[Vignette] A Boy’s Another Side: Tough, Tough

ffpost-namja-e-dareun-moseub_1

elfxotic12152  present

a short film with Lee Jooheon of Monsta X  Hyeon Joon the OC

Romance, random!Fluff, AU |  Vignette (1.238 Ws) | General

.

Karena dia bukan hanya cowok yang bisa bertingkah lucu…

.

“Iya, Hyeri, yang itu. Tolong taruh dekat cello di pinggir saja.”

“Jaebum, kamu dan teman-temanmu tolong pindahkan sound system ke dekat panggung, ya.”

“Kayaknya warnanya terlalu muda. Tolong buat yang lebih cerah lagi, ya, Seulgi!”

Sudah dari pagi-pagi sekali suara Joon terdengar ke sepenjuru ruang teater. Semua orang sibuk bergerak di bawah komandonya. Naik-turun, lari-lari—dari tadi pagi itu saja yang dilakukan Joon, sibuk menyuruh orang ini, dan itu. Melihat setitik saja hal yang tidak disukainya, dia langsung mencari siapa yang melakukan, dan dia suruh kerjakan ulang.

Iya, aku harus kerja keras. Ini, ‘kan, sudah tanggung jawabku. Itu yang berputar terus-terusan di otaknya seperti kaset rusak kalau dia sudah merasa ingin duduk, dan makan ramyeon, lalu pulang ke rumah untuk tidur. Entah apa yang merasuki Mijoo si Ketua Klub Teater waktu menunjuknya jadi ketua pelaksana acara teater empat-kali-setahun mereka. Bukannya mengelak karena dirinya sudah sibuk dengan tugas-tugasnya sendiri, dia malah bilang, “Iya, tentu saja. Ini akan jadi kebanggaan buatku.”

Memangnya aku pikir ini drama? Seperti aku bisa kuat mengerjakan segala hal saja.

Nyatanya, dia bisa.

Iya, tapi dengan pengorbanan sebesar gunung.

“Dah, Joon.” Hyeri melambai dari pintu dengan muka super lusuh. Joon langsung saja melirik ke jam di dinding.

Astaga.

Sudah jam segini?

Bukan, bukan. Joon tidak panik atau merasa seperti seluruh energi hidupnya tersedot waktu mengkonfirmasi saat itu sudah jam setengah satu malam. Dia memang takut kalau-kalau ibunya akan membuatnya jadi Joon rebus atau Joon bakar kalau dia baru sampai rumah kira-kira jam satu kurang sepuluh. Tapi yang membuatnya lebih takut lagi adalah kalau di jalan dia diganggu. Entah oleh makhluk yang nampak maupun yang tidak.

Duh, si Joo-Honey dimana, ya, kira-kira? Di saat-saat seperti ini malah hilang.

Terus, aku mau tidak pulang begitu?

Dengan meringis dan muka hampir menangis, Joon mengambil tas dan jaketnya, juga setumpuk kardus berisi peralatan dan barang sisa. Ini memang bukan waktunya untuk menjadi cengeng atau segala macam sebangsanya, tapi kali ini sungguh Joon takut setengah mati. Iya, ketawakan saja dia karena tidak takut terlindas sepasukan fangirl waktu berdesakkan mengambil foto idolanya, Min Yoongi, tapi takut diganggu barang seorang, dua orang makhluk hidup, maupun tidak.

Jangan takut. Tidak bakal ada yang ganggu, kok.

Kalau ada, tonjok saja.

Iya, betul. Atau lempar saja kardus-kardusnya, biar menimpa yang mengganggu.

Iya, betul. Aku bisa melindungi diriku, kok.

Tap, tap, tap. Langkahnya terdengar sangat kencang di malam yang sepi. Napasnya selalu ia usahakan untuk tetap stabil, temponya hampir-hampir seperti napas ibu-ibu yang sedang ada di kelas yoga. Ia berjalan terus, tanpa berniat untuk mengecek jalanan di belakangnya. Tidak berapa lama, dia sudah keluar dari komplek fakultasnya. Aman, batinnya.

Tapi tidak untuk berapa lama, karena baru saja dia menghela napas, dari belakangnya jelas sekali ada suara langkah orang lain.

Tolong, jangan mendekat.

Tolong, jauh-jauh saja.

Tolong, Tuhan, jadikan dia kebetulan Changkyun, atau Joo-Honey kalau memang dia mau dekat-dekat.

Tapi, sepertinya doanya kurang tulus, karena orang itu mendekat. Dan waktu orang itu bersuara, “Hey,” sangat-sangat jelas itu bukan dua di antara orang yang diinginkannya.

“Mau pulang, ya? Sendirian saja?”

Oke, saat ini Joon benar-benar butuh bantuan. Suara laki-laki itu sangat seperti… seperti… seperti cowok-cowok nakal yang tidak seharusnya cewek temui—kalau tidak, bakal ada masalah. Langkah-langkahnya makin lebar. Tangannya terasa licin karena keringat dingin. Ujung-ujung jari kakinya tidak terasa karena saking gugupnya.

“Kok, buru-buru begitu? Pelan-pelan saja, dong.”

Jantung Joon makin berpacu kencang. Napasnya sudah tidak lagi seperti ibu-ibu kelas yoga, sekarang lebih seperti perenang yang habis dikejar hiu. Pandangannya buram, dan kardus-kardus di tangannya terasa makin berat tiap langkah yang dia ambil. Kendati demikian, cengkeramannya makin kuat ke kardus di pelukannya.

Dan semuanya semakin bertambah parah waktu cowok itu menyentuh punggungnya.

Joon mendengking kecil. Napasnya tertahan. Matanya sudah berair. Dan walaupun dia setengah mati ingin berteriak meminta tolong, dia tidak bisa. Tenggorokannya terasa seperti tercekik, pita suaranya terasa seperti diikat menjadi simpul pita.

“Shh, ikut aku saja, yuk?”

Cowok itu berbisik rendah dekat telinganya. Guyuran air dingin imajinatif membuat sekujur tubuhnya merinding. Matanya sudah berair, tangisnya bisa pecah kapan saja. Kalau misalnya ini akhir dari hidupnya, dia menyesal sekali sudah membiarkan ibunya khawatir dengan tidak memberi kabar apapun.

“Oy!”

Dari belakang mereka, ada suara. Orang itu berteriak, mencoba menarik perhatian.

Tidak, jangan menengok.

Lalu, sekonyong-konyong, tangan cowok jahat itu lepas dari punggungnya. Dan yang bisa dia pikir adalah, Sekarang, lari!

Dan Joon berlari.

Dia berlari, sampai ada yang berteriak dari belakangnya.

Joon!”

Jangan menengok.

“Joon!”

Tidak, jangan menengok.

“Joon!”

Tangan cowok yang berbeda menggenggam pundaknya, membalik tubuhnya dengan paksa. Insting kuat dari dalam otaknya memaksa tangannya untuk melempar kardus-kardus tadi—persetan dengan tempat mendarat mereka. Dia malah bersyukur kalau kardusnya menghancurkan hidung cowok itu. Tapi, tidak. Orang itu malah menarik pundaknya erat-erat. Cewek itu meronta kuat—sekuat mungkin yang dia bisa. Tapi, meskipun dia enggan mengakui, tenaganya masih kalah dengan cowok yang menggenggam pundaknya. Orang itu menariknya kuat-kuat.

Dan waktu Joon sadar, dia sudah ada dalam pelukan Jooheon.

“Shh, shh. Sudah tidak apa-apa, kok.”

Joon tidak tahu apa yang Jooheon bicarakan. Tapi waktu dirinya sudah berayun lemah dalam pelukan pacarnya, dia tahu apa yang Jooheon maksud. Sekarang, pipinya terasa panas dan lembab karena air mata. Tarikan napasnya tidak beraturan, dan tercekik di beberapa waktu. Tangannya bergetar hebat. Dan langsung berhenti waktu Jooheon mengusap punggungnya perlahan.

“Shh, shh. Sudah tidak apa-apa, kok. Cowok tadi sudah kuusir.”

Kendati tangisan Joon masih belum berhenti juga, Jooheon tidak keberatan sedikitpun. Meskipun kaos tipisnya sekarang basah di bagian dada, tidak ada sedikitpun rasa kesal. Dia malah merasa… lega?

“Shhh, sudah, sudah. Ayo, biar kuantar kamu pulang.”

.

…tapi juga cowok yang bisa bertingkah laki-laki.

FIN.

Fix ini kambek aku sejak (lupa sejak kapan)(brb cek profile di ifk) sejak movfest yha, sudah lama juga yha hmm…
Anw, ini kayak spin-off-nya seri Monsta X yang pas itu. Referensi kelakuannya “Karena dia bukan hanya (blablabla)” itu diambil dari seri pas itu.

ANW review, please?

Zyan

P.S: Untuk yang mau tau itu di poster font-nya apa, itu namanya Hoon Whayangyunwha.

Iklan

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s