[5th Fanfiction Contest] Of Twilight, His Action, and Joy – Tob

of-twilight-his-action-and-joy-1-copy

Of Twilight, His Action, and Joy

Scriptwriter: Tob

Cast: Sungjae [BTOB] – Joy [Red Velvet] – Ji Sung [SM Rookies/NCT]

Genre: AU!, Marriage-Life, Slice of Life

Rating: PG-15

Summary:

Langit jingga kemerahan bukan hanya panorama di sore hari. Sung Jae selalu punya cerita di baliknya.

:::

Lelaki tua itu bernama Sung Jae. Umurnya sudah menginjak tiga per empat abad. Perawakannya tinggi, rahangnya tegas, matanya sipit, dan hidungnya mancung. Sebagian besar rambutnya sudah memutih. Kerutan pun sudah menghiasi wajahnya. Kendati demikian, garis-garis ketampanan masih tersimpan baik di sosoknya yang kian hari kian menua, karena melihat sekilas pun orang-orang akan tahu bahwa lelaki itu tampan di masanya.

Rumah putih pucat memanjang di dekat sungai Han adalah tempat tinggalnya. Dan, halaman belakang yang mengarah langsung pada sungai tersebut merupakan tempat favoritnya bersama sang istri kala sore bertandang. Dengan teh manis dalam cangkir porselen berwarna putih dan kue manis menjadi teman mereka saat memandang langit senja yang berwarna jingga.

Embusan angin menemani keduanya dalam menikmati senja hari ini. Hawa dingin yang terasa menusuk tubuh rentanya membuat Sung Jae merapatkan baju hangat yang dikenakannya. Entah sudah berapa senja yang mereka lewati bersama. Semuanya selalu menyenangkan bagi Sung Jae.

“Sudah senja, apa perbuatan baik yang kau lakukan hari ini?”

Suara Joy, istrinya, yang ada di samping tertangkap oleh indra pendengarannya, membuat Sung Jae menoleh sekilas. Joy yang menggunakan gaun rumah dengan motif bunga-bunga tersenyum. Sung Jae bergeming barang sejemang, lalu matanya kembali ia pindahkan kepada lukisan indah ciptaan Tuhan di langit sana.

Dua detik kemudian Sung Jae menggeleng, membuat senyuman di wajah Joy sedikit memudar. Kedua matanya lantas menyipit dengan kerutan yang muncul di keningnya.

“Kenapa? Bagaimana kalau esok tak bisa ditemui lagi?”

Sung Jae menatap Joy sebentar lalu menimang-nimang apa yang diucapkannya. Masih sibuk dengan pemikiran yang belum mendapatkan titik terang, suara Joy kembali terdengar kala seorang anak – kira-kira berumur sepuluh tahun – dengan jalan sempoyongan melintas di depan pagar halaman belakang rumah mereka.

“Tunggu apa lagi?”

Yang Sung Jae tahu, tubuhnya sudah meninggalkan kursi dan mendekati anak tersebut. Ia mengajaknya bercakap-cakap barang sepatah dua patah kata. Sung Jae, sekon berikutnya pergi ke dalam rumah lalu kembali ke hadapan anak kecil tersebut dengan menjinjing kantong kertas berisi bahan makanan. Binar bahagia dalam mata si anak ia terima begitu tangan keriputnya menyerahkan kantong kertas tersebut.

“Terima kasih banyak, Kek!” ucap si anak sambil menerima kantong kertas tersebut dengan tangan bergetar lalu menciumi punggung tangan Sung Jae.

Sung Jae tersenyum. “Kau sepertinya kelelahan. Istirahatlah dahulu sambil menemani Kakek Tua ini. Tak usah lama-lama, lima menit saja. Bagaimana?”

Si anak mengangkat kepalanya lalu mengangguk. “Dengan senang hati, Kek.”

Keduanya lantas berjalan menuju tempat duduk. Sung Jae meninggalkan si anak setelah memastikannya duduk di kursi. Berikutnya, ia pergi ke dalam rumah untuk mengambil teh baru yang akan diberikan pada anak laki-laki itu. Sekaligus mengisi cangkirnya yang sudah kosong.

Di tempatnya, Joy menatap Sung Jae dengan senyum simpul terpatri di wajahnya. Ia bangga melihat langkah yang diambil sang suami.

“Silakan diminum tehnya. Kau pasti sangat lelah.”

“Terima kasih banyak, Kek.” Anak laki-laki itu mengambil cangkir lalu menyeruput teh yang masih mengepulkan uap itu.

“Bagaimana rasanya?”

Anak laki-laki itu tersenyum. “Hangat, Kek. Teh ini memberikan energi positif pada tubuhku.”

“Syukurlah. O ya tadi siapa namamu?”

“Ji Sung, Kek. Park Ji Sung.”

Sung Jae melenggut dua kali. Beberapa waktu berikutnya konversasi masih terjalin. Tepatnya, Sung Jae bertanya dan Ji Sung menjawab. Anak laki-laki itu ternyata baru saja selesai bekerja paruh waktu di salah satu restoran sebagai tukang cuci piring untuk membantu ekonomi keluarganya. Setelah pulang sekolah, Ji Sung pergi menuju restoran untuk melakukan pekerjaannya dan kembali ke rumah ketika matahari tergelincir di ufuk barat atau langit berwarna gelap.

Sung Jae mendengarkan cerita Ji Sung dengan saksama. Laki-laki  tua itu mengusap puncak kepala Ji Sung dengan lembut. Ia seperti melihat cucunya sendiri di sana.

“Kau pasti merasakan beban berat menempel di punggungmu.” Ji Sung tersenyum tipis. “Tapi penyakit menyerah jangan sampai menghampiri. Seorang pemenang tidak pernah berdamai dengan mereka.”

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sepuluh menit telah mereka habiskan dengan berbincang-bincang. Lebih lima menit dibandingkan perjanjian sebelumnya. Ji Sung lalu mencium punggung tangan Sung Jae.

“Sekali lagi terima kasih banyak, Kek.”

Sung Jae menggeleng. “Justru aku yang harus berterima kasih.” Ji Sung mengerutkan dahinya. “Kau sudah mau menemani Kakek Tua ini. Sesekali jika ada waktu, kemarilah. Rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Pejuang Kecil.” Sebuah senyuman Sung Jae berikan begitu kalimatnya selesai.

Ji Sung membalas senyuman itu. “Aku berjanji akan kemari lagi. Sampai jumpa, Kek.”

Sosok “Pejuang Kecil” itu baru saja melahap tiga langkah saat suara Sung Jae kembali terdengar. “Ji Sung!”

Ji Sung berbalik, Sung Jae mengisyaratkan kepada anak laki-laki itu untuk diam di tempatnya. Sung Jae masuk ke dalam rumah lalu kembali dengan payung lipat di tangan kanannya. Ia lantas mengambil langkah untuk memangkas jarak.

“Ambil payung ini. Aku takut kau kehujanan.” Sung Jae menunjuk langit. “Agak mendung.”

Ji Sung tersenyum. “Maaf merepotkan Kakek. Besok aku kembalikan.”

Sung Jae mengibaskan tangannya. “Kau boleh mengembalikannya kapan-kapan saja. Sudah, cepat pulang. Nanti Ibumu mencari. Salam untuk keluarga di rumah, ya.”

Ji Sung mengangguk, mengucapkan terima kasih untuk yang keempat kalinya. Setelah melewati pintu halaman belakang. ia melambaikan tangan pada Sung Jae yang langsung membalas lambaiannya dua detik kemudian.

Warna jingga di langit kian redup. Sung Jae memalingkan wajah kepada Joy. Perempuan itu memberikan anggukan dan sebuah senyuman dari bibir manisnya.

Senja hari ini Sung Jae mendapat teman baru.

 “Bagaimana?”

Suara Joy terdengar beberapa detik kemudian. Sung Jae memalingkan wajahnya menuju sumber suara lalu kembali duduk di kursinya.

Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika binar bahagia ia dapatkan dari kedua mata Ji Sung. Mungkin, yang Sung Jae rasakan tak berbeda jauh dengan yang dirasakan anak laki-laki itu. Dua-duanya bahagia, meski dalam definisi yang berbeda.

Sung Jae bahagia telah memberikan uluran, sedangkan Ji Sung bahagia karena telah mendapatkan pegangan. Dua-duanya bahagia.

“Aku bahagia, Joy. Senang rasanya hari ini aku tidak tenggelam pada kesia-siaan. Terima kasih sudah mengingatkan.”

“Tidak, kau sendiri yang mengingatnya, sayang.”

Rinai gerimis tiba-tiba datang tanpa diundang bersamaan dengan embusan angin yang kian kencang menerpa setiap makhluk yang dilewatinya. Mereka memberikan informasi bahwa hujan dalam skala besar sebentar lagi akan berkunjung ke daerah ini.

Langit jingga yang memamerkan senja sedikit demi sedikit mulai memudar, digantikan oleh warna gelap. Malam siap bertugas. Teh yang beberapa menit lalu masih mengepulkan uap sudah dingin saat Sung Jae menyeruputnya. Ia lalu mengambil kue manis yang ada di meja, menggigitnya sedikit, mengunyahnya lalu menelannya. Rasa manis yang harusnya ia rasakan justru tak terasa.

Senja sudah hilang, begitu juga rasa pada setiap hidangan yang dirasakan oleh indra pengecapnya. Jingganya langit mulai berubah menjadi hitam. Kanvas Tuhan mulai menghadirkan warna gelap. Malam sudah menyapa.

Bagi Sung Jae, senja bukanlah sekedar panorama yang disajikan alam. Mereka adalah lukisan yang menjadi cambuk bagi keseharian. Dan saksi bisu setiap langkah yang diambilnya sebelum masa penghabisan; apakah ia menebarkan bibit yang memberikan manfaat atau hanya diam di tempatnya, tidak bergerak, dan tenggelam dalam lautan penyesalan padahal usianya sudah bau tanah.

Selain itu, senja menjadi waktunya bertemu sang istri, Joy. Salah satu sumber kebahagiannya.

Sung Jae menghela napas. Ia kemudian mengambil sebuah foto dengan frame berwarna coklat muda di meja. Mencium ‘kening’ istrinya lalu mengucapkan salam perpisahan.

“Senja sudah pergi. Waktunya kau pergi. Sampai jumpa di senja berikutnya, sayang.” Sung Jae mengulas senyum. “Itu pun jika Tuhan mengizinkan.”

FIN.

5 thoughts on “[5th Fanfiction Contest] Of Twilight, His Action, and Joy – Tob”

  1. halo! baiklah sepertinya memang ini temanya ifk (mengingat aku tidak tau temanya), tapi tetep keren! nilai-nilai kemanusiaan disajikan dengan santai: suka! pelengkapnya di akhir itu juga menambah sentuhan sendiri :’)
    good job! semangat nulis ya!

    Suka

  2. SUKA SUKA SUKA SUKA SUKA SUKA SUKA SUKA!!!!!!!!!

    Kak aku kicep banget pas mau ending duuh ga ngerti kudu bilang apa karena udah curiga bakal dibuat nganga dan ternyata… Joy beneran ngga ada sosok nyatanya :”) Tapi maniiis banget hikmah yang kakak kasih di sini. Bahwa manusia hidup cuma bentar jadi harus bisa manfaatin sebaik-baiknya. Sekali lagi, SUKA! Good luck yaaa kak nadyakuhh❤

    Suka

  3. Halo!
    Sungjoy yey! Aku berhasil ngebayangin bapak sungjae entar tuanya gimana, yang jelas pasti masih ganteng :))))))))))
    Dan yang paling ngena dari fiksi ini itu kehangatannya🙂 apa karena latarnya senja jadi anget2 gimana gitu *what* Dari awal bacanya itu udah trenyuh banget. Kukira joy masih ada jadi sungjae nggak terlalu kesepian gitu. Eh taunya udah meninggal yah istrinya😦 mangkanya kok kesannya dari awal udah gimana gituhh sama mba joii.
    Anyway amanatnya bener banget, hidup cuma sekali, tinggal gimana kita menjalaninya (y)
    Keep writing ~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s