[EX’ACT] Cloud 9

style_576b99e653ab2-923x1200

EXO 3rd Album EX’ACT tracklist series by Liana D. S.

#4. Cloud 9

EXO Suho (Kim Joonmyun) x Red Velvet Irene (Bae Joohyun)

Slice of Life, Fluff, Oneshot, General

.

On cloud nine: very happy.

***

Cerahnya musim panas harusnya dapat menimbulkan senyum bagi siapa saja yang berada di bawah naungan langit, tetapi wajah Joonmyun sepulang sekolah hari itu mendung sekali bagai digantungi sembilan lapis awan. Aneh memang, mengingat itu adalah hari terakhir sebelum libur panjang yang paling dinanti-nanti para siswa sebayanya. Bukan berarti Joonmyun lebih suka belajar di sekolah daripada berlibur; siapa juga sih yang bisa tahan duduk di kelas dalam kondisi segerah itu? Joonmyun juga ingin menyambut liburan ini dengan gembira, sayang kegembiraannya masih terganjal oleh sebuah kewajiban.

Seraya berjalan menuju mobil yang menjemputnya, Joonmyun mengecek pesan masuk dan, untuk kesekian kalinya, mendesah gelisah.

Kutunggu laporan keuanganmu paling lambat minggu ini atau aliran dana aku hentikan. Bersiaplah untuk diceramahi panjang lebar tentang buruknya pengelolaanmu, Kim Joonmyun. Kau sebaiknya segera membuat rencana penyaluran dana yang prospeknya bagus dalam 24 jam ke depan.

Tidak, Joonmyun bukan manajer atau ketua divisi di sebuah perusahaan, pun si pengirim pesan ini tidak terikat hubungan bisnis apa pun dengannya. Barangkali agak mengherankan bagi kalian jika mengetahui bahwa si pengirim pesan adalah ayah Joonmyun sendiri yang menagih laporan pengeluaran bulanan sang putra. Buat Tuan Kim, mau itu anak buahnya di perusahaan atau anak tunggalnya yang masih SMA, seseorang yang diberinya uang harus dapat mempertanggungjawabkan distribusi dana tersebut, salah satunya menggunakan laporan bulanan. Khusus untuk Joonmyun, ada satu tugas tambahan yang mulia tapi agak terlalu berat buat anak sekolah; semacam corporate social responsibility, yang diterjemahkan Joonmyun sebagai ‘sedekah sistematis’. Sejak usianya menginjak 19 tahun dua hari lalu, Joonmyun ditarget untuk bisa menyalurkan dana bulanan–ehm, sebetulnya uang saku, tetapi nominal won yang Joonmyun terima tiap tanggal satu dari ayahnya terlalu besar untuk dimasukkan saku—bagi mereka yang membutuhkan.  Ini tidak sesederhana sebuah pemberian dari yang mampu ke yang kurang mampu, melainkan lebih menyerupai program penyejahteraan dengan indikator-indikator yang dievaluasi berkala. Masalahnya, meski masih banyak orang kurang beruntung yang butuh kucuran dari pundi-pundi Tuan Kim, yang dapat betul-betul diserahi tanggung jawab untuk uang sebanyak itu sedikit sekali, Joonmyun tak tahu di mana menemukannya.

Menjadi anak orang kaya tak selalu mudah, kalian tahu.

“Tuan Muda, apakah ingin langsung diantar pulang atau kita pergi dulu ke panti asuhan yang kemarin akan Anda masukkan dalam proposal?”

Kepala pelayan Joonmyun siang itu mengambil alih tugas pengemudi pribadi karena seusai kelas, Joonmyun berencana meluncur ke panti asuhan untuk kepentingan programnya. Sang kepala pelayan yang selama ini menjadi asisten Joonmyun dalam hal-hal begini harus mendampingi supaya komunikasi antara pimpinan yayasan panti asuhan dengan tuan mudanya lancar. Bagaimana pun, Joonmyun tampak terlalu muda untuk donasi individual dalam jumlah besar, bisa saja ia dianggap anak kecil yang cuma ingin main-main.

Jas sekolah Joonmyun longgarkan, begitu pula dasinya, dan ia bersandar ke jok belakang sembari memijat pelipis.

“Ya, kita tidak punya banyak waktu. Ayah memintaku menyelesaikan proposal dan presentasi programku sesegera mungkin, jadi mari bergegas.”

Kepala pelayan mengangguk takzim, paham bahwa tuan mudanya masih terlalu belia buat dibebani urusan seserius ini, apalagi di masa-masa liburan yang lazimnya dipakai senang-senang. Namun, gigih seperti sang ayah, Joonmyun tidak merengek dan menghindari tugas besarnya, sebuah ketangguhan yang bahkan membuat pria matang macam kepala pelayan terkagum.

Sementara itu, Joonmyun tidak menganggap dirinya istimewa. Menyaksikan pemandangan menjelang liburan malah membuatnya merasa kurang beruntung. Lihat saja remaja-remaja berseragam yang lalu-lalang ditemani makanan ringan dari stan pinggir jalan, mengobrol seru tentang rencana main di musim panas, dan yang terpenting, mereka tidak perlu memikirkan laporan keuangan serta kesejahteraan masyarakat sekitar. Hubungan pertemanan mereka tidak sekaku hubungan Joonmyun dengan rekan-rekan kerjanya di dewan siswa. Pembicaraan mereka juga tidak berat macam pembicaraan Joonmyun dengan kawan-kawannya di ekstrakurikuler debat, yang kisarannya tidak bakal jauh dari sosial-politik-ekonomi. Substansi sesuai usia. Joonmyun rasa ia tidak pernah punya teman yang sungguh-sungguh menjadi diri sendiri ketika bersamanya, mungkin karena pembawaannya terlalu formal, tak biasa buat anak seumurnya, sehingga mereka jadi canggung kalau ingin membicarakan hal-hal ringan. Padahal, mencuri dengar gosip murahan macam si A pacaran dengan si B yang ternyata sudah memacari si C sahabat A juga seru, sebetulnya.

Cinta monyet, persahabatan dalam klub, percakapan normal remaja …. Jauh sekali hal-hal itu dari jangkauan Joonmyun yang, kalau diumpamakan, tinggal di langit kesembilan.

Baru saja Joonmyun akan berkeluh kesah saat anak matanya menangkap sosok yang familiar di seberang jalan. Seorang siswi, berseragam sama dengan Joonmyun, tengah tertunduk lemas  dekat mesin minuman. Wajahnya tak terlihat, tetapi Joonmyun hapal perawakan teman sekelasnya itu, bahkan karet rambut pink yang khas itu saja Joonmyun ingat siapa yang punya. Tumben si kuncir pink tampak begitu muran hari ini hingga Joonmyun tergerak untuk menolongnya, padahal aslinya Joonmyun juga tidak akrab-akrab amat dengan si kuncir pink.

“Hentikan mobilnya.”

Segera setelah mobil terparkir, Joonmyun menghampiri gadis yang tengah menunduk itu dalam langkah besar-besar.

“Bae Joohyun!”

Yang dipanggil menengadah, kaget mendengar suara yang jarang-jarang menyapanya. Pipi si gadis yang sembab nan merah sempat membuat Joonmyun ragu melangkah lebih jauh. Kendati demikian, ada satu sisi dirinya yang terpanggil oleh tangisan sunyi si teman sekelas. Ada apa sebenarnya di balik air mata itu, Joonmyun ingin menggali lebih jauh dan sekalian membantu. Hei, siapa tahu dari Joohyun akan muncul ide program baru yang lebih mudah dieksekusi?

Tapi dasarnya Joonmyun tidak pernah mempelajari seni komunikasi pria-wanita, ia jadi jengah sendiri sebelum percakapan sempat dibuka.

Mendadak aku merasa seperti pengganggu yang ingin tahu setiap urusan orang ….

“Lho, Joonmyun,” –sniff– “Kamu … pulang sendiri? Tidak biasanya jam segini kau belum pulang. Supirmu tiba-tiba telat?”

Percobaan mengalihkan topik ini tidak akan berhasil. Benak Joonmyun terlanjur terokupasi oleh dugaan-dugaan atas masalah Joohyun termasuk skema pemecahannya. Beruntung, Joonmyun tak butuh waktu lama untuk sadar bahwa tanpa keramahan dan sedikit basa-basi di awal, Joohyun pasti tidak akan membuka diri. Gelagapan ia mencari respons yang kira-kira sesuai dengan keadaan Joohyun saat ini.

“Yah … Tadi aku sedang dalam perjalanan pulang diantar supirku, tetapi aku melihatmu dan … hm … awalnya ingin mengajak pulang bersama, andai kamu tidak keberatan.”

Ganjil sekali! Alasan macam apa itu?!, Joonmyun mengutuki kebodohannya. Tentu aneh bila dia yang tidak pernah akrab dengan Joohyun tahu-tahu mengajak pulang bersama. Apa motivasinya? Tidakkah Joohyun makin curiga? Akankah gadis itu menarik diri? Akan tetapi, menyalahi prasangka Joonmyun, si kuncir pink hanya tersenyum tipis dan menggeleng lemah.

“Aduh, tak usah repot-repot.”

Tidak bagus. Joohyun meninggikan nada bicaranya dengan maksud menutupi kesedihan, tetapi suaranya malah pecah dan terdengar bercampur dengan bekas isakan. Senyum terpaksa yang ia sunggingkan runtuh tak lama kemudian dan ia akhirnya menyerah. Air mata mengalir tanpa terbendung bersama cerita pahitnya, bagus juga buat Joonmyun karena ia tak perlu bersusah payah menggali kisah Joohyun.

“M-maaf … hiks … menangis di depanmu, Joonmyun …. t-tapi aku sudah tak tahan … hiks … lagi …. A-aku tidak bisa … hiks … menyelesaikan sekolah …. Hiks, hiks …. Padahal sudah kelas … hiks … tiga … Padahal tinggal s-sedikit lagi ….”

Pikiran Joonmyun kontan kalut, bukan akibat kalimat Joohyun yang memuat kunci sebuah program sosial potensial, melainkan lebih ke …

Joohyun menangis! Apa yang harus kulakukan, aku tidak pernah menangani gadis yang menangis sebelumnya! Menghapus air matanya? Terlalu intim! Menanyakan masalahnya lebih lanjut? Aku akan tampak sangat tidak peka, menanyainya ketika dia masih sesenggukan begini …. Mengusap bahunya untuk menenangkannya? Tidak mungkin, memang aku berhak melakukan itu?!

Ah.

Ada bangku! Syukurlah!

Gugup, Joonmyun berpaling pada Joohyun.

“Joohyun, ada baiknya kita duduk dulu, setelah itu kau bebas membicarakan masalahmu, oke? Duduk akan membuatmu lebih tenang menurut riset Black dan Watson tahun 2012–“

Sialbuatapakusebutkanisimajalahpsikologiitusegala?!, Lagi-lagi Joonmyun merutuki sikapnya yang berlebihan, kali ini dengan rutukan yang lebih cepat, tetapi genggaman Joohyun pada tangannya begitu erat seakan ialah penyelamat si gadis, mengalihkannya dari riset Black dan Watson. Ragu, Joonmyun menggenggam balik tangan pucat itu dan membimbingnya menuju bangku. Tatkala keduanya duduk bersisian, barulah Joonmyun sadar dirinya tidak pernah benar-benar duduk untuk mendengarkan orang lain menceritakan masalahnya.

Ini bisa menjadi sesi curhat yang sulit. Jika ini menyangkut uang, aku mungkin bisa membantu, tetapi bagaimana mengatakannya agar ia tidak tersinggung? Lebih parahnya lagi kalau ia berhenti bukan disebabkan masalah biaya …. Bagaimana aku menanganinya?

“Aku … hiks … a-aku … tidak … hiks, hiks … tidak bisa … hiks, hiks … maju lagi … hiks …”

Joonmyun menghela napas dalam. Buat apa kupikirkan hal yang terlalu muluk kalau Joohyun bahkan belum bisa berkata-kata? Isakannya tidak bisa direm begitu, batinnya sebelum merogoh tas dan membuka sebotol air minum yang tadi dibelinya, tetapi belum sempat diminumnya. Bunyi tutup botol yang masih baru dilepas segelnya mengalihkan Joohyun, tepat ketika Joonmyun mengulurkan botol air itu kepadanya. Tak sengaja pandang mereka bertemu dan untuk sejenak, jantung Joonmyun berdebar lebih kencang. Sejenak saja, dan itu lebih akibat kebingungannya harus bersikap bagaimana menghadapi mata bening berkaca-kaca seorang gadis.

Niat baik, untungnya, tidak pernah mengkhianati. Sekacau apa pun benaknya, Joonmyun berhasil mengulas senyum lembut yang ampuh mengobati luka hati Joohyun saat ini.

“Minumlah, atur napasmu, baru bicara pelan-pelan. Tidak usah terburu-buru, aku akan menunggu.”

Mengangguk pelan, Joohyun menerima air minum dari Joonmyun dan meneguknya sedikit demi sedikit. Air matanya masih terus mengalir, tetapi isakannya sudah mereda. Selanjutnya, tanpa berhenti menghapus tangis di pipi, Joohyun buka suara, lebih tenang meski masih gemetaran.

 “Kamu … tahu kan kalau jatuh tempo registrasi semester adalah minggu lalu?” –Joonmyun mengiyakan– “Aku mengajukan penundaan pembayaran dan mereka sudah setuju menundanya hingga minggu ini, tetapi ibuku masih belum mendapatkan uang sampai sekarang. Ketika kusampaikan masalahku pada bagian administrasi, mereka tidak mau mendengarku …. Mereka malah tega menunjukkan surat untuk memberhentikan masa studiku sambil mengancamku dan mengungkit-ungkit masalah keterlambatan pembayaranku pada semester-semester sebelumnya ….

“Bagaimana aku harus bilang pada Ibu tentang ini, Joonmyun?”

Hening. Lengan seragam Joohyun telah basah oleh air mata usai semua inti masalahnya tersampaikan. Gadis itu tidak menatap Joonmyun sama sekali, mungkin malu karena tanpa pikir panjang menceritakan masalah pribadinya pada seseorang yang bukan sahabat karibnya. Kalau diingat-ingat lagi, Joohyun memang tak pernah menampakkan wajah sedih di kelas, padahal dari caranya berkisah, masalah ini bukan sesuatu yang gampang disisihkan dari benak. Setahu Joonmyun, Joohyun juga tidak pernah mengeluh pada sahabat-sahabatnya sekalipun sahabat-sahabatnya itu pasti lebih dari mampu dan mau untuk membantu.

Bahkan andai tidak melihat Joohyun menangis di tepi jalan siang ini, Joonmyun mungkin tidak akan melihat Joohyun lagi di kelas dan tak akan tahu alasan mengapa ia pergi.

Joohyun tertawa kecil, sengau. Ia bangkit dengan lesu dari bangku dan meminta maaf.

“Bukan maksudku menyita waktumu yang berharga, Joonmyun. Aku tahu kamu sangat sibuk, mendengarkanku menangis biar hanya sepuluh menit jelas sangat mengganggu jadwalmu, kan?”

Tidak. Itu tidak benar. Kamu malah memberi peringatan tentang seberapa tidak pekanya aku pada kesulitan yang dialami teman-teman sekelas, Joohyun.

“Kesannya jadi seperti aku meminta tolong padamu, ya? Tapi sungguh, tanpa berniat menyombong, aku bukan mau minta bantuan …. Aku sebenarnya juga tidak berencana menceritakan ini pada siapa-siapa ….”

Tapi hatimu akan terus-menerus merasa sesak jika menyimpannya sendiri. Mengapa tidak mengaku saja kalau kau sebenarnya membutuhkan bantuan seseorang?

Mungkin karena merasa omongannya akan makin melantur jika dilanjutkan dengan pikiran kacau, Joohyun cepat-cepat memberi salam perpisahan.

“Anu, Joonmyun, sebaiknya aku segera per—“

“Sebentar.”

Tegas Joonmyun memotong, telapaknya tanpa ragu melingkari pergelangan Joohyun seakan mencegah Joohyun menghindarinya. Ia toh bisa menawarkan sebuah solusi untuk masalah si gadis.

“Joon—“

“Ayo kita ke menemui bagian administrasi sekali lagi.”

… sebab satu ide brilian telah menghampirinya dan Joonmyun akan terus maju sampai ide itu terealisasi.

“Untuk apa? Kalau uangnya tidak ada …”

“Uangnya ada, jumlahnya cukup. Aku bisa mengirimnya langsung ke rekening sekolah atas namamu setelah mendapat persetujuan Ayah. Lepas itu, aku akan menemui petugas administrasi dan bicara untuk kepentinganmu, tentunya jika kamu memberi izin.”

Mata Joohyun melebar, tubuhnya sejenak membeku. Joonmyun mengunci pandangnya dengan si gadis, tidak membiarkannya menolak lantaran menurutnya, tidak ada alasan bagi Joohyun untuk menolak. Joohyun ingin meneruskan masa belajarnya di SMA, uang saja yang dia tidak punya, dan Joonmyun bisa menutup kekurangan itu, lalu apa lagi? Klasiknya masalah tidak ada biaya sekolah telah lama terdengar, sayang hal tersebut kadang dibiarkan dan keluarannya buruk; Joonmyun tidak akan memaafkan dirinya bila hal tersebut sampai menimpa kawan satu kelasnya, sementara ia masih bisa mencegah itu.

Benar. Di sekolahnya, pasti masih banyak Joohyun-Joohyun lain yang butuh pertolongan, tetapi sekarang, Bae Joohyun-lah yang mesti diprioritaskan. Beasiswa darurat ini sekadar permulaan; nanti akan Joonmyun rapikan lagi rencananya dalam proposal yang ia kirim besok, ia menjamin.

“Joonmyun, tanganku sakit ….”

Ups. Selain memikirkan program beasiswa baru, tampaknya Joonmyun harus belajar mengendalikan kekuatan tangannya, terlepas dari tingginya semangatnya saat itu. Buru-buru ia melepaskan Joohyun, nyaris salah tingkah lagi andai tidak ingat tujuan awalnya yang super serius.

“Jadi, kau mau menerima bantuanku, kan?”

***

Sepanjang perjalanan kembali ke sekolah yang terhitung singkat, Joonmyun membuktikan pada Joohyun bahwa dirinya adalah pemuda multitasking. Ia menyalakan notebook, menyunting dokumen format kontrak untuk target program baru, menghubungi ayahnya untuk persetujuan atas pengeluaran darurat (yang untungnya persetujuan itu langsung ia dapatkan, dengan catatan ia harus melakukan monitoring ketat setiap bulan), dan melakukan transaksi via e-banking. Joohyun di sebelahnya termangu, tak tahu bagaimana Joonmyun bisa melakukan itu semua tanpa merasa sakit kepala. Orang biasa pasti akan pusing sekali berhadapan dengan perangkat-perangkat elektronik dalam kendaraan bergerak, tetapi mungkin Joonmyun sudah beradaptasi saking padatnya jadwalnya sehari-hari.

Atau tidak?

“Huek.”

Kelewat menggebu-gebu dalam menjalankan sebuah rencana kadang membawa hasil yang kurang baik, seremeh apa pun itu, salah satunya adalah mual pasca perjalanan. Joonmyun terhuyung dan muntah sesampainya di toilet pria, lupa bahwa terlarang baginya mengerjakan berkas dalam keadaan mobil berjalan sebab sistem keseimbangannya tidak mendukung. Rencana untuk menyelamatkan masa studi Joohyun jadi mundur beberapa menit sampai isi perutnya kosong.

“Joonmyun, kau baik-baik saja? Butuh kuambilkan minum?”

“T-tidak usah …. Huek … kau duluan saja ke bagian administrasi …. Tunjukkan b-bukti pembayarannya, aku akan … ukh … menyusul ….”

“Kamu yakin bisa sendiri? Biar aku panggilkan kepala pelayanmu dulu, oke?”

“Mm … terima kasih banyak … uhuk!”

Langkah kaki Joohyun terdengar menjauh dari depan toilet pria, tetapi suaranya masih terngiang-ngiang di kepala Joonmyun dan mualnya berkurang secara ajaib. Teringat pula ia pada usapan Joohyun di punggungnya tadi saat serangan mual itu baru datang, beriring raut cemas yang jujur. Joonmyun menyalakan keran sekencang-kencangnya, membersihkan wastafel, berharap kegembiraan janggal yang tak diundang itu larut bersama air.

Berada sedekat ini dengan perempuan selain ibunya … merupakan pengalaman baru yang tak Joonmyun bayangkan akan dirasakannya demikian dini.

Fokus pada programmu, Joonmyun!

Ya, fokus pada program. Kalau ingin melihat Joohyun mengembangkan senyumnya yang biasa, Joonmyun mesti menghadapi bagian administrasi dengan wibawa seorang Kim agar tidak dianggap bercanda. Usai merapikan penampilan, ia melangkah mantap, keluar toilet untuk menyusul Joohyun. Kepala pelayan yang menunggu di depan pintu melaporkan bahwa ‘Nona Bae kesulitan menghadapi bagian administrasi sendirian’ dan laporan itu dibenarkan oleh bentakan yang sampai ke telinga Joonmyun beberapa kaki dari depan ruang administrasi.

“Memangnya aku akan percaya kau bisa mendapatkan uang sebegitu cepat, sementara semester-semester lalu waktu 6 bulan tak pernah cukup?! Jangan coba menipuku, Nak!”

Memalukan. Siswa yang sering minta penundaan tidak lagi dipercaya bahkan ketika ia sudah menunjukkan bukti pembayaran. Kuharap bagian administrasi di sini adalah satu-satunya yang bertindak begitu pada siswa.

“Permisi, Guru Im, boleh saya masuk?”

Joonmyun tidak memberikan penekanan khusus pada suaranya, tetapi petugas di bagian administrasi kontan terpaku. Ekspresinya berubah 180 derajat, manis, tidak tulus. Posisi Joonmyun sebagai putra salah satu donatur tetap sekolah swasta ini memberinya jalan khusus ke hati setiap pelaksana teknis sekolah, tidak terkecuali petugas administrasi.

“Ah, Joonmyun, silakan duduk,” –padahal Joohyun yang datang lebih dulu, alih-alih diizinkan duduk sejenak, malah disembur— “Belum pulang?”

“Belum,” Joonmyun menyentuh lengan Joohyun, mengisyaratkan pada sang gadis untuk duduk di kursi sebelahnya, “Saya kemari untuk mendampingi Joohyun, Guru Im. Ayah saya telah memberikan persetujuan untuk membiayai Joohyun sampai lulus perguruan tinggi nanti setelah saya ceritakan situasinya pada beliau. Bukti pembayaran itu tidak palsu, saya sendiri yang melakukan transaksinya, jadi saya mohon bantuan Guru Im untuk bisa memproses registrasi Joohyun semester depan.”

Guru Im tampak terkejut.

“Begitu rupanya. Tadinya aku sempat curiga kalau Bae Joohyun memalsukan dokumen, tetapi syukurlah, kamu memaparkan kebenarannya,” –Yah, sayang sekali sikap kasarmu pada Joohyun belum berkurang walaupun sudah kulunasi utangnya, batin Joonmyun ketika Guru Im, dengan masih tersenyum padanya, merebut bukti pembayaran dari tangan Joohyun—“Benar-benar keluarga yang mulia, meringankan beban orang lain tanpa diminta. Semua orang di sini perlu meneladani keluargamu.”

Penjilat.

“Saya dan Ayah hanya melakukan hal-hal yang kami anggap benar. Nah, sekarang masalah administrasi Bae Joohyun sudah selesai, bukan?”

“Tentu saja,” Guru Im membubuhkan stempel pada bukti pembayaran Joohyun tanpa mendebat lagi, melegakan dua siswa yang duduk di hadapannya. Joonmyun melirik Joohyun sekilas demi mendapati pipi merah sang gadis ketika ia sedang tersenyum gembira. Menimbulkan senyum orang lain tidak pernah terasa semenyenangkan ini  hingga tanpa Joonmyun sadari, senyumnya pun melebar dan dadanya seakan melapang.

Barangkali ini bukan cuma permulaan untuk sebuah program besar.

***

Malam. Joonmyun mengetik ditemani secangkir cokelat hangat dan ponselnya, mengantisipasi panggilan masuk dari ayahnya, sekalian menunggu jawaban Joohyun atas pertanyaannya siang tadi. Nota kesepahaman sudah diangsurkannya pada Joohyun; usia mereka memang belum legal, tetapi Joonmyun diwakili kepala pelayannya untuk menandatangani dokumen hukum tersebut, sedangkan ibu Joohyun bisa menandatangani dokumen demi kepentingan putrinya. Meski demikian, Joohyun masih terlihat bimbang kala membaca isi dokumen.

“Apakah kamu tidak mempercayaiku?”

“Bukan begitu …. Aku … masih tidak percaya pertolongan datang begitu cepatnya, sedangkan sesuatu yang mudah datang biasanya akan mudah pergi juga, bukan?”

Kekhawatiran itu dapat dimengerti. Joohyun boleh cerdas, tetapi keluarganya masih tergolong dalam kelompok yang rentan diperdaya oleh para pencari untung. Membuktikan tidak adanya niat untuk memperdaya itulah yang menantang, apalagi Joonmyun belum mampu membangun rasa percaya dalam hati Joohyun. Siapa dia bagi Joohyun, memangnya? Teman sekelas yang nyaris tidak pernah berbincang?

Tapi aku sangat ingin menolongnya. Menolong orang-orang yang sepertinya juga. Niat baik itu harusnya tersampaikan, kan? Nah, masalahnya keputusan tetap berada pada Keluarga Bae …. Kira-kira siapkah aku andai ibu Joohyun menolak menandatangani dokumennya?

Selepas menutup kalimat terakhir pada bab ‘Evaluasi’ proposalnya dengan tanda titik, Joonmyun merenggangkan tubuh, menatap ke langit-langit kamar, dan mendesah panjang. Di langit-langit yang kosong, senyum ceria Joohyun bandel membayanginya. Setiap ia beristirahat sejenak dari mengetik, kegembiraan gadis itu selalu mampir, enggan enyah, dan Joonmyun berdebar-debar lagi, denyut jantungnya kali ini lebih menyakitkan.

Kalau Joohyun tidak ingin beasiswanya dilanjutkan semester depan … kami akan kembali seperti dulu, saling berjauhan, dia dengan teman-temannya dan aku sendirian.

Mengapa rasanya berat?

“Terima kasih banyak atas semuanya, Joonmyun. Aku tidak menyangka kamu orang yang begitu baik …. Aku menyesal tidak mengenalmu lebih baik sejak semester pertama kelas tiga.”

Kelas tiga, mereka berdua baru saling berkenalan secara resmi. Musim panas ini adalah permulaan semester kedua. Sebentar lagi, mereka mungkin akan berpisah jalan.

Samar Joonmyun menggigit bibir dalamnya.

Aku juga menyesal, Joohyun. Andai aku sudah punya sahabat karib dari dulu, pikiranku sekarang pasti tidak akan tertuju padamu melulu, seseorang yang pertama bicara banyak denganku di luar urusan organisasi dan mata pelajaran.

Coba kita punya cukup waktu untuk menjadi akrab satu sama lain …

Notifikasi pesan masuk memutus angan-angan Joonmyun, membuat pemuda itu buru-buru mengecek ponselnya—lho?

Tidak ada notifikasi apa-apa di LINE. Pesan baru hanya masuk dari grup-grup yang notifikasinya kumatikan ….

Tapi ada ikon amplop merah di pojok kanan atas. Joonmyun menepuk dahi.

Aku lupa Joohyun tidak punya ponsel pintar. Dia pasti pakai fasilitas pesan singkat biasa, duh. Akan kuajak dia beli ponsel pintar lain kali. Ah. Mengajak seorang gadis pergi bersama, kedengarannya mustahil bagiku yang sekarang ….

Setelah geser-ketuk beberapa kali, Joonmyun sampai pada jendela kotak pesan singkat yang, sesuai dugaannya, baru saja menerima pesan dari Joohyun. Ditekannya nama Joohyun untuk mengecek pesan baru sembari berharap-harap cemas.

***

Selamat malam, ini aku, Joohyun. Ibu dan aku telah setuju untuk meneruskan beasiswa ini sampai jenjang perguruan tinggi ^^ Terima kasih banyak atas tawarannya, Joonmyun, kami merasa sangat terbantu. Besok aku akan menyerahkan dokumennya padamu. Semangat menggarap proposalnya dan jangan lupa main selama liburan! \^o^/

***

Joonmyun tertegun.

Lama-lama tersenyum.

Kemudian terkekeh pelan seraya mengetikkan balasan dengan jari gemetar. Sepatah ‘terima kasih atas partisipasimu’ harusnya cukup, tetapi Joonmyun terlalu gembira untuk menuliskan kalimat singkat itu saja. Untuk pertama kali dalam 19 tahun usianya, Joonmyun menambahkan emotikon, titik dua dan huruf D kapital, di akhir pesan yang secara otomatis berubah jadi gambar orang tertawa.

Aku gila. Aku tidak bisa menyelesaikan proposalnya malam ini juga. Tidak apa-apa. Ya, masih ada sepuluh jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Ayah. Aku akan minta tolong Kepala Pelayan Lim untuk meneruskannya.

Telapak Joonmyun yang menggenggam ponsel ia letakkan di depan dada.

Aku tak sanggup lagi, harus tidur biar jantung di dalam sini lebih rileks dan tidak meledak! Aku tidak mau mati muda! Kepala Pelayan Lim, mana dia?

“Kepala Pelayan Lim! Aku mau minta tolong! Kepala Pelayan Lim!”

Jalan menuju pintu kamar tahu-tahu dihiasi awan-awan putih tak bernoda. Kepala Pelayan Lim yang segera membungkukkan tubuh hormat di depan pintu tiba-tiba saja punya sayap. Joonmyun pening, tetapi ia masih bisa tertawa saat mengeluhkannya.  Desir darahnya membangkitkan semangat yang tak wajar, walaupun begitu ia tak mau melakukan apa-apa lagi selain merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

Dan, ketika ia memejam, ia melihat Joohyun memakai toga di upacara kelulusan sambil melambaikan buket bunga ke arahnya. Adegan itu terputar terus sepanjang tidur seperti kaset rusak, tetapi Joonmyun tidak keberatan. Dalam tidur, sisi waras Joonmyun sempat-sempatnya menduga bahwa ia sakit. Ia memang sakit, nama penyakitnya ‘mabuk kepayang’. Sebuah kondisi yang tak disadari, cepat datang dan harusnya cepat pergi, tetapi entahlah, apa itu juga akan berlaku pada kasus Joonmyun?

Joohyun menerbangkan Joonmyun ke langit kesembilan tanpa disengaja dan laporan bulanan mungkin tidak akan cukup sebagai pertanggungjawaban.

Awal yang aneh inilah permulaan terjalinnya kisah mereka yang sangat panjang. []


.

.

.

dibikin sabtu-minggu kemarin sblm kembali jaga igd 24 jam seninnya. hah. weekendku terasa cepat sekali di lab bedah krn aku tidak benar2 mendapatkannya. sejenak lari dari suara monitor dan veinflon dan spuit dan darah2an itu terasa melegakan biar cuma sebentar.

udah satu bulan kosong ya. gilak. dan comebacknya terasa gak memuaskan gini heu. sudahlah. aku merasa ide ini tetap harus dikeluarkan.

thanks buat semuanya yang udah baca dan komen, baik di sini maupun di blog2 lain ^^ lop yu poll. dan mulai sekarang, notice the bracket ya teman2. kalian yg jeli pasti sadar kalo aku ga pake kata ‘TAMAT’ utk menutup cerita ini yg berarti aku berniat membuat oneshot series dlm AU yg sama. banyak penulis ff yg bikin universe sendiri utk OTP mereka so aku juga pingin buat, kalo bisa sih buat 12 org …

entah kapan terealisasi, tapi. huhu. btw comeback bulan ini cobaan bgt ga sih buat girl grup stan T.T *dilema Russian Roulette sama Pink Revolution*

4 thoughts on “[EX’ACT] Cloud 9”

  1. “Semangat menggarap proposalnya dan jangan lupa main selama liburan! \^o^/”- kok aku jadi ingat baekhyun di scarlet ya pas ngeliat emoticon ini😀 #abaikan
    jujur, aku suka banget sama ceritanya, itu ayah joonmyeon ga kasian apa liat anaknya cape buat proposal apalah itu.
    keep writing kak…!!!

    Suka

  2. kyaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh ini apaaaaa?!!! :”D
    dudududududu, ini manis banget syekali paling pokoknya lah. Terimakasih selalu menghadirkan sisi manis dari Surene untuk kami di sini kak liana!
    duh aku mah apa tuh dibanding segala kosakata spesial yang khas-nya kak liana banget dalam bertutur. terutama di dalam fict ini. beberapa eh engga ding tapi secara keseluruhan diksi dalam fiksi kak liana itu unik banget. CSR yang jadi sedekah sistematis itu hits me hard! haha.

    story-line-nya apik sekali. daku tak bisa berhenti cekikikan baca fict ini sambil ngebayangin anak kelas tiga SMU bukannya sibuk ngerjain les untuk ujian malah disibukkin proposal CSR. dan yeah ini tuh bukan Alternate-alternate amat karena penggambaran karakter Junmyeon yang diantar-jemput oleh supir dan punya pengawal khusus itu. haha.
    yeah, dan duh mbak Joohyun :3 why so inosenn!??!
    dan ini sebenernya fict ini pakai kau atau kamu ya kak? soalnya di beberapa bagian aku nemu hal itu.

    intinya, pokoknya, daku terhibur sekali dengan fict ini kak🙂
    terimakasih banyak juga untuk kakliana yang telah menyumbangkan akhir pekannya untuk fict manis ini🙂
    semangat jaganya kak lianaaa!! project-project selanjutnya selalu dinantikan^^

    stay health too kakli~

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s