LIFELINE (PART 10)

life-line-by-yolasekarini_2-1

LIFELINE

Main Casts: Cho Kyuhyun, Lee Donghae || Genre: Medical Drama, Friendship, Family, Romance || Duration: Chaptered || Rating: PG-17 / G || Author: Yolasekarini

SEPULUH

Jung Sila menenangkan Donghae lewat tatapan matanya. Ini kali pertama Donghae terlihat begitu cemas di hadapan Sila, terlihat dari caranya menghembuskan napas dengan berat selama menunggu proses operasi yang berlangsung cukup lama. Sudah berjam-jam pula Sila terus berada di sisi Donghae untuk menguatkan pria itu dari kecemasannya. Sila dapat merasakan bagaimana Donghae berusaha menyembunyikan rasa khawatirnya dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja di hadapannya, karena selama ini Donghae memang tidak pernah terlihat sebegitu khawatirnya.

Malam ini berbeda dengan malam-malam lainnya dimana Donghae terlihat luar biasa lelah, hal itu membuat Sila ingin sekali meminjamkan kedua bahunya agar Donghae bisa menyandarkan kepala, namun rupanya kekasihnya itu adalah seorang pria yang keras kepala, Donghae justru membuat Sila menyandarkan kepala di bahunya.

Satu hal yang sedari tadi Donghae terus lakukan adalah ia tidak pernah melepaskan tangan Sila dari tangannya. Ia terus menggenggamnya dengan erat. Sila memaklumi kebiasaan Donghae yang selalu menggenggam tangannya setiap kali merasa gugup. Ia mengusap sisi wajah Donghae dengan sebelah tangannya yang bebas dari genggaman. Donghae selalu memejamkan matanya sejenak tiap kali Sila menyentuh wajahnya karena Donghae selalu merasa nyaman ketika wajahnya bersentuhan dengan jari-jari halus milik Sila.

Sekitar setengah jam kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi dan menghampiri Donghae. Baik Donghae maupun Sila sama-sama sudah tidak asing lagi dengan sosok dokter ini. Donghae beranjak berdiri ketika Kang Jihyun melepas maskernya disusul oleh Sila beberapa detik kemudian.

“Keadaan ibumu saat ini sudah baik-baik saja, setelah operasi selesai ia akan dipindahkan ke ICU sampai lusa. Tapi secara keseluruhan semuanya sudah normal.” terang Kang Jihyun pada Donghae sebelum akhirnya ia kembali masuk ke ruang operasi.

Donghae tampak sedikit lega mendengar bahwa operasi itu sebentar lagi akan berakhir. Pikirannya kali ini sudah jauh lebih ringan daripada tadi, ia pun menyadari bahwa selama ia menunggu ibunya di sini, Sila selalu ada bersamanya di sebelahnya, tanpa mengganggu dirinya yang sedang cemas memikirkan ibunya.

Tanpa Sila sadari Donghae merapikan rambutnya dan menyelipkan beberapa rambutnya ke bagian belakang telinga kanannya. Gerakan Donghae yang tidak terduga itu membuat Sila menoleh dan tersenyum ringan. Sila dapat merasakan Donghae kini sudah dalam keadaan yang lebih baik daripada tadi karena baru saja Donghae menyandarkan kepalanya di bahu kanan Sila dengan tiba-tiba. Sila cukup terkejut dengan perubahan diri Donghae namun ia berusaha untuk tetap tenang. Kemudian ia pun mengelus pelan lengan Donghae sambil menunggu ibu Donghae dipindahkan ke dalam ruang ICU.

Tidak lama setelah itu pintu ruang operasi kembali terbuka dan kini mereka dapat melihat sebuah ranjang beroda yang dikelilingi oleh beberapa orang suster tengah didorong keluar ruangan untuk dipindahkan. Saat itulah Donghae dapat melihat ibunya yang masih belum sadarkan diri. Donghae dan Sila hanya bisa mengikuti dari belakang. Namun ketika sampai di ruang ICU mereka masih belum diperbolehkan untuk masuk.

“Donghae kamu belum makan dari tadi siang.” Sila mulai khawatir dengan Donghae yang terlihat semakin pucat. Donghae hanya memandangi dirinya tanpa menjawab. “Keadaan ibumu kini sudah jauh lebih baik dibandingkan saat sebelum operasi itu dilakukan, Donghae.” Sila meraih sebelah tangan Donghae yang dingin. “Kamu harus memerhatikan tubuhmu juga, aku tidak ingin kamu jatuh sakit.” ujar Sila lagi membuat Donghae akhirnya mengangguk pelan.

Ketika Donghae dan Sila baru hendak menaiki elevator, Kyuhyun datang dari arah berlawanan dengan berlari. Memanggil nama Donghae ketika sudah dekat. “Donghae apa ibumu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada cemas dan nafas yang masih tidak beraturan juga dadanya yang masih naik-turun. “Operasinya baru saja berakhir, sekarang ia sudah di ruang ICU. Kang Jihyun bilang ia akan baik-baik saja.”

Kyuhyun mengangguk. “Ya. Kang Jihyun juga yang mengabariku mengenai ibumu.”

Donghae hanya membalasnya dengan tersenyum singkat. “Well, mau ikut kami makan malam?” tawar Donghae pada Kyuhyun sebelum akhirnya Kyuhyun bergeleng pelan. “Aku sudah makan malam,” bohong Kyuhyun dan sesaat kemudian ia kembali melanjutkan. “Lagipula aku sedang tidak ingin mengganggu acara makan malammu dengan calon istrimu.” goda Kyuhyun seraya mengerlingkan matanya pada Donghae kemudian berlalu meninggalkan mereka. Donghae mengendikkan bahunya seraya ia merangkul Sila kemudian kembali berjalan ke arah elevator.

*

“Beberapa hari terakhir aku tidak pernah melihatmu, kemana saja kau?” tanya Donghae pada Kyuhyun setelah ia selesai makan malam bersama Sila. Awalnya Sila tetap akan menemani Donghae di rumah sakit sampai besok pagi, tapi Donghae tahu bahwa Sila tidak membawa pakaian ganti karena ia sedang datang bulan dan butuh mengganti baju. Donghae sempat memaksa ingin mengantar Sila pulang, namun Sila menolak tawarannya dan berkata bahwa sebaiknya Donghae tetap berada di rumah sakit, Donghae pun pada akhirnya menyerah dan merelakan kekasihnya itu pulang seorang diri dengan menggunakan taksi.

“Kita hanya tidak bertemu selama dua hari dan aku juga tidak pergi kemana-mana.” Kyuhyun memerhatikan ibu sahabatnya itu yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri dari balik kaca yang menyekat ruang ICU. Setelah makan malam tadi Donghae kembali ke ruang ICU untuk melihat ibunya dari balik jendela kaca transparan dan di sana ia bertemu dengan Kyuhyun yang sudah lebih dulu berada di sana.

“Oh,” Donghae menanggapainya dengan tanpa ekspresi. “Aku kira kamu pergi dengan Sooran.” mendengar itu Kyuhyun sontak menoleh ke arah Donghae yang berdiri di samping kirinya. Matanya memandang Donghae terlihat akan protes.

“Kamu harus tahu, Donghae, bahwa aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, seingatku terakhir aku bertemu dengannya mungkin ketika dulu aku sedang tidak enak badan.”

Mengetahui itu Donghae tampak tidak percaya, setahunya selama ini Kyuhyun dekat dengan Sooran. “Jadi kalian berhenti berkencan?” Kyuhyun tidak dapat menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Donghae.

Oh Please, Donghae, pertanyaanmu terdengar bodoh. Kami tidak berkencan, terlalu cepat untuk pergi berkencan atau berpacaran, aku tidak ingin yang dulu terulang kembali.” Donghae menyadari perubahan nada bicara Kyuhyun. Hampir tidak pernah Kyuhyun berkata semacam ini. Donghae sendiri tidak tahu harus membalas apa karena ia tidak ingin membuat Kyuhyun mengingat hal itu kembali.

“Nah, Donghae, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat.” Kyuhyun menepuk bahu Donghae. “Kamu bisa menginap di rumahku malam ini.” Ia mengerlingkan matanya kemudian menghilang dari pandangan Donghae.

*

“Kyuhyun, kau belum tidur, kan?” Donghae mengecek Kyuhyun yang berbaring menghadap jendela. Tidak sampai satu menit Kyuhyun pun membalikkan tubuhnya menghadap Donghae yang tengah tiduran tepat di sebelah kanannya.

“Belum, ada apa?” Kyuhyun dapat merasakan gelagat aneh dari diri Donghae. Ia merasakan keanehan Donghae yang tidak biasa sejak dari rumah sakit siang tadi. Tidak biasa-biasanya Donghae bersikap seperti ini, biasanya temannya itu selalu menendang atau memukulnya ketika ingin membangunkan atau sekedar untuk mengajak mengobrol. Pasti ada seseuatu yang tidak beres pada diri Donghae hari ini, ia mendunga dalam hati sambil berusaha untuk tidak tertawa.

“Aku pikir aku benar-benar harus menanyakan ini padamu,” Donghae mengubah posisinya, kini ia duduk menyadar dengan tumpukan bantal di balik punggungnya. Wajahnya berubah serius.

Kyuhyun menebak-nebak apa yang akan Donghae tanyakan pada dirinya. Dahinya berkerut dan dalam hatinya bertanya-tanya. “Apa? Tanyakan saja.” Donghae membersihkan tenggorokannya dengan berdeham singkat kemudian mulai berbicara. “Well, apa kamu benar-benar tidak pernah merindukan Sera?” Donghae mencuri pandangannya melihat ekspresi wajah Kyuhyun yang masih datar dan tidak berubah untuk beberapa saat, “Tidak sedikitpun?” tanyanya lagi karena Kyuhyun terlihat tanpa ekspresi. Ia penasaran bagaimana Kyuhyun akan menanggapi pertanyaannya kali ini.

Sementara Kyuhyun sendiri tidak pernah menyangka kalau Donghae akan menanyakan hal itu pada dirinya. Ia sendiri mati-matian menutupi rasa terkejutnya saat pertama kali mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir Donghae. Sebelum ia menjawab pertanyaan tidak biasa dari Donghae itu, ia mengubah posisinya seperti Donghae saat ini. Ia berusaha menormalkan deru nafasnya yang tanpa ia sadari kini berubah cepat. Ia tidak pernah menerima topik obrolan yang seperti ini hampir selama tiga tahun terakhir. Oh Donghae, apa yang terjadi padamu?

“Dari tadi aku perhatikan kamu menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh, jangan bertingkah bodoh, kamu sudah melamar seorang gadis untuk dinikahi, bukan?” Kyuhyun tertawa pelan kemudian beranjak dari kasur menuju dapur untuk mengambil air dingin.

Kyuhyun kembali ke kamar dengan membawa dua gelas berisi air dingin di kedua tangannya. Satu gelas ia bawakan untuk Donghae. “Ceritakan padaku bagaimana kamu melamar Jung Sila yang selalu kamu gilai itu, Hae.” Kyuhyun mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum geli.

“Aku membawanya ke Mokpo, pergi ke pantai kemudian aku melamarnya ketika matahari terbenam, selesai.” ujar Donghae tidak sesemangat biasanya tiap kali ia menceritakan tentang Jung Sila. Donghae menyadari bagaimana Kyuhyun mengalihkan topik obrolannya yang jelas-jelas sedang ia tanyakan tadi. Kyuhyun terlihat jelas sekali menghindari menjawab pertanyaan dirinya.

“Tidak buruk juga.” Kyuhyun bicara pelan sambil mengangguk-angguk. “Aku senang kamu sudah menemukan gadis yang benar-benar kamu cintai.”

Donghae sesaat kemudian tersadar, mungkin ia memang tidak seharusnya menanyakan hal tadi. Mungkin malam ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan itu. Tapi mau sampai kapan Kyuhyun terus menghindar seperti ini. Lagipula perceraiannya sudah berlalu lebih dari tiga tahun. Apakah itu bukan waktu yang lama untuk membuka diri kembali? Donghae tidak pernah habis berfikir bagaimana Kyuhyun terlihat seperti seseorang yang masih terjebak dalam kesalahan masa lalu. Ini mungkin salah satu sisi menyedihkan dari diri sahabatnya yang selalu berusaha terlihat baik-baik saja.

“Tapi ibuku jatuh sakit di hari yang sama saat aku melamar Sila. Aku bahkan belum sempat memberitahunya bahwa aku telah melamar seorang gadis.” Donghae berubah murung, Kyuhyun meliriknya seraya meletakkan gelasnya. Donghae berusaha untuk mengikuti arah pembicaraan Kyuhyun saja.

Belum sempat Kyuhyun memikirkan jawaban apa yang pas untuk membalas temannya itu, Donghae sudah lebih dulu angkat bicara. “Jadi kamu benar-benar tidak pernah memikirkan Sera setelah hari itu?” Donghae merutuk diri dalam hati mengapa ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menanyakan ini. Kyuhyun terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan Donghae barusan, namun untungnya ia mengerti Donghae yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

Donghae kembali merebahkan tubuhnya setelah ia meletakkan gelasnya. Ia menatap langit-langit kamar sambil membayangkan bagaimana Kyuhyun dan Sera ketika masih bersama dulu. Kenangan lama yang sulit untuk dirinya lupakan, bahkan ia sendiri tidak bisa melupakan masa-masa itu, bagaimana mungkin Kyuhyun dengan mudahnya tidak pernah memikirkan kenangan-kenangan itu lagi?

Kyuhyun berkata dengan tiba-tiba memecah keneningan. “Kau benar-benar ingin tahu apa yang selama ini aku rasakan?”

Donghae hanya mengangguk dan Kyuhyun pun ikut merebahkan dirinya ke atas kasur.

“Aku akan menceritakannya, karena aku tidak ingin sahabatku melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang telah aku lakukan di masa lalu.”

*

Ruangan apartemen itu kini telah berubah lebih hidup yang berkelip dengan pita-pita berkilauan. Olivia dan Eunra telah menyiapkan segala sesuatunya untuk merayakan ulang tahun Lee Seungjae sejak siang tadi. Beberapa hari lalu Olivia meminta Eunra agar merayakan ulang tahun Seungjae dengan sederhana di apartemen mereka. Olivia sibuk menghias ruangan agar tampak lebih menarik sementara Eunra memasak makanan yang disukai Seungjae dan Olivia. Kali ini Eunra sungguh berhati-hati dalam membuatkan makanan untuk Seungjae yang alergi terhadap beberapa jenis bahan makanan. Mereka berdua menyiapkan semua ini sejak Seungjae pergi rapat pagi tadi. Hari ini adalah hari sabtu, Eunra maupun Olivia sama-sama libur, hanya Seungjae yang sering ada rapat bahkan di hari sabtu seperti ini. Pekerjaannya memang tidak pernah mengenal waktu.

Ketika pagi tadi Seungjae pergi meninggalkan apartemen, keponakan perempuannya itu segera menghubungi kekasih pamannya. Mereka sendiri telah menyusun rencana ini sejak dua hari yang lalu, saat Seungjae menitipkan Olivia pada Eunra ketika ia harus pergi melihat lokasi proyeknya selama satu hari penuh.

Eunra meletakkan hidangan terakhirnya di atas meja makan yang telah penuh dengan makanan dan kue, ia melirik Olivia yang tengah duduk di sofa masih memegang pita dan balon, tampaknya sedang beristirahat setelah menempelkan benda-benda itu ke atas dinding. “Sudah selesai menghias, Liv?” tanyanya seraya menghampiri Olivia. Gadis muda itu pun menoleh ke arah Eunra kemudian menganggukkan kepalanya. “Sepertinya kita akan berhasil membuat paman terkejut saat pulang kerja nanti.” ujarnya dengan antusias. “Kita hanya perlu menunggunya pulang saja.” lanjutnya. Eunra melihat jam dinding dan beralih menatap Olivia. “Sini eonnie rapikan rambutmu agar ketika paman pulang nanti kamu akan terlihat semakin cantik.”

Setelah selesai menyisir rambut Olivia, Eunra kembali melihat jam. Langit di luar sudah mulai gelap, akan tetapi sampai saat ini Seungjae belum juga menunjukkan batang hidungnya. Padahal sore tadi Olivia telah mengirim pesan agar pamannya itu pulang ke rumah lebih awal. Olivia mulai merasa bosan dan akhirnya menyalakan televisi. Baginya, saat ini tidak ada satu pun acara yang menarik. Ia hanya ingin pamannya segera pulang dan merayakan ulang tahun.

“Eonnie, kenapa paman belum juga datang?” tanya Olivia seperempat jam kemudian dengan raut wajah kecewa yang tidak dapat ia sembunyikan. Eunra hanya bisa meyakinkan gadis itu bahwa Seungjae akan datang sebentar lagi. “Mungkin ia terjebak macet, tunggu sebentar lagi, paman Seungjae pasti akan datang.” Eunra merangkul Olivia yang sama-sama tengah duduk di sofa menyaksikan tayangan televisi tanpa suara. “Dulu paman melupakan ulang tahunku, apa sekarang ia juga melupakan hari ulangtahunnya sendiri?” Eunra mengusap rambut keponakan kekasihnya itu dengan lembut. “Saat itu paman sama sekali tidak melupakan hari ulang tahunmu, Liv, hanya saja saat menunggumu kembali dari sekolah, tiba-tiba ada urusan yang sangat penting terjadi di kantornya, ia pun pergi menyelesaikan urusan kantornya dan berniat kembali sebelum kamu datang, ternyata kamu sudah lebih dulu sampai.” terang Eunra pada Olivia yang saat ini mulai terlihat murung.

Sepuluh menit pun berlalu ketika Olivia sudah mulai tertidur di atas sofa panjang di depan televisi yang menyala tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan otomatis ketika seseorang memasukkan passcode dengan benar. Suara itu kemudian memecah keheningan yang terjadi di dalam ruangan apartemen itu. Seungjae yang terlihat masih berada di pintu, membuat Olivia dan Eunra bergegas menghampiri dengan membawa kue tart. Olivia menyanyikan lagu ulang tahun sementara Eunra menyalakan lilin. Menyadari adanya kejutan saat ia sampai, Seungjae terlihat cukup terkejut kemudian tertawa pelan sebelum akhirnya ia ikut menyanyikan lagu ulang tahun bersama Olivia dan Eunra.

“Buat permintaan sebelum meniup lilinnya, Paman.” Olivia mengingatkan pamannya yang hampir saja meniup lilin tanpa membuat permintaan terlebih dahulu. Seungjae tersenyum kemudian menutup matanya sesaat sebelum akhirnya ia meniup lilin-lilin itu hingga padam. Olivia dan Eunra pun bersorak senang ketika Seungjae selesai meniup lilin berbentuk angka tiga dan dua itu. Seungjae mengucapkan terima kasih pada Olivia dan Eunra dengan mengecup Olivia dan Eunra bergantian. Mereka bertiga kemudian memulai makan malam sebagai bentuk perayaan untuk Lee Seungjae.

*

Olivia mengambil kamera dari dalam kamarnya kemudian memotret pamannya yang masih menghabiskan makanan di meja makan bersama Eunra. Seungjae pun sibuk menghalangi lensa kamera Olivia yang terlalu dekat menggunakan sebelah tangannya sementara Eunra hanya tertawa melihat tingkah keduanya.

Tak lama setelah itu mereka telah selesai makan malam dan ketika Eunra baru akan mencuci peralatan makan yang kotor, Seungjae menghampirinya ke dapur dan tanpa Eunra sadari ternyata ia memeluk Eunra dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya di sepanjang pinggang ramping Eunra.

“Biar bibi Suyeon saja yang mencuci piringnya, Eunra.” Seungjae menahan tangan Eunra dari tumpukan piring itu dengan sebelah tangannya. Ia dapat menghirup wangi tubuh Eunra dari balik bahu Eunra. Sebelum Seungjae sempat membenamkan wajahnya di bahu kekasihnya itu, Eunra tiba-tiba berkata pelan bahwa Olivia bisa saja melihat mereka berdua yang tengah berdiri di depan tempat cuci piring. Eunra tidak ingin Olivia berfikir macam-macam lagi. Ia tidak ingin membuat Olivia yang sekarang telah memercayainya untuk menjadi pendamping Seungjae itu menjadi kecewa ataupun marah.

Seketika itu Seungjae melepaskan pelukannya dengan raut wajah terpaksa dan membuat Eunra membalikkan badannya sambil tertawa pelan kemudian mengecup singkat bibir kekasihnya sebelum akhirnya Olivia datang membawa sebuah gelas besar berisi jus sisa setengah di tangannya.

“Paman sedang apa di sini?” tanyanya sedikit penasaran malah terlihat curiga melihat pamannya dan Eunra berada di sana setelah meneguk habis sisa jus di dalam gelasnya. Eunra hanya menggeleng sambil tersenyum ringan seraya melepaskan tangannya dari bahu Seungjae. “Paman ke sini menyuruh Eunra agar tidak mencuci piring-piring itu.” ujar Seungjae menerangkan. Sebelah alis Olivia terangkat ketika ia menganggukkan kepalanya.

Eunra dan Olivia kemudian segera kembali ke ruang tengah dengan menarik tangan Seungjae ingin menunjukkan kejutan selanjutnya karena mereka berdua telah menyiapkan sebuah kado spesial untuk Seungjae. Olivia mengeluarkan satu buah kado berbentuk persegi panjang yang telah dibungkus rapi dengan kertas bercorak cerah dari balik sofa. Ia langsung memberikan hadiah itu pada pamannya dengan wajah berseri. Seungjae menerima kado tersebut dengan sebuah senyuman lebar. “Kamu membungkusnya sendiri?” tanyanya tidak percaya bahwa Olivia ternyata juga menyiapkan sesuatu untuk dirinya selain pesta kejutan kecil ini.

Olivia mengangguk semangat lalu menambahkan, “Paman boleh buka kado itu sekarang.”

Seungjae pun segera membuka hadiah itu dengan perlahan karena ia tidak ingin merusak lipatan-lipatan yang telah dibuat oleh keponakannya itu dengan susah payah. “Kemeja ini bagus sekali, Olivia.” ujar Seungjae sesaat setelah ia menemukan isi dari kado Olivia yang dibungkus dengan sangat rapi. Di sana ia juga menemukan sebuah surat, selembar foto mereka tengah pergi bertiga di sebuah tempat rekreasi beberapa waktu lalu, dan satu buah buku resep masakan sederhana untuk pemula. Seungjae tertawa ringan melihat barang-barang yang diberikan Olivia padanya. Olivia kemudian berkata bahwa ia hanya boleh membaca suratnya sebelum pergi tidur nanti malam. “Oh ya, aku memberikan paman kemeja itu karena aku pernah merusak kemeja yang dulu paman suka kenakan.” ujarnya agak tersipu.

Seungjae kemudian memeluk dan mencium pipi keponakannya itu dengan bangga kemudian mengucapkan terima kasih. Tidak sampai satu menit kemudian kini giliran Eunra yang berbicara. “Aku juga punya sesuatu untukmu.” Ia mengeluarkan kadonya dari laci meja di depan sofa. Kotak berukuran sedang bermotif ornamen ulang tahun diberikannya pada Seungjae sebagai hadiah. “Boleh kubuka?” Eunra pun seketika menjawab, “Tentu.”

Lee Seungjae menemukan sebuah kotak panjang berukuran lebih kecil di dalam kotak persegi berukuran sedang tersebut. Ketika ia membuka kotak berukuran lebih kecil ia menemukan sebuah kacamata bergagang hitam dengan sedikit aksen warna silver. Ia pun menatap Eunra dengan tidak percaya. Sebelum Seungjae bertanya apapun mengenai kadonya itu Eunra sudah keburu bicara lagi. “Olivia yang memberitahuku bahwa kamu sudah lama sekali tidak mengganti kacamata.” Eunra lanjut bercerita bahwa ia mengetahui jumlah minus mata Lee Seungjae juga dari Olivia. Seungjae tidak menyangka bahwa Eunra akan memberikannya kacamata ini, padahal ia pernah berniat untuk melakukan operasi lasik pada kedua matanya yang rabun dan silinder. Itulah mengapa ia tidak pernah mengganti kacamatanya lagi karena sebenarnya ia ingin melakukan operasi tapi tidak pernah menceritakan hal itu pada Olivia ataupun Eunra.

Selain kacamata, Eunra memberikannya sebuah sweater berwarna biru donker yang terlihat maskulin. “Aku belum pernah melihat kamu memakai sweater, itulah mengapa aku memberikanmu ini.” Seungjae merasa bahwa ia belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya, ini kali pertamanya mendapat hadiah-hadiah spesial dari orang-orang yang dicintainya setelah kedua orang tuanya meninggal. Sudah lama sekali Seungjae merasa tidak diperhatikan, namun kali ini ia sungguh mendapat perhatian yang sangat tulus dari Eunra maupun Olivia karena tahun-tahun sebelumnya Olivia biasanya hanya memberikannya sebuah benda yang dapat dibeli di banyak toko di mall, namun kali ini keponakannya itu meluangkan lebih banyak waktu untuk membungkus hadiahnya.

“Terima kasih, Liv.” Seungjae berkata pada keponakannya itu yang kini tengah duduk di sisi kirinya. Olivia merespon tidak sampai setengah menit kemudian dengan berkata, “Paman sudah mengatakannya tadi.” Mereka hanya tertawa mendengar Olivia. “Maaf tadi paman datang terlambat, paman sungguh tidak mengira kamu dan Eunra akan menyiapkan pesta kecil ini untuk paman.”

Eunra kemudian menyahuti Seungjae sesaat kemudian, “Tadi Olivia sampai hampir menangis karena kamu datang lama sekali.”

Seungjae hanya bisa tertawa pelan kemudian merangkul dua perempuan yang duduk di kedua sisi tubuhnya sampai akhirnya ia beranjak berdiri dan pindah duduk ke sebelah kanan Eunra sementara Olivia bergeser merapat dengan Eunra sehingga kini Eunra duduk di antara Olivia dan Seungjae.

Sesaat kemudian Seungjae mengeluarkan kata-kata dari bibirnya sambil menggenggam kedua tangan Eunra. “Maukah kamu menikah denganku, Eunra?” Mendengar itu Eunra terlihat tidak percaya. Ia menoleh ke arah Olivia yang kini tengah menatapnya dengan tatapan berbinar penuh pengharapan bahwa Eunra akan menerima lamaran pamannya. Butuh dua detik kemudian sampai akhirnya Eunra menganggukkan kepalanya dan berkata bahwa ia mau menikah dengan Seungjae dan akan menjadi bagian dari keluarga kecil ini.

“Kamu tahu hari ini umurku beranjak tiga puluh dua dan aku butuh seseorang yang menemaniku untuk mengurus dan merawat Olivia hingga dewasa. Aku menemukan dirimu sangat tulus menyayangi Olivia dan tidak mudah bagi wanita-wanita lain melakukan hal yang sama seperti dirimu.” Belum selesai Seungjae berbicara, Eunra memeluk pria itu dengan erat dan meneteskan air matanya. Eunra benar-benar ingin menjaga Seungjae dan Olivia. Dan inilah yang membuatnya mencintai mereka berdua.

Eunra pun juga turut menarik Olivia ke dalam pelukannya. Perasaan ini tidak pernah ia temukan dan rasakan sebelumnya. Perasaan ini hanya ia rasakan ketika dirinya berada di dekat Seungjae dan Olivia karena selain ia mencintai seorang Lee Seungjae sebagai seorang yang hangat, ia juga sangat menyayangi Olivia.

Seungjae merapikan rambut-rambut halus Eunra di sekitar wajahnya yang basah kemudian membersihkan air matanya. “Kamu tahu, Eunra, kamu dan Olivia adalah dua orang yang paling ingin aku jaga di dunia ini, karena aku hanya memiliki kamu dan Olivia. Karena selama ini wanita-wanita itu hanya mencintaiku dan hartaku, mereka tidak pernah benar-benar menyayangi Olivia.”

Olivia tersadar bahwa pamannya memang tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirinya dan Eunra, Olivia sendiri masih memiliki kakek dan nenek dari ayahnya yang sekarang tinggal di Belanda, ia tidak terlalu dekat dengan nenek-kakeknya di sana. Dan baru kali ini ia mendengar pamannya bercerita tentang yang selama ini ia alami. Karena selama ini Seungjae hanya bercerita tentang bagaimana Olivia harus menjadi wanita yang kuat dan mandiri.

Selama ini Olivia selalu merasa bahwa wanita-wanita yang berada di dekat pamannya adalah sama, wanita-wanita itu hanya menginginkan pamannya dan tidak akan pernah memerdulikan dirinya, itulah yang membuatnya merasa marah ketika pamannya memulai hubungan dengan Eunra yang ternyata berbeda dari wanita-wanita yang pernah dekat dengan pamannya.

Karena Olivia hanya ingin pamannya bersama seseorang yang benar-benar tepat untuk pamannya. Dan saat ini ia benar-benar menginginkan pamannya bahagia bersama seorang Goo Eunra.

“Jadi kapan paman akan menikah? Aku boleh memilih gaunku sendiri, ya?”

*

Donghae masih tidak bisa percaya tentang apa yang tadi malam Kyuhyun ceritakan pada dirinya. Ia sendiri masih tidak menyangka bahwa sabahatnya yang dari luar terlihat baik-baik saja ternyata memendam rasa putus asa yang begitu dalam sampai berlarut-larut. Ia selalu mengira bahwa Kyuhyun sudah melupakan masa-masa tiga tahun silam yang kelam dan pahit itu.

Sebagai teman lama, Donghae tahu betul bagaimana perjalanan hidup sahabatnya yang pernah pahit. Donghae menyaksikan seluruh peristiwa itu, saat Kyuhyun masih belum tinggal di Korea, di mana ia masih menjalin hubungan dengan seorang wanita muda yang membuat Kyuhyun dimabuk cinta setiap harinya, sampai di saat mereka berpisah dan membuat hidup sahabatnya itu benar-benar berubah. Donghae memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, namun kadang ia merindukan sosok Kyuhyun yang dulu, dimana Kyuhyun menjalani hidupnya dengan normal tanpa dihantui kenangan masa lalu seperti tiga tahun terakhir ini.

Jika mengingat itu, Donghae ingin marah dan protes pada Kyuhyun mengapa begitu rela hidupnya dibayang-bayangi oleh wanita yang sudah tidak mencintainya lagi. Ia ingin marah atas sikap sahabatnya yang selalu mengabaikan perasaan wanita-wanita yang mencoba untuk masuk ke dalam hatinya. Bahkan sahabatnya itu terlihat seperti laki-laki brengsek yang memainkan wanita. Walaupun pada kenyataannya ia hanya takut peristiwa tiga tahun lalu terjadi kembali.

Ketika semalam Kyuhyun telah terlelap di saat Donghae masih tidak bisa tidur, ia menemukan ponselnya mati kehabisan baterai padahal ia baru saja akan menghubungi Sila. Donghae pun mulai mengingat-ingat sambil mencari dimana biasanya Kyuhyun menyimpan charger ponsel. Di samping sisi tempat tidurnya saat ini terdapat sebuah meja kecil dengan laci. Mungkin di dalam sana, pikirnya. Donghae membuka laci tersebut dengan perlahan kemudian mulai merogoh. Bukannya charger yang ia temukan, melainkan sebuah bingkai foto berukuran tidak terlalu besar. Donghae melirik ke arah Kyuhyun yang tengah tidur di sebelahnya, memastikan bahwa sahabatnya itu tidak memergokinya yang sedang menemukan sebuah foto berbingkai.

Donghae mengeluarkan bingkai tersebut keluar dari laci kemudian memerhatikan foto dengan seksama. Foto itu menampilkan Kyuhyun bersama dengan seorang wanita berparas cantik. Kyuhyun merangkul gadis itu dengan mesra dimana keduanya sama-sama terlihat tersenyum lepas ke arah kamera. Donghae berfikir sejenak, ia familiar dengan foto ini, seperti Kyuhyun pernah menunjukkannya beberapa tahun lalu. Ya, Kyuhyun memang pernah menunjukkannya foto ini. Ingat sekali Donghae kapan foto itu diambil, yaitu ketika Kyuhyun dan gadisnya itu sedang berbulan madu bertahun-tahun lalu.

*

Kang Jihyun memberitahu lewat telepon bahwa ibu Donghae baru saja siuman dan tidak sampai sepuluh menit kemudian Donghae yang tadi sedang berada di ruangannya segera pergi ke dalam ruang perawatan ibunya di ICU. Donghae dapat melihat bahwa sorot mata ibunya masih lemah sehingga memutuskan akan menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu ibunya bahwa ia akan menikahi Jung Sila.

Ibu Donghae pun tersenyum ketika anaknya itu mencium wajahnya. Donghae duduk di kursi di sisi tempat tidur ibunya dan sedari tadi terus menggenggam tangan hangat ibunya yang selalu ia rindukan.

“Di mana Sila?” tanya ibu Donghae dengan suara pelan. Donghae menjawab bahwa Sila sedang menunggu di luar ruangan. “Bagaimana keadaan ibu?”

“Ibu ingin bertemu Sila.” dengan sigap Donghae pun kemudian segera meminta Sila untuk menemui ibunya dan ia sendiri menunggu di luar ruangan ketika ibunya berbicara dengan Sila karena ia tidak ingin menggangu. Namun sekitar sepuluh menit kemudian Sila menyusulnya keluar dan menyuruh Donghae agar ikut masuk ke dalam. Ternyata ibunya meminta Sila agar terus tetap bersama Donghae. Ibunya juga mengatakan bahwa ia sangat menyukai Sila.

“Bu, aku telah melamar Sila beberapa hari yang lalu dan kami ingin meminta restu pada ibu.”

“Benar begitu, Sila? Donghae telah melamarmu?” Mendengar itu Sila tersenyum dan pipinya merona. Ia kemudian menjawab dengan sopan, “Ya, Bu.” Ibu Donghae lantas tersenyum lebar mendengar bahwa anak laki-lakinya telah melamar seorang gadis dengan serius.

“Ibu sangat senang mendengar kalian akan menikah. Ibu tidak sabar menggendong cucu.” ujarnya semakin terlihat antusias. Wajah pucatnya berubah berseri lama-kelamaan. Hal itu menambah rasa bahagia Donghae dan Sila. “Ibu serahkan seluruh persiapan pernikahan kalian karena pernikahan kalian ini adalah hari bersejarah bagi kalian berdua. Ibu tidak ingin merecoki urusan pribadi kalian.” ujarnya lagi sambil tersenyum sebelum akhirnya Donghae dan Sila pamit pergi keluar ruang rawat inap tersebut.

*

Kyuhyun berjalan masuk ke dalam ruangan Donghae. Ketika melangkah masuk, Kyuhyun menemukan Sila tengah berada di sana bersama Donghae yang keduanya terlihat sedang berbincang santai di atas sofa empuk kesukaan Donghae di sela-sela jam makan siang mereka. Mereka berdua benar-benar terlihat serasi dari sudut penglihatan Kyuhyun. Mungkin mereka berdua memang telah ditakdirkan untuk jatuh cinta dan hidup bersama. Melihat itu Kyuhyun lantas berdeham pelan, lantas membuat baik Sila maupun Donghae menyadari keberadaan Kyuhyun di sana. Donghae beranjak berdiri dan menyambut Kyuhyun.

Dalam hati Kyuhyun menyesal datang ke ruangan ini jika seandainya dia tahu bahwa Donghae sedang bersama Sila di sini. Ia tidak bermaksud untuk menganggu waktu mereka berdua. Apalagi Kyuhyun tahu bahwa dalam waktu dekat sahabatnya itu akan segera menikah, pasti mereka berdua kini tengah menikmati waktu pacaran mereka sebelum keduanya menjadi sepasang suami-istri yang ia yakin akan membuat iri banyak pasangan lainnya.

“Mmm, aku cuma mau memberitahumu kalau bulan depan akan ada seminar internasional lagi. Oh ya, aku juga mau mengembalikan ini.” Kyuhyun berkata cepat seraya mengeluarkan dompet milik Donghae yang tertinggal di rumahnya semalam. “Oh trims.” jawab Donghae ketika Kyuhyun hendak pergi lagi dari ruangannya. Kyuhyun hanya melambaikan tangannya sebagai tanda mengiyakan sebelum akhirnya ia lenyap dari pandangan Donghae.

Entah apa yang sedang dilakukan Sila dan Donghae di ruangan itu, Kyuhyun tidak ingin mengetahuinya. Semoga saja Donghae tidak berbuat macam-macam di jam makan siang.

*

Eunra dan Olivia pergi mengantar Seungjae ke bandara yang akan melakukan perjalanan bisnis ke dua negara bersebelahan yaitu Indonesia dan Singapura. Mereka berdua melambaikan tangan ke arah Seungjae yang berjalan masuk ke dalam terminal keberangkatan. Mungkin Seungjae akan kembali dalam lima hari mendatang setelah kemarin malam baru saja melamar dirinya. Eunra dan Olivia tahu bahwa Seungjae memang tidak akan bisa menjadi seseorang yang tidak sibuk dengan segala urusan pekerjaan yang menyita hampir seluruh waktu yang seharusnya bisa dihabiskan bersama Eunra dan Olivia.

Setidaknya siang tadi mereka bertiga sempat makan siang bersama di sebuah restoran yang berlokasi tidak jauh dari kawasan bandara. Di sana mereka sempat berbincang mengenai pernikahan. Kapan dan dimana sebaiknya Seungjae dan Eunra melangsungkan pernikahan. Olivia lah yang terlihat paling antusias membicarakan hal ini. Olivia sendiri menginginkan pamannya menikah sebelum akhir tahun karena ia ingin mereka bisa merayakan malam pergantian tahun nanti dengan bersama-sama.

Walaupun ini pernikahannya, namun Seungjae tidak banyak berkomentar, ia memang sudah menyerahkan semua keperluan pernikahan pada calon istrinya dan keponakannya yang sangat bersemangat ini. Ia sendiri sudah cukup sibuk dengan urusan pekerjaannya sehingga ia tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan bagaimana pesta pernikahannya nanti. Karena ia hanya menginginkan perayaan yang sederhana yang akan dihadiri oleh kerabat dan rekan dekat mereka saja. Karena yang terpenting baginya adalah ia ingin membuat Olivia dan Eunra bahagia.

Jika pernikahannya nanti akan diadakan sebelum akhir tahun maka mereka masih memiliki waktu sekitar empat bulan untuk menyiapkan pernikahan. Dan Eunra sendiri yang akan mempersiapkan pernikahannya dibantu sedikit oleh Olivia.

*

Sementara Donghae tengah sibuk melanjutkan pekerjaannya dan memantau keadaan ibunya yang masih dirawat secara intensif di rumah sakit, juga Sila yang sama sibuknya, mereka berdua hampir tidak memiliki waktu luang selain waktu makan siang dan pulang kerja untuk membahas masalah pernikahan mereka yang berlangsung tidak lama lagi. Melihat kesibukan keduanya yang sama-sama tidak memiliki waktu lebih untuk memikirkan persiapan pernikahan mereka sendiri, membuat mereka memutuskan agar setelah pulang kerja, mereka akan menyerahkan seluruh urusan pernikahan mereka pada sebuah wedding organizer yang cukup terkenal di Seoul.

Sudah satu jam Donghae menunggu Sila datang ke ruangannya. Untungnya malam ini Donghae sedang tidak sibuk dan waktunya kosong sampai besok pagi sehingga ia sudah membuat janji pada Sila untuk pergi keluar bersama untuk menemui Wedding Organizer yang akan mengurus pernikahan mereka. Namun kenyataannya sudah satu jam Donghae menunggu Sila, tapi dokter kandungan favorit Donghae itu belum juga memunculkan batang hidungnya.

Kali ini Donghae membuka ponselnya kemudian menekan tombol panggilan cepat dan tidak lama kemudian seseorang segera mengangkatnya. “Sedang apa, Kyu?” Setidaknya ia memiliki teman bicara selama menunggu Sila.

Kyuhyun menjawab bahwa ia sedang membaca beberapa dokumen riwayat kesehatan beberapa pasiennya. Tidak ada jadwal operasi untuk malam ini. Sama-sama sedang tidak sibuk seperti Donghae saat ini. Kyuhyun kemudian menanyakan Donghae balik dan Donghae berkata bahwa ia sedang menunggu Sila. Ia juga mengatakan pada Kyuhyun bahwa ia berencana pergi bersama Sila namun gadisnya itu tidak memberi kabar apa-apa sampai saat ini, mungkin sedang ada persalinan mendadak, itu yang dikatakan Donghae padanya. Terdengar seperti menghibur diri sendiri.

“Soal yang kemarin siang, memang seminarnya akan diadakan dimana?” tanyanya lagi sambil memainkan pulpen pemberian Sila yang berharga setengah juta won di tangan kirinya.

Di seberang saluran telefon Kyuhyun menjawab dengan santai. “Munich.” Mendengar itu Donghae tampak antusias namun tak berapa lama kemudian ia pun mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius ketika alarm darurat dari saku kemejanya berbunyi.

“Tunggu sebentar, Kyu, aku baru mendapat panggilan darurat.” ujarnya mengakhiri percakapan singkat mereka sebelum akhirnya Donghae berlari keluar menuju lorong rumah sakit yang sepi.

*

Kyuhyun berjalan bersebelahan bersama Kang Jihyun menuju kamar rawat ibu Donghae yang sudah dipindah ke ruang inap biasa, tidak lagi di ICU sejak kemarin sore. Pagi ini Kyuhyun akan melakukan kunjungan dan mengecek perkembangan kesehatan ibu Donghae pasca operasi. Donghae sendiri juga sedang sibuk menangani operasi-operasi, tapi ia tidak menangani ibunya. Mungkin besok atau lusa ibu Donghae sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah untuk rawat jalan saja.

Akhir-akhir ini Kyuhyun jarang bertemu Donghae sejak ia mengembalikan dompet sahabatnya itu, Donghae juga jarang sekali muncul di hadapannya, mungkin sedang sibuk mengurus masalah pernikahannya sebentar lagi dengan dokter kandungan berparas cantik itu.

Kang Jihyun membukakan pintu ruangan untuk Kyuhyun melangkah masuk lebih dulu. Ibu Donghae yang saat itu tengah menonton siaran di televisi menoleh dan tersenyum ketika melihat Kyuhyun dan Kang Jihyun berjalan memasuki ruangannya.

Setelah melakukan sejumlah pemeriksaan, Kang Jihyun segera pamit pergi karena ia sedang buru-buru harus memeriksa pasien di lantai enam. Sedangkan Kyuhyun masih tetap berada di sana ketika ibu Donghae mengajaknya mengobrol ringan.

“Ibu sempat tidak percaya ketika Donghae bilang bahwa dirinya akan menikah, ibu tahu bahwa sebelumnya Donghae tidak pernah seserius ini selama menjalin hubungan dengan wanita. Sampai-sampai kakaknya sudah pernah ikut menasehati Donghae karena sering berganti-ganti teman kencan selama setengah tahun terakhir. Namun, ibu justru senang sekali ketika Donghae akhirnya menemukan Sila yang bisa membuat Donghae bertekuk lutut padanya.” Ibu Donghae bercerita dengan mata berseri-seri. Donghae memang telah kehilangan ayahnya sejak beberapa tahun lalu dan sejak itulah Donghae sering memainkan wanita sesuka hatinya. Kyuhyun juga sering merasa bahwa itu suatu bentuk pelampiasan Donghae akan rasa kehilangan dan rindu pada ayahnya.

Kyuhyun meraih kedua tangan wanita paruh baya itu yang terasa hangat. Sudah lama Kyuhyun tidak pernah merasakan kehangatan ini menjalar ke seluruh telapak tangannya yang dingin. Kyuhyun selalu menganggap ibu Donghae sebagai ibunya sendiri. Donghae sungguh beruntung, pikir Kyuhyun dalam hati.

“Bagaimana denganmu, Kyuhyun? Apakah sudah menemukan seseorang pengganti Sera?” tanyanya dengan suara khasnya yang keibuan. Nada yang penuh dengan kedamaian. Kyuhyun sangat menyukai nada bicara ibu Donghae yang menenangkan. Kyuhyun menanggapinya dengan menggelengkan kepalanya. “Belum, bu,” ia mengangkat wajahnya menatap ibu Donghae yang memandanginya sebagaimana ia sedang memandangi Donghwa dan Donghae. “Sepertinya mustahil untuk menemukan pengganti Sera. Saya tidak pernah bisa melupakannya.”

Kyuhyun yang duduk di kursi di sisi tempat tidur kembali tertunduk. Ia telah berbagi cerita dengan ibu Donghae sejak ia berteman dengan Donghae beberapa tahun lalu. Ibu Donghae selalu mendengarkan keluh kesahnya dan memberinya nasihat yang bijak pada Kyuhyun tiap kali Kyuhyun datang padanya untuk bercerita.

“Jika kamu masih mencintainya, maka kejar dan gapailah ia kembali. Donghae pernah memberitahu ibu bahwa akhir-akhir ini kamu mencoba untuk menemukan seorang yang dapat menggantikan Sera, bukan?” Kyuhyun mengangguk kali ini. Ia merasa seperti seorang laki-laki pecundang yang telah memainkan hati wanita yang kini entah bagaimana kabarnya.

“Jangan memainkan wanita, Kyuhyun. Jika hatimu masih menginginkan Sera, maka kembalilah padanya.”

*

Sudah lima belas menit Kyuhyun memandang kosong layar komputer yang menampilkan fotonya bersama seorang wanita yang telah mengisi hari-harinya selama beberapa tahun lalu. Ia kemudian tersadar dari lamunannya dan segera menghilangkan gambar itu ketika ia mendengar suara ketukan pintu berasal dari luar ruangannya. Tanpa melihat siapa yang tengah berada di balik pintunya, ia segera menekan intercom agar membuka kunci secara otomatis.

Ia mengira Donghae yang datang. Ternyata ini justru diluar perkiraannya. Jung Sila nampak masuk dengan wajah cemas. “Maaf menggangumu, Kyuhyun. Tapi aku tidak dapat menemukan Donghae dan ia tidak menjawab panggilanku.” Seketika itu Kyuhyun mengerutkan keningnya. Ia memang tidak melihat Donghae sejak semalam.

“Aku juga tidak melihat Donghae sejak ia mengoperasi pasien semalam. Sebelum ia pergi menangangi pasien, ia sempat menghubungiku lewat telepon, dan itu pun tidak lama sebelum akhirnya ia mendapat panggilan operasi.” Kyuhyun tampak tengah mengingat-ingat apa yang ia lakukan semalam. “Oh ya, ia juga berkata bahwa ia sedang menunggumu karena kalian akan pergi bersama, bukan?”

Ekspresi wajah Sila seketika berubah. Ia terlihat lebih panik daripada sebelumnya. Kyuhyun sampai berpikir apakah tadi ia salah mengatakan sesuatu? Menurutnya ia hanya mengatakan apa yang diingatnya.

“Ada apa memangnya?” tanya Kyuhyun kemudian menyadari bahwa Sila tampak berbeda dari biasanya. Sila tersadar akan pertanyaan Kyuhyun padanya kemudian menggelengkan kepalanya seraya berkata. “Semalam kami tidak jadi pergi, Kyuhyun. Dan aku tidak sempat memberitahunya bahwa aku tidak bisa pergi dengannya malam itu.” mendengar perkataan Sila barusan Kyuhyun kemudian mencoba untuk menghubungi ponsel Donghae.

Nada sambung itu terus-menerus terdengar tanpa ada tanda-tanda kalau Donghae akan mengangkatnya. Sila semakin terlihat gelisah di atas sofa sana. Kyuhyun mengendikkan bahunya seraya mematikan sambungan telepon yang ketiga kalinya.

“Donghae memang sering tidak mengisi ulang baterainya.” Kyuhyun meletakkan ponselnya ke atas meja seraya berjalan menuju sofa di seberang tempat Sila saat ini tengah duduk. “Kebiasaan buruknya tidak pernah hilang.”

Sila masih dengan wajah bersalahnya berkata pelan. “Donghae pasti marah padaku. Kalau begitu aku pamit pergi dulu, Kyuhyun.” ujar Sila beranjak berdiri sambil merapikan kemeja dan roknya.

Kyuhyun mengantar Sila sampai depan pintu ruangannya kemudian berkata sebelum Sila pergi meninggalkannya. “Operasi yang ditangani oleh Donghae semalam itu baru berakhir sekitar subuh.”

*

Sila merapikan kuncir kudanya sebelum ia menekan bel apartemen kekasihnya itu dengan agak berdebar takut Donghae tidak membukakan pintu untuknya. Setelah dua menit menunggu, Sila kemudian menyerah dan memasukkan sederet angka sampai akhirnya pintu itu terbuka sedikit dengan otomatis membuat Sila hanya perlu mendorongnya sedikit. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan menggantinya menjadi sepasang sandal rumah empuk milik Donghae.

Donghae belum juga terlihat dan itu membuat Sila memutuskan untuk mencarinya ke dalam kamar. Dengan perlahan dan hati-hati Sila membuka pintu kamar Donghae sebelum akhirnya ia menghembuskan napas lega ketika melihat sosok Donghae yang kini tengah menghadap ke arah lain. Sila pun tidak ingin membuang waktu sehingga ia segera menghampiri Donghae yang saat ini tengah tidur di atas ranjang.

Donghae terlihat sangat menikmati tidurnya, Sila menjadi tidak tega membangunkan Donghae dari tidur lelapnya sehingga Sila pun akhirnya memutuskan untuk membereskan barang-barang Donghae yang berserakan di lantai kamar milik kekasihnya itu. Pasti Donghae baru pulang dari rumah sakit sekitar subuh. Lihat saja bagaimana Donghae masih mengenakan kemeja dan dasi yang sudah tidak karuan bentuknya untuk tidur. Rupanya Donghae hanya melepaskan jas dan sepatunya, itu pun hanya ia lepaskan dengan sembarangan.

Setelah lantai kamar telah bersih dari barang-barang Donghae, Sila kemudian kembali menghampiri Donghae yang sedari tadi tidur memeluk sebuah bantal guling lembek yang telah menjadi guling kesayangannya sejak masih sekolah menengah dulu. Pemandangan Donghae tidur kali ini membuat Sila tidak bisa untuk tidak tersenyum melihatnya. Tidak ingin kehilangan kesempatan emas, Sila buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menjepret beberapa kali pose tidur Donghae yang lucu yang tidak pernah dilihat olehnya.

Sila akhirnya duduk di tepi tempat tidur dan mengelus rambut hitam kecoklatan Donghae yang lembut dan halus. Ia sendiri heran bagaimana rambut kekasihnya itu bisa selembut dan sehalus rambut bayi. Tangan Sila turun ke wajah Donghae dan menyentuh wajah Donghae yang terlihat lelah. Kantung mata hitam di bawah kedua mata Donghae membuat Sila semakin tidak tega membangunkannya. Namun ia juga tidak dapat memungkiri dirinya sendiri bahwa ia sangat merindukan seorang Lee Donghae.

Kali ini Sila hanya memandangi Dongahe yang masih tertidur sampai akhirnya tiba-tiba Donghae berubah berkeringat dan ia mulai mengingau tidak jelas. Donghae semakin mengigau dan berbicara tidak jelas sementara kedua matanya masih terpejam rapat. Sila pun segera berusaha untuk membangunkan Donghae dari tidurnya. Nafas Donghae menderu dan dadanya naik-turun. Sesekali Donghae terdengar menyebut-nyebut ayahnya. Mendengar itu Sila lantas memanggil nama Donghae agar pria itu terbangun.

Tidak lama setelah itu, Donghae terbangun dengan wajah takut dan nafasnya masih berderu kencang tidak beraturan. Sila segera menarik Donghae ke dalam dekapannya agar pria itu tenang di pelukannya. “Itu hanya mimpi, Donghae, tidak apa-apa, ada aku di sini.” Sila berbisik tepat di telinga Donghae, menenangkannya dengan mengelus punggung tubuh Donghae yang masih tidak bisa mengatur nafasnya sendiri. Sila merasakan pelukan Donghae mulai mengendur dan ia pun melepaskan pelukannya kemudian menatap kedua mata Donghae yang berwarna kemerahan. Sila menyentuh wajah Donghae dengan kedua telapak tangannya. Ia menatap Donghae yang saat ini masih berusaha mengatur nafasnya.

“Sila?” tanya Donghae yang sebelumnya tidak tahu bahwa kekasihnya itu berada di sini bersamanya kini terlihat bingung.

Sila menganggukkan kepalanya seraya melepaskan kedua tangannya dari wajah Donghae. “Ya, ini aku, Donghae.” ujarnya dengan tenang. “Aku akan ambilkan kamu minum dulu.” ia berkata sebelum akhirnya ia beranjak pergi ke dapur.

Sesampainya kembali Sila ke kamar tidur Donghae, ia segera menyerahkan sebuah gelas bening berisi air putih untuk Donghae. Donghae meminumnya satu tegukan kemudian menyerahkannya kembali pada Sila. “Sudah tidak apa-apa, kan?” tanya Sila pada Donghae yang tampak tengah menyusun kata-kata.

“Aku mimpi ibuku akan pergi bersama ayahku, aku meminta ayah agar jangan membawa ibu, Sila, namun ia tetap terus memegang tangan ibuku tanpa melepaskannya.”

“Sttt..,” Sila menutup bibir Donghae dengan jari-jarinya kemudian tersenyum kecil sembari ia membersihkan keringat yang tadi bercucuran di sekitar wajah dan leher Donghae menggunakan tisu. “Itu cuma mimpi, Donghae sayang.”

“Besok lusa ibumu sudah boleh pulang, kamu sudah tahu kan?” Donghae hanya menggelengkan kepalanya kemudian menyandarkan punggungnya dan menarik selimutnya kembali, menutupi tubuhnya sampai ke atas dada. Namun tak sampai semenit kemudian Sila menurunkan selimut Donghae dan mengulurkan tangannya ke sekitar leher Donghae. Awalnya Donghae tidak tahu apa yang akan dilakukan Sila namun rupanya Sila hendak membuka dasi yang masih melingkar longgar di sekitar kerah kemeja kusutnya.

Tangan Sila bergerak lincah membuka ikatan dasi kemudian melepaskannya. Kali ini ia mulai membuka satu-persatu kancing dari yang teratas. Sampai pada kancing ketiga Donghae menyentuh tangannya. Sila menatap matanya seolah bertanya ada apa. “Kenapa kamu tidak datang semalam?” tanya Donghae dengan suara rendah. Tidak ada sorotan mata marah yang terpancar dari mata Donghae. Kedua matanya terlihat lelah dan masih mengantuk. Sila bersalah dibuatnya.

“Maafkan aku, Donghae, semalam aku tidak sempat mengabarimu kalau aku harus pergi dengan kakakku yang datang tiba-tiba,” ekspresi wajah Donghae masih tidak berubah, ia menunggu Sila kembali melanjutkan kalimatnya. “Dan ketika aku mengabarimu, kamu sedang berada di ruang operasi, aku mencoba menghubungimu sampai pagi tadi, tapi ternyata kamu tidak pergi ke rumah sakit dan ponselmu tidak aktif, aku mengira kamu marah padaku.” Donghae menyentuh wajah Sila dengan tangan kanannya. “Aku kira kamu tidak jadi ingin menikah denganku.” ujar Donghae kali ini dengan sedikit senyuman di bibirnya.

Sila balas tersenyum manis. “Kamu tahu, orangtua dan kakakku sangat bersemangat ketika aku memberitahu tentang kamu yang melamarku, mereka ingin menjenguk ibumu besok, tidak apa-apa, kan?”

“Ya, tidak apa-apa.” Sila kembali melanjutkan membuka kancing-kancing kemeja Donghae hingga semua terbuka kemudian melepas kemeja yang melekat di tubuh Donghae. Sebelumnya Sila sudah mengambil sepotong kaus dari lemari baju Donghae. Kali ini ia memakaikan kaus itu pada Donghae.

“Bagaimana kalau sore nanti kita pergi menemui wedding organizer sebagai ganti yang semalam tidak jadi?” Sila menunggu respon Donghae sebelum akhirnya ia mengecup singkat sebelah pipi Donghae seraya meletakkan celana tidur ketika ia beranjak berdiri hendak membuatkan Donghae makan siang. “Kamu ganti celana kerjamu dan aku menyiapkan makanan, ok?”

*

Seungjae memutus sambungan telepon kemudian menyandarkan tubuhnya. Ia baru saja memarahi seorang pegawainya yang melakukan kesalahan laporan dokumen sehingga membuatnya harus menunda jadwal kepulangannya. Baru sore ini nanti ia akan melakukan perjalanan pulang setelah selesai menyelesaikan urusan pekerjaannya di dua negara bersebelahan ini. Sejauh ini Eunra memberinya kabar bahwa ia tidak perlu pusing memikirkan pernikahan mereka karena Eunra sudah menanganinya.

Namun yang membuatnya kepalanya berdenyut sakit siang ini bukanlah tentang pernikahannya yang tidak sempat ia tangani bersama Eunra sebagaimana yang biasanya dilakukan oleh pasangan yang lain ketika akan menikah. Masalahnya adalah, seharusnya ia terbang kembali ke Korea sekitar dua hari lalu, namun pekerjaannya baru bisa terselesaikan hari ini. Padahal ia sudah membuat janji dengan Olivia bahwa mereka akan pergi mengunjungi makam kedua orang tua Olivia dan orang tua Seungjae sendiri. Janji itu harusnya ia lakukan kemarin, namun ia tidak bisa menepati janjinya. Ia menyesal karena telah membuat Olivia kembali kecewa dengan dirinya yang telah berkali-kali membuat Olivia menunggu lama akan kedatangan dirinya.

Seungjae menyadari dirinya memang tidak bisa selalu berada di sisi Olivia sejak dulu. Dan selama ini pula Olivia telah banyak memaklumi pekerjaannya yang selalu melakukan perjalanan luar negeri.

*

Pesawat komersial milik Singapura itu berhasil mendarat dengan mulus di atas landasan yang basah dan licin akibat hujan yang tidak kunjung berhenti sejak tiga jam terakhir. Lee Seungjae mulai mengaktifkan kembali ponselnya setelah pesawat berhenti seraya ia bersiap keluar dari badan pesawat bersama beberapa penumpang lainnya. Sayangnya malam nanti ia tidak bisa langsung beristirahat karena sebuah meeting masih menantinya setelah ini. Itu membuatnya tidak bisa menghabiskan malam dengan Olivia untuk sekedar berbagi cerita apa yang ia lewatkan selama satu minggu kepergiannya ke Indonesia dan Singapura.

Tetapi untungnya sakit kepalanya sudah tidak terlalu sakit seperti sebelum ia berada pesawat, namun tetap saja ia tidak dapat menikmati perjalanan kelas bisnisnya itu dengan nyaman karena kali ini ia benar-benar merasa seperti ingin jatuh. Sepanjang perjalanan udara yang ia tempuh selama beberapa jam itu hanya ia habiskan dengan berusaha menutup matanya bermaksud untuk mengabaikan rasa sakit yang luar biasa nyeri dari sisi kanan perutnya. Padahal ia sudah meminum obat maag seperti biasanya. Namun rasa sakit dan nyerinya itu tidak berkurang barang sedikit pun.

Untungnya penumpang yang duduk tepat di sebelahnya tidak menyadari dirinya yang berusaha mati-matian terlihat biasa saja selama pesawat mengudara tadi. Jika saja tidak ada meeting setelah ini, ia mungkin akan segera melarikan diri ke rumah sakit dekat kantornya itu, daripada harus menderita seperti ini sepanjang malam nanti. Ia sendiri yakin pasti sakit lambung akutnya itu sedang kumat di saat ia sedang banyak urusan dan rapat di sana-sini.

Seungjae dapat melihat supir pribadinya yang telah menunggu di depan pintu keluar dari balik lensa kacamata minus-silindernya saat ia tengah berjalan keluar gedung bandara melalui sebuah pintu otomatis yang terbuka ketika sensornya mengenali seseorang yang berjalan mendekat. Supir pribadinya itu kini mengenakan kemeja hitam bergaris siap untuk membantunya membawa sebuah koper berukuran sedang yang isinya hanya beberapa lembar pakaian miliknya.

Supirnya terlihat sedang berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil alih koper dari tangannya yang kini berjarak hanya tinggal beberapa langkah lagi namun sebelum ia sempat menyerahkan kopernya, pandangannya semakin terlihat kabur. Ia mengerjapkan matanya sekali sebelum akhirnya tubuhnya ambruk jatuh dan semuanya berubah gelap.

*

Seungjae merasakan sesuatu mengalir memasuki tubuhnya melalui pembuluh darahnya yang kini ditembus oleh sebuah jarum tipis yang menginjeksikan semacam cairan bening ke dalam tubuhnya dari balik permukaan kulit. Ia tidak dapat melihat apa-apa kecuali siluet samar yang memakai baju serba putih dan menggunakan masker sedang menyuntiknya dengan sesuatu membuatnya merasa sedikit ngilu di bagian lengan. Ia mulai mengingat-ingat apa yang terakhir kali terjadi pada dirinya yang membuatnya berada di tempat seterang ini. Jelas ini bukan kamar tidur di apartemennya.

Bandara yang penuh dengan orang dan seorang supir yang tengah berdiri beberapa langkah tepat di depannya. Itulah yang terakhir ia ingat. Tak sampai satu menit kemudian ia pun berhasil membuat kesimpulan bahwa ia pasti jatuh pingsan ketika berada di bandara.

Cairan infus bening yang mengalir dalam sebuah selang bening itu kini terasa menjalar di bawah permukaan kulit menyebar ke seluruh tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia hanya memandang kosong ke arah selang yang menggantung dan masuk menembus sebelah lengannya, ia masih tidak dapat berpikir banyak. Ketika perawat itu pergi meninggalkan ruangannya setelah berkata pelan pada dirinya, ia tidak merespon perkataan tersebut dan kini sibuk mencari telepon genggamnya. Ia ingin memberitahu sekretarisnya jika ia batal menghadari rapat. Sebelum ia berhasil menemukan ponselnya tanpa bantuan kacamata, pintu kamar rawatnya terbuka pelan.

Seseorang tampak berjalan mendekati ranjangnya. Masih berbaju serba putih, namun ia yakin kali ini seseorang itu adalah berjenis pria. Mungkin yang datang kali ini adalah seorang dokter, tebaknya dalam hati.

“Lee Seungjae?” Mendengar suara yang tidak terlalu asing di telinganya, ia pun meresponnya seolah ia mengenalnya, walaupun sebenarnya ia sendiri tidak yakin siapakah yang sedang berada di hadapannya kali ini. “Sakit lambungmu kelihatannya bukan hal sepele yang bisa kamu abaikan begitu saja.” Ujar orang itu lagi. Dahi Seungjae berkerut ketika memikirkan sebuah nama dari seseorang ini.

Seungjae akhirnya mulai mengenali suara itu, “Kang Jihyun?” Dahi pemilik nama itu yang kali ini terlihat berkerut ketika Seungjae mengatakan namanya. “Kamu tidak mengenaliku?” tanya Kang Jihyun dengan nada agak tidak percaya. Ia yakin sekali bahwa mereka tentu saja pernah bertemu beberapa bulan lalu di rumah sakit ini. Bagaimana bisa Seungjae sudah tidak mengenali dirinya lagi.

Lee Seungjae terlihat sedikit bingung harus menjawab apa. “Aku tidak dapat melihat dengan jelas tanpa kacamataku.” akhirnya ia berkata apa adanya. Hal itu lantas membuat Kang Jihyun langsung menyadari bahwa seharusnya ia tidak berburuk sangka pada teman lamanya ini. Ia pun kemudian segera melihat sekeliling ruangan dan menemukan sebuah kacamata yang mungkin milik Seungjae. “Ini.” Kang Jihyun menyerahkan kacamata itu pada Seungjae yang dengan sigap menerima. “Thanks.”

“Jika seandainya supirmu itu tidak segera membawamu ke rumah sakit ini mungkin kau sedang berada dalam masa kritis sekarang,” Kang Jihyun mengeluarkan sebuah ponsel tipis berwarna hitam dari balik jas putihnya. “Kau berhutang banyak pada supir itu.” Seungjae menerima ponsel yang dititipkan oleh supirnya pada Kang Jihyun seraya tersenyum samar.

Kang Jihyun membalikkan tubuhnya bersiap keluar ruangan seraya berkata, “Aku masih punya banyak urusan lain. Beristirahatlah sampai lambungmu setidaknya membaik.”

*

Pandangan mata Donghae tidak berpindah sejak lima menit lalu, ia masih memerhatikan perubahan denyut jantung seorang pasiennya yang baru saja selesai menjalani operasi, sebuah kabel tertempel melalui sebuah alat yang tersambung ke sebuah monitor di salah satu sisi tempat tidur. Kondisi pasien Donghae kali ini masih tidak stabil sejak berada di dalam ruang operasi. Hingga saat ini pun laki-laki paruh baya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar dari pengaruh anestasi.

Semalam ia sudah pergi menemui sebuah wedding organizer yang akan mengurus semua masalah acara pernikahannya. Ia sendiri sudah menyerah jika harus mengurus urusan satu itu dengan kondisi pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan sedikit pun.

Setelah memantau kondisi dan melakukan beberapa pemeriksaan pada pasiennya ini, Donghae harus segera menemui Sila karena orang tua Sila akan datang menjenguk ibunya yang hari ini masih berada di rumah sakit, mungkin besok siang sudah diperbolehkan oleh Kang Jihyun. Juga malam nanti Sila dan dirinya sudah membuat janji keluar untuk makan malam dan berkencan. Ia sendiri tidak melakukan persiapan khusus untuk menyambut kedatangan orang tua Sila yang akan menjenguk ibunya. Biar bagaimanapun, citranya akan dipertaruhkan karena cepat atau lambat ia akan menjadi menantu mereka.

*

Sore itu Kang Jihyun melangkah sedikit terburu-buru dengan sebuah map cokelat berada di sebelah tangannya. Ia membuka pintu ruang rawat itu tanpa mengetuk kemudian segera masuk ke dalamnya. Lee Seungjae yang sedang berada di dalam ruang itu pun terlihat sedikit terkejut dengan kedatangan Kang Jihyun yang agak tiba-tiba. Seorang wanita dengan rok sepanjang setengah lutut yang sedang berdiri di sisi kiri tempat tidur Seungjae turut menoleh ke arah dirinya. Bukan mantan kekasihnya, setelah melihat siapa sosok wanita muda yang sedang menggenggam beberapa map dan kertas yang semuanya ditujukan untuk Seungjae, mungkin teman sekantornya, atau mungkin sekretarisnya, tebaknya sedikit berlebihan dalam hati.

“Hasil pemeriksaan laboratorium baru saja keluar, maaf saya menyampaikannya dengan sedikit tergesa karena setelah ini masih ada operasi yang menunggu. Kondisi lambungmu memang tidak dapat kami pungkiri bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan, radang lambungnya terlihat sangat jelas dengan tingkat keasaman yang tinggi, juga sebuah indikasi adanya infeksi pada usus. Nanti malam akan ada pemeriksaan lanjutan apakah ada kemungkinan terjadinya infeksi pada usus buntu.” tepat setelah ia selesai berbicara dengan cukup panjang, ponsel di dalam saku jasnya bergetar dan membuatnya segera pamit keluar sebelum Seungjae ataupun sekretaris seksinya itu bahkan menjawab apa-apa.

*

Orang tua Sila datang menjenguk ibu dari kekasih anak mereka yang tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan. Baik ayah maupun ibu Sila keduanya sama-sama terlihat bersemangat dan sangat antusias dalam membahas pernikahan anak mereka nantinya. Begitu pula dengan ibu Donghae yang kini terlihat jauh lebih baik daripada sebelum orang tua Sila datang menjenguk. Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya orang tua Sila memutuskan untuk pamit dari sana karena harus mengistirahatkan diri dikarenakan besok pagi mereka harus terbang kembali ke Kuala Lumpur.

Donghae berusaha kembali memfokuskan konsentrasinya karena pikirannya sudah terbagi dua antara acara kencannya beberapa jam lagi dan seseorang dari wedding organizer bernama Melissa yang kerap mengejar-ngejar dan tidak henti-hentinya menyuruh untuk segera memberikan konfimasi tentang tuxedo mana yang jadi akan ia kenakan nanti. Melissa bahkan menyuruh untuk bolos dari rumah sakit besok sore hanya untuk menjajal beberapa stel jas dan kemeja yang akan digunakan saat pernikahan. Sepetinya memang tidak mungkin ada cara bagaimana agar dirinya bisa meninggalkan rumah sakit di jam bekerja. Terdengar mustahil bahkan di hari minggu sekalipun.

Sejauh ini semuanya masih baik-baik saja, tidak terasa dua minggu lagi ia akan memiliki status baru, bukan dokter mapan dan sukses yang masih lajang lagi. Ia sendiri tertawa dalam hati memikirkan bagaimana ekpresi para pasien yang senang menjodoh-jodohkannya dengan anak-anak mereka setelah ia menikah nanti pasti mereka akan terkejut ketika mengetahui bahwa ia telah memiliki seorang istri seorang dokter kandungan yang luar biasa cantik dan seksi seperti Jung Sila. Setidaknya kali ini ia dapat mengalahkan Kyuhyun yang pernah gagal dalam urusan asmara.

*

Nampaknya malam ini Seungjae harus berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak melarikan diri dari tempat paling membosankan di muka bumi ini. Apalagi ia juga harus merelakan menghabiskan hari Minggu malamnya terkurung di dalam sebuah kamar rawat inap rumah sakit yang bau khas ruangannya saja sudah membuatnya mual. Bermalam di kelas teratas sekalipun, tetap membuatnya masih merasa kesepian, karena berada di sebuah kamar rawat inap mewah yang berukuran besar seorang diri. Pikirannya kemudian melayang mundur ke satu jam lalu ketika Olivia dan Eunra masih berada disini yang rela datang kemari untuk menemaninya. Tetapi karena keponakannya itu tidak membawa baju ganti atau pun peralatan untuk pergi sekolah besok pagi, Olivia tidak jadi bisa menemaninya, walaupun setidaknya jika Olivia ingin menginap di sini maka ia harus mempersiapkan keperluannya untuk sekolah hari Senin besok, itu berarti ia terpaksa harus menghabiskan malam panjang ini tanpa keberadaan keponakan kesayangannya, membuat malam panjang ini terasa semakin lama baginya.

Ketika Olivia hendak pulang, Eunra menawarkan diri mengantar Olivia kembali ke apartemen bersama dengan supirnya. Suasana kamarnya pun seketika berubah seratus delapan puluh derajat berbeda ketika Olivia tidak ada di sini. Semuanya berubah sepi dan sunyi, kalau boleh berkata jujur, ia agak ngeri dengan suasana seperti ini. Hanya terdengar bunyi suara pendingin ruangan yang menyala karena sama sekali tidak ada suara lain yang terdengar, penyebabnya mungkin karena ia telah mematikan siaran televisi yang tidak pernah ia sukai untuk ditonton.

Tidak tahu harus melakukan apa, untuk membunuh rasa bosannya, pikirannya kembali melayang-layang tentang yang terjadi sekitar satu tahun belakangan ini, ia masih ingat bagaimana dirinya sudah beberapa kali masuk rumah sakit untuk menjalani rawat inap. Tidak ada yang lebih menyenangkan kecuali hanya libur tidak pergi ke kantor seperti rutinitasnya. Ia sudah memiliki penyakit menyusahkan ini mungkin sejak empat sampai lima tahun lalu. Ketika ia masih mengejar posisi teratas di perusahaannya. Mencapai kesuksesan untuk bisa berada di posisi nomor satu di perusahaan bukanlah hal yang mudah untuk diperjuangkan. Ia bersaing dengan banyak pesaingnya yang semuanya sulit untuk dikalahkan. Saat itu usianya berada pada akhir dua puluh enam tahun ketika akhirnya ia berhasil mendapatkan posisi itu yang ternyata telah mengorbankan kesehatan dirinya sendiri sampai akhirnya terus memburuk menjadi seperti saat ini. Setidaknya ia memang jauh dari kata sanggup untuk sekedar membayar uang sewa kamar rumah sakit dengan kelas utama ataupun di atasnya tiap kali ia diharuskan melakukan rawat inap seperti sekarang ini.

Ia masih sangat ingat ketika Olivia dulu masih duduk di tahun-tahun awal sekolah dasar. Saat itu dirinya sangat sibuk dengan segudang pekerjaan, sehingga jarang sekali bisa berada di apartemennya untuk menghabiskan waktu bersama Olivia. Ia justru menghabiskan berjam-jam waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja. Ia selalu berada di kantor sampai larut malam kemudian baru akan meninggalkan kantor setelah memastikan bahwa seluruh pekerjaan dan urusannya untuk hari itu telah selesai ia tangani dengan baik. Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik kerja kerasnya selama ini, ia memiliki sebuah alasan mengapa ia rela mengorbankan seluruh waktunya hanya untuk bekerja, yaitu untuk Olivia. Ia melakukan itu semua karena ia tidak ingin ketika Olivia beranjak dewasa nanti, ia kekurangan uang dalam menghidupi Olivia yang terus tumbuh dewasa.

Dulu ia tidak dilahirkan dalam keluarga berada. Ia tidak hidup dalam limpahan harta, justru sebaliknya. Ia tidak ingin semua itu terjadi kembali dalam hidupnya di masa depan nanti. Ia memegang kendali kehidupannya, itulah yang menyebabkan ia sangat percaya bahwa satu-satunya cara untuk menjadi seseorang yang berhasil hanya jika ia memperjuangkannya dengan seluruh dirinya. Pengorbanan mati-matiannya dulu kini telah terbukti sekarang, ia sudah bisa dikatakan lebih dari berkecukupan di usianya yang baru menginjak awal tiga puluh dua tahun. Seluruh biaya pendidikan keponakannya itu hingga tamat perguruan tinggi nanti sudah ia depositkan dengan jumlah yang terbilang jauh dari kata cukup. Sejauh ini semuanya telah terlihat sempurna. Ia memang akan selalu berusaha untuk mempertahankan kesempurnaan yang telah diraihnya dengan susah payah itu.

*

Kyuhyun mendengar suara bel apartemennya yang telah berbunyi dua kali tanpa kunjung ia buka pintunya. Tubuhnya masih menginginkan berada di tempat tidur karena ia sendiri baru tiba dari rumah sakit sekitar setengah jam lalu. Seharusnya seseorang yang membunyikan bel itu tahu bahwa ia masih sangat lelah. Terlebih bahwa ia tidak pernah kedatangan tamu lain selain Donghae, hanya satu orang itu yang berkemungkinan tengah berada di balik pintunya.

Bel yang ketiga kalinya terdengar kembali. Kyuhyun bangkit dari tempat tidur sambil mengumpat pelan dalam hati mengapa Donghae tidak langsung masuk seperti biasanya saja, mengapa harus menekan bel lebih dari sekali seperti saat ini. Donghae kan tahu passcode-nya!

Yakin sekali bahwa seseorang itu adalah Donghae, Kyuhyun langsung berkata pedas tepat saat ia membukakan pintu. “Ya Lee Donghae! Aku sedang tidak ingin menerima tamu sepertimu! Pergi ka-” detik itu juga kalimat Kyuhyun terputus ketika menyadari bahwa seseorang itu bukanlah Donghae.

Seseorang yang berada di balik pintunya perlahan mengangkat wajahnya agar Kyuhyun dapat mengenalinya. “Choi Sooran?” Kyuhyun benar-benar tidak dapat menyembunyikan raut wajah terkejutnya mengetahui bahwa ternyata Sooran lah yang mendatanginya. Ia berusaha menemukan jawaban dalam hati sedang apa Sooran di sini?

Sooran memandang Kyuhyun tanpa ekspresi yang berarti. Kyuhyun yang melihat hal itu kemudian menjadi gugup dan terlihat bingung sendiri saat mempersilahkan Sooran masuk ke dalam apartemennya. “Ada apa datang ke sini, Sooran?” tanyanya masih tidak mengerti.

“Aku ingin bertanya kapan ayahku terapi selanjutnya,” Kyuhyun mengerutkan keningnya. Dari nada bicara Sooran, jelas sekali bahwa ia tidak benar-benar menanyakan hal itu.

“Kau tahu bahwa ayahmu sudah menyelesaikan rangkaian terapinya, bukan?” jawab Kyuhyun hati-hati ketika menyadari bahwa pasti ada sesuatu lain yang membuat Sooran datang.

Sebelum sempat Sooran mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa ia datang menemui Kyuhyun, bingkai foto berukuran sedang yang berada di meja dekat sudut ruangan baru saja mencuri perhatiannya. Sooran bangkit dari duduknya dan meraih bingkai itu sementara Kyuhyun masih tidak menyadarinya.

“Apakah karena ini kamu tidak pernah menemuiku lagi?” Kyuhyun membalikkan tubuhnya tepat setelah Sooran mengatakan itu. “Apa maksudmu?”

Dengan gerakan cepat Sooran menunjukkan bingkai foto itu ke hadapan Kyuhyun. “Ini. Apakah wanita dalam foto ini adalah kekasihmu sekarang.” Sooran berkata menahan emosinya. Kedua mata Kyuhyun terbelalak melihat foto yang telah ia simpan rapat-rapat selama ini mengapa sekarang berada di sana.

Sebelum Kyuhyun menjelaskan pada Sooran, ia menghembuskan napasnya kemudian berubah kesal saat ia ingat Donghae mengingap di sini beberapa hari lalu. Pasti Donghae lah yang telah menaruh bingkai itu di situ. Ia menarik rambutnya dengan sela-sela jarinya seraya mulai menjelaskan. “Sooran, bingkai itu tidak seharusnya berada di sana. Kau salah paham,” Kyuhyun terlihat frustasi seraya duduk di salah satu sofa sementara Sooran masih berdiri di dekat meja. “Tempo hari Donghae menginap di sini dan dialah yang menaruh itu di sana.” ujarnya lemas.

Sooran mengatur kembali nafasnya yang semula menderu, “Lalu mengapa kamu menghilang begitu saja? Mengapa dahulu kamu pernah mengatakan bahwa kamu mencintaiku namun apa sekarang?” suaranya bergetar dan air matanya mulai mengalir perlahan.

Kyuhyun mengusap wajahnya sendiri kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Sooran yang terlihat rapuh. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia baru saja membuat seorang wanita menangis tepat di hadapannya. “Kau tidak seharusnya bersamaku. Aku terlalu brengsek untukmu, Sooran, aku tidak ingin menyakitimu lebih banyak lagi,” ujar Kyuhyun pelan yang berdiri tidak jauh dari Sooran yang masih menangis tanpa suara. “Kau tidak mengenalku, Sooran.” seketika itu juga Sooran menolehkan wajahnya menatap Kyuhyun tidak percaya dan tertawa mengejek. “Apa? Kau ini buronan? Pembunuh?” Sooran terlihat menahan air matanya agar tidak berjatuhan hanya untuk seseorang yang ternyata tidak benar-benar mencintainya di saat ia mulai mencintainya.

“Tidakkah kamu tahu bahwa aku mencintaimu, Kyuhyun-ssi? Mengapa kamu abaikan aku di saat aku mulai mencintaimu?” tangisnya tak tertahan lagi. Kyuhyun tidak pernah tahan melihat seorang wanita menangis di hadapannya. Di saat tangannya terulur, Sooran segera menepisnya.

“Sooran, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu,” Kyuhyun menghapus air mata Sooran di saat gadis itu terlihat lelah menangisi diri brengseknya. Kyuhyun menuntun Sooran duduk kembali dan memberikannya segelas air putih untuk menenangkan. “Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkanmu lagi, Kyuhyun-ssi.” Sooran bangkit berdiri namun Kyuhyun langsung menahan tangannya.

“Katakan dengan cepat.” Sooran menyerah dan menjawab dengan matanya yang masih sembab. “Sooran, ini pertanyaan terakhirku, katakan padaku berapa usiamu?” tanya Kyuhyun tidak ingin membuang waktu dan wajahnya berubah dingin. Tatapan mata Kyuhyun tiba-tiba lurus menusuk, Sooran mengalihkan pandangannya.

“23.” jawab Sooran cepat agar ia bisa pergi dari sini sesegera mungkin. Ia tidak pernah mengira bahwa laki-laki ini bisa berubah menyeramkan dalam waktu singkat.

Kyuhyun tertawa mengejek tepat sesaat setelah ia mengatakan usianya. Apa yang salah dengan umurnya, ia berkata dalam hati. “Mengapa tertawa?” tanyanya mulai kesal. Apakah ia harus mengaku sudah berusia tigapuluhan? Hampir setengah menit kemudian Kyuhyun sudah memasang wajah datarnya kembali. “Itu usia Sera saat menikah denganku dahulu.”

Sooran terdiam sesaat. Mencerna apa yang barusan Kyuhyun katakan padanya. Ia mengulangi kalimat pria itu lambat-lambat di dalam pikirannya. Menikah? Tidak, Kyuhyun pasti bercanda. Itu hanya caranya agar membuat ia berhenti menyukainya.

Kali ini Sooran benar-benar tidak tahu apa maksud Kyuhyun yang sebenarnya. “Kau bercanda.” Kyuhyun bergeleng pelan menyembunyikan kehidupannya yang penuh rahasia. “Aku pernah menikah, enam tahun lalu, Donghae pun mengetahuinya.” Sooran merasakan napasnya tercekat begitu saja, “Sudah kubilang, kau tidak mengenalku, bukan?”

“Kau pasti menyesal setelah mengetahuinya, bukankah begitu, young lady,”

Sooran sudah tidak tahan lagi berada di sana. Sebelum air matanya kembali berjatuhan di depan pria itu, sebelum harga dirinya hancur karena dirinya sendiri, ia bangkit berdiri dengan sisa tenaga yang dimilikinya dan di luar kesadarannya, ia melayangkan sebelah tangannya menampar wajah pria itu. Tubuhnya terasa lemas, ia tidak merasa memijak bumi. Dengan samar ia menatap Kyuhyun yang semakin lama semakin terlihat samar, air matanya kembali bercucuran. Ia segera berlari keluar, detik itu juga ia membenci Cho Kyuhyun.

*

Sooran menghapus air matanya, ia menyalahkan hatinya yang menyukai seorang Cho Kyuhyun, yang ternyata jauh dari apa yang ia pikirkan selama ini. Awalnya ia sungguh tidak peduli dengan semua yang Kyuhyun katakan. Namun perlahan hatinya mulai terasa sakit. Kyuhyun telah menyembunyikan itu semua.

Sekarang ia tahu, Kyuhyun memang tidak pernah mencintainya barang sedikitpun, ia merasa sangat bodoh telah menyukai Kyuhyun. Rasa yang terlalu kuat itu sampai menghantuinya selama ini. Ia tahu ia tidak bisa memendamnya seorang diri. Itulah mengapa ia datang pada Kyuhyun dan menyampaikan tentang perasaan yang telah menganggunya. Tetapi ternyata rasa itu hanya ia yang merasakan. Walaupun hatinya terasa remuk dan hancur, setidaknya ia telah mengeluarkan semua itu, berusaha mengosongkannya kembali dan membuang semua perasaan itu tepat ketika ia mengeluarkan amarahnya.

*

Sila kini duduk berseberangan dengan Donghae di salah satu restoran yang kata banyak orang merupakan yang paling romantis di seluruh kota Seoul. Malam itu angin berhembus cukup kencang di luar restoran, untungnya Donghae tidak mengajaknya makan di pinggiran jalan seperti hari biasanya. Kali ini Donghae juga terlihat sedikit berbeda dari malam-malam lainnya. Malam ini Donghae mengenakan kaus polo berkerah warna biru gelap yang melekat pas di tubuh idealnya. Sila hapal sekali bahwa Donghae biasanya hanya mengenakan kemeja formal karena memang biasanya mereka selalu pergi berkencan atau makan malam tepat setelah pulang bekerja dari rumah sakit. Namun malam ini Donghae terlihat sudah mandi, rambutnya terlihat rapi dan wajahnya terlihat segar. Sila tidak yakin apakah Donghae pulang dulu atau tidak, mungkin ia mandi di rumah sakit, duganya dalam hati. Ia tidak terlalu memeperdulikan hal itu, yang jelas malam ini Donghae terlihat jauh lebih tampan daripada biasanya.

Sudah hampir satu menit Donghae terlihat seperti ingin mengutarakan sesuatu, namun tak kunjung ia katakan. Sila mengerutkan keningnya dan tersenyum ketika Donghae menyadari bahwa sedari tadi Sila menunggunya berbicara. “Apa yang ingin kamu bicarakan?” Donghae memang selalu gagal untuk berpura-pura tidak ada apa-apa.

Selama beberapa detik Donghae masih terlihat gugup. Ia berdeham pelan kemudian menegakkan punggungnya. “Ada satu hal yang masih belum pernah kita bicarakan dari awal kita berpacaran.” mendengar itu Sila tampak menerka-nerka. “Apa?” sejak mereka berpacaran, tiap kali mereka berdua keluar bersama untuk kencan atau sekedar makan malam, yang jelas mereka tidak pernah membicarakan rumah sakit atau hal-hal yang menyangkut masalah di rumah sakit. Untuk apa pergi keluar jika yang dibahas hanya hal itu-itu saja? Lalu apa yang saat ini ingin Donghae bicarakan? Terdengar serius sekali kali ini.

“Aku tahu ini memang pertanyaan bodoh, tapi aku pikir aku harus tetap menanyakannya padamu. Dua minggu lagi kita akan menikah, apakah setelah menikah nanti kamu akan tetap ingin bekerja?” Sila mendengarkan Donghae yang bicara to-the-point dengan tenang tanpa ada raut wajah tersinggung atau semacamnya ketika Donghae menanyakan hal itu pada dirinya. Mereka memang belum pernah membicarakan hal ini sebelumnya.

Sila tersenyum lembut pada Donghae yang menunggu jawabannya. “Apakah kamu akan mengijinkanku jika aku tetap bekerja? Kamu akan menjadi suamiku, kamu berhak melarangku jika kamu keberatan aku tetap bekerja. Tapi aku memang tidak mungkin selamanya bekerja, bukan? Aku tidak mungkin bekerja saat kita memiliki anak nanti.”

Donghae tertawa pelan. “Aku akan selalu memberikan kebebasan padamu dalam mengambil keputusan yang menyangkut dirimu. Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu akan tetap bekerja. Memangnya aku tega mengurung istriku yang berbakat dan cerdas ini hanya menganggur di rumah sendirian dan berdiam diri?” Sila ikut tertawa mendengar jawaban Donghae. Ia memang tidak salah pilih laki-laki. Donghae selalu mempunyai cara tersendiri dalam membuat Sila tidak bisa berpaling darinya.

Sampai saat ini pun Sila masih tidak habis pikir bagaimana mungkin dulu ia sempat menolak cinta tulus dari seorang Lee Donghae yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Jika dulu Sila menolak Donghae begitu saja, ia sendiri tidak yakin apakah akan bertemu dengan pria seperti Donghae lagi atau tidak. Mungkin ia tidak akan pernah berjumpa dengan pria seperti Donghae lagi dalam hidupnya karena Donghae hanya satu, yaitu yang sekarang menjadi miliknya. Hanya Lee Donghae seorang yang dapat menaklukkan hatinya.

“Aku malah senang aku bekerja di tempat yang sama dengan istriku nanti. Tidak perlu pergi kemana-mana untuk menemuimu.” sambung Donghae lagi seraya terkekeh pelan dan Sila pun mengerlingkan matanya. Rumah sakit tempat mereka bekerja memang tidak melarang pernikahan antar dokter di sana. Baik Donghae maupun Sila sama-sama tidak perlu mencari rumah sakit baru untuk bekerja. Sila dan Donghae tampaknya sangat beruntung. Mungkin inilah yang mereka sebut dengan takdir.

Percakapan mereka berdua selanjutnya adalah tentang benda atau harta yang saat ini mereka miliki. Hal ini memang salah satu dari banyaknya hal yang harus mereka diskusikan sebelum menikah. Bukan untuk menyombongkan diri, namun antara Donghae dan Sila sudah seharusnya mereka saling terbuka dan mengetahui apa saja yang Donghae atau Sila miliki. Jangan sampai ada kesalahpahaman nantinya, walaupun memang tidak sampai mendetail.

Donghae mengeluarkan buku tabungannya yang berlogokan sebuah bank swasta terkemuka di kota besar itu. Ia mengatakan bahwa ia hanya memiliki satu akun hanya di satu bank itu saja. Ia tidak memiliki akun di bank lainnya selain bank swasta ini kemudian menyebutkan jumlah saldo dalam rekeningnya itu, karena hanya itu lah jumlah uang yang ia miliki. Begitu pula dengan Sila yang juga menggunakan bank yang sama dengan Donghae. Mereka memang bekerja di rumah sakit yang sama, itulah yang membuat gaji mereka masuk langsung ke rekening mereka masing-masing di bank yang sama. Donghae mengatakan bahwa mereka akan membuat rekening bersama tanpa ada uang gaji milik Sila di dalamnya karena gaji milik Sila hanya akan dipakai untuk Sila pribadi, semua kebutuhan rumah tangga nanti akan sepenuhnya ditanggung oleh Donghae tanpa uang gaji Sila. Donghae tidak ingin gaji milik Sila terpakai untuk membayar listrik atau sebagainya. Karena keputusan untuk menikahi Sila sama halnya dengan siap menanggung seluruh kebutuhan Sila dengan seluruh kemampuannya sendiri.

*

Kang Jihyun meraih bahu Eunra yang terlihat lelah. Ia baru saja bicara dengan Eunra mengenai kesehatan Lee Seungjae yang hari ini tidak stabil dan cenderung menurun akibat infeksi di lambungnya.

Sejak malam tadi Eunra tampak berada di rumah sakit dan sampai siang ini pun Kang Jihyun masih dapat memerhatikan Eunra yang terlihat khawatir. Sebenarnya ia ingin sekali memeluk Eunra kembali ketika gadis itu terlihat muram. Namun itu terdengar mustahil bagi Kang Jihyun saat ini. Tidak tega ia melihat Eunra yang berusaha terlihat tegar ketika berada di hadapannya. Ia justru ingin melihat Eunra menangis kembali, agar ia bisa meminjamkan bahunya untuk Eunra bersandar.

Terlepas dari semua perasaannya yang tiba-tiba kembali ke permukaan tiap kali ia melihat gadisnya berada di dekatnya, Kang Jihyun harus tetap menghapus semua kenangannya bersama Eunra dulu. Tugasnya saat ini adalah membantu kekasih gadis yang dulu dicintainya mati-matian agar sembuh kembali. Ia harus berusaha menolong Lee Seungjae kembali sehat agar dapat membuat Eunra tersenyum kembali. Jika Seungjae sembuh nanti, maka ia harus merelakan gadis pengisi hari-harinya dulu menikah dengan pria asing.

Tidak, Lee Seungjae bukanlah pria asing bagi Kang Jihyun, karena bagaimanapun juga, ia pernah mengenal seorang Lee Seungjae. Namun sungguh tidak pernah menyangka bahwa seseorang itu lah yang akan merebut kekasih hatinya dulu. Oh tidak lagi, Seungjae tidak pernah merebut Eunra dari dirinya, ialah yang membiarkan Eunra pergi dan berpindah ke lain hati begitu saja. Seungjae tidak bersalah. Ialah yang seharusnya disalahkan.

Kang Jihyun kemudian segera tersadar bahwa saat ini dirinya sudah tidak menginginkan Eunra kembali kepadanya, bukan karena saat ini Eunra sudah memiliki orang lain di hatinya, namun kisahnya dengan Eunra memang sudah lama usai. Jika seandainya ia masih menginginkan Eunra, maka seharusnya ia mengejar gadis itu sebelum pergi meninggalkannya terlalu jauh. Ia tahu bahwa ia tidak ingin jatuh di lubang yang sama. Eunra adalah masa lalunya dan akan tetap menjadi masa lalunya. Ia harus membatasi diri antara perasaan yang dulu pernah ia rasakan bersama Eunra dan perasaan sekarang yang hanyalah obsesi dan emosi sesaat.

Setelah beberapa saat tak ada yang berbicara, Kang Jihyun kembali angkat bicara. “Sebaiknya kamu memperhatikan dirimu juga, jangan melupakan tubuhmu, Seungjae akan sedih melihatmu seperti ini.” Eunra tidak merespon sehingga Kang Jihyun berkata lagi, “Kamu pasti belum makan. Aku akan mengantarmu makan siang di kafetaria.”

*

Suasana kafetaria siang itu tampak ramai seperti biasanya. Kali ini Kang Jihyun sedang makan siang bersama dengan Eunra yang duduk di kursi di depannya. Eunra hanya memakan makan siangnya dalam diam membuat Kang Jihyun canggung dibuatnya. “Kau terlihat sangat serasi dengan Lee Seungjae.” ujar Kang Jihyun memulai percakapan. Berharap agar bongkahan es di antara mereka segera mencair dan menguap.

Sekitar dua detik kemudian Eunra menanggapinya dengan sikapnya yang masih dingin. “Aku sedang tidak ingin mendengar kata-kata sinismu terhadapku lagi.” ujarnya bahkan tanpa melihat ke arah Kang Jihyun. Padahal kalimat Kang Jihyun barusan benar-benar murni ia ucapkan dari dalam hatinya karena Eunra memang terlihat begitu serasi dengan seorang Lee Seungjae yang berwibawa.

Kang Jihyun tidak bisa berdiam diri dengan suasana yang canggung seperti ini. Seolah tidak menyerah, ia kembali mencari topik bahasan lain yang bisa dijadikannya untuk membuat Eunra mau bicara pada dirinya atau setidaknya menanggapi obrolannya. “Apa kau masih ingat adik perempuanku?” tanyanya pada Eunra yang membuat wanita itu seketika mengangkat wajahnya untuk menatap Kang Jihyun.

“Yeonhee?” giliran Eunra yang bertanya. Sorot matanya berubah menjadi seperti biasa lagi tanpa sorot kemarahan. Kang Jihyun kemudian mengangguk menanggapi pertanyaan Eunra.

Tanpa pikir panjang Eunra kemudian berkata lagi, “Bagaimana kabarnya?” Eunra tidak dapat memungkiri bahwa ia sangat menyayangi seorang Yeonhee walaupun sekarang ia sangat kesal pada kakak Yeonhee ini. Sudah lama sekali Eunra tidak mendengar kabar apapun tentang Yeonhee. Ia ingin sekali bertemu Yeonhee, mengapa justru kakak menyebalkan Yeonhee yang sering ia temui?

Ketika Eunra menanyakan kabar adik perempuannya, ekspresi wajah Kang Jihyun seketika berubah muram. Eunra sendiri dapat merasakan perubahan cepat yang terjadi pada diri Kang Jihyun ketika ia mengucapkan nama Yeonhee, namun ketidaktahuan Eunra tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi pada Yeonhee membuat Eunra hanya mengabaikan perubahan sikap Kang Jihyun. “Pasti ia sudah semakin tinggi ya?” tanya Eunra lagi.

Pertanyaan Eunra tergantung begitu saja karena Kang Jihyun tak kunjung menjawab. Eunra mengerutkan dahinya tidak mengerti apa yang terjadi. “Ya dia sudah tinggi. Sebahuku tingginya.” Kang Jihyun menyentuh bahunya sendiri memperagakan tinggi Yeonhee yang setinggi bahunya. Yeonhee termasuk yang memiliki tinggi di atas rata-rata teman-teman sebayanya, bukanlah hal yang mengherankan karena Kang Jihyun juga memiliki tinggi tubuh yang di atas rata-rata. Gen tubuh tinggi sepertinya sudah lama mengalir di dalam tubuh kakak-beradik itu.

“Aku sebenarnya ingin mengajakmu menemuinya. Tapi tampaknya kau tidak akan mau.” Kang Jihyun berkata pelan. Terdengar nada kesedihan dalam suaranya. “Aku tidak akan menolak jika kau mengajakku bertemu dengan Yeonhee kembali.” jawab Eunra cepat.

Sengaja Kang Jihyun tidak memberitahu keadaan Yeonhee yang sebenarnya. Ia hanya tidak ingin memberitahukannya sekarang. Cukup nanti Eunra mengetahuinya sendiri, karena ia tidak ingin mendapat belas kasihan dari siapapun tentang Yeonhee. Ia yakin Yeonhee akan membuka matanya kembali dari tidur panjangnya selama ini.

Kali ini Eunra yang terlihat penasaran. Ia kembali bertanya tentang kapan ia bisa bertemu dengan Yeonhee dan Kang Jihyun menjawab bahwa ia bisa menemui Yeonhee kapanpun yang ia mau, sehingga Eunra pun memutuskan untuk pergi menemui Yeonhee besok sore seusai Kang Jihyun bekerja. Ia juga penasaran dengan sosok Yeonhee yang sekarang. Pasti tubuhnya seperti model dengan badan ramping dan tinggi semampai, Eunra menebak-nebak dalam hati. Melihat rasa penasaran Eunra yang meluap-luap seakan lupa bahwa beberapa jam lalu ia habis bersedih, Kang Jihyun mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan sebuah foto yang menampilkan seorang Yeonhee yang telah beranjak dewasa menjadi seorang gadis remaja yang cantik.

*

Siang itu Olivia tidak pulang ke apartemen melainkan langsung ke rumah sakit sepulangnya ia dari sekolah. Pasti pamannya juga sedang merasa bosan berlama-lama berada di sana. Ia juga ingin menyampaikan pada pamannya bahwa ia berhasil mendapatkan nilai tertinggi di mata pelajaran matematika, karena biasanya tiap kali ia mendapatkan nilai terbaik, pamannya selalu memberikannya hadiah, entah itu makan es krim di kedai es krim favoritnya atau membelikannya baju baru.

Ketika membuka pintu ruang rawat inap pamannya. Ia tidak melihat siapa-siapa selain pamannya yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit yang sedikit di tinggikan bagian punggungnya. “Sedang apa, paman?” Seungjae menoleh ke arah Olivia yang baru datang. “Mengerjakan sedikit pekerjaan yang tersisa.” jawab Seungjae santai dengan jari-jari yang tidak berhenti mengetik sambil tetap memfokuskan pandangannya ke layar laptop di depannya.

Olivia berjalan mendekati ranjang. “Paman seharusnya berhenti memikirkan pekerjaan dulu. Memangnya paman betah tinggal berlama-lama di sini?” Seungjae tertawa pelan, bibirnya masih pucat. “Percaya paman, ini tidak akan memengaruhi kesehatan paman, Liv.” mendengar jawaban pamannya itu Olivia sontak berdegus kesal. “Ya terserah paman jika paman memang masih ingin berada di sini lebih lama lagi,” Olivia mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. “Eunra eonnie di mana?” tanyanya lagi.

“Sekitar satu jam lalu Eunra masih berada di sini namun tampaknya Eunra sedang pergi keluar sebentar.” Seungjae berkata pada Olivia mungkin Eunra mempunyai urusan sebentar. Olivia pun mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian berkata lagi, “Aku juga sudah lapar.”

“Belum makan?” gumam Seungjae tanpa mengalihkan pandangannya namun tetap dapat merasakan gelengan kepala Olivia. “Aku mau beli makanan dulu kalau begitu.” ujar Olivia kemudian beranjak pergi ke lantai dasar.

*

Olivia kembali ke kamar pamannya yang berada di lantai lima. Di tangannya ia membawa sebuah kantung plastik dengan sebuah wadah tempat makan terbuat dari sterofoam di dalamnya. Ketika sampai di depan pintu, Olivia segera membukanya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

“Paman., aku melihat sesuatu yang tidak beres baru saja terjadi di lantai bawah.” Olivia berkata sambil melepas sepatunya kemudian berjalan mendekat dengan ekspresi wajah marah merah padam. Seungjae seketika bingung dibuatnya ketika melihat Olivia bertingkah seperti itu. “Maksudmu?”

Melihat pamannya yang terlihat tidak terlalu antusias, Olivia lantas semakin memerah wajahnya. “Aku melihat Eunra eonnie sedang bersama dokter yang dulu pernah memeriksaku itu. Mereka sedang makan siang bersama di kafetaria dan mereka berdua terlihat berbicara serius sekali sampai-sampai tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa aku juga sedang berada di sana yang sedang membeli makan siang ini. Paman tahu tidak, dokter itu benar-benar memberikan perlakuan yang tidak biasa pada aku dan Eunra eonnie ketika memeriksaku. Aku merasa aneh sekali saat itu. Pasti ada apa-apa antara mereka berdua. Paman tidak boleh diam saja!” Olivia berkata panjang lebar masih berapi-api. Seungjae menanggapi kepanikan keponakan perempuannya itu dengan tersenyum lembut sambil menegakkan punggungnya seraya berkata dengan nada tenang. “Paman sepertinya tahu siapa yang kamu maksud.”

Ekspresi wajah Olivia masih terlihat sama. Ia menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya di udara menandakan bahwa ia tidak sependapat. “Tidak, ini jauh lebih parah dari apa yang paman bayangkan.” mendengar itu Seungjae hanya tertawa pelan. “Dokter yang kamu maksud itu bernama Kang Jihyun, kamu tahu, ia adalah dokter yang menangani paman, dan baik paman maupun Eunra, kami memang saling kenal.” Seungjae berkata menerangkan dan membuat Olivia terlihat setengah tidak percaya. “Paman tidak mungkin mengenalnya.” ujarnya bergeleng. Kali ini Seungjae mengambil ponselnya dari meja di samping ranjang kemudian menunjukkan kontak di ponselnya itu yang bertuliskan nama yang tadi ia sebutkan.

“Ini orang yang kamu maksud itu, bukan? Paman menyimpan nomor teleponnya.” Seungjae menunjukkan foto yang terdapat di kontak Kang Jihyun yang ia simpan di dalam ponsel. Olivia mengangguk pelan kemudian duduk di kursi dengan lemas. “Bagaimana bisa? Lalu apa hubungan Eunra eonnie dengannya? Mengapa dokter itu bersikap aneh dengan aku dan eonnie. Ia memerlakukan kami dengan sangat istimewa, tidak seperti dokter memperlakukan pasiennya yang lain.” Olivia tetap tidak mengerti dan terlihat masih menuntut kejelasan dari pamannya yang selama ini tidak pernah bercerita apapun tentang kenalannya yang satu itu.

Tanpa menghiraukan Olivia yang masih terlihat merajuk, Seungjae menepuk-nepukkan bagian tepi kasurnya menandakan bahwa Olivia diminta duduk di dekatnya. “Sini biar paman jelaskan semuanya.” detik itu juga Olivia langsung terlihat sumringah dan segera beranjak duduk ke tepi kasur di dekat pamannya. Ia terlihat menunggu beberapa saat sebelum akhirnya pamannya itu mulai angkat bicara. “Jadi sebenarnya, dokter itu adalah kekasih Eunra dahulu. Mereka sudah lama sekali berpisah dan sekarang mereka tampaknya tetap menjalin komunikasi yang baik, tidak salah kan kalau Eunra masih berteman dengannya? Jadi mulai sekarang kamu tidak perlu curiga-curiga lagi, Olivia sayang.” mendengar itu Olivia sontak terkejut lagi. “Sudah kuduga sebelumnya, pasti ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Paman seharusnya jangan biarkan mereka berdekatan.” Lee Seungjae tersenyum kembali. “Olivia, mereka bukan anak-anak lagi. Eunra sudah menjadi bagian dari kita. Tidak ada yang perlu kamu cemaskan terhadap dokter itu, Liv.” Seungjae mengacak rambut Olivia dengan sayang kemudian menarik tubuh keponakannya itu ke dalam dekapannya.

“Sekarang kamu harus segera memakan makan siangmu sebelum nasinya berubah dingin, oke?” Olivia berdengus pelan kemudian melepaskan diri dari pelukan Seungjae dan mulai memakan makanannya. “Lalu mengapa mereka putus?” tanyanya kemudian dengan wajah masih penasaran dengan mulut penuh makanan. Seungjae tersenyum geli melihat ekspresi lucu Olivia.

“No talking while eating, baby girl.”

*

Sore itu Eunra tengah duduk memandangi jalan di depannya tanpa tahu harus bicara apa. Sementara di samping kirinya Kang Jihyun tengah menyetir dan terlihat fokus. Sekelebat pikiran alam bawah sadar yang mulai bermain-main di dalam pikirannya kian terus menganggu. Ia sebenarnya ingin berkata jujur pada Seungjae, namun ia tidak ingin Seungjae dan Olivia berpikir macam-macam tentang dirinya dan Kang Jihyun.

Kali ini ia benar-benar ingin menemui Yeonhee, adik kecil Kang Jihyun yang selalu ia rindukan. Ia tidak ingin kesehatan Seungjae menurun kembali jika ia bilang ia akan pergi dengan mantan kekasihnya dulu di saat mereka akan menikah. Walaupun Eunra tahu pasti kekasihnya itu bisa memahaminya, namun ia tidak ingin mengambil resiko, tetapi ia justru merasa bersalah sekarang. Ia pun berjanji setelah kembali ke rumah sakit nanti ia akan mengatakan bahwa ia pergi menemui adik Kang Jihyun pada Seungjae.

Mobil berhenti dan telah terparkir sempurna kemudian Kang Jihyun membukakan pintu mobil untuknya. Eunra melangkah masuk ke gedung apartemen mengikuti Kang Jihyun. Pria itu sama sekali tidak bicara sepatah kata pun sepanjang perjalanan dari rumah sakit tadi. Eunra mulai menerka-nerka mengapa Kang Jihyun berubah aneh begini.

Pintu lift terbuka dan mereka berdua memasuki lift yang kosong. Jari Kang Jihyun dengan cepat segera menekan tombol bertuliskan sebuah angka setelah menggesekkan kartunya. Lift bergerak naik tanpa terasa dua menit berlalu. Pintu otomatis terbuka dan mereka melangkah keluar.

Ketika Kang Jihyun menekan digit terakhir password, entah mengapa Eunra merasakan dirinya gugup. Apa mungkin karena ia telah lama sekali tidak bertemu Yeonhee, pikirnya dalam hati. Kang Jihyun menoleh ke arahnya kemudian menuntunnya masuk. Eunra sama sekali belum pernah pergi ke sini. Hawa dingin yang tidak biasa muncul ketika Eunra melihat keadaan sekeliling apartemen yang sepi. Kang Jihyun berdiri di sebuah pintu kamar yang terdapat tulisan kayu tertempel di atasnya bertuliskan kata Yeonhee dengan huruf warna-warni yang cerah. Eunra baru bisa tersenyum sedikit melihatnya.

Perlahan-lahan Kang Jihyun membuka pintu tersebut, selama beberapa detik ia masih berdiri di sana dengan tangan masih memegang knop pintu membiarkan Eunra agar melangkah masuk. Betapa terkejutnya Eunra melihat pemandangan yang ia lihat kali ini. Lututnya seketika lemas hampir terjatuh tetap saat Kang Jihyun dengan sigap segera menangkap tubuhnya yang nyaris merosot ke lantai.

Eunra menutup mulutnya tidak percaya. Air mata tidak terasa turun berlinang tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Ia memalingkan pandangannya pada Kang Jihyun yang masih tanpa ekspresi. Rahangnya terlihat keras dengan guratan urat di bawah permukaan kulit, perasaan kesedihan yang lama terpendam itu dapat Eunra rasakan. Eunra menatap mata Kang Jihyun meminta penjelasan dari apa yang sebenarnya terjadi dengan Yeonhee.

Mengapa gadis itu kini terbaring lemah tidak berdaya dengan banyak selang dan kabel terhubung pada alat yang mengeluarkan suara memekakkan telinga. Eunra melangkah mendekati ranjang dimana Yeonhee terbaring. Ia menyentuh jari-jari panjang Yeonhee yang dingin dan pucat. Ia tidak dapat menahan tangisnya kali ini. Seketika itu juga ia memeluk tubuh Yeonhee yang tidak bergerak. Tangisnya pecah ketika ia merasakan tangan hangat Kang Jihyun menyentuh punggungnya, membuatnya melepaskan Yeonhee.

Eunra semakin dapat melihat kesedihan yang terpancar samar dari raut wajah Kang Jihyun. Ia bangkit berdiri kemudian segera memeluk Kang Jihyun dan menangis tentang Yeonhee di sana. “Mengapa kamu tidak pernah menceritakan ini padaku, Jihyun?” ia bertanya di sela-sela tangisnya yang masih belum berhenti. Isakannya masih begitu jelas terdengar.

Kang Jihyun tidak menjawab pertanyaannya kemudian melepaskan pelukannya. Eunra tidak pernah menyangka bahwa Kang Jihyun begitu kuat menahan dan memendam kesedihannya seorang diri. Ia merasa begitu jahat pada Kang Jihyun. Ia tidak pernah menganggap Kang Jihyun sebagai seorang teman. Kang Jihyun keluar dari ruangan itu dan Eunra memutuskan untuk tidak mengikutinya, mereka butuh waktu untuk sendiri. Eunra kembali pada Yeonhee kemudian mengelus rambut panjang Yeonhee yang lurus. Sungguh ia tidak menyangka dengan keadaan Yeonhee kali ini, jauh berbeda dengan sosok Kang Yeonhee yang terakhir kali ia temui. Ia masih tidak memiliki jawaban tentang apa yang sebenarnya telah terjadi pada Yeonhee. Eunra segera meraih sebelah tangan Yeonhee dan menggenggamnya dengan kedua tangannya kemudian berdoa panjang pada Tuhan sambil terus menggenggam tangan Yeonhee meminta keajaiban datang untuk kesembuhan Yeonhee.

Setelah beberapa saat Eunra memandangi Yeonhee yang terlihat persis seperti apa yang dikatakan Jihyun padanya, Eunra melangkah keluar kamar Yeonhee. Ia menemukan Kang Jihyun duduk seorang diri di sebuah sofa di ruang tengah. Eunra menghampirinya kemudian duduk di sofa lainnya. “Maafkan aku, Jihyun,” Eunra berusaha agar suaranya tidak bergetar lagi. Kang Jihyun seketika itu menjawab dengan nada tenang dan datar. “Apa yang harus dimaafkan? Kamu tidak bersalah.”

“Aku sadar kalau tidak seharusnya aku terus-terusan mengabaikanmu, aku sengaja tidak ingin kamu kembali dekat denganku karena aku tidak ingin kamu merasa tersakiti lagi. Aku tidak ingin Yeonhee merasa lebih marah padaku ketika hubungan kita berakhir.” Eunra berbicara jujur dan Kang Jihyun kemudian menjawab, “Lupakan tentang itu, Eunra, aku minta maaf jika membuatmu merasa begitu. Lupakan masa lalu itu, jika itu bisa membuat kita terlihat normal seperti seseorang yang bisa menjadi teman.”

*

Hari telah larut dan Eunra kembali ke rumah sakit, awalnya ia ragu untuk menemui Seungjae dengan goncangan emosi yang terjadi sore tadi saat menemui Yeonhee. Namun ia tidak bisa meninggalkan Seungjae kesepian di kamar rumah sakit seperti kemarin malam lagi. Olivia pasti juga sudah pulang karena besok ia ada ulangan dan harus belajar. Eunra membuka pintu kamar rawat Seungjae dan melihat kekasihnya itu kini tengah membaca buku dengan sebuah selang infus menancap di punggung tangan kirinya. Seungjae lantas menoleh ketika Eunra berjalan mendekatinya. Senyum hangat itulah yang selalu Eunra rindukan. Eunra selalu merasa tenang tiap kali Seungjae tersenyum hangat ke arah dirinya. Seketika Eunra menyambar ke dalam pelukan Seungjae sesampainya ia di samping ranjang. Seungjae menyambut pelukannya, mengusap lembut punggungnya, mengelus halus rambutnya, dan mengecup pelan keningnya. Entah mengapa ia sangat merindukan Seungjae malam ini. Eunra duduk di tepi ranjang kemudian Seungjae pun segera menyadari mata sembab Eunra.

“Habis menangis, dear?” Seungjae merapikan rambut halus di sekitar wajah Eunra. Eunra mengangguk pelan mengiyakan. “Jika kamu ingin menceritakan sesuatu, aku akan mendengarkan.” Seungjae berkata pelan.

Eunra terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia angkat bicara, “Aku bertemu dengan Yeonhee.” detik berikutnya ia masih terus bercerita tentang siapa itu Yeonhee dan apa yang telah terjadi pada Yeonhee setelah Kang Jihyun menceritakan seluruh kejadian padanya.

*

Ketika keesokan paginya Kang Jihyun melakukan kunjungan pemeriksaan ke kamar rawat Seungjae, ia sama sekali tidak banyak bicara. Hanya menjelaskan kondisi terakhirnya dalam beberapa kalimat singkat kemudian segera pamit pergi.

“Aku turut berduka atas adikmu,” Seungjae berkata ketika Jihyun melangkah ke arah pintu. Jihyun menghentikan langkahnya kemudian terdiam sesaat. “Semoga ia diberi kesembuhan oleh Tuhan.” Seungjae berkata lagi membuat Jihyun membalikkan tubuhnya menatap teman lamanya itu yang masih terbaring lemah.

Kang Jihyun menjawab dengan nada rendah dan pelan tanpa menatap Seungjae, “Terima kasih.” seperti kehilangan kata-kata ia segera meninggalkan ruangan itu, menghilang di balik pintu bersama seorang perawatnya.

*

Eunra menghampiri pamannya yang kemudian segera memeluknya. Setelah beberapa saat Eunra menarik kembali tubuhnya dan menatap paman yang selama ini selalu meluangkan waktu untuk dirinya sekalipun ia memiliki jam kerja yang padat dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Eunra sendiri masih ingat betul bagaimana dahulu ketika ia pertama kali tinggal bersama pamannya, yaitu saat ia masuk sekolah menengah. Pamannya yang telah berkeluarga saat itu benar-benar menerima Eunra dengan terbuka. Sejak kedua orangtuanya bercerai dan berpisah saat usianya dua belas tahun Eunra tinggal bersama keluarga kecil pamannya.

Beberapa saat ketika orangtuanya memutuskan untuk berpisah, ibu Eunra memilih untuk tetap menetap di Denver bersama dengannya sedangkan ayahnya segera menikah lagi, ia merasa sangat terpukul dengan keadaan itu. Eunra tidak memiliki kakak atau adik, ayahnya menikah lagi begitupun dengan ibunya, itu membuat kakak dari ibunya datang berkunjung dan membawa Eunra agar tinggal bersamanya kembali ke Korea. Agar Eunra tidak tertekan pada keadaannya yang rumit.

Sampai akhirnya setelah tamat SMA, ia mengikuti sebuah program beasiswa ke luar negeri, itulah yang membuat ia pergi berkuliah di Swiss dimana ia pada akhirnya bertemu dengan Kang Jihyun.

“Bagaimana keadaan kekasihmu, Eunra?” Laki-laki paruh baya itu pun melepas jasnya seraya menuntun keponakan perempuannya agar duduk di sofa yang berada di dalam ruang kerjanya.

Selama ini Eunra tidak menyadari bahwa di dalam ruang kerja pamannya itu terdapat sebuah bingkai foto mereka saat sedang berlibur berukuran sedang tergantung di tengah bidang dinding yang polos. “Sudah jauh lebih baik dibanding kemarin.” Eunra tersenyum dan memerhatikan rambut pamannya yang mulai memutih namun senyumnya tak pernah berubah sejak dulu. Tak berapa lama kemudian paman Eunra segera berkata dengan suara yang selalu Eunra sukai. “Paman ingin bertemu Lee Seungjae, tidak apa-apa, kan?” Eunra menganggukkan kepalanya kemudian menjawab, “Tentu paman.”

*

Sore itu Han Sungjoon masuk ke dalam kamar inap Seungjae sementara keponakan perempuannya berjalan mengikutinya beberapa langkah di belakang. Seungjae yang menyadari kedatangan paman dari Eunra dan kekasihnya itu pun segera membenarkan posisi duduknya. Sementara Olivia baru saja keluar dari kamar mandi setelah mengganti baju seragam.

“Apa kabar Seungjae-ssi?” sapa Han Sungjoon yang juga menjabat sebagai kepala rumah sakit ini. Seungjae menjawab paman kekasihnya itu dengan sopan kemudian mulai memperkenalkan Olivia yang berada di dekatnya. “Ini keponakan saya, Olivia.”

Paman Eunra menyalami Olivia yang terlihat masih sedikit malu. “Cantik sekali ya.” ujarnya menoleh pada Eunra yang kali ini telah berdiri di sampingnya. Eunra mengangguk setuju seraya tersenyum.

“Saya senang sekali mendengar kabar pernikahan kalian, orangtua Eunra juga nanti akan datang, jadi, sejauh ini bagaimana persiapannya?” Seungjae kemudian menjelaskan bahwa mereka telah hampir selesai mempersiapkan segala urusan pernikahan. Paman Eunra menjadi terlihat lebih bersemangat mendengarnya. “Kapan Kang Jihyun memperbolehkan Seungjae pulang?”

“Besok siang, paman.” Sila menjawab sebelum Seungjae sempat membalas, membuat pamannya segera mengangguk kemudian bicara, “Baiklah kalau begitu, saya juga masih ada sedikit pekerjaan, jadi semoga kamu cepat pulih, saya pergi dulu.” ujarnya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dan Eunra mengantarnya sampai ke depan pintu.

*

Sila menguap sekali lagi setelah hampir setengah hari penuh dirinya dan Donghae melakukan sesi foto prewedding. Awalnya Donghae sempat menginginkan agar pemotretan hanya dilakukan dalam studio indoor supaya tidak memerlukan waktu lama, namun Sila nampaknya berhasil membuat Donghae mengalah dengan rayuannya yang tidak pernah bisa Donghae tolak, jadilah mereka harus menghabiskan lebih dari enam jam penuh untuk menyelesaikan serangkaian foto.

Mereka berdua berhasil mendapatkan izin satu hari penuh, itu berarti mereka harus benar-benar menyelesaikan urusan pernikahan pada hari ini juga, tidak ada hari esok lagi untuk mengurus persiapan, karena rumah sakit tidak akan memberikannya. Mereka tidak bisa membuang waktu, setelah sesi pemotretan yang memakan waktu itu, mereka segera melanjutkan perjalanan ke studio butik pakaian pengantin. Fitting baju terakhir sebelum nanti mereka benar-benar menggunakannya di acara pernikahan.

Hari telah berganti malam, baik Sila maupun Donghae sudah sama-sama lelah, sehingga di dalam mobil hanya terdengar musik pelan dari pemutar cd, sebelum akhirnya suara nada dering ponsel milik Sila berdering agak keras. Ternyata dari wedding organizer yang mengurus detil acara pernikahan memberi kabar bahwa seluruh undangan mereka telah disebar. Sila menutup telepon tidak beberapa lama kemudian kemudian memberitahu Donghae yang berada di sampingnya tengah mengemudi. Tidak banyak orang yang akan menghadiri acara mereka, hanya keluarga, kerabat dekat, dan orang-orang di rumah sakit.

Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di depan rumah Sila, jalanan Seoul malam rupanya sedang cukup padat. Donghae mengecup singkat pipi calon istrinya itu sebelum Sila turun dari mobilnya. Ia melambaikan tangan dari balik kaca mobil yang terbuka dan melajukan mobilnya kembali ke apartemen.

*

Kang Jihyun melepaskan selang infus yang melekat di punggung tangan Seungjae yang saat ini masih terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya dengan hati-hati dan perlahan. Siang ini Seungjae sudah diperbolehkan olehnya untuk kembali ke rumah, walaupun begitu ia tidak boleh langsung kembali bekerja. “Kamu masih perlu sekitar dua sampai tiga hari lagi untuk istirahat di rumah sebelum kembali ke kantor.” Kang Jihyun memberikan surat yang dibalut amplop putih bersih pada Seungjae. “Aku sendiri tidak yakin kamu memerlukan ini, kau kan bosnya.” Godanya membuat Seungjae hanya tersenyum menerima surat sakit dari Jihyun. “Ini lebih terlihat seperti tagihan rumah sakit.” Jihyun tertawa pelan seraya membantu Seungjae berdiri dan duduk di kursi roda, “Aku rasa kamu sudah lama tidak berjalan, pasti masih aneh rasanya, jadi aku akan mengantarmu ke mobil dengan ini.”

Seungjae tidak menyahut hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya berkata, “Jihyun-ssi,” panggilnya membuat Jihyun segera menoleh dan menghentikan kegiatannya membereskan peralatan infus di dekat Seungjae. “Ya?”

“Bolehkan jika sewaktu-waktu nanti aku menjenguk adikmu?” kali ini rasanya Seungjae berkata dengan sungguh-sungguh. Ia masih penasaran dengan adik Jihyun yang diceritakan oleh Eunra pada dirinya. Pertanyaan itu membuat Jihyun terdiam sebentar kemudian mengangguk pelan. “Tentu.”

Sekelebat pikiran berada di benak Seungjae, namun sepertinya akan agak canggung bagi nya mengatakan hal itu pada Jihyun, namun biar bagaimanapun ia tampaknya harus tetap mengungkapkannya. “Kapan terakhir kamu cuti?” pertanyaannya kali ini membuat Jihyun agak mengerutkan keningnya.

“Memang kenapa?” jawab jihyun terlihat bingung, “Mau mengajakku berlibur?” lanjutnya mencairkan suasana. Seungjae tertawa pelan begitupun dengan dirinya. “Mengapa kamu tidak mengambil jatah cutimu kemudian meluangkan waktu bersama Yeonhee. Itu memang terdengar konyol, namun tidak ada salahnya mencoba, barangkali dapat membantu kesembuhan Yeonhee. Aku pikir meninggalkannya dengan seorang perawat tidak akan membantu banyak.” selama beberapa saat Kang Jihyun masih tidak merespon dan raut wajahnya mulai berubah dingin.

Well, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, tapi ada baiknya jika kamu benar-benar meluangkan waktu penuh untuk Yeonhee selama beberapa hari. Ia akan merasakan kehadiran dirimu kembali, ia pasti juga sangat merindukanmu, kaulah yang satu-satunya ia miliki.”

Tidak sempat Jihyun menjawab perkataan Seungjae, Eunra datang bersama Olivia masuk ke dalam ruangan. Terdapat sesuatu di kedua tangan Olivia dan menyerahkan pada Jihyun ketika ia mendekat. “Ini untuk paman Jihyun, karena telah merawat paman Seungjae.” Kantung plastik itu berisi banyak makanan seperti roti, bolu, dan cokelat. Jihyun mengalihkan pandangannya pada Eunra dan gadis itu hanya mengedipkan sebelah matanya mengisyaratkan bahwa ia hanya perlu menerimanya saja tanpa banyak tanya. Jihyun pun menerima bingkisan itu dan mengatakan terima kasih sambil mengacak pelan rambut keponakan Seungjae itu.

Beberapa saat kemudian baik Eunra dan Olivia keduanya berjalan di sisi kursi roda Seungjae yang didorong oleh Jihyun masuk ke dalam lift menuju lantai dasar. Saat sampai di depan lobi rumah sakit, supir mereka telah menunggu tepat di sana dengan pintu mobil yang sudah terbuka. Seungjae perlahan bangkit dari kursi rodanya dan masuk ke dalam mobil dibantu dengan Eunra. Baik Eunra dan Seungjae mengucap terima kasih pada Jihyun sebelum pintu mobil tertutup dan mereka meninggalkan lobi rumah sakit mewah itu.

*

Pagi ini tak lama setelah ia membuat semangkuk sereal untuk sarapan, ia baru menyadari kiriman undangan dari Donghae yang seingatnya telah dikirim sejak kemarin atau mungkin kemarinnya lagi, entahlah, akhir-akhir ini ia terlalu sibuk dengan operasi-operasinya di rumah sakit, atau lebih tepatnya ia memang menyibukkan dirinya sendiri.

Perlahan Kyuhyun membuka undangan bermodel elegan namun tetap terlihat manis dengan sedikit sentuhan warna merah muda, pasti Sila yang memilih modelnya, tebak Kyuhyun dalam hati. Sahabatnya sebentar lagi akan memulai hidup baru, ia pasti sudah tidak bisa lagi sering-sering mengajak Donghae pergi untuk sekedar menjadi teman ngobrol sembari minum kopi di kedai belakang apartemen atau hanya untuk disuruh membantu merapikan apartemen. Sejenak ia berusaha untuk tidak terlihat menyedihkan yang masih sendiri tanpa tahu harus melakukan apa, hanya menjalani hari-hari membosankannya di rumah sakit seperti biasa tanpa tahu kapan akan berakhir.

Mungkin ibu Donghae benar, seperti apa yang dikatakan wanita paruh baya itu beberapa hari lalu pada dirinya bahwa ia tidak bisa terus-terusan seperti ini dan mempermainkan perasaan wanita yang sungguhan menyukainya, seperti wanita-wanita yang telah ia biarkan begitu saja akhir-akhir ini. Tanpa ada keinginan untuk mencari Sooran kembali, telah menyadarkannya bahwa ia tidak sungguh-sungguh menyukai gadis muda itu. Terdengar sungguh brengsek memang. Ia pun sudah membenci dirinya sejak tiga tahun lalu.

Lantas bagaimana ia harus memulai hidup kembali? Apa yang harus ia lakukan agar bisa membuka hatinya yang telah lama membeku? Rasanya telah lama hilang seakan mati rasa. Ia tidak pernah merasa hidup lagi setelah Sera melangkah pergi dari dirinya, dari seluruh inci kehidupannya. Perasaan ini kemudian membuatnya mulai menyadari apakah kekosongan ini berarti hatinya masih bersama Sera yang saat ini mungkin sudah memiliki kehidupan baru. Mungkin Sera sudah melupakan dirinya, tapi apakah Sera tahu bahwa hatinya masih tertinggal? Ia merasa tidak ada yang bisa menggantikan wanita itu di hatinya. Kekosongan itu selalu saja ia rasakan, seperti mimpi buruk yang terus menghantui tiap kali ia terbangun di pagi hari menyadari bahwa ia kini tidak bersama dengan gadis yang ia cintai dari dulu. Masih dapatkah ia kembali pada Sera yang mungkin sudah melupakan dirinya?

Kyuhyun mengusap pelan lembar foto lama yang telah lama ia simpan sejak bertahun-tahun silam bersama Sera berada di sampingnya. Merangkul pingangnya sementara sebelah tangannya berada di bahu Sera.

“Sial,” Kyuhyun mengalihkan pandangannya, menerawang jauh ke luar jendela kamarnya yang gorden jendela kamarnya dibiarkan terbuka.

“Aku masih mencintainya.”

*

Tepat pagi tadi Seungjae sudah kembali bekerja seperti biasa. Hampir seluruh karyawan yang berada di kantornya pagi itu menyambut kehadirannya setelah cukup lama tidak muncul karena sakit lambung yang menyusahkannya ini, walaupun begitu, setidaknya ia jadi memiliki waktu ekstra untuk ia habiskan bersama Olivia selama dua hari ia beristirahat di rumah setelah dirawat di rumah sakit.

Hari ini ia sengaja pulang lebih awal dari hari biasanya karena ia ingin menjemput Olivia sendiri. Seperti yang pernah ia janjikan pada Olivia bahwa ia akan mengajak gadis muda itu untuk pergi mengunjungi makam kedua orangtuanya. Ia sendiri juga udah lama sekali tidak pergi ke makam kakak perempuannya, mereka pasti juga sudah sangat merindukan Olivia yang sekarang sudah semakin tumbuh besar.

Sore itu Seungjae bersama Olivia melangkah memasuki tempat pemakaman yang tersusun rapi. Kunjungannya kali ini sedikit berbeda daripada biasanya karena ia tak lagi hanya ditemani Olivia yang sedari tadi terus menggenggam tangan kanannya, namun sekarang ada Eunra yang berjalan di sisi kirinya, di dalam rangkulannya. Seperti yang ia janjikan bahwa ia akan membawa Eunra memperkenalkannya pada kedua orangtua, kakak perempuan, dan kakak iparnya. Walaupun terlihat miris bahwa hampir seluruh orang yang ia dan Olivia sayangi telah berpulang, tetapi ia telah berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktunya bersama Olivia selama berada di dunia ini.

Udara yang sejuk dengan angin yang berhembus dingin menemani langkah mereka bertiga menuju makam yang berjajar rapi dan teratur. Tak jauh dari sana terdapat sebuah nisan bertuliskan sebuah nama yang membuat Seungjae berhenti. “Ini makam ibuku, nenek Olivia,” ujarnya pelan pada Eunra. “Ayahku meninggal lebih dulu jauh sebelum mereka, karena sakit.” pandangannya beralih pada sebuah makam di sebelahnya.

“Sedangkan ini adalah makam ayah dan ibu Olivia.” tepat saat itu Olivia meletakkan sebuah bingkai foto dirinya bersama Seungjae dan Eunra di atas nisan makam ibundanya. “Sebentar lagi Eunra eonnie akan tinggal bersama kami, dia sangat baik, paman Seungjae saja sampai selalu memikirkannya.” ia bercerita pada ibunya. Seungjae masih merangkul Eunra di belakang Olivia yang berlutut di atas tanah berumput.

Tidak lama kemudian Olivia bangkit berdiri setelah mencium nisan ayah dan ibunya, kembali pada Seungjae dan Eunra. Mereka beralih pada kedua makam orang tua Seungjae.

Seungjae menceritakan tentang rencana pernikahannya dengan Eunra dan mengenalkan Eunra pada orangtuanya. Jika saja mereka semua masih hidup, Seungjae sangat yakin ibu dan ayahnya pasti akan sangat senang bertemu Eunra.

Ketika butiran air pertama turun perlahan, mereka segera pamit dan bergegas kembali ke dalam mobil yang terparkir agak jauh dari sana sebelum hujan turun lebih deras karena mereka tidak membawa payung atau apapun yang dapat melindungi mereka dari hujan yang turun.

*

Hampir setengah jam sudah Kyuhyun mencari Kang Jihyun di seluruh sudut rumah sakit namun tidak juga dapat menemukannya. Jika seandainya Donghae tidak sedang berada di ruang operasi, ia tidak perlu repot mencari Jihyun seperti ini. Baik Donghae maupun Jihyun akhir-akhir ini sama-sama susah sekali dihubungi. Ketika tidak tahu lagi harus mencari kemana, Kyuhyun mencegat seorang perawat yang melintas. “Kamu melihat dokter Kang Jihyun?”

Seketika perawat itu bergeleng. “Kemarin saya dengar ia ambil cuti.” Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Begitukah?” perawat itu mengangguk dan segera pamit pergi. Pantas saja ia tidak berhasil menemukannya seharian ini. Ia menjadi agak penasaran mengapa Jihyun cuti tanpa memberi kabar atau semacamnya.

“Kyuhyun-ssi?” seseorang menepuk bahunya membuatnya agak terkejut dan segera membalikkan badan. “Oh, Lee Seungjae, ada apa?”

Seungjae tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang khas. “Sedang sibuk tidak?” tanyanya dengan pandangan mata yang teduh dari balik kacamatanya.

“Ini jam makan siang,” ujar Kyuhyun santai menandakan bahwa ia memang sedang memiliki waktu luang. “Ada apa?” saat itu juga seorang gadis muda dengan rambut panjang coklatnya yang dikuncir kuda muncul dengan setengah berlari dari arah berlawanan menuju Lee Seungjae. “Aku mau bertanya alamat Kang Jihyun.”

Sebelum Kyuhyun menjawab, gadis muda itu justru mencuri perhatiannya. “Apa ini keponakanmu?” tanyanya antusias, Seungjae mengangguk. “Ya. Ini Olivia,” Seungjae beralih pada Olivia yang berdiri di sampingnya. “Ia memaksa ingin mengunjungi adik Kang Jihyun yang sakit.”

*

Donghae muncul dengan tiba-tiba di ambang pintu kamar tidur Kyuhyun malam-malam begini membuat Kyuhyun melemparkan bantal ke arah Donghae yang selalu saja mengganggu waktu tidurnya. “Ada apa lagi sih?” tanyanya heran ketika Donghae masuk dan merebahkan diri ke atas kasurnya.

“Lusa depan aku menikah,” sahut Donghae acuh memandangi langit-langit. “Ya aku tahu.” Kyuhyun kembali memejamkan mata, sudah biasa dengan Donghae yang tiba-tiba datang dan menginap semaunya.

“Beri aku tips atau semacamnya, kau ini kan sahabatku, masa tidak mau memberitahu rahasiamu sih.” Donghae menoleh ke arah Kyuhyun yang pura-pura tidur. Kyuhyun mau tidak mau membuka kembali matanya ketika merasakan kakinya ditendang oleh Donghae. Benar-benar menyebalkan. “Tips apa?” tanyanya dengan setengah hati.

“First night.” Donghae menaikkan alisnya membuat Kyuhyun mual dan segera memutar bola matanya.

“Call.”

*

Sejak sepuluh menit lalu Kang Jihyun masih tidak dapat melepaskan pandangannya pada keponakan Seungjae dari balik punggung gadis muda yang tengah mengajak Yeonhee bicara. Berbeda dengan keponakannya, Seungjae sedari tadi hanya diam saja walaupun sesekali menjawab pertanyaan Olivia yang terdengar penasaran.

“Paman Jihyun, katakan pada kak Yeonhee jika ia bangun nanti bahwa aku ingin sekali berteman dengannya.” Kang Jihyun yang tadi setengah melamun menjadi sedikit terkejut sesaat kemudian segera tersadar kembali, “Ya, pasti akan paman sampaikan.”

Tak berapa lama setelah Jihyun menjawab pertanyaan keponakannya, Seungjae tiba-tiba berkata, “Sudah cukup berkunjungnya, Liv?” Olivia hanya mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah pamannya setelah berpamitan dengan Yeonhee. Pamannya kemudian segera menuntunnya melangkah keluar ruangan mengikuti Jihyun.

“Datanglah kapan saja yang kamu mau, kak Yeonhee pasti senang melihat kamu datang.” Jihyun berkata saat Olivia tengah melambai padanya menuju ambang pintu apartemen. Olivia seketika mengangguk mengiyakan sebelum mereka bertiga menyadari seseorang datang.

Wanita muda itu tersenyum pada Olivia dan Seungjae yang masih berada di sana sementara Kang Jihyun segera menghampirinya walaupun sempat terlihat agak terkejut dengan kedatangan wanita tersebut. “Ini Olivia dan ini Lee Seungjae.” Kang Jihyun segera memperkenalkan dua orang yang tengah berdiri di ambang pintu pada wanita muda itu yang kemudian dengan sopan menundukkan kepalanya sedikit kemudian mengelus pelan rambut Olivia yang panjang. “Park Luna.” ia berkata memperkenalkan diri.

Sebelum sempat Seungjae mengucapkan selamat tinggal pada kedua orang itu, Jihyun meraih wanita itu. Ia diam-diam memerhatikan wanita yang kali ini tengah dikecup keningnya oleh Jihyun. “Well, kami pergi dulu.” Seungjae berkata seraya melangkahkan kakinya menarik pelan tangan keponakannya agar segera mengikuti dirinya.

Olivia melambaikan tangan pada dua orang di belakangnya sementara Seungjae tetap menghadap ke depan tanpa menoleh sedikit pun masih menggenggam tangan Olivia dengan erat.

*

“Paman, perempuan tadi itu pacarnya ya?” tanya Olivia sambil memakai sabuk pengaman. Seungjae yang belum bicara sepatah katapun sejak tadi akhirnya angkat bicara. “Mungkin.” ia berujar singkat sambil menyalakan mesin mobil. “Paman kenal?”

“Tidak.” Seungjae berujar buru-buru memutar lagu dari pemutar musik agar Olivia berhenti menanyainya macam-macam karena ia memang tidak mengenal sosok perempuan tadi. Tapi mungkin perempuan tadi benar kekasih Kang Jihyun. Setidaknya ia harus sedikit lebih senang karena Jihyun sudah memiliki kekasih baru pengganti Eunra.

“Apa kita akan menemui Eunra eonnie?” tanya Olivia berubah antusias. Seungjae melirik keponakannya yang terlihat bersemangat, tadinya ia hanya ingin pulang dan istirahat. “Ya.” gumamnya pelan kemudian membuat Olivia berteriak girang.

*

Sila mematut diri di depan kaca untuk kesekian kalinya. Ia merasa ada yang berdebar di dalam dirinya, rasanya sama seperti ketika Donghae mencium bibirnya untuk pertama kali. Tanpa sadar ia tersenyum kecil mengingat kilasan masa lalu yang tiba-tiba muncul.

Suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya, ayahnya masuk dengan tuksedo hitam dan senyum yang menawan. “Ingatkah saat ayah dulu mengantarmu pada hari pertama masuk ke sekolah?” tanyanya seraya mengulurkan sebelah tangan. Sila menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya, “Ya aku masih ingat sekali.”

“Sekarang saatnya ayah mengantarmu sekali lagi, kepada Lee Donghae yang telah menantikanmu.” Sila refleks memeluk ayahnya kemudian berjalan keluar ruangan dengan ayah di sampingnya.

*

Donghae membuka perlahan kain tipis tembus pandang sehingga dirinya dapat melihat wajah Sila sepenuhnya. Tidak perlu riasan tebal untuk membuat wajah Sila bersinar, saat ini pun Donghae sudah merasa Sila luar biasa cantik yang tengah tersenyum bahagia dengan gaun pengantin. Donghae segera mengecup bibir merah pengantinnya dengan hati-hati yang segera dibalas mesra. Mulai detik ini dan seterusnya, Sila telah menjadi miliknya. Tidak ada yang dapat membuatnya merasa seberuntung ini selain memiliki Sila seutuhnya.

Hari ini adalah hari yang telah lama ia nantikan. Hari yang telah ia tunggu sejak pertama kali menyatakan cinta pada Sila. Ia masih ingat bagaimana dulu Sila sempat hampir menyukai sahabatnya bahkan sebelum dirinya tahu siapa nama Sila. Namun saat ini ia telah berhasil memiliki Sila yang dahulu sama sekali tidak mengenal dirinya. Donghae tersenyum kecil sambil diam-diam memandangi Sila kemudian mengalihkan pandangannya mencari sosok Kyuhyun dan rekan-rekannya yang lain.

Dari tempatnya berdiri bersama Sila, ia dapat menemukan Kang Jihyun tengah duduk bersama dengan Park Luna, Lee Seungjae datang bersama Goo Eunra dan keponakan blasterannya, Olivia, serta Kyuhyun yang ternyata tidak datang bersama seseorang yang spesial. Belum lama ini ia mengetahui bahwa hubungan Kyuhyun dengan Sooran sudah usai. Sahabatnya kini mungkin merasa sendirian ketika dirinya melangsungkan pernikahan. Hampir sama seperti keadaannya dulu ketika Kyuhyun mengucap janji sehidup-sematinya dimana Kyuhyun melangsungkan pernikahan ketika dirinya baru saja putus dari kekasihnya. Kebetulan yang aneh, pikirnya dalam hati.

***

Setelah upacara pernikahaannya selesai, Donghae segera menyusul Kyuhyun ke area parkiran. Entah hendak pergi kemana Kyuhyun, Donghae tidak habis pikir. Ia bahkan rela meninggalkan Sila yang masih di dalam gedung demi menyusul Kyuhyun.

“Hei!” panggilnya dengan cukup keras berusaha menghentikan langkah Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh dan menemukan Donghae yang terlihat mulai kehabisan napas. “Ada apa?” tanyanya sambil menyergit bingung. Ia melongok ke sekeliling, heran mengapa Donghae bisa di sini, seharusnya ia masih berada di dalam gedung hotel, bersama pengantinnya. Belum sempat Donghae menjawabnya, ia sudah bertanya lagi, “Jangan bilang kau meninggalkan Sila dan pergi ke sini.”

Donghae mengambil napas panjang, membenarkan ritmenya kembali. “Aku melihat kamu pergi keluar dan sejak tadi aku perhatikan kau seperti ada yang tidak beres. Setidaknya aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.” Ia berusaha menjelaskan walaupun dengan agak bertele-tele. Kali ini Kyuhyun yang tidak habis pikir.

“Kau gila? Ini acara pernikahanmu dan kau malah mencariku, seharusnya kau terus berada di samping Sila.”

“Acaranya sudah hampir selesai dan aku menyusulmu ke sini karena aku peduli denganmu, datang ke acara pernikahan pasti membuatmu merasa sakit, aku mengerti, itulah mengapa aku ke mari.”

*

Lee Seungjae mengembuskan keluar kepulan asap dengan berat sebelum ia menyadari bahwa batang rokoknya sudah terlalu pendek untuk dihisap. Ia mematikannya ke dalam asbak dan mengambil sebatang baru. Sambungan teleponnya masih terhubung ketika ia menyalakan pemantik api, ia tengah berbicara dengan seorang temannya yang bekerja di sebuah pengadilan negeri. Eunra baru saja beranjak dari sana sekitar lima belas menit lalu, sebelum ia merasa penat dan akhirnya kembali pada kebiasaan lama yang sudah mulai perlahan ia tinggalkan karena Olivia.

Seunjae sengaja mengajak Eunra bertemu untuk membahas tentang Olivia dan ia menanyakan itu pada Eunra apakah keberatan atau tidak. Jika mereka mengadopsi Olivia setelah menikah maka syaratnya akan berbeda karena minimal pernikahannya harus sekitar lima tahun, maka Seungjae memutuskan untuk mengadopsi sebelum menikah.

“Paman Seungjae!” Seungjae terkejut bukan main ketika menyadari Olivia tiba-tiba muncul di sekitarnya. Ia segera memutus telepon, mematikan rokok dan menyimpan kotak beserta pemantiknya ke dalam saku jasnya. Ia tidak pernah merokok di depan Olivia, bahkan Eunra tidak tahu kalau ia pernah memiliki kebiasaan merokok.

“Ada apa, Liv?” masih heran mengapa keponakannya itu bisa berada di sini. Padahal ia yakin Olivia pasti berada di kamar dalam apartemen. Ia memang sedang berada di sebuah kafe di area apartemen, tapi tidak menyangka Olivia akan turun dan menyadarinya sedang di sini. “Paman sendiri yang bilang paman akan ngopi di bawah.”

Seungjae bahkan tidak ingat pernah mengatakan begitu. “Paman merokok lagi ya?” tanya Olivia dengan polosnya membuat Seungjae merasa agak menyesal. Padahal Olivia tahu bahwa pamannya itu sudah cukup lama berhenti, pasti sesuatu sedang terjadi sehingga membuat pamannya kembali merokok. Olivia sebenarnya tidak pernah melarang ataupun memintanya untuk berhenti, murni inisiatifnya sendiri untuk berhenti.

“Jangan-jangan paman habis bertengkar dengan eonnie?” Olivia bertanya menyelidik membuat Seungjae mengerutkan dahinya, “Tidak, tidak.”

“Lalu?”

Seungjae menghembuskan napasnya. “Mau pesan sesuatu, Liv?” keponakannya mengangguk semangat. “Jus stroberi dan cheese cake.”

“Jadi ada apa?”

Seungjae mengamati gadis muda itu dari balik kacamatanya, walaupun sudah tidak terlalu anak kecil lagi, tapi tetap saja jika sudah terlanjur penasaran, maka ia akan berusaha mencari tahu sampai Seungjae memberi tahunya. “Kamu akan jadi anak paman.”

Kali ini giliran Olivia yang tidak bicara, masih mencerna perkataan pamannya barusan, sampai akhirnya pelayan datang mengantarkan pesanannya. “Memangnya bisa?”

“Tentu bisa.”

Olivia terlihat berpikir sejenak. “Bagaimana caranya?”

“Ke pengadilan, pengangkatan anak.” gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Kapan?”

“Mungkin minggu depan.”

Olivia tidak menjawab lagi, ia mulai menikmati makanan kesukaannya itu sementara Seungjae kembali sibuk dengan pikirannya lagi.

“Eh tunggu sebentar paman.” ia refleks mengacungkan garpunya ke udara membuat pamannya itu menyerngit. “Apa?”

“Berarti paman akan menikah dengan status sudah memiliki anak?” rasa penasarannya tidak dapat ia sembunyikan dari pamannya.

Seungjae mengendikkan bahunya. “Begitulah.”

Olivia langsung kembali menanggapi walaupun baru saja memasukkan potongan besar kue keju ke dalam mulutnya. “Tapi bagaimana dengan Eunra eonnie, apa dia tidak keberatan?”

Dengan acuh dan ekspresi wajah kelewat datar ia hanya menjawab singkat, “Paman sudah membicarakan itu dengannya.”

TBC

 

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s