[5th Fanfiction Contest] Another Story in Paradise – Monamuliaa

another-story-in-paradise-c-monamuliaa

Title: Another Story in Paradise

Scriptwriter: Monamuliaa

Cast: Exo’s Sehun and Red Velvet’s Irene

Genre: Young adult romance

Rating: PG-13

 

September menyerahkan kanvas Paradise ke tangan Tuhan. Dan Tuhan secara perlahan mulai menggoreskan kuas perpaduan warna merah, jingga dan coklat di Paradise, sama halnya dengan kota-kota lain di seluruh Ohio[1]. Tak ada warna hijau alam yang tersisa, kecuali langit yang nampak kontras dan tetap memilih biru terang meski sesekali berubah putih bahkan gelap di antara warna-warna musim gugur.

Angin berubah kering, dan dingin semakin menggigit. Burung-burung bermigrasi, tupai mulai mengumpulkan persediaan makanan sebelum tidur panjang. Sedangkan pohon-pohon maple menyambut musim gugur dengan cara yang istimewa.

Begitu pula sebuah Maple Tua yang sudah ada di Paradise seiring terbentuknya kota tersebut. Ia ada di sana, menikmati setiap warna yang dilukiskan Tuhan, mengikuti setiap cerita generasi demi generasi anak manusia. Terkadang ia turut sedih pada apa yang terjadi pada mereka, terkadang juga turut bahagia. Tidak jarang pula turut tertawa. Namun lebih dari semua itu, ia bangga hidup berdampingan bersama mereka meski sering kali mereka menganggap seolah dirinya tak pernah ada.

Maple Tua mengenal hampir seluruh keluarga di perumahan tempatnya ditanam, terutama dua petak rumah di sisi kiri dan kanannya.

Rumah di sisi kanan Maple Tua telah berbulan-bulan tanpa penghuni sebelum akhirnya sepuluh hari lalu keluarga Asia memutuskan untuk menempatinya. Sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah dan anak laki-laki remaja.

Barangkali Maple Tua memang lebih senang pada keluarga dengan anak kecil di dalamnya sebab biasanya mereka akan bermain di bawah naungan rimbun dedaunannya dan ia senang mengikuti tumbuh kembang mereka. Tetapi faktanya, ia menyukai anak remaja yang baru menempati rumah tersebut. Dan sedikit banyak Maple Tua mulai mengenal serta memahaminya.

Walaupun selama ini Maple Tua tak pernah se-mili pun meninggalkan tanah tempat akarnya berada namun bertahun-tahun bersama manusia membuatnya mengerti betapa tidak mudahnya melewati pertumbuhan di setiap kota yang berbeda, sedangkan Sehun―nama anak itu―tampak tetap ceria dan selalu memandang dunia dalam koridor pandang yang positif. Yang mana anehnya, ke-positifan anak itu telah menular pada sang Maple Tua. Karena itu lah ia sering kali membanggakan Sehun pada setiap burung maupun tupai yang kebetulan singgah di dahannya.

Sedangkan penghuni rumah sebelah kiri adalah seorang gadis remaja yang usianya jelas tak jauh berbeda dengan Sehun, namanya Irene. Dan sang Maple Tua mengenal gadis itu lebih baik dari siapa pun di Paradise.

“Apa tempat ini begitu nyaman?”

Maple Tua mengubah arah pandangnya dan dilihatnya Irene melakukan hal yang serupa. Ia―begitu pula Irene―terlalu berkonsentrasi pada perasaan gadis itu yang termanifetasi dalam huruf-huruf tegak bersambung indah dan ditumpahkan kepada buku harian bersampul kulit tua peninggalan orang tua Irene hingga tak menyadari Sehun yang secara mendadak telah berada di sana.

Sehun duduk bersandar pada batang Maple Tua persis di sebelah Irene. Ekspresinya seperti biasa, sorot mata penuh kilatan semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi persis para remaja sedangkan bibirnya menyunggingkan seringaian jenaka. Hal itu begitu kontras dengan ekspresi serta sorot mata milik Irene.

Andai saja gadis itu memiliki sorot mata demikian.

Maple Tua merindukan semangat hidup itu pada diri Irene.

Irene jelas terkejut. Tubuhnya bergeming selama sepersekian detik sebelum akhirnya secara terburu-buru ia mengumpulkan barang-barangnya, memasukkannya sembarangan ke dalam tas lalu beranjak pergi namun langkah kaki Irene terhenti oleh ucapan Sehun. Dan Maple Tua memandang penasaran pada kedua anak manusia tersebut.

“Apa kau selalu menghindari siapa saja yang berusaha mendekatimu?” Sehun beranjak dari duduknya, sedangkan Irene pun melakukan hal yang sama.

“Kau pikir kau bisa hidup seorang diri di dunia ini?” teriak Sehun saat Irene mulai mempercepat langkahnya hingga tiba di undakan serambi rumah. “Kau pikir kau sama sekali tak membutuhkan bantuan orang lain?”

Sebagai jawaban, Sehun hanya mendapatkan suara pintu dibanting menutup. Ia mengerang keras, menendang kerikil yang hanya berpindah tempat beberapa meter lalu kembali duduk bersandar pada batang Maple Tua.

Maple Tua dapat merasakan kekesalan Sehun melalui desah nafas naik turun pemuda tersebut.

Selama seminggu terakhir, Maple Tua sering kali menangkap basah tiap kali Sehun memperhatikan Irene melalui jendela kamarnya. Bahkan kemarin lusa, ia mendapati Sehun yang membuntuti Irene pulang dari sekolah, walaupun jelas pemuda itu tidak membuntuti Irene sebab mereka bertetangga, dan jelas mereka kembali dari sekolah yang sama, namun Maple Tua tak dapat berhenti berpikir demikian manakala melihat ekpresi keduanya yang begitu bertolak belakang. Dan diam-diam ia merasa simpati pada Sehun. Seandainya saja ia bisa bebas bicara pada manusia, ia jelas akan memberi tahu pemuda itu untuk tidak jatuh hati pada Irene walaupun ia menyayangi Irene dan ingin melihat semangat hidup gadis itu kembali. Namun ia pun mulai menyayangi Sehun dan tak ingin pemuda itu kehilangan semangat hidup hanya karena seorang Irene.

Maple Tua memperhatikan Sehun yang hanya duduk diam bersedekap sembari memandang ke arah korden kamar Irene. Lalu ia menggugurkan sehelai daunnya yang jatuh tepat di atas kepala Sehun.

Sehun meraih daun tersebut. Mempelajarinya sesaat lalu mendongak.

“Ada apa?” tanyanya. “Apa kau mencoba memberi tahuku sesuatu?”

Maple Tua memandang takjub Sehun kemudian meluruhkan kembali selembar daun.

Kali ini Sehun lebih sigap dan menangkap daun tersebut sebelum mencapai kepalanya. Pemuda itu tersenyum lembut. “Selain buku harian, aku yakin kau lah yang mengetahui rahasianya lebih banyak dari siapa pun. Kau pasti berusaha memberi tahuku sesuatu, tapi aku terlalu bodoh untuk mengetahuinya. Jadi, apapun hal yang ingin kau beritahukan sekarang, kuanggap itu sebuah nasihat yang baik. Terima kasih,” lanjutnya lalu beranjak pergi.

Maple Tua hanya memandangi kepergian Sehun dengan lebih takjub. Ini pertama kalinya ia menemui seorang manusia yang menyadari keberadaannya hingga bahkan mengerti arti dari selembar daun yang gugur sekalipun.

September berkunjung terlalu singkat, sejurus kemudian Oktober menggantikan posisinya. Angin berhembus semakin kencang, dan dingin seolah menguliti setiap lapis sel. Pepohonan mulai meranggas. Semakin jarang burung yang nampak di angkasa dan tupai mulai enggan singgah di dahan-dahan maple.

Maple Tua telah kehilangan banyak daun. Pada rantingnya hanya tersisa tidak lebih dari lima puluh lembar daun kering yang siap luruh kapan pun angin meniup mereka.

Pergantian bulan sama halnya dengan babak baru sebuah kisah. Pun kisah Sehun serta Irene.

Diam-diam Maple Tua tahu, prinsip teguh Irene lambat laun telah berganti. Semula gadis itu ingin pergi dengan damai, tanpa harus merasa takut meninggalkan seseorang yang berarti sedangkan kini ketakutan itu menerornya, melukainya sedemikian rupa. Sedangkan Sehun yang tak paham apapun tetap mendesak untuk mendekat, meskipun Irene berusaha sekuat tenaga menghindarinya.

Pemuda itu terlalu tangguh. Hingga gadis itu menyerah. Nyatanya dia tak sekuat yang selama ini dikiranya.

Kali ini Maple Tua tak bisa memutuskan kepada siapa ia harus bersimpati. Atau kepada siapa ia harus memihak. Bahkan luruhan daun terakhirnya pun masih membuatnya tak mengerti.

Anak-anak kecil berlarian riang dalam berbagai kostum, kantong-kantong permen serta coklat tersembunyi dalam dekapan mereka, Jack O’lantern menyeringai di mana-mana, sedangkan Maple Tua merasa terhibur hanya dengan menyaksikan mereka.

Namun ia jauh merasa terhibur tatkala sesosok drakula lewat di depannya. Diikutinya drakula tersebut hingga berhenti di depan satu-satunya rumah tanpa Jack O’lantern menyeringai di undakan tangga.

Rasanya-rasanya Maple Tua ingin tertawa, terlebih lagi saat tangan drakula tersebut terulur dan mengetuk pintu. Selama ini tak pernah ada yang bahkan memiliki pikiran untuk mengunjungi rumah tersebut pada malam Halloween. Karena itulah Maple Tua mengamati peristiwa itu dengan penuh minat.

Trick or treat![2]” bisik sang drakula dengan suara dalam yang dibuat-buat begitu pintu ditarik terbuka.

Irene berdiri mematung. Mengamati tamu yang berdiri di depan pintunya tanpa ekspresi apapun. Tapi Maple Tua dapat melihat kilat asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya pada netra gadis itu.

“Edward datang untuk mengunjungi Bella.”

“Dia vampir bukan drakula.”

“Apa bedanya?”

“Cari saja sendiri di internet.”

Sehun melepas taring palsu yang dikenakannya kemudian berdecak kesal. “Kau benar-benar―kau kenapa?”

“Aku kenapa?”

Sehun menunjuk hidungnya sendiri. “Hidungmu berdarah.”

Irene segera mengusap hidungnya. “Aku tidak apa-apa. Pergilah.”

Sehun tampak bergeming namun pemuda itu tak dapat menolak manakala mendengar kata penuh permohonan Irene, kemudian pergi.

Maple Tua melihat dengan jelas gurat kekhawatiran pada wajah Sehun, bahkan sepanjang malam ia melihat siluet pemuda itu yang berjalan hilir mudik di dalam kamar.

Tetapi tak ada yang dapat Maple Tua lakukan, kecuali bertanya-tanya dalam diam, kenapa seseorang harus pergi dalam usia yang masih begitu muda dan tak dapat menikmati dunia lebih lama, sedangkan dirinya yang telah melewati banyak masa tetap berdiri kokoh disana?

Salju pertama singgah pada minggu awal bulan Desember, lebat dan dingin. Hanya dalam semalam, kuasanya menginvansi Paradise. Mengubah kota yang awalnya penuh warna menjadi kota beku tanpa keceriaan.

Setiap pekarangan terselimuti salju, sudut-sudut kota penuh dengan salju, atap runcing rumah berubah layaknya rumah salju dalam dongeng anak-anak. Begitu pula dahan-dahan pepohonan yang tertutupi salju.

Maple Tua masih berdiri kokoh, sehat, dan di selimuti salju. Ia memandang serambi rumah di sisi kirinya. Tak ada cahaya disana. Tempat itu gelap, kosong, serta dingin.

Maple Tua mendesah, lalu memejamkan mata, mencoba menikmati nyanyian malam, dan mengenyahkan kerinduan yang terasa berdesakan di udara. Juga menyusup di antara salju-salju yang berjatuhan.

Kenangan-kenangan berkelebatan di dalam ingatannya. Setiap kisah dari manusia yang berbeda. Terkadang kisah mereka penuh tawa bahagia, namun tak jarang pula menguras air mata. Dan ia ada di sana, menjadi saksi, menjadi penanda setiap peristiwa.

Sekali lagi Maple Tua mendesah berat. Dibukanya matanya, dan betapa terkejutnya ia manakala mengetahui bahwa bukan hanya dirinya lah yang dijajah oleh kerinduan.

Setelah kehilangan presensi Sehun sepanjang bulan November, hari ini secara tiba-tiba pemuda itu telah berada di bawah Maple Tua. Duduk pada akar yang mencuat ke atas tanah dan bersandar pada batang pohonnya.

“Apa yang kau lakukan di sini anak muda?” Maple Tua ingin bertanya demikian namun nyatanya tak ada yang bisa ia katakan.

Kepala pemuda itu menengadah, ke hamparan bintang yang berkedip lemah. Sedangkan tumpukan salju di sekelilingnya tak diindahkannya.

Maple Tua menggerakkan rantingnya, meluruhkan salju ke atas pangkuan Sehun.

Seketika Sehun mengalihkan pandang. Dan Maple Tua kehilangan sorot penuh semangat yang selalu pemuda itu tunjukkan. Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Tapi ia berharap itu hanya sesaat.

“Selama ini aku hanya tahu pergi dan meninggalkan.” Sehun memulai. “Bertahun-tahun aku selalu dalam posisi demikian. Tapi sekarang aku tahu bagaimana berada di pihak yang ditinggalkan. Ini tak lebih baik. Nyatanya perasaan ini justru jauh lebih buruk.”

“Dulu setiap kali datang ke sebuah kota, aku selalu berharap ayah akan menetap lama di sana. Tapi kini untuk pertama kalinya aku berharap agar bisa segera pergi. Tuhan tahu bahwa tak ada akhir bahagia untuk kami, tapi kenapa Dia tetap menuliskan nama kami dalam lembar yang sama?”

Maple Tua hanya meluruhkan salju ke atas pangkuan Sehun meskipun ia ingin sekali menjawab, “sebab Tuhan hendak memberitahumu bahwa hidup ini penuh warna, dan Dia ingin  agar kau belajar dari warna-warni kehidupan yang ada”.

Sejatinya ia mengucapkan kalimat penghibur, apapun itu, tapi nyatanya tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali berdiri bergeming. Menjadi saksi bisu setiap kisah yang berlalu. Dan ini adalah kisah lain yang terjadi di Paradise.

END.

 

 

Footnote:

  1. Salah satu negara bagian Amerika Serikat. Dan Paradise merupakan kota kecil di Ohio.
  2. Trick or treat. Kalimat populer pada malam Halloween yang bisa berarti “berikan kami (gula-gula) atau kami akan mengacau”.

3 thoughts on “[5th Fanfiction Contest] Another Story in Paradise – Monamuliaa”

  1. pohon maple! sudut pandang pohon! rasanya sesuatu bergerak dalam ingatanku. aku suka banget sama sudut pandang gini :”””
    halo! lupa salam 😂
    posternya menarik ditambah judul yg ga kalah menarik. pembukaannya oke lho, dan ya kalimatnya juga sesuai, tidak menemukan typo. untuk pesannya aku juga setuju. suka sama penokohannya juga. jadi irene pergi? ugh, ya begitulah kalau pohon yg jadi sudut pandangnya :””
    great job! semangat nulis yaa!

    Suka

  2. Halo!
    Wah baru inget kalo sudut pandangnya kompetisi kali ini harus anak, lansia, atau hewan apa tumbuhan gitu ya. Pantesan dari awal keberadaan maple tua ini penting banget😀
    Aku suka banget sama deskripsinya yang ringan tapi padat banget. Vocab-nya beragam di itu bikin seger(?) aja bacanya. Alurnya juga meskipun cepet tapi berhasil dieksekusi dengan baik🙂
    Trus kesendirian si maple tua ini yang ngena banget menurutku. Nggak bisa ngapa-ngapain padahal dia tahu banyak dan pengen bantu itu sakit banget :’) HUHU Dan entah kenapa waktu ada Edward-Bella disebutin itu pas banget sama image-nya Sehun-Irene yang vampirable *whatt*😄
    Idenya simpel tapi pengemasannya itu top class banget lah❤ Keep writing!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s