[2/?] The New Beginning

the-new-beginning-4

The New Beginning

a story by thelittlerin

.

Teen Top Changjo (Choi Jonghyun) | BAP Yoo Youngjae | 2PM Lee Junho | OC Kang Yeonhee

.

special appearance

BTS Park Jimin| BTS V (Kim Taehyung) | BTOB Yook Sungjae

APINK Kim Namjoo | BAP Moon Jongup | OC Choi Rin

.

Romance | Friendship | Family | College-Life

PG-15 | Chaptered

.

Chapter 2 — Dear, Boy

Everything is an irony, you’re always a mistery

Ruangan itu sepi, hanya ada Yeonhee di tengah-tengah rak-rak kaca. Kolumbarium di pinggiran kota ini baru saja buka dua jam yang lalu dan memang tidak banyak orang yang berkunjung pada hari kerja seperti ini.

“Ibu, ini Yeonhee.”

Foto di balik rak kaca itu tersenyum pada Yeonhee. Masih sama seperti yang ada di ingatan Yeonhee bertahun-tahun yang lalu. Senyum cerah yang sekaligus dapat menenangkan hati gadis itu

Namun, tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata. Yeonhee menyentuh permukaan kaca dengan jemarinya perlahan, merasakan dinginnya kaca menyentuh indera perabanya. Dan kemudian tetes-tetes lainnya menyusul, membentuk aliran kecil di kedua pipi gadis itu.

Yeonhee terisak pelan, tak mampu berkata apa-apa lagi.

Terus begitu hingga akhirnya ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu dengan mata sembab.

.

.

“Lihat itu.”

Jonghyun bisa mendengar bisik-bisik semacam itu di sepanjang lorong ketika ia keluar dari toilet. Dahinya berkerut, bertanya-tanya hal apa yang menyebabkan peristiwa ini. Dan lelaki itu yakin, bukan kemunculannya yang menyebabkan ini semua.

Penasaran, manik matanya mengikuti arah pandangan beberapa orang di sana.

Kang Yeonhee.

Gadis itu tidak melakukan apa pun, hanya berdiri di tepi lorong sembari menelepon seseorang. Namun Jonghyun tidak bisa menangkap pembicaraan Yeonhee dari tempatnya berada sekarang. Walaupun begitu, Jonghyun yakin isi pembicaraan Yeonhee dengan seseorang itu tidak terlalu penting untuk menyebabkan semua itu.

Hey, ada apa?” tanyanya pada sekelompok mahasiswi di dekatnya—sepertinya mereka mahasiswi satu tingkat di bawahnya.

Ah, Jonghyun sunbae, itu…menurutmu apakah pakaiannya tidak terlalu pantas dipakai untuk kuliah?” jawab salah satunya. Tanpa perlu menyebut nama pun Jonghyun tahu siapa yang sedang dimaksud oleh adik tingkatnya itu. Jonghyun juga tahu kalau mereka sedang merujuk pada baju terusan dan sepatu berhak tinggi yang memang menarik perhatian itu.

“Kalian seperti tidak ada kerjaan saja. Masuk kelas sana,” balas Jonghyun kemudian—berpura-pura membentak mereka. Tetapi seulas senyum muncul darinya sedetik kemudian, membuat sekelompok mahasiswi itu juga tersenyum dan segera pamit.

Sepeninggal mereka, Jonghyun kembali menoleh ke arah teman setimnya. Gadis itu sudah selesai menelepon rupanya, memandang layar handphone-nya dengan tatapan kosong.

“Sedang apa, Yeonhee-ssi?”

Kang Yeonhee mendongak, jelas sekali kalau dirinya terkejut mendengar sapaan Jonghyun. Akan tetapi, seperti yang Jonghyun lakukan beberapa saat lalu, sebuah senyuman samar terbentuk di wajah Yeonhee.

“Tadi temanku menelepon, aku tidak enak jika menerimanya di dalam kelas,” jawab Yeonhee. Gadis itu terdiam, mengamati sejenak wajah lelaki di hadapannya.”Kamu kenapa, Jonghyun-ssi? Wajahmu kusut sekali.”

Kali ini giliran Jonghyun yang terlonjak. Selama dua minggu ia berinteraksi dengan Yeonhee, baru kali pertama ini gadis itu bertanya mengenai kabarnya. Sebelumnya, Yeonhee tergolong dingin, hanya berbicara seperlunya dan jika ditanya.

Eum…Kim Taehyung menantangku, dan yang lain, bermain game semalam. Aku jadi tidak tidur hingga pagi,” jelas Jonghyun sebelum canggung menyusup di antara keduanya.

“Kim Taehyung?’

Jonghyun baru menyadari kalau Yeonhee tidak mengenal Kim Taehyung.

“Kamu tidak tahu Taehyung?” tanya Jonghyun takjub. Yeonhee menggeleng dan Jonghyun buru-buru menambahkan,”dia anak jurusan Musik. Oh, dan dia bertanya siapa yang menjemputmu kemarin, Yeonhee-ssi.”

Tawa kecil terdengar pelan. Yeonhee kembali menampilkan senyum kecil di wajahnya,”anggap saja dia kakakku.”

Wah, kamu ternyata masuk zona itu juga,” kata Jonghyun. Yeonhee tertawa lagi, tidak mengiyakan tetapi juga tidak membantah. .”Omong—omong, pakaianmu rapi sekali hari ini. Ada acara?”

Yeonhee tidak serta merta menjawab, ujung jemarinya memilih untuk memainkan ujung baju terusan yang dikenakannya. Baju terusan berlengan panjang dengan warna hitam, Jonghyun sedikit bertanya-tanya apakah gadis itu tidak kepanasan—walaupun musim gugur sudah semakin dekat, cuaca hari ini masih tergolong lumayan panas.

“Aku bertemu ibuku tadi pagi,” jawab Yeonhee pelan, Jonghyun hampir-hampir tidak bisa menangkapnya.”Dan ayahku mengajak makan nanti malam.”

Jonghyun terkejut untuk yang kedua kalinya. Dua kalimat yang keluar dari bibir Yeonhee telah memberikan Jonghyun sedikit informasi mengenai keluarga gadis itu.

“Apa ini terlalu berlebihan?” tanya Yeonhee lagi.

Yang ditanya mengerjapkan mata sekali, memikirkan kata apa yang cocok dengan pikirannya sekarang.”Kamu…terlihat bagus,” jawab Jonghyun sebelum keheningan terulur lebih lama lagi.“Makan malam dengan kakakmu?” tanya Jonghyun kali ini—setengah menggoda.

Yeonhee tertawa—lagi. Sepertinya Jonghyun akan sering melihat gadis itu tertawa hari ini.

“Ya, dengan kakakku.”

.

.

Sebuah mobil abu-abu melesat dengan kecepatan sedang membelah lalu lintas malam jalanan ibukota. Tak banyak halangan yang dihadapi, jam-jam sibuk sudah lewat dua jam yang lalu. Dua orang penumpang di dalamnya terdiam sejak mobil itu meninggalkan sebuah restoran di sisi lain kota. Lelaki yang duduk di belakang kemudi sesekali melirik gadis di sebelahnya, yang kini tengah memandangi secarik kertas berwarna burgundy dengan tatapan kosong.

“Kamu tidak harus datang,” ucap Youngjae memecah keheningan.

Yeonhee seketika menoleh, namun tatapannya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, hanya saja kini ada sekilas rasa penasaran yang terpancar dari kedua maniknya.

“Dia yang membuatmu pergi dari London kan?” tanya Youngjae, tidak menjawab rasa penasaran Yeonhee sama sekali. Dan ketika gadis itu tidak menjawab—Youngjae sudah tahu jawabannya—lelaki itu menambahkan,”sebagai kakakmu, aku—“

“Punya tanggung jawab terhadapku. Iya, aku tahu, Youngjae-ssi,” potong Yeonhee cepat.”Tapi kan kamu tidak bisa melarangku begitu saja.”

“Aku hanya memberi saran sebagai seorang kakak.”

Helaan napas terdengar. Kemudian hening kembali menyelimuti mereka berdua. Youngjae tahu Yeonhee sedang menimbang-nimbang berbagai alternatif tindakan yang bisa dilakukannya.

“Yeonhee-ya, kurasa kamu harus memberitahuku tentang dia suatu saat nanti,” kata Youngjae, lagi-lagi memecah keheningan. Namun Yeonhee tetap tidak bersuara, hanya memandangi undangan pemberian ayahnya saat makan malam tadi dengan tatapan sayu.

Lampu lalu lintas berganti warna. Youngjae menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya tepat di belakang garis putih. Memperhatikan beberapa pejalan kaki yang terburu-buru menyeberang sebelum sinyal lalu lintas berganti lagi. Gadis di sebelahnya tidak mengeluarkan sepatah kata pun hingga orang terakhir menyeberang.

“Temani aku.” Suara bisikan terdengar saat Youngjae perlahan menginjak pedal gas.

“Apa?”

“Temani aku dan aku akan menceritakan semuanya.”

Tangan kanan Youngjae sejenak meninggalkan roda kemudi demi mengelus puncak kepala Yeonhee. Kedua matanya masih berfokus pada jalanan lengang di hadapannya, tentu saja.

“Kamu tidak perlu menyuapku seperti itu, tahu.”

“Aku tetap akan bercerita padamu.”

“Aku tahu.”

.

.

“Malam semua!!”

Empat pasang mata serempak tertuju ke arah pintu studio, mendapati satu sosok familiar—tidak untuk salah satu di antara mereka—berdiri di ambang pintu. Lelaki berambut pirang itu tersenyum lebar, kemudian segera masuk ke dalam studio diiringi oleh tiga orang lainnya—beserta gerutuan mereka.

“Sedang apa kalian di sini?” tanya Jonghyun, matanya menatap Taehyung tajam. Seolah-olah Kim Taehyung adalah mata-mata yang dikirimkan oleh kelompok lain untuk mencuri ide mereka.

“Rin mengajak kami melihat kalian latihan,” jawab Taehyung santai. Sepertinya tidak menyadari tatapan tajam yang dilayangkan tiga orang ke arahnya.

“Bohong!” seru seseorang. Jonghyun menoleh dan mendapati sosok Choi Rin sedang bersidekap di belakang Taehyung.”Aku hanya bertanya pada mereka di mana Jongup,” tambahnya, sembari menunjuk pada tiga oknum yang memfitnah dirinya.

“Aku juga korban, jangan salahkan aku ya,” sambung Namjoo, telunjuknya mengarah pada Sungjae. Menunjuk siapa pelaku yang membuatnya berakhir di ruang studio ini.

“Kami di sini untuk melihat Jongup, Choi Jonghyun. Tidak usah besar kepala seperti itu,” kata Sungjae, mengibaskan tangannya seolah-olah interupsi mereka bukanlah hal besar. Juga sekaligus mengabaikan tatapan tajam Jonghyun yang kini mengarah padanya.

“Mereka bukan temanku,” gumam Jongup. Sedikit pelan, namun sepertinya semua orang bisa mendengarnya.

Yeonhee hanya bisa menatap lamat-lamat pemandangan di hadapannya. Merasa sedikit canggung karena ia tidak kenal dengan satu pun di antara para tamu yang tak diundang. Bahkan Chungha saja kini sudah ikut dalam perdebatan kecil itu, menyisakan Yeonhee yang terpaku dan merasa seperti seorang pelintas.

Hey, Jonghyun-ah, kenalkan Yeonhee pada Rin dong,” kata Taehyung memecah lamunan Yeonhee.”Rin berhak tahu siapa gadis yang membuat Jongup tidak bisa mengantarnya pulang setiap Selasa dan Kamis,” tambah lelaki itu lagi.

“Sialan.”

“Yeonhee-ssi itu partner-nya Jonghyun, bukan aku,” gerutu Jongup.

Jonghyun buru-buru menarik Yeonhee mendekat, sebelum perdebatan kembali terjadi untuk yang kedua kalinya.”Semuanya, kenalkan, ini Kang Yeonhee. Mahasiswi pindahan dari London. Yeonhee-ssi, ini—“

“Yang spesifik,” potong Namjoo.

Helaan napas terdengar.

“Taehyung dan Sungjae,” kata Jonghyun sembari menunjuk pada dua orang lelaki di hadapannya,”mahasiswa Jurusan Musik, tukang gosip terkenal seantero kampus. Kamu lebih baik berhati-hati, Yeonhee-ssi. Dan di sebelah Sungjae itu Namjoo, dari Jurusan Ilmu Komunikasi, pacar Sungjae.”

Yeonhee menganggukkan kepalanya.

“Di sebelah Jongup itu Rin, Jurusan Bisnis Manajemen, pacar Jongup, dan teman sekelasku saat SMP.”

Yeonhee mengangguk sekali lagi.

Nah, karena kalian sudah kenalan dengan Yeonhee, aku pulang duluan ya!” pamit Chungha tanpa basa-basi. Langsung melesat keluar bahkan tanpa mendengar balasan dari teman-temannya. Sepertinya gadis itu sudah menantikan momen di mana ia bisa keluar dari ruangan ini.

“Kalian sudah selesai latihan?!” pekik Taehyung histeris.

“Cepat sekali,” gumam Sungjae menambahkan.

“Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam, bodoh,” jawab Jonghyun.”Lagipula Chungha dan Yeonhee ada urusan malam ini, jadi mau tidak mau kami harus selesai lebih cepat.”

“Benarkah? Pantas saja kamu sudah rapi,  ada urusan apa, Yeonhee-ssi?”

Yeonhee terlonjak. Tidak menyangka Taehyung akan bertanya padanya secara tiba-tiba—juga tidak menyangka lelaki itu akan mengajukan pertanyaan itu padanya.

“Sudah kubilang kan, hati-hati kalau ada di dekatnya,” kata Jonghyun.

“Tidak usah dijawab, Yeonhee-ssi.”

“Taehyung-ah, kurasa kamu benar-benar harus cari pacar.”

Dan kemudian hal yang sama terulang lagi. Perdebatan (atau pertengkaran?) kecil kembali terjadi di hadapan Yeonhee. Gadis itu bertanya-tanya, bagaimana mungkin orang-orang di hadapannya ini bisa mengulangi siklus yang sama tiga kali dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit? Apakah ketika mereka berkumpul dengan teman-teman mereka yang lain mereka juga bertingkah seperti ini?

“Permisi.”

Satu suara memecah kesibukan di dalam studio. Tujuh kepala serentak menoleh ke arah sumber suara dan hening sejenak menguasai keadaan setelahnya.

“Youngjae-ssi?”

“Youngjae oppa?”

“Youngjae hyung?

Dua suara terakhir tidak terasa asing bagi yang lain. Namun, sapaan pertama yang ditujukan untuk Yoo Youngjae membuat semua orang—kecuali Jonghyun dan Rin—menolehkan kepalanya lagi.

Oh, halo semua,” sapa Youngjae canggung. Kedua maniknya kini mendapati beberapa orang sedang memandangi dirinya heran, namun sinar matanya sibuk memberikan sinyal pada gadis yang berada di bagian belakang, tersembunyi di antara enam orang lainnya.

“Sedang apa kamu di sini, hyung?” tanya Jonghyun kepada seniornya sewaktu SMP dulu. Mewakili pertanyaan yang mengambang di antara teman-temannya.

“Menjemput Yeonhee?”

Enam pasang mata serempak menemukan jalannya untuk melihat Yeonhee. Gadis dalam balutan dress biru itu kini sudah menyampirkan tasnya ke pundak, dengan sebuah paper bag berwarna putih berada dalam genggamannya.”Aku duluan ya,” katanya kemudian, tidak berusaha menjelaskan situasi yang sedang terjadi saat ini.

Yoo Youngjae dengan santainya meraih paper bag milik Yeonhee ketika gadis itu mendekat. Kemudian mengangguk sebagai tanda pamit kepada adik kelasnya sebelum akhirnya menghilang bersama Yeonhee di balik pintu. Meninggalkan enam orang yang kebingungan setengah mati.

Keheningan menyelimuti ruangan berukuran sedang itu. Hingga akhirnya seorang Park Jimin muncul di ambang pintu, juga dengan raut wajah yang tak kalah bingungnya.

“Anak baru itu pacar Youngjae hyung?” tanya Jimin.

Tidak ada jawaban karena tidak ada yang tahu kenyataan yang sesungguhnya.

.

.

Ballroom bernuansa burgundy itu dipenuhi oleh obrolan di sana-sini. Sebagian besar membicarakan kondisi keuangan global, sebagian lainnya membicarakan keadaan bisnis di negeri sendiri, dan sebagian kecil memilih untuk membicarakan hal lain—sekolah, olahraga, mode—apa pun selain bisnis. Ada juga yang memilih membicarakan rumor-rumor yang menghinggapi beberapa petinggi perusahaan di negeri ini. Beberapa juga ada yang memilih untuk diam dan memperhatikan.

Seperti yang dilakukan oleh Youngjae dan Yeonhee.

Tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang dikenal oleh Youngjae. Kalau bukan karena ayahnya meminta Yeonhee datang menggantikan beliau dan Yeonhee yang meminta lelaki itu menemaninya, Youngjae yakin dia sedang santai menonton acara televisi di rumah.

Youngjae merasa dia ada di dunia berbeda.

“Kamu bisa menambah koneksimu di sini,” kata Yeonhee tiba-tiba. Manik cokelatnya tidak mengarah pada Youngjae, melainkan bergerak memindai seluruh isi ruangan.”Mahasiswa sekolah bisnis sepertimu pasti ingin kan berkenalan dengan para direktur—atau orang-orang penting di dunia bisnis lainnya?”

“Kamu benar. Sayangnya, aku tidak tertarik,” jawab Youngjae sebelum menyesap jus buahnya—ia tidak bisa menebak buah apa saja yang masuk ke dalam jus ini.”Aku sudah pernah bilang kan, aku ingin meneruskan kedai,” lanjutnya lagi, merujuk pada kedai kopi yang dirintis ibunya sejak beberapa tahun yang lalu.

Ah, benar juga.”

“Omong-omong, mana lelaki brengsek itu?”

Kali ini Yeonhee menoleh ke arah Youngjae, keningnya berkerut, tak paham akan pertanyaan lelaki itu. Namun, lima detik kemudian, ketika Youngjae tidak kunjung memberikan konfirmasi, sebuah jawaban muncul di dalam benaknya.

“Maksudmu—“

“Helena?”

Yeonhee terpaku. Tidak ada orang yang memanggilnya dengan nama itu di sini. Gadis itu bahkan yakin tidak ada orang lain yang tahu nama itu kecuali teman-temannya di London.

Dan suara familiar itu…

“Aku tidak salah lihat ternyata,” kata lelaki di hadapannya itu. Senyum khasnya terpasang, namun Yeonhee tahu senyuman itu hanyalah topeng belaka.

Topeng untuk menutupi segala tabiatnya, karena ia punya reputasi yang harus dijaga.

Karena apa yang terjadi di London harus tetap berada di sana.

“Kapan terakhir kali aku melihatmu? Tiga bulan yang lalu?” lanjut lelaki itu lagi, mengingatkan Yeonhee akan peristiwa yang membuatnya kembali pulang ke tanah kelahirannya. Nada suaranya tenang, tetapi cukup menusuk relung hati Yeonhee, seakan-akan gadis itu telah melakukan suatu kesalahan fatal dengan meninggalkan London.”Aku tidak menyangka kamu akan datang.”

Youngjae bisa merasakan gadis di sebelahnya menegang. Perlahan, ia mendekat dan mengusap pelan punggung Yeonhee, memberitahukan kalau ia masih ada di sampingnya.

“Ayahku tidak bisa datang,” jawab Yeonhee.

“Yeonhee-ya?” bisik Youngjae pelan. Yeonhee sudah sangat erasa tidak nyaman sekarang, dan Youngjae tahu itu. Nada suaranya seakan menawarkan gadis itu untuk segera undur diri dari tempat ini.

“Bisa aku bicara denganmu sebentar, Helena Kang?”

Sekarang sudah saatnya Youngjae untuk menginterupsi.

“Maaf, tapi kurasa kami akan pulang saja,” jawab Youngjae alih-alih Yeonhee. Memasang senyum sopan miliknya walaupun sebenarnya Youngjae sangat ingin menghajar laki-laki di hadapannya itu.”Oh ya, selamat atas pertunangan anda.”

Walaupun Yeonhee belum bercerita, Youngjae tahu lelaki inilah yang menyebabkan Yeonhee kabur dari London.

Ah, terima kasih. Maaf, dengan siapa aku berbicara?”

Senyum sopannya terpasang sekali lagi dan Youngjae mengulurkan tangan kanannya.

“Yoo Youngjae, pacar Yeonhee. Dan anda?”

Uluran tangannya disambut dengan jabatan erat.

“Lee Junho.

to be continued…

A/N

Chapter 2 is up dan akhirnya Lee Junho keluar juga!

eumm…..buat fans-nya Junho (kalau ada) maafkan saya kalau Junho di sini nantinya rada-rada nyebelin dan sebagainya. Percayalah, saya juga Hottest dan (kadang) suka sama Junho, nggak ada maksud tersembunyi :”

dan berhubung keadaan laptop yang lagi down, aku nggak jamin bisa update lagi minggu depan. laptopnya harus masuk rumah sakit demi masa depan yang lebih baik…..so, bear with it, dear

and last, mind to review then?

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s