Imaginary Squad

 

imaginary-squad

Imaginary Squad

A story by Elisomnia

|| Cast: [Astro] Yoon Sanha, [IOI] Jeon Somi, [IKON] Jung Chanwoo, [Ulzzang Kid] Cristina Fernandez Lee, a Girl as Aku | Genre: AU, Friendship, Mistery, Suspense, little bit Horror | Rating: PG | Duration: Ficlet ||

.

.

You think I’m crazy… wait until you meet them!

.

.

©2016

.

.

.

“Dasar tomboy! Apa dia tidak punya aksesoris lagi?”

Jeon Somi memang begitu, ia sangat memperhatikan penampilannya. Kerap kali ia meminjam barang-barang milikku untuk mempercantik dirinya yang––kuakui––memang sudah cantik. Gadis itu memiliki bola mata hitam yang indah. Rambut sebahunya yang lurus dan sewarna madu menjadi kesukaanku. Walau tampangnya sedikit cuek dan sering mengomel, tapi saat gadis itu tersenyum percayalah wajahnya akan berkali-kali lipat lebih manis dari permen kapas. Oh, dan jangan lupakan kulitnya yang seputih susu itu, aku pernah tidak sengaja menyenggol tangannya, benar-benar lembut. Sanha yang memperkenalkanku padanya, ia bilang wajah kami mirip.

Gadis bergaun merah muda itu tak henti-hentinya menggerutu. Beberapa anak rambutnya terjuntai saat ia membungkuk ke kolong meja belajarku. Oh ayolah Somi, berhenti mencuri barangku. Ingatlah kalungku yang kau hilangkan tempo hari.

“Ah, aku menemukannya!”

Serunya dengan wajah berseri sambil menenteng dua buah gelang berbeda motif dengan gradasi warna di kedua sisinya. Oh tidak, itu gelang pemberian bibiku.

“Kak Chanwoo, menurutmu mana yang lebih bagus?”

“Semuanya bagus.”

Seseorang yang sedang membaca komik diatas kasurku itu menjawab sekenanya. Jung Chanwoo sangat pendiam dan tidak banyak bicara. Sikapnya yang kelewat tenang membuatku berpikir bahwa dia baik-baik saja, hingga aku mengetahui satu hal bahwa dia sedang patah hati. Itulah sebabnya aku jarang melihatnya akhir-akhir ini. Bahkan di atap sekolah yang merupakan tempat pertemuan pertama kami juga tak kutemukan eksistensinya. Cintanya yang tak terbalas pada salah seorang sahabatku membuatnya benar-benar rapuh. Namun syukurlah, berkat bujukan Cristina dia akhirnya mau bangkit dan berkumpul bersama di kamarku.

Cih! Kau bahkan tidak melihat kemari.”

Somi membuang muka kesal. Chanwoo diam, ia melinting lengan sweater hitam berleher kura-kura miliknya sebatas siku saat dirasanya hawa mulai memanas akibat emosi Somi.

Kriettt… Bam!

“Maaf membuat kalian menunggu lama,”

Itu aku. Dengan kedua tangan menenteng kantong plastik besar aku berjalan ketengah ruangan. Kakiku gemetar dan tak butuh waktu lama aku pun ambruk, duduk bersimpuh diatas karpet bulu kesayanganku.

“Aku membeli banyak camilan, makanlah.”

Sanha bangkit dari tidurnya dan langsung merangkak mendekatiku, lebih tepatnya mendekati kantong  makanan yang aku beli. Begitu juga dengan Somi, ia mengambil sebungkus biskuit cokelat dan kembali duduk di meja riasku, bersolek.

“Chanwoo, kubelikan donat keju kesukaanmu, ayo makan.”

“Nanti saja, komik ini seru.”

Aku menghela napas pelan. Dasar Chanwoo! Jika sudah fokus pada sesuatu akan mengabaikan sesuatu yang lainnya.

Kurebahkan badanku sekaligus memejamkan mata. Berjalan ke minimarket sejauh lima ratus meter dicuaca sedingin ini benar-benar membuatku mati beku. Jika saja mereka tidak datang tiba-tiba lalu melempari jendela kamarku menggunakan batu, atau masuk begitu saja dengan melompati jendela, mungkin sekarang aku sedang tidur nyenyak. Namun, walau bagaimana pun, aku senang kami semua berkumpul disini.

“Sanha, semalam kau menyelinap ke kamarku dan tidur disampingku kan?”

Aku bangkit lalu menyender di kaki ranjang. Menggelindingkan sebotol susu pisang dengan kakiku sebelum akhirnya botol mungil itu  berpindah ke tanganku.

“Ap-apa?! T-tidak, mana mungkin!”

Tangannya yang hendak memasukkan segenggam keripik singkong terhenti tepat di depan mulutnya. Gurat kegugupan itu jelas kentara. Lihatlah wajahnya sekarang. Mata bulatnya melebar karena kebingungan. Bibirnya yang dihiasi sisa keripik terbata menyusun kata demi kata. Tak lama, semburat kemerahan muncul di kedua pipi pucatnya. Dengan gerakan cepat, ia menyapu tangannya yang penuh bubuk bumbu penyedap pada kemeja putih yang ia pakai.

Ew, itu menjijikan, Sanha. Kemejamu sudah penuh dengan bercak-bercak merah, tak perlu lagi kau menambahinya dengan bubuk bumbu keripik.”

“Lalu, aku harus membersihkannya dengan apa?”

“Pakai tissue!”

Kulempar wadah tissue kearahnya. Ia mengaduh saat wadah berbentuk katak itu membentur kepala berharganya. Setelah bergelut ditengah badai salju, tingkah Sanha barusan benar-benar membuat mood-ku berada di titik terendah. Maksudku, kami berbagi usia yang sama, namun kenapa otaknya bocah sekali?

Selain kekanakan, dia juga mudah cemburu, dan itu sangat menggangguku––awalnya. Dulu teman satu sekolahku pernah dikerjainya habis-habisan hingga terluka hanya karena ia tidak suka caraku menatap temanku itu. Ayolah San, siapa yang tidak mengagumi seorang pelajar setengah musisi yang pandai bermain gitar? Karena kejadian hari itu, aku melancarkan aksi mogok bicara padanya selama beberapa hari.

Oh, satu lagi. Yoon Sanha suka pelukan––atau memeluk. Pelukan tiba-tiba yang kerap ia lakukan selalu membuatku takut. Bulu halus disekitar leherku tak pernah tak berdiri saat lelaki tinggi itu memelukku dari belakang––kebiasaannya. Dengan tinggi diatas rata-rata seperti itu aku selalu mengira bahwa dia adalah paman mesum berjas pink norak di ujung gang yang sering menculik gadis sekolah menengah untuk diajaknya kencan. Oleh karena itu, terkadang tubuh Sanha memar sesaat setelah ia melingkarkan kedua tangannya dipinggangku. Tidak ada salahnya waspada kan?

Akan tetapi, aku agak merasa kasihan padanya. Tak jarang pula kudapati ia tengah duduk menyendiri dan melamun. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu. Awal pertemuan kami adalah di sebuah tanah lapang yang terletak tak jauh dari rumah Sojin, temanku. Hari itu, kulihat dia sedang duduk termenung diatas tumpukan rongsokan bekas bahan bangunan dan langsung tersenyum senang saat melihat kehadiranku ditempat itu. Apa mungkin selama ini dia kesepian?

“Sudahlah San, mengaku saja.”

“Atau Crist yang akan menceritakan semuanya.”

Desakan Somi dan Cristina terdengar silih berganti.

“Ya Crist, ceritakan semuanya pada kakak––Oh Ya Tuhan, apa yang kau lakukan disitu?!”

Mataku terkunci pada sosok Cristina yang bergantungan ria pada barisan teralis besi di jendela kamarku. Tubuh mungilnya melompat dari jendela kanan menuju jendela kiri lalu berayun menggunakan gorden untuk kembali ke jendela kanan. Gaun putih kedodorannya bergoyang sesuai irama yang ia ciptakan.

Gadis polos penuh tingkah yang pernah kukenal. Senyumnya manis dan tawanya menyegarkan. Aku berjumpa dengannya yang sedang bermain ayunan di sebuah taman bermain. Saat itu dia dingin sekali, tatapannya tajam saat pertama menatapku, itu menakutkan. Namun aku tak menyangka ia akan bertransformasi menjadi gadis kecil yang ceria seperti sekarang.

Ya! Chanwoo, jangan terlalu intim bercumbu dengan komik itu! Kau tak lihat adik kecil kita berayun-ayun diatasmu? Cepat turunkan dia!”

“Kenapa harus aku?”

Hah? Apa? Kenapa harus dia? Dasar Jung Chanwoo tidak peka! Dia bahkan masih bisa membalik halaman komik dengan begitu santai.

“Karena kau yang paling dekat dengannya, Chan. Ayolah cepat, atau kumakan donat kejumu!”

“Jika kau lakukan itu maka persahabatan kita putus.”

Sial! Lagi-lagi ia menggunakan alasan klise seperti itu. Dia selalu tahu kelemahanku.

God, harus kukatakan berapa kali bahwa persahabatan adalah hal sakral bagiku. Ah, lupakan itu! Sekarang bantulah adikmu, dia bisa jatuh.”

Masih dengan ketenangan yang menyelimuti dan fokus yang tertuju pada buku bergambar ditangannya Chanwoo menjawab, “Tenanglah, dia tidak akan jatuh. Kalau pun jatuh, dia pasti baik-baik saja kok.”

Kalimat Chanwoo barusan menyentil urat kecil di otakku, aku seakan baru tersadar dari kehebohan yang baru saja terjadi. Benar juga, Cristina adalah gadis yang kuat. Gravitasi bukanlah tandingannya.

“Jangan khawatirkan Crist, Crist sudah biasa dengan ini. Kak Sanha mau ngomong, tuh.”

Aku tersentak dari lamunanku dan seketika menoleh ke arah Sanha.

“A-aku mengaku, aku memang selalu menyelinap kemari setiap malam.”

Seolah melupakan Cristina, perhatianku terpusat pada Sanha sepenuhnya. Seolah melupakan kepanikan yang baru saja melanda, rasa jengah menguasai tubuhku sepenuhnya. Uhh, ada apa denganku malam ini? Mudah sekali berubah mood.

“Itu semua aku lakukan semata-mata karena ingin selalu dekat denganmu.”

“Sanha please, kita selalu bertemu setiap hari, okey?”

Sanha menggeleng, “Tidak hanya setiap hari, aku ingin berada di dekatmu setiap saat.”

Oh Ya Tuhan.

Aku melirik sinis ke arah Chanwoo yang tiba-tiba melantunkan ‘ooo’ bervibra aneh dengan raut menyebalkan khas orang kasmaran. Wajah dinginnya yang berubah menggelikan jelas membuatku kesal. Tolonglah kalian semua jangan mengaduk-aduk perasaanku malam ini.

Dan untukmu San, berhentilah membuatku melayang!

“Kenapa? Tidak boleh ya?”

Wajahnya memelas. Entah itu disengaja atau tidak tapi wajahnya benar-benar terlihat suram sekali. Aku tak tega saat bibirnya semakin melengkung dan hendak menangis.

“B-boleh kok.”

Sial! Kenapa aku mengatakan itu? Untuk apa pula aku mengizinkan seorang lelaki tidur disampingku? Dasar gila!

Aku merasakan pipiku memanas sekarang. Oh, aku benci situasi seperti ini. Kusambar apapun yang ada di dekatku––kebetulan saat itu ada wafer cokelat. Tanpa perduli milik siapa langsung kulahap semuanya ke dalam mulutku. Ayolah, bersikap biasa saja, jangan terlihat seperti orang yang sedang––

“Salah tingkah, tuh!”

Jung Chanwoo sialan! Kusumpal mulutnya menggunakan kaus kaki Sojin baru tahu rasa.

“Eh, Kak? Itu kan waferku?”

Seru Crist sedetik setelah aku menelan gigitan kedua.

“Sungguh?”

Kudengar Chanwoo berdecak lalu mencibir. Sedangkan Sanha dan Somi berusaha sekuat tenaga menahan tawa mereka.

“Iya, itu waferku. Ah! Kakak ini bagaimana sih? Kembalikan waferku!”

“Iya iya, kakak minta maaf. Nanti kakak ganti saja, mau ya?”

“Tidak mau. Cepat kembalikan.”

“Eh, tunggu tunggu. Hati-hati Crist-ah.”

Bruk!

“CRISTINA!”

Kakinya terpelintir akibat celah yang ditimbulkan bingkai foto dan buku-buku pelajaranku sehingga tubuhnya limbung dan menghantam lantai kayu dengan cukup menyakitkan.

Brak!

Pintu kamarku dibuka dengan begitu keras oleh seseorang. Kulihat ibuku berdiri disana menunjukkan tatapan menyeramkan dengan lingkaran hitam menghiasi kantung matanya. Oh, tidak!

“Sudah malam. Tidurlah dan jangan bersisik!”

Ibu berbalik dan tak lupa menutup pintu kamarku dengan keras membuatku berjengit kaget. Meninggalkanku dalam kesendirian di ruangan persegi yang kusebut kamar.

Benar, ibuku tidak bisa melihat mereka, teman-teman arwahku.

Jadi, apa kalian punya teman imajinasi?

end.

halo, elisomnia here, bisa dipanggil elis🙂
aku baru disini jadi mohon kerjasamanya ya
terimakasih dan salam kenal semua😀

13 thoughts on “Imaginary Squad”

  1. Hai Elis! ^^
    First, aku mau ngucapin selamat telah bergabung menjadi keluarga ifk yaa 🎉👏 Panggil aja aku Juls dari garis97l hihi salam kenal 😊
    Dan ini untuk pertama kalinya aku baca tulisanmu so mari mereview!

    Waktu aku baca cerita aku pasti baca genre dan WOW MY FAV HORROR, MISTERY, SUSPENSE 😘 Tapi waktu baca dari awal ke tengah kok aku agak bosen (so sorry say) maksudnya aku gak nemu hal berbau ‘mistis’ di dalemnya sampe sempet mikir “Mana hantunya?” dan finally … TWIST NYA KECEE HUHU AKU LANGSUNG MERINDING HAHAA TEMEN HANTU OH MAI AKU BISA APA 😂
    Eksekusi awal udah bagus cuma rada panjang aja dan ngebosenin. Coba km pendekin dikit dengan twist gitu pasti seru 😊
    Overall oke cuma nemu satu typo yg tertangkap ‘kekusakaanku’ mungkin maksudnya ‘kesukaanku’ kali ya 😂

    Semangat Elis! Aku tunggu karyamu selanjutnya~
    Jangan pernah bosen liat aku yg mungkin akan mampir ke lapakmu berikutnya 😘
    Dan maaf soal reviewnya, aku harap km gak kecewa dan nganggep aku menggurui 😢

    Salam hangat,
    Juls.

    Disukai oleh 1 orang

    1. halo kak Juls, aku dari garis dua ribu, salam kenal :)))
      jujur, waktu aku liat ini komen panjang banget aku langsung tarik napas xD
      iya, niatnya mau nyeritain dulu gitu karakternya satu per satu tapi ternyata karakternya banyak dan ya jadinya panjang hehehe. duh duh duh typo ya, nanti aku benerin deh, makasih kejelian matamu kak :))
      hahaha gapapa kak, sering sering mampir aja terus aku malah seneng. makasih ya untuk reviewnya, ini sangat membantu. terimakasih juga sambutan hangatnya🙂

      Suka

  2. Kak eliiiiii!
    Pertama, aku ngucapin halo buat kak eli dan salam kenal!^^ Aku kimnamie, dari garis 02!

    WOW! BAYANGIN AKU JADI SI ‘AKU’ INI ADALAH APA YANG AKU LAKUKAN! Dan kenapaaaa harus Sanha yang bagiku super kiyuuutt tak tertahankan! ><

    Well well, kuterkejut pas nemu akhirnya! Arwah? Kalau temen arwahnya jenisnya ganteng ada, imut ada, cantik ada gitu aku mau dong yaa!😄

    Overall, aku nemu satu kejanggalan(?) hehe. Ada kata 'disana' yg sukses lewat seleksi kejelian mataku wkwk. Setauku sih 'di' sama 'sana'-nya dipisah yaaa, kak hehe.

    Finally, keep writing kak eliiiiii. Salam dari aku, kimnamie^^

    Disukai oleh 1 orang

    1. hai Namie~ *eh, boleh kan panggil gitu?*
      karena sanha itu yang cocok banget karakternya sama si ‘anu’ *oops
      wah, makasih koreksinya, sangat membantu! ^^
      oh iya, salam kenal juga🙂

      Suka

      1. Sipp, kak el. Noprob kok hehe
        Dan si ‘anu’-nya ini seolah aku yg meragain hehe. Delu memang lol
        Sama-sama, kaaakkk^^ Senang bisa membantu^^
        Yap!^^

        Disukai oleh 1 orang

  3. Halo ell /dih sok kenal/
    Aahah salam kenal oy!
    Aku salah satu author tetap yang paling ngga aktif di sini. Sekali ngeposting hiatus. Posting hiatus. Dan ngga tau kapan kebiasaan buruk kek gitu berakhir.😦 malu maluin dah pokonya. Kamu jangan kek aku ya :”( oiya kenalin aku Sal. Panjangnya Sallllll. Yodah pokonya panggil Kak Sal aja soalnya aku lebih tua dari kamoeh (98L) Wkwk //tua tua bangga//

    Oiyaa selamat ya udah jadi bagian dari keluarga ini. Semoga kamu bisa ngebalikin IFK ke jaman kejayaan dulu. //aamiin//

    Ini first post kamu kan? Uhuyy!! Selamat lagi!!!

    Hmm aku mo koreksi maaf kalo salah. Entahlah bener atau engga. Atau emang mataku agak burem tapi kayanya aku nemu kata “bersisik” yg harusnya “berisik”. Untung aku ngga salah paham. Hehe

    Untuk keseluruhan udah bagus. Cuma aku udah bisa nebak sih kalo perkumpulan itu sebenarnya ngga ada. Tapi gapapa. Tulisanku juga kaga semua unpredictable. Malah kebanyakan predictable. Wkwk no probs. Masi muda kamu masih banyak waktu buat belajar. Jangan sampe nyesel kaya saya yaa.

    Love

    Sal ♡

    Suka

  4. Hai hai.. salam kenal elis.. aku reader baru nih *baru muncul.. hehe. Aku 97 line *tua ya

    Kok aku berasa merinding dengan endingnya.. wihhh denger kata ‘arwah’.. Memang agak aneh juga kenapa Sanha selalu nyelinap ke kamar, apalagi tiap malem.. gimana caranya kan? dan akhirnya ituloh menjelaskan semuanya. Pokoknya good lah, setelah sekian lama ga baca fanfic, pas baca lagi dapet genre horror.. hihi

    Ditunggu ff selanjutnya😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. halo, makasih sudah baca dan sempetin komen ya kak Destria🙂
      nah itu, nyelinap ke kamar anak gadis di tengah malam emang nggak takut diamuk emaknya? whahaha xD
      oke, ditunggu aja ya🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s