[5th Fanfiction Contest] Let’s Colouring! – babywink

lets-colouring

Title               : Let’s Colouring!

Scriptwriter : babywink

Main Cast    : SMRookies Lami & SMRookies Jungyeon

Genre           : Friendship & Family

Rating           : General


Namaku Kim Sunkyung. Aku lebih sering dipanggil Lami. Umurku tujuh tahun.

Hari ini aku sangat kesal!

Aku baru saja pulang dari rumah Donghyuk-oppa –dimana aku dan anak-anak di komplek kami sering bermain. Biasanya aku pulang setelah 3 sampai 5 jam bermain. Untuk hari ini aku pulang setelah 10 menit. Ini adalah waktu tercepat yang pernah aku alami saat bermain.

Kalian mau tahu kenapa?

“Lami? Cepat sekali mainnya. Ada apa?” tanya Jungyeon-eonni yang memandangku dengan bingung.

Hm.

Ternyata Jungyeon-eonni juga ingin tahu kenapa aku pulang cepat.

Aku menghampiri eonni yang duduk di sofa pink ruang tamu kami. Aku pun duduk di samping eonni dan langsung memeluknya erat. “Aku tidak mau bermain dengan mereka lagi,” jawabku dengan ketus.

“Lho, kenapa?” Jungyeon-eonni melepaskan pelukanku. Ia menatapku dengan khawatir.

“Lami dibully?” tanya eonni lagi dengan khawatir. Aku hanya menggeleng lesu.

“Apa Donghyuk menjahilimu?”

Aku menggeleng.

“Apa Koeun memarahimu?”

Aku menggeleng.

“Apa Jaemin mendorongmu lagi?”

Aku menggeleng. Lagi pula Jaemin-oppa berjanji tidak akan mendorongku lagi.

“Apa Herin merusak mainanmu?”

Aku menggeleng.

Eonni ragu. Apa Mark, Hina, Jeno dan Jisung melakukan hal yang buruk padamu?”

Aku menggeleng.

“Lalu kenapa kau tidak mau bermain dengan mereka lagi?” tanya Jungyeon-eonni sambil menatapku dengan bingung.

Aku menundukan kepalaku. “Aku tidak suka dengan mereka, Eonni!” jawabku dengan kesal.

“Besok Yuta-oppa ulang tahun. Hari ini kami berencana membuat kue untuknya. Tapi semuanya gagal,” lanjutku. Lalu aku menatap Jungyeon-eonni dengan bibir dimajukan.

Jungyeon-eonni menatapku dengan bingung. “Kenapa bisa gagal? Memangnya Ibu Donghyuk tidak membantu kalian?” tanya eonni sambil mengelus pelan kepalaku.

Aku menggeleng. “Yang gagal bukan kuenya, Eonni! Bahkan kami belum sempat membuatnya,” jawabku.

“Lalu?”

Bukannya langsung menjawab, aku malah diam. Sebenarnya aku malas membahas hal ini. Intinya aku tidak mau bermain lagi dengan mereka. Mereka benar-benar menyebalkan dan tidak menepati janjinya.

Aku kesal!

Ne? Lami? Kenapa diam?” Jungyeon-eonni melambaikan tangannya di depan mataku. Aku pun refleks mengerjapkan mataku.

Hufft.

Mungkin kuceritakan saja.

“Kemarin kami sepakat untuk membuat kue stroberi, kesukaanku. Donghyuk-oppa bilang kalau ibunya yang akan menyiapkan bahan-bahan dan membantu kami,” ucapku sambil memainkan ujung rambutku.

“Saat kami semua sudah berkumpul, tiba-tiba Donghyuk-oppa bilang kalau kami akan membuat kue cokelat. Waktu Donghyuk-oppa dan ibunya belanja, mereka bertemu dengan Hansol-oppa, Johnny-oppa dan Taeyong-oppa. Mereka bilang kalau Yuta-oppa suka kue cokelat. Hina-eonni juga bilang begitu. Akhirnya kami membuat kue cokelat,” lanjutku. Aku menatap Jungyeon-eonni dengan memelas.

Jungyeon-eonni menaikkan sebelah alisnya. “Jadi kau marah karena kalian gagal membuat kue stroberi, begitu?” tanyanya.

Aku menggeleng lagi. “Bukan hanya itu saja, Eonni. Masih ada hal lain yang membuatku kesal,” jawabku lagi.

“Kemarin Jisung-oppa sendiri yang bilang kalau dia akan membawa cetakan kue. Tapi yang ia bawa adalah cetakan kue kering bukan kue tart!”

Aku kesal.

“Koeun-eonni memarahi Jisung-oppa. Tapi Mark-oppa membelanya. Jadi Koeun-eonni juga memarahi Mark-oppa!”

Aku kesal.

“Bukannya membantu, Jeno-oppa dan Hina-eonni hanya diam saja!”

Aku kesal.

 “Donghyuk-oppa dan Jaemin-oppa diam-diam menghabiskan cokelatnya!”

Aku kesal.

“Lalu Herin-eonni tidak sengaja menumpahkan tepung untuk membuat kue!”

Aku kesal.

“Makanya aku langsung pulang. Aku kesaaaaal!” Aku pun meluapkan semua emosiku. Jungyeon-eonni pun terdiam. Beberapa detik kemudian aku kembali memeluk erat Jungyeon-eonni.

Eonni, sepertinya kami tidak cocok. Kami berbeda. Aku ingin berteman dengan orang yang sama denganku saja,” ucapku lagi. Aku mulai merasakan mataku berair. Kugigit bagian bawah bibirku supaya tidak menangis.

Ya, benar.

Lebih baik aku cari teman yang punya sifat dan keinginan yang sama denganku.

“Padahal aku suka mereka, hiks.”

Aku pun menangis. Aku tidak dapat menahannya lagi. Sebenarnya aku sangat sedih karena tidak bisa berkumpul dengan teman-temanku. Tapi mau bagaimana lagi? Aku kesal, sih.

Jungyeon-eonni memelukku erat. Setelah tangisanku reda, Jungyeon-eonni melepaskan pelukannya. Ia menatapku sambil tersenyum. “Ternyata kamu sangat menyukai teman-temanmu, ya?” ucap Jungyeon-eonni sambil menghapus air mataku dengan tangannya.

“Eh?” Aku mengerutkan dahiku. Aku tidak mengerti dengan ucapan eonni.

“Tunggu sebentar, Lami. Eonni ingin menunjukkanmu sesuatu!” pinta Jungyeon-eonni. Setelah mencium pipiku, eonni berjalan menuju kamarnya. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan membawa sesuatu.

“Tara! Eonni membuatnya semalam. Ini untukmu, Lami!” ucap Jungyeon-eonni. Ia memberikan sebuah buku tebal –kalau tidak salah nama kerennya scrapbook– dan beberapa stiker bintang kepadaku. Tidak lupa dengan pulpen berwarna.

Aku pun tersenyum lebar. Buku ini benar-benar lucu dengan tulisan ‘Best Friend’ di covernya. Aku penasaran dengan isinya. Aku pun membuka buku itu.

Halaman pertama berisikan sembilan buah bintang dengan warna yang berbeda. Indah sekali karena warnanya bermacam-macam.

Lalu aku melanjutkan ke halaman berikutnya.

Senyum lebarku pun tergantikan dengan cemberut.

“Kenapa ada foto mereka, Eonni?” Aku menatap Jungyeon-eonni dengan kesal. Aku kan baru saja cerita kalau aku tidak mau bermain dengan mereka lagi. Kenapa ia menunjukanku foto bersama saat kami pertama kali bermain?

Huh.

“Lami, jangan kesal dulu. Coba kamu lihat halaman selanjutnya!” pinta Jungyeon-eonni.

Aku pun menurutinya. Dengan malas aku membuka halaman selanjutnya. Lalu aku melihat foto Koeun-eonni dengan beberapa data dirinya. Seperti biodata namun Jungyeon-eonni menghiasnya menjadi sangat lucu.

“Sekarang kamu tempelkan stiker bintang pada foto Koeun. Pilihlah warna bintang yang menurutmu cocok dengannya!” pinta Jungyeon-eonni lagi.

Aku pun mengangguk. Aku meletakan buku tersebut di meja. Lalu aku mengambil beberapa stiker bintang dengan warna yang berbeda.

Hm.

Kira-kira warna apa yang cocok untuk Koeun-eonni?

Merah, kah?

Kuning, kah?

Ungu, kah?

Aku berpikir cukup lama karena eonni bilang pilih warna yang cocok. Setelah beberapa menit berpikir, aku pun memilih warna ungu. Lalu aku menempelkan stiker bintang ungu pada foto Koeun-eonni.

Kemudian, Jungyeon-eonni memintaku untuk membuka halaman selanjutnya. Ternyata aku harus melakukan hal yang sama pada foto Mark-oppa. Begitu pun seterusnya.

Apa kalian mau tahu warna bintang apa yang kuberikan pada teman-temanku?

Warna ungu kuberikan pada Koeun-eonni. Koeun-eonni sering memakai baju ungu. Menurutku ungu cocok dengannya.

Warna cokelat kuberikan pada Mark-oppa. Aku pernah berkunjung ke rumah Mark-oppa. Kupikir hanya warna temboknya saja, ternyata isi rumahnya pun banyak yang berwarna cokelat. Makanya kuberi warna cokelat.

Warna hijau kuberikan pada Hina-eonni. Waktu itu Hina-eonni membawakan ice stick rasa semangka dan itu enak sekali. Karena kulit semangka berwarna hijau, jadi aku memberikan warna hijau padanya.

Warna biru kuberikan pada Jeno-oppa. Dulu Jeno-oppa memelihara ikan Dory. Ia sangat sayang pada ikannya sampai-sampai ia terus menangis saat ikannya mati. Ikan Dory warnanya biru jadi aku memberikan warna biru padanya.

Warna merah kuberikan pada Donghyuk-oppa. Eomma pernah membacakan cerita padaku kalau warna merah itu nakal. Cocok sekali dengan Donghyuk-oppa.

Warna kuning kuberikan pada Jaemin-oppa. Kalau tersenyum, Jaemin-oppa terlihat bersinar. Warna kuning cocok untuk senyumnya.

Warna putih kuberikan pada Jisung-oppa. Aku memilih warna ini karena warna yang tersisa hanya putih, pink, dan jingga. Kurasa putih cocok dengannya.

Warna pink kuberikan pada Herin-eonni. Ia suka sekali dengan warna pink. Melebihiku, lho!

Yang tersisa adalah warna jingga. Setelah menempelkan stiker pada foto Herin-eonni, aku membuka halaman selanjutnya. Ternyata ada fotoku juga. Jungyeon-eonni pun menempelkan warna jingga pada fotoku.

Eonni, aku kan suka warna pink.” Aku cemberut menatap eonniku.

Jungyeon-eonni mencubit pipiku pelan. “Kau juga akan suka warna jingga,” katanya lalu tersenyum.

“Sekarang kembalilah ke halaman pertama,” pinta Jungyeon-eonni. Aku pun langsung membalikkan lembaran itu ke halaman pertama. Halaman dengan gambar bintang berwarna-warni yang indah itu.

Kulihat Jungyeon-eonni membuka tutup pulpen. Ia menuliskan namaku di gambar bintang berwarna jingga. Lalu ia memberikan pulpen itu padaku.

“Lami kan sudah menempelkan stiker di setiap foto teman-temanmu. Sekarang tugasmu adalah menuliskan nama teman-temanmu pada gambar bintang sesuai warnanya!” ucap Jungyeon-eonni bersemangat.

Aku pun menulis nama mereka sesuai warna yang kupilih. Walaupun aku tidak mengerti apa tujuan eonni menyuruhku begini, tapi aku senang melakukannya.

“Coba lihat. Indah, kan?” tanya Jungyeon-eonni setelah aku selesai menulis nama teman-temanku.

“Indah, Eonni. Aku suka warna-warni!” jawabku dengan senang. Aku setuju dengan eonni. Nama kami jadi terlihat indah karena ditulis pada bintang yang berwarna-warni.

Jungyeon-eonni mengelus kepalaku dan bertanya, “Mana yang Lami pilih: warna-warni atau warna pink saja?”.

“Tentu saja warna-warni. Lebih indah!” jawabku lantang.

“Benarkah?”

“Benar!”

“Tapi Lami bilang kalau Lami tidak ingin berteman lagi dengan teman-temanmu. Sedangkan Lami suka warna-warni. Jadi mana yang benar?”

Kata-kata Jungyeon-eonni membuatku bingung.

Aku tidak mengerti. Memangnya apa hubungan teman-temanku dengan warna-warni?

Sepertinya Jungyeon-eonni mengerti kalau aku kebingungan. Ia pun mengeluarkan sebuah kertas dan memberikannya padaku. Kertas itu berisikan bintang berwarna dengan artinya.

lets-colouring-arti-warna

“Coba Lami cocokkan warna stiker yang Lami tempelkan pada foto teman-teman Lami dengan artinya. Apa sesuai dengan mereka?” pinta Jungyeon-eonni. Walaupun ragu, aku pun melakukan apa yang eonni katakan.

Aku jadi teringat saat pertama kali kami bermain.

Sebulan yang lalu, aku dan Jungyeon-eonni mengunjungi rumah Mark-oppa. Ia baru pindah ke komplek kami. Appa dan Eomma menyuruh kami untuk memberi makanan pada tetangga baru.

Awalnya aku takut karena keluarga Mark-oppa pindahan dari Kanada. Aku takut mereka tidak bisa bicara bahasa korea. Aku kan tidak bisa bahasa inggris.

Tapi rasa takutku hilang saat aku melihat Donghyuk-oppa yang sedang menjahili Mark-oppa. Ia benar-benar berani, padahal mereka baru kenal. Lalu Donghyuk-oppa memanggilku untuk bermain bersama. Donghyuk-oppa terus-terusan menjahili Mark-oppa. Untung saja Mark-oppa sabar.

Lalu Donghyuk-oppa mengajak kami bermain ke lapangan. Di sana aku melihat Koeun-eonni, Hina-eonni, Jeno-oppa, Jaemin-oppa dan Jisung-oppa. Tidak lupa dengan Herin-eonni yang menangis. Kami pun segera menghampirinya. Ia menunjuk ke atas pohon dan bilang kalau kucingnya tidak bisa turun.

Jaemin-oppa mencoba menghibur Herin-eonni dengan bertingkah konyol, namun Herin-eonni malah tambah menangis. Hina-eonni pun menenangkannya. Herin-eonni meminta kami untuk menurunkan kucingnya. Ia takut kucingnya terluka.

Jisung-oppa memberi usul untuk memancing kucing itu dengan ikan. Karena kucing suka ikan, ia pasti akan turun untuk mendapatkan ikannya. Saat kucing itu melompat, kita menangkapnya. Tapi ide itu di tolak Koeun-eonni karena takut kami tidak bisa menangkapnya.

Aku ingin membantu, tapi aku tidak tau harus berbuat apa. Lagi pula aku takut kucing.

Aku ingat, Koeun-eonni memberi usul pada kami. Setelah idenya kami setujui, kami pun melakukan apa yang ia bilang. Donghyuk-oppa memanjat pohon tanpa rasa takut. Mark-oppa dan Jeno-oppa berjaga-jaga jika kucing itu terjatuh maka mereka akan menangkapnya. Untungnya Donghyuk-oppa berhasil membawa turun kucing itu dengan selamat.

Kami semua senang. Herin-eonni langsung memeluk erat kucingnya. Ia sayang sekali pada kucingnya.

Karena kami berhasil menyelamatkan nyawa seekor kucing, aku pun mengajak mereka untuk menjadi pasukan penyelamat di komplek kami. Mereka semua setuju dan mulai saat itu kami dijuluki sebagai Mouseketeer.

Mengingat kejadian itu, aku jadi menyadari sesuatu. Warna stiker yang kutempelkan pada teman-temanku benar-benar sesuai dengan diri mereka.

Koeun-eonni yang selalu punya ide untuk menyelesaikan sesuatu. Mark-oppa yang tidak pernah marah. Hina-eonni yang tidak kekanakan. Jeno-oppa yang tidak banyak bicara. Donghyuk-oppa yang selalu bersedia menjadi percobaan. Jaemin-oppa yang selalu menghibur di saat sedih. Jisung-oppa dengan pikiran polosnya. Dan Herin-eonni yang sangat menyayangi kami.

 “Lami, terbukti kan kalau berbeda warna lebih bagus dari pada satu warna?” ucap Jungyeon-eonni.

“Perbedaan sifat di antara kalian yang membuat kalian menjadi indah. Bayangkan kalau Lami hanya berteman dengan orang yang sama seperti Lami. Kalau sama-sama baik sih bagus, tapi kalau sama-sama penakut? Tidak enak, kan?” lanjutnya.

Benar juga. Coba saja kalau aku berteman dengan orang yang juga penakut sepertiku. Kalau ada kucing atau anjing liar yang mengganggu kami, bahaya sekali!

Rasanya aku ingin memeluk teman-temanku.

“Terima kasih karena telah menyadarkanku, Eonni!” ucapku lalu memeluk Jungyeon-eonni dengan senang.

Jungyeon-eonni balas memelukku. “Sama-sama, Lami. Jangan musuhan lagi, ya!” ucapnya lalu mencium pipiku. Kami pun tertawa bersama.

Tiba-tiba aku punya ide. “Eonni, aku ingin melanjutkan rencana kami untuk membuat kue. Bisakah eonni membelikanku tepung?” pintaku pada eonni.

Jungyeon-eonni mengangguk. “Tentu. Bawa teman-temanmu untuk membuat kue di sini. Eonni tidak ingin merepotkan Ibu Donghyuk. Biar eonni bantu!” Aku pun langsung senang begitu mendengar jawaban eonni.

“Terima kasih, Eonni. Aku akan memanggil teman-temanku!” kataku bersemangat. Lalu aku berlari menuju pintu.

“Lami?”

Aku pun menghentikan langkahku dan berbalik menatap Jungyeon-eonni yang tiba-tiba memanggilku.

 “Ternyata eonni tidak salah menempelkan warna jingga padamu, ya?” ucapnya membuatku mengerutkan dahiku.

“Bersahabat,” lanjutnya lagi lalu tertawa kecil.

Aku membalas senyum eonni. Ya, bersahabat. Aku suka itu. Kurasa jingga akan menjadi warna kesukaanku setelah pink.

Hari ini aku memang kesal. Tapi aku menyadari sesuatu. Hidup itu memang penuh dengan perbedaan.

Dan perbedaan itu indah.

Seperti warna stiker bintang yang berbeda itu.

Mulai sekarang aku akan mewarnai hidupku dengan berbagai macam warna.

Karena warna-warni itu indah.


Kkeut.

lets-colouring-babywink-ending-logo

36 thoughts on “[5th Fanfiction Contest] Let’s Colouring! – babywink”

  1. halo!
    yap, warna-warni membuat segalanya jadi indah! suka sama inti cerita yg diungkapkan dengan santai. konfliknya pun natural, tiap dari kita pasti pernah merasakan jadi lami, untungnya ada kakaknya yg baik hati 😊
    good job! semangat nulis ya!

    Suka

  2. Halo!
    Ternyata fiksinya memborong semua rookiesnya es em😄 Konfliknya yang ringan, tipe masalah anak-anak ya. Sempet heran ‘kok gini aja diributin?’ padahal dulu waktu masih kecil juga pernah gitu😄
    Aku suka waktu warna-warna itu mewakilkan kepribadian mereka. Dan entah kenapa realistis sekali kalo Donghyuk emang sering ngeganggu Mark😄
    Keep writing ya~

    Suka

  3. Demi apa ini fic kiyoot banget >< Jarang2 bisa nemu FF yg main castnya dedek Lami. Mana semua castnya cucunya Soman lagi, ku bahagia :" Ceritanya lucuu, Lami-nya kiyowo sekaleh bikin daku gemas 🐻

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s