[5th Fanfiction Contest] L’Ange – salsberrymous

lange-a-salsberrymous

L’ANGE

A story written by salsberrymous

Starring by NCT’s Taeyong, Soloist’s IU

AU!, Life, Family ; Ficlet ; T

I just own the story and poster. Enjoy reading.

This fic was especially made for IFK’s 5th Fanfiction Competition.

*

Aku direngkuhnya. Memang, dia adalah malaikatku.

*

“Ibu.”

Taeyong memanggil. Lantas Jieun membalikkan badannya. Pemuda kecil itu dapat melihat senyuman sang wanita, suatu hal yang membuatnya merasa tenang dan nyaman.

“Taeyong-a,” Jieun memanggil namanya. Ia menggamit tangan anak kesayangannya sebelum menggenggamnya erat.

Taeyong lamat-lamat tersenyum. Belum sempat ia membalas, Jieun berbisik, “Setelah pulang sekolah, mau Ibu belikan es krim?”

Kedua mata Taeyong lantas melebar. Dengan sebuah senyuman sumringah dan manik berbinarnya, ia menggangguk cepat, “Mau, Ibu!”

“Kalau begitu, belajar yang rajin. Mengerti?” ibunya berucap lagi, dan pemuda berusia lima tahun itu masih dapat melihat senyumannya.

Lagi dan lagi, Taeyong mengangguk cepat. Setelah Jieun melambaikan tangan kanannya, Taeyong beranjak menuju kelasnya.

Jieun memang begitu. Wanita itu kerap menunggu anaknya hingga ia masuk ke dalam kelasnya, dengan senyuman merekah yang tak pernah berhenti tersungging di bibirnya.

Jieun bukan hanya seorang ibu rumah tangga seperti pada umumnya. Ia lebih dari itu. Wanita itu terlihat anggun dan berwibawa dari pakaiannya, yaitu setelan kemeja ala wanita kantoran. Taeyong tahu, Jieun adalah seorang wanita karier yang bekerja di perusahaan ternama. Tak jarang Jieun bercerita tentang perusahaan dimana ia bekerja pada anaknya, sebagai cerita pengantar tidur.

Jieun memang begitu, perhatiannya tak pernah teralihkan dari anaknya sekalipun ia sibuk.

[]

Kedua mata Taeyong mengintip sejenak pada ruang kerja Jieun. Ia hendak memberi tahu ibunya bahwa ia mendapat nilai sempurna pada ujiannya tempo lalu. Sengaja Taeyong sumputkan dari Jieun, sebagai kejutan untuknya.

Taeyong terhenyak sejenak, lantaran sesuatu yang janggal menghampirinya.

Jieun terlihat berbeda. Kepalanya tertunduk, dengan kedua tangan yang mengacak rambutnya tak beraturan. Tidak ada bulan sabit yang bertengger di bibirnya kali ini.

Taeyong mendadak ketakutan. Pemuda itu lantas berpikir ulang kali ini.

TOK.

“Ibu?”

Pemuda itu akhirnya memberanikan diri. Jieun tersentak, kedua maniknya kini sudah terpaku pada sosok anaknya yang sudah berdiri tegap di hadapannya. Sayup-sayup, muncullah senyuman yang sempat pudar itu.

Namun, rasanya berbeda. Seperti dipaksakan.

“Ada apa, Taeyong-a?” Jieun bertanya. Sejemang kemudian, Taeyong menyimpulkan sebuah senyuman merekah di bibir merah mudanya.

“Ibu, lihat!” Taeyong berlari ke arah ibunya, ditunjukannya secarik kertas dengan tinta biru terhias di atasnya. “Aku dapat nilai A! Aku hebat, ‘kan?”

Pandangan Jieun berpindah pada secarik kertas yang tersemat di balik jemari kecil anaknya. Nilai sempurna dalam pelajaran menghitung telah diraih oleh sang buah hati. Manik Jieun sontak berbinar, dengan cairan hangat yang nyaris tumpah melewati pipinya.

Oh, tidak, cairan itu tumpah.

Wanita itu berlinang air mata. Isakan pelannya telah menciptakan sungai kecil di pipinya. Tetapi senyuman itu tak kunjung memudar.

“Ibu … Kenapa menangis?” Taeyong memasang mimik panik, sembari mengusap air mata ibunya.

“Ibu bangga padamu. Ibu senang, sungguh.”

Sedetik kemudian, Taeyong berhambur ke dalam pelukan ibunya. Pemuda kecil itu terisak kencang, hingga semburat kemerahan di hidungnya mulai tertampak. Jieun mendekap erat anak semata wayangnya itu. Tanpa ada kata yang sempat terbuang, kedua insan itu  menangis kencang.

Jieun tahu, ia tak seharusnya menangis. Ya, Jieun salah besar.

[]

Jieun terduduk di sofa kecil itu. Kedua maniknya tertuju pada televisi berukuran sedang. Fokusnya bertumpu pada acara berita tersebut. Telinganya terbuka lebar untuk mendengarkan apa yang pembawa acara itu utarakan.

“Seluruh pegawai buruh di kota Seoul akan mengadakan demo besar-besaran besok pagi. Penyebabnya adalah karena gaji mereka yang dianggap kurang, dan sangat tidak setimpal dengan waktu dan tenaga kerja mereka. Namun, pemerintah mengancam buruh-buruh tersebut akan terkena PHK jika mereka masih mengadakan demo–“

“Ibu.”

Terdengar suara menginterupsi kegiatan Jieun. Sontak, ia menelengkan kepalanya pada sumber suara. Ia mendapati sosok Taeyong yang sedang berdiri di sampingnya.

Hmm?” Jieun meraih pergelangan tangan Taeyong, berusaha mendekatkan sang anak padanya. Pemuda itu lantas terduduk di pangkuan ibunya.

“Besok ada acara pementasan di sekolahku. Orang tua harus diundang. Ibu datang, ya?” pinta pemuda kecil itu, dengan kedua mata berbinarnya.

Sang Ibu mendadak tersenyum kecut. Sejenak hati wanita itu berdebat dengan benaknya, membuat efek pusing yang amat terasa.

“Ibu?”

Jieun sontak mengangguk, “Ibu akan datang.”

Satu kalimat singkat itu jelas dapat membuat Taeyong bersorak penuh kegembiraan. Senyuman Jieun masih di tempatnya, tak akan luntur walaupun tak ada yang mengetahui isi hatinya.

Bukankah Jieun memang begitu, selalu memilih anaknya sebagai prioritasnya?

[]

Jieun termangu di tempatnya. Iris kecokelatannya tengah sibuk menatap pada sosok anaknya yang tengah bernyanyi bersama teman sekelasnya di atas panggung. Raganya sedang terduduk tenang seolah tak ada yang mengusiknya, namun pikirannya seolah melayang dan tersangkut pada satu hal.

Jieun melalaikan tanggung jawabnya.

“Ibu!” tak lama kemudian, suara familiar itu menyapanya.

Jieun tersentak, “Taeyong-a.”

Taeyong lamat-lamat tersenyum, ia berlari menuju ibunya. Sembari ia merengkuh sang ibu, ia bertanya, “Bagaimana penampilanku? Aku bagus, ‘kan?”

Sontak Jieun mengangguk pelan sebagai tanggapan, “Bagus sekali. Ibu suka.”

Taeyong mematung. Ditatapnya Jieun lekat, seolah hendak mencari sesuatu dari kedua mata ibunya.

“Kalau Ibu suka, kenapa Ibu malah sedih?” Taeyong bertanya dengan raut polosnya.

Jieun menyamarkan senyumnya. Sejemang kemudian, setetes air mata meluncur tanpa aba-aba lagi.

“Maafkan Ibu,” tuturnya amat pelan.

Kening Taeyong berkerut. Pemuda itu nampak kebingungan atas ucapan sang Ibu. “Ibu mengapa?”

Dengan sekuat tenaga Jieun menatap pada anaknya. Jemarinya mengusap kasar pada air matanya yang kembali jatuh.

“Ibu berbohong padamu.”

Jieun menarik napas, sebelum akhirnya melanjutkan, “Ibu bukanlah pekerja kantoran seperti yang kamu kira. Ibu hanya seorang buruh. Ibu berbohong, Taeyong-a.”

Hening.

Taeyong terhenyak. Benaknya mengusut. Pikirannya melayang. Senyumannya mendadak pudar.

“Mengapa Ibu berbohong padaku?”

Lagi dan lagi, Jieun terisak.

“Ibu ingin kau bangga pada Ibu, dan Ibu ingin kau bahagia. Maafkan Ibu.”

Detik berikutnya, Taeyong sudah berhamburan ke dalam pelukan sang ibu. Jieun terkejut atas perlakuan anaknya ini. Saat Jieun hendak bertanya, sang anak malah bergumam,

“Aku bangga padamu, Ibu. Sungguh. Ibu tidak perlu berbohong padaku lagi,” Taeyong terisak hingga kemeja merah muda Jieun setengah basah.

“Aku sayang Ibu.”

Pengakuan tulus itu sontak menggetarkan hati Jieun. Kurva yang semula pudar, kini kembali tercipta di wajah kedua insan tersebut.

Bagi Jieun, tiada yang lebih berharga selain anaknya. Dan bagi Taeyong, tiada yang menyerupai malaikat selain ibunya.

FIN.

.

This story was made to respect all of beloved mothers (especially, my Mom), who always give their best for us.

Cerita ini sedikit klise, namun saya ingin menyampaikan wujud kasih sayang ibu yang patut kita syukuri.

;salsberrymous.

5 thoughts on “[5th Fanfiction Contest] L’Ange – salsberrymous”

  1. begitulah ibu dan rasa pedulinya. begitulah anak dan rasa bangganya :'”)
    tema yg memang umum, tapi penulisannya bagus dan ga bikin bosan: suka! tidak menemukan typo dan karakternya juga sesuai: keren.
    great job! semangat nulis ya!

    Suka

  2. Manis sekali. Saya jadi ingat dg video mengharukan ayah dan anak yang ayahnya bohong kalau dia kerja kantoran demi membuat si anak senang :”)

    Meski saya merasa ada plothole di bagian berita demonstrasi dan ada sesuatu yg seakan dibiarkan tidak dijelaskan soal ‘tanggung jawab’ (jujur ini agak ambigu, kupikir bakal ada twist-plot di akhir), tapi aku SUKA dengan penulisannya yang rapi. Dan aku yakin penulis masih bisa berkembang lebih baik lagi dibanding ini. Great job, keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

  3. pertama-tama, selamat ya sudah masuk ke dalam tujuh besar IFK!^^

    well, mengenai plothole yang NIswa sebutkan di atas bisa disebabkan oleh length dari fict ini sendiri. jadinya, plothole itu menyisakan sisi-sisi undiscovered yang kurang terjamah yang agak sulit diraih oleh pembaca.
    akan tetapi itu semua tidak terlalu besar impaknya karena pesan dalam fict ini masih mampu tersampaikan dengan apik melalui gaya penulisanmu yang rapih.
    setuju juga dengan Niswa, kamu pasti bisa lebih mengengplor sisi-sisi potensial dalam diri kamu agar bisa jadi lebih baik lagi🙂

    (selain itu, jujur, taeyeong versi chibi ini sukses meremukkan(?) tulang rusuk saya :”) (hahaha))

    well done! tetap semangat berkarya~^^

    Suka

  4. Iseng-iseng membaca cerita untuk kontes IFK…

    Hmmm, temanya umum sih dan bisa menjangkau semua segmentasi pembaca. Saya setuju dengan komen nomor dua sih, ada sesuaru yang ngambang di tengah cerita, namun komen nomor tiga sudah memberikan alasan untuk itu.

    Nilai positif cerita ini adalah tata bahasanya yang rapi dan sesuai dengan isi ceritanya.

    Saya belum tahu pengumumannya, tapi semoga dapat hasil yang terbaik….

    Suka

  5. Ku terharu hikkss :” Aku kira si Jieun ini mengidap suatu penyakit keras/? Soalnya penggambarannya sendu banget, kek mau wasalam. Plotnya walau udah mainstream tapi tetep ngena di hati .-

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s