[EX’ACT] Monster (pt. 1)

160606_monster_12

EXO 3rd Album EX’ACT tracklist series by Liana D. S.

#2. Monster

EXO Lay, Baekhyun, and D.O

Dystopia, Friendship, Monster!AU, Twoshots, Teen and Up, related: Lucky One

.

Panggil aku monster. (EXO – Monster)

***

“Pembunuhan besar-besaran. Kita akan babat habis seluruh Kaum Atasan dan mendirikan pemerintahan baru yang kita pegang sendiri. Ingat, Kaum Atasan—termasuk anak-anak dan wanitanya—adalah musuh kita, maka mereka harus dimusnahkan tanpa kecuali.”

Komando Lay tegas dan keras, memuat daya paksa yang amat kuat. Pada titik ini, pertumpahan darah adalah satu-satunya jalan membawa keadilan di dunianya yang rusak. Pemimpin-pemimpin Kota Tinggi menolak segala bentuk negosiasi Kaum Pekerja dari Bawah Tanah, terbukti dari ditangkapnya perwakilan-perwakilan Kaum Pekerja—yang tidak lain Lay serta kedelapan rekannya—pada perundingan terakhir mereka. Para perwakilan ditawan dalam penjara yang jerujinya adalah pikiran mereka sendiri dan untuk sementara, teknik ‘belenggu otak’ itu bekerja. Namun, salah seorang dari mereka memiliki kemampuan otak yang lebih baik dari lainnya, menjebol jerujinya, dan mengajak kabur yang lain. Pulang ke Bawah Tanah, mereka berakhir dengan diskusi meja panjang dalam markas; perintah Lay adalah buah dari diskusi tersebut.

Selain sang pemberi komando, semua yang ada di ruangan tertegun.

“Apakah ada yang tidak bersedia menggerakkan pasukannya untuk menjalankan rencana ini?”

Tidak seorang pun dari anggota Lay yang lantang menjawab pertanyaan itu. Masing-masing bertukar pendapat lirih dengan orang yang duduk di sampingnya, berbagi keraguan, sementara di ujung meja, Lay menggenggam gelasnya erat. Buat apa lagi bimbang? Penghuni Bawah Tanah sudah terlalu lama ditindas. Pembunuhan jelas merupakan pelanggaran hak hidup Kaum Atasan, tetapi itu hanya reaksi atas boikot yang mereka berlakukan terhadap Kaum Pekerja, bahkan menurut Lay, sebetulnya nyawa seluruh penduduk Kota Tinggi masih kurang untuk menebus dekade-dekade gelap yang dilalui Kaum Pekerja di Bawah Tanah. Lay tidak mengambil lebih dari nyawa mereka, bukankah itu dapat dianggap sebagai amnesti?

Genggaman Lay melonggar ketika satu persatu kata setuju disuarakan oleh rekan-rekannya. Berpasang-pasang mata menunjukkan hasrat menghancurkan yang tertanam tanpa sadar sejak bertahun-tahun silam, bunganya kini mekar hingga menutup nurani. Tidak ada cara lain, kitalah yang akan musnah jika tidak memusnahkan mereka, dan kalimat-kalimat serupa yang mendukung rencana Lay berdengung di ruangan, melebarkan senyum sang pemimpin. Ia sudah bisa membayangkan Kota Tinggi berubah merah, warna dosa yang nanti akan menodai tangannya juga, mengerikan namun memuaskan. Lay hendak memaparkan langkah-langkah pembantaian skala besar ini di depan kawan-kawannya …

 “Aku keberatan.”

… ketika seseorang yang duduk paling jauh darinya angkat bicara.

Kening Lay berkerut, rahangnya mengeras, sebisa mungkin menahan ledakan emosi. Ia paham rencananya masih bisa ditolak, tetapi ia tidak menyangka penolakan itu datang dari Baekhyun, orang di ruangan itu yang ia percaya paling lama.

“Mengapa?”

Usai bertanya, Lay menandaskan isi gelasnya dalam tegukan-tegukan besar, sekali lagi berusaha menutupi kemarahannya. Apakah Baekhyun, setelah sekian tahun mengambil bagian besar dalam perjuangan, akan mengkhianati Kaum Pekerja demi idealisme pribadi? Lay siap memenggalnya andai itu benar. Dunia ini terlalu kacau untuk dibuat ideal, jadi sebaiknya dikacaukan sekalian daripada bermimpi muluk untuk membangun kesempurnaan dari nol. Lazimnya, dengan satu tatapan tajam Lay, Baekhyun akan tunduk, tetapi hari ini tidak dan itu mengejutkan.

“Ini tidak seperti dirimu, Lay,” –nada bicara si pemuda bertindik tidak goyah sedikit jua— “karena ini tidak bijaksana. Jika ingin memutus kepala, tebas saja lehernya, tidak perlu mengoyak seluruh tubuh segala.”

“Analogi macam apa itu?” serang Chanyeol yang duduk di seberang Baekhyun. “Kaum Atasan berbeda dengan manusia. Tubuhnya bisa bergerak sendiri biar tanpa kepala dan bukan mustahil kita akan balik dilukai.”

Lay lega mayoritas kelompoknya masih berpihak padanya, tetapi Baekhyun bergeming.

“Aku ingin mendengar pendapat Ketua, bukan yang lain.”

Di telinga Lay, ucapan Baekhyun terdengar beracun, menantang, dan ia tidak suka. Sikap bocah itu harus diluruskan. Lay mendadak bangkit dari kursinya, menimbulkan derak, dan mengulas senyum tipis yang dibuat-buat. Semua tahu ada ancaman apa di balik senyum itu, sayangnya kali ini Baekhyun tidak merasa terancam sama sekali.

“Keputusan tidak akan berubah, jadi Baekhyun, ikut aku dan akan kujelaskan rencana ini baik-baik padamu.”

***

Setelah diskusi ia tutup, Lay memastikan tidak ada anggota lain kecuali dirinya dan Baekhyun yang menyaksikan perbuatannya.

“Kurang ajar kau.”

Baekhyun memicing. Dalam keadaan dihimpitkan oleh lengan kasar Lay ke dinding, ditambah moncong pistol yang menempel ke lehernya, gerak Baekhyun jadi sangat terbatas. Meski Lay demikian mengintimidasi, untungnya tekad Baekhyun tidak terguncang.

“Kau tidak berhak meragukan rencanaku, Bocah. Apa susahnya menuruti mauku seperti biasa?”

“Perintahmu yang sekarang lain. Oleh sebab itulah, aku tidak bersedia menjalankan,” sahut Baekhyun. “Kita membunuh untuk menghukum. Orang-orang yang tidak berdosa harusnya bukanlah sasaran dari rencana besarmu itu.”

“Seluruh Kaum Atasan punya dosa terhadap kita!” bentak Lay, membuat ujung senjatanya menancap makin dalam dan meninggalkan bekas pada leher Baekhyun. “Mereka yang memilih untuk tidak ikut campur masalah ini sama saja menutup mata dan telinga dari penderitaan kita! Para penyiksa yang berbahagia di atas luka Kaum Pekerja itu pantas mati!”

“Bagaimana dengan mereka yang ingin menolak, tetapi dibungkam oleh Bos Besar?” Baekhyun merujuk pada pemimpin Kota Tinggi dan Bawah Tanah saat ini, penguasa mutlak yang identitas aslinya telah tertutup jabatannya. “Aku yakin di atas sana, masih banyak orang yang mau menolong, sayangnya tangan mereka yang terulur diputus duluan oleh tiran itu. Jika kau membantai mereka semua, maka kau akan sama saja dengan dia.”

“DIAM!!!”

Merah padam wajah Lay akibat perkataan Baekhyun barusan. Berani sekali menyamakannya dengan penjahat seperti itu! Selama ini, Lay berjuang demi kesejahteraan Kaum Pekerja semata dan mengesampingkan kepentingannya sendiri hingga hampir kehilangan akal sehat, tetapi apa yang ia dapat? Penghinaan ini keterlaluan. Lebih baik kepala yang tak tahu diri itu Lay ledakkan saja agar tidak bisa berpikir dan bicara sembarangan lagi.

Namun, Lay tidak sanggup. Itu bukan hanya karena Baekhyun menahan lengannya agar tidak bergerak lebih jauh. Mata jernih Baekhyun yang terlampau jujur pun menunjukkan betapa salah langkahnya, memaksanya untuk berhenti, dan satu sisi dirinya memang ingin berhenti. Kendati begitu, api yang terlanjur menyala tidak mudah dipadamkan. Dendam membakar hati kecil Lay hingga mengabu dan tidak bisa ia selamatkan lagi. Tangan yang semula penuh niat membunuh mulai gemetar—dan Baekhyun menurunkan tangan itu sedikit-sedikit.

“Bagaimana juga, kita pernah menjadi bagian yang tersembunyi dari Kota Tinggi. Bagian yang masih berpegang pada kemanusiaan. Mungkin sampai sekarang bagian itu masih berusaha tumbuh di tengah kejatuhan moral orang-orang Atasan. Pertimbangkan ini bila kau masih ingin melanjutkan rencanamu …

… Kakak.”

Ah, sialan. Panggilan itu lagi.

Lay mengumpat dalam hati selagi Baekhyun berjalan menjauhi.

***

Bertahun-tahun lalu di Kota Tinggi, memang ada sekelompok kecil Kaum Atasan yang peduli pada nasib golongan Pekerja. Tak main-main nyali mereka, bergerilya di Bawah Tanah untuk menyalurkan bantuan sebisanya. Perjuangan yang diawali tujuh orang dari tiga keluarga meluas hingga mencapai beberapa puluh orang yang secara berkala bertemu untuk menyusun strategi baru. Tujuan mereka sama dengan tujuan Lay kini: memakmurkan kota ratusan meter di bawah kaki mereka dan menegakkan keadilan.

Segala usaha mereka dibuat sia-sia pada suatu malam oleh bala tentara Bos Besar.

Lay, menggunakan mata kanak-kanaknya, menyaksikan bagaimana setiap sudut rumahnya dibasahi warna merah pekat, berbau anyir, dengan raga beku tergeletak di mana-mana, termasuk raga orang tuanya sendiri. Pasukan Bos Besar tak kenal ampun; mereka menyiksa siapapun yang cukup lemah untuk disiksa dan menghabisi tiap jiwa yang dianggap berbahaya untuk rezim. Masih jelas dalam ingatan Lay nasib anak-anak para gerilyawan dari Kaum Atasan yang ditangkap Bos Besar. Teriakan mereka saat dipaksa masuk ruang gas beracun. Bunyi yang ditimbulkan kepala-kepala kecil itu ketika dibenturkan ke ruang interogasi sampai mati. Bocah-bocah suci yang meregang nyawa. Mereka semua tidak berdosa, tetapi mengapa Bos Besar menghukum mereka? Apa untungnya? Kepuasan dirikah, atau peringatan pada Kaum Atasan yang lain agar tidak bertingkah? Yang mana saja bagi Lay bukanlah suatu pembenaran, apalagi ketika ia melihat Baekhyun di seberang selnya. Anak itu berusaha meraih tangan adiknya yang sedang kejang di sudut penjara akibat demam, tetapi ia terlalu lemah untuk bergerak. Air mata mengucur deras ke pipi Lay sebab nyawa dua temannya yang terakhir hidup itu telah berada di ujung tanduk. Jika Lay kehilangan mereka juga, ia terpaksa harus menahan siksa sang tiran berteman sesal lantaran tidak bisa menyelamatkan sahabat-sahabatnya.

Terali jendela kamar Lay mengingatkannya pada jeruji yang ia guncang kuat-kuat dahulu.

“Buka! Buka penjara ini! Temanku! Aku harus menolongnya!”

Seperti orang kesetanan, Lay menggerakkan jeruji terus-menerus dengan dua tangannya yang penuh memar, berharap itu dapat menjebol batang-batang logam yang memisahkannya dengan teman-teman seperjuangannya. Semula, upayanya hanya menuai gelak tawa para penjaga penjara, tetapi keangkuhan mereka sekaligus melengahkan mereka. Bergerak tepat waktu, Lay merebut pistol laser salah satu penjaga dan melubangi dua kepala anggota Kaum Atasan dalam sekejap mata, mengawali jalannya menuju kebebasan. Ia memang tertembak beberapa kali, tetapi jumlah nyawa tentara Bos Besar yang direnggutnya lebih banyak dari luka yang ia peroleh. Menggunakan tenaganya yang tersisa dan ingatannya soal mengendarai aircraft, Lay membawa kabur kawan-kawannya yang tersisa, meluncur menuju pemukiman 800 meter di bawah Kota Tinggi dengan bibit dendam yang dipendam dalam.

Baekhyun dan adiknya yang telah terbebas dari penjara berterima kasih pada Lay, tetapi kengerian dalam tatapan mereka tidak bisa disembunyikan. Lay terlanjur menanggalkan masa kanak-kanaknya demi dendam yang mengubahnya menjadi hewan buas. Sejak saat itu, tujuan hidupnya yang semula demikian luas menyempit menjadi satu: menghancurkan Kaum Atasan, tanpa peduli Baekhyun yang kadang masih menatapnya asing. Bukan sekali-dua kali Baekhyun menyelipkan kebencian dalam pandangannya pada Lay yang kini memimpin kudeta dari Bawah Tanah. Sebetulnya, itu mengusik satu sisi diri Lay, sayang sekali rencananya untuk melenyapkan satu kota penuh dosa di atas sana telah matang, mustahil tidak dijalankan.

Dada Lay berangsur terasa sesak, padahal ia sudah berbaring senyaman mungkin di ranjang. Ia letakkan lengannya hingga menutup kedua mata selagi mengatur napasnya yang memberat. Keraguan kembali menerpa tanpa ampun dan Lay baru ingin meledakkan emosinya ketika seseorang mengetuk pintu.

“Aku ingin bicara.”

Suara berat itu. Lay mengembuskan napas panjang. Dia tidak boleh menampakkan sedikit pun kebimbangan di depan rekan-rekannya sampai rencananya terlaksana seutuhnya.

“Masuk, D.O. Tidak dikunci.”

“Aku tidak akan masuk kalau kau sedang kalut gara-gara Baekhyun.”

Tahu saja bocah itu, batin Lay. Ia mendesis pelan sebelum menyangkal ucapan salah satu rekannya tersebut secara tersirat, penuh penekanan.

Masuk, D.O.”

Pintu terbuka tak lama kemudian dan muncullah D.O, pemuda mungil yang Lay andalkan untuk mencari tahu semua kelemahan teknologi Kota Tinggi, terutama di bidang keamanan. Terlepas dari kemampuannya yang luar biasa di belakang komputer, D.O tetap tunduk bila berhadapan dengan sang pemimpin, padahal dahulu, ada masanya Lay dan D.O menjadi teman baik yang sederajat.

“Duduk.”

Bahkan dalam situasi biasa, ucapan Lay masih terdengar bagai komando. D.O menutup pintu dan menarik kursi ke dekat tempat tidur sang pemimpin. Tidak suka menunggu D.O yang terlalu lama diam, Lay menegakkan tubuh, lantas bertanya dingin.

“Ada apa?”

“Ini bukan sesuatu yang terkait dengan Kota Tinggi maupun Kaum Atasan … ah, tidak, ini sebenarnya berhubungan, tetapi … bagaimana, ya, hubungannya kurasa sedikit ….”

“Langsung sampaikan dan tidak usah bertele-tele,” sahut Lay seraya menatap tajam, menyebabkan D.O bergeser tak nyaman di kursinya.

“Ini tentang Baekhyun.”

Rasanya ada api yang merambat naik dari dasar nurani Lay ketika nama itu disebut, tetapi kontrol dirinya lebih baik. Ia membiarkan D.O melanjutkan, tak sepatah kata pun ia lontarkan hingga lawan bicaranya selesai.

“Aku melihatnya dengan memar di leher. Ia mengatakan luka itu darimu. Sebagai catatan penting, aku yang menanyai mengapa ia terluka, bukan dia yang mengadu, dan aku ingin mendengar langsung alasanmu melukainya.”

Lay mendesah kasar.

“Dia berpotensi menjadi halangan besar bagi kita dalam menjalankan rencana ini, D.O. Idealismenya yang bodoh itu tidak akan membuahkan apa pun, tetapi dia juga menolak rencana yang kusuguhkan. Bagaimana para Pekerja akan maju jika tarik-ulur antara kita tidak selesai-selesai? Rencanaku bisa jadi tidak sempurna, tetapi pilihan sebagian besar dari kita jatuh pada pemusnahan total Kaum Atasan, maka inilah keputusan bersama yang kita sepakati.

“Atau … kau sepikiran dengan Baekhyun dan ingin memisahkan pasukanmu dari pasukan biasa?”

D.O menelan ludah sulit.

“T-tidak, a-aku hanya …”

“Kau itu masih ingusan, belum paham benar konsekuensi dari langkah yang kauambil.” Lay membungkam D.O seketika. “Untukmu, mungkin tidak bertempur adalah satu-satunya cara menuju kedamaian yang sempurna, tetapi kau tidak melihat apa yang terjadi di baliknya. Penindasan berkelanjutan, D.O. Cuma itu yang menunggu para Pekerja jika mereka tidak melawan habis-habisan.”

“Melawan habis-habisan ….” ulang D.O, tidak bernyali menentang mata Lay. “Jadi, kita tidak punya cara lain lagi untuk melawan?”

“Cara yang lebih lunak lagi, maksudmu? Hah. Kau ingat terakhir kali kita pakai cara lunak?” Lay mendengus selagi memalingkan wajah, meremehkan usulan dari sang rekan. “Apa sekali masuk Penjara Mimpi tidak cukup buatmu? Apa kau mau masuk ke sana lagi untuk menguji kemampuan otak cemerlangmu? Sombong sekali kau.”

D.O tidak menanggapi dan keheningan menggantung di antara keduanya setelah itu. Lay rasa pada titik ini rekan mudanya sudah mengerti apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak. Tak lama kemudian, sesuai dugaan Lay, D.O lantas beranjak dari kursinya tanpa suara, meyakinkan Lay bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Meski demikian, kali ini Lay merasa terusik oleh pandangan D.O yang memuat ketakutan. Emosi itu sama persis dengan milik anak lelaki kecil yang terkulai lemas dalam dekapan Lay sehabis kejang, beberapa tahun silam.

“Aku berharap … suatu hari nanti, aku dapat melihat dirimu yang belum diobrak-abrik oleh dendam terhadap Kaum Atasan. Baekhyun juga menantikan itu.”

Kalimat D.O ini terngiang-ngiang di kepala Lay, bahkan setelah pintu tertutup dari luar. Kembali Lay menutup matanya menggunakan lengan, mengumpat pelan, mengutuki kerinduannya yang tak masuk akal terhadap dirinya sendiri yang dahulu begitu bahagia tanpa digerogoti kebencian. Masalahnya, kapan masa-masa damai itu akan kembali? Perjuangannya seolah tiada akhir; berapa banyak lagi keringat dan darah yang mesti ia cucurkan untuk membebaskan Kaum Pekerja dari Bos Besar? Dia sendiri, ternyata, sudah merasa amat lelah, tetapi dendam tidak membiarkannya berhenti.

Aku akan selesaikan ini dengan cepat. Bumihanguskan Kota Tinggi, bunuh Kaum Atasan, dan duduki singgasana Bos Besar, lalu selesai. Selesai. Baekhyun, D.O … kalian tidak perlu menatapku dengan ketakutan itu lagi setelah semua berakhir. Tidak lagi.

Sayang, kegelisahan Lay tidak berkurang sekalipun ia telah mengulang-ulang kata-kata ini bagai mantra dalam benak. Ia rasai getar gugup menjalari tangannya, bau amis darah tanpa sumber yang jelas menghampiri penciumannya, dan teriakan-teriakan yang berasal dari delusinya terdengar begitu keras hingga ia terjaga sepanjang malam.

Pembunuh! Pembunuh! Pendosa! Pendosa!

***

Belakangan, makin banyak aircraft yang meluncur dari Kota Tinggi ke Bawah Tanah untuk menjatuhkan berupa-rupa bom ke arah kota sembari menyerang kendaraan-kendaraan patroli milik Kaum Pekerja. Beruntung, penduduk Bawah Tanah selamat berkat penghalang berbasis elektromagnet temuan D.O yang telah diaktifkan untuk melindungi kota dari ancaman bom. Aircraft-aircraft Kaum Pekerja yang bermodel kuno itu pun sukses menghindari bahaya bertubi-tubi dan justru menjatuhkan kendaraan yang lebih canggih, buah latihan pasukan pertahanan Bawah Tanah yang makin intens menjelang hari eksekusi rencana Lay. Para pemimpin pasukan, termasuk Baekhyun dan D.O, tentu tidak tinggal menonton. Kerja mereka dua kali lipat lebih keras ketimbang anggota pasukan mereka dan itu amat memuaskan Lay.

“Selamat datang kembali, Baekhyun. Aku senang kau akhirnya mengerti pihak mana yang harus kaulindungi.”

Di lapangan militer Bawah Tanah, seusai latihan sore, Lay mengutarakan pujian ini untuk Baekhyun, tetapi Baekhyun tidak menanggapi dan tidak pula tersenyum. Tatapan nanarnya terus terarah ke langit merah dan Lay tak bisa mengartikan raut wajah Baekhyun sama sekali. Aneh, sebelum-sebelumnya Baekhyun sangat mudah dibaca.

“Apa yang benar-benar ingin kulindungi sesungguhnya bukan Kaum Pekerja. Kau orang yang melindungiku dan D.O sejak pertama kabur dari penjara usai pembantaian para gerilyawan, jadi aku akan membalas kebaikanmu, Kakak.”

Entah bagaimana, firasat Lay tidak terlalu baik soal ini, walaupun Baekhyun seakan-akan menyiratkan dukungan terhadap rencananya.

“Satu-satunya orang yang ingin kulindungi saat ini adalah kau, dan aku punya cara sendiri untuk melakukannya.”

“Aku berhak tahu apa itu.”

“Tidak, kau tidak perlu tahu. Tidak ada untungnya bagimu,” potong Baekhyun selagi berjalan melewati Lay. “Satu hal yang dapat kupastikan padamu: aku tidak akan berkhianat pada tim kita. Apa pun yang kulakukan adalah demi kebaikanmu, yang berarti juga kebaikan seluruh Kaum Pekerja. Kau, aku, dan D.O adalah anggota Kaum Atasan, tetapi ikatan kita dengan Bawah Tanah jauh lebih kuat, maka sekali lagi kutekankan, aku tidak akan berkhianat.”

“Jika kau berusaha untuk tidak membuatku curiga, kau malah melakukan kebalikannya.” Nada Lay berubah tegang. “Katakan apa maumu sekarang.”

Tanpa membalikkan punggung, Baekhyun menoleh ke belakang, sejenak mengamati Lay dari ujung kepala sampai ujung kaki dan ia langsung tahu bahwa Lay tidak baik-baik saja. Kantung tebal di bawah mata dan tubuh kurus menjadi bukti bahwa perasaan itu bukan hanya mempengaruhi benak Lay, melainkan juga fisiknya, maka Baekhyun semakin mantap untuk menjalankan rencananya tanpa membiarkan Lay menginterupsi. Namun, Lay masih menunggu jawaban, jadi Baekhyun memberikannya, singkat, padat, dan jelas.

“Mauku? Sudah kubilang, melindungimu.”

***

Pembunuh! Pembunuh! Pendosa! Pendosa!

Teriakan-teriakan dalam benak Lay kian menjadi seiring dengan mendekatnya hari eksekusi besar, cukup mengganggu hingga ia terlonjak bangun beberapa kali dalam tidurnya. Pagi itu adalah puncaknya; bersama dengan teriakan itu, ia melihat Baekhyun berjalan meninggalkannya, sementara D.O mengulurkan tangan padanya dengan tubuh penuh luka, sekarat. Bawah Tanah berubah menjadi lautan abu, sedangkan para penghuni Kota Tinggi menginjak-injak tubuh para pemimpin pasukan Pekerja sampai hancur. Bos Besar berdiri di hadapan Lay dengan moncong pistolnya tertanam pada leher Lay; pelatuk senjata itu siap ditarik.

“Lay! Lay, bangun!”

Ketukan berulang-ulang yang cenderung menyerupai gedoran itu memaksa Lay bangun dengan kepala berdenyut. Entah ia harus menganggap gedoran itu gangguan atau malah harus berterima kasih pada sang pengetuk sebab tanpa bunyi berisik itu, ia pasti akan terjebak dalam mimpi buruk lebih lama. Parau suaranya terdengar kemudian, bercampur kekesalan, ia teriakkan ke arah pintu.

“Ada apa, Sehun?”

“Baekhyun membawa pergi seluruh pasukan di pangkalannya entah ke mana! Keberadaan mereka tidak terlacak di Bawah Tanah maupun Kota Tinggi!”

Spontan kantuk yang menggantungi mata Lay menghilang sepenuhnya.

***

“Satu-satunya orang yang ingin kulindungi saat ini adalah kau, dan aku punya cara sendiri untuk melakukannya.”

***

“SIALAN!!!”

Menyambar jaket di ujung ranjang, Lay langsung melesat keluar kamar, lurus menuju aircraftnya. Sehun si pelapor yang mengikuti di belakang disemprot habis-habisan (‘mengapa gerakan skala besar begini bisa tidak terlacak?’, ‘apa tidak ada tanda sedikit pun yang mengindikasikan keberadaan mereka?’, ‘apa kau punya otak?’), tetapi D.O muncul dari ruang tengah, melaporkan secara cepat penyebab nihilnya temuan di komputer sentral markas mereka. Baekhyun sepertinya telah mengacaukan sistem keamanan di pangkalannya secara diam-diam dari jauh hari hingga bahkan D.O yang paling mahir dalam utak-atik sistem tak kuasa mencegah. Kamera-kamera pengawas yang Lay pasang di sana dikelabui, komunikasi dari aircraft milik unit Baekhyun ke markas mereka tahu-tahu diputus, dan jangkauan deteksi komputer sentral menyempit—disempitkan—menjadi dua area saja: Kota Tinggi serta Bawah Tanah. Pergerakan di luar area itu tidak akan terdeteksi oleh komputer sentral, sebesar apa pun unit yang bergerak.

Lay masih sulit mempercayai ini. Kediaman Baekhyun kosong, begitu pula pangkalan militer di mana pasukannya biasa berkumpul, ketika mereka seharusnya melakukan serangan mendadak ke Kota Tinggi bersama delapan unit lainnya.

“Baekhyun termasuk salah satu kunci keberhasilan misi kita,” ucap Sehun lirih. “Dengan tidak adanya dia, apakah kita harus menunda atau bahkan membatalkan rencana ini?”

Sebelah telapak Lay menutup matanya, tidak habis pikir. Denyutan di kepalanya akibat sisa-sisa mimpi buruk menghebat gara-gara Baekhyun. Sehun benar dan Lay baru sadar bahwa Baekhyun bukan lagi anak-anak yang bisa ia kungkung di bawah kekuasaannya. Baekhyun membawahi sebuah pasukan berpengaruh yang tanpanya, Lay akan melemah. Namun, ia tahu terlambat menyesali perlakuannya yang meremehkan Baekhyun selama ini. Orang yang Lay anggap adik sendiri kini telah jelas berkhianat—dan ditipu orang yang dipercaya ternyata demikian menyakitkan.

Lay meremas segenggam rambutnya dan berteriak keras, lalu diam. Diam. Tersenyum. Kemudian tergelak.

***

“DIA PIKIR BISA MENYELAMATKAN KAUM ATASAN DARI TANGAN KITA HARI INI?! BOCAH BODOH! KEMBALI KE MARKAS DAN PERSIAPKAN PASUKAN SESUAI RENCANA SEBELUMNYA!”

***

D.O menarik napas dalam, Sehun menatap pemimpinnya miris, tetapi mereka tetap berbalik untuk menjalankan perintah Lay. Keduanya tidak mengetahui jatuhnya air mata sarat lara yang mengiringi tawa gila pemimpin mereka.

bersambung.


.

.

.

.

.

seorang reader mengingatkanku soal monster dan aku akhirnya sadar aku hampir melupakan series ini T.T singlenya member exo tuh terlalu, rilisnya tiap minggu ada aja -.- yg cbx, yg solonya lay, yg lagu jepang, yg station, aih terserah deh aku pusing.

dan ya, aku tau euforia monster udah ilang, aku mohon maaf baru mengerjakannya sekarang secara tidak maksimal. dibikin twoshot pula. maafkan aku T.T kuharap ini tidak terlalu mengecewakan, anggap aja prequelnya mv monster gituh.

terima kasih, maaf, dan seperti biasa, RnR?

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s