Memories of Book

picsart_11-21-04-40-51

Memories of Book

Story by Kimnamie

|| Cast: Me, Kim Mingyu, Joshua Hong, and others | Genre: Friendship, AU, Hurt/Comfort | Rating: T | Legth: Vignette ||

Inspired by song: Adele – All I Ask

.

You can give me a memory I can use.

.

.

©kimnamie2016

==

Dia terbangun di pagi hari selalu dengan kebingungan yang nyata. Melihat sekeliling, mencari hal-hal yang bisa diraih untuk setidaknya, mengetahui jati diri walau hanya sekadar nama. Membuka loker-loker di ruangan berwarna abu-abu itu dengan brutal, ketika yang dia ingat hanya sebuah buku kecil berwarna cokelat kepunyaannya.

Dia menemukannya. Buku kecil berwarna cokelat. Namun, di dalam buku kecil itu hanya terdapat lembaran-lembaran kosong yang sama sekali tak berisi goresan tinta. Entah, mungkin telah tertelan malam bersama dengannya yang selalu kehilangan arti hidup setiap membuka mata.

Tidak! Tidak! Ada sebuah nama yang terselip di tengah-tengah buku kecil!

Namamu Kim Mingyu. Dan aku, adalah sahabatmu.

Dan ketika dia menutup buku kecil berwarna cokelatnya dengan pelan, aku melihat dengan nyata dia tersenyum amat tipisnya.

Aku—bukan yang menulis nama Kim Mingyu dalam buku kecil berwarna cokelat—yang selalu mengahantuinya setiap detik waktu.

.

=

.

Seriap sore, Mingyu selalu menyempatkan diri keluar rumah untuk menghirup udara segar. Apalagi ketika musim dingin seperti ini, coklat panas adalah hal yang Mingyu cinta. Dan pada pukul setengah lima, kafe favoritnya untuk membeli coklat panas selalu masih bertuliskan kata ‘Open’ di pintunya. Terkecuali untuk hari ini, karena sebelum jarum pendek berada pada angka empat dan jarum panjang pada angka duabelas, kata ‘Close’ telah menjadi penghias pintu.

Tetapi aku tetap tidak bisa tertawa ketika Mingyu memperlihatkan ekspresi sebalnya.

Alhasil, Mingyu melangkah ke kafe lain yang berjarak tidak terlalu jauh dengan kafe sebelumnya. Bunyi lonceng menggema saat Mingyu membuka pintu kafe. Aku bisa membaca pikiran Mingyu yang terheran-heran dengan aksen serba soft yang ada di kafe ini. Aku juga bisa membaca pikiran Mingyu yang menduga bahwa pemiliki kafe barangkali adalah penyuka senja, atau penikmat puisi yang penuh dengan haru.

“Ingin pesan apa, Tuan?”

Aku melihat ekspresi kejut di wajah Mingyu yang tak terlalu kentara. Mungkin terkejut karena pelayanan kafe yang mengesankan, atau entahlah.

“Espresso. Satu.”

Kali ini aku yang terkejut, karena—hey, sejak kapan Mingyu suka kopi? Seingatku, Mingyu begitu membenci kopi karena rasanya yang pahit. Oh, harusnya aku tidak perlu sedalam ini untuk mengingat hal-hal yang disukai Mingyu. Karena bagaimanapun, aku ditakdirkan ada untuk membuat duka.

Mingyu mencecap kopi espresso-nya dengan hati-hati. Seolah, ada sebuah kisah yang tidak boleh dilewatkan dalam kepahitan rasanya. Aku tidak tahu, tapi yang pasti wajahnya melukiskan sebuah keputus-asaan.

“Boleh aku duduk di sini?” Lamunanku pecah akan seseorang—tiga tahun lebih tua dari Mingyu—yang menyapanya. Aku mengenal dia.

“Silahkan.”

Kegugupan tercetak jelas di wajah Mingyu; was-was jika orang di depannya adalah orang yang pernah dia kenal sebelumnya. Namun, seseorang yang barusan meminta izin untuk duduk sebangku dengan Mingyu hanya tersenyum.

“Bagaimana kabarmu?” Mingyu berbisik takut dalam hati, merasa bahwa seseorang di depannya itu adalah seseorang yang telah mengenalnya dengan baik. Aku tahu kerisauan itu. Selalu.

Mingyu sebisa menjawab dengan biasa. “Masih sama dengan kemarin-kemarin.”

“Ya, aku tahu.” Orang di depan Mingyu menampilkan senyum sendu. “Jadi bagaimana dengan sekolahmu hari ini?”

Kalau aku boleh menjawab, tidak ada yang baik dengan sekolah Mingyu hari ini. Mingyu masih tetap sendiri, memasang ekspresi paling datarnya dengan amat baik, sehingga teman-teman Mingyu menganggap bahwa dia adalah anak yang arogan.

“Tidak terlalu baik. Aku tetap dibenci.” Tetapi hanya Mingyu yang berhak menjawab. Aku hanya perlu menyaksikan bagaimana sedih ekspresi wajahnya ketika dia mengucapkan kalimat aku-masih-dibenci barusan.

“Aku harap kau tidak terlalu memikirkan tentang itu.” Orang di depan Mingyu membalas dengan santainya, sambil menyeruput sebuah cairan berwarna cokelat pekat di dalam cangkir. Itu kopi.

“Ya. Itu sudah terlalu biasa. Tidak apa-apa.”

Aku setia menyimak percakapan mereka.

“Ming,” Mingyu menampakkan ekspresi kejut ketika namanya disebut, “apa kau mengingatku?”

“Maaf?” Suara Mingyu bergetar.

“Aku sahabatmu.” Orang di depan Mingyu mengeluarkan tawa jenis pilu. Dan aku harap aku bukan alasan tawa pilu itu berderai. “Namamu Kim Mingyu. Dan aku, adalah sahabatmu.”

Mingyu hampir meledak akan emosinya tentang kekurangan yang dia miliki. Dan aku terlanjur menangis menyaksikan bagaimana kejamnya ini. Persahabatan ini hanya meninggalkan bekas luka.

“Kau, Joshua?” Aku tak lagi terkejut ketika Mingyu menyebutkan sebuah nama. Dia tahu dari sebuah buku kecil berwarna cokelat.

“Ya. Dan dengan apa kau mampu mengingatnya?” Seseorang itu, Joshua, agak terkejut. Ada binar senang di matanya.

“Seseorang menuliskannya pada buku kecilku yang berwarna cokelat.”

“Nyatanya, kau bahkan mengetahui namaku dari sebuah buku.” Joshua menunduk.

“Maaf. Memang hanya sebatas itu.” Aku menangis semakin keras mendengar jawaban Mingyu.

Keheningan kemudian menerpa. Aku masih dengan tangisku, Mingyu masih dengan perasannya yang menganggap bahwa dirinya amat-sangat kejam karena telah melupakan semua orang, dan Joshua tenggelam dalam perasaan sedihnya karena tetap tak mampu membuat sahabatnya ingat dengan dirinya.

Namun, di sini, akulah masalah terbesar.

Lonceng kafe berbunyi tiga kali. Cangkir tempat kopi espresso yang Mingyu pesan sudah tak mempunyai isi, dan milik Joshua sendiri sudah hampir habis.

“Aku pikir, aku harus pergi…” Mingyu menggumam; tangisanku sudah mereda. “Maaf karena tak mampu mengingatmu. Tapi aku pikir, sebelum aku pergi, kau bisa memberi aku kenangan yang bisa kukenang.” Mingyu memberikan sebuah buku kecil berwarna cokelat kepada Joshua.

Joshua menerima buku kecil berwarna cokelat—yang sebenarnya, adalah pemberiannya seminggu yang lalu. Dia menulis sebuah kalimat pendek. Kalimat yang sama setiap harinya: ‘Namamu Kim Mingyu. Dan aku, adalah sahabatamu’ yang ditulis dengan aksara-aksara kecil secara acak tanpa melihat halaman buku.

“Sampai jumpa lagi.” Joshua memberikan buku kecil itu kepada Mingyu.

“Selamat tinggal.”

Nyatanya, ‘sampai jumpa lagi’ yang diucapkan Joshua adalah ‘selamat tinggal’ untuk Mingyu. Aku tahu. Amat-sangat tahu.

.

=

.

Dia terbangun di pagi hari selalu dengan kebingungan yang nyata. Melihat sekeliling, mencari hal-hal yang bisa diraih untuk setidaknya, mengetahui jati diri walau hanya sekadar nama. Membuka loker-loker di ruangan berwarna abu-abu itu dengan brutal, ketika yang dia ingat hanya sebuah buku kecil berwarna cokelat kepunyaannya.

Dia menemukannya. Buku kecil berwarna cokelat. Dia membuka lembar demi lembar buku dengan kasar pula, seperti ada hal yang begitu penting yang harus dia ketahui dengan segera. Seperti—

Namamu Kim Mingyu. Dan aku, adalah sahabatmu.

—kalimat barusan tentang namanya.

Dan ketika dia menutup buku kecil berwarna cokelatnya dengan pelan, aku melihat dengan nyata dia tersenyum amat tipisnya.

Aku—bukan yang menulis nama Kim Mingyu dalam buku kecil berwarna cokelat—yang selalu mengahantuinya setiap detik waktu.

Seorang Kim Mingyu memilikiku sebagai sebuah kekurangan. Kekuarangan yang amat-sangat dia benci.

Aku diciptakan untuk membuat Kim Mingyu tak memiliki satu pun kenangan tentang orang-orang yang pernah ada dalam hidupnya, bahkan membuat Kim Mingyu melupakan diri sendiri.

Aku diciptkan untuk membuat duka. Untuk membuat persahabatan seorang Kim Mingyu dengan Joshua Hong terjalin dengan begitu menyedihkannya.

Aku, prosopagnosia yang merenggut arti hidup Kim Mingyu.

Aku, si kejam yang diciptakan ada, untuk membuat duka.

.

.

-end-

.

.

=

kalau ada yang mau tanya soal prosopagnosia, bisa tanya mbah gugel ya. atau tanya ke aku langsung juga boleh.

yaampun, makin lama makin amburadul keknya;_; diriku galau, sungguh, ga pede buat nge-post ini;_; cuma berharap kalian mau ngasih saran biar aku tau kesalahanku;_; (dan lebih minder lagi, karena sungguh, ff debutku serasa nggak memuaskan dlihat dari review-an yang bikin aku gigit jari ;_;)

with love,

kimnamie

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s