamakalinya Kyungil melihat wajah malu dari seorang Ten. Bukan jenis wajah malu yang memerah, tentu saja tidak, melainkan malu yang membuatnya tidak bisa tertawa dan salah tingkah sesaat.

            “H-hyung, aku sudah boleh turun?”

            Tergelak akibat pertanyaan barusan, Kyungil menjawab. “Bwahahahahaha! pertanyaan macam apa itu, Ten?! Memangnya kuantarkan kau kemari untuk apa? Mendiamkanmu di mobil? Tentu saja kau boleh turun!” Kyungil masih berusaha meredam tawa dan menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘astaga, kau lucu sekali’ sembari hengkang dari mobil.

            Sebab toko rajut itu berada di seberang jalan, Kyungil harus repot-repot menggandeng tangan Ten supaya tidak terdorong kerumunan orang yang baru pulang kantor. Mereka menyeberang jalan berhimpitan dengan gadis-gadis SMA kelas senior—yang melirik keduanya seolah Ten dan Kyungil adalah pasangan homo, padahal bukan—dan tiba di sisi jalan satunya dengan selamat.

            “Mengapa mereka cekikian? Gadis-gadis tadi?” Ten berujar seraya melangkah lebar menuju toko.

            “Bukankah sudah jelas? Mereka mengira kita pasangan homo.”

            “Pasangan homo itu benar-benar ada ya, Hyung?” Tanyanya polos.

            Seolah melanjutkan tawa hebohnya tadi, Kyungil menyahut dengan tawa kecil yang keluar melalui sudut-sudut bibirnya. “Ehm…tidak tahu ya. Coba cari di Google.”

            Tiga puluh menit penuh tatapan apa-yang-kedua-pria-ini-lakukan-di-toko-rajut dari para penjaga toko dan Kyungil terpaksa memojokkan diri di sudut terjauh toko itu. Meski demikian, Ten terus saja memanggil dan memaksa Kyungil untuk menyahuti apakah kombinasi ungu dan kuning akan sama bagusnya dengan merah-biru atau oranye-hijau.

            “Bagus, Ten, bagus.” Kyungil mulai kesal.

            Beruntunglah Ten segera menyudahi kegiatan itu dengan memborong sepuluh jenis benang wol ukuran besar dan sekotak alat rajut baru yang katanya akan disembunyikannya di rumah Kyungil. Karena kedai es krim adalah tujuan mereka yang berikutnya, Kyungil tak mau repot-repot masuk ke sana dan dihadiahi tatapan aneh lagi.

            “Hyung ingin rasa apa?”

            “Matcha.”

            “Pilihan yang sehat!” Ucapnya girang, kemudian melenggang masuk melalui pintu kedai es krim. Barang belanjaan serta ponsel Ten ada pada Kyungil selagi bocah itu pergi memesan, dan Kyungil bukannya tidak tahu tatkala layar ponsel Ten berkedip tanda ada panggilan masuk.

            Dari ayah Ten!

            “Pak Tua bodoh, sudah cukup merusak hari Ten yang lalu, jangan rusak harinya yang sekarang. Enyah sana.” Kyungil menekan tombol reject dan mematikan ponsel Ten supaya tidak ada panggilan kedua dari orang yang sama. “Begini lebih baik.”

            Meski harus menunggu cukup lama untuk bisa menyantap kudapan manis-murah itu, nyatanya Ten keluar sesegera mungkin setelah ia mendapatkan total dua cone untuk masing-masing. Mereka sudah berada di mobil tepat ketika matahari kembali ke peraduannya di ufuk barat.

            “Hari ini kita akan menginap di rumah Changmin.”

            “Siapa itu Changmin?” Ten mengunyah ujung conenya dengan rakus.

            “Teman kuliahku. Aku khawatir jika kita pulang ke rumahku, atau rumahmu, ayahmu akan kumat. Dia meneleponmu saat kau masuk tadi.”

            “Tidak kau angkat?”

            Kyungil hanya menggeleng sebagai jawaban. Lalu mereka berkendara ke rumah Changmin nun jauh di pinggiran Seoul sambil merasakan hangat musim semi mengitari udara kota.

__

            Hal pertama yang dilakukan Ten saat tiba di rumah Changmin adalah menjatuhkan rahang. Tentu saja bukan karena rumah itu buruk atau tidak terurus, Ten justru terperangah sebab di sepanjang ruang tamu tergantung dengan apik gitar-gitar klasik yang ditandatangani musisi-musisi tersohor. Di satu bagian rumah—seolah menatap Ten dan Kyungil lurus-lurus—terdapat lukisan hitam-putih John Lennon, disusul lukisan-lukisan kecil anggota The Beatles lain di sisi kanan dan potret grup Nirvana di sisi lawannya.

            “Ini rumah atau…studio musik?”

            “Well, Changmin memang punya studio kecil di belakang, terpisah dari bangunan ini.” Kyungil melepas penat dengan menyulut sebatang rokok sembari menunggu Shim Changmin selesai meramu kopi. “Kau terkejut, Ten?”

            “Aku bertanya-tanya apakah dia mempunyai gayageum.”

            “Tidak pernah lihat sih, tapi Changmin mahir memainkan haegeum.”

            Kurang dari sedetik setelah percakapan itu usai, Changmin datang membawa nampan berisi tiga gelas kopi aneka jenis. Satu americano super pahit untuk Kyungil, latte untuk Ten, dan macchiato untuk Changmin sendiri.

            “Hyung, kau bartender ya?” Ten kegirangan sehabis menyeruput latte terlezat sepanjang hidupnya.

            “Tidak juga. Aku belajar otodidak karena tidak ingin membayar mahal untuk kopi yang bisa kubuat sendiri di rumah.” Sahutnya kemudian nyengir lebar pada Ten.

            Changmin jelas sekali lebih tua daripada Kyungil namun tidak lebih dewasa dari kelihatannya. Pria itu suka menertawakan susunan kalimatnya sendiri dan bertingkah seolah itu lucu, padahal tidak. Namun terlepas dari hal tersebut, Changmin memang terlihat seperti seniman berkelas ditilik dari rambut panjang yang diikat pendek dan kemejanya yang licin melebihi permukaan meja marmer di tengah ruang tamu.

            “Nah, nah. Kyungil bilang kau suka seni tradisional? Kita kurang selaras soal itu, tapi bisa dicoba untuk menemukan kecocokan. Barangkali kita bisa duet suatu hari nanti?”

            Menatap Song Kyungil selama beberapa saat—heran mengapa dia memberitahukan itu pada Changmin—lalu Ten menjawab. “Aku bisa main gayageum, lumayan mahir melukis aliran surealis, dan memproduksi puisi untuk majalah sekolah. Hanya itu sih, Hyung.”

            Menaikkan satu alis—gelagat yang menurut Ten adalah pertanda bahwa Changmin akan cocok dengannya—kemudian menyahut. “Aku bisa main segala jenis alat musik bersenar termasuk haegeum, naturalis adalah aliran lukisanku, tidak terlalu pandai menulis puisi tapi sudah menerbitkan beberapa fiksi bertema fantasi. Kau mirip sekali denganku, Nak.”

            “Dan hanya aku yang tidak mirip.” Kyungil menatap Ten dan Changmin bergantian, ada raut sebal pada wajahnya. “Kau ada kamar kosong, Changmin-ah? Ten butuh istirahat.”

            “Ada di atas.”

            “Aku tidak but—“

            “Setelah dipukuli ayahmu lalu pergi ke gym plus berdiri di toko rajut selama setengah jam dan kau bilang tidak butuh istirahat? Itu gila. Sekarang naik dan tidurlah, kau membutuhkan setidaknya sepuluh jam di atas tempat tidur.” Kyungil mendesak dan dengan demikian tak ada celah bagi Ten untuk menolak.

__

            Minggu demi minggu yang melahkan membuat Kyungil dan Changmin tak menyadari betapa jarangnya mereka berbicara. Maka malam ini—ketika Ten benar-benar pulas di kamar atas—keduanya memutuskan untuk mengobrol di teras belakang kediaman Changmin. Bulan sabit menggantung perak di atas langit musim semi, menyebarkan rasa tenang dan kehangatan yang menyenangkan.

            “Dia tampan padahal.” Changmin mengusap dagu. “Terlalu tampan untuk dibilang banci.”

            “Ten bukan banci, Changmin.”

            “Well, ada perbedaan antara laki-laki yang suka berpakaian layaknya wanita dan laki-laki berhati lembut, kemayu, dan lemah. Ten ada di tengah-tengah ciri-ciri itu. Kau pasti kaget kalau kukatakan dia pernah suka seorang gadis di sekolahnya.”

            “Tahu darimana?” Kyungil menyulut rokok keduanya malam ini.

            “Ayolah, wajah flower boy begitu siapa pula yang tidak jatuh cinta? Kau harus lebih jeli lagi mengamati Ten, bocah seperti dia pasti pernah jatuh cinta tapi terlalu pengecut untuk mengatakannya.”

            Tertawa, Song Kyungil mengetuk rokoknya sekali untuk membiarkan abunya jatuh ke tanah berumput. “Seperti kau lima tahun yang lalu.”

            “Sekarang sudah tidak, kan? Diriku yang sekarang adalah Changmin yang dengan segenap hati mengejar cintanya, yang tidak lari dari kenyataan dan terus berjuang. Kurang lebih…aku sudah dapat pencerahan tentang cara menjadi laki-laki sejati. Kau sendiri bagaimana, Kyungil-ah? Hubunganmu dengan Sooji baik-baik saja, bukan?”

            “Oh, hubungan kami terlalu mesra untuk diungkapkan ke telinga publik,” candanya.

            “Blah. Tidak usah pamer, Tuan Song.”

            “Aku tidak pam—tunggu sebentar.” Kyungil meraba saku celananya dan menemukan ponsel Ten bergetar lagi. “Ini dari ayah Ten.”

            “Angkat saja kalau begitu.”

            “Tidak. Aku tidak ingin ada masalah baru hari ini.” Kyungil menarik napas panjang. “Aku sudah cerita soal Ten yang dipukuli ayahnya tempo hari?”

            “Not yet.” Changmin memutar tubuh, kelihatan tertarik sekali. “Ceritakan.”

            Dan Kyungil pun menceritakan apa yang dilakukan Tuan Yoon dua hari lalu pada putranya. Changmin tidak menampilkan reaksi yang berarti selama cerita itu berlangsung, namun Kyungil tahu dalam benaknya sedang bermunculan berbagai gambaran soal adegan tersebut.

            “Well, itu kasar sekali.” Katanya saat Kyungil selesai bercerita. “Dia mengadopsi Ten, tapi tidak meluangkan waktu bersamanya hingga dia tumbuh seperti itu. Sekarang saat semuanya sudah mustahil untuk diubah, pria itu justru menyalahkannya pada Ten.”

            “Begitulah.”

            “Kau tahu? Aku bisa membantu jika kau ingin melaporkannya ke lembaga perlindungan anak.”

            “Ten tidak menginginkan itu terjadi.”

            “Seperti dugaanku, hatinya begitu lembut dan tidak tegaan.” Changmin tersenyum sambil menengadah ke arah langit, menatap pendaran bulan yang membuat gugusan bintang terlihat samar. “Jarang sekali ada manusia seperti Ten.”

            “Dan sekali ada, dunia memperlakukannya seperti kotoran.” Kyungil menyahuti dengan nada kesal. Pria tersebut ikut mendongak ke arah langit, bertanya-tanya apakah ada keadilan yang pernah ditegakkan dengan sungguh-sungguh di semesta ini.

            “Sebaiknya kita tidur, besok akan jadi hari yang sibuk jika kau ingin mengantarkan Ten ke rumahnya. You know, tidak ada harapan ayah bocah itu tidak memukuli anaknya lagi, bukan? Kau harus ada di sana untuk melindunginya.”

            Beranjak dari teras, Kyungil berkata. “Yeah, kau benar.”

__

            Pagi hari terasa menakutkan untuk Ten, dia terus mengaduk sarapan tanpa berniat memakannya. Beribu pemikiran lantas memenuhi pikirannya; pemikiran tentang ayahnya, rumahnya, dan apakah pria itu tidak akan menghajarnya lagi setelah Ten tak mengangkat teleponnya. Semua itu, ditambah udara dingin yang merongrong masuk lewat pintu belakang menjadikan Ten tak bersemangat.

            “Hey, Ten, ayo cepat dimakan sarapannya!” Changmin mengomeli Ten selagi Kyungil berada di kebun demi menyalakan mesin penyiram bunga.

            “Ini sudah setengah kumakan, Hyung.”

            “Dia gelisah karena hari ini akan pulang.” Song Kyungil muncul dengan sarung tangan latex dan selang kebun hijau di tangannya. “Makanlah. Kau butuh tenaga ekstra untuk menghadapi ayahmu.”

            Mencopot apron putih dari badannya, Changmin beranjak ke hadapan Ten, berusaha menghiburnya. “Aku punya tebakan untukmu. Coba jawab!”

            Menyahut tanpa minat, Ten berkata. “Tebakan apa?”

            “Hewan apa yang tidak pernah rugi?”

            Sebab tak menemukan satu jawaban pun terlintas di benaknya, Ten menjawab asal saja. “Beruang?”

            “Salah! Yang benar adalah laba-laba! Hahahahaha!” Changmin tertawa garing. “Ehm…tidak lucu ya?”

            “Ha-ha-ha, lucu sekali.” Ten tidak berusaha menaikkan ujung bibirnya, tebak-tebakan tadi nyatanya semakin membuat mulas perut Ten.

            “Oke, aku menyerah. Habiskan kudapanmu.”

            Hal berikut yang Ten lakukan adalah menyantap habis sarapan yang dibuatkan Changmin—berupa telur orak-arik super lembut dengan lelehan keju mozarella dan daging asap di atasnya, yang akan jadi menggiurkan kalau Ten tak kepalang khawatir soal ayahnya—merapikan perlatan rajutnya dari kamar tamu, menunggu Kyungil selesai mandi, dan kemudian duduk melamun di halaman depan rumah.

            Lagi-lagi Shim Changmin ada di sana untuk membuka percakapan, ia membawa sebuah bungkusan yang dibalut tas karton.

            “Ini untukmu,” sodornya.

            “Apa ini?”

            “Kimono untuk pentas. Well, aku pernah ikut teater dan sutradaranya menunjukku jadi geisha, sebutan untuk wanita penghibur di Jepang dan well, kupikir kau akan suka, eh?” Changmin terlalu sibuk menyusun kata sampai tidak tahu Ten sudah membuka bungkusan itu dan terkejut lantaran corak kimononya sangat menawan. “Nah, bagaimana menurutmu?”

            “Ini hadiah terbaik sepanjang masa! Kau—maksudku, kau tahu darimana kalau aku akan menyukai kimono dengan corak sakura dan ranting-ranting pohon? Semua orang, termasuk Kyungil, akan marah besar kalau tahu aku mengenakan ini. Hanya kau…kupikir hanya kau yang bisa mengerti.”

            “Awww…beri aku pelukan, Nak.”

            Dan Ten menghambur ke pelukan Changmin, merasa sangat dekat dengan orang yang benar-benar asing buatnya.

            “How sweet.” Kyungil berkacak pinggang. “But not that sweet. Ten, cepat masuk mobil.”

            Melepaskan pelukannya, Changmin berkata. “Pastikan kau mengenakan riasan yang cantik ketika memakai kimono ini.”

            “I’ll make sure.” Kemudian Ten beranjak ke arah Kyungil.

            “Apa itu? Dari Changmin ya?”

            “Iya.”

            “Isinya?”

            “Rahasia.”

            Song Kyungil hanya menelengkan kepala tak berminat. Sebab apapun isi tas tersebut, jelas sekali bisa mengalihkan atensi Ten dari kekhawatiran soal ayahnya.

            Mereka pun pulang dengan satu lambaian tangan terakhir dari Changmin.

__

            Kelewat siang bagi Kyungil untuk menyapa keluarganya sendiri setelah seharian menghilang, dan kelewat pagi untuk Ten menghindari ayahnya yang hendak pergi kerja. Keluarga Ten jelas masih ada di rumah pada jam-jam begini, pun sang ayah tidak terlihat akan berangkat kerja saat Ten mengintipnya dari balik pagar.

            “Ayah belum berangkat, Hyung.”

            “Masuk saja, aku ada di belakangmu.”

            “Tapi aku tak—“

            “I’m right behind you, jadi tolong tenanglah.”

            Kyungil meyakinkan Ten sekali lagi dengan memberi anggukan, lalu bersembunyi di balik semak-semak berbentuk setengah lingkaran sambil menunggu reaksi dari dalam rumah. Seperti yang sudah diduga akan terjadi, yang pertama keluar adalah teriakan dari sang ayah. Suara kakak-kakak Ten dan ibunya hanya berupa bisikan kecil yang tenggelam di balik gelegar suara Tuan Yoon.

            “Kau pikir kau siapa tidak menjawab teleponku, hah?!” Teriakan itu muncul dengan suara meja digebrak. Tak ada sahutan dari Ten dan Kyungil terus menunggu suara apapun yang mengindikasikan kontak fisik.

            Song Kyungil masih bergeming sampai Ten menjerit kesakitan akibat lemparan sesuatu yang terbuat dari kaca.

            “Jangan menyela ketika aku bicara! Kau tidak punya hak untuk menjawab, menyela, atau membantahku! Aku membesarkanmu bukan untuk itu! Berdiri sana, dasar lemah!” Tuan Yoon menarik ujung rambut Ten supaya bocah itu berdiri. “Kau dari mana saja, Anakku Sayang? Kabur bersama pemuda sombong itu setelah kejadian kemarin?!”

            “Kyungil tidak sombong!”

            Plak!

            “Sudah kubilang jangan menyela!”

            “Ayah memang sudah membesarkan dan merawatku dengan baik, tapi jangan lupakan satu hal: aku anak adopsi. Aku bukan anakmu sepenuhnya!” Ten menyentakkan tangan sang ayah dari rambutnya. “Aku memang tidak sesempurna yang kau harapkan, namun bukan berarti kau berhak memukuliku setiap hari. Kemarin aku baru menyadari bahwa semua orang, bahkan dirimu yang dulunya punya orang tua, juga pada akhirnya akan hidup sendiri-sendiri. Aku sudah memutuskan untuk hidup seperti ini. Aku akui aku menyukai pakaian noona, juga make-up, bermain musik, melukis, berpuisi, dan, well, aku tidak menyukai kekerasan dan kegaduhan.”

            “Omong kosong, Ten!”

            “Walau begitu, pernahkah aku berbuat jahat atas namamu, Yah? Pernahkah  aku melakukan hal buruk hingga namamu tercemar? Merekalah yang menjelek-jelekkan ayah dan aku, sayangnya, tidak bisa membela. Aku tidak—“

            “OMONG KOSONG!” Tuan Yoon hendak melayangkan vas keramik ke arah Ten namun pergelangan tangannya terhenti. Pria itu mendapati Song Kyungil menahan tangannya.

            “Ten bisa mati jika Anda melempar benda ini ke kepalanya, Tuan Yoon.” Kyungil mengucapkan tiap katanya dengan penekanan luar biasa. “Anda memang bukan manusia, seperti yang sudah saya duga sebelumnya.”

            “Kau tidak berhak ikut campur!”

            “Memang tidak. Namun semua ini sudah kelewat batas. Jika saya mendapati Anda melakukan ini lagi pada Ten, saya akan benar-benar melaporkan Anda ke pihak yang berwajib! Untuk sementara, Ten akan tinggal bersama saya.” Kyungil mendapati wajah Tuan Yoon mengeras menahan amarah, dia begitu murka karena tidak bisa mendidik anak lelaki satu-satunya, yang dia adopsi dan besarkan dengan penuh harapan, menjadi yang ia idamkan.

            “Ten, ayo pergi.” Kyungil meraih bahu Ten yang gemetaran setelah memberanikan diri mengucapkan kata-kata mengagumkan tadi.

            “PERGI DAN JANGAN KEMBALI!” Tuan Yoon menendang kaki meja terdekat hingga membuat perabotan di atas meja tersebut bergoyang jatuh. Di pintu yang mengarah ke rumah bagian dalam, ibu dan saudari Ten memandang dengan tanpa daya, seolah takut jika mereka ikut bagian dalam hal ini, mereka juga akan bernasib sama seperti Ten.

            Dan, setelah kejadian tersebut, Ten memang tidak kembali ke rumahnya dan lebih memilih tinggal di rumah Kyungil sampai dia berusia tujuh belas tahun. Keluarga Song jauh lebih memperlakukannya seperti manusia daripada keluarganya sendiri. Ten bisa melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa takut ada yang menghakimi.

            Dia bebas memilih; dia bebas hidup.

            Meski pada suatu hari dimana perpisahan berdiri di depan mata, Kyungil bertanya mengenai Ten. Mengenai masa depannya. Segalanya. “Aku akan menikah dan meninggalkan rumah, dan kau sudah tujuh belas tahun. Secara hukum, kau sudah dewasa.”

            “Yeah, aku baru dapat kartu identitas kemarin sore.” Ten merogoh dompet dan mengeluarkan kartu kecil seukuran telapak tangannya. “Aku—well, aku ingin pergi jauh dari sini. Tidak melulu menatap rumahku dari rumahmu. Aku ingin jadi diriku sendiri.”

            Mendengus pasrah, Kyungil berkata. “Kau belum berubah, Ten.”

            “Aku tidak pernah berubah, Hyung.”

            “Kalau begitu, aku ingin bertanya satu hal.”

            “Silahkan.”

            “Kali berikut aku bertemu denganmu, dimana dan kapan saja, kau sudah jadi apa?”

            Ten menengadah menatap gumpalan awan, berandai-andai mengapa dia bangga akan mengatakan ini. “Jadi…musisi jalanan berpakaian geisha, barangkali? Aku akan sangaaaat cantik.”

            Terdiam satu detik, lalu Kyungil tertawa lantang. “Like…seriously?!

            “Tidak tahu juga, aku hanya senang membayangkan diriku yang seperti itu. Kali berikut aku bertemu denganmu, kau pasti sudah jadi ayah. Aku akan hadir di pernikahanmu. Sudah dulu ya, aku ada ujian pagi.” Ten menepuk pundak Kyungil dan kemudian mengayuh sepedanya dengan cepat.

            Barangkali Ten tidak pernah berubah, maka Kyungil juga tidak bisa berbuat banyak.

            Karena yang bisa dilakukan pria itu hanyalah melindungi Ten dari penilaian miring dunia; dari orang-orang yang tak tahu apa-apa mengenai Ten dan masa lalunya.

fin.

 

5 thoughts on “[Movie Festival 4] Heart of Spring by chioneexo”

  1. halo!
    yak kena topik sensitif ini lagi. rasanya topik ini semakin marak terdengar disekitarku. atau memang aku yg baru ‘mendengar’ topik ini. ya kembali ke fic ini. bagus! pesannya kena: jangan menghakimi orang-orang yg seperti itu kalau tidak tahu asal muasalnya. salah satu yang bagus lagi, tokoh pendukungnya, alias changmin, ga muncul sekilas doang. bisa dibilang dia yang bikin ten punya tujuan dan semangat hidup lagi. great!
    sayangnya aku ga nemu bagian warna apa disini. warna musim semi kah? merah muda? pastel? disamping tema warna buat movie festival kali ini, overall ini bagus.
    semangat nulis ya!

    Suka

  2. Astiiiii haloooooo :”)
    duh, lama banget ya aku tak bertandang ke lapak fiksimu :” so mianhaee.

    well aku setuju sama rineema di atas, topik yang kamu angkat di fict ini memang sensitif. tapi mau gak mau, hal itu memang ada dan sayangnya bisa ditemukan di sekitar kita :”(

    prompt Color Rivers sayangnya hanya mendapat sedikit sentuhan pada bagian ending fict ini. sayang bgt. padahal kalau bisa ditilik lebih jauh lagi, melalui the color of spring itu sendiri, warna-warni musim semi itu yang paling menawan setelah musim panas.
    ah tapi secara struktur cerita hal tersebut has no effect alias cerita gubahanmu tetap kuat dan aku sangat menikmatinya🙂
    dialog-dialog yang lucu dan sentimentil itu always like Astina’s style syekaliii.

    Ten yang kemayu itu oh sesuatu sekali hahaha🙂 dan jangan lupakan posternya yang selalu beauitiful! yeokshi, masternim😀

    intinya, tetap semangat berkarya ya Asti ^^
    dan selamat datang di dunia yang sesungguhnya, ahaha!!^^ (read: selamat datang wahai Mahasiswa Baru :D)

    Suka

  3. hi there!

    ide ceritanya antimainstream sekali. membayangkan Ten jadi anak yang lemah lembut kiyowo manja ngga tegaan dan jadi senang ga terkira waktu dikasih Kimono Geisha. wow. Dan Kyungil yang berusaha merubah Ten tapi Ten ngga gampang dirubah, like being himself. Dan ya kita ngga bisa menghakimi seseorang juga.

    see ya~

    Suka

  4. HALOOO!
    Salam, kenal kak!
    aku nemu kesalahan tanda baca. Elipsis. Itu seharusnya diberi spasi.
    Cuma itu doang. Ceritanya keren! Pesannya dapet banget! Aku menikmati. Walaupun ceritanya lumayan panjang, tapi pas baca bener-bener nggak kerasa. Serius, asyik banget! Aku juga suka sama ide ceritanyaaa<3
    Nice, kak! Keep Writing!^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s