Sebuah Perkenalan

2680fac4fa6bf97b062db2a0b92ad02d

Sebuah Perkenalan

By

Elisomnia

.

Starring: Blackpink’s Lalisa Manoban a.k.a Lisa & Jennie Kim, and OC

AU!, Comedy, Friendship, School Life | General | Ficlet

.

Based on true story

.

“Bukan tanpa alasan aku berkenalan denganmu.”––Lisa

.

.

.

Pertengahan tahun, bertepatan dengan masuknya musim penghujan di Korea. Halaman SMP Sowon dihiasi rumput-rumput basah dan genangan air bekas hujan tadi pagi. Angin kencang layaknya burung yang sedang migrasi berbondong-bondong menggoyangkan dedaunan pohon sansuyu di dekat area parkir. Bunyi bergesek antar ranting menjadi alunan melodi lembut tiga hari terakhir ini. Lengkap dengan suhu sejuk yang melebihi rata-rata, membuat setiap murid harus merapatkan jaket tebal mereka.

Sekarang sudah pukul sepuluh lewat tujuh, dan bel tanda istirahat telah berbunyi dua menit yang lalu. Sepasang kaki berbalut sneakers hitam menyusuri koridor sekolah terbaik di Incheon itu dengan santai. Salah satu tangannya ia masukkan ke dalam saku rok kotak-kotak selututnya. Sedangkan yang satu lagi sibuk menjentik ringan sesuai dentuman musik hip-hop dari group band favoritnya yang terdengar melalui earphone yang menyumpal kedua telinganya. Postur tubuhnya yang terbilang kurus membuatnya tenggelam diantara kerumunan para siswa yang berlomba-lomba menjangkau kantin.

Gadis bersurai kuning itu bernama Lisa. Gadis tinggi berwajah manis yang tingkah lakunya jauh dari ekspektasi kata ‘perempuan’. Ia membenci segala sesuatu yang keperempuan-perempuanan. Dia membenci pink. Hot Wheels adalah cinta pertamanya. Dan sejujurnya, jika disuruh memilih, ia akan memilih celana daripada rok, bahkan ia tidak memiliki sebuah rok––selain rok seragam sekolahnya. Ya, dia tomboy.

“Hai Lis, kemarin kau keren sekali.” Seorang gadis tinggi berkucir kuda menyapanya kala mereka berpapasan di depan kelas 8-2.

“Ya, tidak ada satupun pukulanmu yang meleset dari sasaran.” Imbuh teman gadis tinggi tadi.

Lisa tersenyum miring, ia tahu mereka sedang menyinggung pertengkarannya dengan Taeyong hari Selasa lalu. Taeyong adalah mantan ketua kelas di kelasnya. Lelaki tinggi berumur empat belas tahun dengan rambut sewarna mahoni tua yang memiliki predikat sebagai murid paling nakal dan jahil di SMP Sowon. Tidak mengerjakan PR, datang terlambat, selalu tertidur dikelas, dan nilainya tidak pernah lebih dari rata-rata, hal-hal itulah yang menjadi rutinitas Taeyong––walau Lisa juga sering begitu sih, kecuali opsi terakhir. Jika saja Taeyong tidak menumpahi tugas seni rupa yang sudah susah payah Lisa kerjakan semalaman dengan cat biru mungkin pertengakaran itu tidak akan terjadi. Karena Lisa merupakan tipe orang yang mudah tersulut emosi jika sesuatu yang dianggapnya penting hancur begitu saja, apalagi ditangan orang lain.

Lisa masih terus berjalan hingga tungkainya berhenti di depan kelas 8-4. Tangannya terangkat untuk melepas earphone yang masih melekat di telinganya lalu memasukkannya ke dalam saku jas sekolahnya, bergabung dengan ponsel putihnya. Ia berjalan memasuki kelas itu saat didengarnya angin kembali berhembus kencang di luar sana. Tak dapat dipungkiri, sensasi dinginnya luar biasa.

Baru beberapa langkah berjalan ia dapat melihat Jennie––sahabatnya, duduk tenang di bangkunya dengan sebuah kertas sebagai fokusnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi Lisa untuk mengunjungi sahabatnya yang berbeda kelas dengannya itu, atau terkadang Jennielah yang mengunjungi Lisa di kelasnya lalu setelah itu mereka akan ke kantin bersama atau pergi ke tempat lain bersama-sama. Mendapatkan kelas yang sama saat kelas satu sekolah menengah pertama menjadi awal persahabatan mereka, dan kini sudah genap satu tahun empat bulan mereka saling mengenal satu sama lain.

“Sedang apa?” tanya Lisa sambil melangkah mendekati Jennie. Gadis dengan rambut sepunggung itu mendongak, “Oh? Sejak kapan kau disini?” Lisa mengedikkan bahunya pelan, “Barusan.”

“Apa kau sedang mengerjakan tugas?” ulang Lisa saat merasa pertanyaannya tidak digubris. Jennie menyingkirkan lengannya yang menutupi kertas keriput di mejanya sehingga Lisa dapat melihat goresan tinta tak beraturan yang membentuk sesosok pria bersayap. Gambar yang bagus, pikir Lisa.

“Sudah kuduga. Mana mungkin seorang Kim Jennie mengerjakan tugas?” Jennie terkekeh renyah, gadis itu sama sekali tidak merasa tersinggung.

“Kau tahu, aku baru saja ulangan matematika.” Lisa tidak langsung menanggapi, ia beringsut dan menjatuhkan pantatnya di tepi meja Jennie lalu menyandar ditembok, “Lalu?” Jennie menghela napas pelan sebelum melanjutkan, “Aku tertidur karena perkerjaanku sudah selesai, tapi Si Botak itu malah melemparku dengan penghapus. Beliau berkata bahwa tak seorangpun boleh tertidur di kelasnya, maka dari itu aku menggambar di bekas kertas coretanku.” Seketika, tawa Lisa pecah mendengar curahan hati Jennie. Mereka memang seperti ini, saling bercerita tentang apa yang sedang atau baru saja mereka alami. “Sudah kubilang kurangi kebiasaan begadangmu itu, karena kau sendiri yang akan rugi.” Lisa kembali terbahak bersamaan dengan Jennie yang mengumpat pelan.

Kisah demi kisah terus berlanjut, Lisa menceritakan bagaimana dia dan adik sepupunya terperangkap di gudang tua milik neneknya dan berhasil keluar berkat bantuan Paman Song––tetangga sebelah rumah neneknya. Jennie juga bercerita tentang ayahnya yang tak sengaja menemukan tumpukan kaset berisi lagu-lagu klasik di ruang bawah tanah rumah mereka, dan hal itu membuat ayah dan ibunya tak berhenti bernostalgia saat mendengarkannya.

“Hahaha,  aku juga pernah mengalaminya, saat itu…” ucapan Lisa berhenti saat dirasanya aroma harum menusuk indera penciumannya. “Kenapa berhenti?” pertanyaan Jennie bak angin lalu, sama sekali tak ia perdulikan. Kepalanya berputar, matanya menelisik seluruh penjuru kelas delapan-empat, mencari darimana asal aroma menggiurkan yang membuatnya lapar tiba-tiba seperti ini. Matanya terhenti pada seseorang yang sedang berdiri diambang pintu––tepat disampingnya. Anak laki-laki itu memasuki kelas 8-4 dan berjalan melewati Lisa menuju bangkunya yang terletak di dekat jendela.

Anak itu agak pendek, warna putih pucat yang tidak dimiliki oleh laki-laki Asia kebanyakan menyapu rata seluruh permukaan kulitnya, sinar matanya hangat, dan senyum manis selalu terpatri di wajah lebarnya. Tubuh tambunnya bergerak dengan susah untuk dapat menembus celah sempit antara meja dan kursinya sehingga menimbulkan bunyi berderit yang berisik.

“Kau ken––”

“Jennie, siapa dia?” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Lisa sudah memotongnya. Jelas, hal itu membuat Jennie sedikit kesal bercampur bingung.

“Dia? Dia yang mana?” Jennie mengikuti arah pandang Lisa dan menemukan teman satu kelasnya yang sedang memakan odeng di dekat jendela.

“Si gendut itu maksudmu?” Lisa mengangguk, sedangkan sahabatnya yang berada disampingnya berdecak pelan, “Oh ayolah, sudah empat bulan sejak masuknya tahun ajaran baru, dan kau belum mengenal siapa dia?” Lisa memutar bola matanya lalu menoleh ke arah Jennie berada, “Aku jarang melihatnya. Lagipula, siswa di SMP Sowon tidak sedikit, Jennie. Mana bisa aku menghapal wajah mereka semua dalam waktu singkat?” benar juga, untuk seseorang dengan otak berkapasitas kecil seperti Lisa akan sulit baginya untuk menghapal sesuatu dalam waktu sesingkat itu.

“Baiklah, namanya Darwin. Seperti yang kau lihat, dia adalah teman sekelasku. Apa itu cukup, Nona?”

Lisa mengangguk-angguk pelan tanda mengerti. Mata almondnya melirik arloji tosca yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.

“Cukup, terima kasih atas informasinya. Ngomong-ngomong, bel masuk akan berbunyi sebentar lagi, aku harus ke kelas.” Jennie menengadahkan kedua tangannya ke arah pintu dan menatap Lisa seolah berkata ‘Silahkan, pintunya sebelah sini.’

“Sebelum itu, lihatlah ini!” ucapan Lisa barusan membuat Jennie menaikkan sebelah alisnya. “Apalagi yang akan dilakukan anak itu?” gumam Jennie saat melihat Lisa berjalan kearah gerombolan anak laki-laki disudut kelasnya.

“Hai,”

Bocah laki-laki yang diketahui bernama Darwin itu menoleh, tangannya yang hendak memasukkan odeng kedalam mulut terhenti diudara. Iris bening itu menatap bingung gadis tinggi dihadapannya.

“Namaku Lisa, namamu siapa?” Darwin bungkam, masih merasa heran dengan gadis manis yang dengan tiba-tiba mengajaknya berkenalan seperti ini. Beberapa laki-laki di kelas itu juga ikut melirik kearah mereka berdua, seolah yang barusan itu merupakan adegan seru dari sebuah film drama. Dari jauh, terlihat Jennie yang menunjukkan ekspresi terkejutnya,dengan mata yang melotot dan mulutnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat lebih imut. Darwin kembali mengamati Lisa dari atas kebawah, hingga pandangannya jatuh pada uluran tangan Lisa yang sempat terabaikan akibat aksi diamnya yang cukup lama.

“Aku Darwin.” Dua dari anak laki-laki disekitar mereka bahkan menahan tawa saat melihat Darwin membalas uluran tangan Lisa.

“Hm, Darwin, bolehkah aku…” Lisa bimbang, antara harus mengatakannya atau tidak. Ia memilin ujung kemeja yang mencuat dari balik jas sekolahnya sambil berusaha mengumpulkan keberanian. Bocah laki-laki keturunan Eropa itu masih setia menunggu kelanjutan kalimat Lisa. Jennie yang tak mengalihkan pandangannya dari Lisa sedikit pun juga tengah menanti dengan hati berdebar.

“Bolehkah aku minta odengmu?” walau sedikit terkejut, namun jujur saja, benak Darwin tergelitik mendengar penuturan Lisa barusan. Jadi, dia berkenalan denganku hanya untuk meminta odeng? Batin Darwin berkata.

Lelaki itu mengulas senyum yang semakin lama semakin lebar hingga mengeluarkan tawa pelannya. Dia menyodorkan bungkusan odengnya kepada Lisa. Dengan wajah sumringah, gadis itu menerima dan mengambil satu tusuk odeng, sehingga menyisakan dua tusuk odeng di dalam kantong plastik. Persetan dengan rasa malunya yang menguar entah kemana. Perutnya benar-benar lapar saat ini, jarak kelas mereka dengan kantin pun terbilang cukup jauh, dan lagi, ia terlalu malas untuk berkeliaran dicuaca sedingin ini.

“kherimah khasih––terima kasih,” ucap Lisa tidak jelas karena mulutnya yang penuh akibat berhasil melahap satu odeng utuh yang telah dipisahkan dari tusuknya. Darwin mengangguk pelan sambil masih tetap tertawa. Seumur-umur, baru kali ini ia menjumpai gadis seperti Lisa.

Lisa berbalik dan berjalan ke arah pintu tepat saat bel tanda masuk menggema. Dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku rok, ia mengerlingkan sebelah matanya ke arah Jennie yang tak henti-hentinya memasang tampang lucu.

Masih tak percaya, Jennie terus memperhatikan punggung sahabatnya itu sampai hilang di belokan. Hingga ia sadar akan apa yang baru saja terjadi dan menggelengkan kepalanya pelan, gadis itu lalu tertawa geli sambil bergumam, “Kebiasaan.”

 

 

 

fin.

Halo!

Sebenarnya, fiksi ini merupakan tugas akhir semester mata pelajaran Bahasa Indonesia waktu aku masih kelas sepuluh. Aslinya nggak pake cast Korea, jadi ini udah aku rombak; ganti nama, latar, dan lain sebagainya.

Ya! cerita ini memang berdasarkan kisah nyata, dengan Lisa sebagai Aku. Cuma bedanya, waktu itu aku kenalan buat minta tahu bakso bukannya odeng😄 dan aku sama cowok itu sekarang satu sekolah lagi SMA nya :’) /stop! malah curhat/

Btw, nama aku sama Lisa hampir mirip lho -> Lisa – Elisa. itulah sebabnya aku pilih dia sebagai cast, juga karena karakternya cocok kali ya dengan perempuan macem aku yang ngaku perempuan tapi nggak perempuan-perempuan banget.

Oke, maaf cerewet kebangetan ehehe, minta riviewnya ya!

With Love,
Elis

2 thoughts on “Sebuah Perkenalan”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s