[VIGNETTE] Eternity

13332919_1861600957400412_3572855957527009101_n

BTS Suga X You

Classical Romance, Supranatural, Songfic || PG17 || 2115 words || Cover: fanart by @embyrwulf

***

Avril Lavigne feat. Chad Kroeger – Let Me Go (http://puu.sh/pfavS.mp3)

.
.

Min Suga pernah mengatakan padamu bahwa ia akan menyisakan sedikit waktu dari praktisi berpedang dan memanahnya untuk datang menemuimu malam ini. Dia akan, dia harus, dan untuk beberapa alasan kamu selalu yakin pria itu akan memenuhi apa-apa yang terludahkan dari mulutnya. Sebab itu kamu merias wajah, mengoleskan kesturi hampir di seluruh permukaan gaun terbaik yang kamu kenakan—terbaik nomor dua setelah gaun pernikahan.

Esok hari kamu akan berdiri di atas mimbar istana, berlambai tangan kepada mereka yang rela meninggalkan selimut musim dingin demi partisipasinya menunjukkan rasa bahagia atas berakhirnya masa lajang sang putri kerajaan. Esok, temperatur kaku kering dari ruang dansa ini akan enyah jauh-jauh. Kamu seolah bisa melihat banyak bangsawan, lampu-lampu menyala, berbagai sajian, dekorasi mencolok melebihi portrait-portrait raksasa yang mengantung pada dinding, euforia yang takkan terelakkan selama tujuh hari tujuh malam.

Untuk yang terakhir kali sebelum menjadi pasangan resmi, kamu hanya ingin bertemu dengan sang pangeran. Lagipula ia bilang ada beberapa hal yang ingin disampaikan sebelum hari pernikahan tiba. Pendar lembut candra menyapa kala kamu mengintip langit malam melalui jendela, cahayanya membias kemerlip pada hiasan kepalamu. Hawa dingin menerpa kulit, bahkan sarung tangan sesiku yang kamu kenakan tidak mampu menghalaunya.

Menit selanjutnya yang kamu tunggu hadir beberapa meter di balik punggungmu. Dia tidak bersuara, tidak memanggil namamu, gemeletap sepatunya tak pula menyusup di pendengaran. Tetapi kamu menyadari presensinya di sana, kamu merasakannya. Maka meneleng lah kamu menatapnya yang membuang muka ke arah yang berbeda. Kemudian kamu berbalik badan, mendekat ke arah Suga.

“Berdansa denganku?” tawarmu, meraih pergelangan tangan kirinya untuk dilingkarkan pada pinggulmu. Kamu memindahkan tangan kananmu pada bahu Suga, sementara tangan kirimu saling menggenggam dengan tangan kanannya.

“Berdansa bukan keahlianku. Berapa kali aku harus mengatakannya?”

Tak menggubris apa yang ia katakan, kamu hanya aktif bergerak, memutar badan di bawah lengan Suga yang enggan menggerakkan kakinya. Tak kamu temukan senyum di parasnya, pria dengan rambut kelabu itu menatapmu dingin seperti biasa. Minim ekspresi. Min Suga senantiasa memberimu kesan bahwa ia membencimu, tetapi juga peduli secara bersamaan.

“Mengapa kau tampak begitu bahagia?”

Kamu berhenti berdansa, membekap kedua pipinya dengan telapak tangan, menatap lekat-lekat setiap lekuk dari kontur wajahnya. Tiada henti mengagumi pesona pucat nan membekukan bak salju bulan Desember. “Karena kita akan menikah?”

“Kau bahkan terlihat lebih bahagia lagi dibanding kemarin.”

Kembali kamu berkelana mengitari sudut-sudur ruang ini dengan pandangan. Suga terus mengawasi gerak bola mata penuh antusias milikmu. Kamu bisa menggambarkan semuanya lagi dengan imajinasi; para bangsawan, aroma makanan dan minuman, lampu-lampu gemerlap, alunan saksofon dan biola, cinta, suka cita. Gadis mana yang tidak bahagia mengingat dirinya akan menjadi istri dari pria yang dicintainya dalam kurun waktu kurang dari sembilan jam lagi.

“Karena aku melihat apa yang tidak kaulihat, Suga.”

Suga bergeming. Ia mengarahkan pandangan pada sepasang iris matamu, namun agaknya pandangan itu kosong. Suga tengah memutar otak, ia berpikir bagaimana ia harus memulai, menjelaskan padamu apa yang sebenarnya terjadi, apa yang seharusnya ia lakukan untuk membuatmu mengerti.

Kamu sendiri tidak tahu-menahu apa yang tengah berkecamuk dalam pikiran pria cantik ini. Bagimu dia adalah sosok yang misterius dan tak mudah ditebak, namun satu hal yang paling kamu pahami dibanding orang lain, adalah bahwa yang perlu dilakukan agar bisa tetap bersama orang seperti Suga adalah dengan berhenti menjadi penasaran. Kamu hanya perlu berada di sisinya, mencurahkan segala afeksi dan atensi, tanpa berantisipasi terlalu banyak akan respon darinya.

“Mengapa kau mempertanyakan itu?” kamu balik bertanya seraya menurunkan tangan dari pipinya ke lehernya.

Pangeranmu memalingkan wajah. Kini kalian berdua bertukar peran, Suga yang menyapukan pandang ke seluruh ruang, dan kamu yang mengawasi mimiknya. Dia berbeda denganmu yang menatap dunia penuh gairah, alih-alih, alisnya sedikit mengerut. Sebab di mata pria itu, segala yang tampak bukanlah damai harmoni.

‘’Karena aku melihat apa yang tidak kaulihat. Kau tahu…”

The echoes are gone in the hall. But I still remember, the pain of December

Darah di sekujur pedang tak bertuan. Hawa nyeri. Air mata dan duka lara.

‘’…terkadang untuk melihat apa yang nyata, kau hanya perlu membuka mata, sayang.”

Kamu tertawa, mencolek hidungnya gemas, menjadikannya kembali terfokus kepadamu dengan tatapan menghakimi, dia mencibirmu yang justru merasa tidak tahan untuk menggoda padahal ia tidak sedang bertingkah imut di depanmu. “Dia memanggilku ‘sayang’! Kau dengar, wahai dunia, pangeran Min memanggilku dengan sebutan yang manis! Aduh hatiku.”

“Hey.”

Dia mencoba untuk menghentikanmu. Ini memerlukan beberapa ‘hey’ lebih banyak untuk menstabilkan emosimu yang terlanjur melayang dibuatnya. Maklum saja, kekasihmu ini tak pernah berubah bahkan sejak kalian masih kanak-kanak. Kendati selalu bersama, mendapati panggilan-panggilan sayang semacam itu dari seorang Min Suga adalah sesuatu yang langka.

Oh, Dewa Eros. betapa berhasratnya kamu ingin memiliki orang ini untuk selama-lamanya.

Kamu lingkarkan sepenuhnya kedua lengan pada perut Suga, menikmati hangat tubuhnya menembus kain pakaianmu dan merambat ke permukaan kulit, mengapresiasi melodi teratur dari detak jantung serta embus napasnya, menghisap wangi badannya. Menjiwai kehadiran Min Suga dalam dekapanmu. Kamu mengasihinya, tak terhitung seberapa banyak.

“Menurutmu,” Suga berbicara, “ini tahun berapa?”

“Hm… seratus enam belas?” jawabmu, cukup yakin dengan itu.

“Percaya, tidak, kalau kubilang sesungguhnya usia bumi seribu sembilan ratus tahun lebih tua dari yang kaupikir?”

Kamu tergelak kembali, “Mungkin,” katamu sebelum melanjutkan tawa sembari merenggangkan pelukan sehingga kalian bisa saling bersimuka. Meski kelakarnya tidak selucu itu, kamu hanya harus tertawa pada leluconnya. Barangkali dengan begitu kamu bisa mengambil posisi pada, sedikit saja, ruang dalam hati Suga. Barangkali.

“Bisakah kau berhenti menjadi terlalu bahagia?!” tandas Suga memutus tawamu. Ada kemarahan di balik getar pita suaranya. “Bisakah kau berhenti berlagak seolah-olah segalanya baik-baik saja?” intonasinya merendah kini. “Bisakah kau berhenti mengikat diri pada malam yang sama dan menerima kenyataan bahwa—”

Secara gradual, kehangatan tubuh priamu memudar, entah kemana enyahnya. Kamu menyaksikan bibir Suga yang merona layaknya rasberi perlahan mengering dan lebih pucat dari kulitnya. Detak jantungnya berubah menjadi nyanyian senyap nan kelam. Kedua tanganmu melemas, dengan sendirinya merosot turun hingga sampai di dada Suga, gerakan tangan itu terhenti oleh gagang anak panah yang menancap tepat di bagian jantungnya.

“—bahwa kita sudah meninggal.”

Dengan telapak tangan bersimbah darah itu kamu melangkah mundur, memutar badan membelakangi Suga. Tanpa kamu sadari, gaun terbaik yang kamu kenakan berubah warna menjadi merah pekat. Bukan hanya akibat darah Suga, itu lebih kepada darahmu sendiri, darah itu mengucur deras dari vena yang terputus di bagian lehermu.

Seluruh tubuhmu bergetar hebat tatkala kamu tenggelamkan muka pada telapak tangan. Tak lagi kamu indahkan riasan wajah—yang pada dasarnya memang telah lenyap sejak dahulu kala, kamu izinkan tanganmu yang penuh cairan anyir itu mengotori paras ayumu. “Aku ingin sekali menikah denganmu, Min Suga,” ungkapmu putus asa, dengan suara goyah tak mampu mengehentikan isak tangis.

Malam sebelum hari pernikahan. Yang ingin pangeran Min Suga sampaikan kepada calon mempelainya adalah bahwa ia hendak membatalkan pernikahan, Suga hanya tidak bisa menikah dengan gadis yang tidak dicintainya. Akan tetapi pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak pergi. Ia lebih memilih untuk membatalkan pernikahan yang telah dirancang oleh kedua kerajaan sejak kelahiranmu ini secara mutlak dan instan; Suga membunuh mempelai pria, membunuh dirinya sendiri.

You came back to find I was gone. And that place is empty, like the hole that was left in me.

Dua puluh empat jam selanjutnya, dengan sukma yang tak lagi menyatu dengan raga ia datang kemari, mencarimu, mencari tahu apa yang terjadi denganmu dan segalanya di kerajaan ini setelah kematiannya. Tempat ini sunyi tanpa adanya pesta, tentu saja, namun yang ia dapatkan lebih buruk dari itu. Ini bukan bagian dari ekspektasinya untuk melihatmu disalahkan atas kematiannya. Ia berpikir semua yang dilakukannya hanyalah bunuh diri, ia tak tahu bahwa pada akhirnya ia menimbulkan peperangan yang membunuh banyak, banyak sekali orang, bahkan termasuk dirimu.

Dia tidak mencintaimu, tetapi dia peduli padamu. Ini melukai perasaannya ketika malam itu dilihatnya dirimu—arwahmu tersenyum menyambut kedatangan Suga, dengan bunga-bunga imajiner bermekaran di sekitarmu kamu membicarakan tentang pernikahan.

Malam-malam selanjutnya, melewati beribu-ribu pergantian musim, Suga tak bosan jua mencarimu di tempat yang sama. Berintensi mengingatkanmu perihal kebenaran, tetapi Suga merealisasi bahwa kamu hanya menolak untuk membuka mata. Senyummu tak lebih dari sekadar ilusi yang tewujud oleh cinta serta impian yang menjauh dari gapaian tangan.

I’m sorry, it’s too late.

‘’Maafkan aku,” sesalnya, “Maafkan aku yang meninggalkanmu, lalu dengan lancangnya kini aku… Aku tahu ini terlambat. Tapi aku tak ingin lagi jauh-jauh darimu. Dan jika kau mau membebaskan jiwamu, berhenti mengkokot diri pada kebahagiaan semu dan menghadapi realitas bersamaku,” dia mengulurkan tangan ke arahmu yang membelakanginya, “maka berbaliklah…‘’

Kamu melepas tutup wajahmu dan menggulirkan tatapan ke arahnya. Dalam bayangan halus nan pucat itu ia tampak demikian rapuh dan emosional, bukan seperti Min Suga yang selalu kamu kenal. Kamu tahu kesalahan apa pun yang ia perbuat takkan pernah seujung kuku pun menghapus perasaanmu terhadapnya.

“…dan datang kepadaku. Aku mencintaimu.”

I’ve said goodbye, set it all on fire
Gotta let it go, just let it go

Ini menyakitkan bagimu, tetapi kamu paham bahwa hanya Min Suga yang kamu butuhkan. Maka berlarilah kamu pada pelukan serta lumat bibirnya. Suga menarik tengkukmu, mengunci kepalamu agar tak lepas dari kepalanya. Ini adalah ciuman pertama dari pangeranmu sejak seribu sembilan ratus tahun terakhir. Dan ini adalah ciuman paling hangat, paling dalam, paling tulus yang pernah seorang Min Suga berikan kepadamu sepanjang masa.

Kamu memejamkan mata sepanjang ciuman kalian, barulah setelah tautan bibir itu terlepas dan kamu buka netramu kembali, kamu menemukan kilau basah di bawah kedua mata Suga. Dia meremas tangan kananmu yang ia tempelkan di pipi, merilis kepedihan yang selalu tertahan di belakang mimik datarnya. Ia tumpahkan seluruhnya melalui air mata.

“Andai saja aku jatuh cinta kepadamu beberapa ratus tahun lebih cepat.”

Kamu berjingkat, demi memperdekat wajahmu dengannya, kamu terpaku pada bentuk ekspresi yang tak pernah Suga tunjukkan di depan rakyatnya, bahkan tidak pada keluarganya. Sampai-sampai untuk berkedip pun kamu lupa caranya, hatimu mencelus terlalu dalam setelah Suga membuat wajah seperti itu.

Kamu pertemukan dahi serta ujung-ujung hidung kalian. “Suga,”

There’s only one thing left here to say: Love’s never too late.

“Bahkan setelah ribuan tahun, aku masih menunggumu mengatakan ini. Kutahu segalanya telah tiada kini, namun satu hal yang masih tersisa, yang harus kau tahu, Suga: Cinta tidak pernah terlambat.”

I let it go and now I know a brand new life, this tale is rude.

Suga tumbukkan kembali tepi mulutnya dengan milikmu. Sementara itu, dinding-dinding ruang dansa dimana kamu dan dia berada meruntuh, kastil yang selama ini kamu tinggali melapuk dan tumbang tak bersisa. Setiap butir salju yang sempat mengkristal seketika terbang, kembali ke langit dalam bentuk uap.

Keheningan malam berubah menjadi hiruk-pikuk metropolis yang ramai oleh aktivitas manusia dan kendaraan bermotor. Kendaraan-kendaraan yang bergerak dan menembus ruh dirimu dan Suga, sebab pengendaranya tak mampu melihat ada sepasang putri raja dan pangeran tengah memadu asmara di tengah jalan.

I’ve broken free from those memories.
I’ve let it go, I’ve let it go
♫ And two goodbyes led to this new life.
♫ Don’t let me go, don’t let me go

Selamat tinggal hari pernikahan, selamat tinggal era seratus enam belas masehi.
Selamat tinggal kehidupan.

“Tuan Putri, apa sekarang kau melihat apa yang hamba lihat?”

Bulu matamu masih basah, tapi tawamu pecah. Konyol jika memikirkan tentang dirimu yang berpelukan dengan makhluk gaib. Suga adalah sosok hantu, sama sepertimu. Kematian merupakan sesuatu paling gelap yang terjadi dalam segala bentuk kehidupan, namun selama kamu masih bersama pria ini… “Tidak terlalu buruk, Pangeran Min.”

Kamu mengusap kedua pipi pucatmu yang basah. Kemudian berganti pipi Suga yang kamu keringkan dengan tangan. Darah-darah amis itu telah tiada, seiring dengan kamu yang merelakan segalanya untuk tertinggal jauh di belakang. Semuanya hanya masalah presepsi. “Apa ini tahun dua ribu enam belas? Aku tidak tahu akan bertemu banyak sekali kereta-kereta besi yang melaju bagai kilat.” Kamu melengak-lengokkan kepala ke sekitar, “Kau harus mau temani aku menjelajahi kota ini!”

Giliran tawa Suga yang terpecah, mengetahui semangatmu yang telah kembali. Manis sekali. Suga ingat sekitar seribu tahun yang lalu, ia ingin sekali menunjukkan padamu betapa cantiknya kembang api yang tumpah pada latar gelap cakrawala, tetapi kamu tidak bisa melihatnya. Seratus tahun yang lalu Suga ingin menunjukkan padamu benda bernama radio yang bisa memunculkan suara orang atau musik dari jarak jauh, tetapi kamu tidak bisa mendengarnya.

Tentang kendaraan bermotor, atau kereta besi katamu, atau kuda besi menurut Suga saat pertama kali melihatnya, ia ingin menunjukkan itu padamu sejak tahun 1952, tetapi itu mustahil. Sebab secara presepsi kamu masih terperangkap di dalam kastil dan ruang dansa dimana kamu dibunuh seorang prajurit dari kerajaan Min Suga.

Where it’s right, you always know
♫ So this time, I won’t let go

Dia mengeratkan pelukannya pada tubuhmu, membenamkan wajah ke ceruk lehermu. “Untuk kali ini,” ujarnya, “Jangan pernah lagi kau melepasku. Tolong jangan pernah mengizinkanku kabur dari takdirku, bersamamu, untuk yang kedua kalinya,” lirih Suga, permohonan paling seksama.

“Aku tidak akan melepasmu. Maka dari itu, jangan melepasku.”

Won’t let you go, don’t let me go

***

Author’s Note (June 3rd 2016)

Sedang kecanduan lagu ini. Entah apa karena masih belum move on sama “Willa” (cerpen karya Stephen King), yang saya tangkap dari lagu ini adalah kisah horor antara sejoli yang telah tiada -___-

Mah, ngomong-ngomong terima kasih sudah membaca X)

2 thoughts on “[VIGNETTE] Eternity”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s