[1/?] The New Beginning

the-new-beginning-4

The New Beginning

a story by thelittlerin

.

Teen Top Changjo (Choi Jonghyun) | BAP Yoo Youngjae | 2PM Lee Junho | OC Kang Yeonhee

.

special appearance by

BAP Moon Jongup | BTS V (Kim Taehyung) | IOI Kim Chungha | BTOB Yook Sungjae | BTS Park Jimin

.

Romance | Friendship | Family | College-Life

PG-15 | Chaptered

.

Chapter 1 — Bad Girl Good Girl

you don’t know me well

only looking at my outward appearance

“Saat kamu bilang akan pindah ke Seoul, aku hampir dapat serangan jantung.”

Kedua manik Yoo Youngjae bertemu dengan manik milik gadis di hadapannya. Kening gadis itu berkerut, lantas seringai kecil muncul di wajahnya sedetik kemudian. Seakan memahami maksud di balik kalimat Youngjae barusan.

Eh, tidak. Bukan itu.”

Kening sang gadis kembali berkerut, hanya saja kali ini ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Youngjae. Dua pasang mata kembali bertemu, sepasang di antaranya mengisyaratkan agar yang lain cepat melanjutkan kalimatnya.

“Aku lebih terkejut saat kamu memanggilku ‘oppa’,” jelas Youngjae.”Coba kamu sering-sering memanggilku itu.”

Sebuah bantal dengan sukses menghantam tubuh Youngjae begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Sang gadis sepertinya tak sudi jika harus mengulangi perbuatannya sebulan yang lalu.

“Hanya dalam mimpimu, Youngjae-ssi.”

Yoo Youngjae hanya tertawa, sebelum kembali menyandarkan tubunya pada kusen pintu. Tidak ingin menginvasi area pribadi gadis itu—mereka masih terlalu canggung.”Bagaimana barang-barangmu?”

Yeonhee terdiam sejenak. Berusaha mengingat tanggal yang dijanjikan oleh perusahaan pengangkut barang. Pikirannya masih kalut beberapa hari terakhir ini, jadi ia tak yakin dapat memberikan jawaban pasti pada Youngjae.

“Kurasa akan sampai dalam minggu ini.”

“Kuliahmu?”

“Aku baru bisa masuk minggu depan, masih ada beberapa hal yang harus kuurus,” jawab Yeonhee. Kali ini ia tak perlu berpikir lebih lama untuk menyediakan jawaban. Ketika gadis itu mendapati Youngjae masih terdiam menatapnya, ia melanjutkan,”aku kuliah di kampusmu.”

Sinar terkejut menyambangi kedua manik Youngjae sekejap. Tetapi lelaki itu tidak bertanya apa pun pada Yeonhee, masih terdiam di ambang pintu kamar.

“Jadi, kenapa kamu pergi dari London, Yeonhee-ssi?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar. Yeonhee sendiri heran, mengapa Youngjae tidak menanyakannya begitu ia tiba di depan apartemen. Atau menanyakan alasan itu saat pertama kali Yeonhee mengutarakan keinginannya untuk pindah ke negeri kelahirannya. Youngjae hanya mengiyakan, hanya meminta Yeonhee untuk memberi tahu sang ayah.

“Anggap saja London memberikanku kenangan buruk.”

“Kamu….baik-baik saja kan?”

Yeonhee menundukkan kepalanya, jari jemarinya bermain satu sama lain. Benaknya masih menimbang-nimbang apakah ia harus menceritakan semuanya pada Youngjae atau tidak. Atau mungkin menimbang kapankah ia harus bercerita pada Yoo Youngjae.

Masih menundukkan kepalanya, Kang Yeonhee menghela napas panjang.

I hope I am.”

.

.

“Selamat siang!”

Belasan pasang mata serempak tertuju ke arah pintu. Menatap seorang lelaki berambut cokelat yang kini tengah tersenyum lebar ke semua orang. Namun hal itu tidak berlangsung lama, segera setelah semua mengetahui siapa lelaki itu, mereka langsung kembali pada aktivitas masing-masing. Bahkan tidak menyempatkan diri untuk membalas sapaan lelaki itu.

“Salah masuk kelas, Kim Taehyung?” tanya Jonghyun, saat Taehyung memutuskan untuk duduk tepat di sebelahnya. Jongup yang berada di sisi lain dirinya pun kini memandangi Taehyung heran, padahal Jonghyun yakin Jongup lebih memahami perilaku Taehyung hari ini.

“Tidak.”

Jonghyun mengerutkan dahinya. Lalu untuk apa Taehyung, mahasiswa jurusan Musik, masuk ke kelas yang diperuntukkan pada mahasiswa jurusan Tari?

“Kudengar ada mahasiswi pindahan ke jurusan kalian,” jelas Taehyung sebelum Jonghyun maupun Jongup sempat bertanya lagi.

Jonghyun bisa mendengar Moon Jongup menghela napas panjang.

Belum sempat Jonghyun merangkai kata-kata—bahkan ia belum memikirkan apa yang mau ia katakan pada Taehyung—pintu ruang kelas kembali terbuka. Kembali mengantarkan belasan pasang mata menatap ke arahnya.

Namun, kali ini ada satu sosok asing yang berdiri di ambang pintu.

Kini belasan pasang mata tadi tak serta merta mengalihkan pandangannya, sibuk memperhatikan sosok gadis itu dari tempat masing-masing. Berusaha mengenali wajahnya walaupun semua tahu, dialah mahasiswi pindahan yang menjadi topik hangat di kampus beberapa hari ini.

Gadis itu melangkah perlahan, menuju kursi kosong terdekat yang bisa dijangkaunya. Barulah kemdian semua orang melepaskan pandangannya, memilih untuk membicarakan gadis yang baru saja muncul di hadapan mereka.

Para gadis lain membicarakan penampilannya hari itu—kemeja denim, rok pendek berwarna putih, dan sneakers putih. Cukup sederhana jika mengingat kabar yang mengatakan bahwa gadis itu pindahan dari negeri lain—para gadis memperkirakan gaya yang lebih mewah.

Para lelaki juga tak kalah hebohnya. Beberapa tak sengaja memuji penampilan sang gadis terlampau keras, sampai-sampai yang lain yakin kalau mahasiswi baru itu mendengar perkataannya.

Nah, kamu sudah melihatnya, Kim Taehyung. Bagaimana?”

“Lumayan,” jawab Taehyung pendek. Namun jawaban itu sudah cukup untuk membuat Moon Jongup menghela napas lagi—untung saja ada Jonghyun yang duduk di antara mereka, kalau tidak, Jongup tidak yakin Taehyung akan selamat.”Aku duluan ya!” katanya lagi sembari menarik tas ranselnya ke atas pundak.

Choi Jonghyun mengerutkan kening,”kukira kamu mau masuk kelas ini.”

“Untuk apa? Ini kan bukan kelasku,” jawab Taehyung enteng, sebelum berbalik dan meninggalkan ruang kelas. Juga meninggalkan Choi Jonghyun dan Moon Jongup yang kini tengah memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

“Dasar,” umpat Jonghyun pelan.

“Jonghyun-ah,” panggil Jongup, mengalihkan perhatian Jonghyun.”Bagaimana kalau kamu bicara dengan anak itu? Kamu ketua kelas dan kelompok kita masih butuh satu orang lagi.”

Perkataan Jongup mengingatkan Jonghyun akan tugas kuliah mereka.

“Baiklah.”

.

.

Hey.”

Yeonhee tidak salah mendengar kan?

Perlahan, gadis itu menolehkan kepalanya, mendapati sesosok laki-laki bertubuh sedang tengah berdiri di dekatnya. Ekspresi wajahnya canggung, sama dengan suasana yang mengelilingi mereka berdua saat ini.

Hai.” Apalagi yang bisa dikatakan Yeonhee selain membalas sapaan laki-laki itu? Lagipula Yeonhee bisa merasakan orang-orang lain di ruangan ini sedang memperhatikan mereka diam-diam.

“Aku Jonghyun, ketua kelas di kelas ini.”

Ragu-ragu, Yeonhee menerima uluran tangan Jonghyun—tetapi, untuk apa Yeonhee ragu-ragu? Bukankah dia seharusnya senang ketua kelas mendatanginya terlebih dahulu?

“Yeonhee. Kang Yeonhee.”

Jabat tangan mereka terlepas dan Yeonhee bisa melihat kalau Jonghyun sedang memikirkan kalimat yang akan dikatakan padanya.

Hm, begini Yeonhee-ssi, apakah kamu mengambil kelas modern dance III?”

“Iya. Apa ada yang perlu kusiapkan?”

“Begini, ada tugas kelompok untuk kelas itu dan kelompokku masih kekurangan anggota. Apakah kamu mau bergabung dengan kami?”

Sebenarnya, Yeonhee tak perlu berpikir dua kali untuk menerima tawaran Jonghyun. Toh dia juga mendapatkan keuntungan dari penawaran ini—ia tak perlu repot-repot mencari teman satu kelompok lagi.

“Dengan senang hati.”

Kalau saja atmosfir di antara keduanya tidak secanggung ini, Yeonhee yakin Jonghyun sudah tersenyum lebar dan melompat kesenangan. Namun, alih-alih demikian, lelaki itu hanya tersenyum kecil dan menghela napas lega.

“Terima kasih,” katanya kemudian.”Jadi, kelompok kita terdiri dari 4 orang—termasuk aku dan kamu. Salah satunya adalah dia, Moon Jongup.” Ujung jari telunjuk Jonghyun kini mengarah pada sosok laki-laki berambut cokelat terang yang duduk dua baris di belakang Yeonhee.

Moon Jongup mengangguk pelan sembari melambaikan tangannya.

“Anggota yang satu lagi, namanya Chungha, tapi sepertinya dia tidak masuk hari ini.”

Yeonhee mencerna infomasi baru yang dia dapat dalam diam—sesekali mengangguk agar Jonghyun tahu bahwa ia sedang mendengarkan.

“Jadwal latihan setiap hari Selasa dan Kamis, dimulai pukul empat. Kamu bisa?”

“Jadwalku masih cukup fleksibel, tenang saja,” jawab Yeonhee.

Jonghyun tersenyum lagi.

“Baiklah, sampai jumpa hari Kamis, Yeonhee-ssi.”

.

.

“Bagaimana hari pertamamu?”

Pertanyaan itu hampir membuat Yeonhee menjatuhkan wortel di tangannya. Bukan pertanyaannya yang mengagetkan Yeonhee, melainkan kehadiran Youngja yang tidak disangka-sangka—Yeonhee tidak bisa merasakan kehadiran lelaki itu. Apakah mungkin Yeonhee terlalu larut dalam pikirannya sehingga ia tidak mendengar suara langkah kaki Youngjae?

“Lumayan.”

“Lumayan bagaimana? Lumayan mengesankan, lumayan mengerikan, apa hanya biasa saja?”

“Untuk seseorang yang baru mengenalku, kamu terlalu banyak ingin tahu, Youngjae-ssi.”

“Aku mengenalmu sejak empat tahun yang lalu, Yeonhee-ssi,” balas Youngjae, menyandarkan dirinya di countertop di sebelah Yeonhee.”Yah, walaupun aku hanya bisa bertemu denganmu setiap musim panas,” lanjutnya lagi ketika Yeonhee menghadiahinya dengan tatapan tajam.

“Itu artinya kamu baru mengenalku kurang dari setahun, Youngjae-ssi.”

Noted,” jawab Youngjae. Terdiam sejenak, kedua maniknya sibuk memperhatikan kedua tangan Yeonhee yang cekatan mengiris wortel, sebelum melanjutkan,”perlu kubantu?”

Yeonhee menatapnya heran, kedua tangannya otomatis berhenti bergerak.”Apa itu caramu menyuapku?”

Mengambil dua buah telur dari dalam kulkas, Youngjae hanya mengendikkan bahunya.

“Kalau kamu memang berpikiran seperti itu, anggap saja aku menyuapmu, Kang Yeonhee,” katanya kemudian. Meraih penggorengan dan bersiap untuk menggoreng telur—untuknya dan untuk Yeonhee.”Jadi, bagaimana hari pertama kuliahmu, Yeonhee-ya?”

“Jangan memanggilku seperti itu, aku merinding.”

“Aku akan terus memanggilmu seperti itu kalau kamu tidak menjawab pertanyaanku, Yeonhee-ya.”

“Tidak mau.”

“Yeonhee-yaa.”

“Hentikan.”

“Yeonhee-yaa~,”

“Baik! Baik!” jerit Yeonhee. Benar-benar tidak tahan dengan cara Youngjae memanggil namanya. Menaruh dua buah mangkuk di atas meja dan menarik napas dalam-dalam, Yeonhee mempersiapkan dirinya untuk menjawab pertanyaan Youngjae—menyiapkan diri untuk reaksi lelaki itu, lebih tepatnya.

“Hari pertamaku lumayan mengerikan, mengingat aku tidak mengenal siapa pun di kelasku. Aku masuk ke kelas dan semua orang berhenti berbicara, menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan kamu tahu, aku mendengar apa yang dibicarakan orang-orang tentang kepindahanku dari London.”

Youngjae tidak jadi membalik telurnya.”Apa yang mereka bicarakan?”

“Kamu tidak perlu tahu. Topiknya menggelikan.”

“Jadi, kamu belum dapat teman?”

Mendengar pertanyaan ini, Yeonhee berhenti membagi sayuran dan daging di atas mangkuk.”Ada seseorang yang mengajakku bergabung ke kelompoknya sih. Jadi, mulai minggu ini, kalau setiap Selasa dan Kamis aku pulang larut malam, jangan mencariku.”

“Benarkah, siapa?”

“Kamu tidak akan mengenalnya kan?” tanya Yeonhee tajam.”Diam dan makan bibimbap-mu, Yoo Youngjae.”

.

.

Hari Kamis datang, tetapi tidak seperti yang dibayangkan oleh Yeonhee.

Yeonhee membayangkan dirinya akan mendengar suara musik—apa pun—saat ia melangkahkan kaki masuk ke dalam studio. Kemudian ia akan melihat teman-teman sekelompoknya sedang sibuk merangkai gerakan atau sekedar menari bebas.

Namun, yang ia lihat jauh berbeda dari yang gadis itu bayangkan.

Tidak ada suara musik yang mengalun dari dalam studio. Juga tidak ada seorang pun yang sibuk menggerakkan tubuhnya. Moon Jongup sedang duduk bersandar di tepi ruangan, menelepon seseorang sekaligus mengikat tali sepatunya—jika Yeonhee tidak salah mendengar, sepertinya laki-laki itu sedang berbicara dengan pacarnya. Choi Jonghyun duduk tak jauh di sebelah Jongup, sedang menonton video dengan seorang gadis melalui telepon genggamnya—sepertinya gadis itu yang bernama Chungha.

Yeonhee masih mematung di ambang pintu ketika Jonghyun menyadari kehadirannya.

Oh, Yeonhee-ssi!”

Setelah namanya keluar dari bibir Jonghyun, barulah Yeonhee berjalan mendekat. Perlahan, seolah-olah ia takut tiga orang lainnya akan menerkam dirinya kalau ia mendekat. Juga masih takut-takut saat ia mendudukkan diri di dekat Jonghyun, seakan ia tak punya tempat di studio ini.

“Tari modern tidak terlalu sulit untukmu, Yeonhee-ssi?”

Yang ditanya hanya mengerjapkan matanya. Sesungguhnya Yeonhee tak ingat bagaimana mereka bisa sampai ke pertanyaan itu. Yeonhee hanya ingat ia dicecar dengan berbagai pertanyaan—beruntung, pertanyaannya tidak terlalu personal—oleh Chungha.

“Fokusku tari kontemporer,” kata Yeonhee pelan.

Hening sejenak.

“Kita selamat!”

Yeonhee kembali mengerjapkan matanya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan tiga orang di hadapannya menghela napas lega dan menampilkan ekspresi gembira. Apa mungkin tiga kata yang keluar dari bibirnya tadi yang menyebabkan itu semua?

“Kami akan butuh banyak bantuan darimu, Yeonhee-ssi,” kata Jonghyun, mengalihkan Yeonhee dari rasa bingungnya.”Kami bertiga lebih nyaman di tari hip hop, tetapi kelompok ini dibuat untuk kelas modern dance, jadi bisa dikatakan kami bertiga sudah pasrah.”

“Kami sudah membuat gambaran kasar mengenai koreografi untuk tugas ini. Mungkin kamu bisa membantu memperbaiki atau menambahnya, bagaimana?” sambung Jongup.

Tidak perlu waktu lama bagi Yeonhee untuk mengiyakan, toh dirinya sudah sering membuat koreografi sewaktu di London.

“Boleh aku lihat koreografi kalian?”

“Tentu saja!” seru Chungha senang. Dengan cepat meraih handphone miliknya dan menekan layarnya dengan penuh semangat. Ketika sebuah lagu familiar menyambangi indera pendengaran Yeonhee, teman-temannya sudah berdiri di tengah ruangan.

“Mungkin kamu bisa menyimpan komentarmu di akhir, Yeonhee-ssi,” pinta Jonghyun.

Yeonhee mengangguk.

Suara musik yang familiar mengalun diiringi dengan rangkaian kata yang membentuk lagu, sekaligus dengan gerakan gemulai dari ketiga orang yang berada di hadapan Yeonhee. Gadis itu tahu cerita apa yang hendak disampaikan melalui tarian mereka, namun gerakan mereka bertiga seketika terhenti ketika lagu mencapai bagian tengahnya.

“Bagaimana? Kami baru berhasil sepakat sampai di bagian ini.” Yeonhee bisa melihat harapan muncul di sinar mata Chungha, di sela-sela helaan napasnya.

Well, menurutku ide kalian sudah bagus—cinta bertepuk sebelah tangan kan?” Tiga kepala mengangguk bersamaan, mengkonfirmasi dugaan Yeonhee.”Tapi, ide itu hanya bisa dilakukan oleh tiga orang. Karena sekarang ada empat orang, ide itu tidak bisa diteruskan—kalau tidak ceritanya akan terlihat seperti drama.”

“Benar juga,” balas Jongup, mendahului kedua temannya yang lain.”Lalu, ada ide, Yeonhee-ssi?”

Ide-ide pun mengalir keluar dari bibir Yeonhee. Sesekali diselingi dengan penolakan dan tambahan dari yang lain, membuat konsepnya menjadi jauh lebih indah dibandingkan sebelumnya.

.

.

“Choi Jonghyun.”

Sebuah lengan langsung merangkul bahu Jonghyun begitu namanya terucap. Tanpa perlu menoleh pun Jonghyun tahu siapa pelakunya dan apa yang ia mau dari dirinya. Namun ketika ia merasakan kehadiran dua orang lain di sekitarnya, mau tak mau Jonghyun mengangkat kepalanya. Dan begitu kedua maniknya menangkap sosok Kim Taehyung, Park Jimin dan Yook Sungjae, keningnya langsung mengkerut, heran.

“Ada apa?” tanyanya, sembari memberi sinyal pada Jongup, berharap lelaki yang sedari tadi bersamanya itu tahu sesuatu. Sayang, Moon Jongup hanya mengendikkan bahunya.

“Ceritakan padaku tentang Kang Yeonhee.”

Jonghyun otomatis berhenti menulis tugasnya dan ia bisa mendengar Jongup sedang terbatuk-batuk—sudah jelas karena terkejut. Kedua maniknya kini bertemu dengan manik Taehyung, meminta kepastian tentang keseriusan lelaki itu dengan permintaannya.

“Kami mendengar banyak kabar tidak enak tentang gadis itu,” jelas Sungjae alih-alih Taehyung.”Dan karena kamu satu kelompok dengannya, mungkin kamu bisa memberikan pencerahan, Choi Jonghyun.”

“Aku tidak tahu apa-apa,” kata Jongup cepat, bahkan sebelum Jonghyun sempat menoleh ke arahnya.”Kamu yang sering mengobrol dengannya, Jonghyun-ah,” tambahnya lagi begitu Jonghyun melotot padanya.

Nah, bagaimana, Choi Jonghyun-ssi?”

Jonghyun menarik napas panjang, berupaya menahan emosinya sendiri.

“Aku juga tidak tahu banyak—“

“Kami mendengarkan,” balas Taehyung. Jonghyun ingin sekali memukul kepala lelaki itu dengan buku di hadapannya sekarang.

“Dia tertutup, tidak mau membicarakan masalah pribadinya dengan orang lain. Dia tidak pernah memberitahuku kenapa ia pindah ke Seoul atau tentang kehidupannya di sini. Aku hanya tahu sekilas mengenai kegiatan tarinya di London dulu.”

“Jadi kita tidak bisa tahu gosip itu benar atau tidak?”

Jonghyun mengerutkan keningnya lagi.”Memangnya apa gosipnya?”

Kini Taehyung memberinya tatapan itu, seolah-olah ia adalah manusia gua yang tidak peka terhadap perkembangan jaman.

“Ada yang bilang ia pindah ke Seoul karena dia kabur dari orang tuanya. Ada juga yang bilang karena dia terlibat masalah dengan teman satu kampusnya,” jelas Jimin.

“Tetapi banyak yang bilang kalau alasan sesungguhnya adalah karena dia ketahuan menjalin hubungan dengan dosennya yang sudah beristri,” tambah Sungjae.

Baik Jonghyun maupun Jongup kini terpaku dengan mulut sedikit menganga. Takjub dengan gosip yang beredar di sekitar mereka. Tetapi Jonghyun lebih takjub dengan fakta bahwa Taehyung, Jimin, dan Sungjae, yang notabene merupakan mahasiswa jurusan musik, mengetahui itu semua.

“Kalian yakin itu bukan cerita drama mingguan?”

Ketiga temannya serempak menggeleng.

“Aku juga tidak tahu apa alasannya pindah ke sini. Tapi, kalau aku mendengar ceritanya, Yeonhee sepertinya punya prospek yang bagus di London. Apa pun yang menyebabkan dia pindah dari sana, pasti lebih dari sekedar semua skenario drama tadi.”

“Omong-omong, apakah Yeonhee tahu semua gosip tadi?”

Keempat orang lainnya langsung mengikuti arah pandangan Jongup begitu menyadari bahwa lelaki itu tidak sedang menatap mereka, melainkan memandang seseorang yang baru saja memasuki perpustakaan. Sosok Yeonhee terdiam di dekat pintu masuk, memindai ruangan demi mencari tempat kosong di sana.

Setelah akhirnya gadis yang menjadi topik pembicaraan mereka menempatkan diri di ujung ruangan, barulah mereka kembali menatap satu sama lain.

“Dia tahu,” bisik Jonghyun.

to be continued…

A/N

ya! my very first attempt on chaptered movie on IFK (dulu udah pernah bikin juga, tapi pas belum gabung di IFK sih) idenya udah ada dari awal tahun, first concept mulai ditulis bulan April, first draft ditulis pertengahan Oktober, dan akhirnya bisa di-publish awal November :”

currently udah ditulis sampe chapter 3 dan konsepnya udah sampe chapter 5,  tapi sampai sekarang masih belum tahu cerita ini bakal selesai sampai chapter berapa, so I’ll try my best to write it down quickly and updated it on weekly basis :))

thanks buat All.Want.Candy  aka Dea yg udah mau direpotin buat chapter 1-2, thanks dear :*

…and please give me your piece of mind! ^^

4 thoughts on “[1/?] The New Beginning”

  1. Liat cast nya ada Youngjae tanpa berpikir panjang langsung baca ff nya haha
    Aku suka sama ceritanya. Sampe ketawa sendiri pas youngjae godain yeonhee. Taehyung, jimin, sungjae, mereka cocok banget jadi karakter cerewet haha.
    Ohiya disini junsu nya belum muncul ya?

    Oke. Aku tunggu chapt 2 nya ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s